Ambiguitas Tuhan

26 January 2009 § 3 Comments


Tuhan adalah sosok yang tak terjangkau, berada di tempat yang teramat jauh. “Ia ada di langit,” kata seorang perempuan, suatu ketika, kepada Rasul. “Perempuan itu telah beriman,” ujar Rasul menilai-benarkan apa yang perempuan tersebut tahu dan hayati tentang Tuhannya.

Langit, jika mungkin ia suatu tempat, maka pastilah tak terhingga jauhnya, tak ada alat ukur untuk menjangkaunya, kecuali hanya sebatas kata. Mungkin, begitu juga dengan al-‘arsy: tempat asing nun jauh di alam antah berantah yang tak terpindai pikiran manusia, di mana Tuhan singgah setelah mencipta semesta. Langit dan al-arsy, sejatinya mungkin sesuatu yang ada, namun yang pasti tak terkira.

Agaknya Tuhan pun tahu akan hal itu, sadar diri-Nya adalah sosok yang jauh, di mana manusia tak bisa hadir untuk menjangkau-Nya. Maka, Ia selalu hadir pada dini hari, pada suatu waktu yang hening, menyambangi setiap manusia yang rindu, mempersilakan diri-Nya dipeluk dan dijamah dengan segenap penghayatan. Bagi sebagian orang, Tuhan yang gaib mungkin bisa “nyata” di gelap malam yang hening, di sebuah “rumah Tuhan” di mana manusia bisa menjumpai-Nya.

Tuhan yang tak terjangkau, yang jauh di langit, yang singgah gagah di al-‘arsy, mungkin lebih disadari dan dimengerti. Sebab, barangkali, dengan semua itu, sosok Tuhan dapat dibanggakan, seolah ke-maha-an-Nya lebih tampak.

Dan ketika Tuhan hadir dalam sosok yang tersisihkan dan terpinggirkan di pojok-pojok bumi, yang hanya terlintas sekilas oleh pandangan mata, yang cuma menempati pojok kecil di ruang pikiran, atau bahkan tak pernah terpikirkan, maka hal itu mengherankan dan tak bisa dimengerti.

Serangkai cerita kecil datang dari Rasul. Dikisahkan, Tuhan berdialog dengan manusia, di akhirat.

“Aku pernah sakit, kenapa kau tak menjenguk? Aku pernah kelaparan dan kehausan, kenapa kau tak peduli?” tanya Tuhan kepada manusia.

Dengan ketak-mengertian mendalam, manusia tersebut berkata, “Tuhan, bagaimana aku bisa menjenguk-Mu, mengantarkan makanan dan minuman untuk-Mu, sedangkan Kau adalah Tuhan semesta alam?!”

Tuhan menjawab, “Tidakkah kau tahu, hambaku si Fulan pernah sakit?! Tidakkah kau tahu, hambaku si Fulan pernah kelaparan dan kehausan?! Aku tahu, kau tahu semua itu, hanya saja kau tak mau peduli. Padahal jika kau mau mendekati mereka, niscaya kau akan menjumpaiku di sisi mereka.”

Tuhan hadir dalam ambiguitas yang mengesankan. Ia mengawang di langit jauh, singgah gagah di singgasana al-‘arsy, dan sekaligus senantiasa bersama manusia di bumi, bahkan lebih banyak bersama manusia-manusia tersisih yang tak menyita perhatian mata.

Ambiguitas ini menyiratkan pemaknaan dan penghayatan yang luas tak terbatas tentang Tuhan. Karenanya, setiap hati memiliki kemandirian dan kebebasan mencari pemaknaan dan penghayatan itu sampai pada pilihan di mana ia merasakan kenyamanan.[jr]

AIDS Dalam Perspektif Tauhid

26 November 2008 § 1 Comment


Wabah flu burung pernah (atau mungkin masih) menjadi berita hangat dan banyak diperbincangkan di banyak media, baik cetak maupun elektronik. Masyarakat dibikin sibuk dan sebagian dibikin resah, karena khawatir terjangkit wabah mematikan ini. Unggas yang menjadi sumber wabah ini banyak yang dimusnahkan. Penyakit ini pun dianggap menular. Untunglah, orang-orang yang terjangkit wabah ini tidak banyak mendapat perlakuan diskriminatif.

Berbeda dengan wabah flu burung, para pengidap virus HIV dan orang-orang yang positif terkena AIDS banyak yang mendapatkan perlakukan diskrimitaif dan pengucilan, karena kekhawatiran akan menularnya virus yang juga mematikan tersebut.

Sah-sah saja melakukan tindakan antisipatif agar tidak terjangkit suatu penyakit. Karena, sangat manusiawi jika setiap orang lebih memilih hidup sehat tanpa penyakit. Suatu ketika Nabi Muhammad SAW pernah meminta para sahabat untuk melakukan antisipasi terhadap pengidap penyakit lepra (majdzum), “Jauhilah pengidap penyakit lepra, seperti kalian lari menjauh dari macan.” (HR Bukhari dari Abu Hurairah).

Namun demikian, Nabi tidak memerintahkan mereka untuk mengucilkan para pengidap penyakit lepra tersebut. Tetap bergaul seperti biasa, namun waspada dan antisipatif. Hadis Nabi di atas adalah dalam konteks tersebut, bukan dalam rangka mengukuhkan opini masyarakat kala itu bahwa suatu penyakit mutlak bisa menular secara alamiah.

Jika kita melihat hal ini dari konteks tauhid, sesungguhnya tidak ada penyakit menular dari atau melalui apapun secara alamiah. Jelas-jelas Nabi pernah menyatakan, “Tidak ada penyakit menular (‘adwa).” (HR Muslim dari Abu Hurairah). Bahkan, dalam satu hadis yang diriwayatkan oleh Imam Tirmizi dari sahabat Jabir bin Abdullah, Nabi pernah menemani makan salah seorang sahabat penderita lepra bernama Mu’aiqib bin Abi Fathimah, tanpa memiliki kekhawatiran yang berlebihan.

Sebab, jika tetap meyakini bahwa suatu penyakit bisa menular dari satu orang ke orang lain, maka bagaimana dengan pengidap pertama pernyakit tersebut?! Dari manakah ia terkena penyakit itu?! Dalam perspektif tauhid, orang kedua dan seterusnya yang “seolah” tertular penyakit, sesungguhnya sama prosesnya dengan orang pertama yang terkena penyakit. Artinya, penyakit yang menjangkiti orang kedua dan seterusnya bukan karena tertular oleh orang pertama. Tidak ada penyakit yang menular secara alamiah. Semuanya terjadi dalam lingkaran kuasa Allah.

Dan hadis Nabi di atas adalah dalam konteks membatalkan opini masyarakat jahiliah kala itu yang sangat kental nuansa syirik, yang meyakini bahwa wabah penyakit yang mejangkit saat itu menjalar secara alamiah tanpa adanya campur tangan kuasa Allah.

Maka, dengan tetap waspada dan antisipatif, seharusnya kita tetap bergaul secara wajar dengan para pengidap penyakit apapun, tanpa melakukan pengucilan dan kekhawatiran yang berlebihan. Justeru orang yang mengidap suatu penyakit tertentu lebih membuntuhkan pendampingan dan perhatian dari kita yang sehat.

Tawasul; Relasi Memudahkan Komunikasi

20 June 2008 § Leave a comment


Mengimani Nabi Muhammad – juga para nabi yang lain – merupakan bagian integral dari keimanan dan keislaman seseorang. Islam sesorang tidak sempurna sehingga ia melengkapi keimanannya kepada Nabi Muhammad, sebab ia bagian dari rukun iman. “Mengimani” tidak sama dengan “mempercayai” (tashdiq).

Mengimani adalah mempercayai dengan segala konskwesnsi di belakangnya. Kepada Nabi Muhammad, Abu Tahlib, paman Nabi, baru sebatas mempercayai, belum mengimani. Sebab, kepercayaanya kepada Nabi tidak lantas membuatnya memeluk agama yang dibawa oleh Nabi. Keimanan tentu harus didasari oleh rasa cinta, walaupun rasa cinta tidak selamanya membawa kepada keimanan.

Para sahabat adalah contoh baik sosok yang memiliki cinta sejati kepada Kanjeng Nabi Muhammad shallahu’alaihi wasallam. Cinta mereka kepada Nabinya tidak terbatas dan melebihi apapun.

Sahabat ‘Ali bin Abi Thalib karrama allah wajhah suatu ketika pernah ditanya perihal kecintaannya kepada Kanjeng Nabi, beliau menajwab, “Nabi, Engkau lebih saya cintai ketimbang harta-harta yang saya miliki. Cinta saya kepada Engkau melebihi cinta saya kepada keluarga saya.”

Umar bin Khatab pernah memberikan pernyataan kepada Kanjeng Nabi, “Engkau adalah orang yang paling saya cintai. Cinta saya kepada engkau melebihi apapun, kecuali terhadap diri saya.”

Jawab Nabi, “Iman seseorang tidak akan sempurna sehingga saya lebih dicintai dari dirinya (jiwanya).” Mendengar tanggapan koreksi Nabi, Umar pun meralat pernyataanya, “Demi Allah, Engkau lebih saya cintai dari apapun, melebihi cinta saya kepada diri (jiwa) saya.” Nabi kemudian berkata seraya memberikan apresiasi kepada Umar, “Saat ini, iman kamu telah lurus, dan keyakinanmu telah sempurna.”

Dikisahkan, seorang perempuan dari kelompok Anshar yang kehilangan ayah, saudara, dan suaminya dalam perang Uhud (3 H), berkata kepada para sahabat, “Apa saja yang dikerjakan oleh Rasul?” Para sahabat menajwab, “Kebaikan. Beliau sebagaimana yang Engkau cintakan.” Perempuan tadi berkata, “Tunjukkan saya kepadanya!”

Para sahabat mengantarkan perempuan tersebut ke hadapan Nabi. Setelah bertemu langsung dengan Nabi, perempuan Anshar itu berkata, “Segala musibah setelah engkau adalah mudah.” Rasa duka yang dirasakan oleh perempuan Anshar karena kehilangan sanak saudaranya seketika lenyap setelah bertemu Nabi.

Begitulah. Cinta para sahabat kepada Nabinya tidak berdasarkan kalkulasi kepentingan. Cinta mereka tulus. Mereka sadar betul, bahwa cinta kepada Nabi pada hakikatnya adalah ekspresi cinta kepada Allah.

Cinta kepada Nabi mesti diapresiasikan dan diekspresikan segenap jiwa, sebagaimana yang dicirikan oleh Alquran. Dalam surat Ali Imran: 31-31, Allah berfirman, “Katakanlah (wahai Muhammad), “Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu.” Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Katakanlah (wahai Muhammad): “Taatilah Allah dan Rasul-Nya; jika kamu berpaling, maka sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang kafir.”

Ayat ini menunjuk ciri-ciri orang yang cinta kepada Allah dan Rasulnya. Sekaligus sebagai teguran bagi para hipokrit, yang menyatakan cinta manis hanya sebatas mulut.

Deskripsi di atas mewakili isi kitab Nûr al-Mubîn fi Mahabbah Sayyid al-Mursalîn karya al-‘Allamah Hadrah al-Syeikh Hasyim Asy’ari, yang juga pendiri NU dan Pesantren Tebuireng Jombang. Beliau adalah penulis produktif. Karya-karyanya sebagian besar dalam bahasa Arab dan masih berbentuk manuskrip (makhttuthath). Sebagian telah diterbitkan dan dikaji di pesantren-pesantren. Salah satunya adalah kitab tipis itu.

Sosok yang secara intent mengeksplorasi karya-karya Mbah Hasyim dan mengajarkannya secara bandongan kepada para santri adalah (alm.) KH. Ishom Hadzik (Gus Ishom), cucu dari anak perempuan Mbah Hasyim (saya sendiri ngaji kitab ini kepada beliau selama sebelas hari, 10 Maret – 21 Maret 2001 saat masih nyantri di Tebuireng). Pada setiap kitab mbah Hasyim yang ditahkik oleh Gus Ishom selalu tertulis sibth al-muallif (cucu [dari anak perempuan] pengarang). Termasuk dalam kitab ini.

Secara umum, kitab ini memperkenalkan pribadi Rasulullah. Perbab, dijelaskan sosok Nabi Muhammad sebagai Rasul yang harus ditaati dan diikuti ajaran yang dibawanya. Sebagai seorang Muhammad bin Abdullah bin Abdul Muthallib, yang memiliki keluhuran dan kemulian ahklak, ia adalah sosok yang pantas dicintai dan dihormati.

Melalui kitab ini, Mbah Hasyim seolah-olah mengajak berkenalan dengan Nabi Muhammad, beserta keluarga besarnya. Secara perbab pula, Mbah Hasyim memperkenalkan dan menjelaskan garis keturunan Nabi, putra-putri, paman, para istri, pelayan-pelayan, termasuk para budak yang pernah beliau miliki.

Tawasul

Dalam karya ini, Mbah Hasyim menjelaskan makna tawasul dalam bab tersendiri. Pembahasan tawasul ini bertitik dari ayat Alquran surat Al-Maidah ayat 35: yâ ayyuhalladzîna âmanû ittaqû allah wabtaghû ilaihi al-wasîlah/hai orang-orang yang beriman bertakwalah kalian kepada Allah dan carilah washilah (perantara) untuk sampai kepada-Nya.

Menurut Mbah Hasyim, kata al-wasîlah dalam ayat di atas memiliki arti “segala sesuatu yang telah jadikan/ditentukan oleh Allah, sebagai causa dan wushlah (medium) untuk memperolah obsesi materiil dan atau spiritual”. Dalam hal ini, al-wasîlah itu adalah sosok atau amalan yang yang dikehendaki oleh Allah dan sudah barang tentu baik menurut-Nya.

Karena kata al-wasîlah dalam ayat tersebut bersifat umum dan tidak menunjuk obyek tertentu, maka tawasul bisa dilakukan melalui wasilah sosok yang secara kategoris memiliki kemulian di sisi-Nya, seperti para Nabi, para wali Allah, dan orang-orang saleh, baik ketika mereka masih hidup atau setelah mati. Amalan-amalan saleh juga menjadi medium bertawasul.

Oleh karena itu, menurut mbah Hasyim, tawasul ada dua macam, pertama, tawasul dengan amalan-amalan saleh. Seperti shalat, puasa, haji, zakat, dzikir, infak dan sebagainya. Semua itu adalah medium yang telah Allah tentukan untuk menjupai-Nya.

Kedua, tawasul dengan medium orang-orang saleh. Seperti para Nabi, para wali, dan orang-orang saleh. Tawasul macam ini masih diperdebatkan legalitasnya. Tetapi, Mbah Hasyim cenderung memperbolehkannya.

Mbah Hasyim menukil perkataan Imam Taqiyyuddin al-Subki, “Perlu diketahui, bahwa bertawasul, istighasah dan meminta syafaat kepada Allah melalui perantara kemuliaan Nabi Muhammad adalah perbuatan baik yang sah. Kebolehan ini telah sejak lama dikenal oleh orang-orang Islam dan tidak ada yang mengingkari atau memprotesnya. Sehingga Ibnu Taimiyah muncul dan mengingkari tawasul tersebut, yang mempropagandakan larangan tawasul tersebut kepada orang-orang yang lemah secara intelektual. Perlu diketahui, bahwa larangan tawasul yang dilontarkan Ibnu Taimiyah adalah pendapat baru, yang tidak dikenal oleh ulama-ulama sebelumnya.”

Bagi Mbah Hasyim, tawasul dengan Nabi, pada hakikatnya adalah permohonan kepada Allah semata, sebaga prima causa. Nabi hanya sebagai wasilah, karena dianggap memiliki kemulian dan “posisi tawar” yang tinggi dihadapan Allah. Bukankah relasi memudahkan komunikasi. Para Nabi, para wali, para ulama saleh, mereka adalah orang-orang yang memiliki jiwa-jiwa yang bersih dan suci. Tentu saja relasi spiritual jiwa-jiwa yang bersih dengan Tuhan atau nilai-nilai ketuhanan lebih intim ketimbang jiwa yang tidak bersih. Orang-orang yang memiliki kedekatan relasi spiritual dengan Tuhan, tentu baginya komunikasi dengan-Nya lebih mudah. Sosok-sosok seperti inilah yang bisa “meyalurkan aspirasi” orang-orang yang “jauh” dari Tuhan.

Dalam hal tawasul, kita tetap meyakini hanya Allah sumber segalanya (prima causa). Dan, kepada Nabi Muhammad, kita hanya meyakini beliau adalah sosok yang memiliki relasi spiritual terdekat dengan Allah. Allah a’lam.

 

Mengurai Teks Yang Membelenggu Tuhan

6 June 2008 § 1 Comment


(Versi urai dari posting sebelumnya yang berujudul “Tuhan Dalam Bingkai Teks”)

Tuhan Dalam Lintasan Teks

Beberapa teks literal Alquran dan hadis menyebut posisi Tuhan yang berdiam pada suatu tempat. Sebut saja beberapa teks yang barangkali sudah sangat populer dalam teologi Islam seperti di bawah ini,

“Tuhan Yang Maha Pemurah, Yang bersemayam di atas `Arsy.” (Thaha: 5).

“Dia bersama kalian di mana pun kalian berada.” (Al-Hadid: 4).

Rasul pernah mengajukan pertanyaan menguji kepada salah seorang sahabat, “Di mana Allah?” Sahabat itu menjawab, “Dia ada di langit”. Jawaban itu dibenarkan oleh Rasul. (HR Muslim, Nasa’i, dan Abu Daud dari Muawiyah bin Hakam).

“Tuhan kita selalu turun ke “langit dunia” pada tiga paruh malam terakhir, dan memberikan tiga penawaran; pertama, siapa saja yang mau berdoa kepada-Nya, akan Ia kabulkan. Kedua, siapa saja yang meminta kepada-Nya, akan ia berikan. Dan yang ketiga, siapa saja yang meminta ampun kepada-Nya, akan Ia kabulkan.” (HR Bukhari, Muslim, Tirmizi, Abu Daud, dan Ibnu Majah dari Abu Hurairah).

“Aku akan selalu bersama orang yang selalu ingat kepada-Ku. Jika orang itu melangkah kepadaku hanya sejarak satu jengkal, Aku akan melangkah kepadanya sejarak satu tangan. Jika orang itu melangkah kepadaku sejarak satu tangan, Aku akan melangkah kepada-Nya sejarak dua tangan. Jika orang itu mendekat kepadaku dengan berjalan, aku akan menyusulnya dengan berlari.” (HR Muslim dan Ahmad dari Abu Hurairah).

Secara literal, dari teks-teks di atas, bisa dipahamai (atau sekedar membayangkan) sosok Tuhan yang begitu “manusiawi”, dalam arti, Dia juga melakukan atifitas-aktifitas layaknya manusia. Kata “bersemayam” (yang diterjemahkan dari teks Alquran: istawa), “turun” (dari teks hadis yanzilu), “belari/berjalan cepat” (uharwilu) dan semacamnya adalah kata-kata yang telah lazim digunakan oleh manusia (masyarakat arab) sebelum Alquran turun, dan merupakan kata-kata yang menunjuk pada aktifitas yang juga dilakukan manusia.

Dan Tuhan “meminjam” bahasa manusia itu, karena tentu saja manusialah penerima titah-titah ilahiyah sehingga kehendak-kehendak Tuhan yang terangkum dalam titah-titah itu bisa dipahami olehnya, walaupun sementara ada beberapa teks-teks Alquran yang bukan “bahasa manusia”, dalam arti, tidak pernah digunakan oleh manusia, yang disebut dengan lafdz mutasyabih, seperti kata “alif lam mim”, “alif lam ra”, “ha mim”, “tha ha”, dan sebagainya. Kata-kata itulah yang menjadi perdebatan para pakar tafsir sepanjang sejarah dalam pemaknaannya. Pemahaman atau pemaknaan paling populer terhadap-kata itu adalah “wallahu a’lam bimuridihi” atau “hanya Allah yang tahu maksudnya”.

Tapi, kita lalui saja lafdz mutasyabih itu, dan fokus ke pembahasan teks-teks dan Alquran dan hadis di atas.

Teks Alquran dalam surat Thaha: 5, “Tuhan Yang Maha Pemurah, Yang bersemayam di atas `Arsy”, dan teks-teks lain yang menyuratkan Tuhan menempati suatu ruang, jika dipahami secara literal dan apa adanya, akan memunculkan beberapa dugaan,

Pertama, Arsy adalah tempat tinggal Tuhan.

Kedua, sosok Tuhan yang terukur. Sebagaimana benda-benda atau sosok-sosok terukur lain yang menempati ruang tertentu, ukuran sosok Tuhan bisa saja sepadan, lebih besar, atau lebih kecil dari ruang yang ditempati-Nya itu (dalam hal ini Arsy).

Ketiga, sosok Tuhan yang terarah, dalam arti yang sebenarnya, yaitu Dia dikelelingi oleh arah mata angin atau arah-arah tertentu (kanan, kiri, depan, belakang, atas, serong dan seterusnya). Sebab, semua citaan Tuhan, termasuk Arsy, dikelilingi oleh arah mata angin dan arah-arah tertentu. Maka, tak berlebihan, jika Tuhan yang menempati Arsy pun juga demikian.

Keempat, personifikasi Tuhan sebagai fisik yang terdiri atas organ-organ, sebagaimana mahluk-mahluk ciptaan-Nya, termasuk Arsy, yang dalam istilah teologi Islam disebut dengan jism. Jika Tuhan menempati Arsy yang jism, maka Dia merupakan jism pula (la yastaqirru ‘ala jism illa jism mitsluh).

Jika melihat teks Alquran surat Thaha: 5 di atas, dugaan-dugaan seperti itu atau juga dugaan-dugaan lain, mungkin saja bisa terlintas atau terpikirkan oleh sebagian orang. Namun, jika kita sepakat bahwa Tuhan bukanlah manusia dan selamanya manusia tidak akan seperti Tuhan, maka dugaan-dugaan seperti itu menjadi tidak tepat dan menjadi dugaan (baca: pemahaman) yang rancu. Inilah yang saya maksud dengan kerancuan pemahaman intrateks.

Di sisi lain, teks-teks agama yang mengindikasikan keberadaan posisi Tuhan bukan hanya surat Thaha: 5 di atas. Jika dalam sura Thaha: 5 menyuratkan posisi Tuhan ada di Arsy, surat Al-Hadid: 4 menyuratkan keberadaan posisi Tuhan di tempat lain, “Dia (Tuhan) bersama kalian di mana pun kalian berada.” (Al-Hadid: 4). Di lain teks, “Dia ada di langit”.

Jadi, di mana Tuhan? Di Arsy? Selalu bersama kita? Atau di langit? Atau, sosok Tuhan itu lebih dari satu, sehingga Dia ada di mana-mana? Atau teks-teks itu sebenarnya bermasalah karena memberikan informasi yang kontradiktif (kontradiksi interteks)?

Mengurai Teks Yang Membelenggu Tuhan

Ada beberapa teori untuk mengurai teks-teks semacam di atas. Namun bagi saya, takwil (ta’wil) adalah teori yang lebih bisa melakukan uraian itu. Takwil bisa diartikan sebagai pengalihan arti literal dari sebuah teks, untuk menemukan arti lain demi menghindari dua hal, pertama, menghindari kerancuan pemahaman intrateks. Kedua, menghindari (kesan) kontradiksi interteks.

Saya segaris dengan pendapat yang menyatakan bahwa, pada teks-teks Alquran dan hadis shahih, tidak akan mungkin terjadi kontradiksi interteks (Alquran dengan Alquran, hadis dengan hadis, atau Alquran dengan hadis) atau kerancuan pemahaman intratreks. Sebab, tidak mungkin pula, Tuhan menurunkan satu teks, pada saat yang sama menurunkan kontrateks-nya. Pun jika terjadi kontradiksi interteks, bisa jadi itu hanya kesan yang ditangkap nalar pembaca teks itu. Takwil barangkali bisa mencairkan kontradiksi interteks dan kerancuan pemahaman intrateks semacam itu.

Seperti disebutkan di atas, teks Alquran dalam surat Thaha: 5, “Tuhan Yang Maha Pemurah, Yang bersemayam di atas `Arsy”, jika dipahami literal dan apa adanya, akan memunculkan dugaan-dugaan seperti tersebut di atas, di samping itu akan terkesan kontradiktif dengan beberapa teks, antara lain “Dia bersama kalian di mana pun kalian berada.” (Al-Hadid: 4) dan “Dia ada di langit” (HR Muslim, Nasa’i, dan Abu Daud dari Muawiyah bin Hakam).

Maka, dengan teori takwil, surat Thaha: 5 di atas bisa diartikan dan dipahami sebagai “Tuhan Yang Berkuasa atas Arsy”. Kata istawa (bersemayam) diterjemahkan dengan “berkuasa”. Arti itu bisa dipahami sebagai simbol kedigdayaan dan kekuasaan Tuhan yang tak terhingga dan tak terbatas atas segala sesuatu, bahkan terhadap Arsy yang merupakan simbol mahluk paling besar (a’dzam al-makhluqat).

Itu adalah pilihan termungkin di antara beberapa pilihan arti yang kurang sesuai dengan karakter-karkter (sifat-sifat) Tuhan. Jika teks itu tetap dipahami apa adanya, akan memunculkan dugaan-dugaan, seperti “Arsy adalah tempat tinggal Tuhan”, “sosok Tuhan yang terukur”, dan “sosok Tuhan yang terarah”, yang semua itu mempersonifikasikan Tuhan layaknya mahluk atau benda. Dan itu sama sekali bertentangan dengan sifat-Nya yang mukhalafah lil hawadits (tidak sama dengan mahluknya).

Sama seperti “perlakuan” terhadap surat Thaha: 5, demikian juga terhadap surat Al-Hadid: 4, “Dia (Tuhan) bersama kalian di mana pun kalian berada.”. Teks ini tidak semestinya dibiarkan dan dipahami apa adanya. Jika tidak, selain akan bertentangan dengan surat Thaha di atas, juga akan memendar pemahaman dan dugaan yang rancu. Mungkinkah, jika Dia ada di Arsy, dan pada saat yang sama Dia ada di bumi bersenyawa dengan manusia? Apakah Tuhan memiliki “sosok” lebih dari satu, tersebar di antara para manusia, dan selalu mengikuti di mana pun manusia berada? Dan “sosok” Tuhan itu tumbuh dan hilang bersama tumbuh dan matinya manusia?

Saya kira, dugaan-dugaan seperti itu tak tak benar ditujukan kepada Tuhan. Oleh karenanya, perlu ada pengalihan arti surat Al-Hadid: 4 tersebut ke arti lain, demi menghindari kerancuan pemahaman. Dan arti yang lebih mungkin (lebih pantas) adalah “Dia (Tuhan) akan selalu tahu di mana pun kalian berada, apapun yang kalian kerjakan, apa pun yang kalian pikirkan, dan apa pun yang kalian rasakan.” Katakanlah, teks itu berbicara tentang sifat Tuhan Yang Maha Tahu, dan bukan tentang keberadaan posisi-Nya. Saya kira, makna ini lebih positif dan mentahzihkan Tuhan dari personifikasi apapun.

Takwil juga semestinya diberlakukan untuk memahami hadis Nabi, “Tuhan kita selalu turun ke “langit dunia” pada tiga paruh malam terakhir.” (HR Bukhari, Muslim, Tirmizi, Abu Daud, dan Ibnu Majah dari Abu Hurairah).

Dari perspektif takwil, arti yang layak dari hadis itu adalah Allah akan menaburkan segenap rahmat kepada orang-orang yang mau menyisihkan sebagian malamnya untuk beribadah, tatkala sebagian orang terlelap dalam kegelapan malam. Waktu malam menjadi penekanan, karena bagi kebanyakan orang, saat itu adalah waktu tersulit untuk sekedar bangun, apalagi digunakan untuk beribadah.

Juga terhadap hadis Nabi, “Aku akan selalu bersama orang yang selalu ingat kepada-Ku. Jika orang itu melangkah kepadaku hanya sejarak satu jengkal, Aku akan melangkah kepadanya sejarak satu tangan. Jika orang itu melangkah kepadaku sejarak satu tangan, Aku akan melangkah kepada-Nya sejarak dua tangan. Jika orang itu mendekat kepadaku dengan berjalan, aku akan menyusulnya dengan berlari.” (HR Muslim dan Ahmad dari Abu Hurairah)

Arti termungkin dari hadis itu adalah, sesungguhnya rahmat dan karunia yang telah diberikan Tuhan dan telah dinikmati manusia, lebih besar dan lebih banyak ketimbang amal ibadah dan pengabdian manusia kepada-Nya.

Tuhan dan Simbol

Jika diperhatikan, beberapa teks Alquran (dan hadis), terutama yang berbicara tentang pribadi (dzat) Tuhan, lebih banyak berbentuk simbol, dalam arti tidak bisa langsung dipahami begitu saja apa adanya. Dikatakan simbol, sebab Dia menyampaikan titah-titah itu menggunakan “bahasa manusia”, tapi tidak layak disebut telah melakukan “aktifitas manusiawi”. Karena, jika Dia menggunakan “bahasa manusia” dan diklaim telah melakukan “aktifitas manusiawi”, maka Dia pun berhak diklaim sebagai mahluk, sebagimana manusia.

Barangkali itu bisa dipahami. Sebab, manusia tidak akan pernah tahu tentang “jati diri” Tuhan yang sebenarnya. Bahkan tahu, untuk sekedar terkelibat di pikiran atau terbesit di hati saja, Tuhan tidak akan pernah seperti yang diketahui, terpikirkan atau terbesit oleh manusia. Di dalam Alquran, disebutkan, “Tidak ada apapun yang serupa dengan-Nya. Dia yang Maha Mendengar dan Melihat.” (As-Syura: 11). Dan benarlah adagium “Jangan pernah berpikir tentang pribadi Tuhan, tapi berpikirlah tentang ciptaan Tuhan”. Adagium itu bukan soal larangan berpikir tentang Tuhan, tapi bicara tentang ke-Maha-an Tuhan yang tak tersentuh oleh pikiran manusia, sehebat apapun itu. Pikiran manusia hanya mampu menalar sebatas ciptaan-Nya.

Sebab itu, saat Tuhan hendak menjelaskan diri-Nya kepada manusia, Dia menggunakan “bahasa manusia”, agar mudah dipahami oleh manusia sendiri, namun tidak dengan “pemahaman manusiawi”. Ketika Tuhan menjelaskan diri-Nya “bersemayam”, “turun”, “melangkah” dan sebagainya, bahasa-bahasa itu tak layak dipahami sebagaimana memahami jika manusia yang melakukan itu. Dan bahasa takwil merupakan salah satu cara yang mungkin untuk memahaminya.

Takwil menjadi cara yang absah untuk memahami teks-teks agama, dan Tuhan sendiri yang mengabsahkannya. Perhatikan hadis qudsi di bawah ini…

Pada hari kiamat kelak, dikisahkan Tuhan berdialog dengan hamba-Nya. “Hai manusia, aku pernah sakit, kenapa Kau tidak menjenguk-Ku? Aku pernah kelaparan, kenapa Kau tidak memberi-Ku makanan? Aku pernah kehausan, kenapa Kau tidak memberi-Ku minuman?”

Dengan bingung, hamba tersebut berkata, “Wahai Tuhanku, bagaimana aku bisa menemui-Mu dan menjenguk-Mu, memberi-Mu makanan dan minuman, sedangkan Engkau adalah Tuhan semesta alam?!”

Lalu Tuhan menjawab, “Wahai manusia, tidakkah Kau tahu, hambaku si Fulan pernah sakit?! Tidakkah Kau tahu, hambaku si Fulan pernah kelaparan dan kehausan?! Aku tahu, Kau mengetahui semua kenyataan itu, hanya saja Kau tidak mau peduli. Padahal jika Kau mau peduli kepada mereka, niscara Kau akan menjumpai-Ku di sisi mereka.” (HR Muslim dari Abu Hurairah).

Tuhan Dalam Bingkai Teks

4 June 2008 § Leave a comment


Di Mana Tuhan?

Beberapa teks literal Alquran dan hadis menyebut posisi Tuhan yang berdiam pada suatu tempat. Sebut saja teks yang barangkali sudah sangat populer dalam teologi Islam seperti di bawah ini,

“Tuhan Yang Maha Pemurah, Yang bersemayam di atas `Arsy.” (Thaha: 5).

Rasul pernah mengajukan pertanyaan menguji kepada salah seorang sahabat, “Di mana Allah?” Sahabat itu menjawab, “Dia ada di langit”. Jawaban itu dibenarkan oleh Rasul. (HR Muslim, Nasa’i, dan Abu Daud dari Muawiyah bin Hakam).

Dan pada suatu waktu, Dia beranjak dari kediaman-Nya menuju ke tempat yang lain untuk suatu “keperluan”,

“Dialah Allah, yang menjadikan segala yang ada di bumi untuk kamu dan Dia berkehendak menuju langit, lalu dijadikan-Nya tujuh langit.” (Al-Baqarah: 29).

Setelah itu, Dia kembali ke “peraduan-Nya”,

“Sesungguhnya Tuhan kamu ialah Allah yang telah menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, lalu Dia bersemayam di atas `Arsy.” (Al-A’raf: 54. Ayat ini juga menjadi penggalan ayat dalam surat Yunus: 3).

“Allah-lah Yang meninggikan langit tanpa tiang (sebagaimana) yang kalian lihat, kemudian Dia bersemayam di atas `Arsy.” (Ar-Ra’d: 2).

Dia bukan “sosok rumahan” yang hanya senang berdiam diri asyik di “dunia atas”, tapi kerap turun ke “dunia bawah”, sebagaimana penuturan Rasul,

“Tuhan kita selalu turun ke “langit dunia” pada tiga paruh malam terakhir, dan memberikan tiga penawaran; pertama, siapa saja yang mau berdoa kepada-Nya, akan Ia kabulkan. Kedua, siapa saja yang meminta kepada-Nya, akan ia berikan. Dan yang ketiga, siapa saja yang meminta ampun kepada-Nya, akan Ia kabulkan.” (HR Bukhari, Muslim, Tirmizi, Abu Daud, dan Ibnu Majah dari Abu Hurairah).

Dia juga selalu berjalan beriringan dengan kita, manusia, kapan pun dan di mana pun,

“Dia bersama kalian di mana pun kalian berada.” (Al-Hadid: 4).

Bukan hanya itu, Dia juga “bergaul” erat dengan kita. Sikap baik kita kepada-Nya, akan berbalas kebaikan melebihi kebaikan yang kita berikan,

“Aku akan selalu bersama orang yang selalu ingat kepada-Ku. Jika orang itu melangkah kepadaku hanya sejarak satu jengkal, Aku akan melangkah kepadanya sejarak satu tangan. Jika orang itu melangkah kepadaku sejarak satu tangan, Aku akan melangkah kepada-Nya sejarak dua tangan. Jika orang itu mendekat kepadaku dengan berjalan, aku akan menyusulnya dengan berlari.” (HR Muslim dan Ahmad dari Abu Hurairah).

Saking erat, tanpa kita sadari, Dia telah menyatu dengan jasad kita,

“Aku lebih dekat kepada manusia dari pada urat lehernya sendiri.” (Qaf: 16).

Jadi, di mana Tuhan?

Tuhan bersemayam di Arsy… Tuhan melayang di langit… Tuhan ada di “langit dunia”… Tuhan berada dekat lebih erat ketimbang urat leher kita… Tuhan ada dalam ingatan kita… Tuhan ada di mana kita berada… Kita berada di mana Tuhan ada… Tuhan ada di mana-mana… Tuhan ada dalam lintasan teks…

*Tulisan ini akan dilanjutkan dengan versi urai pada posting selanjutnya dengan judul “Mengurai Teks Yang Membelenggu Tuhan”.

Where Am I?

You are currently browsing entries tagged with tauhid at Warung Nalar.

%d bloggers like this: