Meretas Jalan Surga Dalam Buku

7 March 2009 § 1 Comment


Ada fakta menarik dalam literatur keislaman: puja puji para pakar terhadap bidang keilmuan yang ditekuninya – biasa disampaikan pada setiap mukadimah sebuah karya – bahwa bidang keilmuannya adalah yang terbaik, berada di atas pada skala prioritas.

Nahwu (Gramatikal Arab)

Jamaluddin bin Hisyam al-Anshari, penulis Mughni al-Labib – sebuah karya tingkat lanjut bidang nawhu atau gramatikal Arab yang ditulis lebih dari enam ratus lima puluh tahun silam – membuka kitabnya itu dengan mukadimah berhias aliterasi apik, berisi pujian terhadap gramatikal Arab yang menjadi kepakarannya. Perhatikan,

Fainna aula ma taqtarikhuhu al-qaraih

Wa a’la ma tanajjaha ila tahshilihi al-jawanih

Ma yatayassara bihi fahm kitabillah al-munazzal

Wayattadhihu bihi ma’na haditsi nabiyyih al-mursal

Fainnahuma al-wasilah ila al-sa’adah al-abadaiyah

Wa al-dzari’ah ila tahshil al-mashalih al-diniyah wa al-dunyawiyyah

Wa ashl dzalik ‘ilm al-i’rab

Al-hadi ila shaub al-shawab

Mukkadimah apik dengan aliterasi ciamik itu – ciri umum yang mudah dijumpai dalam banyak karya (utamanya klasik) berbahasa arab, sekaligus menjadi keunggulannya – tentu saja tak akan dibiarkan terkoyak oleh terjemahan yang tak memperhatikan aliterasi. Maka terjemahan bebas mesti dilakukan – dengan tak mengacu pada arti tekstual mukadimah itu, tapi melihat pada karya penjelas (hamisy) yang berada di sampingnya (hasyiyah). Berikut,

Apa yang paling mendorong nalar dan hati

Itulah ilmu yang memiliki kekuatan akurasi dan presisi

Sehingga memahami Alquran menjadi mudah

Dan memaknai hadis jadi tak payah

Di mana keduanya adalah jembatan menuju bahagia abadi

Jalan meraih maslahat duniawi dan ukhrawi

Itulah “ilmu i’rab” di mana kepadanya semua berpangkal

Ilmu petunjuk arah kebenaran tak tersangkal

Dan “ilmu i’rab” yang dimaksud adalah nawhu. Dari mukadimah itu, bisa dimengerti, memahami nahwu atau gramatikal Arab adalah dasar mutlak bagi para penekun Alquran dan hadis, dua hal yang kata Rasul, “lan tadhillu ma tamassaktum bihima”, “kalian takkan tersesat sepanjang berpedoman kepada keduanya”, karena di sanalah terhampar petunjuk meraih ketentraman alam dunia, di sanalah pedoman menuju alam selanjutnya tersedia.

Alquran dan hadis adalah dunia kalimat dan kata. Untuk mendalami keduanya, terlebih dahulu seseorang mesti memahami dunia kalimat dan kata itu, menekuni “ilmu i’rab“: satu instrumen keilmuan yang mampu membedah sampai pada setiap detil huruf, bahkan harakat (baris/bunyi huruf Arab) dengan tingkat akurasi dan presisi yang tinggi. Sebab, perbedaan bunyi harakat dalam bahasa Arab akan berpengaruh pada pemakanaan. Maka, bergulat dengan Alquran dan hadis, memiliki pisau bedah bernama “ilmu i’rab” adalah mutlak, untuk menghindari kesalahan dalam pemaknaan terhadap keduanya, mengingat ia adalah mata air hukum dan sumber legitimasi.

Pada konteks seperti itu, tentu nahwu adalah yang terbaik, “di mana kepadanya semua berpangkal”.

Ilmu Kalam (Teologi)

Kita tuju, selanjutnya, bidang keilmuan teologi atau akidah atau ilmu kalam. Kita tengok, misalnya, mukadimah sebuah kitab al-Husun al-Hamidiyah karya Sayid Husain Afandi. Di sana tertulis puja puji ini,

“…wahuwa ashl al-‘ulum al-diniyyah wa afdhaluha, likaunih muta’alliq bidzatillah ta’ala wadzati rusulihi ‘alaihim al-shalah wa al-salam. Wasyaraf al-‘ulum bisyaraf al-ma’lum.”

Kata penulisnya, “…ia (ilmu kalam) adalah pokok dan paling prioritas dari semua kajian keagamaan. Sebab, obyek kajian ilmu ini adalah entitas penuh kemuliaan: Tuhan dan para utusan-Nya. Dan, derajat kemuliaan sebuah ilmu ditentukan oleh obyek kajiannya.”

Mengkaji ilmu ini, para pencari ilmu akan memahami bahwa segala yang wujud pasti ada yang mencipta, mengerti bahwa Tuhan mengutus Rasul ke alam dunia untuk menyampaikan risalah ketuhanan.

Namun, ada hal kontras mengesankan diutarakan Imam al-Ghazali terkait bidang ini. Dalam al-Iqtishad fi al-I’tiqad, karyanya sendiri dalam bidang ini, ia menyatakan, ilmu ini tak wajib bagi setiap orang, bukan fardhu a’in, tapi sekedar fardhu kifayah, diharuskan ada sebagian orang yang tetap mendalami ilmu ini. Bahkan, menurutnya, ada orang-orang yang justeru tak dianjurkan mempelajarinya, tak diperkenankan ilmu itu diperkenalkan kepada mereka. Di antaranya adalah orang-orang yang cukup baginya percaya akan Tuhan dan Rasul, mengerjakan ritual-ritual keagamaan, tanpa paham namun bukan berarti ragu, kenapa semua itu mesti dilakukan.

Barangkali bisa dijadikan contoh adalah orang tua, nenek, atau kakek sebagian kita yang kepercayaannya atas Tuhan dan Rasul, serta ritual, misalkan, shalatnya, berdasarkan “pokoknya percaya Tuhan itu ada dan Muhammad adalah Rasul-Nya”, “pokoknya shalat itu wajib”, tanpa mampu menjelaskan dasar kenapa harus demikian. Jika dengan kondisi seperti itu mereka telah bisa merasa nyaman berislam dan beriman, maka tak dianjurkan ilmu kalam diperkenalkan kepada mereka, tak dianjurkan diajukan pertanyaan kepada mereka, kenapa Tuhan itu ada, kenapa Tuhan mesti mengutus rasul, dan sebagainya dan seterusnya, jika kemudian pertanyaan teologis semacam itu justeru membuat bingung mereka. Saya sendiri memiliki seorang embah putri yang sama sekali tak bisa baca Alquran, hanya hapal beberapa surat Alquran untuk kepentingan shalat, hapal bacaan shalat dan wirid rutin yang dibaca selepas shalat, tanpa sama sekali paham terjemahan apa yang dibacanya, apalagi memahaminya. Embah putri saya tak paham semua itu. Yang ia tahu cuma, Tuhan itu ada, Tuhan mewajibkan shalat, maka ia lakukan kewajiban itu dengan konsisten tanpa keraguan. Tak lebih dari itu.

Kepada orang seperti itulah, ilmu kalam yang sarat perdebatan, tak bijak disampaikan. Maka, dalam analogi Imam al-Ghazali, ilmu kalam hanya ibarat obat yang semata dibutuhkan bagi orang sakit. Ilmu kalam dibutuhkan hanya bagi orang yang keberislaman dan keberimananya terbelunggu ragu.

Fikih

Puja dan puji dalam bidang fikih, bisa dijumpai dalam satu mukadimah Kifayah al-Akhyar buah karya Taqiyuddin Abu Bakr al-Husaini.

Disebutkan, “faidza kana al-fiqh bihadza al-martabah al-syarifah wa al-mazaya al-munifah, kana al-ihtimam bihi fi al-darajah al-ula. Wa sharf al-auqat al-nafsiyyah bal kull al-‘umr fihi aula. Lianna sabilahu sabil al-jannah.”

“Karena memiliki martabat mulia dan keunggulan yang luhur ini, maka menekuni ilmu fikih menjadi prioritas utama. Bahkan akan lebih baik jika seseorang menekuninya sepanjang hayat. Sebab, menekuni fikih adalah meretas jalan surga.”

Barangkali tak bisa disangkal, hanya dalam literatur fikih terpapar kajian lebih dalam dan detil tentang berbagai ritual keislaman, seperti shalat, zakat, puasa, perkawinan dan sebagainya dan seterusnya. Dalam konteks ini, tentu saja fikih lebih unggul dan bermartabat. Maka, bukan hal janggal jika kemudian puja dan puji di sampaikan kepadanya.

Hadis, Ilmu Hadis, Dan Tafsir

Untuk bidang ini, saya nukilkan mukadimah Bulugh al-Maram – kitab yang memuat hadis-hadis dasar hukum fikih buah pena Ibn Hajar al-Asqalani – yang disampaikan oleh Muhammad Hamid,

“Inna khaira ma tansharif ilaih himam al-mu’minin al-shadiqin, watatawajjah ilaih ‘inayah al-muwahhidin al-mukhlishin, kalam sayyid al-khalq ajma’in”.

“Obyek kajian terbaik di mana orang beriman mencurahkan kesungguhannya, di mana penganut tauhid mengarahkan perhatiannya, itulah tutur penghulu segenap mahluk.”

“Tutur penghulu segenap mahluk” yang dimaksud adalah hadis-hadis Rasul Muhammad.

Hadis menjadi obyek kajian terbaik, berada di atas pada skala prioritas untuk merinci apa yang global dalam Alquran, menjadi petunjuk teknis dan petunjuk pelaksana dari Alquran. Tuhan perlu mengutus seorang Rasul untuk menjelaskan teknik pelaksanaan shalat, zakat, haji, dan sebagainya dan seterusnya, dalam tutur dan tindakannya, karena di dalam Alquran Tuhan hanya memerintahkan shalat, zakat, haji, tanpa menjelaskan bagaimana teknik semua kewajiban itu mesti dilaksanakan. Untuk konteks ini, hadis adalah yang terbaik.

Sedangkan dalam bidang ilmu hadis, eloklah saya nukil di sini puja puji Ibnu Shalah yang ia sampaikan dalam karyanya atas nama Muqaddimah Ibn Shalah fi Ulum al-hadits, “Inna ‘ulum al-hadits min afdhal al-‘ulum al-fadhilah wa anfa’ al-funun al-nafi’ah… Wahuwa min aktsar al-‘ulum tawallujan fi fununiha, la siyama al-fiqh…”

Katanya, “Ilmu hadis adalah bagian dari keilmuan yang memiliki prioritas paling utama, bagian dari bidang keilmuan yang paling bermanfaat… Ia menjadi bidang keilmuan yang paling banyak masuk menjadi obyek kajian dalam bidang keilmuan yang lain, terutama fikih…”

Tafsir juga tak lepas dari puja puji semacam di atas. Lihat saja apa yang ada dalam mukadimah kitab tafsir karya Muhammad Ali al-Shabuni, Rawaih al-Bayan, Tafsir Ayat al-Ahkam min Al-Quran, “Inna khaira ma shurifat fihi aljuhud, wa isytaghala bihi al-‘ulama ta’liman wa tafsiran wa tafahhuman wa dirasatan wa istinbathan, kitabullah…

“Kajian terbaik untuk dicurahkan segala kesungguhan, di mana para ulama menyibukkan waktu untuk mengajarkannya, menafsirkannya, memahaminya, mendarasnya, dan menggali hukum darinya, maka itulah Kitab Tuhan…”

Dengan kepakaran dan ketekunan mendalam terhadap bidang keilmuan yang diselaminya, para pakar telah mampu meretas jalan surga dan jalan kedekatan menuju Tuhan. Apakah hanya dalam bidang keilmuan keagamaan jalan itu bisa diretas? Apakah hal itu tak membuat iri para pakar astronomi, ahli biologi, para saintis, dan sebagainya dan seterusnya, yang dengan kepakaran dan ketekunannya pula pada kajiannya, pada sepojok hatinya ia berguman tentang entitas yang tak pernah disinggung dalam bidang kajiannya, namun dapat ia rasakan “Oh, siapakah Kau yang mencipta semua ini? Ciptaan-Mu begitu luar biasa dan sempurna. Maka, pastilah betapa Kau lebih sempurna dari kesempurnaan ciptaanmu.”

Lalu, kita (jika sampean tak kebeberatan saya wakili), yang bukan pakar dalam bidang apa pun, yang tak mampu mencipta satu pun karya, apalagi yang luar biasa, dengan jalan apakah kita meretas surga?

Tak apa, kita retas surga dengan kaidah fikih ini: al-tabi’ tabi’, pengikut mengikut kemana yang diikuti pergi. Jika para pakar keilmuan di atas kelak masuk surga, kita yang hanya bisa membaca, menelaah karyanya, juga akan masuk surga, kecipratan berkahnya. Maka, tak berlebihan jika para kyai dan ustad di pesantren yang mengajarkan kitab tertentu, mengawalinya dengan permulaan ini: “Qala al-mushannif rahimahullah ta’ala, wanafa’ana bi ‘ulumihi fi al-darain…”.

“Penulis kitab ini – semoga Allah merahmatinya, dan memberikan manfaat bagi kita di dunia dan akhirat, karena ilmu-ilmunya – mengatakan…”. Setelah itu, baru dimualilah pengajian: al-kalamu huwa al-lafdzu…

~

Empat mahasiwa UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, masing-masing dari dari Fakultas Adab dan Humaniora, Fakultas Ushuluddin, Fakultas Syariah, dan Fakultas Dirasat Islamiyah, sedang mengantri di depan pintu surga, menunggu panggilan, akan masuk surga yag mana. Waktu hidup di dunia, di kampus yang begitu ia cintai itu, mereka adalah mahasiswa yang cemerlang. IPK mereka selalu mendekati 4.0, kecuali si mahasiwa dari Fakultas Dirasat Islamiyah yang IPK-nya paling tinggi hanya 3.2. Semuanya bergembira karena akan masuk surga bintang empat, dengan pertimbangan IPK mereka selalu kumlaud, kecuali si mahasiswa dari Fakultas Dirasat Islamiyah yang tampaknya pasrah dengan surga kelas melati pun, mengingat IPK-nya yang selalu pas-pasan.

Di luar dugaan, ternyata mahasiswa Fakultas Dirasat Islamiyah yang masuk surga bintang empat itu, dan tiga mahasiswa lainnya justeru masuk surga kelas melati. Kontan saja tiga mahasiswa itu mengajukan nota keberatan kepada malaikat penjaga surga.

“Eit, tenang, tenang. Saya bisa jelaskan… IPK kalian boleh selalu mendekati empat. Namun, kalian masuk surga ini bukan karena nilai, tapi cipratan-cipratan berkah yang membasahi kalian. Dan yang mendapatkan berkah lebih banyak waktu di dunia adalah mahasiswa dari Fakultas Dirasat Islamiyah. Maka, dia berhak mendapatkan surga bintang empat itu,” kata malaikat.

“Elho! Kok, bisa begitu, Tuan Malaikat?”

“Ya jelas, tho. Fakultas Dirasat Islamiyah itu kan terjemahannya Fakultas Studi Islam. Se-ta-di Is-lam. Dari namanya terang terlihat, kajianya tentang Islam pastilah lebih komprehensif. Pembahasannya lebih luas. “Islam” itu ya mencakup “ushuluddin”, “syariah”, “adab. Apa “ushuluddin” mencakup “syariah”? Apa “syariah” memuat “adab”? Apa “adab” melingkup “ushuluddin”? Ndak, tho?!” tantang Malaikat.

“Hayo, ngaku, kalian bertiga. Yang dari Fakultas Ushuluddin, apa fakultasmu mendata Kifayah al-Akhyar jadi referensi bacaan? Yang dari Fakultas Syariah, apa kamu diperintahkan baca Mughni al-Labib untuk referensi? Yang dari Fakultas Adab dan Humaniora, apakah dosen kalian menganjurkan Bulugh al-Maram jadi referensi di fakultasmu? Tidak, tho?! Di Fakultas Dirasat Islamiyah, semua yang disebut itu penting dimiliki. Wong, fakultas Islam komprehensif, je!”

“Sudah, sudah, jangan banyak protes, kalian! Nikmati saja jatah surgamu itu. Kelas melati la’ sing penting surga. Yes, tho?!”

Insya Allah

27 October 2008 § 1 Comment


Dalam komunikasi sehari-hari, sudah lumrah kita mendengar “insya Allah”. Allah SWT sangat menekankan menyebut kata ini bagi siapa pun yang berjanji melakukan sesuatu, baik untuk orang lain atau dirinya sendiri.

Nabi Muhammad SAW pernah mendapatkan teguran dari Allah SWT terkait kata ini. Suatu hari, Nabi SAW pernah menjanjikan kepada sahabatnya, jawaban atas pertanyaan tentang kisah Ashab al-Kahf yang diajukan kepadanya. Beliau baru bisa memberikan janji, sebab pada saat itu belum mengetahui kisah tersebut. Kepada sahabatnya itu, dengan tanpa menyertakan kata “insya Allah”, beliau mengatakan, “Besok pagi aku akan menjawab pertanyaan itu,” seperti yakin, sebelum matahari esok pagi bersinar, Allah SWT akan telah menurunkan wahyu kepadanya, menceritakan kisah tersebut.

Namun, tepat pada saat di mana Nabi SAW akan memenuhi janjinya, wahyu yang dinantikan ternyata tak kunjung turun, juga pada hari berikutnya, bahkan ketika hari telah berlalu satu pekan dari hari yang dijanjikan. Kondisi ini membuat Nabi SAW rindu bercampur gusar. Dan akhirnya, wahyu itu baru Allah SWT turunkan pada hari kelima belas atau dua pekan dari hari di mana Nabi SAW berjanji.

Atas apa yang dilakukan Nabi SAW itu, Allah SWT kemudian menurunkan ayat sebagai teguran kepadanya, “Dan jangan sekali-kali kamu mengatakan terhadap sesuatu (rencana): “Sesungguhnya aku akan mengerjakannya besok pagi.”, kecuali (dengan menyertakan kata) “Insya Allah”.” (Al-Kahf: 23-24).

Secara bahasa, idiom berbahasa Arab “Insya Allah” berarti “jika Allah menghendaki”. Kata itu Allah SWT ajarkan kepada manusia sebagai etika dalam berjanji, berrencana atau ber’azam melakukan sesuatu untuk orang lain atau bagi kepentingan diri sendiri. Dalam kata itu tersyirat makna tauhid, bahwa hanya Allah SWT semata yang memiliki kuasa dan pengetahuan mutlak apa dan bagaimana yang akan dan tidak terjadi pada esok hari.

Sedangkan bagi manusia, rencana, pengetahuan, teknis, dan bahkan kekuasaan untuk mewujudkan semua itu hanyalah kemungkinan yang relatif. Bagi manusia, jangankan satu bulan, satu minggu, satu hari, bahkan pada rentang waktu satu jam kedepan, kemungkinan-kemungkinan dapat terjadi, baik yang sesuai dengan rencana atau bahkan yang tidak sama sekali. Dan itu hanya terjadi jika Allah menghendaki, insya Allah.

Dengan mengucapkan kata itu pada setiap apa yang direncanakan, kita seperti mengingatkan diri sendiri bahwa kita hanya berusaha dan berrencana sebaik mungkin, sambil menancapkan kesadaran akan kemutlakan kuasa Allah SWT. Wallahu a’lam.

Jalan Sufisme; Sekilas Memoar Pengembaraan Imam Ghazali

14 August 2008 § 5 Comments


Setelah beberapa tahun lalu saya beruntung mendapatkan kitab al-Munqidz min al-Dhalal (Pengentas Kesesatan), meski berupa fotocopy-an dari buku asli seorang kawan (saya berusaha mendapatkan aslinya di toko-toko buku, namun tidak menemukan), baru beberapa hari terakhir ini seperti ada dorongan tersendiri untuk membukanya.

Al-Munqidz min al-Dhalal adalah karya Imam Ghazali yang ia tulis sebagai “memoar” pengembaraan intelektual dalam upaya menemukan titik-titik “keyakinan” dari bisik-bisik “keraguan”. “Memoar” itu ia maksudkan sebagai semacam motivasi untuk “para pencari”; mesti bersungguh-sungguh dan pantang berhenti untuk menemukan apa yang ia cari, sampai ia tidak tahu apa yang harus dicarinya lagi.

Pengembaraan intelektual Imam Ghazali bermula dari obsesinya mengetahui hakikat dari setiap sesuatu, dan itu mengharuskan adanya perangkat keilmuan yang ia sebut dengan “al-‘ilmu al-yaqini”; istilah abstrak untuk menyebut “seperangkat keilmuan yang mampu menyingkap hakikat sesuatu tanpa sisa-sisa keraguan dan kemungkinan kekeliruan”.

Ia melakukan pencarian. Dalam tempo itu, untuk beberapa lama, ia sempat terperangkap dalam masa “krisis intelektual”. Hatinya terjebak oleh “struktur intelektual” yang ia bangun sendiri dengan argumentasi yang kuat. Ia ingin berpaling dari struktur itu (ia sebut dengan kata tunjuk “dzalik al-maradh”), namun ia belum memiliki argumentasi tandingan untuk melawannya. Baginya, melepaskan diri dari argumentasi mesti dengan argumentasi yang lebih argumentatif. Demikian bisik idealismenya, saat itu.

Mulailah ia mencari “sandaran intelektual” yang mampu menghantarkannya kepada “al-ilmu al-yaqini” sekaligus menyembuhkannya dari “dzalik al-maradh”. Mula-mula ia bersandar pada “ilmu kalam” (teologi), membuka karya-karya para mutakallimun (para teolog), menelaah, merefleksikan tanggapan dan pandangannya dalam tulisan.

Dalam pandangan Imam Ghazali, ilmu kalam dibangun dalam rangka melestarikan kemurnian akidah ahlussunnah dan menjaganya dari tangan kotor pembid’ah (hifdzu ‘aqidah ahlissunnah wahirasatuha min tasywisyi ahlil al-bid’ah), yaitu akidah yang benar sesuai dengan indikasi Alquran dan hadis, yang memberikan maslahat duniawi dan ukhrawi. Dalam pengamatannya terhadap karya-karya ilmu kalam, tugas itu memang telah terlaksana. Hanya saja ia tidak puas dengan narasi-narasi para mutakallimun itu yang cenderung menelan mentah-mentah teks-teks Alquran dan hadis tanpa elaborasi yang cukup, bahkan bercorak taklid buta. Oleh karenanya, dari ilmu kalam itu, ia tidak mendapati jawaban-jawaban memuaskan bagi “krisis intelektual”nya.

Bagi Imam Ghazali, ilmu kalam hanyalah “obat” tertentu untuk “penyakit” tertentu. Sebagai obat, ia hanya dibutuhkan saat sakit. Sebagai obat tertentu, orang sakit bisa saja berhenti (atau tidak sama sekali) mengkonsumsinya jika terbukti tidak manjur, dan beralih ke obat lain. Ia sampai berujar,

“Dalam keyakinan pribadiku, ilmu kalam belum mencukupi. Untuk “penyakit” yang aku derita, ilmu kalam belum mampu mengobati” (falam yakun al-kalam fi haqqi kafiyan, wala lidaa i alladzi kuntu asykuhu syafiyan).

Ia abaikan ilmu kalam, meski tetap respek terhadap ilmu dan para mutakallimun itu, atas nilai positif yang dihasilkan darinya.

Lalu, ia melanjutkan pengembaraan intelektualnya. Kali ini ia jajaki “filsafat”. Selama di Baghdad, ia menyisihkan waktunya spesial untuk menelaah filsafat di sela-sela kewajiban mengajarkan “ilmu-ilmu syariat” kepada tiga ratus santrinya. Ia mempelajari dan menelaah filsafat hanya dari karya-karya terkait tanpa seorang guru. Kurang dari dua tahun itu ia telah menelaah hampir semua karya filsafat yang beredar pada masanya. Dan pada rentang satu tahun berikutnya ia hanya mengulang-merenungkan karya-karya filsafat tersebut. Sampai pada akhirnya ia berksesimpulan, karya-karya filsafat yang ia baca hanya berisi “keraguan-keraguan yang tak diragukan”.

Jika pada ilmu kalam, Imam Ghazali memposisikannya sebagai “obat alternatif” untuk penyakit tertentu, pada filsafat, ia mewajibkan “larangan terbatas” mempelajarinya, yaitu bagi orang-orang yang tidak memiliki kemapanan intelektual dan kapasitas keimanan yang memadai.

Setelah tak juga merasakan kenyamanan dalam pengembaraannya, ia merasa perlu beralih “kendaraan”. Dan kendaraan yang ia pilih adalah “Jalan Sufisme” (Thuruq al-Sufiyah) – salah satu kelompok “pencari” yang ada pada masanya, selain filsafat, ilmu kalam, dan “bathiniah”. “Thuruq al-Shufiyah” menjadi “subjudul teragung” (ajallu fashl) dari al-Munqidz min al-Dhalal, menjelaskan hakikat tasawuf yang menjadi kendaraan terakhirnya menemukan “keyakinan”. Berbeda dengan kendaraan sebelumnya (ilmu kalam dan filsafat) yang hanya berkonsentrasi pada aktifitas nalar sehingga cukup dengan menelaah, mengarang buku, dan atau berdebat, jalan sufisme mengkombinasikan nalar (‘ilmu) dan laku (‘amal).

Seperti pada pengembaraan-pengembaraan sebelumnya, ia memperoleh ‘ilmu jalan sufisme dari telaahnya terhadap karya-karya para ulama terkait, seperti Abu Thalib al-Makkiy, al-Harist a-Mahasibi, dan Abu Yazid al-Busthami. Dari karya-karya mereka, Imam Ghazali seperti tercerahkan bahwa ada hal-hal yang tidak bisa dijangkau hanya dengan nalar, argumentasi dan buku sebagaimana ia pikir saat menempuh jalan ilmu kalam dan filsafat, melainkan dengan “kedalaman rasa” (al-dzauq) dan “laku raga” (al-suluk).

“Apa yang bisa ditempuh dengan nalar telah aku jalani dan aku raih hasilnya, tidak ada yang tersisa, kecuali apa yang bisa ditempuh hanya dengan “kedalaman rasa” dan “laku raga.”

Sejak saat itu, Imam Ghazali mengubah arah haluan hidupnya, dari orientasi intelektual yang serba nalar, argumentatif, dan tak lepas dari teks menjadi kecenderungan spiritual yang serba “rasa”.

“Aku melihat, selama ini seonggok hatiku telah erat terikat pada tali-tali dunia. Aku mengamati, selama ini aktifitas mengajar dan mendidikku hanya berkutat pada keilmuan yang tak penting. Aku niti-niti, selama ini aktifitas mengajar dan mendidikku hanya termotivasi jabatan dan ketenaran. Aku menyaksikan diriku berada di ‘tepi jurang yang runtuh’ (syafaa juruf har). Sungguh, aku telah dekat dengan neraka.”

Sang Imam hanya merenung dan merenung. Hingga ia berniat menyampakkan Baghdad, meninggalkan semuan aktifitasnya, bersiap menyerahkan diri kepada Tuhan. Tapi ini adalah permulaan. Keadaan demikian menelantarkannya di persimpangan jalan. Selama enam bulan, ia menjadi pertaruhan “bisikan setan” yang menghembuskan syahwat duniawi dan “ilham malaikat” yang mendorong laku ukhrawi.

Ia sempat terbaring sakit, tak kuasa menanggung beban pertaruhan itu. Tabib yang memeriksanya mengatakan bahwa, sakitnya bermula dari hati, dan menyarankan Imam agar menghilangkan kerupekan hati yang menyebabkannya terbaring sakit. Dari sinilah ia memulai titik baliknya. Hatinya yang rapuh ia rebahkan ke pangkuan Tuhan, bersimpuh di hadapan-Nya mengemis perlindungan. Ia menikmati itu, dan dengan mudah memantapkan hati memalingkan syahwat dunia dan menyampakkan Baghdad.

Setelah itu, selama sepuluh tahun, ia hidup nomaden, berpindah-pindah dari kota ke kota, bertinggal dari masjid ke masjid, mulai dari Syam, Damaskus, Baitul Maqdis, Makkah, Madinah, menghabiskan siang dan malamnya untuk menjalani suluk (i’tikaf, khalwat, uzlah, riyadhah, mujahadah, dzikir, membersihkan jiwa, dan sebagainya) sebagaimana yang ia baca dari literatur ilmu sufisme (‘ilmu al-shufiyah).

Satu dasawarsa menjalani laku suluk itu, tersingkap dalam dirinya hal-hal yang tak terkira, sampai ia pada keyakinan, sufisme adalah jalan terbaik dan terbenar untuk sampai pada kesadaran akan Tuhan. Gerak, diam, lahir, dan batin sufisme adalah binar cahaya kenabian (nur misykah al-nubuwwah). Menurutnya, “al-dzauq” dan “al-suluk” adalah langkah awal yang pernah dilakukan para “calon nabi”, sebelum akhirnya mereka benar-benar dipilih menjadi nabi. Hal seperti itulah yang pernah dijalani oleh Nabi Muhammad, dengan menyendiri di Gua Hira menjalani suluk, berasyik-masyuk dengan Tuhan-nya. “Keasyikan” itulah yang ingin didapatkan oleh para sufi dengan “al-dzauq”, tanpa harus menjadi nabi.

“Jalan Sufisme” menjadi titik akhir pengembaraan Imam Ghazali.

Digital; Mudah & Sulit Seketika

9 August 2008 § 1 Comment


al-maktabah al-syamilah; ga bisa diinstall lagi. Tinggal kenangan!

Dosen ilmu tauhid (teologi) saya di UIN Jakarta, pernah bercerita, pada saat masih kuliah di timur tengah dulu, ia perlu waktu berbulan-bulan untuk sekedar mencari sumber satu hadis, sekaligus menentukan status hukumnya (shahih, hasan, dlaif dsb), yang dalam ilmu hadis dikenal dengan takhrij al-hadis. Ia harus melakukan “perburuan” dari satu perpustakaan ke perpustakaan lain, membolak-balik (mungkin) puluhan kitab.

Meski tidak “separah” dosen saya itu, pada masa awal kuliah di Pesantren Luhur Ilmu Hadis Darus Sunnah, saya juga pernah melakukan hal yang sama, dan tidak sampai berbulan-bulan (hanya beberapa minggu). Mendadak saya rajin ke perpustakaan kampus atau perpustakaan umum, membolak-balik beberapa kitab, untuk menentukan status satu hadis, sebagai tugas di pesantren khusus mahasiswa itu.

al-maktabah al-alfiyah; terserang virus. Didelete aja!

Tapi, itu dulu, sebelum ada “pustaka digital” (sekedar menyebut contoh yang saya punya atau yang saya tahu, ada “maktabah syamilah” edisi 1 & 2, “maktabah alfiyah”, “hadits syarif”, dsb). Dengan pustaka digital itu, men-takhrij satu hadis bisa selesai dalam hitungan jam. Kawan saya pernah menyelesaikan puluhan hadis hanya dalam hitungan hari. Dan semua itu dilakukan tanpa harus keluar rumah, apalagi masuk ke perpustakaan, sebab semuanya dilakukan di komputer. Tinggal klak-klik, klak-klik, jebrettt!!! Keluarlah hasilnya.

Pustaka digital hanya memberikan kecepatan, kemudahan dan efiseinsi (waktu, tenaga, dan biaya) yang tak dijumpai jika melakukannya secara “manual”. Dan pengetahuan tentang ilmu takhrij hadis tetap mutlak diperlukan, meski media yang digunakan adalah pustaka digital sekali pun.

alquran digital; satu-satunya pustaka digital yang masih oke!

Namun, seperti kalimat andalan Dorce, “Kesempurnaan hanya milik Allah”. Kekurangan paling rawan dari pustaka digital adalah jika komputer di mana pustaka itu berada terserang virus (meski tidak semua virus komputer merusak program semacam itu). Itulah yang terjadi dengan beberapa program pustaka digital di komputer saya. Dari empat program pustaka digital yang ada, saat ini hanya satu yang masih normal, tiga yang lain sudah “teler”, tidak bisa di-install lagi (master dari program-program digital itu saya simpan di komputer, dan telah rusak). Saya menduga, itu terjadi akibat hantaman bertubi-tubi virus-virus yang pernah bersarang di komputer saya. (Seorang kawan bercerita, salah seorang sahabatnya kesal bukan kepalang, saat skripsi yang tinggal “sentuhan akhir” hilang sama sekali tak berbekas, sebab masalah yang ada di komputernya. Mungkin virus atau hal teknis yang tidak bisa dijelaskan, karena tidak tahu).

Padahal, program-program pustaka digital itu telah menjadi andalan saya. Saya seperti sudah memiliki ketergantungan yang erat terhadap program-program itu.

Tapi, ya, begitulah. Era digital memang memberikan kemudahan seketika pada satu sisi, dan pada sisi yang lain kesulitan seketika pula jika benda digital yang telah menjadi andalah itu rusak.

Sisi Biologis & Teologis Perempuan

3 August 2008 § Leave a comment


Pada masa pra-Islam (periode jahiliyah), beribu tahun silam, perempuan dipandang tidak memiliki sisi kemanusiaan utuh. Ia dianggap sebagai menusia kelas dua (the second sex) hanya soal ia tidak setangguh laki-laki. Ia dianggap tidak berguna dan membawa sial, sehingga tak pantas hidup, kemudian harus tiada dengan dikubur hidup-hidup. Saat itu, perempuan juga diperlakukan sebagai barang warisan. Pihak keluarga mendiang suami berhak atas diri perempuan itu, apakah mau dikawini oleh salah satu anggota keluarga mendiang suami, atau harus menebus kepada keluarga mendiang suami agar bisa kawin dengan orang lain. Islam datang, secara bertahap mengembalikan hak-hak perempuan sebagai manusia. Pada beberapa tempat di dalam Alquran, eksistensinya sebagai manusia di kehadirat Tuhan tidak dibedakan dengan laki-laki. Yang membedakan antara kedua jenis mahluk ini adalah kualitas takwanya. Dan perbedaan jasmani, sifat, karakter serta kecenderungan-kecenderungan yang ada di antara keduanya, tak lebih dari sekedar instrumen untuk menuju kualitas takwa tersebut.

Dari sisi karakter, perempuan cenderung lebih lemah lembut dari laki-laki. Secara umum, ia memiliki sifat malu dan rasa kasih sayang yang lebih besar. Nabi Muhammad memberikan gambaran metaforis tentang karakter perempuan, “Berpesanlah kalian untuk selalu berbuat baik kepada perempuan. Karena mereka diciptakan dari tulang rusuk yang bengkok.” (HR. Imam al-Bukhari, Imam Muslim, dan Imam al-Tirmizi).

Hadis ini tidak berbicara tentang penciptaan perempuan dari tulang rusuk, atau bahwa unsur penciptaannya berbeda dengan laki-laki. Sebab, tidak ada satu petunjuk pasti dari Alquran dan hadis yang memberikan pemahaman bahwa tulang rusuk (dhil’un) yang dimaksud oleh hadis tersebut adalah tulang rusuk dalam maknanya yang hakiki. Namun, hadis ini bermaksud untuk memperingatkan para laki-laki agar menghadapi perempuan dengan bijaksana, karena ada sifat dan kecenderungan mereka yang tidak sama dengan laki-laki, yang bila tidak disadari akan dapat mengantar kaum lelaki untuk berperilaku tidak wajar. Siapapun tidak akan mampu mengubah kodrat, termasuk kodrat perempuan. Kalau ada yang memaksakan perubahan itu, akibatnya akan fatal, sama fatalnya dengan meluruskan tulang rusuk yang bengkok. Ini jangan dipahami, bahwa kata “bengkok” di sini melecehkan perempuan. Itu hanya ilustrasi yang diberikan Nabi terhadap persepsi yang keliru dari sementara laki-laki menyangkut sifat perempuan, sehingga para lelaki itu memakasa untuk meluruskannya. Memahami hadis di atas dengan makna seperti ini justru mengakui kepribadian perempuan yang menjadi kodratnya sejak lahir.

Pakar psikologi Mesir, Zakaria Ibrahim, seperti dinukil oleh M. Quraish Shihab dalam Perempuan, dari Cinta sampai Seks, dari Nikah Mut’ah sampai Nikah Sunnah, dari Bias Lama sampai Bias Baru, menulis, “Perempuan memiliki kecenderungan masokhisme atau mencintai diri sendiri yang berkaitan dengan kecenderungan berkorban demi kelanjutan keturunan. Kecintaan kepada dirinya yang disertai dengan kecenderungan itu menjadikan perempuan kuasa mengatasi kesulitan dan rasa sakit yang memang telah menjadi kodratnya – khusunya ketika haid, mengandung dan membesarkan anak. Karena adanya rasa sakit itu pula, maka Allah menganugerahinya kenikmatan bukan saja dalam hubungan seks – sebagaimana halnya laki-laki – tetapi juga kenikmatan dalam memeilihara anak-anaknya.”

Perbedaan kodrati antara laki-laki dan perempuan memang tidak dapat dipungkiri adanya. Maka sudah sepatutunya mejadikan laki-laki tetap laki-laki, perempuan tetap perempuan, dan dalam saat yang sama kedua jenis kelamin itu diberi kesemptan berekspresi secara proporsional, sesuai dengan potensi dan karakter yang dimiliki masing-masing. Upaya untuk menyama-ratakan secara ektrem justeru menjadikan keduanya dapat tercabut dari akar kodratinya. Dan, perbedaan itu, hanya karena “kelaki-lakian” dan “keperempuanan”, tidak lantas menjadikan yang satu unggul atas yang lain. Perbedaan itu tidak harus menjadikan keduanya dibeda-bedakan. Ibnu Hazm al-Zhahiri mengecam, “Jika Anda merasa lebih utama dari Maryam, Aisyah, atau Fatimah, hanya karena engkau laki-laki dan mereka perempuan, maka orang yang mengatakan hal itu pantas disebut orang bodoh.”

Oleh karena itulah, atas dasar adanya perbedaan (kodrati), lahir tuntutan dan ketetapan hukum yang disesuaikan dengan kodrat, jati diri, fungsi serta peranan yang diharapkan darinya – baik laki-laki maupun perempuan, dan itu semua demi mencapai kemaslahatan bersama dunia dan akhirat. Di sisi lain, pada saat yang sama, keduanya mendapat tuntutan dan ketetapan hukum yang sama, kaitannya dalam hal persamaan di antara mereka.

Perempuan di Kehadirat Tuhan

Dalam sebuah sinetron di televisi, terkisahkan sebuah keluarga kaya raya, yang dengannya, materi duniawi yang diinginkannya dapat terpenuhi. Suatu ketika, anggota keluarga tersebut menyadari bahwa mereka telah terlalaikan oleh materi duniawi dan melupakan ajaran agama. Kesadaran itu menghantarkan mereka untuk mempelajari ajaran agama kepada seorang ustad

Suatu saat, sang ibu dari keluarga kaya itu tiba-tiba ingin berhenti mengaji dari ustad tersebut, dan menggantinya dengan ustad yang lain. Apa pasal? Ternyata, ketika ajaran-ajaran dasar belum tersampaikan dengan baik, sang ustad sudah menyampaikan informasi tentang surga dan neraka. Sang ustad tersebut menjelaskan, dengan berdasar sebuah hadis, bahwa mayoritas penduduk neraka kelak adalah perempuan. Kontan, sang ibu tadi merinding mendengar penjelasan sang ustad. Ini, tentu saja karena sang ibu itu adalah perempuan. Informasi itu terus menghantui pikiran sang ibu. Fatalnya, sang ustad tidak memberikan penjelasan secara komprehensif.

hadis yang dimaksud oleh sang ustad adalah hadis yang diriwayatkan oleh Imam Muslim. Suatu ketika Nabi pernah berwasiat kepada para perempuan, “Wahai para perempuan! bersedakahlah dan perbanyaklah istighfar. Karena aku melihat kalianlah yang akan banyak menghuni neraka.” Mendengar pernyataan “seram” ini, salah seorang dari mereka merasa perlu bertanya, “Mengapa harus kami yang banyak menghuni neraka, wahai Rasul?”

“Kalian terlalu banyak mengeluarkan kata-kata bernada laknat (tuktsirna al-li’an), dan sering mengingkari (hak-hak yang diberikan) suami-suami kalian (takfurna al-‘asyir),” demikian jawab Nabi.

Benarkah penghuni neraka, kelak, mayoritas adalah perempuan? Dengan kata lain, apakah berarti laki-laki menjadi mayoritas penduduk surga?

Alquran, juga hadis, dalam menyampaikan pesan-pesan moral, tak jarang menggunakan makna-makna literal dan simbolis. Sehingga, ketika teks Alquran atau hadis yang literal dan simbolis tersebut bersarang dan terolah oleh otak manusia, akan menghasilkan pemahaman beragam. Ragam pemahaman itu mucul, bisa karena perbedaan tingkat intelektualitas atau pengaruh sosio-kultural dan sosio-historis orang yang memahaminya. Oleh karena itu, dibutuhkan sikap arif bijaksan dan ketelitian dalam membaca teks-teks kegamaan, termasuk teks-teks keagamaan yang berbicara tentang perempuan atau relasi laki-laki dan perempuan.

hadis di atas, bila dipahami, bahwa perempuan adalah mayoritas penghuni neraka, hanya karena mereka berjenis kelamin perempuan, maka ini kontradiktif (ta’arudl) dengan semangat Alquran yang tidak menganut paham the second sex, yang memberikan keutamaan kepada jenis kelamin tertentu. Sebab, Alquran telah memberikan kesempatan yang sama kepada manusia, tanpa memandang jenis kelamin tertentu, untuk menjadi menjadi sosok terbaik di hadapan Allah, yang pantas mendapatkan surga-Nya. Sebagaimana, neraka-Nya telah disediakan bagi manusia pendosa, tanpa memandang jenis kelamin tertentu

Sekedar menyebut contoh, lihat saja, misalnya, QS. Al-ahzab/33:35: “Laki-laki dan perempuan yang berserah diri kepada Allah, laki-laki dan perempuan yang beriman, laki-laki dan perempuan tulus, laki-laki dan perempuan yang jujur, laki-laki dan perempuan yang sabar, laki-laki dan perempuan yang takut kepada Allah, laki-laki dan perempuan yang bersedekah, laki-laki dan perempuan yang berpuasa, laki-laki dan perempuan yang menutup aurat mereka, laki-laki dan perempuan yang berzikir kepada Allah, untuk mereka, Allah telah menyediakan ampunan dan pahala yang besar.”

Namun, dengan upaya sungguh-sungguh dalam memahami sebuah teks (Alquran atau hadis), dibarengi dengan sikap arif bijaksana, kesan kontradiktif pada teks-teks keagamaan dapat dihindari, termasuk antara hadis dan ayat di atas.

Dawuh Nabi di atas sesungguhnya pun telah jelas, yang menyebabkan mereka masuk neraka adalah karena perbuatan dosa yang mereka kerjakan, yaitu mengingkari hak-hak yang telah mereka dapat dari suami-suami mereka (takfurna al’asyir) dan terlalu banyak mengeluarkan kata bernada laknat (tuktsirna al-li’an), bukan karena keperempuanan mereka.

Yang perlu dipahami, pertama, bahwa dua perbuatan dosa tersebut merupakan perbuatan manusiawi yang lahir dari sifat dasar manusia (emosi), karenanya bisa dilakukan oleh siapa saja, termasuk laki-laki (suami). Keduanya bisa saja mengungkit-ungkit hak dan kewajiban, ketika keduanya terlibat pertengkaran yang kerap terjadi dalam kehidupan rumah tangga. Karena relasi suami isteri adalah relasi antara hak dan kewajiban. Sehingga, walaupun audiens hadis tersebut adalah perempuan (isteri), namun ketetapan hukumnya berlaku bagi laki-laki (suami) dan perempuan (isteri).

Kedua, bisa saja mukhatab (audiens) yang dihadapi Nabi, saat itu, adalah para perempuan yang memang kerap melakukan dua dosa tersebut, tanpa mereka ketahui bahwa perbuatan itu merupakan sebuah dosa, sehingga Kanjeng Rasul, sesuai dengan tugasnya menyampaikan kebenaran, merasa harus mengingatkan mereka. Maka, konteks hadis tersebut terbatas hanya pada para perempuan yang melakukan dua dosa tersebut dan bukan perempuan secara keseluruhan.

Maka, hanya satu kata kunci yang menjadi pembeda antara manusia satu dengan yang lainnya, di hadapan Tuhan-Nya, yaitu ketakwaan, bukan keutamaan nasab, bukan jenis kelamin, bukan pula kemulian suku. Betapa “demokratis”nya Allah. Renungkanlah pernyataan-Nya, “Hai Manusia, sesungguhnya kami menciptakan kalian dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, dan menjadikan kalian berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kalian saling mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kalian, di kehadirat Allah, adalah orang yang paling bertakwa. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” (QS. Al-Hujurat/49:13).

Kata kunci itulah yang akan menjadi pembuka pintu surga-Nya. Siapa saja yang memegang kunci tersebut, maka dialah yang berhak membuka pintu surga itu. Wallahu a’lam bis-shawab.

Where Am I?

You are currently browsing entries tagged with uin at Warung Nalar.

%d bloggers like this: