Makna Zuhud

9 July 2012 § Leave a comment


Harun al-Rasyid memuji Fudhail ibn ‘Iyadh, “Betapa engkau orang yang sangat zuhud.”

“Engkau lebih zuhud ketimbang diriku,” kata Fudhail ibn ‘Iyadh.

“Aku bersikap zuhud karena harta yang kupunya tak lebih daripada seukuran sayap nyamuk,” Fudhail ibn ‘Iyadh melanjutkan. “Aku bersikap zuhud pada urusan dunia yang fana ini. Sedangkan engkau telah melampaui diriku. Engkau bersikap zuhud pada urusan akhirat yang abadi.”

“Orang yang mampu ber « Read the rest of this entry »

Advertisements

Menjadi Burung Bersayap Sempurna: Kisah Syaqiq al-Balkhi & Ibrahim ibn Adham

17 May 2010 § Leave a comment


Syaqiq al-Balkhi adalah seorang pengusaha kaya yang memiliki orangtua yang juga pengusaha kaya.

Suatu ketika, ia keluar daerah untuk melakukan perjalanan niaga. Di tengah perjalanan ia beristirahat di sebuah tempat ibadah milik agama penyembah berhala, dan menjumpai penjaga tempat ibadah itu sedang mencukur rambut dan jenggotnya, lalu mengenakan pakaian sembahyang. Syaqiq seorang muslim yang taat. Dan tentu saja, bagi seorang muslim, berhala adalah benda mati yang tak patut dijadikan sesembahan.

“Kau memiliki Pencipta Yang Mahahidup, Mahatahu, Mahakuasa,” kata Syaqiq kepada penjaga itu, setelah melihatnya telah rapi. “Dialah yang seharusnya kausembah, bukan benda mati bernama berhala yang tak bisa berbuat apa-apa itu.” « Read the rest of this entry »

Pada Ketenangan Jiwa

25 March 2009 § 2 Comments


Harta adalah harta. Pada dirinya, ia tidak mulia atau hina, baik atau buruk. Ia mati dan manusia menghidupkannya, untuk kemudian berada dalam kendali dan memberi arti atau justru menjadi tuan penguasa diri. Dengan harta, mampukah manusia menjadi hamba yang baik di hadapan Sang Pemilik, atau justru menjadi hamba harta dan mengabdi kepadanya.

Tutur kata Kitab Suci, “innama amwalukum wa auladakum fitnah. Wallahu ‘indahu ajr adzim.” “Harta dan anak-anakmu hanyalah materi ujian bagimu. Hanya di sisi Tuhan pahala yang besar”.

Begitulah hakikat harta dan segala pesona dunia. Sebagai ujian, ia ditimpakan kepada siapa saja, lintas strata, dan tanpa pandang bulu: cendekiawan, pejabat, agamawan, dan siapa pun yang tak terdefinisikan dalam titel dan sebutan. Masing-masing diuji dengan apa yang ada pada mereka. Yang kaya diuji dengan kekayaannya. Yang miskin diuji dengan kemiskinannya. Kekayaan dan kemiskinan bukanlah sesuatu apa. Keduanya hanya instrumen ujian, berada di garis yang sama dengan perbedaan semu.

Tutur Suci di atas tak hanya memastikan harta adalah ujian, namun juga menunjukkan, sesungguhnya harta – juga jenis kenikmatan duniawi lainnya – seberapa pun banyaknya, tidak memiliki nilai sama sekali di hadapan Tuhan. Sebanyak apa pun harta yang dimiliki seseorang, ia tetap kecil di hadapan-Nya dan tidak kekal. Yang bernilai adalah apa yang ada di sisi Tuhan, yaitu ketika harta itu difungsikan dengan tepat, sesuai hak dan kewajiban yang diamanatkan pada harta itu, ketika sebagai intstumen ujian, seorang manusia berhasil lulus dengan baik.

Kesadaran memahami kehidupan dunia sebagai ujian semacam di atas perlu dibangun agar tak ada fitrah kemanusiaan yang tercerabut. Kitab Suci menyebutkan, “Ya ayuhalladzina amanu la tulhikum amwalukum wa auladukum ‘an dzikrillah. Waman yaf’al dzalik, faualaika hum al-khasirun.” ”Wahai orang-orang beriman, jangan sampai harta dan anak-anak yang Kau miliki melalaikanmu dari Tuhan. Siapa yang terlalaikan, itulah orang yang rugi.”

Karena itu, sikap terbaik dalam menjalani hidup adalah zuhud, asketis. Zuhud adalah sikap di mana harta dan kenikamatan duniwai tak menyilaukan mata dan membutakan hati. Sebaliknya, juga tak menjejakkan duka merana ketika segala kenikmatan tersebut dicabut dan tiada.

“Likaila ta’sau ‘ala ma fatakum, wala tafrahu bima atakum,” begitu tersebut dalam Kitab Suci. “Supaya Kau tak berduka pada apa yang telah luput darimu, dan tak terlampau gembira pada apa yang Ia beri untukmu.”

Sikap zuhud mengontrol manusia dari dalam jiwa. Yang hilang tak akan membuatnya meradang. Yang datang tak akan menjadikannya senang bukan kepalang. Sikap zuhud menemani manusia menjalani hidup dengan tenang bersama yang ada, bahkan dengan yang tiada.

“Kekayaan adalah ketenangan jiwa.” Yakni, tenang dengan apa, bagaimana, dan berapa pun yang ada, bahkan tenang ketika yang ada adalah ketiadaan.

Dipertemukan dengan suami yang gagah sekali atau tak gagah sama sekali, dijodohkan dengan istri yang ayu sekali atau tak ayu sama sekali, dikaruniai anak berbakat luar biasa atau biasa saja atau bahkan di luar kebiasaan, dianugerahi kekasih yang menawan sekali atau tak menawan sama sekali, diberi harta banyak sekali atau sedikit sekali, dan sebagainya dan seterusnya, atau bahkan tak dikarunia satu pun di antara semua itu, tetap saja pada akhirnya ada yang lebih ingin dicari dan dimiliki di balik semuanya: ketenangan jiwa.

Sebab, pada ketenangan jiwa, seseorang merasa cukup dan berhenti melakukan pencarian. Meski tak mudah.[jr]

Where Am I?

You are currently browsing entries tagged with zuhud at Warung Nalar.

%d bloggers like this: