Tiga Sudut untuk Memandang Nama Pak Tuhan

26 August 2015 § 1 Comment


tuhan

MUI Jatim bereaksi terhadap kehebohan perkara Tuhan, nama yang disandang pria asal Banyuwangi.

Tuhan, kan, nggak boleh dibuat main-main,” kata ketua « Read the rest of this entry »

Burung

20 May 2013 § 1 Comment


Tuhan mencintai burung, lalu menciptakan pohon.
Manusia menyayangi burung, lalu membuat sangkar.

Jacques Deval

Tuhan dan Setan

18 July 2012 § Leave a comment


Tuhan berkata bahwa diri-Nya lebih dekat kepada manusia dibanding urat leher manusia sendiri.1

Nabi berkata bahwa aliran darah adalah tempat berkeliaran setan dalam diri manusia.2

Oh, betapa Tuhan dan setan begitu dekat melekat pada diri kita, sampai-sampai, jangan-jangan perbuatan baik kita ter « Read the rest of this entry »

Aku dan Tuhan Bertaruh

21 October 2009 § Leave a comment


Aku dan Tuhan bertaruh:
siapakah yang lebih sibuk?

Dan, kemudian …

Tuhan memaparkan kesibukan-Nya,
“Aku sangat sibuk: menyangga langit dan menjaga bumi,
menggilir bulan dan matahari, mengingatkan manusia tentang pagi …
sampai-sampai Aku tak bisa tidur. Sekadar mengantuk pun tak sempat.”

Tiba-tiba aku sudah merasa menang.

Antologi Status [1]

15 July 2009 § 3 Comments


Mani Menjadi Bangkai
hei, kau!
dari mani kau berawal,
menjadi bangkai kau akan final.
ada di antaranya,
kau menenggak mani
dan melahap bangkai 

[jr]

Hadiah
jika kelak tuhan memberimu surga,
atau menjatahimu neraka,
sepertinya bukan karena
kesalahenmu seluas angkasa,
bukan pula kebejatanmu memenuhi semesta.
kesalehanmu bahkan sepanjang hidupmu
terlalu murah untuk membeli surga,
kebejatanmu bahkan seumur hidupmu
terlalu ringan untuk menukar neraka.
o, apalah diri… « Read the rest of this entry »

Mata Hati

7 June 2009 § Leave a comment


Mata:
Sungguh tak terbayang bagaimana
jika saat itu Tuhan benar-benar kalah oleh hasrat Musa,
kemudian Musa merekam dalam memorinya
wajah Tuhan yang pernah nyata.
Lalu, dari tutur Musa tersebarlah berita rupa
Tuhan di tengah umat manusia,
turun temurun kepada umat selanjutnya,
selanjutnya, dan selajutnya hingga masa ini kita ada.
Maka, tidakkah kau kasihan kepada orang buta?!

Hati:
Syukur, semua itu tak terjadi.
Tuhan Maha Suci.
Ia menolak hasrat Musa dan memilih niskala diri
Tuhan hadir dalam bayang-bayang misteri,
melampaui sekat-sekat nalar, melintas-batasi inderawi,
tak terpaku kaku pada simbol yang pasti,
memungkinkan siapa pun untuk menghayati
sampai pada batas di mana ia merasakan kenyamanan hati.
Maka, kasihanilah orang yang hatinya telah mati.

Ciputat, 7 Juni 2009

Sunah

2 June 2009 § 1 Comment


Siang dan malam silih berganti secara teratur.
Tak pernah ribut, tak saling rebut. Akur.
Siang segera maju saat malam telah undur.
Siang patuh pada terangnya.
Malam tak pernah mengeluh dengan kelamnya.
Bulan sungguh menawan saat berparas purnama di tengah hijriah,
terus melayang sampai kemudian tersisa setengah,
lalu menjadi sabit indah.
Beredar selalu seperti itu. Tak lelah.
Bintang-bintang berkelip bertaburan saat langit cerah.
Memancarkan cahaya memecah
kelam malam saat bulan menyembunyikan wajah.
Benih-benih yang ditebar para petani di ladang-ladang telah
muncul ke permukaan tanah,
perlahan akan tumbuh menjadi pohon yang rindang dan berbuah.
Menebar berkah.
Pergelaran nan indah dari alam yang tak pernah kalah,
kecuali oleh masa di mana ia harus musnah.
Kecuali oleh tangan-tangan penjarah.
Di tangan-tangan mereka, ranting-ranting patah.
Tak ada embun yang menetes membuat tanah basah.
Alam tak kalah, pada saat itu, tak pula musnah.
Ia hanya tak lagi mau ramah. Terselubung Amarah.
Embun tak lagi menetes, melainkan tumpah ruah,
memecah arwah-arwah.
Alam tak pernah salah.
Karena ia hanya tunduk pada sunah.

Kemang, 2 Juni 2009

Kidung Malam Jumat

10 May 2009 § 1 Comment


Iqamah sembayang Maghrib di langgar yang hanya berjarak satu rumah di depan, biasa dilangsungkan sepuluh sampai lima belas menit setelah azan dikumandangkan. Pada jeda itu, muazin akan menembangkan kidung-kidung. Para jamaah yang telah hadir sebagian melakukan sembayang qabliyah, sebagian yang lain duduk bersila ikut menembangkan kidung, puji-pujian.

Pada Maghrib malam Jumat, kidung yang ditembangkan adalah tentang anjuran mendoakan sanak keluarga yang telah bersemayam di alam lain. Tak pernah diketahui siapa penggubahnya, yang jelas kidung itu telah ditembangkan turun temurun dan hampir semua warga kampung menghafalnya, dari tiyang sepah (orang tua) sampai anak-anak madrasah. Tapi, apa pentingnya kidung semacam itu bagi anak-anak madrasah ingusan yang belum memiliki penghayatan itu kecuali sebagai ajang teriak-teriakan, lalu para orang tua akan menyentak mereka karena hanya mengumbar suara cempreng tak teratur.

Allahumma shalli ‘ala muhammad…

malem jumah ahli kubur tilik umah
nyuwun pandunga ayat quran sakalimah

anak putu ora pada ngaji
ngelus dada mbrebes mili

balik ning kuburan
awan bengi tangis-tangisan…

Setiap malam Jumat, ahli kubur, sanak keluarga yang telah di kubur akan menyambangi keluarganya yang masih hidup, mengharap doa dari mereka meski hanya satu ayat Alquran. Tapi sayang, mereka tidak ada yang mau membacanya. Ahli kubur sedih mengusap dada melihat mereka demikian. Ia kembali ke kubur membawa kekecewaan. Di sana, siang malam ia menangis, meratap…

Selepas sembayang jamaah di Maghrib malam Jumat itu, para orang tua akan mengurung anak-anak mereka di rumah. Tidak boleh ada aktifitas selain membaca Alquran untuk menjamu para ahli kubur yang sedang sambang. Setelah itu, para orang tua akan membebaskan anaknya bermain sepuasnya di luar atau menonton televisi (bagi yang punya televisi, zaman itu), sebab keesokan harinya mereka tidak belajar. Jumat adalah hari libur madrasah.

Para warga, khususnya yang berprofesi tukang ojek, paling takut jika menabrak kucing, apalagi jika si korban tewas seketika di lokasi kejadian. Pelaku penabrakan akan melakukan penguburan sebaik-baiknya pada korban tewas itu. Mereka punya keyakinan, jika kucing itu tak dikubur dengan baik, apalagi dibuang begitu saja, bakal membawa celaka. Sebab, kucing adalah hewan kesayangan salah seorang sahabat Kanjeng Rasul, Abu Hurairah.

Benarkah demikian? Apakah benar, sanak keluarga yang telah meninggal bakal menyambangi rumahnya di dunia? Apakah perlu dibenarkan orang yang punya keyakinan bahwa seekor kucing yang mati tertabrak bakal membawa celaka bagi pelakunya?

Ah, tentu saja tidak. Semua itu hanya bahasa simbol, cara untuk menyampaikan esensi sebuah pesan kearifan. Begitulah “wong ndeso”. Di balik kehidupannya yang bersahaja dengan pola pikir sederhana, mereka menyimpan kearifan mendalam yang telah mengakar, turun temurun menjadi pegangan. Dan, mereka memiliki cara unik beraroma mistik untuk menyampaikan kearifan itu.

Warga kampung barangkali akan takut jika diweden-wedeni bahwa kucing mati tertabrak yang tidak dikubur dengan baik akan membawa celaka pelakunya. Mereka lebih paham dan patuh dengan ancaman semacam itu ketimbang memahami sebuah esensi: agar bangkai kucing tak menimbulkan bau tengik yang akan mengganggu para pejalan kaki. Warga lebih bersedia dan bersemangat membaca Yasin di malam Jumat, mendoakan mbah-nya yang telah meninggal dengan diweden-wedeni bahwa si mbah sedang menjenguk, ketimbang karena kesadaran akan nilai kesalehan. Cara-cara seperti itu memang terkadang lebih mengena dan efektif mendorong seseorang untuk melaksanakan perintah atau anjuran.

Tak pernah diketahui dari mana warga menggali sumber kearifan itu dan memiliki cara unik menyampaikannya. Apakah hal itu memiliki keterkaitan dengan cara agama yang juga tak sedikit menggunakan bahasa simbol dalam menyampaikan esensi pesan, anjuran, perintah (melaksanakan atau meninggalkan), kemudian memengaruhi cara berpikir mereka? Mungkin saja. Sebab, agama—Kitab Suci dan Sabda Nabi—adalah pengajar terbaik ungkapan simbolis, terutama terkait dengan Tuhan dan ketuhanan. Tuhan yang sama sekali tak terjangkau pikiran manusia kerap hadir dalam bahasa manusiawi dengan tujuan membuka jalan agar manusia mampu menyentuh Tuhan dengan pikirannya, menjamah Tuhan dengan penghayatannya. Tuhan hadir dalam bahasa yang bisa dimengerti manusia. Dan tentu saja, bahasa tentang Tuhan hanyalah bayang-bayang Tuhan dan bukan esensi Tuhan itu sendiri.

Kita tahu, misal, Nabi yang pernah mengatakan bahwa pada sepertiga malam Tuhan selalu bertandang ke “langit dunia”, menyeru para penduduk bumi, “man yad’uni, fa astajibu lahu. Man yastaghfiruni, fa aghfiru lahu.” “Siapa yang berdoa, akan Kukabulkan. Siapa yang meminta ampunan, akan Kuberi.”

Tentu kita tidak akan memahami sabda itu bahwa Tuhan benar-benar hadir mengawang-awang di angkasa secara kasat mata, menyeru manusia dengan suara yang memecah keheningan sepertiga malam. Tak masuk akal (mustahil aqli) manusia dan tak layak bagi karakter ketuhanan, jika Tuhan melakukan itu. Dan nyatanya pada sepertiga malam tak pernah terdengar suara seruan kecuali tawa mengakak para insomniak, atau suara kipas dari mainboard komputer yang casing-nya telah rusak, atau hanya suara putaran jarum jam yang berdetak.

Sesuatu yang tak masuk akal, gaib, mistik, yang hadir dalam simbol-simbol, jika tak dipahami esensinya maka ia akan berhenti sekedar menjadi mitos—yang justru kerap menjadi daya dorong cukup kuat untuk melakukan perintah melakukan atau meninggalkan. Terdorong karena sebuah waktu dan tempat, atau karena iming-iming pahala atau weden-weden siksa, serangkai ritual barangkali pernah dilakukan. Pada saat seperti itu, penghambaan terhadap simbol sedang digelar. Mungkin karena sebuah esensi yang terlalu jauh.[jr]

Zikir

4 May 2009 § 3 Comments


seperti biasa
tuhan hadir mengangkasa di kegelapan alam
seruannya memecah keheningan pucuk malam
seperti seruan emak kepada anaknya:

“man yad’uni, fa astajibu lahu”
“man yastaghfiruni, fa aghfiru lahu”

“siapa yang berdoa, akan kukabulkan”
“siapa yang meminta ampunan, akan kuberi”

seruannya lantang kudengar
di antara tawa mengakak para insomniak
di antara deru kipas mainboard yang casing-nya telah rusak
di antara putaran jarum jam yang berdetak

sampai kemudian ia beranjak dari angkasa
menuju singgasana tempat ia bertahta
tak juga kusujudkan wajahku

di pucuk malam itu
jemariku berzikir menulis namanya
dalam rangkaian kelemahan kalimat dan kata

semoga saja ia tahu

Ciputat, 3 Mei 2009

Ingin Seperti Tuhan Saja

29 April 2009 § Leave a comment


saat angin cinta menghembuskan bahagia, ia dipuja
saat sembilu cinta menyayatkan luka, ia dicerca
kasihan sekali kau, cinta…

tapi aku takkan pernah bahagia karena cinta
juga merana lalu mencerca cinta
aku takkan pernah menjadikannya istimewa
juga takkan pernah mengganggapnya sia-sia

karena akulah yang melahirkannya

aku ingin seperti tuhan saja
yang tak bertambah perkasa dan mulia telah membentang semesta
yang tak malu dan hina telah mencipta nyamuk kecil dalam pandangan mata

Where Am I?

You are currently browsing entries tagged with tuhan at Warung Nalar.

%d bloggers like this: