Ketika Kelamin Jadi Ukuran

16 January 2009 § Leave a comment


Persepsi lahir dari konteks yang terindera, dari sebuah keadaan di mana empunya persepsi berinteraksi, menjadi respon atas realita di mana ia berada.

Imam Syafi’i yang pakar fikih – di mana karakter fikih adalah rigid – menyimpan keromantisan yang tersibak ketika mengatakan ini: “Sebagian orang mengatakan, mencintai wanita adalah bencana. Padahal, bencana sesungguhnya adalah berdekat dengan lelaki yang jauh dari cinta seorang wanita.”

Atau Ibnu Hazm yang dengan penuh gusto memberikan penghargaan kepada perempuan seraya mencemooh geram lelaki yang memandang ke-lelaki-annya sebagai ukuran.

Katanya: “Jika Anda merasa lebih utama dari Maryam, Aisyah, atau Fatimah, hanya karena engkau lelaki dan mereka perempuan, maka orang yang mengatakan hal itu pantas disebut orang bodoh.”

Meloncat dari suatu masa di negeri nun jauh, kita berdekat-dekat pada masa kini di negeri ini, dengan mengutip M. Quraish Shihab. Ujarnya: “…melecehkannya (perempuan) berarti melecehkan seluruh manusia, karena tidak seorang manusia pun – kecuali Adam dan Hawa – yang tak lahir melalui seorang perempuan.”

Persepsi apresiatif semacam itu tentu menjadi istimewa mengingat pengujarnya adalah para lelaki, sehingga melemahlah unsur subjektifitasnya, meski mungkin tidak sepenuhnya. Tapi di sinilah ironinya. “Apresisasi istimewa” menyuratkan gambaran aspek luar biasa yang mesti ditonjolkan dari satu entitas bernama perempuan, tapi menyiratkan adanya dominasi yang tak adil pandangannya: dominasi ke-lelaki-an yang selalu mengukur kelamin. Maka, apresisasi istimewa lahir dari konteks sebuah dominasi yang menghegemoni dari sebuah kelamin tertentu, dari keadaan yang diskriminatif, yang mungkin tersamar di bawah alam sadar.

Kata-kata para pengujar lelaki di atas adalah sarkasme, sindiran tajam, gugatan bagi keadaan di mana seorang lelaki memandang perempuan sebatas pada “karena aku lelaki dan mereka perempuan”, sebuah pandangan yang membentur raga, tidak menembus hakikat manusia yang tersemat di dalam seonggok raganya emosi dan nalar, hati dan pikiran, unsur spiritual dan intelektual. Dan raga adalah fisik. Sesuatu yang fisik mesti pula dihargai dengan yang bersifat fisik. Maka, transaksi dan interaksi yang terjadi adalah kebendaan, tak melibatkan aspek emosional dan rasional. Memandang perempuan seperti melihat barang dagangan di pasar. Memilah dan memilih sama mudah dengan meninggalkannya. Jika keadaan tak mendukung untuk mampu memilikinya, enteng saja berujar: “tinggal saja, cari lagi”. Mungkin orang dengan watak semacam ini tak memiliki cukup emosi dan nalar, hati dan pikiran, untuk menjangkau perempuan sampai pada hakikat kemanusiaannya.

Ini adalah keadaan anomali – di mana penistaan hakikat kemanusiaan dianggap lumrah sambil berusaha memaklumi – bukan hanya karena melanggar logika “tidak seorang manusia pun – kecuali Adam dan Hawa – yang tak lahir melalui seorang perempuan”, seperti dalam kata-kata M. Quraish Shihab, tapi juga sebab ada unsur-unsur hakikat kemanusiaan yang sengaja diabaikan. Sialnya, dalih-dalih “ini umum terjadi”, “ini pandangan umum”, dan segenap kambing hitam lain atas nama “kebanyakan orang”, dijadikan legitimasi bagi keadaan anomali itu.

Keadaan umum yang sejatinya anomali mestinya tidak dijadikan dalih dan dengan dungu ikut membesarkannya. Keadaan umum yang sejatinya anomali seharusnya menjadi objek keprihatinan seraya berharap segera lenyap.

Maka, konteks tulisan ini pun jelas: ketika kelamin – tepatnya ke-lelaki-an – jadi ukuran, saat mulut berbalut pongah mengangah sesumbar: “kamu itu lelaki, bukan perempuan!”, seolah takdir lelaki adalah kesempurnaan dan nasib perempuan adalah kecengengan.[jr]

Advertisements

Aisyah Yang Wira’i

24 October 2008 § Leave a comment


 

Sebelum menikahi Aisyah, Rasul telah beberapa kali memimpikannya. Dalam mimpi itu, Rasul melihat dirinya didatangi malaikat yang membawa wanita bercadar, dan mengatakan bahwa wanita itu adalah calon pendamping hidupnya. Sang malaikat meminta Rasul membuka cadar wanita itu. Ketika dibuka, nampak jelas, paras yang ia lihat adalah wajah Aisyah. Setelah terjaga, Rasul hanya berdoa, jika itu adalah petunjuk Allah, maka jadikan mimpi itu nyata. (HR Bukhari).

Yang istimewa dari Aisyah dan tidak dimiliki oleh istri-istri Rasul yang lain adalah, Aisyah menjadi istri Rasul tidak hanya di dunia, namun di akhirat kelak. Sungguh, apresiasi istimewa dari Allah untuk seorang Aisyah, gadis belia yang selama bersama Rasul, Allah berkenan menurunkan tidak sedikit risalah agama, pada peristiwa yang berkenaan dengannya. Tumbuh bersama Rasul, ia terbimbing menjadi seorang intelektual dengan kecerdasan di atas rata-rata kebanyakan orang saat itu. Gaya bicaranya lugas, berbalut tutur bahasa yang fasih dengan retorika yang argumentatif. Dengan semua itu, dia adalah seorang wira’i yang enggan dipuji, lebih senang untuk tak dikenang. (HR Tirmidzi)

Ketika Ia berada dalam kondisi paling payah karena tua dan mendekati sekarat, Ibnu Abas datang menjenguknya. Awalnya, kedatangan Ibnu Abas ia tolak, khawatir hanya akan mengumbar pujian. Namun, atas bujukan handai taulan yang saat itu juga menjenguk, akhirnya Aisyah memperkenankan Ibnu Abas menemuinya, mungkin untuk terakhir kali.

“Ummul Mukminin, Kau adalah istri yang paling dicintai Rasul. Dan tidak ada yang dicintai Rasul kecuali ia adalah baik…,” benar saja kekhawatiran Ibunda Aisyah.

“Hanya Kau gadis perawan yang dinikahinya… Kau perempuan terfitnah mulut masyarakat, dan Allah sendiri yang menampik fitnah itu, sehingga siang dan malam masjid-masjid sesak penuh oleh orang-orang yang mendaras Alquran, menyambut pembebasanmu dari fitnah… Sebab Kau, turun risalah rukhshah tayamum sebagai pengganti wudlu… Kau perempuan pembawa berkah bagi umat… “

“Ibnu Abas, cukup! Sudahi omonganmu!” Aisyah yang terbaring lemah memotong serentetan pujian yang meluncur deras dari mulut Ibnu Abas.

“Aku lebih nyaman tanpa pujian… Aku lebih senang untuk tak dikenang…” (HR Bukhari dan Ahmad).

– – –

Baca juga fragmen sejarah Aisyah di bawah ini:

Tentang Wanita Untuk Lelaki

9 August 2008 § 3 Comments


Di bawah ini adalah beberapa quotasi yang saya “pungut” dari sumber-sumber terserak, tentang “nilai unik” yang ada pada diri seorang wanita. Sebagian penilaian datang dari laki-laki dan ditujukan kepada laki-laki, dan sebagian ditujukan kepada semua orang. Karena datang dari manusia dengan keniscayaan subyektifitasnya, tentu saja quotasi itu tidak bisa disebut mutlak kebenarannya, sebagaimana tidak bisa disebut mutlak kekeliruannya.

Untuk sementara, hanya sekianlah quotasi yang ada, dan bisa saja bertambah dari waktu ke waktu, tergantung hasil “pungutan” saya…

“Jika Anda merasa lebih utama dari Maryam, Aisyah, atau Fatimah, hanya karena engkau lelaki dan mereka wanita, maka orang yang mengatakan hal itu pantas disebut orang bodoh.” (Ibnu Hazm al-Zhahiri)

“Banyak orang mengatakan, mencintai wanita merupakan puncak bencana. Puncak bencana sesungguhnya bukanlah mencintai wanita, melainkan berdekatan dengan orang yang tak kaucintai.” (Imam Syafii)

“Tidak diketahui sesuatu yang begitu diperhatikan dan mantap pada diri seorang wanita melebihi cinta.” (Ibnu Hazm al-Zhahiri)

“Tidak dapat dipungkiri bahwa mengabaikan wanita berarti mengabaikan setengah potensi masyarakat, dan melecehkannya berarti melecehkan seluruh manusia, karena tidak seorang manusia pun – kecuali Adam dan Hawa – yang tidak lahir melalui seorang perempuan.” (M. Quraish Shihab)

“Mencintai seorang wanita mencukupi seorang lelaki, tapi untuk memahaminya, seribu lelaki pun belum cukup.” (Entah Siapa)

“Jika Engkau mencintai wanita dengan mengabaikan tuntutan dan komitmen moral, maka cinta itu menjadi mudah dan murah.” (Entah Siapa)

Sisi Biologis & Teologis Perempuan

3 August 2008 § Leave a comment


Pada masa pra-Islam (periode jahiliyah), beribu tahun silam, perempuan dipandang tidak memiliki sisi kemanusiaan utuh. Ia dianggap sebagai menusia kelas dua (the second sex) hanya soal ia tidak setangguh laki-laki. Ia dianggap tidak berguna dan membawa sial, sehingga tak pantas hidup, kemudian harus tiada dengan dikubur hidup-hidup. Saat itu, perempuan juga diperlakukan sebagai barang warisan. Pihak keluarga mendiang suami berhak atas diri perempuan itu, apakah mau dikawini oleh salah satu anggota keluarga mendiang suami, atau harus menebus kepada keluarga mendiang suami agar bisa kawin dengan orang lain. Islam datang, secara bertahap mengembalikan hak-hak perempuan sebagai manusia. Pada beberapa tempat di dalam Alquran, eksistensinya sebagai manusia di kehadirat Tuhan tidak dibedakan dengan laki-laki. Yang membedakan antara kedua jenis mahluk ini adalah kualitas takwanya. Dan perbedaan jasmani, sifat, karakter serta kecenderungan-kecenderungan yang ada di antara keduanya, tak lebih dari sekedar instrumen untuk menuju kualitas takwa tersebut.

Dari sisi karakter, perempuan cenderung lebih lemah lembut dari laki-laki. Secara umum, ia memiliki sifat malu dan rasa kasih sayang yang lebih besar. Nabi Muhammad memberikan gambaran metaforis tentang karakter perempuan, “Berpesanlah kalian untuk selalu berbuat baik kepada perempuan. Karena mereka diciptakan dari tulang rusuk yang bengkok.” (HR. Imam al-Bukhari, Imam Muslim, dan Imam al-Tirmizi).

Hadis ini tidak berbicara tentang penciptaan perempuan dari tulang rusuk, atau bahwa unsur penciptaannya berbeda dengan laki-laki. Sebab, tidak ada satu petunjuk pasti dari Alquran dan hadis yang memberikan pemahaman bahwa tulang rusuk (dhil’un) yang dimaksud oleh hadis tersebut adalah tulang rusuk dalam maknanya yang hakiki. Namun, hadis ini bermaksud untuk memperingatkan para laki-laki agar menghadapi perempuan dengan bijaksana, karena ada sifat dan kecenderungan mereka yang tidak sama dengan laki-laki, yang bila tidak disadari akan dapat mengantar kaum lelaki untuk berperilaku tidak wajar. Siapapun tidak akan mampu mengubah kodrat, termasuk kodrat perempuan. Kalau ada yang memaksakan perubahan itu, akibatnya akan fatal, sama fatalnya dengan meluruskan tulang rusuk yang bengkok. Ini jangan dipahami, bahwa kata “bengkok” di sini melecehkan perempuan. Itu hanya ilustrasi yang diberikan Nabi terhadap persepsi yang keliru dari sementara laki-laki menyangkut sifat perempuan, sehingga para lelaki itu memakasa untuk meluruskannya. Memahami hadis di atas dengan makna seperti ini justru mengakui kepribadian perempuan yang menjadi kodratnya sejak lahir.

Pakar psikologi Mesir, Zakaria Ibrahim, seperti dinukil oleh M. Quraish Shihab dalam Perempuan, dari Cinta sampai Seks, dari Nikah Mut’ah sampai Nikah Sunnah, dari Bias Lama sampai Bias Baru, menulis, “Perempuan memiliki kecenderungan masokhisme atau mencintai diri sendiri yang berkaitan dengan kecenderungan berkorban demi kelanjutan keturunan. Kecintaan kepada dirinya yang disertai dengan kecenderungan itu menjadikan perempuan kuasa mengatasi kesulitan dan rasa sakit yang memang telah menjadi kodratnya – khusunya ketika haid, mengandung dan membesarkan anak. Karena adanya rasa sakit itu pula, maka Allah menganugerahinya kenikmatan bukan saja dalam hubungan seks – sebagaimana halnya laki-laki – tetapi juga kenikmatan dalam memeilihara anak-anaknya.”

Perbedaan kodrati antara laki-laki dan perempuan memang tidak dapat dipungkiri adanya. Maka sudah sepatutunya mejadikan laki-laki tetap laki-laki, perempuan tetap perempuan, dan dalam saat yang sama kedua jenis kelamin itu diberi kesemptan berekspresi secara proporsional, sesuai dengan potensi dan karakter yang dimiliki masing-masing. Upaya untuk menyama-ratakan secara ektrem justeru menjadikan keduanya dapat tercabut dari akar kodratinya. Dan, perbedaan itu, hanya karena “kelaki-lakian” dan “keperempuanan”, tidak lantas menjadikan yang satu unggul atas yang lain. Perbedaan itu tidak harus menjadikan keduanya dibeda-bedakan. Ibnu Hazm al-Zhahiri mengecam, “Jika Anda merasa lebih utama dari Maryam, Aisyah, atau Fatimah, hanya karena engkau laki-laki dan mereka perempuan, maka orang yang mengatakan hal itu pantas disebut orang bodoh.”

Oleh karena itulah, atas dasar adanya perbedaan (kodrati), lahir tuntutan dan ketetapan hukum yang disesuaikan dengan kodrat, jati diri, fungsi serta peranan yang diharapkan darinya – baik laki-laki maupun perempuan, dan itu semua demi mencapai kemaslahatan bersama dunia dan akhirat. Di sisi lain, pada saat yang sama, keduanya mendapat tuntutan dan ketetapan hukum yang sama, kaitannya dalam hal persamaan di antara mereka.

Perempuan di Kehadirat Tuhan

Dalam sebuah sinetron di televisi, terkisahkan sebuah keluarga kaya raya, yang dengannya, materi duniawi yang diinginkannya dapat terpenuhi. Suatu ketika, anggota keluarga tersebut menyadari bahwa mereka telah terlalaikan oleh materi duniawi dan melupakan ajaran agama. Kesadaran itu menghantarkan mereka untuk mempelajari ajaran agama kepada seorang ustad

Suatu saat, sang ibu dari keluarga kaya itu tiba-tiba ingin berhenti mengaji dari ustad tersebut, dan menggantinya dengan ustad yang lain. Apa pasal? Ternyata, ketika ajaran-ajaran dasar belum tersampaikan dengan baik, sang ustad sudah menyampaikan informasi tentang surga dan neraka. Sang ustad tersebut menjelaskan, dengan berdasar sebuah hadis, bahwa mayoritas penduduk neraka kelak adalah perempuan. Kontan, sang ibu tadi merinding mendengar penjelasan sang ustad. Ini, tentu saja karena sang ibu itu adalah perempuan. Informasi itu terus menghantui pikiran sang ibu. Fatalnya, sang ustad tidak memberikan penjelasan secara komprehensif.

hadis yang dimaksud oleh sang ustad adalah hadis yang diriwayatkan oleh Imam Muslim. Suatu ketika Nabi pernah berwasiat kepada para perempuan, “Wahai para perempuan! bersedakahlah dan perbanyaklah istighfar. Karena aku melihat kalianlah yang akan banyak menghuni neraka.” Mendengar pernyataan “seram” ini, salah seorang dari mereka merasa perlu bertanya, “Mengapa harus kami yang banyak menghuni neraka, wahai Rasul?”

“Kalian terlalu banyak mengeluarkan kata-kata bernada laknat (tuktsirna al-li’an), dan sering mengingkari (hak-hak yang diberikan) suami-suami kalian (takfurna al-‘asyir),” demikian jawab Nabi.

Benarkah penghuni neraka, kelak, mayoritas adalah perempuan? Dengan kata lain, apakah berarti laki-laki menjadi mayoritas penduduk surga?

Alquran, juga hadis, dalam menyampaikan pesan-pesan moral, tak jarang menggunakan makna-makna literal dan simbolis. Sehingga, ketika teks Alquran atau hadis yang literal dan simbolis tersebut bersarang dan terolah oleh otak manusia, akan menghasilkan pemahaman beragam. Ragam pemahaman itu mucul, bisa karena perbedaan tingkat intelektualitas atau pengaruh sosio-kultural dan sosio-historis orang yang memahaminya. Oleh karena itu, dibutuhkan sikap arif bijaksan dan ketelitian dalam membaca teks-teks kegamaan, termasuk teks-teks keagamaan yang berbicara tentang perempuan atau relasi laki-laki dan perempuan.

hadis di atas, bila dipahami, bahwa perempuan adalah mayoritas penghuni neraka, hanya karena mereka berjenis kelamin perempuan, maka ini kontradiktif (ta’arudl) dengan semangat Alquran yang tidak menganut paham the second sex, yang memberikan keutamaan kepada jenis kelamin tertentu. Sebab, Alquran telah memberikan kesempatan yang sama kepada manusia, tanpa memandang jenis kelamin tertentu, untuk menjadi menjadi sosok terbaik di hadapan Allah, yang pantas mendapatkan surga-Nya. Sebagaimana, neraka-Nya telah disediakan bagi manusia pendosa, tanpa memandang jenis kelamin tertentu

Sekedar menyebut contoh, lihat saja, misalnya, QS. Al-ahzab/33:35: “Laki-laki dan perempuan yang berserah diri kepada Allah, laki-laki dan perempuan yang beriman, laki-laki dan perempuan tulus, laki-laki dan perempuan yang jujur, laki-laki dan perempuan yang sabar, laki-laki dan perempuan yang takut kepada Allah, laki-laki dan perempuan yang bersedekah, laki-laki dan perempuan yang berpuasa, laki-laki dan perempuan yang menutup aurat mereka, laki-laki dan perempuan yang berzikir kepada Allah, untuk mereka, Allah telah menyediakan ampunan dan pahala yang besar.”

Namun, dengan upaya sungguh-sungguh dalam memahami sebuah teks (Alquran atau hadis), dibarengi dengan sikap arif bijaksana, kesan kontradiktif pada teks-teks keagamaan dapat dihindari, termasuk antara hadis dan ayat di atas.

Dawuh Nabi di atas sesungguhnya pun telah jelas, yang menyebabkan mereka masuk neraka adalah karena perbuatan dosa yang mereka kerjakan, yaitu mengingkari hak-hak yang telah mereka dapat dari suami-suami mereka (takfurna al’asyir) dan terlalu banyak mengeluarkan kata bernada laknat (tuktsirna al-li’an), bukan karena keperempuanan mereka.

Yang perlu dipahami, pertama, bahwa dua perbuatan dosa tersebut merupakan perbuatan manusiawi yang lahir dari sifat dasar manusia (emosi), karenanya bisa dilakukan oleh siapa saja, termasuk laki-laki (suami). Keduanya bisa saja mengungkit-ungkit hak dan kewajiban, ketika keduanya terlibat pertengkaran yang kerap terjadi dalam kehidupan rumah tangga. Karena relasi suami isteri adalah relasi antara hak dan kewajiban. Sehingga, walaupun audiens hadis tersebut adalah perempuan (isteri), namun ketetapan hukumnya berlaku bagi laki-laki (suami) dan perempuan (isteri).

Kedua, bisa saja mukhatab (audiens) yang dihadapi Nabi, saat itu, adalah para perempuan yang memang kerap melakukan dua dosa tersebut, tanpa mereka ketahui bahwa perbuatan itu merupakan sebuah dosa, sehingga Kanjeng Rasul, sesuai dengan tugasnya menyampaikan kebenaran, merasa harus mengingatkan mereka. Maka, konteks hadis tersebut terbatas hanya pada para perempuan yang melakukan dua dosa tersebut dan bukan perempuan secara keseluruhan.

Maka, hanya satu kata kunci yang menjadi pembeda antara manusia satu dengan yang lainnya, di hadapan Tuhan-Nya, yaitu ketakwaan, bukan keutamaan nasab, bukan jenis kelamin, bukan pula kemulian suku. Betapa “demokratis”nya Allah. Renungkanlah pernyataan-Nya, “Hai Manusia, sesungguhnya kami menciptakan kalian dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, dan menjadikan kalian berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kalian saling mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kalian, di kehadirat Allah, adalah orang yang paling bertakwa. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” (QS. Al-Hujurat/49:13).

Kata kunci itulah yang akan menjadi pembuka pintu surga-Nya. Siapa saja yang memegang kunci tersebut, maka dialah yang berhak membuka pintu surga itu. Wallahu a’lam bis-shawab.

Tidak Ada “Cinta Pada Pandangan Pertama”!

22 June 2008 § 1 Comment


Kata-kata romantis diumbar sedemikian rupa. Kunjungan-kunjungan berbalut kepentingan romantis intensif dilakukan. Pemberian dan permintaan berhias romantis silih berganti begitu mudah. Kesanggupan menanggung beban, berkorban dan melayani sebesar dan jika perlu melebihi kepentingan sendiri, walaupun berat tapi coba dilakukan sebatas daya atas nama cinta. Cukuplah semua itu sebagai pengejawantahan rasa cinta sekaligus sebagai pemantik untuk menjaring keintiman cinta. Sungguh, ekspresi cinta yang manusiawi. Cinta yang begitu abstrak seolah nampak berupa.

Pada saat seperti itulah, kerap kali, cinta dianggap sebagai sosok berwajah manis yang diagungkan karena dianggap menguntungkan. Dan dalam sekejap bisa saja menjadi terdakwa berwajah bengis saat berlalu menyisakan petaka dan tangis. Nyatalah, romantisme dan cinta yang diagungkan, ketulusan yang dirasakan, dan pengorbanan yang diberikan selama ini hanyalah klaim belaka yang diduga sebagai cinta dan ketulusan.

Sebagai mahluk fisik, bolehlah berkata, ketulusan dan cinta hanya dapat diukur dari ekspresi lahiriah (ini bukan tentang “hubungan intim” lho!), tapi percayalah, jangan terlalu yakin dengan itu. Sebab, keduanya adalah “mahluk abstrak” yang tidak terukur oleh fisik dan sangat mungkin tersilap oleh inderawi. Oleh karenanya, saya termasuk yang tak percaya dengan istilah “jatuh cinta pada pandangan pertama”. Mata bukanlah pengambil keputusan yang baik untuk menyatakan cinta, apalagi ditentukan oleh pandangan pertama. Jangan pula terkesima oleh ekspresi cinta yang keluar dari mulut yang diklaim dari hati yang paling dalam. Sebab, mulut bukanlah obyek yang baik untuk menilai cinta. Cinta terlalu murah dan rendah jika hanya berdasar mata dan mulut saja. Paling banter, mata dan mulut hanya bisa menyatakan dan menyampaikan kesan atas penampilan fisik.

Cinta adalah entitas yang rumit dan kompleks, yang melakukan perjalanan terus menerus dan akan terhenti jika mati telah mengkebiri. Sedangkan kesan hanyalah lirikan mata atau penilaian pikiran yang membentur fisik yang dianggap mengagumkan. Kesan akan berubah, seiring dengan berubahnya fisik, sedangkan cinta tak mengenal semua itu. Jadi, jangan pernah mengambil keputusan berdasarkan kesan. Jadikanlah kesan hanya sebagai salah satu (dan bukan satu-satunya) pertimbangan untuk megambil keputusan.

Jatuh cinta pada pandangan pertama? Bukan! Jadi? Itu hanya kesan mata atas kekaguman fisik.

Pernikahan puncak ekspresi cinta? Saya kira sangat manusiawi, jika memiliki adalah bagian dari ekspresi cinta. Namun, dengan telah memilik bukan berarti cinta telah sampai pada puncaknya. Sekali lagi, cinta adalah perjalanan tanpa henti yang hanya bisa dikebiri oleh mati. Jika sebuah pacaran didasarkan atas cinta, tak mustahil akan berlanjut ke jenjang pernikahan. Dan jika pernikahan dilandaskan atas cinta, barangkali hanya maut yang mampu memisahkan pasangan suami isteri.

Menurut saya, cinta ideal yang mampu mempertahankan sebuah hubungan adalah kombinasi sempurna hati dan pikiran yang matang. Jika Anda telah memiliki kombinasi sempurna keduanya, nyatakanlah kepada orang yang mengusik hati dan pikiran Anda, bahwa Anda ingin memilikinya. Atau persiapkan hati dan pikiran matang Anda, jika suatu saat ada orang yang menyatakan hasrat kepada Anda. Bukan semata mengikuti emosi, tanpa berpikir ke depan. Bukan semata kesan mata yang kagum atas fisik. Bukan karena mengisi kekosongan. Bukan sebab sakit hati, sehingga untuk mengobatinya, harus kembali jatuh hati. Bukan pula hanya urusan biologis.

Barangkali sebuah dugaan yang tak dapat dipastikan salah, jika sebuah hubungan pacaran kandas sebelum melangkah ke pelaminan, atau biduk rumah tangga yang retak di tengah perjalanan, bisa jadi karena tidak diawali dan tidak ada kombinasi sempurna dua hal tersebut. Romantisme yang pernah menghiasi hari-hari, bisa jadi hanya klaim belaka yang diduga sebagai cinta dan ketulusan, yang keluar dari mulut yang kelu.

Dan jika Anda menuduh cinta sebagai terdakwa berwajah bengis saat berlalu menyisakan petaka dan tangis, mengertilah, itu bukan tindakan bijak. Merenunglah, apakah Anda telah membangun pondasi cinta atas dasar hati dan pikiran yang matang. Jika iya, namun tetap kandas, merenunglah untuk kali yang kedua, jangan-jangan itu hanya klaim.

Sebab, bagi saya, cinta itu menyatukan, mendekatkan dan hanya maut yang mampu memisahkan.

Perempuan Haid Boleh Memegang Mushaf dan Membaca Alquran

28 May 2008 § 2 Comments


Saat perempuan haid, sebagian kita meyakini bahwa ia tidak boleh memegang mushaf dan membaca Alquran. Bagaimana, jika perempuan itu adalah penghafal Alquran pemula, yang masih setiap saat harus berinteraksi (menghafal atau mengulangi hafalan) dengan Alquran?

Tentang Wanita Haid Membaca Alquran

Apa diyakini tentang larangan wanita haid (juga orang junub) membaca Alquran itu, sesungguhnya adalah masalah khilafiyah. Khilafiyah itu muncul sebab perbedaan sikap para ulama terhadap hadis-hadis yang menyatakan larangan tersebut, yaitu hadis riwayat Imam Tirmizi dan Ibnu Majah dari sahabat Ibnu Umar, hadis riwayat Imam Tirmizi dari sahabat Ali, serta atsar riwayat Imam Tirmizi dari sahabat Jabir. Berikut hadis-hadis tersebut,

Riwayat Imam Tirmizi dan Ibnu Majah,

Dari Ibnu Umar, Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam bersabda: “Wanita haid dan orang yang junub tidak boleh membaca (walaupun satu ayat) Alquran.”[1] — (silsilah periwayat: Ibnu Hujr & al-Hasan bin Arafah dari Ismail bin Ayyash dari Musa bin Uqbah dari Nafi’ dari Ibnu Umar)

Riwayat Imam Tirmizi

Ali ia berkata, “Dalam keadaan apapun, selain junub, Rasul shallallah ‘alaihi wasallam selalu membacakan Alquran kepada kita.[2]

Riwayat Imam Tirmizi,

Jabir berkata, “Wanita haid dan nifas serta orang junub tidak boleh membaca Alquran.”[3]

Demikian hadis-hadis, dengan matan (teks hadis) yang berbeda, yang menunjukkan larangan wanita haid dan orang junub membaca Alquran. Namun, hadis-hadis di atas tidak ada yang shahih (valid) satu pun. Semuanya dla’if (lemah). Titik lemah hadis riwayat Imam Tirmizi dan Ibnu Majah pada Ismail bin Ayyash.

Imam Bukhari menyatakan, riwayat Ismail bin Ayyash bisa shahih, bisa juga dlaif, tergantung dari mana ia meriwayatkannya. Riwayatnya shahih, bila ia menerima hadis itu dari Ahl al-Syam (ulama Syam). Dan dlaif, bila ia menerimanya dari Ahl al-Hijaz (ulama Hijaz). Hadis Ibnu Umar di atas, Ismail bin Ayyash meriwayatkannya dari Musa bin Uqbah, orang dari Hijaz. Oleh karenanya, hadis Ibnu Umar di atas dlaif dan tidak bisa dijadikan hujjah (dalil).

Dan titik lemah riwayat Imam Tirmizi selanjutnya adalah pada salah seorang periwayatnya, yaitu Abdullah bin Salamah (al-Muradi al-Kufi). Imam Bukhari menyatakan, la yutaba’ haditsuh (hadis Abdullah bin Salamah tidak patut diikuti). Sedangkan titik lemah riwayat Imam Tirmizi pada salah satu periwayatnya, yaitu Yahya (Yahya bin Abi Anisah). Imam Bukhari, dalam karyanya, al-Tarikh al-Kabir, menyebutnya laisa bi dzaka (“laisa bi dzaka” adalah salah satu bentuk redaksi jarh – penialaian minus), yang mengindikasikan riwayatnya dla’if.

Perbedaan sikap dan pandangan para ulama terhadap hadis-hadis dlaif di atas itulah yang menyebabkan mereka berbeda pendapat (juga) mengenai kandungannya. Imam Bukhari, seperti dijelaskan oleh Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam karyanya, Fath al-Bari (kitab ulasan Shahih Bukhari), memandang hadis-hadis di atas tetap saja tidak shahih, tidak bisa dipakai untuk dalil. Maka, ia termasuk ulama yang memperbolehkan wanita haid dan orang Junub membaca Alquran. Pendapatnya diperkuat dengan dengan hadis Aisyah.

Suatu ketika, Aisyah pergi haji bersama Rasul. Di tengah-tengah pelaksanaan haji itu, Aisyah haid. Hal ini membuatnya menangis sedih. Sebab, merasa hajinya pada tahun itu batal. Melihat Aisyah menangis, Rasul berkata kepadanya,

“Itu (haid) sudah menjadi ketentuan Allah untuk perempuan. Tetap lakukan saja, apa yang dilakukan oleh para jamaah haji yang lain, selain thawaf, kecuali setelah kamu suci dari haid itu.”[4]

Atas dasar hadis ini Imam Bukhari berkesimpulan, bahwa wanita haid (juga orang junub) boleh membaca Alquran. Argumentasinya, ibadah haji memuat ragam zikir dan doa. Dan itu tidak dilarang oleh Rasul bagi wanita haid dan orang junub, kecuali thawaf, seperti disebut oleh hadis di atas. Larangan thawaf ini semata karena ia adalah shalah makhshushah (ibadah tersendiri), yang disyaratkan harus suci dari hadas. Selain thawaf, semua ritual haji, yang berupa zikir dan doa itu, boleh dilakukan oleh wanita haid dan orang junub. Dan membaca Alquran jika ia adalah sebagai “zikir”, maka diperbolehkan bagi wanita haid dan orang junub, sebagaimana Rasul memperbolehkan ritual-ritual haji (selain thawaf) bagi Aisyah yang sedang haid.

Dan membaca Alquran, jika ia adalah “ibadah tersendiri” yang disyaratkan suci dari hadas besar saat melakukannya, maka harus ada dalil yang menunjukkan hal itu. Dan dalilnya memang ada, namun tidak ada yang shahih satu pun, seperti telah dijelaskan di atas.

Imam Bukhari juga melandaskan pembolehan itu dengan hadis lain, yang juga diriwayatkannya sendiri (juga diriwayatkan oleh Imam Muslim),

Dari Aisyah, ia berkata, “Nabi shallallah ‘alaihi wasallam selalu berzikir kepada Allah setiap saat.”[5]

Menurutnya, zikir Rasul tersebut bersifat umum, baik dengan Alquran atau zikir-zikir lainnya. Dan dilakukan setiap saat, termasuk saat beliau dalam keadaan junub.

Di kalangan shahabat yang berpendapat bahwa orang junub boleh membaca Alquran adalah Ibnu Abas. Imam Bukhari juga menukil ucapan Ibrahim bin Yazid bin Qais al-Nakha’i, seorang ulama generasi tabi’in, yang mengatakan bahwa wanita Haid boleh membaca Alquran (ini juga diriwayatkan oleh Imam Darimi). Dengan menukil ucapan Ibrahim al-Nakha’i ini, Imam Bukhari hendak menjelaskan bahwa larangan wanita haid membaca Alquran tidak mujma’ ‘alaih (bukan kesepakatan para ulama).

Termasuk dari generasi tabi’in lain yang membolehkan orang junub membaca Alquran adalah Ibnu Musayyab dan Ikrimah. Ulama lain yang memperbolehkan wanita haid dan orang junub membaca Alquran adalah Imam Thabari.

Dalam catatan Ibnu Hajar, Imam Malik mengatakan, bahwa wanita haid boleh membaca Alquran, tapi tidak dengan orang junub. Dengan alasan maslahah, yaitu untuk menjaga hafalan Alquran. Sebab, masa haid bagi perempuan yang relatif panjang, jika larangan itu diberlakukan, akan mengganggu hafalan Alquran-nya. Sebab, menghafal Alquran adalah hal yang tidak mudah, dan lebih tidak mudah lagi menjaga dan mempertahankan hafalan itu. Berbeda dengan orang junub, yang tidak perlu menunggu berhari-hari untuk suci.

Berbeda dengan sikap Imam Bukhari dalam menyikapi hadis-hadis (dlaif) di atas, walaupun hadis yang menunjukkan larangan wanita haid dan orang junub membaca Alquran semuanya berstatuf dlaif, namun tetap bisa dijadikan dalil (yashluh an yutamassak bih). Walaupun semua berstatus dlaif – dan sebagian hadis kadar ke-dlaif-annya tidak parah – tapi masing-masing saling menguatkan (atau dalam ilmu hadis disebut dengan hadis hasan lighairih/hadis dlaif berubah status menjadi hadis hasan karena faktor eksternal). Sehingga, larangan wanita haid dan orang junub membaca Alquran tetap berlaku. Termasuk ulama yang berpendapat demikian, adalah Sufyan al-Tsauri, Imam al-Syafi’i, Imam Ahmad bin Hanbal, dan Ishak.

Namun, Imam al-Nawawi, yang mengulas kitab Shahih Muslim karya Imam Muslim, membedakan antara “membaca Alquran” dan “zikir dengan ayat Alquran”. Dan yang dilarang, menurutnya, adalah “membaca Alquran”. Sehingga, sekedar membaca alhamdulillah atau bismillahirahmanirrahim dengan niat “membaca Alquran”, bagi wanita haid dan orang junub tetap tidak boleh, karena ia bagian dari Alquran. Dan bila hanya niat “zikir”, maka tidak ada larangan.

Tentang Memegang Mushaf.

Imam Malik, dalam karyanya al-Muwaththa, meriwayatkan hadis,

Dari Imam Malik, dari Abdillah bin Abi Bakr bin Hazm, dia berkata bahwa di dalam surat Rasul yang beliau kirim untuk Umar bin Hazm tertulis, “Tidak boleh menyentuh mushaf Alquran kecuali orang suci dari hadas.”[6]

Hadis riwayat Imam Malik ini mursal (tanpa melalui sahabat), sebab Abdillah bin Abi Bakr bin Hazm adalah seorang tabi’in. Namun, hadis ini masyhur dan bisa dijadikan dalil larangan memegang mushaf bagi yang tidak suci dari hadas. Ulama-ulama yang berpendapat demikian, dari golongan sahabat antara lain, Ali bin Abi Tahlib, Ibnu Mas’ud, Sa’ad bin Abi Waqash, Sa’id bin Zaid.

Dari ahli fikih, antara lain Imam Malik dan Imam Syafi’i. Namun, menurut Imam Malik yang diriwayatkan oleh Ibnu Qasim, boleh memegang mushaf Alquran tanpa bersuci, dengan catatan dalam keadaan darurat, yang tidak memungkinkan untuk bersuci dari hadas, sedangkan kebutuhan untuk memegang mushaf atau membaca Alquran dengan harus memegang mushaf tidak bisa dielakkan. Dalam kehidupan sehari-hari, contoh keadaan darurat, kaitannnya dengan mushaf Alquran, tentu banyak.

Sedangkan dari Mazhab Hanafi, terdapat riwayat dari Abu Hanifah sendiri yang masih diperselisihkan. Satu riwayat menyebutkan, bahwa boleh memegang mushaf bagi orang yang berhadas. Ini juga menjadi pendapat beberapa ulama, dari golongan sahabat antara lain Ibnu Abas. Dan dari golongan tabi’in antara lain Imam Sya’bi. Riwayat yang lain, meyebutkan, boleh memegang mushaf, namun terbatas pada cover-nya, tepi mushaf, dan bagian mushaf yang tidak ada tulisan ayatnya. Sedangkan untuk tulisannya sendiri, harus suci dari hadas. Jadi memegang mushaf Alquran yang lazim kita punya, dalam keadaan hadas tidak mengapa.

Sedangkan ayat Alquran dalam surat al-Waq’iah ayat 79 (la yamussuhu illa al-muthahharun/tidak menyentuhnya kecuali hamba-hamba yang disucikan) bukan dalil larangan menyentuh Alquran bagi yang tidak suci. Al-muthahharun (hamba-hamba yang disucikan) yang dimaksud dalam ayat tersebut adalah para malaikat, seperti yang dijelaskan pada surat ‘Abasa ayat 13-16 (Di dalam kitab-kitab yang dimuliakan. Yang ditinggikan lagi disucikan. Di tangan para penulis (malaikat), yang mulia lagi berbakti). Demikian, penjelasan Imam Malik, dalam kitabnya, al-Muwaththa.

Kesimpulan

Agama Islam dan sikap keberagamaan dalam Islam adalah mudah tidak ada kesulitan di dalamnya, dengan catatan, untuk bisa meraih kemudahan itu tentu saja harus dengan pemahaman tentangnya secara komprehensif atas dasar yang dapat dipertanggung-jawabkan. Ia mudah, namun bukan untuk dimudah-mudahkan tanpa tanggung jawab. Ber-Islam tanpa memahaminya secara komprehensif, akan menimbulkan dua ekses yang sama-sama tidak baik, yaitu pertama, sikap mempersulit dari diri sendiri. Kedua, sikap menggampangkan permasalahan tanpa dasar yang dapat dipertanggung-jawabkan.

Pendapat Imam Bukhari dan ulama yang sependapat dengannya, tentang kebolehan wanita haid membaca Alquran, dan pendapat jumhur yang menyatakan larangannnya, masing-masing ada penjelasan ilmiahnya. Namun, dalam tradisi fikih, bila ada perbedaan pendapat semacam ini, selalu ada al-qaul al-rajih (pendapat yang unggul, namun tidak menafikan yang lain), dan itu terjadi setelah dilakukan analisis perbandingan antara dua pendapat yang berbeda itu.

Namun, khusus untuk masalah darurat seperti yang dilukiskan di atas, dalam pandangan penulis itu adalah sebuah contoh kasus “darurat” (yaitu ada tuntutan sangat kuat untuk menjaga hafalan Alquran yang telah dihafal, dan khawatir rusak jika tidak di-takrir), yang tidak bisa disentuh dengan pendekatan dalil-dalil di atas. Pendekatan yang bisa dilakukan adalah pendekatan “darurat”. Dalam Islam, keadaan darurat memiliki signifikansi tertentu dalam pembentukan sebuah hukum. Pada masalah ini, dalam fikih dikenal sebuah kaidah al-dlarurat tubihu al-mahdzurat/Dalam keadaan darurat, hal-hal yang sebenarnya dilarang menjadi boleh dilakukan. Wallahu a’lam bish shawab.


[1] عَنِ ابْنِ عُمَرَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: لَا تَقْرَأْ الْحَائِضُ وَلَا الْجُنُبُ شَيْئًا مِنْ الْقُرْآن.

[2] عَنْ عَلِيٍّ قَالَ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُقْرِئُنَا الْقُرْآنَ عَلَى كُلِّ حَالٍ مَا لَمْ يَكُنْ جُنُبًا.

[3] عَنْ جَابِرٍ قَالَ: لَا يَقْرَأْ الحَائِضُ وَلَا الْجُنُبُ وَلَا النُّفَسَاءِ الْقُرْآنَ.

[4] فَإِنَّ ذَلِكِ شَيْءٌ كَتَبَهُ اللَّهُ عَلَى بَنَاتِ آدَمَ، فَافْعَلِي مَا يَفْعَلُ الْحَاجُّ، غَيْرَ أَنْ لَا تَطُوفِي بِالْبَيْتِ حَتَّى تَطْهُرِي.

[5] عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ: كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَذْكُرُ اللَّهَ عَلَى كُلِّ أَحْيَانِهِ

[6] عَنْ مَالِك عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ أَبِي بَكْرِ بْنِ حَزْمٍ أَنَّ فِي الْكِتَابِ الَّذِي كَتَبَهُ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِعَمْرِو بْنِ حَزْمٍ أَنْ لَا يَمَسَّ الْقُرْآنَ إِلَّا طَاهِرٌ

Tentang Perempuan; Mayoritas Tapi Minoritas

25 May 2008 § 1 Comment


ADA pertanyaan terlontar perihal perempuan, “Mengapa dalam dominasi kuantitasnya, perempuan (secara umum) minoritas dalam kualitas (peranan), ketimbang laki-laki?”

Ini realita, terjadi dalam berbagai hal, dalam ranah struktural maupun kultural, dari tingkat kelurahan sampai parlemen. Dalam komunitas yang terbuka untuk laki-laki dan perempuan, hampir peran laki-laki selalu mendominasi. Kalaupun ada peran perempuan yang dominan, itu sedikit dan terjadi dalam komunitasnya sendiri dan dalam masalah ‘kewanitaan’.

Data Inter-Parliametary Union 2002 menunjukan rendahnya keterwakilan perempuan dalam politik di Indonesia. Angkanya baru sekitar sembilan persen. Sesuai dengan prinsip keterwakilan dalam demokrasi, maka bila jumlah perempuan di Indonesia lebih dari 50 persen, tidak layak bila hanya diwakili oleh kurang dari 10 persen.

Dalam Pemilu 2004 lalu, kuota untuk perempuan di parlemen ditambah menjadi 30 persen. Namun, tetap saja angka itu adalah kecil bila ketimbang jumlah perempuan Indonesia. Bandingkan dengan kuota untuk laki-laki di parlemen. Dengan jumlah laki-laki yang kurang dari 50 persen (dari jumlah penduduk keseluruhan), mereka mendapat kuota 70 persen! Dan ironisnya, walaupun kuota untuk perempuan dalam parlemen ditambah menjadi 30 persen, tapi seolah-olah tidak ada kesungguhan untuk benar-benar menambah jumlah kursi untuk perempuan dalam parlemen. Sebab, ternyata caleg-caleg perempuan ditempatkan di nomor sepatu, bukan nomor jadi.

Itu baru satu contoh yang paling kongkrit. Dalam institusi pendidikan, misalnya, berapa jumlah dosen perempuan (menunjukan kualitas intelektual). Berapa persen jumlah mahasiswi di dalam ruang kelas (menunjukan minat perempuan dalam intelektualitas). Dalam instistusi pemerintahan, pendidikan, perusahaan, atau badan struktural lainnya, hampir seluruhnya laki-laki-lah yang memegang posisi strategis.

Secara umum, sebenarnya jawaban dari persoalan di atas mudah; minoritasnya SDM perempuan. Di samping kendala kultural dan struktural, memang ada beberapa faktor ‘alamiah’ dan kodrati yang ‘menuntut’ perempuan untuk tidak bisa bergerak dan berperan seleluasa laki-laki. Untuk yang terakhir bisa dimaklumi dan wajar. Tapi, hal tersebut sebenarnya tidak menjadi soal. Terbukti dengan adanya sosok-sosok perempuan yang menasional. Tapi, sekali lagi, yang seperti mereka hanya sedikit.

Keluar dari faktor-faktor kodrati, sesungguhnya (ini perlu disadari) ada faktor ‘kesengajaan’ yang menghambat peran kualitas intelektual perempuan. Faktor kesengajaan itu adalah di mana perempuan-perempuan telah di-setting agar tidak berperan dan cenderung dijadikan ‘objek’. Perempuan ditempatkan sebagai objek untuk dieksploitasi secara seksual. Perempuan dinobatkan sebagai bidadari jelita yang dipertontonkan, dipersembahkan, dan diperebutkan untuk semua orang, dengan keindahan fisik yang dimilikinya. Kita seharusnya tersinggung dan marah dengan hal itu, ketika yang dihargai dari perempuan adalah bibirnya, dadanya, pahanya, pinggulnya, bokongnya, rambutnya, bodynya. Kita seharusnya marah, kenapa bukan otaknya yang dihargai. Ini penghinaan! Tidak manusiawi!

Siapakah yang paling berperan dalam ‘pengobjekkan’ perempuan? Media massa. Perkembangan media massa beserta segala perangkat komunikasi saat ini memang menjalankan proses ‘pengobjekkan perempuan’. Selain media massa, (sebetulnya) jangan-jangan perempuan-perempuan itu sendiri, secara bawah sadar merelakan pengobjekkan itu, dan dengan sendirinya ia telah berperan dalam pengobjekkan dirinya sendiri, karena merasa pengobjekkan tersebut memberikan keuntungan bagi dirinya. Atau, jangan-jangan, tanpa disadari, kita pun melakukan pengobjekan tersebut, dan diam-diam menikmatinya.

Pengobjekkan adalah penghinaan, bukan hanya bagi perempuan sendiri, tapi bagi kemanusiaan secara keseluruhan. Sebagai mahluk yang dikaruniai otak dan akal yang membedakan dengan mahluk lainnya, tidak sepatutnya manusia menjadi objek. Otak (akal) yang merupakan karunia paling istimewa untuk manusia dan tidak dimiliki mahluk lain, tapi juteru banyak yang tidak merasa istimewa dengannya. Dan akan merasa istimewa dan terpandang oleh selainnya, merasa istimewa oleh kulit mulus, bibir seksi, dada menggunung, pinggul menggitar, yang notabene organ-organ tersebut juga dimilki oleh mahluk selain manusia. Mengistimewakan organ tubuh manusia tidaklah manusiawi. Yang manusiawi adalah mengistimewakan yang hanya dimiliki oleh manusia, dan tidak dimiliki oleh mahluk lain, yaitu otak alias akal. Karena di situlah hakekat kemanusiaan manusia (hayawan natiq).

Inilah tantangan bagi aktivis emansipan, aktivis perempuan dan aktivis gender untuk mengembalikan perempuan (dan kemanusiaan secara keseluruhan) ke dalam ‘habitat’ asalnya sebagai mahluk berotak dan berakal, sebagai mahluk yang dihargai karena akalnya, sebagai mahluk yang diperebutkan karena SDM-nya, bukan karena bodynya. Itulah seharusnya, sebelum mereka berteriak keras tentang emansipasi (di segala bidang). Bukan berteriak-teriak emansipasi tanpa melihat kualitas yang diperjuangkan (perempuan itu sendiri), sehingga yang terjadi adalah memaksakan emansipasi dan akhirnya menghasilkan emansipasi yang tak berkualitas.

Emansipasi peran laki-laki dan perempuan akan berjalan secara kultural, jika intelektualitas, yang merupakan jembatan ke arah itu, menjadi ukuran dan dihargai. Pengobjekkan perempuan akan sirna, jika yang dihargai adalah otaknya.

Jadi, mengapa terjadi minoritas peran perempuan?

Where Am I?

You are currently browsing entries tagged with wanita at Warung Nalar.

%d bloggers like this: