Selamat Hari Raya Idul Adha

6 December 2008 § 1 Comment


1791830ztqffn6hux

WARUNG NALAR mengucapkan, selamat hari raya idul adha…

Semoga semakin menyadarkan kita, arti penting berbagi untuk sesama…

Advertisements

Fragmen Hamba Tak Berkualitas

7 September 2008 § Leave a comment


Keluar dari pesantren, semakin lama sepertinya saya semakin jauh saja dari masjid/mushalla (dalam arti yang sebenarnya), dan hal-hal yang berkaitan dengannya. Saat di pesantren, kehidupan seperti dekat dan melekat dengan masjid. Keluar dari pesantren dan menghuni rumah kost, lebih dari setahun pertama, otomomatis kedekatan itu merenggang, meski masih beruntung, hanya dibutuhkan beberapa langkah saja untuk ke mushalla. Jamaah untuk salat-salat tertentu masih menjadi hal mudah. Kini, setahun selanjutnya, di kost yang berbeda, mushalla benar-benar jauh. Butuh beberapa ratus langkah untuk menuju ke sana. Sudah beberapa bulan ini, ibarat kate, dari lima waktu salat, enam di antaranya tidak jamaah. Salat jamaah menjadi hal sangat istimewa bagi saya saat ini, apalagi di “masjid”. Gusti, Gusti! Semaputlah aku, jika arti “pemuda yang hatinya selalu terpaut dengan masjid” adalah orang-orang yang rajin salat di masjid. Sebab, saat ini saya hampir tak pernah melakukannya, kecuali untuk salat jumat.

Maka, pada Ramadan pertama, ketika orang-orang ramai berduyun ke masjid dan mushalla untuk melaksanakan tarawih, jasad ini hanya terpaku di kost. Di antara sayup-sayup lantunan Alquran imam salat di mushalla nun jauh di sana, saya hanya bisa mengasihani diri sendiri, sambil nonton race GP dan pertandingan Serie A Liga Italia antara Milan dan Bologna, di Trans7.

Ya, sudah. Tak apa. Nanti bisa tarawih sendiri. Dilihat dari kalkulasi pahala, jelas saya telah kehilangan beberapa di antaranya. Pahala melangkah ke “rumah Allah”. Pahala salat jamaah. Pahala menahan kegondokan nafsu. Inilah salah satu “kegondokan” salat tarawih di masjid; tidak bisa mengatur sendiri bilangan rakaat sesuai kehendak hati. Jika mushalla tersebut penganut tarawih duapuluh rakaat plus witir tiga rakaat, ya sudah ikuti saja jumlah itu. Jika delapan rakaat plus tiga, ya sudah ikuti saja jumlah yang ada. Nah, bukankah dihitung “uang lelah”, jika kegondokan nafsu yang menginginkan salat seringkas dan secepatnya terpatahkan oleh aturan mushalla yang menerapkan bilangan rakaat yang baku. Al-ajru bi qadr al-ta’ab. Besar kecilnya pahala dihitung dari tingkat “kelelahan” yang terjadi atau yang dirasakan, lahir dan batin.

Anda boleh mengkalkulasikan pahala untuk kasus ini; Anda berangkat ke masjid untuk salat tarawih dengan kelelahan dan konflik lahir batin yang hebat. Ngantuk dan kemalasan luar biasa menyerang akibat terlalu banyak makanan yang disantap saat berbuka. Adalah anugerah besar jika pada kondisi seperti itu Anda tetap masih bisa melangkahkan kaki menuju masjid cukup jauh yang menganut tarawih duapuluh rakaat plus witir tiga rakaat, mengalahkan kengantukan dan kemalasan diri.

Tapi, ritual individual semacam salat atau puasa Ramadan, jika dilaksanakan secara massal, memang membangkitkan spirit dan memberikan kondisi tersendiri. Hampir selalu bisa mengikuti jumlah rakaat yang ditentukan. Jika “jiwa malas” ini ingin berhenti pada rakaat keenam salat tarawih, seluruh jamaah seperti mengatakan kepada saya, “Ayo teruskan salatnya. Jangan berhenti.”

Jika salat tarawih di mushalla yang menganut sebelas rakaat termasuk witir, di akhir salat, di dalam hati saya bilang; “Cukup” atau “alhamdulillah!” menunjukkan syukur, maka untuk yang duapuluh tiga rakaat, saya akan bilang, “cukup! Cukup!” atau “akhirnya!” menandakan kelegaan. Lalu kita pun mengira-ngira, pada salat tarawih yang dilaksanakan dua kali (seperti di Masjid Istiqlal atau Masjid UIN Jakarta), kenapa para jamaah pada berbubaran pada rakaat ke sebelas (delapan rakaat tarawih plus tiga rakaat witir), dan hanya menyisakan satu shaf saja yang bersedia tuntas sampai rakaat keduapuluh tiga? Beberapa kemungkinan bisa dikemukakan. Mungkin mereka yang bubar pada rakaat kesebelas adalah orang-orang Muhammadiyah, karena rumusan argumentasinya memang demikian, dan sisanya adalah orang NU. Atau orang-orang NU yang kebetulan ada keperluan mendesak pada rakaat itu, atau mungkin kentut, atau mungkin merasa terlalu banyak untuk meyelesaikan duapuluh tiga rakaat. Atau probabilitas masuk akal lainya.

Tapi, apa pun, dilihat dari kuantitas, salat tarawih berjamaah sebelas atau duapuluh tiga rakaat, adalah kondisi paling baik yang dipancarkan oleh salat jamaah, ketimbang salat tarawih sendirian, bagi saya. Sebab, tiap kali salat tarawih sendirian, seperti yang sudah-sudah, rakaat terbanyak adalah sembilan (delapan rakaat tarawih ditambah cukup satu witir). Rakaat favorit ya tujuh (enam rakaat tarawih plus satu witir). Meski pernah juga tarawih cuma empat rakaat. Batas jumlah rakaat salat tarawih sendirian adalah “kecenderungan”. Jika pada rakaat keenam saya merasa harus berhenti, saya sudahi salat itu. Bahkan jika pada rakaat keempat saya mesti sudahi, ya saya berhenti. Jika seperti ada kemudahan untuk menyentuh rakaat delapan, ya saya lakukan. Betapa sulitnya tarawih dua puluh rakaat jika salat sendirian. Saya mengikuti “fatwa hati”. Iftati qalbak. Mintalah fatwa pada hatimu. Jika hati bilang sudah, ya sudah. Jika bilang teruskan, ya dilanjut salatnya. Seperti tidak ada yang mengingatkan, tidak ada dorongan luar agar meneruskan salat pada rakaat selanjutnya.

Tapi untung saja, tidak ada aturan normatif yang valid soal jumlah rakaat tertentu untuk salat tarawih. Kanjeng Nabi tidak menekankan orientasi kuantitas angka dalam salat tarawih (pada masa Nabi tidak ada istilah “tarawih”, tapi yang ada adalah “qiyam ramadan”). Tapi yang menjadi perhatian adalah kualitas salat itu. Meski saya tak hendak mengatakan bahwa salat saya telah berkualitas. Tapi, paling tidak, berapapun rakaat salat tarawih yang saya kerjakan, tidak salah menurut aturan normatifnya, sebab ia memang tidak mengatur atau memberikan batasan tertentu. Dan jika saya melaksanakan salat tarawih dalam bilangan rakaat yang minimalis, tidak lantas menjadikan aturan normatif itu sebagai pembenar. Atau ketiadaan aturan normtif yang valid soal jumlah rakaat salat tarawih menjadi argumentasi pembenar salat tarawih saya yang minimalis. Tidak demikian. Itu hanya soal pilihan berdasarkan kecenderungan hati.

Duh, Gusti! Maafkan hamba-Mu yang tak berkualitas ini. Yang beragama masih pada ranah kognitif, masih sebatas “pengetahuan”, masih berorientasi kalkulasi pahala (jika pun berhak atas pahala, maka yang proporsional ya pahala minimalis) belum menyentuh aspek afektif, penghayatan sebagai hamba dan kesadaran akan kebijaksanaan-Mu.

Allahumma a’inni ‘alaa dzikrika wa syukrika wa husni ‘ibadatika.

Oleh karena itu, mohon kerja samanya, agar aku selalu eling kepada-Mu, bisa mengapresiasi kebijaksanaan-Mu, dan menjalin harmoni yang berkualitas dengan-Mu. Amin.

Baca tulisan terkait di link ini:

Nama Gue “Burhan”

12 August 2008 § Leave a comment


Ada tiga anak(dua cowok dan satu cewek) lagi ngobrol, membanggakan namanya dan saudaranya masing-masing. Si cowok pertama bilang, “Nama anak-anak di keluarga gue semuanya pake nama super hero. Kakak pertama gue namanya Batman. Yang kedua namanya Superman. Dan gue sendiri namanya Spiderman.”

Cowok kedua menyela, “Gitu aja bangga. Nih, nama anak-anak di keluarga gue semuanya pake merek hape. Kakak pertama gue namanya Nokia. Yang kedua namanya Motorola, dan nama gue sendiri Siemens.”

Giliran si cewek yang panas dengerin cowok-cowok itu, “Nama anak-anak di keluarga gue juga ga kalah keren. Semuanya pake nama burung. Kakak pertama gue namanya Nuri. Yang Kedua namanya Pipit.” Untuk sejenak, si cewek diem.

“Trus, nama loe sendiri sapa?” Kata dua cowok itu.

“Burhan…,” Kata si cewek”

“Katanya nama burung. Ga konsisten loe. Pake nama “burhan” lagi. Itu kan nama cowok?!,” dua cowok itu menimpal.

Jawab si cewek, “Eit, jangan salah. Burhan juga nama burung lho! Burhan kan “Burung Hantu”!

Cowok-cowok; “???…!!!..”

Tentang Wanita Untuk Lelaki

9 August 2008 § 3 Comments


Di bawah ini adalah beberapa quotasi yang saya “pungut” dari sumber-sumber terserak, tentang “nilai unik” yang ada pada diri seorang wanita. Sebagian penilaian datang dari laki-laki dan ditujukan kepada laki-laki, dan sebagian ditujukan kepada semua orang. Karena datang dari manusia dengan keniscayaan subyektifitasnya, tentu saja quotasi itu tidak bisa disebut mutlak kebenarannya, sebagaimana tidak bisa disebut mutlak kekeliruannya.

Untuk sementara, hanya sekianlah quotasi yang ada, dan bisa saja bertambah dari waktu ke waktu, tergantung hasil “pungutan” saya…

“Jika Anda merasa lebih utama dari Maryam, Aisyah, atau Fatimah, hanya karena engkau lelaki dan mereka wanita, maka orang yang mengatakan hal itu pantas disebut orang bodoh.” (Ibnu Hazm al-Zhahiri)

“Banyak orang mengatakan, mencintai wanita merupakan puncak bencana. Puncak bencana sesungguhnya bukanlah mencintai wanita, melainkan berdekatan dengan orang yang tak kaucintai.” (Imam Syafii)

“Tidak diketahui sesuatu yang begitu diperhatikan dan mantap pada diri seorang wanita melebihi cinta.” (Ibnu Hazm al-Zhahiri)

“Tidak dapat dipungkiri bahwa mengabaikan wanita berarti mengabaikan setengah potensi masyarakat, dan melecehkannya berarti melecehkan seluruh manusia, karena tidak seorang manusia pun – kecuali Adam dan Hawa – yang tidak lahir melalui seorang perempuan.” (M. Quraish Shihab)

“Mencintai seorang wanita mencukupi seorang lelaki, tapi untuk memahaminya, seribu lelaki pun belum cukup.” (Entah Siapa)

“Jika Engkau mencintai wanita dengan mengabaikan tuntutan dan komitmen moral, maka cinta itu menjadi mudah dan murah.” (Entah Siapa)

Anak Telanjang

26 June 2008 § Leave a comment


 

Lupakan FPI, Rizieq Shihab, Munarman, AKKBB. Lupakan Semua!!!

6 June 2008 § 5 Comments


Lupakan FPI, Rizieq Shihab, Munarman, AKKBB, Monas… Lupakan Semua!!!

Dan sambutlah EURO 2008!

Habib Rizieq dan sekeluarga, Munarman dan sekeluarga, FPI, Laskar Komando Islam, AKKBB, MUI, Ahmadiyah dan jamaahnya, Gus Dur dan keluarga, pendukung Gus Dur, Garda Bangsa, Anshor, NU, PKB, SBY dan keluarga, pak dan bu menteri, polisi, mahasiswa dan semuanyaaaaaaaaaaaaaa… ojo ribut teruuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuusssss…!!!

Kemon nonton EURO…!!!

(gambar diculik dari http://shop.subsidesports.com)

Blog ini mendukung Itali sebagai juara EURO 2008.

Bravo Itali!

Bravo Mas Del Piero!

Mana tim jagoanmu?

Tentang Cantik; Kriterianya Apa?

23 May 2008 § 1 Comment


Terinspirasi oleh seorang viewer yang berkomentar di salah satu tulisan di blog ini berjudul “Tentang Cantik“…

Yaa… saya setuju mengenai definisi cantik dalam versi normatif adalah ekuitas antara jiwa yang bersih dan lahir yang sehat dan pantas. Tapi bagaimana qt bisa melihat atau mengetahui dan memastikan bahwa wanita yang qt knal mempunyai kecantikan (jiwa yang bersih) tersebut? Klo cantik lahiriah, bisa terlihat dengan mata qta.

Jika kecantikan lahiriah, obyek penilaianya adalah “body”, maka kecantikan batin, obyek penilainya (menurut saya) adalah “moral”. Cakupan moral sangat luas sekali, dari tindakan, ucapan, karakter, cara dia berinteraksi dengan orang lain, bagaimana dia berkomitmen, bagaimana dia bergaul saat kita ada di sisinya, dan saat kita tidak di sisinya (atau mungkin Anda bisa tambahkan dengan kepatuhan terhadap ajaran agama atau peraturan) dan seterusnya dan sebagainya… Lho, Mas, siapa bilang hanya kecantikan lahiriah saja yang bisa dlilihat, kencatikan jiwa juga bisa kita lihat, lho, walaupun sebatas indikasi-indikasi…

Misalkan, dalam Islam, ada ungkapan hikmah yang beraroma moralitas, seperti: “fadhl al-mar’i yu’rafu bi qaulihi”, artinya, indikasi orang baik bisa diliat dari tutur sapanya… Ada juga ungkapan, “la tashhab man la yunhidhuka ila Allah haluhu, wa la yadulluka ila allah qauluhu”. Kurang lebih artinya jangan berteman dengan orang yang tingkah lakunya tidak membuat Anda termotivasi berbuat baik, dan tutur sapanya tidak mengarahkan Anda untuk berbuat baik… Kata “Allah” di ungkapan itu saya persempit dengan arti “perbuatan baik”. Sebab, kata “Allah” terlalu luas untuk dijabarkan…

Maaf, ya mas, kalo jawabannya hanya sekilas dan terkesan tidak fokus pada pertanyaan Anda. Jawaban saya generalisasikan tentang siapapun yang yang dekat dengan kita, cowok or cewek, pacar or temen biasa, isteri or bukan. Sebab, orang yang kita harapkan baik bukan hanya satu jenis manusia aja kan…

Dan satu hal, kita hanya bisa melihat dan mengetahui bahwa orang yang dekat dengan kita baik or tidak baik (dengan subyektifitas penilaian kita, tentu), tapi sama sekali kita tidak bisa memastikan… Sebab kita tidak bisa memantau pergerakan seorang temen dalam 24 jam, bukan?! Sekalipun bisa, kita sama sekali tidak akan pernah tahu yang sesungguhnya.

Nahnu nahkmumu bidz dzawahir, wallahu yatawallaa bis saraair… Kita hanya bisa menilai sebatas yang kita lihat, dan biarkan Tuhan yang menilai apa yang tidak kita lihat, begitu kata sebuah kaidah.

Dan terakhir, iftati qalbak, tanyakanlah pada nurani Anda, apakah temen Anda benar2 baik dan pantas dijadikan sahabat, pacar, suami, isteri, atau justeru sebaliknya…

Where Am I?

You are currently browsing entries tagged with Z-Lain-Lain at Warung Nalar.

%d bloggers like this: