Meretas Jalan Surga Dalam Buku

7 March 2009 § 1 Comment


Ada fakta menarik dalam literatur keislaman: puja puji para pakar terhadap bidang keilmuan yang ditekuninya – biasa disampaikan pada setiap mukadimah sebuah karya – bahwa bidang keilmuannya adalah yang terbaik, berada di atas pada skala prioritas.

Nahwu (Gramatikal Arab)

Jamaluddin bin Hisyam al-Anshari, penulis Mughni al-Labib – sebuah karya tingkat lanjut bidang nawhu atau gramatikal Arab yang ditulis lebih dari enam ratus lima puluh tahun silam – membuka kitabnya itu dengan mukadimah berhias aliterasi apik, berisi pujian terhadap gramatikal Arab yang menjadi kepakarannya. Perhatikan,

Fainna aula ma taqtarikhuhu al-qaraih

Wa a’la ma tanajjaha ila tahshilihi al-jawanih

Ma yatayassara bihi fahm kitabillah al-munazzal

Wayattadhihu bihi ma’na haditsi nabiyyih al-mursal

Fainnahuma al-wasilah ila al-sa’adah al-abadaiyah

Wa al-dzari’ah ila tahshil al-mashalih al-diniyah wa al-dunyawiyyah

Wa ashl dzalik ‘ilm al-i’rab

Al-hadi ila shaub al-shawab

Mukkadimah apik dengan aliterasi ciamik itu – ciri umum yang mudah dijumpai dalam banyak karya (utamanya klasik) berbahasa arab, sekaligus menjadi keunggulannya – tentu saja tak akan dibiarkan terkoyak oleh terjemahan yang tak memperhatikan aliterasi. Maka terjemahan bebas mesti dilakukan – dengan tak mengacu pada arti tekstual mukadimah itu, tapi melihat pada karya penjelas (hamisy) yang berada di sampingnya (hasyiyah). Berikut,

Apa yang paling mendorong nalar dan hati

Itulah ilmu yang memiliki kekuatan akurasi dan presisi

Sehingga memahami Alquran menjadi mudah

Dan memaknai hadis jadi tak payah

Di mana keduanya adalah jembatan menuju bahagia abadi

Jalan meraih maslahat duniawi dan ukhrawi

Itulah “ilmu i’rab” di mana kepadanya semua berpangkal

Ilmu petunjuk arah kebenaran tak tersangkal

Dan “ilmu i’rab” yang dimaksud adalah nawhu. Dari mukadimah itu, bisa dimengerti, memahami nahwu atau gramatikal Arab adalah dasar mutlak bagi para penekun Alquran dan hadis, dua hal yang kata Rasul, “lan tadhillu ma tamassaktum bihima”, “kalian takkan tersesat sepanjang berpedoman kepada keduanya”, karena di sanalah terhampar petunjuk meraih ketentraman alam dunia, di sanalah pedoman menuju alam selanjutnya tersedia.

Alquran dan hadis adalah dunia kalimat dan kata. Untuk mendalami keduanya, terlebih dahulu seseorang mesti memahami dunia kalimat dan kata itu, menekuni “ilmu i’rab“: satu instrumen keilmuan yang mampu membedah sampai pada setiap detil huruf, bahkan harakat (baris/bunyi huruf Arab) dengan tingkat akurasi dan presisi yang tinggi. Sebab, perbedaan bunyi harakat dalam bahasa Arab akan berpengaruh pada pemakanaan. Maka, bergulat dengan Alquran dan hadis, memiliki pisau bedah bernama “ilmu i’rab” adalah mutlak, untuk menghindari kesalahan dalam pemaknaan terhadap keduanya, mengingat ia adalah mata air hukum dan sumber legitimasi.

Pada konteks seperti itu, tentu nahwu adalah yang terbaik, “di mana kepadanya semua berpangkal”.

Ilmu Kalam (Teologi)

Kita tuju, selanjutnya, bidang keilmuan teologi atau akidah atau ilmu kalam. Kita tengok, misalnya, mukadimah sebuah kitab al-Husun al-Hamidiyah karya Sayid Husain Afandi. Di sana tertulis puja puji ini,

“…wahuwa ashl al-‘ulum al-diniyyah wa afdhaluha, likaunih muta’alliq bidzatillah ta’ala wadzati rusulihi ‘alaihim al-shalah wa al-salam. Wasyaraf al-‘ulum bisyaraf al-ma’lum.”

Kata penulisnya, “…ia (ilmu kalam) adalah pokok dan paling prioritas dari semua kajian keagamaan. Sebab, obyek kajian ilmu ini adalah entitas penuh kemuliaan: Tuhan dan para utusan-Nya. Dan, derajat kemuliaan sebuah ilmu ditentukan oleh obyek kajiannya.”

Mengkaji ilmu ini, para pencari ilmu akan memahami bahwa segala yang wujud pasti ada yang mencipta, mengerti bahwa Tuhan mengutus Rasul ke alam dunia untuk menyampaikan risalah ketuhanan.

Namun, ada hal kontras mengesankan diutarakan Imam al-Ghazali terkait bidang ini. Dalam al-Iqtishad fi al-I’tiqad, karyanya sendiri dalam bidang ini, ia menyatakan, ilmu ini tak wajib bagi setiap orang, bukan fardhu a’in, tapi sekedar fardhu kifayah, diharuskan ada sebagian orang yang tetap mendalami ilmu ini. Bahkan, menurutnya, ada orang-orang yang justeru tak dianjurkan mempelajarinya, tak diperkenankan ilmu itu diperkenalkan kepada mereka. Di antaranya adalah orang-orang yang cukup baginya percaya akan Tuhan dan Rasul, mengerjakan ritual-ritual keagamaan, tanpa paham namun bukan berarti ragu, kenapa semua itu mesti dilakukan.

Barangkali bisa dijadikan contoh adalah orang tua, nenek, atau kakek sebagian kita yang kepercayaannya atas Tuhan dan Rasul, serta ritual, misalkan, shalatnya, berdasarkan “pokoknya percaya Tuhan itu ada dan Muhammad adalah Rasul-Nya”, “pokoknya shalat itu wajib”, tanpa mampu menjelaskan dasar kenapa harus demikian. Jika dengan kondisi seperti itu mereka telah bisa merasa nyaman berislam dan beriman, maka tak dianjurkan ilmu kalam diperkenalkan kepada mereka, tak dianjurkan diajukan pertanyaan kepada mereka, kenapa Tuhan itu ada, kenapa Tuhan mesti mengutus rasul, dan sebagainya dan seterusnya, jika kemudian pertanyaan teologis semacam itu justeru membuat bingung mereka. Saya sendiri memiliki seorang embah putri yang sama sekali tak bisa baca Alquran, hanya hapal beberapa surat Alquran untuk kepentingan shalat, hapal bacaan shalat dan wirid rutin yang dibaca selepas shalat, tanpa sama sekali paham terjemahan apa yang dibacanya, apalagi memahaminya. Embah putri saya tak paham semua itu. Yang ia tahu cuma, Tuhan itu ada, Tuhan mewajibkan shalat, maka ia lakukan kewajiban itu dengan konsisten tanpa keraguan. Tak lebih dari itu.

Kepada orang seperti itulah, ilmu kalam yang sarat perdebatan, tak bijak disampaikan. Maka, dalam analogi Imam al-Ghazali, ilmu kalam hanya ibarat obat yang semata dibutuhkan bagi orang sakit. Ilmu kalam dibutuhkan hanya bagi orang yang keberislaman dan keberimananya terbelunggu ragu.

Fikih

Puja dan puji dalam bidang fikih, bisa dijumpai dalam satu mukadimah Kifayah al-Akhyar buah karya Taqiyuddin Abu Bakr al-Husaini.

Disebutkan, “faidza kana al-fiqh bihadza al-martabah al-syarifah wa al-mazaya al-munifah, kana al-ihtimam bihi fi al-darajah al-ula. Wa sharf al-auqat al-nafsiyyah bal kull al-‘umr fihi aula. Lianna sabilahu sabil al-jannah.”

“Karena memiliki martabat mulia dan keunggulan yang luhur ini, maka menekuni ilmu fikih menjadi prioritas utama. Bahkan akan lebih baik jika seseorang menekuninya sepanjang hayat. Sebab, menekuni fikih adalah meretas jalan surga.”

Barangkali tak bisa disangkal, hanya dalam literatur fikih terpapar kajian lebih dalam dan detil tentang berbagai ritual keislaman, seperti shalat, zakat, puasa, perkawinan dan sebagainya dan seterusnya. Dalam konteks ini, tentu saja fikih lebih unggul dan bermartabat. Maka, bukan hal janggal jika kemudian puja dan puji di sampaikan kepadanya.

Hadis, Ilmu Hadis, Dan Tafsir

Untuk bidang ini, saya nukilkan mukadimah Bulugh al-Maram – kitab yang memuat hadis-hadis dasar hukum fikih buah pena Ibn Hajar al-Asqalani – yang disampaikan oleh Muhammad Hamid,

“Inna khaira ma tansharif ilaih himam al-mu’minin al-shadiqin, watatawajjah ilaih ‘inayah al-muwahhidin al-mukhlishin, kalam sayyid al-khalq ajma’in”.

“Obyek kajian terbaik di mana orang beriman mencurahkan kesungguhannya, di mana penganut tauhid mengarahkan perhatiannya, itulah tutur penghulu segenap mahluk.”

“Tutur penghulu segenap mahluk” yang dimaksud adalah hadis-hadis Rasul Muhammad.

Hadis menjadi obyek kajian terbaik, berada di atas pada skala prioritas untuk merinci apa yang global dalam Alquran, menjadi petunjuk teknis dan petunjuk pelaksana dari Alquran. Tuhan perlu mengutus seorang Rasul untuk menjelaskan teknik pelaksanaan shalat, zakat, haji, dan sebagainya dan seterusnya, dalam tutur dan tindakannya, karena di dalam Alquran Tuhan hanya memerintahkan shalat, zakat, haji, tanpa menjelaskan bagaimana teknik semua kewajiban itu mesti dilaksanakan. Untuk konteks ini, hadis adalah yang terbaik.

Sedangkan dalam bidang ilmu hadis, eloklah saya nukil di sini puja puji Ibnu Shalah yang ia sampaikan dalam karyanya atas nama Muqaddimah Ibn Shalah fi Ulum al-hadits, “Inna ‘ulum al-hadits min afdhal al-‘ulum al-fadhilah wa anfa’ al-funun al-nafi’ah… Wahuwa min aktsar al-‘ulum tawallujan fi fununiha, la siyama al-fiqh…”

Katanya, “Ilmu hadis adalah bagian dari keilmuan yang memiliki prioritas paling utama, bagian dari bidang keilmuan yang paling bermanfaat… Ia menjadi bidang keilmuan yang paling banyak masuk menjadi obyek kajian dalam bidang keilmuan yang lain, terutama fikih…”

Tafsir juga tak lepas dari puja puji semacam di atas. Lihat saja apa yang ada dalam mukadimah kitab tafsir karya Muhammad Ali al-Shabuni, Rawaih al-Bayan, Tafsir Ayat al-Ahkam min Al-Quran, “Inna khaira ma shurifat fihi aljuhud, wa isytaghala bihi al-‘ulama ta’liman wa tafsiran wa tafahhuman wa dirasatan wa istinbathan, kitabullah…

“Kajian terbaik untuk dicurahkan segala kesungguhan, di mana para ulama menyibukkan waktu untuk mengajarkannya, menafsirkannya, memahaminya, mendarasnya, dan menggali hukum darinya, maka itulah Kitab Tuhan…”

Dengan kepakaran dan ketekunan mendalam terhadap bidang keilmuan yang diselaminya, para pakar telah mampu meretas jalan surga dan jalan kedekatan menuju Tuhan. Apakah hanya dalam bidang keilmuan keagamaan jalan itu bisa diretas? Apakah hal itu tak membuat iri para pakar astronomi, ahli biologi, para saintis, dan sebagainya dan seterusnya, yang dengan kepakaran dan ketekunannya pula pada kajiannya, pada sepojok hatinya ia berguman tentang entitas yang tak pernah disinggung dalam bidang kajiannya, namun dapat ia rasakan “Oh, siapakah Kau yang mencipta semua ini? Ciptaan-Mu begitu luar biasa dan sempurna. Maka, pastilah betapa Kau lebih sempurna dari kesempurnaan ciptaanmu.”

Lalu, kita (jika sampean tak kebeberatan saya wakili), yang bukan pakar dalam bidang apa pun, yang tak mampu mencipta satu pun karya, apalagi yang luar biasa, dengan jalan apakah kita meretas surga?

Tak apa, kita retas surga dengan kaidah fikih ini: al-tabi’ tabi’, pengikut mengikut kemana yang diikuti pergi. Jika para pakar keilmuan di atas kelak masuk surga, kita yang hanya bisa membaca, menelaah karyanya, juga akan masuk surga, kecipratan berkahnya. Maka, tak berlebihan jika para kyai dan ustad di pesantren yang mengajarkan kitab tertentu, mengawalinya dengan permulaan ini: “Qala al-mushannif rahimahullah ta’ala, wanafa’ana bi ‘ulumihi fi al-darain…”.

“Penulis kitab ini – semoga Allah merahmatinya, dan memberikan manfaat bagi kita di dunia dan akhirat, karena ilmu-ilmunya – mengatakan…”. Setelah itu, baru dimualilah pengajian: al-kalamu huwa al-lafdzu…

~

Empat mahasiwa UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, masing-masing dari dari Fakultas Adab dan Humaniora, Fakultas Ushuluddin, Fakultas Syariah, dan Fakultas Dirasat Islamiyah, sedang mengantri di depan pintu surga, menunggu panggilan, akan masuk surga yag mana. Waktu hidup di dunia, di kampus yang begitu ia cintai itu, mereka adalah mahasiswa yang cemerlang. IPK mereka selalu mendekati 4.0, kecuali si mahasiwa dari Fakultas Dirasat Islamiyah yang IPK-nya paling tinggi hanya 3.2. Semuanya bergembira karena akan masuk surga bintang empat, dengan pertimbangan IPK mereka selalu kumlaud, kecuali si mahasiswa dari Fakultas Dirasat Islamiyah yang tampaknya pasrah dengan surga kelas melati pun, mengingat IPK-nya yang selalu pas-pasan.

Di luar dugaan, ternyata mahasiswa Fakultas Dirasat Islamiyah yang masuk surga bintang empat itu, dan tiga mahasiswa lainnya justeru masuk surga kelas melati. Kontan saja tiga mahasiswa itu mengajukan nota keberatan kepada malaikat penjaga surga.

“Eit, tenang, tenang. Saya bisa jelaskan… IPK kalian boleh selalu mendekati empat. Namun, kalian masuk surga ini bukan karena nilai, tapi cipratan-cipratan berkah yang membasahi kalian. Dan yang mendapatkan berkah lebih banyak waktu di dunia adalah mahasiswa dari Fakultas Dirasat Islamiyah. Maka, dia berhak mendapatkan surga bintang empat itu,” kata malaikat.

“Elho! Kok, bisa begitu, Tuan Malaikat?”

“Ya jelas, tho. Fakultas Dirasat Islamiyah itu kan terjemahannya Fakultas Studi Islam. Se-ta-di Is-lam. Dari namanya terang terlihat, kajianya tentang Islam pastilah lebih komprehensif. Pembahasannya lebih luas. “Islam” itu ya mencakup “ushuluddin”, “syariah”, “adab. Apa “ushuluddin” mencakup “syariah”? Apa “syariah” memuat “adab”? Apa “adab” melingkup “ushuluddin”? Ndak, tho?!” tantang Malaikat.

“Hayo, ngaku, kalian bertiga. Yang dari Fakultas Ushuluddin, apa fakultasmu mendata Kifayah al-Akhyar jadi referensi bacaan? Yang dari Fakultas Syariah, apa kamu diperintahkan baca Mughni al-Labib untuk referensi? Yang dari Fakultas Adab dan Humaniora, apakah dosen kalian menganjurkan Bulugh al-Maram jadi referensi di fakultasmu? Tidak, tho?! Di Fakultas Dirasat Islamiyah, semua yang disebut itu penting dimiliki. Wong, fakultas Islam komprehensif, je!”

“Sudah, sudah, jangan banyak protes, kalian! Nikmati saja jatah surgamu itu. Kelas melati la’ sing penting surga. Yes, tho?!”

Ambiguitas Tuhan

26 January 2009 § 3 Comments


Tuhan adalah sosok yang tak terjangkau, berada di tempat yang teramat jauh. “Ia ada di langit,” kata seorang perempuan, suatu ketika, kepada Rasul. “Perempuan itu telah beriman,” ujar Rasul menilai-benarkan apa yang perempuan tersebut tahu dan hayati tentang Tuhannya.

Langit, jika mungkin ia suatu tempat, maka pastilah tak terhingga jauhnya, tak ada alat ukur untuk menjangkaunya, kecuali hanya sebatas kata. Mungkin, begitu juga dengan al-‘arsy: tempat asing nun jauh di alam antah berantah yang tak terpindai pikiran manusia, di mana Tuhan singgah setelah mencipta semesta. Langit dan al-arsy, sejatinya mungkin sesuatu yang ada, namun yang pasti tak terkira.

Agaknya Tuhan pun tahu akan hal itu, sadar diri-Nya adalah sosok yang jauh, di mana manusia tak bisa hadir untuk menjangkau-Nya. Maka, Ia selalu hadir pada dini hari, pada suatu waktu yang hening, menyambangi setiap manusia yang rindu, mempersilakan diri-Nya dipeluk dan dijamah dengan segenap penghayatan. Bagi sebagian orang, Tuhan yang gaib mungkin bisa “nyata” di gelap malam yang hening, di sebuah “rumah Tuhan” di mana manusia bisa menjumpai-Nya.

Tuhan yang tak terjangkau, yang jauh di langit, yang singgah gagah di al-‘arsy, mungkin lebih disadari dan dimengerti. Sebab, barangkali, dengan semua itu, sosok Tuhan dapat dibanggakan, seolah ke-maha-an-Nya lebih tampak.

Dan ketika Tuhan hadir dalam sosok yang tersisihkan dan terpinggirkan di pojok-pojok bumi, yang hanya terlintas sekilas oleh pandangan mata, yang cuma menempati pojok kecil di ruang pikiran, atau bahkan tak pernah terpikirkan, maka hal itu mengherankan dan tak bisa dimengerti.

Serangkai cerita kecil datang dari Rasul. Dikisahkan, Tuhan berdialog dengan manusia, di akhirat.

“Aku pernah sakit, kenapa kau tak menjenguk? Aku pernah kelaparan dan kehausan, kenapa kau tak peduli?” tanya Tuhan kepada manusia.

Dengan ketak-mengertian mendalam, manusia tersebut berkata, “Tuhan, bagaimana aku bisa menjenguk-Mu, mengantarkan makanan dan minuman untuk-Mu, sedangkan Kau adalah Tuhan semesta alam?!”

Tuhan menjawab, “Tidakkah kau tahu, hambaku si Fulan pernah sakit?! Tidakkah kau tahu, hambaku si Fulan pernah kelaparan dan kehausan?! Aku tahu, kau tahu semua itu, hanya saja kau tak mau peduli. Padahal jika kau mau mendekati mereka, niscaya kau akan menjumpaiku di sisi mereka.”

Tuhan hadir dalam ambiguitas yang mengesankan. Ia mengawang di langit jauh, singgah gagah di singgasana al-‘arsy, dan sekaligus senantiasa bersama manusia di bumi, bahkan lebih banyak bersama manusia-manusia tersisih yang tak menyita perhatian mata.

Ambiguitas ini menyiratkan pemaknaan dan penghayatan yang luas tak terbatas tentang Tuhan. Karenanya, setiap hati memiliki kemandirian dan kebebasan mencari pemaknaan dan penghayatan itu sampai pada pilihan di mana ia merasakan kenyamanan.[jr]

Wajah Tuhan

23 January 2009 § 3 Comments


Musa begitu berhasrat memandang wajah Tuhan – setelah terhanyut nikmat oleh merdu suara-Nya. Laisa al-khabar ka al-mu’ayanah. Mendengar merdu suara Tuhan adalah kenikmatan, Musa membayangkan; maka apalagi sambil memandang wajah pemilik suara itu. Rindu rasa membuat Musa rindu rupa. Raga memang selalu butuh pemuasannya.

Namun, Tuhan tak berkenan. Ia menolak permohonan Musa untuk mewujud diri dalam rupa yang terang, dan memilih hadir dalam kebijaksanaan. Ia menjadikan diri-Nya tetap sebagai kerinduan, senantiasa menjadi bayang-bayang ketak-pastian, menjadi Yang Tak Terang, untuk Musa dan semua manusia, selamanya.

Justru dengan itu orang beriman dan tak pernah jera untuk itu. Subhanaka tubtu ilaika wa ana awwal al-mu’minin. “Maha Suci Engkau. Aku bertaubat kepada-Mu. Dan aku orang yang pertama-tama beriman,” kata Musa. Sebab, dalam terang, tak lagi disebut iman. Dalam terang, kenikmatan iman tak dapat dirasa, dan yang diimani kehilangan kesakralannya. Iman tak butuh pencarian bukti fisik, wajah yang terang. Al-iman kafin la yahtaj ma’ahu ila tanqir wa bahts, dalam kata-kata Alqurtubi. Dalam iman, wajah yang terang adalah ketak-sempurnaan dan keterbatasan. Dan Tuhan Maha Sempurna, Yang Tak Terbatas.

Tuhan Yang Maha Sempurna, Yang Tak Terbatas, Yang Tak Terpermanai, yang selalu menggetarkan hati dalam kerinduan, Yang Tak Terang di mana iman tak pernah jera, yang menjadi bayang-bayang ketak-pastian yang justru karena itu hati memiliki kebebasan melakukan penghayatan yang paling pribadi, hanya dapat dinikmati di dunia ini.

Pada dunia yang lain, bagai bulat purnama yang benderangnya bersih dari balutan awan paling tipis sekali pun, wajah Tuhan teramat terang oleh setiap mata telanjang. Pada saat itu, setiap wajah akan berseri-seri terpesona memandang wajah elok Tuhan. Wujuhun yaumaidzin nadhirah, ila rabbiha nadzirah, persis dalam kata-kata Kitab Suci. Mungkin juga ada wajah yang tertawa sebab memandang wajah Tuhan yang lucu. Atau wajah ketakutan karena memandang wajah Tuhan yang seram. Mungkin juga akan banyak ekspresi-ekspresi wajah yang lain. Masing-masing wajah akan menjadi penilai wajah Tuhan. Di dunia lain itu, Tuhan telah takluk. Di sana, Tuhan tidak hadir sebagai yang tak terbatas, tak lagi jadi yang tak terpermanai, tak ada hati yang bergetar dalam kerinduan sebab mata telah menemui pemuasannya. Mungkin, di sana, kelak, tidak ada iman…

Mungkin juga tidak seperti semua itu.[jr]

Jalan Sufisme; Sekilas Memoar Pengembaraan Imam Ghazali

14 August 2008 § 5 Comments


Setelah beberapa tahun lalu saya beruntung mendapatkan kitab al-Munqidz min al-Dhalal (Pengentas Kesesatan), meski berupa fotocopy-an dari buku asli seorang kawan (saya berusaha mendapatkan aslinya di toko-toko buku, namun tidak menemukan), baru beberapa hari terakhir ini seperti ada dorongan tersendiri untuk membukanya.

Al-Munqidz min al-Dhalal adalah karya Imam Ghazali yang ia tulis sebagai “memoar” pengembaraan intelektual dalam upaya menemukan titik-titik “keyakinan” dari bisik-bisik “keraguan”. “Memoar” itu ia maksudkan sebagai semacam motivasi untuk “para pencari”; mesti bersungguh-sungguh dan pantang berhenti untuk menemukan apa yang ia cari, sampai ia tidak tahu apa yang harus dicarinya lagi.

Pengembaraan intelektual Imam Ghazali bermula dari obsesinya mengetahui hakikat dari setiap sesuatu, dan itu mengharuskan adanya perangkat keilmuan yang ia sebut dengan “al-‘ilmu al-yaqini”; istilah abstrak untuk menyebut “seperangkat keilmuan yang mampu menyingkap hakikat sesuatu tanpa sisa-sisa keraguan dan kemungkinan kekeliruan”.

Ia melakukan pencarian. Dalam tempo itu, untuk beberapa lama, ia sempat terperangkap dalam masa “krisis intelektual”. Hatinya terjebak oleh “struktur intelektual” yang ia bangun sendiri dengan argumentasi yang kuat. Ia ingin berpaling dari struktur itu (ia sebut dengan kata tunjuk “dzalik al-maradh”), namun ia belum memiliki argumentasi tandingan untuk melawannya. Baginya, melepaskan diri dari argumentasi mesti dengan argumentasi yang lebih argumentatif. Demikian bisik idealismenya, saat itu.

Mulailah ia mencari “sandaran intelektual” yang mampu menghantarkannya kepada “al-ilmu al-yaqini” sekaligus menyembuhkannya dari “dzalik al-maradh”. Mula-mula ia bersandar pada “ilmu kalam” (teologi), membuka karya-karya para mutakallimun (para teolog), menelaah, merefleksikan tanggapan dan pandangannya dalam tulisan.

Dalam pandangan Imam Ghazali, ilmu kalam dibangun dalam rangka melestarikan kemurnian akidah ahlussunnah dan menjaganya dari tangan kotor pembid’ah (hifdzu ‘aqidah ahlissunnah wahirasatuha min tasywisyi ahlil al-bid’ah), yaitu akidah yang benar sesuai dengan indikasi Alquran dan hadis, yang memberikan maslahat duniawi dan ukhrawi. Dalam pengamatannya terhadap karya-karya ilmu kalam, tugas itu memang telah terlaksana. Hanya saja ia tidak puas dengan narasi-narasi para mutakallimun itu yang cenderung menelan mentah-mentah teks-teks Alquran dan hadis tanpa elaborasi yang cukup, bahkan bercorak taklid buta. Oleh karenanya, dari ilmu kalam itu, ia tidak mendapati jawaban-jawaban memuaskan bagi “krisis intelektual”nya.

Bagi Imam Ghazali, ilmu kalam hanyalah “obat” tertentu untuk “penyakit” tertentu. Sebagai obat, ia hanya dibutuhkan saat sakit. Sebagai obat tertentu, orang sakit bisa saja berhenti (atau tidak sama sekali) mengkonsumsinya jika terbukti tidak manjur, dan beralih ke obat lain. Ia sampai berujar,

“Dalam keyakinan pribadiku, ilmu kalam belum mencukupi. Untuk “penyakit” yang aku derita, ilmu kalam belum mampu mengobati” (falam yakun al-kalam fi haqqi kafiyan, wala lidaa i alladzi kuntu asykuhu syafiyan).

Ia abaikan ilmu kalam, meski tetap respek terhadap ilmu dan para mutakallimun itu, atas nilai positif yang dihasilkan darinya.

Lalu, ia melanjutkan pengembaraan intelektualnya. Kali ini ia jajaki “filsafat”. Selama di Baghdad, ia menyisihkan waktunya spesial untuk menelaah filsafat di sela-sela kewajiban mengajarkan “ilmu-ilmu syariat” kepada tiga ratus santrinya. Ia mempelajari dan menelaah filsafat hanya dari karya-karya terkait tanpa seorang guru. Kurang dari dua tahun itu ia telah menelaah hampir semua karya filsafat yang beredar pada masanya. Dan pada rentang satu tahun berikutnya ia hanya mengulang-merenungkan karya-karya filsafat tersebut. Sampai pada akhirnya ia berksesimpulan, karya-karya filsafat yang ia baca hanya berisi “keraguan-keraguan yang tak diragukan”.

Jika pada ilmu kalam, Imam Ghazali memposisikannya sebagai “obat alternatif” untuk penyakit tertentu, pada filsafat, ia mewajibkan “larangan terbatas” mempelajarinya, yaitu bagi orang-orang yang tidak memiliki kemapanan intelektual dan kapasitas keimanan yang memadai.

Setelah tak juga merasakan kenyamanan dalam pengembaraannya, ia merasa perlu beralih “kendaraan”. Dan kendaraan yang ia pilih adalah “Jalan Sufisme” (Thuruq al-Sufiyah) – salah satu kelompok “pencari” yang ada pada masanya, selain filsafat, ilmu kalam, dan “bathiniah”. “Thuruq al-Shufiyah” menjadi “subjudul teragung” (ajallu fashl) dari al-Munqidz min al-Dhalal, menjelaskan hakikat tasawuf yang menjadi kendaraan terakhirnya menemukan “keyakinan”. Berbeda dengan kendaraan sebelumnya (ilmu kalam dan filsafat) yang hanya berkonsentrasi pada aktifitas nalar sehingga cukup dengan menelaah, mengarang buku, dan atau berdebat, jalan sufisme mengkombinasikan nalar (‘ilmu) dan laku (‘amal).

Seperti pada pengembaraan-pengembaraan sebelumnya, ia memperoleh ‘ilmu jalan sufisme dari telaahnya terhadap karya-karya para ulama terkait, seperti Abu Thalib al-Makkiy, al-Harist a-Mahasibi, dan Abu Yazid al-Busthami. Dari karya-karya mereka, Imam Ghazali seperti tercerahkan bahwa ada hal-hal yang tidak bisa dijangkau hanya dengan nalar, argumentasi dan buku sebagaimana ia pikir saat menempuh jalan ilmu kalam dan filsafat, melainkan dengan “kedalaman rasa” (al-dzauq) dan “laku raga” (al-suluk).

“Apa yang bisa ditempuh dengan nalar telah aku jalani dan aku raih hasilnya, tidak ada yang tersisa, kecuali apa yang bisa ditempuh hanya dengan “kedalaman rasa” dan “laku raga.”

Sejak saat itu, Imam Ghazali mengubah arah haluan hidupnya, dari orientasi intelektual yang serba nalar, argumentatif, dan tak lepas dari teks menjadi kecenderungan spiritual yang serba “rasa”.

“Aku melihat, selama ini seonggok hatiku telah erat terikat pada tali-tali dunia. Aku mengamati, selama ini aktifitas mengajar dan mendidikku hanya berkutat pada keilmuan yang tak penting. Aku niti-niti, selama ini aktifitas mengajar dan mendidikku hanya termotivasi jabatan dan ketenaran. Aku menyaksikan diriku berada di ‘tepi jurang yang runtuh’ (syafaa juruf har). Sungguh, aku telah dekat dengan neraka.”

Sang Imam hanya merenung dan merenung. Hingga ia berniat menyampakkan Baghdad, meninggalkan semuan aktifitasnya, bersiap menyerahkan diri kepada Tuhan. Tapi ini adalah permulaan. Keadaan demikian menelantarkannya di persimpangan jalan. Selama enam bulan, ia menjadi pertaruhan “bisikan setan” yang menghembuskan syahwat duniawi dan “ilham malaikat” yang mendorong laku ukhrawi.

Ia sempat terbaring sakit, tak kuasa menanggung beban pertaruhan itu. Tabib yang memeriksanya mengatakan bahwa, sakitnya bermula dari hati, dan menyarankan Imam agar menghilangkan kerupekan hati yang menyebabkannya terbaring sakit. Dari sinilah ia memulai titik baliknya. Hatinya yang rapuh ia rebahkan ke pangkuan Tuhan, bersimpuh di hadapan-Nya mengemis perlindungan. Ia menikmati itu, dan dengan mudah memantapkan hati memalingkan syahwat dunia dan menyampakkan Baghdad.

Setelah itu, selama sepuluh tahun, ia hidup nomaden, berpindah-pindah dari kota ke kota, bertinggal dari masjid ke masjid, mulai dari Syam, Damaskus, Baitul Maqdis, Makkah, Madinah, menghabiskan siang dan malamnya untuk menjalani suluk (i’tikaf, khalwat, uzlah, riyadhah, mujahadah, dzikir, membersihkan jiwa, dan sebagainya) sebagaimana yang ia baca dari literatur ilmu sufisme (‘ilmu al-shufiyah).

Satu dasawarsa menjalani laku suluk itu, tersingkap dalam dirinya hal-hal yang tak terkira, sampai ia pada keyakinan, sufisme adalah jalan terbaik dan terbenar untuk sampai pada kesadaran akan Tuhan. Gerak, diam, lahir, dan batin sufisme adalah binar cahaya kenabian (nur misykah al-nubuwwah). Menurutnya, “al-dzauq” dan “al-suluk” adalah langkah awal yang pernah dilakukan para “calon nabi”, sebelum akhirnya mereka benar-benar dipilih menjadi nabi. Hal seperti itulah yang pernah dijalani oleh Nabi Muhammad, dengan menyendiri di Gua Hira menjalani suluk, berasyik-masyuk dengan Tuhan-nya. “Keasyikan” itulah yang ingin didapatkan oleh para sufi dengan “al-dzauq”, tanpa harus menjadi nabi.

“Jalan Sufisme” menjadi titik akhir pengembaraan Imam Ghazali.

Tawasul; Relasi Memudahkan Komunikasi

20 June 2008 § Leave a comment


Mengimani Nabi Muhammad – juga para nabi yang lain – merupakan bagian integral dari keimanan dan keislaman seseorang. Islam sesorang tidak sempurna sehingga ia melengkapi keimanannya kepada Nabi Muhammad, sebab ia bagian dari rukun iman. “Mengimani” tidak sama dengan “mempercayai” (tashdiq).

Mengimani adalah mempercayai dengan segala konskwesnsi di belakangnya. Kepada Nabi Muhammad, Abu Tahlib, paman Nabi, baru sebatas mempercayai, belum mengimani. Sebab, kepercayaanya kepada Nabi tidak lantas membuatnya memeluk agama yang dibawa oleh Nabi. Keimanan tentu harus didasari oleh rasa cinta, walaupun rasa cinta tidak selamanya membawa kepada keimanan.

Para sahabat adalah contoh baik sosok yang memiliki cinta sejati kepada Kanjeng Nabi Muhammad shallahu’alaihi wasallam. Cinta mereka kepada Nabinya tidak terbatas dan melebihi apapun.

Sahabat ‘Ali bin Abi Thalib karrama allah wajhah suatu ketika pernah ditanya perihal kecintaannya kepada Kanjeng Nabi, beliau menajwab, “Nabi, Engkau lebih saya cintai ketimbang harta-harta yang saya miliki. Cinta saya kepada Engkau melebihi cinta saya kepada keluarga saya.”

Umar bin Khatab pernah memberikan pernyataan kepada Kanjeng Nabi, “Engkau adalah orang yang paling saya cintai. Cinta saya kepada engkau melebihi apapun, kecuali terhadap diri saya.”

Jawab Nabi, “Iman seseorang tidak akan sempurna sehingga saya lebih dicintai dari dirinya (jiwanya).” Mendengar tanggapan koreksi Nabi, Umar pun meralat pernyataanya, “Demi Allah, Engkau lebih saya cintai dari apapun, melebihi cinta saya kepada diri (jiwa) saya.” Nabi kemudian berkata seraya memberikan apresiasi kepada Umar, “Saat ini, iman kamu telah lurus, dan keyakinanmu telah sempurna.”

Dikisahkan, seorang perempuan dari kelompok Anshar yang kehilangan ayah, saudara, dan suaminya dalam perang Uhud (3 H), berkata kepada para sahabat, “Apa saja yang dikerjakan oleh Rasul?” Para sahabat menajwab, “Kebaikan. Beliau sebagaimana yang Engkau cintakan.” Perempuan tadi berkata, “Tunjukkan saya kepadanya!”

Para sahabat mengantarkan perempuan tersebut ke hadapan Nabi. Setelah bertemu langsung dengan Nabi, perempuan Anshar itu berkata, “Segala musibah setelah engkau adalah mudah.” Rasa duka yang dirasakan oleh perempuan Anshar karena kehilangan sanak saudaranya seketika lenyap setelah bertemu Nabi.

Begitulah. Cinta para sahabat kepada Nabinya tidak berdasarkan kalkulasi kepentingan. Cinta mereka tulus. Mereka sadar betul, bahwa cinta kepada Nabi pada hakikatnya adalah ekspresi cinta kepada Allah.

Cinta kepada Nabi mesti diapresiasikan dan diekspresikan segenap jiwa, sebagaimana yang dicirikan oleh Alquran. Dalam surat Ali Imran: 31-31, Allah berfirman, “Katakanlah (wahai Muhammad), “Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu.” Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Katakanlah (wahai Muhammad): “Taatilah Allah dan Rasul-Nya; jika kamu berpaling, maka sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang kafir.”

Ayat ini menunjuk ciri-ciri orang yang cinta kepada Allah dan Rasulnya. Sekaligus sebagai teguran bagi para hipokrit, yang menyatakan cinta manis hanya sebatas mulut.

Deskripsi di atas mewakili isi kitab Nûr al-Mubîn fi Mahabbah Sayyid al-Mursalîn karya al-‘Allamah Hadrah al-Syeikh Hasyim Asy’ari, yang juga pendiri NU dan Pesantren Tebuireng Jombang. Beliau adalah penulis produktif. Karya-karyanya sebagian besar dalam bahasa Arab dan masih berbentuk manuskrip (makhttuthath). Sebagian telah diterbitkan dan dikaji di pesantren-pesantren. Salah satunya adalah kitab tipis itu.

Sosok yang secara intent mengeksplorasi karya-karya Mbah Hasyim dan mengajarkannya secara bandongan kepada para santri adalah (alm.) KH. Ishom Hadzik (Gus Ishom), cucu dari anak perempuan Mbah Hasyim (saya sendiri ngaji kitab ini kepada beliau selama sebelas hari, 10 Maret – 21 Maret 2001 saat masih nyantri di Tebuireng). Pada setiap kitab mbah Hasyim yang ditahkik oleh Gus Ishom selalu tertulis sibth al-muallif (cucu [dari anak perempuan] pengarang). Termasuk dalam kitab ini.

Secara umum, kitab ini memperkenalkan pribadi Rasulullah. Perbab, dijelaskan sosok Nabi Muhammad sebagai Rasul yang harus ditaati dan diikuti ajaran yang dibawanya. Sebagai seorang Muhammad bin Abdullah bin Abdul Muthallib, yang memiliki keluhuran dan kemulian ahklak, ia adalah sosok yang pantas dicintai dan dihormati.

Melalui kitab ini, Mbah Hasyim seolah-olah mengajak berkenalan dengan Nabi Muhammad, beserta keluarga besarnya. Secara perbab pula, Mbah Hasyim memperkenalkan dan menjelaskan garis keturunan Nabi, putra-putri, paman, para istri, pelayan-pelayan, termasuk para budak yang pernah beliau miliki.

Tawasul

Dalam karya ini, Mbah Hasyim menjelaskan makna tawasul dalam bab tersendiri. Pembahasan tawasul ini bertitik dari ayat Alquran surat Al-Maidah ayat 35: yâ ayyuhalladzîna âmanû ittaqû allah wabtaghû ilaihi al-wasîlah/hai orang-orang yang beriman bertakwalah kalian kepada Allah dan carilah washilah (perantara) untuk sampai kepada-Nya.

Menurut Mbah Hasyim, kata al-wasîlah dalam ayat di atas memiliki arti “segala sesuatu yang telah jadikan/ditentukan oleh Allah, sebagai causa dan wushlah (medium) untuk memperolah obsesi materiil dan atau spiritual”. Dalam hal ini, al-wasîlah itu adalah sosok atau amalan yang yang dikehendaki oleh Allah dan sudah barang tentu baik menurut-Nya.

Karena kata al-wasîlah dalam ayat tersebut bersifat umum dan tidak menunjuk obyek tertentu, maka tawasul bisa dilakukan melalui wasilah sosok yang secara kategoris memiliki kemulian di sisi-Nya, seperti para Nabi, para wali Allah, dan orang-orang saleh, baik ketika mereka masih hidup atau setelah mati. Amalan-amalan saleh juga menjadi medium bertawasul.

Oleh karena itu, menurut mbah Hasyim, tawasul ada dua macam, pertama, tawasul dengan amalan-amalan saleh. Seperti shalat, puasa, haji, zakat, dzikir, infak dan sebagainya. Semua itu adalah medium yang telah Allah tentukan untuk menjupai-Nya.

Kedua, tawasul dengan medium orang-orang saleh. Seperti para Nabi, para wali, dan orang-orang saleh. Tawasul macam ini masih diperdebatkan legalitasnya. Tetapi, Mbah Hasyim cenderung memperbolehkannya.

Mbah Hasyim menukil perkataan Imam Taqiyyuddin al-Subki, “Perlu diketahui, bahwa bertawasul, istighasah dan meminta syafaat kepada Allah melalui perantara kemuliaan Nabi Muhammad adalah perbuatan baik yang sah. Kebolehan ini telah sejak lama dikenal oleh orang-orang Islam dan tidak ada yang mengingkari atau memprotesnya. Sehingga Ibnu Taimiyah muncul dan mengingkari tawasul tersebut, yang mempropagandakan larangan tawasul tersebut kepada orang-orang yang lemah secara intelektual. Perlu diketahui, bahwa larangan tawasul yang dilontarkan Ibnu Taimiyah adalah pendapat baru, yang tidak dikenal oleh ulama-ulama sebelumnya.”

Bagi Mbah Hasyim, tawasul dengan Nabi, pada hakikatnya adalah permohonan kepada Allah semata, sebaga prima causa. Nabi hanya sebagai wasilah, karena dianggap memiliki kemulian dan “posisi tawar” yang tinggi dihadapan Allah. Bukankah relasi memudahkan komunikasi. Para Nabi, para wali, para ulama saleh, mereka adalah orang-orang yang memiliki jiwa-jiwa yang bersih dan suci. Tentu saja relasi spiritual jiwa-jiwa yang bersih dengan Tuhan atau nilai-nilai ketuhanan lebih intim ketimbang jiwa yang tidak bersih. Orang-orang yang memiliki kedekatan relasi spiritual dengan Tuhan, tentu baginya komunikasi dengan-Nya lebih mudah. Sosok-sosok seperti inilah yang bisa “meyalurkan aspirasi” orang-orang yang “jauh” dari Tuhan.

Dalam hal tawasul, kita tetap meyakini hanya Allah sumber segalanya (prima causa). Dan, kepada Nabi Muhammad, kita hanya meyakini beliau adalah sosok yang memiliki relasi spiritual terdekat dengan Allah. Allah a’lam.

 

Mengurai Teks Yang Membelenggu Tuhan

6 June 2008 § 1 Comment


(Versi urai dari posting sebelumnya yang berujudul “Tuhan Dalam Bingkai Teks”)

Tuhan Dalam Lintasan Teks

Beberapa teks literal Alquran dan hadis menyebut posisi Tuhan yang berdiam pada suatu tempat. Sebut saja beberapa teks yang barangkali sudah sangat populer dalam teologi Islam seperti di bawah ini,

“Tuhan Yang Maha Pemurah, Yang bersemayam di atas `Arsy.” (Thaha: 5).

“Dia bersama kalian di mana pun kalian berada.” (Al-Hadid: 4).

Rasul pernah mengajukan pertanyaan menguji kepada salah seorang sahabat, “Di mana Allah?” Sahabat itu menjawab, “Dia ada di langit”. Jawaban itu dibenarkan oleh Rasul. (HR Muslim, Nasa’i, dan Abu Daud dari Muawiyah bin Hakam).

“Tuhan kita selalu turun ke “langit dunia” pada tiga paruh malam terakhir, dan memberikan tiga penawaran; pertama, siapa saja yang mau berdoa kepada-Nya, akan Ia kabulkan. Kedua, siapa saja yang meminta kepada-Nya, akan ia berikan. Dan yang ketiga, siapa saja yang meminta ampun kepada-Nya, akan Ia kabulkan.” (HR Bukhari, Muslim, Tirmizi, Abu Daud, dan Ibnu Majah dari Abu Hurairah).

“Aku akan selalu bersama orang yang selalu ingat kepada-Ku. Jika orang itu melangkah kepadaku hanya sejarak satu jengkal, Aku akan melangkah kepadanya sejarak satu tangan. Jika orang itu melangkah kepadaku sejarak satu tangan, Aku akan melangkah kepada-Nya sejarak dua tangan. Jika orang itu mendekat kepadaku dengan berjalan, aku akan menyusulnya dengan berlari.” (HR Muslim dan Ahmad dari Abu Hurairah).

Secara literal, dari teks-teks di atas, bisa dipahamai (atau sekedar membayangkan) sosok Tuhan yang begitu “manusiawi”, dalam arti, Dia juga melakukan atifitas-aktifitas layaknya manusia. Kata “bersemayam” (yang diterjemahkan dari teks Alquran: istawa), “turun” (dari teks hadis yanzilu), “belari/berjalan cepat” (uharwilu) dan semacamnya adalah kata-kata yang telah lazim digunakan oleh manusia (masyarakat arab) sebelum Alquran turun, dan merupakan kata-kata yang menunjuk pada aktifitas yang juga dilakukan manusia.

Dan Tuhan “meminjam” bahasa manusia itu, karena tentu saja manusialah penerima titah-titah ilahiyah sehingga kehendak-kehendak Tuhan yang terangkum dalam titah-titah itu bisa dipahami olehnya, walaupun sementara ada beberapa teks-teks Alquran yang bukan “bahasa manusia”, dalam arti, tidak pernah digunakan oleh manusia, yang disebut dengan lafdz mutasyabih, seperti kata “alif lam mim”, “alif lam ra”, “ha mim”, “tha ha”, dan sebagainya. Kata-kata itulah yang menjadi perdebatan para pakar tafsir sepanjang sejarah dalam pemaknaannya. Pemahaman atau pemaknaan paling populer terhadap-kata itu adalah “wallahu a’lam bimuridihi” atau “hanya Allah yang tahu maksudnya”.

Tapi, kita lalui saja lafdz mutasyabih itu, dan fokus ke pembahasan teks-teks dan Alquran dan hadis di atas.

Teks Alquran dalam surat Thaha: 5, “Tuhan Yang Maha Pemurah, Yang bersemayam di atas `Arsy”, dan teks-teks lain yang menyuratkan Tuhan menempati suatu ruang, jika dipahami secara literal dan apa adanya, akan memunculkan beberapa dugaan,

Pertama, Arsy adalah tempat tinggal Tuhan.

Kedua, sosok Tuhan yang terukur. Sebagaimana benda-benda atau sosok-sosok terukur lain yang menempati ruang tertentu, ukuran sosok Tuhan bisa saja sepadan, lebih besar, atau lebih kecil dari ruang yang ditempati-Nya itu (dalam hal ini Arsy).

Ketiga, sosok Tuhan yang terarah, dalam arti yang sebenarnya, yaitu Dia dikelelingi oleh arah mata angin atau arah-arah tertentu (kanan, kiri, depan, belakang, atas, serong dan seterusnya). Sebab, semua citaan Tuhan, termasuk Arsy, dikelilingi oleh arah mata angin dan arah-arah tertentu. Maka, tak berlebihan, jika Tuhan yang menempati Arsy pun juga demikian.

Keempat, personifikasi Tuhan sebagai fisik yang terdiri atas organ-organ, sebagaimana mahluk-mahluk ciptaan-Nya, termasuk Arsy, yang dalam istilah teologi Islam disebut dengan jism. Jika Tuhan menempati Arsy yang jism, maka Dia merupakan jism pula (la yastaqirru ‘ala jism illa jism mitsluh).

Jika melihat teks Alquran surat Thaha: 5 di atas, dugaan-dugaan seperti itu atau juga dugaan-dugaan lain, mungkin saja bisa terlintas atau terpikirkan oleh sebagian orang. Namun, jika kita sepakat bahwa Tuhan bukanlah manusia dan selamanya manusia tidak akan seperti Tuhan, maka dugaan-dugaan seperti itu menjadi tidak tepat dan menjadi dugaan (baca: pemahaman) yang rancu. Inilah yang saya maksud dengan kerancuan pemahaman intrateks.

Di sisi lain, teks-teks agama yang mengindikasikan keberadaan posisi Tuhan bukan hanya surat Thaha: 5 di atas. Jika dalam sura Thaha: 5 menyuratkan posisi Tuhan ada di Arsy, surat Al-Hadid: 4 menyuratkan keberadaan posisi Tuhan di tempat lain, “Dia (Tuhan) bersama kalian di mana pun kalian berada.” (Al-Hadid: 4). Di lain teks, “Dia ada di langit”.

Jadi, di mana Tuhan? Di Arsy? Selalu bersama kita? Atau di langit? Atau, sosok Tuhan itu lebih dari satu, sehingga Dia ada di mana-mana? Atau teks-teks itu sebenarnya bermasalah karena memberikan informasi yang kontradiktif (kontradiksi interteks)?

Mengurai Teks Yang Membelenggu Tuhan

Ada beberapa teori untuk mengurai teks-teks semacam di atas. Namun bagi saya, takwil (ta’wil) adalah teori yang lebih bisa melakukan uraian itu. Takwil bisa diartikan sebagai pengalihan arti literal dari sebuah teks, untuk menemukan arti lain demi menghindari dua hal, pertama, menghindari kerancuan pemahaman intrateks. Kedua, menghindari (kesan) kontradiksi interteks.

Saya segaris dengan pendapat yang menyatakan bahwa, pada teks-teks Alquran dan hadis shahih, tidak akan mungkin terjadi kontradiksi interteks (Alquran dengan Alquran, hadis dengan hadis, atau Alquran dengan hadis) atau kerancuan pemahaman intratreks. Sebab, tidak mungkin pula, Tuhan menurunkan satu teks, pada saat yang sama menurunkan kontrateks-nya. Pun jika terjadi kontradiksi interteks, bisa jadi itu hanya kesan yang ditangkap nalar pembaca teks itu. Takwil barangkali bisa mencairkan kontradiksi interteks dan kerancuan pemahaman intrateks semacam itu.

Seperti disebutkan di atas, teks Alquran dalam surat Thaha: 5, “Tuhan Yang Maha Pemurah, Yang bersemayam di atas `Arsy”, jika dipahami literal dan apa adanya, akan memunculkan dugaan-dugaan seperti tersebut di atas, di samping itu akan terkesan kontradiktif dengan beberapa teks, antara lain “Dia bersama kalian di mana pun kalian berada.” (Al-Hadid: 4) dan “Dia ada di langit” (HR Muslim, Nasa’i, dan Abu Daud dari Muawiyah bin Hakam).

Maka, dengan teori takwil, surat Thaha: 5 di atas bisa diartikan dan dipahami sebagai “Tuhan Yang Berkuasa atas Arsy”. Kata istawa (bersemayam) diterjemahkan dengan “berkuasa”. Arti itu bisa dipahami sebagai simbol kedigdayaan dan kekuasaan Tuhan yang tak terhingga dan tak terbatas atas segala sesuatu, bahkan terhadap Arsy yang merupakan simbol mahluk paling besar (a’dzam al-makhluqat).

Itu adalah pilihan termungkin di antara beberapa pilihan arti yang kurang sesuai dengan karakter-karkter (sifat-sifat) Tuhan. Jika teks itu tetap dipahami apa adanya, akan memunculkan dugaan-dugaan, seperti “Arsy adalah tempat tinggal Tuhan”, “sosok Tuhan yang terukur”, dan “sosok Tuhan yang terarah”, yang semua itu mempersonifikasikan Tuhan layaknya mahluk atau benda. Dan itu sama sekali bertentangan dengan sifat-Nya yang mukhalafah lil hawadits (tidak sama dengan mahluknya).

Sama seperti “perlakuan” terhadap surat Thaha: 5, demikian juga terhadap surat Al-Hadid: 4, “Dia (Tuhan) bersama kalian di mana pun kalian berada.”. Teks ini tidak semestinya dibiarkan dan dipahami apa adanya. Jika tidak, selain akan bertentangan dengan surat Thaha di atas, juga akan memendar pemahaman dan dugaan yang rancu. Mungkinkah, jika Dia ada di Arsy, dan pada saat yang sama Dia ada di bumi bersenyawa dengan manusia? Apakah Tuhan memiliki “sosok” lebih dari satu, tersebar di antara para manusia, dan selalu mengikuti di mana pun manusia berada? Dan “sosok” Tuhan itu tumbuh dan hilang bersama tumbuh dan matinya manusia?

Saya kira, dugaan-dugaan seperti itu tak tak benar ditujukan kepada Tuhan. Oleh karenanya, perlu ada pengalihan arti surat Al-Hadid: 4 tersebut ke arti lain, demi menghindari kerancuan pemahaman. Dan arti yang lebih mungkin (lebih pantas) adalah “Dia (Tuhan) akan selalu tahu di mana pun kalian berada, apapun yang kalian kerjakan, apa pun yang kalian pikirkan, dan apa pun yang kalian rasakan.” Katakanlah, teks itu berbicara tentang sifat Tuhan Yang Maha Tahu, dan bukan tentang keberadaan posisi-Nya. Saya kira, makna ini lebih positif dan mentahzihkan Tuhan dari personifikasi apapun.

Takwil juga semestinya diberlakukan untuk memahami hadis Nabi, “Tuhan kita selalu turun ke “langit dunia” pada tiga paruh malam terakhir.” (HR Bukhari, Muslim, Tirmizi, Abu Daud, dan Ibnu Majah dari Abu Hurairah).

Dari perspektif takwil, arti yang layak dari hadis itu adalah Allah akan menaburkan segenap rahmat kepada orang-orang yang mau menyisihkan sebagian malamnya untuk beribadah, tatkala sebagian orang terlelap dalam kegelapan malam. Waktu malam menjadi penekanan, karena bagi kebanyakan orang, saat itu adalah waktu tersulit untuk sekedar bangun, apalagi digunakan untuk beribadah.

Juga terhadap hadis Nabi, “Aku akan selalu bersama orang yang selalu ingat kepada-Ku. Jika orang itu melangkah kepadaku hanya sejarak satu jengkal, Aku akan melangkah kepadanya sejarak satu tangan. Jika orang itu melangkah kepadaku sejarak satu tangan, Aku akan melangkah kepada-Nya sejarak dua tangan. Jika orang itu mendekat kepadaku dengan berjalan, aku akan menyusulnya dengan berlari.” (HR Muslim dan Ahmad dari Abu Hurairah)

Arti termungkin dari hadis itu adalah, sesungguhnya rahmat dan karunia yang telah diberikan Tuhan dan telah dinikmati manusia, lebih besar dan lebih banyak ketimbang amal ibadah dan pengabdian manusia kepada-Nya.

Tuhan dan Simbol

Jika diperhatikan, beberapa teks Alquran (dan hadis), terutama yang berbicara tentang pribadi (dzat) Tuhan, lebih banyak berbentuk simbol, dalam arti tidak bisa langsung dipahami begitu saja apa adanya. Dikatakan simbol, sebab Dia menyampaikan titah-titah itu menggunakan “bahasa manusia”, tapi tidak layak disebut telah melakukan “aktifitas manusiawi”. Karena, jika Dia menggunakan “bahasa manusia” dan diklaim telah melakukan “aktifitas manusiawi”, maka Dia pun berhak diklaim sebagai mahluk, sebagimana manusia.

Barangkali itu bisa dipahami. Sebab, manusia tidak akan pernah tahu tentang “jati diri” Tuhan yang sebenarnya. Bahkan tahu, untuk sekedar terkelibat di pikiran atau terbesit di hati saja, Tuhan tidak akan pernah seperti yang diketahui, terpikirkan atau terbesit oleh manusia. Di dalam Alquran, disebutkan, “Tidak ada apapun yang serupa dengan-Nya. Dia yang Maha Mendengar dan Melihat.” (As-Syura: 11). Dan benarlah adagium “Jangan pernah berpikir tentang pribadi Tuhan, tapi berpikirlah tentang ciptaan Tuhan”. Adagium itu bukan soal larangan berpikir tentang Tuhan, tapi bicara tentang ke-Maha-an Tuhan yang tak tersentuh oleh pikiran manusia, sehebat apapun itu. Pikiran manusia hanya mampu menalar sebatas ciptaan-Nya.

Sebab itu, saat Tuhan hendak menjelaskan diri-Nya kepada manusia, Dia menggunakan “bahasa manusia”, agar mudah dipahami oleh manusia sendiri, namun tidak dengan “pemahaman manusiawi”. Ketika Tuhan menjelaskan diri-Nya “bersemayam”, “turun”, “melangkah” dan sebagainya, bahasa-bahasa itu tak layak dipahami sebagaimana memahami jika manusia yang melakukan itu. Dan bahasa takwil merupakan salah satu cara yang mungkin untuk memahaminya.

Takwil menjadi cara yang absah untuk memahami teks-teks agama, dan Tuhan sendiri yang mengabsahkannya. Perhatikan hadis qudsi di bawah ini…

Pada hari kiamat kelak, dikisahkan Tuhan berdialog dengan hamba-Nya. “Hai manusia, aku pernah sakit, kenapa Kau tidak menjenguk-Ku? Aku pernah kelaparan, kenapa Kau tidak memberi-Ku makanan? Aku pernah kehausan, kenapa Kau tidak memberi-Ku minuman?”

Dengan bingung, hamba tersebut berkata, “Wahai Tuhanku, bagaimana aku bisa menemui-Mu dan menjenguk-Mu, memberi-Mu makanan dan minuman, sedangkan Engkau adalah Tuhan semesta alam?!”

Lalu Tuhan menjawab, “Wahai manusia, tidakkah Kau tahu, hambaku si Fulan pernah sakit?! Tidakkah Kau tahu, hambaku si Fulan pernah kelaparan dan kehausan?! Aku tahu, Kau mengetahui semua kenyataan itu, hanya saja Kau tidak mau peduli. Padahal jika Kau mau peduli kepada mereka, niscara Kau akan menjumpai-Ku di sisi mereka.” (HR Muslim dari Abu Hurairah).

Where Am I?

You are currently browsing entries tagged with teologi at Warung Nalar.

%d bloggers like this: