Merebut Allah, Merebut Bayangan

8 December 2008 § 3 Comments


al-rahman ‘ala al-arsy istawa…

Tuhan adalah “sosok” yang tak pernah terbatas, rampung, final, dan komprehensif. Maka, berkahlah bagi manusia, Tuhan membahasakan diri, membatasi diri dengan bahasa yang manusiawi, dengan kata-kata, untuk diketahui manusia sehingga mereka dapat berkata-berkata tentang-Nya, meski dengan piranti nalar yang terbatas, bisa rampung dan final. Sebab itu, manusia mampu berbicara dan berkata-kata tentang Tuhan hanya pada batas-batas yang mampu dikatakannya.

Namun, bahasa selalu tak memadai untuk sepenuhnya mendeskripsikan, menjelaskan, dan dengan itu pula membubuhkan nilai dan merumuskan makna. Ribuan kalimat tersusun merangkai yang Tuhan firmankan tentang diri-Nya, bukanlah batas paling maksimal dan esensial tentang-Nya. Maka, bahasa sebenarnya hanya menangkap jejak, memotret bayangan dari “tongkat” yang tak pernah rampung dan final itu.

Bahasa, yang Tuhan gunakan untuk menjelaskan diri-Nya kepada manusia, adalah sebuah simbol: sebuah isyarat untuk mengungkapkan sesuatu dan pada saat yang sama menyembunyikan sesuatu. Sesuatu yang berada di luar jangkauan nalar dan tak terdeteksi indera tapi bisa dibahasakan, maka bahasa itulah simbol, jejak, bayangan dari esensi sesuatu itu. Kau bisa membaca, menafsirkan sebuah bahasa, tapi barangkali tak layak menyatakan diri telah sampai pada batas paling esensial, final, dan absolut. Selalu mungkin ada yang tersembunyi dari sebuah bahasa, yang luput dari sekedar pembacaan atasnya.

Selanjutnya, hal itu mengantarkan pada konskuensi wajar: bahasa tersaji terbuka untuk ditentukan oleh maksud pembaca. Tuhan membahasakan diri lewat bahasa simbol yang – dengan segenap misteri tersembunyi – merangsang manusia, sebagai pembaca, untuk mengurai, menelaah, menalar, sampai akhirnya memecahkan dan menentukan misteri yang tersembunyi dari balik simbol itu, sekali lagi, pada batas-batas yang mampu dikatakannya. Dan Tuhan, sebagai penulis kisah, bahkan pelaku cerita dari sebuah teks bahasa, dan paling mengerti maksud esensial bahasa itu, tak lagi hadir sebagai pengarah, “lepas tangan”, memberikan kewenangan kepada manusia untuk melakukan elaborasi.

Kita sadari atau tidak, itulah takdir bahasa.

Sepenggal firman yang saya nukil di atas, adalah (salah satu) contoh di mana Tuhan – esensi yang tak terjangkau nalar dan tak terdeteksi indera – membahasakan diri pada batas bahasa dan kata yang paling reduktif, tapi dengan itu manusia bisa berinteraksi. Firman itu kita terjemahkan dengan: “(Yaitu) Tuhan Yang Maha Pemurah, Yang bersemayam pada Arsy”.

Dari pengalaman empirik, kita bisa meraba-raba sepenggal firman itu, aktifitas “bersemayam” melibatkan dua unsur: “yang bersemayam” dan “yang disemayami”, dengan sederet persoalan di belakangnya, misalnya, bagaimana posisi “yang bersemayam” pada “yang disemayami”. Seperti apakah bentuk “yang disemayami” itu, apakah lebih besar dari “yang bersemayam”, jadi, katakanlah “yang disemayami” itu seperti rumah, atau lebih kecil, maka katakanlah “yang disemayami” itu sepeti kursi. Jika “yang disemayami” disepertikan rumah atau kursi, ke arah manakah ia menghadap.

Tentu, ada kemungkinan lain, misalnya, kita setuju dengan arti reduktif itu, hanya saja, karena ini menyangkut Allah, Tuhan Yang Maha Suci, maka tak perlulah ditanyakan, “bagaimana” dan “seperti apa” Ia bersemayam, yang pertanyaan itu hanya layak disandarkan kepada manusia. Bersikap al-tanzih saja. Yang jelas, bahasa Tuhan tentang diri-Nya adalah bahasa kebenaran. Sekilas, ini seperti pasrah menyerah pada bahasa, tapi sesungguhnya adalah sebuah sikap pilihan.

Atau sebuah kemungkinan lain: kita harus lari dari teks bahasa reduktif itu untuk menemukan makna, agar tidak terjebak pada pertanyaan-pertanyaan tak elok dan tak bakal selesai, atau terperangkap pada kesan pasrah menyerah pada bahasa. Makna lain itu, misalnya, sepenggal firman di atas adalah bahasa Tuhan untuk menyimbolkan ke-Maha-Perkasa-annya. Bagi Tuhan, cuma ada dua hal: diri-Nya dan bukan diri-Nya yang lahir dari diri-Nya. Dan yang bukan diri-Nya itu berada dalam lingkaran kuasa dan pengawasan-Nya. (Atau, sesungguhnya cuma ada diri-Nya, dan yang lain hanyalah manifes dari-Nya).

Atau, kemungkinan-kemungkinan pemaknaan lain di mana Kau sampai pada batas kenyamanan dan ketentraman hati.

Kau juga bisa mencari kemungkinan pemaknaan, misalkan, pada “wahuwa ma’akum anama kuntum” (Tuhan selalu menyertai di mana pun kalian berada), pada “yadullah fauqa aidihim” (Tangan Tuhan ada di atas tangan mereka), pada “qalb al-mu’min baina ishbain min ashabi’ al-rahman” (Kalbu orang beriman ada dalam genggaman jemari Tuhan), atau juga pada “…jannaat tajri min tahtiha al-anhar” (…surga yang di bawahnya melintas aliran sungai) …

Selalu ada kemungkinan yang bisa Kau temukan dari sebuah teks bahasa. Bila Kitab Suci punya pengantar dan tamat, teks bahasa Kitab Suci adalah sebuah hamparan pemaknaan yang meruah, membentang, jalin menjalin, terus menerus, tak punya awal, tak kunjung final. Dan, ketika kemungkinan sedemikian meruah, pilihanmu pada salah satu kemungkinan di antara yang meruah itu, sesungguhnya bukan lagi semata berdasar pada kebenaran nalar, tapi pada kenyamanan dan ketentraman hati.

Jelas, Allah, Ilahi, Rabbi, Tuhan, Gusti, Pangeran, God… hanya simbol, jejak, bayangan, sebuah batas bahasa di mana kita bisa berkata-kata, berdiskusi, berdebat tentang esensi yang supernatural, tak terjangkau nalar, tak terdeteksi indera, di mana sebuah esensi itu transenden, Yang Maha. Namun, bahasa akan bernasib “selalu tak memadai untuk sepenuhnya mendeskripsikan, menjelaskan”. Allah (sebagai bahasa) terlalu sempit, tidak akan sepenuhnya memadai untuk mendeskripsikan, menjelaskan Allah sebagai esensi yang supernatural, transenden, Yang Maha.

Telah lebih dari setahun, Malaysia memberlakukan larangan kata “Allah” digunakan media non-Islam. Hanya terjadi di Malaysia, kata “Allah” diklaim sebagai hak eksklusif umat Islam untuk menggunakannya. Alasannya: penggunaan kata “Allah” di media non-Islam ditakutkan akan menimbulkan gejolak di negara yang mayoritas penduduknya beragama Islam ini. Alasan yang cenderung naif.

Pertama, ini sama sekali sepele, tidak esensial dan tidak mencerdaskan. Kedua, cukup untuk menggambarkan “hidup yang didominasi oleh kuantifikasi, sebuah hidup yang memusuhi perbedaan kualitatif”. Ketiga, menunjukkan kepongahan mayoritas, dan pada saat yang sama inferioritas mayoritas, mayoritas yang kurang percaya diri, yang rapuh, sehingga membutuhkan kekuatan (pemerintah sekalipun) untuk menopangnya. Ini penyakit.[]

Apakah “Allah” Hanya Milik Umat Islam?

1 December 2008 § 51 Comments


Oleh Ulil Abshar Abdalla

200px-ulil1

Ulil, 2004

Seorang perempuan beragama Kristen saat ini sedang menggugat pemerintah Malaysia dengan alasan telah melanggar haknya atas kebebasan beragama (baca International Herald Tribune, 29/11/2008). Mei lalu, saat balik dari kunjungan ke Jakarta, Jill Ireland, nama perempuan itu, membawa sejumlah keping DVD yang berisi bahan pengajaran Kristen dari Jakarta. Keping-keping itu disita oleh pihak imigrasi, dengan alasan yang agak janggal: sebab dalam sampulnya terdapat kata “Allah”.

Sejak tahun lalu, pemerintah Malaysia melarang penerbitan Kristen untuk memakai kata “Allah”, sebab kata itu adalah khusus milik umat Islam. Umat lain di luar Islam dilarang untuk menggunakan kata “Allah” sebagai sebutan untuk Tuhan mereka. Pemakaian kata itu oleh pihak non-Muslim dikhawatirkan bisa membingungkan dan “menipu” umat Islam (Catatan: “Sedih sekali ya, umat Islam kok mudah sekali tertipu dengan hal-hal sepele seperti itu?”)

Pertanyaan yang layak diajukan adalah: apakah kata “Allah” hanyalah milik umat Islam saja? Apakah umat lain tidak boleh menyebut Tuhan yang mereka sembah dengan kata “Allah”? Apakah pandangan semacam ini ada presedennya dalam sejarah Islam? Kenapa pendapat seperti itu muncul?

Sebagai seorang Muslim, terus terang saya tak bisa menyembunyikan rasa geli, tetapi juga sekaligus jengkel, terhadap pandangan semacam ini. Sikap pemerintah Malaysia ini jelas bukan muncul dari kekosongan. Tentu ada sejumlah ulama dan kelompok Islam di sana yang menuntut pemerintah mereka untuk memberlakukan larangan tersebut.

Di Indonesia sendiri, hal serupa juga pernah terjadi. Beberapa tahun lalu, ada seorang pendeta Kristen di Jakarta yang ingin menghapus kata “Allah” dalam terjemahan Alkitab versi bahasa Indonesia. Menurut pendeta itu, istilah “Allah” bukanlah istilah yang berasal dari tradisi Yudeo-Kristen. Nama Tuhan yang tepat dalam tradisi itu adalah Yahweh bukan Allah.

Jika usulan untuk melarang penggunaan kata Allah berasal dari dalam kalangan Kristen, tentu saya, sebagai orang luar, tak berhak untuk turut campur. Tetapi jika pendapat ini datang dari dalam kalangan Islam sendiri, maka saya, sebagai seorang Muslim dan “orang dalam”, tentu berhak mengemukakan pandangan mengenainya.

Pandangan bahwa istilah Allah hanyalah milik umat Islam saja, menurut saya, sama sekali tak pernah ada presedennya dalam sejarah Islam. Sejak masa pra-Islam, masyarakat Arab sendiri sudah memakai nama Allah sebagai sebutan untuk salah satu Tuhan yang mereka sembah. Dalam Quran sendiri, bahkan berkali-kali kita temui sejumlah ayat di mana disebutkan bahwa orang-orang Arab, bahkan sebelum kedatangan Islam, telah mengakui Allah sebagai Tuhan mereka (baca QS 29:61, 31:25, 39:37, 43:87). Dengan kata lain, kata Allah sudah ada jauh sebelum Islam sebagai agama yang dibawa Nabi Muhammad lahir di tanah Arab.

Begitu juga, umat Kristen dan Yahudi yang tinggal di kawasan jazirah Arab dan sekitarnya memakai kata Allah sebagai sebutan untuk Tuhan. Para penulis Kristen dan Yahudi juga memakai kata yang sama sejak dulu hingga sekarang. Seorang filosof Yahudi yang hidup sezaman dengan Ibn Rushd di Spanyol, yaitu Musa ibn Maimun (atau dikenal di dunia Latin sebagai Maimonides [1135-1204]) menulis risalah terkenal, “Dalalat al-Ha’irin” (Petunjuk Bagi Orang-Orang Yang Bingung). Kalau kita baca buku itu, kita akan jumpai bahwa kata Allah selalu ia pakai untuk menyebut Tuhan.

Semua Bibel versi Arab memakai kata Allah sebagai nama untuk Tuhan. Ayat pertama yang terkenal dalam Kitab Kejadian diterjemahkan dalam bahasa Arab sebagai berikut: “Fi al-bad’i khalaqa Allahu al-samawati wa al-ard” (baca “Al-Kitab al-Muqaddas” edisi The Bible Society in Lebanon). Dalam terjemahan versi Lembaga Alkitab Indonesia (LAI), ayat itu berbunyi: “Pada mulanya Allah menciptakan langit dan bumi”.

Tak seorangpun sarjana Islam yang memakai bahasa Arab sebagai bahasa ibu mereka, entah pada masa klasik atau modern, yang mem-beslah atau keberatan terhadap praktek yang sudah berlangsung ratusan bahkan ribuan tahun itu. Tak seorang pun ulama Muslim yang hidup sezaman dengan Maimonides yang memprotes penggunaan kata Allah dalam buku dia di atas.

Polemik antara Islam dan Kristen sudah berlangsung sejak masa awal Islam, dan, sejauh pengetahuan saya, tak pernah kita jumpai seorang “mutakallim< ” atau teolog Muslim yang terlibat perdebatan dengan teolog Kristen atau Yahudi karena memperebutkan kepemilikan atas kata Allah. (Survei terbaik tentang sejarah polemik Islam-Kristen sejak masa awal Islam hingga abad ke-4 H/10 M adalah buku karangan Abdul Majid Al-Sharafi, “Al-Fikr al-Islami fi al-Radd ‘Ala al-Nashara”, 2007).

Dalam perspektif historis, pandangan sejumlah ulama Malaysia yang kemudian diresmikan oleh pemerintah negeri jiran itu, jelas sangat aneh dan janggal sebab sama sekali tak ada presedennya. Dipandang dari luar Islam, pendapat ulama Malaysia itu juga bisa menjadi bahan olok-olok bagi Islam. Sebab, pandangan semacam itu tiada lain kecuali memperlihatkan cara berpikir yang sempit di kalangan sebagian ulama. Jika para ulama di Malaysia itu mau merunut sejarah ke belakang, kata Allah itu pun juga bukan “asli” milik umat Islam. Kata itu sudah dipakai jauh sebelum Islam datang. Dengan kata lain, umat Islam saat itu juga meminjam kata tersebut dari orang lain.

Yahudi, Kristen, dan Islam adalah tiga agama yang lahir dari rahim yang sama, yaitu dari tradisi Ibrahim. Islam banyak sekali mewarisi tradisi dan ajaran dari kedua agama itu. Karena asal-usul yang sama, dengan sendirinya sudah lumrah jika terjadi proses pinjam-meminjam antara ketiga agama itu. Selama berabad-abad, ketiga agama itu juga hidup berdampingan di jazirah Arab dan sekitarnya. Tak heran jika terjadi proses saling mempengaruhi antara ketiga tradisi agama Ibrahimiah tersebut. Tradisi Kristiani, misalnya, mempunyai pengaruh yang besar dalam proses pembentukan Islam, terutama dalam tradisi pietisme atau mistik (baca, misalnya, buku karangan Tarif Khalidi, “The Muslim Jesus: Saying and Stories in Islamic Literature”, 2001).

Quran sendiri banyak meminjam dari tradisi lain, termasuk dalam konteks istilah-istilah yang berkaitan dengan peribadatan. Hampir semua istilah-istilah ritual yang ada dalam Islam, seperti salat (sembahyang) , saum (puasa), hajj, tawaf (mengelilingi ka’bah), ruku’ (membungkuk pada saat salat) dsb., sudah dipakai jauh sebelum Islam oleh masyarakat Arab.

Dengan kata lain, proses pinjam-meminjam ini sudah berlangsung sejak awal kelahiran Islam. Pandangan ulama Malaysia itu seolah-olah mengandaikan bahwa semua hal yang ada dalam Islam, terutama istilah-istilah yang berkenaan dengan doktrin Islam, adalah “asli” milik umat Isalm, bukan pinjaman dari umat lain. Sebagaimana sudah saya tunjukkan, pandangan semacam itu salah sama sekali.

JIKA demikian, bagaimana kita menjelaskan pendapat yang janggal dari Malaysia itu? Saya kira, salah satu penjelasan yang sederhana adalah melihat masalah ini dari sudut dinamika internal dalam tubuh umat Islam sendiri sejak beberapa dekade terakhir. Sebagaimana kita lihat di berbagai belahan dunia Islam manapun, ada gejala luas yang ditandai oleh mengerasnya identitas dalam tubuh umat. Di mana-mana, kita melihat suatu dorongan yang kuat untuk menetapkan batas yang jelas antara Islam dan non-Islam. Kekaburan batas antara kedua hal itu dipandang sebagai ancaman terhadap identitas umat Islam.

Penegasan bahwa kata “Allah” hanyalah milik umat Islam saja adalah bagian dari manifestasi kecenderungan semacam itu. Pada momen-momen di mana suatu masyarakat sedang merasa diancam dari luar, biasanya dorongan untuk mencari identitas yang otentik makin kuat. Inilah tampaknya yang terjadi juga pada umat Islam sekarang di beberapa tempat. Kalau kita telaah psikologi umat Islam saat ini, tampak sekali adanya perasaan terancam dari pihak luar. Teori konspirasi yang melihat dunia sebagai arena yang dimanipulasi oleh “kllik” tertentu yang hendak menghancurkan Islam mudah sekali dipercaya oleh umat. Teori semacam ini mudah mendapatkan pasar persis karena bisa memberikan justifikasi pada perasaan terancam itu.

Keinginan untuk memiliki identitas yang otentik dan “beda” jelas alamiah belaka dalam semua masyarakat. Akan tetapi, terjemahan keinginan itu dalam dunia sehar-hari bisa mengambil berbagai bentuk. Ada bentuk yang sehat dan wajar, tetapi juga ada bentuk yang sama sekali tak masuk akal bahkan lucu dan menggelikan. Pandangan ulama Malaysia yang kemudian didukung oleh pemerintah negeri itu untuk melarang umat Kristen memakai istilah “Allah” adalah salah satu contoh yang tak masuk akal itu. Sebagaimana saya sebutkan di muka, secara historis, pandangan semacam ini sama sekali tak ada presedennya. Selain itu, proses saling meminjam antara Islam, Kristen dan Yahudi sudah berlangsung dari dulu.

Bayangkan saja, jika suatu saat ada kelompok Yahudi yang berpikiran sama seperti ulama Malaysia itu, lalu menuntut agar umat Islam tidak ikut-ikutan merujuk kepada nabi-nabi Israel sebelum Muhammad — apakah tidak runyam jadinya. Orang Yahudi bisa saja mengatakan bahwa sebagian besar nabi yang disebut dalam Quran adalah milik bangsa Yahudi, dan karena itu umat Islam tak boleh ikut-ikutan menyebut mereka dalam buku-buku Islam. Sudah tentu, kita tak menghendaki situasi yang “lucu” dan ekstrem seperti itu benar-benar terjadi.

Selama ini umat Islam mengeluh karena umat lain memiliki pandangan yang negatif tentang Islam, dan karena itu mereka berusaha sekuat mungkin agar citra negatif tentang agama mereka itu dihilangkan. Masalahnya adalah bahwa sebagian umat Islam sendiri melakukan sejumlah tindakan yang justru membuat citra Islam itu menjadi buruk. Menurut saya, pendapat ulama dan sikap pemerintah Malaysia itu adalah salah satu contoh tindakan semacam itu. Jika umat Islam menginginkan agar umat lain memiliki pandangan yang positif tentang agama mereka, maka langkah terbaik adalah memulai dari “dalam” tubuh umat Islam sendiri. Yaitu dengan menghindari tindakan yang tak masuk akal.

Tak ada gunanya umat Islam melakukan usaha untuk mengoreksi citra Islam, sementara umat Islam sendiri memproduksi terus-menerus hal-hal yang janggal dan tak masuk akal.

Caveat: Mohon maaf kepada teman-teman dan pembaca Malaysia, jika tulisan saya ini terlalu kritis pada pemerintah Malaysia dalam isu yang spesifik ini. Saya sama sekali tidak berpandangan bahwa sikap pemerintah Malaysia itu mewakili sikap seluruh umat Islam di sana. Saya tahu, banyak kalangan Islam di sana yang tak setuju dengan sikap ulama dan pemerintah Malaysia ini.[]

~ Dicomot dari milist JIL [islamliberal@yahoogroups.com] ~

Cukup Sadar Diri Untuk Berambut Panjang

9 July 2008 § 1 Comment


Beberapa tempo lalu, saya harus memotong rambut panjang saya. “Harus”, bukan karena kepatuhan terhadap suatu peraturan, bukan karena hukuman, bukan karena masalah kesehatan rambut, bukan pula jengah, tapi sebagai ekspresi memuliakan atas sebuah kecenderungan. Rambut bagus seperti itu lebih layak diurus salon dengan para pegawai yang melek model-model potongan rambut mutakhir plus memahami karakter rambut sebelum diputuskan model potongan rambut yang tepat, dan saya cukup sadar diri untuk memilih salon ketimbang tempat pangkas rambut ‘konvensional” yang hanya mengerti satu model; yang penting dipotong, meski harus menahan hati setelahnya – dengan tetap eksisnya tempat pangkas rambut konvensional itu, menandakan ada orang-orang yang sesuai dan puas dengan pelayanannya, dan saya bukan salah satunya.

Dari sejak kecil saya memang menyukai rambut panjang. Hanya saat aliyah (SMA), rambut saya tak pernah menyentuh telinga, begitu juga saat kuliah, karena aturannya memang seperti itu. Semasa itu, saya berada di lingkungan orang-orang yang berkecenderungan tak menyukai rambut panjang. Karena itu – meski tidak sesuai dengan naluri – saya tak berpanjang rambut, berusaha menaruh hormat kepada mereka.

Belakangan saya cukup sadar diri, berpanjang rambut bukan sekedar suka, tapi memang saya lebih layak, cocok, dan pantas, mungkin juga lebih “cute” dengan itu. Dan jika saat ini berambut panjang, itu sama sekali tak berarti saya memberontak orang-orang yang berkecenderungan sebaliknya. Namun, jika itu tetap juga dianggap tidak hormat, tentu masih banyak cara lain untuk menaruh hormat.

Itulah, saya kira pentingnya “sadar diri”, atau “narsis” jika Anda melihatnya dengan kesinisan, atau mungkin juga “pede”.

Tapi, memang, garis perbedaan ketiga hal itu adalah semu. Seorang kawan enggan menampilkan foto diri pada friendster-nya, alasannya dia bukan tipe narsis (bisa juga karena argumentasi “beraroma teologis” soal “larangan gambar”, atau dalih “bercita rasa moral”; menjaga “harga diri”, atau mungkin juga karena alasan emosional; malu alias ga pede!), sehingga ditampilkanlah citra abstrak yang “dihalalkan”. Apa berarti saya yang menampilkan foto saya sendiri di friendster, termasuk narsis? Bagaimana jika saya katakan, saya cukup sadar diri, cukup pede, atau bahkan terlalu pede untuk menampilkan gambar saya itu. Semu bukan?!

Barangkali, kita mengetahui sosok diri kita masing-masing, namun belum tentu sadar diri. Saya pernah mempunyai kawan yang, katakanlah, “korban mode”. Dia ingin tampil sesuai dengan citra lain yang menurutnya bagus atau tren berpakaian masa kini yang ia lihat. Bila perlu dicari, kemudian dibeli. Setelah dikenakan, barulah sadar bahwa pakaian itu tak cocok untuknya. Jika saja ia sadar diri sedari awal dan pede dengan kesadarannya, barangkali ia tak harus mengeluarkan duit untuk hal yang akhirnya sia-sia. Tapi, paling tidak ia telah memperdebatkan “trial dan eror” untuk menyepakati yang pantas bagi dirinya.

“Ketidaksadaran diri” atau “ketidak-pede-an” agaknya juga melanda sebagian warga negara di negeri bernama Indonesia. Tak henti-hentinya sebagian kalangan menggembar-gemborkan khilafah sebagai “model baju” untuk digunakan Indonesia di tengah-tengah kondisinya yang sedemikian rupa, sebagian yang lain hendak mengenakan model lain sebagai antitesisnya.

Citra ideal soal “baju timur” lebih mempesona bagi sebagian kalangan, dan “baju barat” pun tak kalah pula mempesonanya bagi sebagian yang lain, (seolah meneyampingkan citra pribumi keindonesiaan sendiri), meski citra-citra itu belum tentu cocok teruji dan sesuai dengan kebutuhan – sebagian yang lain mengganggapnya utopia belaka, apalagi menggantikan citra pribumi yang telah melekat selama berabad-abad, dan nyaman-nyaman saja dikenakan, sampai datang citra-citra baru itu. Biarlah Indonesia tumbuh berkembang dengan keindonesiaannya, bukan dengan syariatnya (khilafah), bukan pula dengan ke-liberal-annya. Ketidakjelasan semacam ini justeru menjadi kejelasan karakter Indonesia.

Ekses dari ketidaksadaran diri atas citra sendiri dan silau dengan citra lain adalah tercerabutnya budaya kita sendiri, maka jadilah ia “korban mode”.

Berbeda Pendapat Tetap Akur Jua

7 April 2008 § Leave a comment


Konon, mutiara hikmah ini diungkapkan Imam Syafi’i: ra’yuna shawwab yahtamil al-khatha, wa ra’yu ghairina khatha yahtamil al-shawab, artinya, pendapatku benar, namun bagi orang lain, bisa saja keliru. Dan pendapat orang lain, yang dianggap keliru, bisa saja benar.

Sungguh, ungkapan yang sangat bijak dan bajik, jauh dari kesan arogansi. Tak sedikit pun mencerminkan pemaksaan. Sangat tak terbayang, jika pengucapnya bernafsu pendapatnya harus diikuti, jika memang di sana ada kebenaran yang lain, atau yang lebih benar. Sebuah kuliah penting dari ulama moderat. Untuk beberapa saat, ungkapan ini, menjadi bahan renungan.

Cara berpikir seperti inilah yang perlu ditanamkan pada diri setiap orang. Tindakan pemaksaan kesamaan pikiran, pemaksaan pendapat, barang kali bisa dilakukan, seperti yang terjadi akhir-akhir ini di negeri kita tercinta, namun itu sesungguhnya tidak akan pernah bisa memaksa pikiran kita sama. Sebab, pikiran setiap orang sangat subyektif. Kebenaran yang dianut oleh seseorang, bisa saja adalah kekeliruan bagi yang lain. Sangat sulit untuk serta merta menerima pendapat subyektif orang lain.

null

Tindakan pemaksaan pendapat sesungguhnya adalah pemaksaan subyektifitas untuk menjadi obyektif, sedangkan obyektifitas itu sendiri sesungguhnya tidak diketahui, karena ia hanya milik Tuhan. Obyektifitas Tuhan itu sendiri akan terreduksi, manakala ia bersentuhan dengan alam pikiran manusia yang sama sekali subyektif. Seobyektif apapun pendapat yang kita kemukakan, tetap saja subyektif. Oleh karenanya, subyektifitas pribadi tak seharusnya dipaksakan kepada orang lain.

Persamaan mendasar pada mahluk bernama manusia adalah, mereka sama-sama “hewan” yang berpikir. Dan perbedaan mendasar darinya adalah, apa yang mereka pikirkan pada satu hal tidak sama.

Tanah luas kosong, akan terimajinasi dari darinya ragam macam bangunan. Bagi seorang kyai, tanah seluas itu, sayang kalau dibiarkan mati, dan lebih baik dibangun pesantren di atasnya. Bagi seorang kontraktor, tanah kosong itu potensial dibangun apartemen, kontrakan atau kost-an. Bagi seorang petani, ya, lebih baik dibikin lahan perkebunan atau pertanian. Lain lagi bagi seorang mucikari, tanah itu akan bagus dan prospektif jika diatasnya dibangun rumah bordir. Bagi pencinta sepak bola, mendingan tidak usah dibangun apa-apa, biar bisa terus main bola. Entah apa yang dipikirkan orang yang hobi mancing terhadap tanah itu.

Mereka sama-sama berpikir “menghidupkan” tanah mati itu, namun “kehidupan” apa yang akan mereka bangun, sama sekali berbeda.

Para ulama terdahulu kita pun sering berbeda pendapat pada satu hal. Misal saja, sekte Muktazilah memiliki manhaj (metode berpikir) yang berbeda dengan sekte Asy’ariyah, yang banyak menyebutnya sebagai ahlus-sunah. Muktazilah, misalkan, manhaj mereka adalah taqdim al-‘aql ‘ala al-naql/mengedepankan akal atas Alquran atau hadis. Berbeda dengan Asy’ariyah yang taqdim al-naql ‘ala al-‘aql/mengedapankan Alquran atau hadis atas akal. Perbedaan metode berpikir ini menimbulkan pendapat-pendapat mereka berbeda, bahkan saling menfikan.

Atau, kata “quru” dalam Alquran. Pada satu kata ini, ulama kita bebeda pendapat. Bagi sebagian ulama, kata itu bermakna “suci dari haid”. Dan bagi sebagian yang lain, kata tersebut bermakna “haid”.

Sepintas kita bertanya, apa yang menyebabkan mereka berbeda pada masalah yang sama? Secara teknis, bisa dijawab; karena metode berpikir mereka berbeda. Mereka membuat kaidah sendiri yang baginya tepat untuk menuju titik kebenaran.

Ya, metode berpikir (manhaj) itulah yang tepenting. Kita bisa berkata dan berpendapat apa saja. Apa saja, karena hal itu memang tidak penting. Namun, yang terpenting adalah bagaimana kita berpikir, landasan yang mendasari perkataan kita, argumentsi yang menjadi dasar bangunan pendapat kita. Jadi, kalau pendapat dan perkataan tak lagi penting, mengapa harus ada pemaksaan pendapat untuk menjadi sama?! Mengapa orang lain dipaksa berkata sama?! Yang terkadang dilakukan dengan sangat tidak bijak dan santun.

Bukankah ulama kita mengajarkan cara beda pendapat yang bijak dan santun, yang jauh dari kesan anarkis?! Jangankan hanya sekedar beda pendapat, kemungkaran yang terpampang jelas pun tidak diperkenankan diubah dengan cara anarkis dan main hakim sendiri, apa lagi di negara hukum ini.

Objek Seks

3 April 2008 § 3 Comments


oleh Juman Rofarif

img_0412bjklbhkbjklllnk.jpg

Saya tidak menganjurkan Anda membeli majalah Male Emporium (ME), X Men’s Magazine, Popular, FHM, dan Maxim, dan majalah sejenis, atau membuka situs worldsex.com, lalatx.com, penthouse.com, playboy.com, atau searching di google dengan keyword “bugil”, “telanjang”, “bokep”, “seks”, “sex”, dan seterusnya dan seterusnya…

sex-workers1.jpg

Terlepas setelah Anda membeli, membuka, dan melihat apa yang tidak saya anjurkan tersebut, Anda betah menikmati walaupun mengingkari, atau mengingkari tapi ingin menikmati, menikmati tidak mengingkari, atau tidak menikmati sekaligus mengingkari, yang jelas ada satu hal yang ketara (paling tidak menurut saya), yaitu objekisasi perempuan sebagai simbol seks. Suka tidak suka, yang namanya objek seks adalah perempuan. Sebagai objek, perempuan hanya dihargai karena kemolekan body-nya. Ia diposisikan sebagai objek untuk dieksploitasi secara seksual. Perempuan tak ubahnya (dijadikan) seperti kambing; mahluk tak berpikir yang dihargai karena kelezatannya. Jangan harap dalam majalah-majalah cabul atau situ-situs cabu tersebut akan ditemukan banyak model pria dengan pose telanjang. Alasannya simpel: karena tentu saja pria tidak laku dan tidak akan menarik dijadikan objek seks.

Ironisnya, sadar atau tidak, (sebagian) perempuan sendiri terlibat dalam objekisasi dirinya. Mereka bangga menjadi model telanjang untuk sebuah majalah demi obsesi popularitas dan titian karir. Menguntungkan, memang. Karenanya menjadi idaman perempuan yang terobsesi menjadi model. Pelabelan “majalah khusus pria dewasa”, “adult only”, semakin menguatkan fenomena objekisasi tersebut. Dan media massa, cetak maupun elektronik, adalah alat yang paling bertenggung jawab dalam masalah ini. Sebagai penikmat, laki-laki juga seharusnya menjadi pihak lain yang dipersalahkan bukan?! Bukankah sebuah produk tidak bisa eksis tanpa kehadiran konsumen?!

Seharusnya, masalah seperti ini menjadi perhatian para aktifis gender, yang menghendaki kesetaraan gender yang sehat; laki-laki dan perempuan bersaing dalam ruang publik untuk menjadi subyek yang dihargai karena potensi “akal dan pikir”nya, bukan sebagai objek yang dihargai dan dinikmati karena body-nya. Karena dengan akal dan pikiran itulah dapat diidentifikasi hakikat mahluk yang bernama manusia, yang dihargai karena kemanusiaannya.

Kita mengenal istilah al-insan hayawan natiq, pada dasarnya manusia tak tak jauh beda dengan kambing, sapi, anjing, kucing, kutu, burung, kerbau, babi, ayam. Kita punya paha, hewan-hewan itu juga. Kita memiliki syahwat untuk dilampiaskan, hewan-hewan itu juga. Dengan akal dan hati yang memunculkan sikap malu, kita tidak akan melampiaskan syahwat di jalan-jalan. Berbeda dengan hewan-hewan itu yang tidak dianugerahi akal dan pikiran. Bagi hewan-hewan itu, melampiaskan syahwat di sembarang tempat tak jadi soal. Al-insan hayawan natiq, kita adalah hewan yang mampu berpikir.

Objekisasi di atas hanya sebagian perempuan lho. Sebab, mungkin sebagian lagi diisi oleh laki-laki. He…he… Dan banyak pula perempuan-perempuan yang lebih terhormat yang karya nyatanya telah terbukti dan patut diapresiasi…

Tentang Cantik

30 March 2008 § 13 Comments


Salah satu sisi perempuan yang mendapat porsi perhatian ekstra (waktu dan biaya) adalah kecantikan (lahiriah). Isu kecantikan bukan persoalan sederhana. Ia menjadi isu terpenting, sekaligus kontradiktif, bagi perempuan. Konsep kecantikan lahiriah itu sendiri sangat relatif. Lain budaya, lain pula konsepnya. Lain masa, lain pula deskripsinya. Di Cina, awal abad 20, perempuan cantik adalah pemilik kaki kecil. Sedangkan bagi Suku Dayak di Kalimantan Tengah, perempuan bertelinga paling panjang menjuntai adalah gadis tercantik. Di era 50-an, konsep cantik berkiblat pada aktris Hollywood, Marlyn Monroe, yakni dada besar, pinggang kecil, dan berpinggul besar. Sedangkan era 60-an giliran model Twiggy, berbadan tipis langsing, yang jadi rujukan.

Media massa belakangan sangat berperan mendengungkan konsep kecantikan. Melalui iklan, sinetron, majalah atau video klip terbentuk image bahwa perempuan cantik adalah berkulit putih bersih, bermata indah, berwajah oval, hidung mancung, bibir sensual, tubuh langsing berisi, dan rambut hitam panjang lurus. Itulah mitos wanita sempurna. Gara-gara mitos cantik ini, perempuan bagai dituntut tampil sempurna. Apalagi sudah menjadi fitrah dan naluri, perempuan memang selalu ingin tampil cantik. Di manapun juga di jagad ini, sulit mencari perempuan yang mau tampil buruk, atau bahkan sekedar tampil apa adanya, lebih-lebih jika telah berinteraksi dengan orang lain, lebih-lebih lagi di mata lawan jenisnya.

Adanya berbagai ‘mazhab’ kecantikan yang ditawarkan lewat berbagai media tersebut, sesungguhnya dapat menimbulkan ‘krisis identitas’ dari pihak pemirsa. Sang pemirsa akan terus mencari sosok yang patut dijadikan ‘mazhab’ cantik. ‘Krisis’ itu akan muncul, jika dirinya ternyata sangat jauh berbeda dengan sosok yang diidealkannya. Dari sinilah akan muncul ekses; remaja putri akan merasa minder dengan dirinya, perempuan dewasa tidak segan-segan mempermak wajahnya atau anggota tubuh lainnya sedemikian rupa, hatta operasi plastik, untuk bisa tampil sesuai dengan sosok yang diidealkannya.

Begitulah, jika kecantikan telah dijadikan ukuran standar jati diri dan identitas. Seolah-olah jati diri dan identitas dirinya adalah kecantikannya. Tidak memiliki identitas dan jati diri jika tidak cantik. Pada dasarnya yang demikian tidak salah. Sebab, bagaimanapun, tampil cantik dan sempurna adalah fitrah dan naluri serta dambaan setiap insan. Namun yang perlu disadari adalah, bahwa yang demikian relatif adanya dan bukan segala-galanya. Ada yang lebih penting dari itu, yaitu inner beauty, kecantikan yang memancar dari dalam jiwa yang bersih. Ini definisi cantik yang lebih positif, bersifat universal dan tidak relatif, karena bersumber dari aturan normatif. Walapaupun definisi ini ‘asing’ untuk diungkapkan di tengah-tengah hegemoni identifikasi cantik adalah penampakan lahiriah. Bagi sebagian orang, kecantikan didefinisikan sebagai inner beauty, tapi lebih banyak lagi yang mengidentikkan cantik dengan penampakan lahiriah.

Masa remaja bagi perempuan adalah masa pencarian jati diri dan identitas diri, sekaligus kegelisihan mencari figur untuk dijadikan ‘mazhab’ identitasnya. Pada masa ini mereka terombang-ambing oleh definisi identitas yang beragam. Mereka terus bereksperimen dan selalu ingin mempraktikan fenomena yang mereka lihat. Ketika muncul fenomena ‘jilbab gaul’, apa salahnya mencoba. Ketika semakin banyak para artis yang mengenakan jilbab dengan style yang ngartisi, kalau bisa ditiru, kenapa tidak.Menurut Mr. Kontroversial Abdurahman ‘Gus Dur’ Wahid, yang seperti ini adalah tanda krisis identitas; tidak berani meninggalkan identitas diri sebagai muslimat, tetapi selalu ingin tampil stylish dan enggan disebut kampungan.

Pada masa inilah mereka masih memerlukan pengarahan dan bimbingan untuk menemukan jati diri serta identitasnya yang sebenarnya yang sesuai dengan dirinya sendiri, bukan memaksakan jati diri dan identitas orang lain untuk disematkan pada dirinya. Dalam hal ini, kecantikan menjadi persoalan yang tak terhindarkan. Ia bagian dari identitas yang juga harus dicari.

Jika berpijak pada aturan normatif, kecantikan atau untuk disebut cantik sesungguhnya menekankan ekuitas dua dimensi, yaitu dimensi material atau lahir (kecantikan lahiriah) dan dimensi imaterial atau jiwa (inner beauty). Keduanya harus seimbang. Aturan normatif mengatakan, bahwa Allah tidak memandang lahiriah seseorang, tapi memandang kepada jiwanya. Namun pada kesempatan lain, Allah menganjurkan tampil ‘cantik’ (khudzu zinatakum) ketika pergi ke masjid untuk menghadap-Nya. Nabi umat Islam, Muhammad Rasulullah diutus membenahi ahlak dan jiwa (inner beuty) umatnya, namun pada kesempatan lain, ketika Nabi didatangi oleh salah seorang shahabatnya yang menenakan pakaian kotor dan compang-camping, padahal ia mampu membeli pakaian yang lebih bagus, Nabi menyuruhnya untuk membeli pakaian yang bagus dan pantas. Ini artinya, definisi cantik dalam versi normatif adalah ekuitas antara jiwa yang bersih dan lahir yang sehat dan pantas. Cantik luar dalam. Definisi ini lebih positif

Definisi semacam ini harus terus dikampanyekan di tengah-tengah arus budaya hedonis. Apalagi di kalangan remaja putri yang berada dalam masa transisi. Dengan definisi cantik di atas, mereka akan lebih percaya diri dan tidak terombang-ombang dalam kegelisahannya menemukan jati dirinya.

Imam Salat Perempuan

30 March 2008 § Leave a comment


oleh Juman Rofarif

img_0412lguily89bjkl.jpg

Jumat, 18 Maret 2005, Aminah Wadud, seorang perempuan yang profesor bidang studi Islam di Virginia Commonwhealth University AS, menjadi imam sekaligus khatib untuk salat Jumat. Kontan dunia Islam dibikin geger. Kritikan deras mengalir. Ulama kondang dunia, Yusuf Qardlawi mengecam, dan menyatakan bahwa tindakan Aminah Wadud sebagai bid’ah yang munkar. Kritikan juga keluar dari Syaikh Al-Azhar, Sayyid Thanthawi. Reaksi bermunculan. Ada yang “suuzhan”, bahwa tindakan Wadud sebagai sensasi tanpa makna, ada sebuah sekenario yang melatarbelakanginya dari kelompok tertentu untuk kepentingan tertentu. Adian Husaini, dalam situs hidayatullah.com, menyebut apa yang dilakukan Wadud adalah tindakan nyleneh bias dari ideologi gender equality ala Barat-sekuler. Dan ragam kecaman lainnya. Dan ada juga yang memberikan apresiasi positif atas keberanian Wadud ngoyag-ngoyag kebenaran yang seolah-olah telah mutlak.

Kritikan dan reaksi tersebut sangat wajar. Secara umum, memang banyak garis dan titik yang terlanggar dari salat Jumat versi Wadud tersebut, atau tindakannya tidak dikenal dalam Islam sebelumnya. Tindakannya merupakan akumulasi beberapa pelanggaran. Ini bisa dilihat dari ikhtilath antara jamaah laki-laki dan perempuan, berdiri sejajar tanpa terhalang satir. Pengumandang azan yang perempuan. Jamaah perempuan yang tanpa mukena, karenanya anggota tubuh perempuan yang sebenarnya menjadi aurat dalam salat tidak tertutup. Namun, hemat penulis, sampai pada titik keimaman perempuan (imamah al-nisa’) bagi jamaah laki-laki, tidak seorang pun berhak memvonis sebagai tindakan salah, nyleneh, apalagi bid’ah. Dan khusnuzzan penulis, statemen bi’dah Yusuf Qardlawi hanya pada akumulasi pelanggaran pada ritual jumaatan itu, dan bukan pada titik keimaman perempuan bagi jamaah laki-laki. Sebab, ternyata tidak semua ulama, dalam sejarah pemikiran Islam, melarang perempuan menjadi imam bagi jamaah laki-laki.

Niqasy Nalar Ulama

Berbicara tentang imam salat perempuan bagi makmum laki-laki, akan berputar-putar pada dua Hadis, yaitu pertama, satu Hadis yang diriwayatkan oleh dua rawi, yaitu Abu Daud dan al-Daruquthni dalam kitab Sunan masing-masing. Kedua, Hadis yang diriwayatkan oleh Ibnu Majah dalam kitab Sunan-nya.

Tercatat, ulama yang memperbolehkan seorang perempuan menjadi imam salat bagi jamaah laki-laki antara lain Abu Tsaur (w. 240 H), al-Muzani (w. 264 H), dan al-Thabari (w. 310 H). Abu Tsaur termasuk mujtahid besar, ahli fikih dan murid Imam al-Syafi’i. Begitu juga al-Muzani. Ia adalah murid Imam al-Syafi’i yang kemudian (juga) menjadi mujtahid. Kepada muridnya tersebut, Imam Syafi’i pernah mengatakan, “Al-Muzani nashir mazhabi” (al-Muzani adalah pembela mazhabku). Al-Thabari, yang nama lengkapnya adalah Muhammad bin Jarir bin Yazid bin Khalid al-Thabari Abu Ja’far, adalah al-muhaddis (ahli Hadis), al-faqih (ahli fikih), dan al-muarrikh (sejarawan), dan ahli tafsir penulis kitab tafsir kondang, Tafsir al-Thabari.

Pendapat mereka didasarkan dari Hadis shahih (valid) yang diriwayatkan oleh Imam Abu Daud dalam kitab Sunan-nya.

Suatu ketika, Nabi beserta pasukannya akan berangkat perang Badar. Seorang shahabat perempuan bernama Ummu Waraqah binti Naufal al-Anshari(yah) meminta izin kepada Nabi untuk diikutsertakan dalam perang tersebut sebagai tenaga medis, dengan satu harapan, atas izin Allah, dapat memperoleh kesyahidan. Namun Nabi tidak mengizinkan, “Kamu tetap saja di rumah. Karena Allah akan memberikan kesyahidan itu kepadamu (tanpa harus mengikuti perang).” Ummu Waraqah setuju, namun ia meminta kepada Nabi untuk mengutus muazzin (pengumandang azan) ke rumahnya untuk mengumandangkan azan pada saat-saat salat. Nabi pun memenuhi permintaan Ummu Waraqah itu, dan mengutus kepadanya seorang laki-laki tua (syaikh kabir). Nabi menyuruh Ummu Waraqah menjadi imam untuk penghuni rumahnya. Saat itu, Ummu Waraqah, di rumahnya, memiliki pembantu laki-laki (ghulam) dan perempuan (jariyah). Keduanya mudabbar (budak yang bisa bebas jika tuannya telah mati).

Seperti di tulis oleh al-Shan’ani dalam Subul al-Salam kitab syarh (komentar) Bulugh al-Maram, Hadis di atas merupakan argumentasi kebolehan keimaman perempuan bagi keluarganya, meskipun dalam keluarga tersebut ada laki-laki. Dan walaupun pengumandang azannya adalah laki-laki (seperti riwayat Ummu Waraqah di atas). Dan Hadis tersebut jelas menunjukkan, pembantu laki-laki (ghulam) dan perempuan (jariyah) ikut salat bermakmum kepada Ummu Waraqah. Pendapat ini juga dinukil oleh Abu Thayyib Abadi dalam ‘Aun al-Ma’bud, kitab komentar Sunan Abi Daud.

Sementara itu, tidak ada Hadis shahih (valid) yang secara spesifik, jelas, dan pasti melarang seorang perempuan menjadi imam bagi jamaah laki-laki. Hadis riwayat Ibnu Majah yang melarang perempuan menjadi imam (ala la ta’ummanna imra’ah rajulan) tidak valid, dla’if. Sebab, salah seorang perawi Hadis tersebut, Abdullah bin Muhammad al-‘Adawi, tidak diakui integritasnya oleh para ulama. Imam Bukhari, dalam karyanya al-Tarikh al-Kabir, menganggapnya sebagai munkar al-hadis (hadisnya ditolak). Tentang Abdullah bin Muhammad al-‘Adawi, Ibnu Hajar al-‘Asqalani, dalam karyanya, Lisan al-Mizan, berkomentar: la yasih haditsuhu (hadisnya tidak sah). Ibnu Hibban, dalam kitabnya, al-Majruhin, memvonis la yahillu al-ihtijaj bi khabarihi (riwayat Hadisnya tidak boleh dijadikan argumen). Oleh karenya ia gugur sebagai dalil larangan keimaman perempuan bagi jamaah laki-laki.

Syaikh Khalil Ahmad al-Saharnafuri, penulis kitab Badzl al-Majhud, yang juga kitab komentar Sunan Abi Daud memberikan komentar yang berbeda dari Hadis Ummu Waraqah di atas. Dia meng-counter pendapat yang memperbolehkan keimaman perempuan dengan dalil Hadis Ummu Waraqah. Menurutnya, menjadikan Hadis di atas sebagai argumentasi kebolehan keimaman perempuan bagi jamaah laki-laki, tidak tepat (ghair shahih). Sebab, menurutnya, dalam salat yang diimami oleh Ummu Waraqah tersebut, tidak dapat dipastikan keikutsertaan dua pembantunya dan sang muazzin.

Permasalaannya adalah, alasan apakah yang yang membuat sang muazzin, yang mengumandangkan azan untuk menyampaikan ajakan salat, namun dia sendiri tidak mengikuti salat tersebut? Apakah karena larangan bermakmum kepada imam perempuan? Jika demikian, mengapa Nabi justru menyuruh Ummu Waraqah menjadi imam, padahal, pada saat yang sama, masih ada laki-laki, yaitu ghulam dan muazzin yang tua itu sendiri. Kalau memang imam perempuan dilarang, mengapa Nabi tidak menyuruh muazzin itu untuk (sekaligus) menjadi imam.

Memang, selain kasus Ummu Waraqah, praktik keimaman perempuan bagi jamaah laki-laki tidak populer. Seandainya, keimaman perempuan bagi jamaah laki-laki adalah sesuatu yang populer, maka Ibunda Aisyah, garwo kanjeng Nabi, adalah orang yang paling berhak di antara shahabat lain, untuk menjadi imam. Tapi ternyata, tidak ada satu pun riwayat yang menyatakan demikian. Namun demikian, ketidakpopuleran perempuan menjadi imam saat itu (atau pada masa shahabat), bukan berarti fenomena itu menunjukkan mutlak larangan dan menjadi larangan mutlak, oleh karenanya, ini tidak bisa dijadikan sebagai dalil pelarangan.

Namun, penting untuk dipahami, bahwa Hadis Ummu Waraqah tidak hanya diriwayatkan oleh Abu Daud saja, tapi (juga) oleh Imam al-Daruquthni di dalam kitab Sunan-nya. Jika satu Hadis diriwayatkan/ditulis oleh banyak ulama di dalam kitabnya masing-masing, maka harus dilakukan apa yang dalam ilmu Hadis disebut dengan jam’ al-riwayah, yaitu menyatukan berbagai riwayat itu, untuk mencapai maksud Hadis secara komprehensif. Jam’ al-riwayah itu penting dilakukan, karena Hadis-Hadis Nabi merupakan wihdah la tatajazza, unity intregity, satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan, dan saling menafsirkan, sebagaimana al-Quran dalam ayat-ayatnya. Begitu juga untuk Hadis Ummu Waraqah. Dalam riwayat Abu Daud, memang, Hadis itu menunjukkan sifat umum dan memiliki banyak ihtimalat (kemungkinan-kemungkinan) dan salah satu kemungkinan itu adalah, bahwa Ummu Waraqah juga menjadi imam bagi makmum laki-laki, sebagaimana ditulis oleh al-Shan’ani. Tapi kemumuman makna Hadis yang didiriwayatkan oleh Abu Daud ditakshis oleh riwayat Imam al-Daruquthni. Di dalam Sunan-nya, Imam al-Daruquthni dengan jelas meriwayatkan bahwa Ummu Waraqah hanya diizinkan untuk menjadi imam bagi keluarganya yang perempuan, artinya laki-laki tidak diizinkan bermakmum kepadanya. Sehingga, Hadis Ummu Waraqah tidak dapat dijadikan sebagai dalil kebolehan imam perempuan dalam salat.

Oleh karenanya, menurut al-Saharnafuri, larangan keimaman perempuan bagi jamaah laki-laki adalah atas dasar ijma’ (kesepakatan ulama). Dan pendapat kebolehan keimaman perempuan mahjuj (dikalahkan) oleh ijma’ itu. Namun, pernyataan ijma’ ini pun masih memungkinkan untuk di bahas, sebab “pernyataan tentang ijma’ hanya dapat diterima dari mereka yang benar-benar memiliki kemampuan merangkum semua riwayat. Pemberitaan seorang tentang adanya ijma’ bisa jadi bersumber dari riwayat yang lemah, atau boleh jadi ia menukil dari siapa yang tidak wajar diterima pemberitaannya, atau disampaikan hanya berdasar sangka baik kepada yang bersangkutan, atau terjadi darinya kekeliruan.” Seperti ditulis oleh Prof. Dr Qurasiy Shihab dalam Jilbab-nya, menukil dari pakar tafsir Lembah Biqa’, Libanon, Ibrahim Ibn Umar al-Biqa’ (1406-1480 M). Kemudian, al-Syaukani dalam kitab Irsyad al-Fuhul-nya menyatakan, “Jika ada salah seorang mujtahid yang berbeda pendapat dengan pendapat ijma’, menurut mayoritas ulama, maka ijma’ itu gugur dan tidak bisa dijadikan hujjah (argumentasi).” Jika pernyataan al-Syaukani ini diterima, maka ijma’ tentang larangan imam perempuan dalam salat, seperti di tulis al-Saharnafuri, gugur sebagai dalil, karena Abu Tsaur, al-Muzani, dan al-Thabari adalah termasuk yang memperbolehkan imam perempuan. Dengan kata lain, ijma’ itu tidak berlaku dan gugur oleh ketiga ulama tersebut.

Kesimpulan

Sampai pada titik ini, bisa dikatakan, bahwa tidak ada Hadis shahih yang jelas dan pasti, yang melarang atau memperbolehkan imam salat perempuan untuk makmum laki-laki. Hadis riwayat Ibnu Majah dengan jelas dan pasti melarang imam salat perempuan, namun ia dlaif (lemah) dan tidak bisa dipakai sebagai dalil. Hadis riwayat Abu Daud shahih, namun ia tidak menjelaskan dengan pasti, apakah Ummu Waraqah, selain menjadi imam bagi jamaah perempuan, juga menjadi imam bagi jamaah laki-laki. Bahkan riwayat itu ditakhshish oleh riwayat Imam al-Daruquthni, bahwa Ummu Waraqah hanya diperkenankan untuk menjadi imam bagi makmum perempuan saja. Sehingga Hadis ini tidak tepat untuk dalil pembolehan imam perempuan bagi makmum laki-laki. Artinya Hadis bersikap “netral” pada masalah imam perempuan bagi makmum laki-laki. Dalil ijma’ yang dinyatakan oleh al-Saharnafuri pun gugur, karena ada beberapa ulama yang berbeda pendapat, dan tidak termasuk dalam ijma’ itu.

Lalu, selama ini, apakah yang menjadi landasan larangan imam salat perempuan bagi jamaah laki-laki? Dalam catatan Muhammad Zakariya bin Yahya al-Kandahlawi, yang men-ta’liq kitab Badzl al-Majhud karya al-Saharnafuri, larangan itu adalah atas dasar qaul ‘amah al-fuqaha, pernyataan mayoritas ulama. Dan, qaul ‘amah al-fuqaha bukan termasuk dalam strata al-adillah al-syar’iyyah. Sehingga, pada gilirannya, larangan imam salat perempuan bagi jamaah laki-laki masih debatable.

* * *

Mengutip tulisan Prof. Dr Qurasiy Shihab, dalam buku yang sama, bahwa teks al-Quran – sebagaimana halnya semua teks, termasuk Hadis – bertemu dengan akal atau akal-akal manusia, dan akal itulah yang memberi makna kepadanya. Hakikat ini pada gilirannya mengantar kepada hakikat lain, yaitu bahwa pemahaman manusia terhadap suatu teks (nash), berbeda dengan teks itu sendiri; bisa kurang dari kandungan teks atau melebihinya. Teks al-Quran bahkan sebagian besar dari nash-nash yang mengandung ketentuan hukum juz’i dapat menampung lebih dari satu makna sehingga lahir aneka pandangan yang ketat atau longgar…sejak dari pandangan shahabat Nabi, seperti Abdullah bin Umar yang dinilai ketat sapai pada pandangan shahabat Nabi yang lain seperti Abdullah bin Abas yang dinilai penuh toleransi. Di sini dikenal apa yang dikemukakan oeh para pakar tentang perbedaan syari’at dengan fikih. Syari’at bersumber dari Allah, tidak boleh diubah dan tidak mengalami perkembangan, sedangkan fikih adalah pemahaman manusia atas syari’at, yang bisa benar, bisa juga salah, bisa kurang atau sempurna, bisa sementara, dan bisa juga bertahan sekian lama. Adanya imam dalam salat adalah syariat, namun soal imam perempuan bagi makmum laki-laki telah menjadi persoalan fikih.

Pendapat para ulama, mayoritas atau minoritas, dalam hal apa pun, termasuk keimaman perempuan, perlu diketengahkan dan diketahui secara deskripitif-obyektif. Tidak jarang, hanya mengetahui suatu pendapat, yang sebenarnya itu hanya salah satu dari ragam pendapat, dapat memunculkan sikap eksklusif, tidak arif atau bahkan emosional, ketika pendapat lain yang berbeda diketengahkan, kemudian dianggap sebagai “kenylenehan”.

Larangan perempuan menjadi imam bagi jamaah laki-laki, yang kita pegang selama ini adalah sebuah pendapat. Dan kebolehan perempuan menjadi imam bagi laki-laki, juga sebuah pendapat, yang tidak perlu dianggap sebagai “kenylenehan”. Masing-masing tidak berhak mengklaim bahwa pendapatnya adalah sebagai kebenaran seluruhnya dan seluruhnya adalah kebenaran. Wallahu a’lam.

Kekuatan Pikiran

30 March 2008 § Leave a comment


oleh Juman Rofarif

the-secret.jpg

Nabi Muhammad SAW bersabda bahwasanya Allah SWT telah berfirman, “Ana ‘inda dzanni abdi bi; Aku kuasa melakukan apa pun yang terbesit dalam benak hambaku.” (HR. Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah). Jika dalam benak dan pikiran sesorang terbesit bahwa dia akan berhasil dalam melakukan sesuatu dan bersikap optimis, maka yakinlah Allah akan membatu pekerjaan itu. Sebaliknya, jika seseorang selalu pesimis atas apa yang dilakukannya, maka kegagalan akan menjadi bayang-bayang.

Inilah kekuatan pikiran yang dimiliki oleh manusia yang menjadi kekuatan lain bagi dinamika kehidupan manusia.

Seorang sarjana perempuan Barat bernama Rhonda Byne menulis sebuah buku berjudul The Secret. Dalam bukunya itu dia mengungkap sebuah rahasia besar kehidupan, yaitu hukum tarik menarik yang berpusat pada pikiran

Hukum tarik menarik mengatakan bahwa kemiripan menarik kemiripan. Ketika seseorang memikirakan suatu pikiran, ia juga menarik pikiran-pikiran serupa kepada dirinya. Ketika seseorang memikirkan hal-hal yang tidak disukainya dan selalu berpikir buruk, hukum tarik menarik segera mendatangkan lebih banyak pikiran yang serupa kepada dirinya. Ia sama saja sedang menarik kondisi buruk. Jika pikiran-pikiran semacam itu terus dipelihara, maka kondisi akan semakin memburuk.

Hukum tarik menarik adalah hukum alam (sunnatullah). Hukum ini tidak memilih dan tidak memandang sesuatu sebagai sesuatu yang baik atau sesuatu yang buruk. Ia hanya menerima setiap pikiran seseorang dan memantulkannya kembali kepadanya sebagai pengalaman hidup. Hukum tarik menarik sekadar memberikan kepada seseorang hal-hal yang dipikiran olehnya.

Hal itu dikarenakan pikiran bersifat magnetis dan memiliki frekuensi. Apa yang dipancarkan oleh pikiran akan terkirim ke semesta, dan secara magnetis pikiran akan menarik semua hal yang berada dalam frekuensi yang sama. Segala sesuatu yang yang dikirim ke luar oleh pikiran akan kembali ke sumbernya, yaitu kita sendiri.

Maka tugas kita sebagai manusia adalah memelihara pikiran-pikiran baik yang kita inginkan, memperjelas apa yang kita inginkan di dalam benak, dari situ kita mulai membangun salah satu hukum terbesar di semesta. Maka, sesungguhnya kondisi kehidupan kita sekarang ini adalah cerminan dari pikiran-pikiran di masa lalu. Pikiran-pikiran baik yang terpelihara dalam pikiran kita saat ini adalah kondisi baik di masa yang akan datang.

Pada tiga hari sebelum wafat Nabi Muhammad SAW pernah berpesan kepada para sahabat, “La yamutunna ahadukum illa wahuwa yuhsinu al-dzanna billahi ‘azza wa jalla: Jangan sekali-kali salah satu dari kalian meninggal kecuali selalu berpikir positif kepada Allah ‘azza wa jalla.” (HR Muslim dari Jabir bin Abdillah).

Barangkali bisa dikatakan bahwa hukum tarik menarik merupakan penjelasan sekuler dan rasional dari kedua hadis Nabi di atas.

Menulislah Sebelum Mati!

28 March 2008 § Leave a comment


oleh Juman Rofarif

img_1579.jpg

“Qayyidu al-ilm bi al-kitab,”begitu kata shahabat Umar bin Khatab, yang diriwayatkan oleh Imam al-Darimi dalam sunan-nya, mengenai pentingnya menuangkan ilmu, gagasan, ide, dan pemikiran ke dalam tulisan/buku. Anjuran ini bukan semata karena manusia adalah mahluk pelupa dan sering berbuat salah, tapi lebih dari itu, sesungguhnya banyak hikmah di balik anjuran tersebut. Di luar itu, sesungguhnya tulisan memiliki kekuatan luar biasa.

Nama Ulil punya kesan tersendiri. Ia identik dengan Islam Liberal. Nama Ulil terkukuhkan dengan pemikir muda progresif NU setelah generasi Abdurahman Wahid dan Masdar Farid Mas’udi. Tahun 2001, Ulil bergabung dengan kaukus pemikir muda Islam, mengorganisasikan JIL, Jaringan Islam Liberal. Jaringan tersebut dibentuk sebagai wadah dan agensi propaganda gagasan-gagsan Islib yang terlebih dulu digulirkan oleh beberapa pemikir senior, macam Nurkholis Madjid dan Abdurahman Wahid.

Selanjutnya, Ulil ditunjuk sebagai koordinator JIL sekaligus konduktor orkestra yang berisi aneka warna pemikiran liberal. Pemikiran-pemikiran JIL yang kerap melawan kemapanan pun dikampanyekan lewat berbagai media, terutama lewat media tulis. Sayap JIL semakin melebar.

JIL seolah-olah telah menjadi mazhab tersendiri dengan imamnya bernama Ulil. Kesan pengerucutan ini berawal November 2002, ketika kontroversi artikel Ulil di harian Kompas menyulut fatwa mati dari Forum Ulama Ummat Indonesia (FUUI) Bandung. Kolom berjudul ‘Menyegarkan kembali pemahaman Islam’ itu kian melekatkan label Islib pada sosok Ulil.

‘Sihir’ apakah yang ada dalam artikel Ulil, sehingga harus keluar fatwa mati?

* * *

Sungguh, tulisan adalah sesuatu yang sangat luar biasa. Kekuatan yang terkandung di dalamnya bukan saja bisa menghadirkan masa lalu di hadapan Anda, dan membawa Anda ke masa itu, ia juga bisa menghadirkan sesuatu yang tidak ada. Bahkan, ia pun bisa menghidupkan orang-orang yang telah mati, yang kemudian bisa Anda ajak interaksi. Sebuah tulisan bukan saja seolah-olah bisa menghidupkan orang yang telah mati. Lebih dari itu, ia seolah-olah menjadi nyawa kedua, untuk terus menghidupkan penulisnya di dunia.

Anda bisa melihat, bagaimana ternyata Imam Syafi’i, Imam Malik, Imam Ahmad, dan Imam Hanafi masih berkeliaran di negeri kita tercinta, Indonesia. Kehadirannya sering mengisi forum-forum diskusi seputar fikih. Tak jarang mereka diajak berdebat, argumen-argumennya diadu. Mereka menjadi semacam konsultan masalah fikih.

Karya-karya merekalah yang menjadi nyawa kedua. Lihat juga Imam Ghazali. Dengan Ihya-nya beliau tetap hidup. Anda pun bisa bekenalan dengannya. Dengan Ihya-nya, beliau membuka klinik untuk berbagai macam penyakit hati. Bukalah Ihya-nya, Anda akan menemukan resep bagaimana ‘bercumbu’ dengan Tuhan menjadi lebih nikmat dan khusuk.

Anda juga bisa melihat betapa terpandang dan tersohornya Imam Bukhari dengan karya besarnya, Shahih al-Bukhari, kitab kumpulan hadis-hadis shahih, yang diklaim sebagai ashahhul kitab ba’da al-Quran, kitab yang berada satu tingkat di bawah al-Quran. Begitu juga dengan Imam Muslim, dan tokoh-tokoh yang sekarang masih dan akan terus dihidupkan oleh nyawa keduanya, yaitu karya tulis.

Begitulah. Mereka tidak akan Anda kenal sama sekali, kecuali Anda melihat karya tulis peniggalannya. Secara personal saya dan Anda tidak mengenal mereka, karena jasad mereka pun telah tertimbun tanah. Karya tulis yang mereka tinggalkan menjadi medium (wushlah) yang memperkenalkan kita dengan mereka. Layaknya sistem isnad dalam ilmu hadis, sebuah karya tulis adalah jembatan lintas generasi yang menghubungkan kita, yang hidup hidup pada masa sekarang, dengan orang-orang yang telah mati berabad-abad lalu. Sebuah karya tulis bisa menyatukan dua masa dan tempat yang berbeda dalam satu masa dan tempat yang sama.

Salah satu perbedaan mendasar antara bahasa tulisan dan bahasa verbal adalah sifatnya yang mempublik. Karena sifatnya itulah, seorang penulis dan pengarang memiliki potensi besar untuk menjadi orang terpandang dan tersohor sepanjang masa. Siapa yang tak kenal muassis mazhab empat?! Siapa yang tak kenal Imam Bukhari?! Siapa tak kenal Imam Muslim?! Siapa yang tak kenal al-Ghazali?! Pernakah Anda berkenalan langsung dengan mereka?! Belum pernah, bukan?! Jadi, lewat apa Anda kenal mereka?!

Lewat tulisannya, seorang penulis menembus dimensi keabadian, menyusup lewat sekat-sekat zaman. Walau dia mati, tulisannya bisa terus menjadi inspirasi.

Karena itulah, lebih dari sekedar ekspresi diri dan propaganda pemikiran, menulis juga merupakan pelaksanaan kepemimpinan dan pendidikan bagi banyak orang sampai lintas generasi. Seorang penulis bisa menjadi guru tanpa harus berhadapan dengan murid dalam satu ruang dan waktu. Tak mengherankan jika ada sebuah syair yang mengatakan, “Al-Khaththu yabqa zamaanan ba’da shaahibihi, wa kaatib al-khaththi tahta al-ardhi madfuunun“, karya tulis akan kekal sepanjang masa, sementara penulisnyan hancur terkubur di bawah tanah.

Sungguh hebat mereka yang telah mengukir sejarah lewat tulisan dan menjadi inspirasi bagi generasi berikutnya. Karya tulis mereka telah menjadi parfum wamgi yang mengharumkan nama mereka, menjadi nyawa yang akan terus menghidupkan mereka sepanjang zaman.

Tulisan memiliki hubungan timbal balik yang erat dan sensitif dengan penulisnya, juga pembacanya. Tulisan akan menjadi parfum, jika tulisan itu diterima baik dan positif oleh pembacanya. Sebaliknya ia akan menjadi bumerang bagi penulisnya, jika tulisan tersebut menyinggung perasaan publik. Ia bisa tiba-tiba mengganas, menghancurkan Anda, melahap harta Anda, bahkan mengancam nyawa Anda. Tahukah Anda, jika Ulil divonis fatwa mati karena artikelnya yang terlalu menyinggung sensitivitas dan mendobrak kemapanan? Ya, sebuah tulisan.

Begitulah sebuah tulisan menunjukkan kekuatannya.

Setiap kita memiliki potensi untuk menulis, dan akan menjadi aktual jika potensi tersbut selalu diasah. Jadikanlah menulis sebagai suatu kewajaran, sebagaimana Anda fasih mengatakan bahwa berbuat salah adalah wajar selama jadi menusia. Maka katakanlah, “Saya manusia, maka saya menulis. Wajar, dong!”

Yang ingin saya tekankan adalah, bahwa menulis adalah praktek, praktek, dan praktek. Anda tidak perlu repot-repot buang tenaga dan duit untuk membeli buku tentang teori tulis-menulis. Teori yang ada pada sebuah buku adalah hanya milik penulis buku tersebut. Kita jauh dari bisa untuk menggunakan teori milik orang lain. Setiap penulis memiliki corak dan karakteristik yang berbeda-beda. Menulis adalah pengalaman pribadi. Selamanya Anda akan terbelenggu oleh teori, jika tanpa praktek. Sebaliknya, dengan selalu praktek, Anda akan bisa berteori.

Andrias Harefa, penulis buku-buku best seller, pernah berujar, “Dengan membaca buku teori tulis-menulis, Anda baru “belajar tentang” dan sama sekali belum “belajar”mengarang/menulis. Mengarang/menulis adalah praktek. Sehingga hanya dengan melakukannya Anda menjadi bisa“.

Walaa tamuutunna illa wa antum kaatibuun“. Ini bukanlah plesetan dari ayat al-Quran. Dalam ilmu balaghah, ibarah seperti itu disebut dengan badi’ iqtibash, yaitu perkataan atau tulisan yang memuat redaksi mirip ayat al-Quran.

Pernakah Anda menulis? Jika belum, saya berdoa, buat diri saya dan Anda, semoga Tuhan kita tercinta memberi umur panjang, dan sebagiannya kita gunakan untuk menulis. Jika sudah, saya persilahkan Anda menikmati kematian.

Selamat berkarya!


Where Am I?

You are currently browsing entries tagged with wacana at Warung Nalar.

%d bloggers like this: