Kalla…

19 November 2008 § Leave a comment


“Kalla” menjadi nama belakang wapres kita, Jusuf Kalla. Dan tulisan ini bukan soal dia, namanya, isterinya, anaknya, mantunya, perusahaannya, bukan pula soal Golkar atau Makasar…

Saat masih nyantren di Tebuireng dulu, saya pernah menangkap penggalan ceramah dari kyai (namanya KH Ishaq Lathif yang sampai pada usia senjanya saat ini lebih memilih hidup perjaka tanpa jamahan seorang wanita) di sela-sela pengajian bandongan sebuah kitab, bahwa Allah akan selalu merespon, mengacuhkan doa setiap orang dengan beberapa kemungkinan: dikabulkan sesuai permintaan baik segera atau tertunda, dikabulkan tapi tidak sesuai permintaan alias diganti (barangkali Allah menimbang, sesuatu yang dimintanya tidak proporsional bagi dirinya), atau dikabulkan tapi tidak untuk dinikmati di dunia, di akhirat. Meski yang disebutkan terakhir agak kurang mengena (bukankah kosmos akhirat adalah serba tak butuh?!), tapi yang jelas filosofi pengabulan doa itu mak clep sejak pertama kali masuk telinga kemudian bersemayam di otak, sampai saat ini. Rupanya, filosofi itu adalah sebuah pembacaan dari sebuah teks Alquran ujibu da’wah ad-da’i idza da’ani/Aku (Allah) akan mengabulkan doa orang yang berdoa kepadaku.

“Sementara tak sulit untuk mengerti “maksud si pembaca”, tak mudah untuk tahu bagaimana sebenarnya maksud “teks yang dibaca,” bagitu yang tertulis dalam Eksotopi-nya Goenawan Mohamad. Meski Kyai Ishak, “si pembaca”, memberikan pembacaan terhadap “teks yang dibaca” itu secara sederhana, namun sejujurnya memberikan kemudahan (sementara) bagi saya dalam memahami teks Alquran yang “tak mudah” itu, menjadi pembimbing dan penenang bagi grundengan-grundengan jiwa terhadap Allah terkait litani doa-doa yang terucap tapi seperti masih mengawang-awang.

Mungkin saja, dalam bentuk yang kongkrit, kita telah tak mendapatkan apa yang menjadi harapan dalam doa, namun dengan ketiadaan itu, kita tetap tenang dan nyaman, bahkan dengan kadar yang lebih meningkat, tanpa perubahan emosi yang radikal, bagi saya itu sudah menjadi doa yang terrespon. Sebab, bagi saya, doa adalah kenyamanan, ketenangan. Pelaku utamanya adalah jiwa. Yang menjadi kenikmatan, akhirnya, bukan semata terkabulnya sebuah doa, tapi penghayatan dari doa tersebut. Ukurannya bukan lagi semata bersifat inderawi yang konkrit.

Maka, jika pada rentang waktu tertentu, seperti terindikasikan harapan-harapan yang terrangkum dalam doa tak juga terwujud, segera asumsi itu saya alihkan dengan menikmat-hayati kemungkinan-kemungkinan: mungkin masih butuh waktu, mungkin saya meminta sesuatu yang tidak proporsional, mungkin yang saya minta belum saatnya diminta, mungkin bakal terwujud dengan hal lain, mungkin telah terwujud tanpa disadari… mungkin… mungkin… sambil tetap berdoa jika masih tetap berharap atau sudahi saja doa itu jika jiwamu tak lagi menikmati lantunan doa-doa itu, meski tak juga menolak jika suatu saat harapan itu mak jleg tiba-tiba hadir dalam wujud yang kongkrit. Sebab, bisa saja Allah memberikan apa yang kita harapkan, kita inginkan, justeru pada saat kita melonggarkan harapan dan keinginan itu atau bahkan saat tak lagi memiliki harapan sama sekali. Intinya, tidak ada celah untuk mengatakan Allah tak mengacuhkan doa saya. Acuh Allah tak harus dipahami sebagai terkabulnya doa sesuai dengan keinginan. (“Acuh” artinya “peduli”. “Tak mengacuhkan” berarti “tak mempedulikan”. “Acuh tak acuh” artinya “peduli tak peduli” alias cuek. Kata yang sering dijungkir-balikkan artinya. Dengar saja lagu berjudul “Aku Mau” dari Once atau “Cinta Ini Membunuhku” dari D’Masif, dan simak kata “acuh” dalam liriknya).

Senafas dengan hal itu, ada doa yang paling menggemparkan jagat, paling meresap, paling mendalam, paling bisa merontokkan sendi-sendi jiwa (tapi mungkin juga bikin sesak nafas), adalah “allahumma, la mani’a lima a’thaita, wala mu’thiya lima mana’ta”. Jika dilihat dari isinya, doa itu barangkali lebih pas tidak disebut doa jika definisinya adalah permohonan. “Gusti Pangeran, semua pasti akan terjadi jika panjenengan mengizinkan. Dan pasti akan nihil jika penjenengan menolaknya”. Tidak ada permohonan di sana, dan mungkin lebih cenderung berisi pujian atas superitotas Allah. Pun jika disebut doa, maka itu adalah permintaan agar kita selalu eling, ingat, sadar, awas, waspada, terjaga, melek, lebih dari sekedar tahu superioritas Allah itu.

Bahwa “la mani’a lima a’thaita” adalah pujian superioritas Allah. Bahwa Allah mampu melaksanakan, mewujudkan, menghadirkan apa pun yang kita inginkan. Bahwa kemudian itu menyenangkan kita sebagai manusia. Jika hidup ini penuh dengan keinginan dan obsesi yang berjubel di benak, maka apa lagi yang lebih membahagiakan selain keinginan dan obsesi itu mencuat dalam alam nyata. Bukankah puncak dari keinginan adalah terlaksananya keinginan itu?! Bukankah hal yang paling membahagiakan adalah terwujudnya sesuatu keinginan, kemudian menikmatinya?! Bahwa keyakinan kita akan superioritas Allah itu kerap bertambah kadarnya, saat keinginan-keinginan kita terwujud, ketika hasrat-hasrat mencuat. Dan mungkin dengan agak berlebihan sambil mengatakan, “Allah memang baik, memang kuasa, memang sayang”. Seolah-olah memang seperti itulah tugas Allah. Seolah-olah superioritas Allah terbatas jika Ia melakukan apa yang menjadi keinginan dan menyenangkan kita. Lalu Ia dingambeki jika tak berbuat seperti itu.

Kalla…” kata Allah, “Mbok ya jangan nyangka seperti itu… Masak definisi kasih sayangku kepadamu hanya diterjemahkan dengan hal-hal yang Kau rasa enak saja. Terus, Kau menggetingiku, karena aku Kau anggap menelantarkanmu pada kondisi serba tak enak, dan sebab itu Kau anggap aku sedang menghinakanmu…”

“Aku memang mampu berbuat apa saja. Kamu pasti sudah tahu itu. Tapi bukan berarti aku mesti meladeni hasratmu. Aku juga mampu untuk tak berbuat apa-apa untukmu. Seharusnya kamu juga tahu itu, biar jalan pikiranmu tidak pincang, supaya jalan spiritualmu lempang. Cobalah pahami aku dengan kemungkinan, bukan dengan kepastian atau ketak-mungkinan…”

Wala mu’thiya lima mana’ta…

Islam Tidak Hitam-Putih

23 September 2008 § 1 Comment


Presiden Republik Indonesia (RI) KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur) menyatakan, cara pandang ulama tasawuf atau para sufi atas segala sesuatu tidaklah hitam-putih atau halal-haram sebagaimana ulama fikih. Karenanya, para sufi tidak mudah menyalahkan pihak lain yang berbeda.

“Orang hukum yang begitu (mudah menyalahkan, red). Sufi ya tidak begitu. Kita harus rendah hati. Mungkin justru kita yang keliru. Itu yang harus kita lakukan.”

Demikian disampaikan Ketua Umum Dewan Syura DPP Partai Kebangkitan Bangsa itu saat menjadi narasumber pada acara Kongkow Bareng Gus Dur di Green Radio Jl. Utan Kayu 68H Jakarta, Sabtu (13/09/2008). Hadir juga Pemimpin Redaksi Cahaya Sufi KH. Lukman Hakim.

Gus Dur mengingatkan, supaya umat Islam tidak melihat sesuatu secara hitam-putih. Namun diakuinya, hingga saat ini umat Islam masih belum beranjak dari cara pandang banner ini. “Ini yang menyebabkan umat Islam menjadi galak,” tegas Gus Dur.

Karena itu, Gus Dur menghimbau umat Islam untuk terus belajar dan belajar berbagai bidang ilmu keagamaan. Tidak hanya mempelajari fikih, namun juga mendalami tasawuf. “Islam itu tidak hanya satu bidang saja,” ungkapnya mengingatkan.

KH. Lukman Hakim menyatakan, sufi adalah sosok yang senantiasa mengamalkan ayat udkhulu fi al-silmi kaffah (masuklah dalam perdamaian secara total). “Ini perilaku yang mesti kita lakukan, sebagai kontribusi perdamaian dan pangkal pencerahan,” ungkapnya.

Prinsip ini meniscayakan para sufi menyebarkan dakwahnya dengan damai dan tanpa pemaksaan, apalagi kekerasan. Kiai Lukman – sapaan akrab KH. Lukman Hakim – karenanya mengritik sekelompok umat Islam yang merasa benar sendiri lantas memaksakan “hidayah” yang menjadi otoritas Allah SWT pada kelompok lain yang dinilainya “salah”.

“Itu (hidayah, red.) kan urusan Allah SWT. Jika dipaksakan, ini bisa menjadi pemicu konflik,” katanya kuatir.

Bagi Kiai Lukman, surga juga bukan monopoli kelompok muslim belaka. Menukil Abdul Karim al-Jili (w. 832 H) dalam karyanya al-Insan al-Kamil fi Ma’rifah al-Awakhir wa al-Awa’il, ia menyatakan Ahli al-Kitab juga ada yang masuk surga. Ini, katanya, berkat munajat Nabi Isa AS. Dalam al-Qur’an disebutkan, Isa bermunajat: fa in tu’adzdzibhum fainnahum ibaduk fa in taghfir lahum fainnaka azizun hakim (Jika Engkau menyiksa mereka, itu hamba-MU juga. Jika Engkau mengampuni mereka, maka Engkau Maha Besar dan Maha Bijaksana.

“Berkat munajat Nabi Isa ini, nanti ada umatnya yang diampuni dan masuk surga. Karenanya, kita tidak boleh mudah menghukumi (seseorang masuk surga atau neraka, red.),” harapnya.

Kiai Lukman juga menyentil kelompok spiritual yang disebutnya instan. Dalam bahasa Imam al-Ghazali (w. 505 H), katanya, kelompok ini disebut spiritual nafsani atau syahwati. Mereka berlaku spiritual, misalnya, karena unsur politis, pamrih duniawi dan atau motivasi lain selain Allah SWT.

“Umat Islam tidak boleh terjebak pada aspek yang sifatnya instan nafsu. Ini memudahkan perilaku spiritual umat Islam rentan pada pertarungan kebudayaan dan pluralistas. Akibatnya, secara psikologis ini memudahkan yang tidak sama dianggap salah,” ujarnya.

*Kliping diculik dari sini.

Ramadan Tanpa Rindu

28 August 2008 § Leave a comment


Jika buku dan tulisan tentang Ramadan itu penting, maka Ramadan jadi kurang penting, sebab dua hal. Pertama, jika Ramadan yang datang dari Yang Maha Sempurna masih perlu perwakilan penjelasan dari yang tak sempurna, maka bisa terjadi reduksi makna Ramadan (paling tidak “terkesan tereduksi”). Kedua, jika Ramadan adalah sebuah “karya” dari Yang Maha Sempurna masih perlu diwakili oleh pandangan dari yang tak sempurna lagi tak ikut dalam proses berkarya, maka kualitas karya itu jeblok (paling tidak “terkesan jeblok). Maka tulisan ini mesti berada di luar itu semua. Jelasnya, tulisan ini kurang penting sebagai substansi. Ia hanya punya makna sebagai refleksi diri.

~Adaptasi dari sebuah paragraf salah satu tulisan Cak Nun. Oke punya, sih… ~

Ramadan kembali datang. Puasa kembali menantang. Bulan di mana, menurut informasi agama, Tuhan membuka pintu-pintu surga dan menutup pintu-pintu neraka, membelengu setan pengganggu manusia, sebagaimana titah Rasul, “Jika Ramadan datang, Tuhan membuka pintu-pintu surga, menutup pintu-pintu neraka, dan membelenggu setan-setan”. (HR. Bukhari dan Muslim, Turmudzi, Nasa’i, Abu Daud, dan Ibnu Majah).

Hadis metafisik; surga, neraka, setan, malaikat. Namun ditujukan kepada manusia yang sama sekali fisik. Dalam kitab Fathul Bari, yang menjadi syarh (kitab komentar) dari Shahih Bukhari, hadis tersebut coba dirasionalkan. Yang dimaksud dengan “setan di belenggu” adalah, pada bulan itu setan tidak akan mudah menggoda umat manusia, ketimbang pada bulan selain Ramadan, sehingga mereka sulit terjerumus dalam kemaksiatan. Umat sedang disibukkan dengan aktifitas puasa, menahan lapar dan haus, yang biasanya dibarengi dengan peningkatan amal-amal saleh, seperti membaca Alquran, memperbanyak i’tikaf, dzikir, dan segala macam amalan-amalan saleh lainya (tentu saja bagi mereka yang melakukannya). Dengan kesibukan itu, kemungkinan untuk tersibukkan oleh perbuatan maksiat sangat kecil. Menurut Anda?

Jadi, pada bulan Ramadan, apa atau siapa yang menjadi jaminan paten para setan, mahluk Tuhan yang dikutuk itu, tidak mengajak kita berasyik masyuk dengan kemaksiatan? “Rumah” Ramadan yang semua pintu dan jendelanya tertutup rapat, dirajah pula, sehingga para setan yang coba memasukinya bakal terbakar, atau “rumah jiwa” kita sendiri?

Sungguh, aku tidak tahu, harus mengeler-eler pertanyaan sendiri itu dengan alur logika yang bagaimana, kecuali aku sungguh terpengaruh celoteh Cak Nun (Emha Ainun Najib) untuk konteks itu; manusia tidak berhenti hanya menjadi manusia, kecuali ia tak bisa dinamakan manusia. Itu yang disebut dengan mahluk dinamis, berbeda dengan malaikat dan setan yang statis, mahluk kepastian. Malaikat itu mahluk statis. Meski dia diletakkan atau hadir di tempat pelacuran, tempat perjudian, tempat minum-minum, di malam hari, siang, sore, hari Jumat, Minggu, bulan Ramadan, Muharram, tetap baik yang dilakukan. Setan juga mahluk statis, meski dia hadir di masjid, di kuil, di gereja, di malam hari, di siang hari, hari Jumat, Minggu, bulan Ramadan, Muharram, tetap saja jelek yang dia lakukan.

Sementara, manusia, kita, ada di tengah-tengah mereka. Kita adalah “mahluk kemungkinan”. Kita memiliki pilihan. Kita memiliki dua kemungkinan untuk dipilih; menuju kebaikan atau menuju kejelekan dan kebrengsengkan. Jiwa kita mesti bekonflik antara mendapatkan bisikan maut setan atau ilham malaikat.

Apakah pada bulan Ramadan, di “rumah” Ramadan, kita tak lagi menjadi mahluk kemungkinan, aman bersinggah di dalamnya, terbebas dari bisikan maut para setan karena mereka sedang dibelenggu?

Sekali lagi, aku sungguh terpengaruh celoteh Cak Nun di atas. Ah, masih mending terpengaruh celotehnya ketimbang terpengaruh kebingungan. Memang, Cak Nun bukan syari’ yang celotehnya bisa digenggam sebagai pegangan hidup, namun siapa pun tak berhak intervensi (bahkan diriku sendiri) ketika kedalaman “rasa”ku terhujam oleh celotehnya itu. Sebab, “rasa” adalah sesuatu yang sangat pribadi.

Maka, Ramadan tetap hanyalah Ramadan dengan ke-khas-an yang tak dimiliki bulan lain; puasa di sepanjang siang, “siapa berpuasa berlandaskan keimanan dan mengharap baik, dosa yang telah lalu diampuni”, “setan di belenggu”, salat tarawih, Alquran dulu turun sekaligus dari al-lauh al-mahfudz ke bait al-‘izzah di bulan ini, ada “lailatul qadar” di bulan ini, dan seterusnya dan sebagainya (silakan tambahkan dengan kekayaan keilmuan Anda soal Ramadan). Ada juga citra khas Ramadan yang diduga tersirat dari isyarat-isyarat itu; “bulan suci”. Maka, orang-orang pun ramai latah sepakat dengan citra itu. Karena sumber citra itu berupa isyarat tersirat, maka penjelasannya pun beragam. Bagi sebagian kalangan, “kesucian” Ramadan dijelaskan dan diejawantahkan dengan razia gelandangan, pengemis, penertiban dan sapu bersih tempat “kotor”, para aktris kita coba tampil “lebih sopan” untuk menghormati kesuciannya, dan seterusnya dan sebagainya. Citra suci ini mesti diperjuangkan, dengan tangan pemerintah atau “keberanian” kelompok-kelompok partikelir, terkadang dengan marah-marah, sewenang-wenang dan ada pihak-pihak yang terzalimi.

Ramadan, dengan ke-khas-annya, tetap cuma Ramadan. Dan kita, manusia, juga tetap manusia. Ramadan dan kita tak memiliki hubungan otomatis saling mengikat. Ramadan, juga bulan-bulan lain, tak bisa menjadikan kita baik, sebagaimana tak bisa menjadikan kita brengsek. Tak ada jaminan paten. Kecuali jiwa kita sendiri yang merespon atau meyampakkannya. Dan jika ada yang dapat merasakan “ikatan spesial” dengannya, maka itu hanya soal kedalaman rasa yang sangat pribadi yang tak salah untuk dirasakan dan diekspresikan. Konon, Rasul menjadi lebih dermawan pada bulan ini.

Dan Ramadan itu kembali menyapa kita untuk kesekian ulang kali. Ada yang suka cita, ada yang “marah”, ada yang “ngeri” (biasanya sehari makan tiga kali), ada pula yang menggebu-gebu penuh kerinduan (tanpa menafikan “ada-ada yang” lain). Dan orang yang rindu biasanya adalah orang yang kehilangan atau terpisah jarak, dan ingin segera bertemu. Setelah bertemu, kangen-kangenan sedemikian rupa. Setelah sering-sering bertemu dan bersatu, kangen dan rindu menjadi biasa dan akhirnya tak lagi istimewa, atau malah sengak! Awwaluhu gairah menggebu, wa ausathuhu jadi biasa, wa akhiruhu mlempem! Persis jamaah salat tarawih di masjid-masjid kita; penuh sesak di awal Ramadan, longgar di pertengahan, dan tinggal satu, dua, tiga shaf saja di akhir-akhir Ramadan, shaf pertamanya adalah si imam. “Quasi-rindu”; kerinduan semu karena yang menjadi obyek rindu adalah lahiriah, “body”, ritual.

Jika Kau merindukan Ramadan, berarti selama ini Kau telah kehilangannya. Terlalu sibuk dan lelahkah Kau dengan ritual puasa yang selama ini berkali-kali berulang-ulang Kau kerjakan sampai melalaikan spiritnya, sehingga di usia seperempat abad ini Kau masih saja merasa kehilanganya, dan berkali-kali berulang-ulang pula Kau merindukannya?!

Kosong mlompongkah “rumah jiwa”mu dari spirit Ramadan, sehingga Kau masih saja merindukan kehadiranya, berharap Tuhan akan “mengampuni dosa-dosamu yang telah lalu”, “membuka pintu-pintu surga, menutup pintu-pintu neraka, dan membelenggu setan-setanmu”, serta “iming-iming” ukhrawi lainnya, seperti anak kecil yang minta hadiah atas perbuatannya?! Kenapa pula harapan itu kau gantungkan cuma pada Ramadan, tidak di sepanjang zamanmu?! Lagi pula, lupakah Kau, nasihat Imam Ghazali yang bilang, puasamu saja masih shaum al-‘umum, puasa kelas rendahan, hanya menahan lapar dan haus belaka, cuma menggugurkan kewajiban, tanpa jiwa, tanpa rasa.

Jika Kau sungguh-sungguh berharap itu semua di sepanjang hidupmu, semayamkan dirimu dalam “rumah jiwa”mu yang telah terisi spirit Ramadan. Puasakan lahir dan batinmu dalam sepanjang hidupmu. Jangan Kau semayamkan dirimu dalam Ramadan. Sebab, ia datang dan pergi. Kebaikan dirimu dan “iming-iming” yang Kau harapakan pun akan datang dan pergi. Ya, meski itu sebenarnya masih mending ketimbang pergi dan berlalu.

Plak! Plak!!! Seperti ada yang menampar pipiku, kiri dan kanan. Yang kiri keras, yang kanan lebih keras.

Selamat datang Ramadan.

Jalan Sufisme; Sekilas Memoar Pengembaraan Imam Ghazali

14 August 2008 § 5 Comments


Setelah beberapa tahun lalu saya beruntung mendapatkan kitab al-Munqidz min al-Dhalal (Pengentas Kesesatan), meski berupa fotocopy-an dari buku asli seorang kawan (saya berusaha mendapatkan aslinya di toko-toko buku, namun tidak menemukan), baru beberapa hari terakhir ini seperti ada dorongan tersendiri untuk membukanya.

Al-Munqidz min al-Dhalal adalah karya Imam Ghazali yang ia tulis sebagai “memoar” pengembaraan intelektual dalam upaya menemukan titik-titik “keyakinan” dari bisik-bisik “keraguan”. “Memoar” itu ia maksudkan sebagai semacam motivasi untuk “para pencari”; mesti bersungguh-sungguh dan pantang berhenti untuk menemukan apa yang ia cari, sampai ia tidak tahu apa yang harus dicarinya lagi.

Pengembaraan intelektual Imam Ghazali bermula dari obsesinya mengetahui hakikat dari setiap sesuatu, dan itu mengharuskan adanya perangkat keilmuan yang ia sebut dengan “al-‘ilmu al-yaqini”; istilah abstrak untuk menyebut “seperangkat keilmuan yang mampu menyingkap hakikat sesuatu tanpa sisa-sisa keraguan dan kemungkinan kekeliruan”.

Ia melakukan pencarian. Dalam tempo itu, untuk beberapa lama, ia sempat terperangkap dalam masa “krisis intelektual”. Hatinya terjebak oleh “struktur intelektual” yang ia bangun sendiri dengan argumentasi yang kuat. Ia ingin berpaling dari struktur itu (ia sebut dengan kata tunjuk “dzalik al-maradh”), namun ia belum memiliki argumentasi tandingan untuk melawannya. Baginya, melepaskan diri dari argumentasi mesti dengan argumentasi yang lebih argumentatif. Demikian bisik idealismenya, saat itu.

Mulailah ia mencari “sandaran intelektual” yang mampu menghantarkannya kepada “al-ilmu al-yaqini” sekaligus menyembuhkannya dari “dzalik al-maradh”. Mula-mula ia bersandar pada “ilmu kalam” (teologi), membuka karya-karya para mutakallimun (para teolog), menelaah, merefleksikan tanggapan dan pandangannya dalam tulisan.

Dalam pandangan Imam Ghazali, ilmu kalam dibangun dalam rangka melestarikan kemurnian akidah ahlussunnah dan menjaganya dari tangan kotor pembid’ah (hifdzu ‘aqidah ahlissunnah wahirasatuha min tasywisyi ahlil al-bid’ah), yaitu akidah yang benar sesuai dengan indikasi Alquran dan hadis, yang memberikan maslahat duniawi dan ukhrawi. Dalam pengamatannya terhadap karya-karya ilmu kalam, tugas itu memang telah terlaksana. Hanya saja ia tidak puas dengan narasi-narasi para mutakallimun itu yang cenderung menelan mentah-mentah teks-teks Alquran dan hadis tanpa elaborasi yang cukup, bahkan bercorak taklid buta. Oleh karenanya, dari ilmu kalam itu, ia tidak mendapati jawaban-jawaban memuaskan bagi “krisis intelektual”nya.

Bagi Imam Ghazali, ilmu kalam hanyalah “obat” tertentu untuk “penyakit” tertentu. Sebagai obat, ia hanya dibutuhkan saat sakit. Sebagai obat tertentu, orang sakit bisa saja berhenti (atau tidak sama sekali) mengkonsumsinya jika terbukti tidak manjur, dan beralih ke obat lain. Ia sampai berujar,

“Dalam keyakinan pribadiku, ilmu kalam belum mencukupi. Untuk “penyakit” yang aku derita, ilmu kalam belum mampu mengobati” (falam yakun al-kalam fi haqqi kafiyan, wala lidaa i alladzi kuntu asykuhu syafiyan).

Ia abaikan ilmu kalam, meski tetap respek terhadap ilmu dan para mutakallimun itu, atas nilai positif yang dihasilkan darinya.

Lalu, ia melanjutkan pengembaraan intelektualnya. Kali ini ia jajaki “filsafat”. Selama di Baghdad, ia menyisihkan waktunya spesial untuk menelaah filsafat di sela-sela kewajiban mengajarkan “ilmu-ilmu syariat” kepada tiga ratus santrinya. Ia mempelajari dan menelaah filsafat hanya dari karya-karya terkait tanpa seorang guru. Kurang dari dua tahun itu ia telah menelaah hampir semua karya filsafat yang beredar pada masanya. Dan pada rentang satu tahun berikutnya ia hanya mengulang-merenungkan karya-karya filsafat tersebut. Sampai pada akhirnya ia berksesimpulan, karya-karya filsafat yang ia baca hanya berisi “keraguan-keraguan yang tak diragukan”.

Jika pada ilmu kalam, Imam Ghazali memposisikannya sebagai “obat alternatif” untuk penyakit tertentu, pada filsafat, ia mewajibkan “larangan terbatas” mempelajarinya, yaitu bagi orang-orang yang tidak memiliki kemapanan intelektual dan kapasitas keimanan yang memadai.

Setelah tak juga merasakan kenyamanan dalam pengembaraannya, ia merasa perlu beralih “kendaraan”. Dan kendaraan yang ia pilih adalah “Jalan Sufisme” (Thuruq al-Sufiyah) – salah satu kelompok “pencari” yang ada pada masanya, selain filsafat, ilmu kalam, dan “bathiniah”. “Thuruq al-Shufiyah” menjadi “subjudul teragung” (ajallu fashl) dari al-Munqidz min al-Dhalal, menjelaskan hakikat tasawuf yang menjadi kendaraan terakhirnya menemukan “keyakinan”. Berbeda dengan kendaraan sebelumnya (ilmu kalam dan filsafat) yang hanya berkonsentrasi pada aktifitas nalar sehingga cukup dengan menelaah, mengarang buku, dan atau berdebat, jalan sufisme mengkombinasikan nalar (‘ilmu) dan laku (‘amal).

Seperti pada pengembaraan-pengembaraan sebelumnya, ia memperoleh ‘ilmu jalan sufisme dari telaahnya terhadap karya-karya para ulama terkait, seperti Abu Thalib al-Makkiy, al-Harist a-Mahasibi, dan Abu Yazid al-Busthami. Dari karya-karya mereka, Imam Ghazali seperti tercerahkan bahwa ada hal-hal yang tidak bisa dijangkau hanya dengan nalar, argumentasi dan buku sebagaimana ia pikir saat menempuh jalan ilmu kalam dan filsafat, melainkan dengan “kedalaman rasa” (al-dzauq) dan “laku raga” (al-suluk).

“Apa yang bisa ditempuh dengan nalar telah aku jalani dan aku raih hasilnya, tidak ada yang tersisa, kecuali apa yang bisa ditempuh hanya dengan “kedalaman rasa” dan “laku raga.”

Sejak saat itu, Imam Ghazali mengubah arah haluan hidupnya, dari orientasi intelektual yang serba nalar, argumentatif, dan tak lepas dari teks menjadi kecenderungan spiritual yang serba “rasa”.

“Aku melihat, selama ini seonggok hatiku telah erat terikat pada tali-tali dunia. Aku mengamati, selama ini aktifitas mengajar dan mendidikku hanya berkutat pada keilmuan yang tak penting. Aku niti-niti, selama ini aktifitas mengajar dan mendidikku hanya termotivasi jabatan dan ketenaran. Aku menyaksikan diriku berada di ‘tepi jurang yang runtuh’ (syafaa juruf har). Sungguh, aku telah dekat dengan neraka.”

Sang Imam hanya merenung dan merenung. Hingga ia berniat menyampakkan Baghdad, meninggalkan semuan aktifitasnya, bersiap menyerahkan diri kepada Tuhan. Tapi ini adalah permulaan. Keadaan demikian menelantarkannya di persimpangan jalan. Selama enam bulan, ia menjadi pertaruhan “bisikan setan” yang menghembuskan syahwat duniawi dan “ilham malaikat” yang mendorong laku ukhrawi.

Ia sempat terbaring sakit, tak kuasa menanggung beban pertaruhan itu. Tabib yang memeriksanya mengatakan bahwa, sakitnya bermula dari hati, dan menyarankan Imam agar menghilangkan kerupekan hati yang menyebabkannya terbaring sakit. Dari sinilah ia memulai titik baliknya. Hatinya yang rapuh ia rebahkan ke pangkuan Tuhan, bersimpuh di hadapan-Nya mengemis perlindungan. Ia menikmati itu, dan dengan mudah memantapkan hati memalingkan syahwat dunia dan menyampakkan Baghdad.

Setelah itu, selama sepuluh tahun, ia hidup nomaden, berpindah-pindah dari kota ke kota, bertinggal dari masjid ke masjid, mulai dari Syam, Damaskus, Baitul Maqdis, Makkah, Madinah, menghabiskan siang dan malamnya untuk menjalani suluk (i’tikaf, khalwat, uzlah, riyadhah, mujahadah, dzikir, membersihkan jiwa, dan sebagainya) sebagaimana yang ia baca dari literatur ilmu sufisme (‘ilmu al-shufiyah).

Satu dasawarsa menjalani laku suluk itu, tersingkap dalam dirinya hal-hal yang tak terkira, sampai ia pada keyakinan, sufisme adalah jalan terbaik dan terbenar untuk sampai pada kesadaran akan Tuhan. Gerak, diam, lahir, dan batin sufisme adalah binar cahaya kenabian (nur misykah al-nubuwwah). Menurutnya, “al-dzauq” dan “al-suluk” adalah langkah awal yang pernah dilakukan para “calon nabi”, sebelum akhirnya mereka benar-benar dipilih menjadi nabi. Hal seperti itulah yang pernah dijalani oleh Nabi Muhammad, dengan menyendiri di Gua Hira menjalani suluk, berasyik-masyuk dengan Tuhan-nya. “Keasyikan” itulah yang ingin didapatkan oleh para sufi dengan “al-dzauq”, tanpa harus menjadi nabi.

“Jalan Sufisme” menjadi titik akhir pengembaraan Imam Ghazali.

Menjumpai Allah

21 July 2008 § 1 Comment


Dalam satu hadis qudsi, dikisahkan Allah berdialog dengan hambaNya. “Wahai manusia, aku pernah sakit, kenapa Kau tidak menjengukku? Aku pernah kelaparan, kenapa Kau tidak memberiKu makanan? Aku pernah kehausan, kenapa Kau tidak memberiKu minuman?”

Dengan bingung, hamba tersebut berkata, “Wahai Tuhanku, bagaimana aku bisa menemuimu dan menjengukMu, memberiMu makanan dan minuman, sedangkan Engkau adalah Tuhan semesta alam?!”

Lalu Allah SWT menjawab, “Wahai manusia, tidakkah Kau tahu, hambaku si Fulan pernah sakit?! Tidakkah Kau tahu, hambaku si Fulan pernah kelaparan dan kehausan?! Aku tahu, Kau mengetahui semua kenyataan itu, hanya saja Kau tidak mau peduli. Padahal jika Kau mau peduli kepada mereka, niscara Kau akan menjumpaiKu di sisi mereka.” (HR Muslim dari Abu Hurairah)

Hidup bersama-sama adalah fitrah yang Allah gariskan bagi manusia untuk menjelaskan hikmah-hikmah kehidupan. Di antara hikmah-hikmah tersebut adalah perintah untuk peduli dan mencintai kemanusiaan. Melihat manusia karena kemanusiaanya, bukan karena harta, tahta, atau strata sosial yang melekat di bajunya. Harta, tahta, dan sebagainya semestinya tidak membutakan mata, hingga enggan melihat orang lain yang kurang beruntung yang sebenarnya lebih butuh dilihat dan diperhatikan.

Hidup bersama-sama juga mengajarkan, bahwa sesungguhnya manusia adalah mahluk yang saling membutuhkan satu sama lain. Bagaimanapun seseorang merasa cukup dengan dirinya, tetap saja memerlukan uluran tangan orang lain. Sebab, sudah menjadi fitrah, manusia diciptakan memiliki kelebihan yang tidak dimiliki orang lain, dan pada saat yang sama memiliki kekurangan yang bisa ditutupi oleh kelebihan orang lain.

Maka, jelas, sindiran Allah SWT dalam hadis di atas ditujukan kepada orang yang enggan membantu penderitaan yang dialami orang lain dan orang yang merasa cukup dengan dirinya sendiri.

Orang yang membantu penderitaan orang lain dikiaskan dengan perjumpaan dengan Allah SWT, yang menyiratkan bahwa yang bersangkutan akan mendapatkan puncak kenikmatan ukhrawi, yaitu berjumpa dengan Allah SWT. Sebaliknya, orang yang enggan membantu sesamamnya selama di dunia, kelak akan terhijab oleh keegganannya sendiri untuk bertemu dengan-Nya.

Menakar Keikhlasan

21 July 2008 § Leave a comment


Nilai suatu ibadah tidak semata terletak pada aspek ritual. Artinya, kecukupun dan kesempurnaan ibadah tidak hanya karena telah terpenuhinya syarat dan rukun semata, tetapi juga karena aspek spiritual, yaitu keikhlasan. Kedua aspek tersebut hendaknya menjadi satu kesatuan yang tak terpisahkan pada setiap ibadah kita.

Jika aspek ritual hanya menggugurkan kewajiban kepada Allah, maka aspek spiritual atau keikhlasan menjadikan suatu ibadah bernilai di hadapan Allah. Jika faktor ritual hanya untuk kita, maka faktor spiritual akan menghantarkan kita berjumpa dengan Allah SWT.

Allah SWT sendiri telah menjanjikan hal ini, dalam firman-Nya, “Siapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya, maka hendaklah ia mengerjakan amal saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadah kepada Tuhannya.” (Al-Kahf: 110).

Dalam karya tafsirnya, Imam al-Qurtubi menuliskan bahwa kata “mempersekutukan” oleh mayoritas ulama diartikan dengan “memperlihatkan” atau riya, antonim dari ikhlas. Dengan redaksi lain, ayat tersebut menyatakan bahwa hendaklah beramal saleh dengan ikhlas, jika mengharap berjumpa dengan Allah SWT.

Namun, sebagai amalan bathin, ikhlas bukanlah perkara mudah. Ia adalah rahasia Allah. Kita tidak bisa memastikan, terhadap diri kita sekalipun, bahwa ibadah yang kita lakukan berhias keikhlasan atau tidak. Seorang sufi bernama Abu Ya’qub bin al-Susiy pernah mengatakan, “Jika seorang telah mampu melihat dirinya telah ikhlas dalam beribadah, maka sesungguhnya keikhlasannya masih memerlukan keikhlasan lagi.”

Oleh karena itu, sesungguhnya ikhlas tidaklah terucap, tidak pula dirasakan, sekalipun bisa didefinisikan. Begitu lembut ikhlas itu, hanya Allah SWT yang berhak memastikan nilai keikhlasan, dan kita sebatas berusaha memahami dan berusaha menghiasi ibadah yang kita kerjakan dengan keikhlasan.

Sebab itulah Dzun Nun Al-Mishri, seorang tokoh sufi, memaparkan tiga ciri orang yang melakukan ibadah atau perbuatan dengan ikhlas, yaitu, pertama, pujian dan celaan baginya sama saja. Artinya, dipuja tidak bangga, dicaci tidak rendah diri. Kedua, tidak hirau dan tidak pula melihat-lihat pada apa yang dilakukannya. Baginya, apa yang telah dilakukannya ibarat nafas yang ia tarik dan keluarkan tanpa beban, dan tidak menghiraukan bahwa ia telah, sedang, dan akan menarik dan mengeluarkan nafas. Ketiga, tidak mengharap dan menghitung-hitung pahala akhirat. Ibadah yang dilakukan semata karena kesadaran akan Allah SWT.

Allah SWT telah menjanjikan pertemuan dengan orang-orang ikhlas semasa di dunia, dan merekalah orang-orang yang mendapat ridha Allah SWT saat menghadap-Nya. Nabi Muhammad SAW bersabda, “Siapa yang meninggal dalam keadaan ikhlas kepada Allah dan ikhlas dengan ibadahnya saat masih hidup, tidak mempersekutukannya, melaksanakan shalat dan membayar zakat, maka dia meninggal dalam keadaan Allah SWT telah meridhainya.” (HR. Ibnu Majah dari Anas bin Malik).

Tawasul; Relasi Memudahkan Komunikasi

20 June 2008 § Leave a comment


Mengimani Nabi Muhammad – juga para nabi yang lain – merupakan bagian integral dari keimanan dan keislaman seseorang. Islam sesorang tidak sempurna sehingga ia melengkapi keimanannya kepada Nabi Muhammad, sebab ia bagian dari rukun iman. “Mengimani” tidak sama dengan “mempercayai” (tashdiq).

Mengimani adalah mempercayai dengan segala konskwesnsi di belakangnya. Kepada Nabi Muhammad, Abu Tahlib, paman Nabi, baru sebatas mempercayai, belum mengimani. Sebab, kepercayaanya kepada Nabi tidak lantas membuatnya memeluk agama yang dibawa oleh Nabi. Keimanan tentu harus didasari oleh rasa cinta, walaupun rasa cinta tidak selamanya membawa kepada keimanan.

Para sahabat adalah contoh baik sosok yang memiliki cinta sejati kepada Kanjeng Nabi Muhammad shallahu’alaihi wasallam. Cinta mereka kepada Nabinya tidak terbatas dan melebihi apapun.

Sahabat ‘Ali bin Abi Thalib karrama allah wajhah suatu ketika pernah ditanya perihal kecintaannya kepada Kanjeng Nabi, beliau menajwab, “Nabi, Engkau lebih saya cintai ketimbang harta-harta yang saya miliki. Cinta saya kepada Engkau melebihi cinta saya kepada keluarga saya.”

Umar bin Khatab pernah memberikan pernyataan kepada Kanjeng Nabi, “Engkau adalah orang yang paling saya cintai. Cinta saya kepada engkau melebihi apapun, kecuali terhadap diri saya.”

Jawab Nabi, “Iman seseorang tidak akan sempurna sehingga saya lebih dicintai dari dirinya (jiwanya).” Mendengar tanggapan koreksi Nabi, Umar pun meralat pernyataanya, “Demi Allah, Engkau lebih saya cintai dari apapun, melebihi cinta saya kepada diri (jiwa) saya.” Nabi kemudian berkata seraya memberikan apresiasi kepada Umar, “Saat ini, iman kamu telah lurus, dan keyakinanmu telah sempurna.”

Dikisahkan, seorang perempuan dari kelompok Anshar yang kehilangan ayah, saudara, dan suaminya dalam perang Uhud (3 H), berkata kepada para sahabat, “Apa saja yang dikerjakan oleh Rasul?” Para sahabat menajwab, “Kebaikan. Beliau sebagaimana yang Engkau cintakan.” Perempuan tadi berkata, “Tunjukkan saya kepadanya!”

Para sahabat mengantarkan perempuan tersebut ke hadapan Nabi. Setelah bertemu langsung dengan Nabi, perempuan Anshar itu berkata, “Segala musibah setelah engkau adalah mudah.” Rasa duka yang dirasakan oleh perempuan Anshar karena kehilangan sanak saudaranya seketika lenyap setelah bertemu Nabi.

Begitulah. Cinta para sahabat kepada Nabinya tidak berdasarkan kalkulasi kepentingan. Cinta mereka tulus. Mereka sadar betul, bahwa cinta kepada Nabi pada hakikatnya adalah ekspresi cinta kepada Allah.

Cinta kepada Nabi mesti diapresiasikan dan diekspresikan segenap jiwa, sebagaimana yang dicirikan oleh Alquran. Dalam surat Ali Imran: 31-31, Allah berfirman, “Katakanlah (wahai Muhammad), “Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu.” Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Katakanlah (wahai Muhammad): “Taatilah Allah dan Rasul-Nya; jika kamu berpaling, maka sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang kafir.”

Ayat ini menunjuk ciri-ciri orang yang cinta kepada Allah dan Rasulnya. Sekaligus sebagai teguran bagi para hipokrit, yang menyatakan cinta manis hanya sebatas mulut.

Deskripsi di atas mewakili isi kitab Nûr al-Mubîn fi Mahabbah Sayyid al-Mursalîn karya al-‘Allamah Hadrah al-Syeikh Hasyim Asy’ari, yang juga pendiri NU dan Pesantren Tebuireng Jombang. Beliau adalah penulis produktif. Karya-karyanya sebagian besar dalam bahasa Arab dan masih berbentuk manuskrip (makhttuthath). Sebagian telah diterbitkan dan dikaji di pesantren-pesantren. Salah satunya adalah kitab tipis itu.

Sosok yang secara intent mengeksplorasi karya-karya Mbah Hasyim dan mengajarkannya secara bandongan kepada para santri adalah (alm.) KH. Ishom Hadzik (Gus Ishom), cucu dari anak perempuan Mbah Hasyim (saya sendiri ngaji kitab ini kepada beliau selama sebelas hari, 10 Maret – 21 Maret 2001 saat masih nyantri di Tebuireng). Pada setiap kitab mbah Hasyim yang ditahkik oleh Gus Ishom selalu tertulis sibth al-muallif (cucu [dari anak perempuan] pengarang). Termasuk dalam kitab ini.

Secara umum, kitab ini memperkenalkan pribadi Rasulullah. Perbab, dijelaskan sosok Nabi Muhammad sebagai Rasul yang harus ditaati dan diikuti ajaran yang dibawanya. Sebagai seorang Muhammad bin Abdullah bin Abdul Muthallib, yang memiliki keluhuran dan kemulian ahklak, ia adalah sosok yang pantas dicintai dan dihormati.

Melalui kitab ini, Mbah Hasyim seolah-olah mengajak berkenalan dengan Nabi Muhammad, beserta keluarga besarnya. Secara perbab pula, Mbah Hasyim memperkenalkan dan menjelaskan garis keturunan Nabi, putra-putri, paman, para istri, pelayan-pelayan, termasuk para budak yang pernah beliau miliki.

Tawasul

Dalam karya ini, Mbah Hasyim menjelaskan makna tawasul dalam bab tersendiri. Pembahasan tawasul ini bertitik dari ayat Alquran surat Al-Maidah ayat 35: yâ ayyuhalladzîna âmanû ittaqû allah wabtaghû ilaihi al-wasîlah/hai orang-orang yang beriman bertakwalah kalian kepada Allah dan carilah washilah (perantara) untuk sampai kepada-Nya.

Menurut Mbah Hasyim, kata al-wasîlah dalam ayat di atas memiliki arti “segala sesuatu yang telah jadikan/ditentukan oleh Allah, sebagai causa dan wushlah (medium) untuk memperolah obsesi materiil dan atau spiritual”. Dalam hal ini, al-wasîlah itu adalah sosok atau amalan yang yang dikehendaki oleh Allah dan sudah barang tentu baik menurut-Nya.

Karena kata al-wasîlah dalam ayat tersebut bersifat umum dan tidak menunjuk obyek tertentu, maka tawasul bisa dilakukan melalui wasilah sosok yang secara kategoris memiliki kemulian di sisi-Nya, seperti para Nabi, para wali Allah, dan orang-orang saleh, baik ketika mereka masih hidup atau setelah mati. Amalan-amalan saleh juga menjadi medium bertawasul.

Oleh karena itu, menurut mbah Hasyim, tawasul ada dua macam, pertama, tawasul dengan amalan-amalan saleh. Seperti shalat, puasa, haji, zakat, dzikir, infak dan sebagainya. Semua itu adalah medium yang telah Allah tentukan untuk menjupai-Nya.

Kedua, tawasul dengan medium orang-orang saleh. Seperti para Nabi, para wali, dan orang-orang saleh. Tawasul macam ini masih diperdebatkan legalitasnya. Tetapi, Mbah Hasyim cenderung memperbolehkannya.

Mbah Hasyim menukil perkataan Imam Taqiyyuddin al-Subki, “Perlu diketahui, bahwa bertawasul, istighasah dan meminta syafaat kepada Allah melalui perantara kemuliaan Nabi Muhammad adalah perbuatan baik yang sah. Kebolehan ini telah sejak lama dikenal oleh orang-orang Islam dan tidak ada yang mengingkari atau memprotesnya. Sehingga Ibnu Taimiyah muncul dan mengingkari tawasul tersebut, yang mempropagandakan larangan tawasul tersebut kepada orang-orang yang lemah secara intelektual. Perlu diketahui, bahwa larangan tawasul yang dilontarkan Ibnu Taimiyah adalah pendapat baru, yang tidak dikenal oleh ulama-ulama sebelumnya.”

Bagi Mbah Hasyim, tawasul dengan Nabi, pada hakikatnya adalah permohonan kepada Allah semata, sebaga prima causa. Nabi hanya sebagai wasilah, karena dianggap memiliki kemulian dan “posisi tawar” yang tinggi dihadapan Allah. Bukankah relasi memudahkan komunikasi. Para Nabi, para wali, para ulama saleh, mereka adalah orang-orang yang memiliki jiwa-jiwa yang bersih dan suci. Tentu saja relasi spiritual jiwa-jiwa yang bersih dengan Tuhan atau nilai-nilai ketuhanan lebih intim ketimbang jiwa yang tidak bersih. Orang-orang yang memiliki kedekatan relasi spiritual dengan Tuhan, tentu baginya komunikasi dengan-Nya lebih mudah. Sosok-sosok seperti inilah yang bisa “meyalurkan aspirasi” orang-orang yang “jauh” dari Tuhan.

Dalam hal tawasul, kita tetap meyakini hanya Allah sumber segalanya (prima causa). Dan, kepada Nabi Muhammad, kita hanya meyakini beliau adalah sosok yang memiliki relasi spiritual terdekat dengan Allah. Allah a’lam.

 

Mengurai Teks Yang Membelenggu Tuhan

6 June 2008 § 1 Comment


(Versi urai dari posting sebelumnya yang berujudul “Tuhan Dalam Bingkai Teks”)

Tuhan Dalam Lintasan Teks

Beberapa teks literal Alquran dan hadis menyebut posisi Tuhan yang berdiam pada suatu tempat. Sebut saja beberapa teks yang barangkali sudah sangat populer dalam teologi Islam seperti di bawah ini,

“Tuhan Yang Maha Pemurah, Yang bersemayam di atas `Arsy.” (Thaha: 5).

“Dia bersama kalian di mana pun kalian berada.” (Al-Hadid: 4).

Rasul pernah mengajukan pertanyaan menguji kepada salah seorang sahabat, “Di mana Allah?” Sahabat itu menjawab, “Dia ada di langit”. Jawaban itu dibenarkan oleh Rasul. (HR Muslim, Nasa’i, dan Abu Daud dari Muawiyah bin Hakam).

“Tuhan kita selalu turun ke “langit dunia” pada tiga paruh malam terakhir, dan memberikan tiga penawaran; pertama, siapa saja yang mau berdoa kepada-Nya, akan Ia kabulkan. Kedua, siapa saja yang meminta kepada-Nya, akan ia berikan. Dan yang ketiga, siapa saja yang meminta ampun kepada-Nya, akan Ia kabulkan.” (HR Bukhari, Muslim, Tirmizi, Abu Daud, dan Ibnu Majah dari Abu Hurairah).

“Aku akan selalu bersama orang yang selalu ingat kepada-Ku. Jika orang itu melangkah kepadaku hanya sejarak satu jengkal, Aku akan melangkah kepadanya sejarak satu tangan. Jika orang itu melangkah kepadaku sejarak satu tangan, Aku akan melangkah kepada-Nya sejarak dua tangan. Jika orang itu mendekat kepadaku dengan berjalan, aku akan menyusulnya dengan berlari.” (HR Muslim dan Ahmad dari Abu Hurairah).

Secara literal, dari teks-teks di atas, bisa dipahamai (atau sekedar membayangkan) sosok Tuhan yang begitu “manusiawi”, dalam arti, Dia juga melakukan atifitas-aktifitas layaknya manusia. Kata “bersemayam” (yang diterjemahkan dari teks Alquran: istawa), “turun” (dari teks hadis yanzilu), “belari/berjalan cepat” (uharwilu) dan semacamnya adalah kata-kata yang telah lazim digunakan oleh manusia (masyarakat arab) sebelum Alquran turun, dan merupakan kata-kata yang menunjuk pada aktifitas yang juga dilakukan manusia.

Dan Tuhan “meminjam” bahasa manusia itu, karena tentu saja manusialah penerima titah-titah ilahiyah sehingga kehendak-kehendak Tuhan yang terangkum dalam titah-titah itu bisa dipahami olehnya, walaupun sementara ada beberapa teks-teks Alquran yang bukan “bahasa manusia”, dalam arti, tidak pernah digunakan oleh manusia, yang disebut dengan lafdz mutasyabih, seperti kata “alif lam mim”, “alif lam ra”, “ha mim”, “tha ha”, dan sebagainya. Kata-kata itulah yang menjadi perdebatan para pakar tafsir sepanjang sejarah dalam pemaknaannya. Pemahaman atau pemaknaan paling populer terhadap-kata itu adalah “wallahu a’lam bimuridihi” atau “hanya Allah yang tahu maksudnya”.

Tapi, kita lalui saja lafdz mutasyabih itu, dan fokus ke pembahasan teks-teks dan Alquran dan hadis di atas.

Teks Alquran dalam surat Thaha: 5, “Tuhan Yang Maha Pemurah, Yang bersemayam di atas `Arsy”, dan teks-teks lain yang menyuratkan Tuhan menempati suatu ruang, jika dipahami secara literal dan apa adanya, akan memunculkan beberapa dugaan,

Pertama, Arsy adalah tempat tinggal Tuhan.

Kedua, sosok Tuhan yang terukur. Sebagaimana benda-benda atau sosok-sosok terukur lain yang menempati ruang tertentu, ukuran sosok Tuhan bisa saja sepadan, lebih besar, atau lebih kecil dari ruang yang ditempati-Nya itu (dalam hal ini Arsy).

Ketiga, sosok Tuhan yang terarah, dalam arti yang sebenarnya, yaitu Dia dikelelingi oleh arah mata angin atau arah-arah tertentu (kanan, kiri, depan, belakang, atas, serong dan seterusnya). Sebab, semua citaan Tuhan, termasuk Arsy, dikelilingi oleh arah mata angin dan arah-arah tertentu. Maka, tak berlebihan, jika Tuhan yang menempati Arsy pun juga demikian.

Keempat, personifikasi Tuhan sebagai fisik yang terdiri atas organ-organ, sebagaimana mahluk-mahluk ciptaan-Nya, termasuk Arsy, yang dalam istilah teologi Islam disebut dengan jism. Jika Tuhan menempati Arsy yang jism, maka Dia merupakan jism pula (la yastaqirru ‘ala jism illa jism mitsluh).

Jika melihat teks Alquran surat Thaha: 5 di atas, dugaan-dugaan seperti itu atau juga dugaan-dugaan lain, mungkin saja bisa terlintas atau terpikirkan oleh sebagian orang. Namun, jika kita sepakat bahwa Tuhan bukanlah manusia dan selamanya manusia tidak akan seperti Tuhan, maka dugaan-dugaan seperti itu menjadi tidak tepat dan menjadi dugaan (baca: pemahaman) yang rancu. Inilah yang saya maksud dengan kerancuan pemahaman intrateks.

Di sisi lain, teks-teks agama yang mengindikasikan keberadaan posisi Tuhan bukan hanya surat Thaha: 5 di atas. Jika dalam sura Thaha: 5 menyuratkan posisi Tuhan ada di Arsy, surat Al-Hadid: 4 menyuratkan keberadaan posisi Tuhan di tempat lain, “Dia (Tuhan) bersama kalian di mana pun kalian berada.” (Al-Hadid: 4). Di lain teks, “Dia ada di langit”.

Jadi, di mana Tuhan? Di Arsy? Selalu bersama kita? Atau di langit? Atau, sosok Tuhan itu lebih dari satu, sehingga Dia ada di mana-mana? Atau teks-teks itu sebenarnya bermasalah karena memberikan informasi yang kontradiktif (kontradiksi interteks)?

Mengurai Teks Yang Membelenggu Tuhan

Ada beberapa teori untuk mengurai teks-teks semacam di atas. Namun bagi saya, takwil (ta’wil) adalah teori yang lebih bisa melakukan uraian itu. Takwil bisa diartikan sebagai pengalihan arti literal dari sebuah teks, untuk menemukan arti lain demi menghindari dua hal, pertama, menghindari kerancuan pemahaman intrateks. Kedua, menghindari (kesan) kontradiksi interteks.

Saya segaris dengan pendapat yang menyatakan bahwa, pada teks-teks Alquran dan hadis shahih, tidak akan mungkin terjadi kontradiksi interteks (Alquran dengan Alquran, hadis dengan hadis, atau Alquran dengan hadis) atau kerancuan pemahaman intratreks. Sebab, tidak mungkin pula, Tuhan menurunkan satu teks, pada saat yang sama menurunkan kontrateks-nya. Pun jika terjadi kontradiksi interteks, bisa jadi itu hanya kesan yang ditangkap nalar pembaca teks itu. Takwil barangkali bisa mencairkan kontradiksi interteks dan kerancuan pemahaman intrateks semacam itu.

Seperti disebutkan di atas, teks Alquran dalam surat Thaha: 5, “Tuhan Yang Maha Pemurah, Yang bersemayam di atas `Arsy”, jika dipahami literal dan apa adanya, akan memunculkan dugaan-dugaan seperti tersebut di atas, di samping itu akan terkesan kontradiktif dengan beberapa teks, antara lain “Dia bersama kalian di mana pun kalian berada.” (Al-Hadid: 4) dan “Dia ada di langit” (HR Muslim, Nasa’i, dan Abu Daud dari Muawiyah bin Hakam).

Maka, dengan teori takwil, surat Thaha: 5 di atas bisa diartikan dan dipahami sebagai “Tuhan Yang Berkuasa atas Arsy”. Kata istawa (bersemayam) diterjemahkan dengan “berkuasa”. Arti itu bisa dipahami sebagai simbol kedigdayaan dan kekuasaan Tuhan yang tak terhingga dan tak terbatas atas segala sesuatu, bahkan terhadap Arsy yang merupakan simbol mahluk paling besar (a’dzam al-makhluqat).

Itu adalah pilihan termungkin di antara beberapa pilihan arti yang kurang sesuai dengan karakter-karkter (sifat-sifat) Tuhan. Jika teks itu tetap dipahami apa adanya, akan memunculkan dugaan-dugaan, seperti “Arsy adalah tempat tinggal Tuhan”, “sosok Tuhan yang terukur”, dan “sosok Tuhan yang terarah”, yang semua itu mempersonifikasikan Tuhan layaknya mahluk atau benda. Dan itu sama sekali bertentangan dengan sifat-Nya yang mukhalafah lil hawadits (tidak sama dengan mahluknya).

Sama seperti “perlakuan” terhadap surat Thaha: 5, demikian juga terhadap surat Al-Hadid: 4, “Dia (Tuhan) bersama kalian di mana pun kalian berada.”. Teks ini tidak semestinya dibiarkan dan dipahami apa adanya. Jika tidak, selain akan bertentangan dengan surat Thaha di atas, juga akan memendar pemahaman dan dugaan yang rancu. Mungkinkah, jika Dia ada di Arsy, dan pada saat yang sama Dia ada di bumi bersenyawa dengan manusia? Apakah Tuhan memiliki “sosok” lebih dari satu, tersebar di antara para manusia, dan selalu mengikuti di mana pun manusia berada? Dan “sosok” Tuhan itu tumbuh dan hilang bersama tumbuh dan matinya manusia?

Saya kira, dugaan-dugaan seperti itu tak tak benar ditujukan kepada Tuhan. Oleh karenanya, perlu ada pengalihan arti surat Al-Hadid: 4 tersebut ke arti lain, demi menghindari kerancuan pemahaman. Dan arti yang lebih mungkin (lebih pantas) adalah “Dia (Tuhan) akan selalu tahu di mana pun kalian berada, apapun yang kalian kerjakan, apa pun yang kalian pikirkan, dan apa pun yang kalian rasakan.” Katakanlah, teks itu berbicara tentang sifat Tuhan Yang Maha Tahu, dan bukan tentang keberadaan posisi-Nya. Saya kira, makna ini lebih positif dan mentahzihkan Tuhan dari personifikasi apapun.

Takwil juga semestinya diberlakukan untuk memahami hadis Nabi, “Tuhan kita selalu turun ke “langit dunia” pada tiga paruh malam terakhir.” (HR Bukhari, Muslim, Tirmizi, Abu Daud, dan Ibnu Majah dari Abu Hurairah).

Dari perspektif takwil, arti yang layak dari hadis itu adalah Allah akan menaburkan segenap rahmat kepada orang-orang yang mau menyisihkan sebagian malamnya untuk beribadah, tatkala sebagian orang terlelap dalam kegelapan malam. Waktu malam menjadi penekanan, karena bagi kebanyakan orang, saat itu adalah waktu tersulit untuk sekedar bangun, apalagi digunakan untuk beribadah.

Juga terhadap hadis Nabi, “Aku akan selalu bersama orang yang selalu ingat kepada-Ku. Jika orang itu melangkah kepadaku hanya sejarak satu jengkal, Aku akan melangkah kepadanya sejarak satu tangan. Jika orang itu melangkah kepadaku sejarak satu tangan, Aku akan melangkah kepada-Nya sejarak dua tangan. Jika orang itu mendekat kepadaku dengan berjalan, aku akan menyusulnya dengan berlari.” (HR Muslim dan Ahmad dari Abu Hurairah)

Arti termungkin dari hadis itu adalah, sesungguhnya rahmat dan karunia yang telah diberikan Tuhan dan telah dinikmati manusia, lebih besar dan lebih banyak ketimbang amal ibadah dan pengabdian manusia kepada-Nya.

Tuhan dan Simbol

Jika diperhatikan, beberapa teks Alquran (dan hadis), terutama yang berbicara tentang pribadi (dzat) Tuhan, lebih banyak berbentuk simbol, dalam arti tidak bisa langsung dipahami begitu saja apa adanya. Dikatakan simbol, sebab Dia menyampaikan titah-titah itu menggunakan “bahasa manusia”, tapi tidak layak disebut telah melakukan “aktifitas manusiawi”. Karena, jika Dia menggunakan “bahasa manusia” dan diklaim telah melakukan “aktifitas manusiawi”, maka Dia pun berhak diklaim sebagai mahluk, sebagimana manusia.

Barangkali itu bisa dipahami. Sebab, manusia tidak akan pernah tahu tentang “jati diri” Tuhan yang sebenarnya. Bahkan tahu, untuk sekedar terkelibat di pikiran atau terbesit di hati saja, Tuhan tidak akan pernah seperti yang diketahui, terpikirkan atau terbesit oleh manusia. Di dalam Alquran, disebutkan, “Tidak ada apapun yang serupa dengan-Nya. Dia yang Maha Mendengar dan Melihat.” (As-Syura: 11). Dan benarlah adagium “Jangan pernah berpikir tentang pribadi Tuhan, tapi berpikirlah tentang ciptaan Tuhan”. Adagium itu bukan soal larangan berpikir tentang Tuhan, tapi bicara tentang ke-Maha-an Tuhan yang tak tersentuh oleh pikiran manusia, sehebat apapun itu. Pikiran manusia hanya mampu menalar sebatas ciptaan-Nya.

Sebab itu, saat Tuhan hendak menjelaskan diri-Nya kepada manusia, Dia menggunakan “bahasa manusia”, agar mudah dipahami oleh manusia sendiri, namun tidak dengan “pemahaman manusiawi”. Ketika Tuhan menjelaskan diri-Nya “bersemayam”, “turun”, “melangkah” dan sebagainya, bahasa-bahasa itu tak layak dipahami sebagaimana memahami jika manusia yang melakukan itu. Dan bahasa takwil merupakan salah satu cara yang mungkin untuk memahaminya.

Takwil menjadi cara yang absah untuk memahami teks-teks agama, dan Tuhan sendiri yang mengabsahkannya. Perhatikan hadis qudsi di bawah ini…

Pada hari kiamat kelak, dikisahkan Tuhan berdialog dengan hamba-Nya. “Hai manusia, aku pernah sakit, kenapa Kau tidak menjenguk-Ku? Aku pernah kelaparan, kenapa Kau tidak memberi-Ku makanan? Aku pernah kehausan, kenapa Kau tidak memberi-Ku minuman?”

Dengan bingung, hamba tersebut berkata, “Wahai Tuhanku, bagaimana aku bisa menemui-Mu dan menjenguk-Mu, memberi-Mu makanan dan minuman, sedangkan Engkau adalah Tuhan semesta alam?!”

Lalu Tuhan menjawab, “Wahai manusia, tidakkah Kau tahu, hambaku si Fulan pernah sakit?! Tidakkah Kau tahu, hambaku si Fulan pernah kelaparan dan kehausan?! Aku tahu, Kau mengetahui semua kenyataan itu, hanya saja Kau tidak mau peduli. Padahal jika Kau mau peduli kepada mereka, niscara Kau akan menjumpai-Ku di sisi mereka.” (HR Muslim dari Abu Hurairah).

Tuhan Dalam Bingkai Teks

4 June 2008 § Leave a comment


Di Mana Tuhan?

Beberapa teks literal Alquran dan hadis menyebut posisi Tuhan yang berdiam pada suatu tempat. Sebut saja teks yang barangkali sudah sangat populer dalam teologi Islam seperti di bawah ini,

“Tuhan Yang Maha Pemurah, Yang bersemayam di atas `Arsy.” (Thaha: 5).

Rasul pernah mengajukan pertanyaan menguji kepada salah seorang sahabat, “Di mana Allah?” Sahabat itu menjawab, “Dia ada di langit”. Jawaban itu dibenarkan oleh Rasul. (HR Muslim, Nasa’i, dan Abu Daud dari Muawiyah bin Hakam).

Dan pada suatu waktu, Dia beranjak dari kediaman-Nya menuju ke tempat yang lain untuk suatu “keperluan”,

“Dialah Allah, yang menjadikan segala yang ada di bumi untuk kamu dan Dia berkehendak menuju langit, lalu dijadikan-Nya tujuh langit.” (Al-Baqarah: 29).

Setelah itu, Dia kembali ke “peraduan-Nya”,

“Sesungguhnya Tuhan kamu ialah Allah yang telah menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, lalu Dia bersemayam di atas `Arsy.” (Al-A’raf: 54. Ayat ini juga menjadi penggalan ayat dalam surat Yunus: 3).

“Allah-lah Yang meninggikan langit tanpa tiang (sebagaimana) yang kalian lihat, kemudian Dia bersemayam di atas `Arsy.” (Ar-Ra’d: 2).

Dia bukan “sosok rumahan” yang hanya senang berdiam diri asyik di “dunia atas”, tapi kerap turun ke “dunia bawah”, sebagaimana penuturan Rasul,

“Tuhan kita selalu turun ke “langit dunia” pada tiga paruh malam terakhir, dan memberikan tiga penawaran; pertama, siapa saja yang mau berdoa kepada-Nya, akan Ia kabulkan. Kedua, siapa saja yang meminta kepada-Nya, akan ia berikan. Dan yang ketiga, siapa saja yang meminta ampun kepada-Nya, akan Ia kabulkan.” (HR Bukhari, Muslim, Tirmizi, Abu Daud, dan Ibnu Majah dari Abu Hurairah).

Dia juga selalu berjalan beriringan dengan kita, manusia, kapan pun dan di mana pun,

“Dia bersama kalian di mana pun kalian berada.” (Al-Hadid: 4).

Bukan hanya itu, Dia juga “bergaul” erat dengan kita. Sikap baik kita kepada-Nya, akan berbalas kebaikan melebihi kebaikan yang kita berikan,

“Aku akan selalu bersama orang yang selalu ingat kepada-Ku. Jika orang itu melangkah kepadaku hanya sejarak satu jengkal, Aku akan melangkah kepadanya sejarak satu tangan. Jika orang itu melangkah kepadaku sejarak satu tangan, Aku akan melangkah kepada-Nya sejarak dua tangan. Jika orang itu mendekat kepadaku dengan berjalan, aku akan menyusulnya dengan berlari.” (HR Muslim dan Ahmad dari Abu Hurairah).

Saking erat, tanpa kita sadari, Dia telah menyatu dengan jasad kita,

“Aku lebih dekat kepada manusia dari pada urat lehernya sendiri.” (Qaf: 16).

Jadi, di mana Tuhan?

Tuhan bersemayam di Arsy… Tuhan melayang di langit… Tuhan ada di “langit dunia”… Tuhan berada dekat lebih erat ketimbang urat leher kita… Tuhan ada dalam ingatan kita… Tuhan ada di mana kita berada… Kita berada di mana Tuhan ada… Tuhan ada di mana-mana… Tuhan ada dalam lintasan teks…

*Tulisan ini akan dilanjutkan dengan versi urai pada posting selanjutnya dengan judul “Mengurai Teks Yang Membelenggu Tuhan”.

Ikhsan

23 March 2008 § Leave a comment


Oleh Juman Rofarif

“Kolom Hikmah” Republika, 08 Januari 2008

Suatu ketika, Nabi Muhammad SAW mendapat pelajaran penting tentang makna iman, Islam, dan ikhsan dari Malaikat Jibril yang mendatangi beliau dengan menjelma menjadi manusia biasa.

Secara berurutan, Nabi menjawab pertanyaan ujian Malaikat Jibril. Apa yang disebut iman? Nabi menjawab, ”Iman adalah engkau percaya kepada Allah, para malaikat, kitab-kitab Allah, percaya akan adanya perjumpaan dengan Allah, percaya kepada para rasul, dan percaya adanya hari kebangkitan.” Apa yang disebut Islam? Nabi menjawab, ”Islam adalah engkau menghamba kepada Allah dan tidak menyekutukannya, melaksanakan shalat, mengeluarkan zakat, dan puasa di bulan Ramadhan.”

Apa arti ikhsan? ”Engkau beribadah kepada Allah dengan kondisi seolah-olah engkau melihatnya dengan mata. Jika tidak, yakinilah bahwa Allah sedang melihatmu,” demikian jawab Nabi. (HR Bukhari dari Abu Hurairah). Iman, Islam, dan ikhsan adalah satu kesatuan komponen agama Islam yang tak terpisahkan. Ketiga komponen tersebut seharusnya terintegrasi secara berimbang dalam keberislaman seorang Muslim. Dan pengurutan seperti itu bukanlah kebetulan. Iman didahulukan karena ia adalah pokok dari Islam.

Selanjutnya, iman di dalam hati menjadi tidak bermakna jika tidak dimanifestasikan dalam tindakan nyata, yang diimplementasikan dalam Islam. Agama Islam pada diri seorang Muslim harus dibenarkan dengan hati (iman) dan dipraktikkan dengan perbuatan (Islam). Dan ikhsan adalah penyatuan dari iman dan Islam. Artinya, seseorang tidak akan bisa melihat Allah SWT, jika tidak percaya akan Mahawujud-Nya, serta tidak mengamalkan apa yang menjadi perintah dan larangan-Nya. Ikhsan bisa diraih jika iman dan Islam telah menjadi satu kesatuan tak terpisahkan dalam diri seorang Muslim. Sebab, iman tidak bermakna tanpa Islam. Dan Islam tanpa iman akan rapuh.

Namun, ada sebagian ulama yang mendahulukan Islam, kemudian iman, dan ikhsan. Alasannya adalah karena Islam adalah amalan lahir yang rasional, sedangkan iman adalah amalan batin yang suprarasional. Dan ikhsan adalah puncak pencapaian dari keduanya dan melampaui keduanya. Kenapa ikhsan diakhirkan? Hal itu menjadi isyarat bahwa ia adalah hal yang sulit dilakukan. Jika Islam terbatas pada lahiriah, iman terbatas pada batiniah, maka ikhsan tidak terbatas pada keduanya, karena berusaha memfokuskan kesadaran kita akan Allah SWT setiap saat.


Where Am I?

You are currently browsing entries tagged with tasawuf at Warung Nalar.

<span>%d</span> bloggers like this: