Senang di Dunia, Senang di Akhirat; Ma‘ruf al-Karkhi yang Bijaksana

16 June 2010 § 2 Comments


Hampir setiap malam, di teras rumah yang berada di depan rumah saya—maksud saya: rumah kontrakan saya—di daerah pinggiran Jakarta, beberapa pemuda selalu menghabiskan waktu selama beberapa jam untuk bersenang-senang: menikmati lintingan ganja. Duduk melingkar sambil membicarakan apa saja. Wajah-wajah mereka kusam. Mata di wajah mereka merah. Suara-suara mereka terdengar berat khas orang mabuk. Terkadang tertawa terbahak-bahak. Kencang. Dalam kondisi seperti itu tentu saja mereka tidak bisa diharapkan untuk memahami suasana. Justru kami—saya dan beberapa penghuni kontrakan lain, para pendatang—seolah-olah yang diharuskan memahami kesenangan para « Read the rest of this entry »

Menjadi Burung Bersayap Sempurna: Kisah Syaqiq al-Balkhi & Ibrahim ibn Adham

17 May 2010 § Leave a comment


Syaqiq al-Balkhi adalah seorang pengusaha kaya yang memiliki orangtua yang juga pengusaha kaya.

Suatu ketika, ia keluar daerah untuk melakukan perjalanan niaga. Di tengah perjalanan ia beristirahat di sebuah tempat ibadah milik agama penyembah berhala, dan menjumpai penjaga tempat ibadah itu sedang mencukur rambut dan jenggotnya, lalu mengenakan pakaian sembahyang. Syaqiq seorang muslim yang taat. Dan tentu saja, bagi seorang muslim, berhala adalah benda mati yang tak patut dijadikan sesembahan.

“Kau memiliki Pencipta Yang Mahahidup, Mahatahu, Mahakuasa,” kata Syaqiq kepada penjaga itu, setelah melihatnya telah rapi. “Dialah yang seharusnya kausembah, bukan benda mati bernama berhala yang tak bisa berbuat apa-apa itu.” « Read the rest of this entry »

Si Tuli dan Kentut

6 October 2009 § Leave a comment


Suatu ketika, Hatim didatangi oleh seorang perempuan yang hendak berkonsultasi tentang suatu hal. Berbarengan dengan saat bertanya, perempuan itu kelepasan kentut. Hatim lalu berkata, “Maaf, Anda bertanya apa? Mohon, angkat sedikit suara Anda agar saya dapat mendengarnya dengan baik.” Perempuan itu berpikir, Hatim ini memiliki pendengaran yang kurang baik, dan pasti tidak mendengar kentut barusan.

Selesai urusan, perempuan itu pun pulang dengan perasaan lega dan barangkali tak perlu terlalu malu kepada dirinya sendiri dan kepada Hatim.

Sejak peristiwa itu, tersebar kabar bahwa Hatim orang yang pendengarannya kurang baik. Dan, bukan hanya kabar angin, orang-orang pun mengetahui sendiri bahwa Hatim memang demikian. Lalu, orang-orang pun menjuluki Hatim dengan al-asham atau si tuli.

Sampai kemudian perempuan itu meninggal dunia. Hatim lalu menceritakan keadaan diri bahwa sesungguhnya ia tidak benar-benar tuli. Apa yang ia lakukan hanya kepura-puraan. Saat perempuan itu kentut di hadapannya, ia pura-pura tidak mendengar. Dan, ia berjanji, kepura-puraan itu akan ia jaga selama si perempuan masih hidup, semata karena tidak ingin membuat perempuan itu malu. Hatim ingin menjaga harga diri perempuan itu.

* * *

Abu Abdurrahman Hatim ibn Ulwan, itulah nama lengkapnya—seorang tokoh sufi dari negeri Khurasan, meninggal pada 237 H atau 851 M—atau lebih dikenal dengan nama Hatim al-Asham, Hatim Si Tuli.

[al-Risalah al-Qusyairiyyah fi ‘Ilm al-Tashawwuf karya Imam al-Qusyairi]

Sajak Si Tuli

6 October 2009 § Leave a comment


Setiap saat,
setan selalu berbisik kepadaku,
‘Apa yang akan kaumakan?
Apa yang akan kaukenakan?
Dan, di mana kau akan tinggal?’.

Dan, selalu kujawab,
‘Yang akan kumakan adalah kematian.
Yang akan kukenakan adalah kafan.
Dan, aku akan tinggal di kuburan’.

———————————————–

Sajak Abu Abdurrahman Hatim ibn Ulwan, itulah nama lengkapnya—seorang tokoh sufi dari negeri Khurasan, meninggal pada 237 H atau 851 M—atau lebih dikenal dengan nama Hatim al-Asham, Hatim Si Tuli. Sajak ini diambil dari al-Risalah al-Qusyairiyyah fi ‘Ilm al-Tashawwuf karya Imam al-Qusyairi

Pada Ketenangan Jiwa

25 March 2009 § 2 Comments


Harta adalah harta. Pada dirinya, ia tidak mulia atau hina, baik atau buruk. Ia mati dan manusia menghidupkannya, untuk kemudian berada dalam kendali dan memberi arti atau justru menjadi tuan penguasa diri. Dengan harta, mampukah manusia menjadi hamba yang baik di hadapan Sang Pemilik, atau justru menjadi hamba harta dan mengabdi kepadanya.

Tutur kata Kitab Suci, “innama amwalukum wa auladakum fitnah. Wallahu ‘indahu ajr adzim.” “Harta dan anak-anakmu hanyalah materi ujian bagimu. Hanya di sisi Tuhan pahala yang besar”.

Begitulah hakikat harta dan segala pesona dunia. Sebagai ujian, ia ditimpakan kepada siapa saja, lintas strata, dan tanpa pandang bulu: cendekiawan, pejabat, agamawan, dan siapa pun yang tak terdefinisikan dalam titel dan sebutan. Masing-masing diuji dengan apa yang ada pada mereka. Yang kaya diuji dengan kekayaannya. Yang miskin diuji dengan kemiskinannya. Kekayaan dan kemiskinan bukanlah sesuatu apa. Keduanya hanya instrumen ujian, berada di garis yang sama dengan perbedaan semu.

Tutur Suci di atas tak hanya memastikan harta adalah ujian, namun juga menunjukkan, sesungguhnya harta – juga jenis kenikmatan duniawi lainnya – seberapa pun banyaknya, tidak memiliki nilai sama sekali di hadapan Tuhan. Sebanyak apa pun harta yang dimiliki seseorang, ia tetap kecil di hadapan-Nya dan tidak kekal. Yang bernilai adalah apa yang ada di sisi Tuhan, yaitu ketika harta itu difungsikan dengan tepat, sesuai hak dan kewajiban yang diamanatkan pada harta itu, ketika sebagai intstumen ujian, seorang manusia berhasil lulus dengan baik.

Kesadaran memahami kehidupan dunia sebagai ujian semacam di atas perlu dibangun agar tak ada fitrah kemanusiaan yang tercerabut. Kitab Suci menyebutkan, “Ya ayuhalladzina amanu la tulhikum amwalukum wa auladukum ‘an dzikrillah. Waman yaf’al dzalik, faualaika hum al-khasirun.” ”Wahai orang-orang beriman, jangan sampai harta dan anak-anak yang Kau miliki melalaikanmu dari Tuhan. Siapa yang terlalaikan, itulah orang yang rugi.”

Karena itu, sikap terbaik dalam menjalani hidup adalah zuhud, asketis. Zuhud adalah sikap di mana harta dan kenikamatan duniwai tak menyilaukan mata dan membutakan hati. Sebaliknya, juga tak menjejakkan duka merana ketika segala kenikmatan tersebut dicabut dan tiada.

“Likaila ta’sau ‘ala ma fatakum, wala tafrahu bima atakum,” begitu tersebut dalam Kitab Suci. “Supaya Kau tak berduka pada apa yang telah luput darimu, dan tak terlampau gembira pada apa yang Ia beri untukmu.”

Sikap zuhud mengontrol manusia dari dalam jiwa. Yang hilang tak akan membuatnya meradang. Yang datang tak akan menjadikannya senang bukan kepalang. Sikap zuhud menemani manusia menjalani hidup dengan tenang bersama yang ada, bahkan dengan yang tiada.

“Kekayaan adalah ketenangan jiwa.” Yakni, tenang dengan apa, bagaimana, dan berapa pun yang ada, bahkan tenang ketika yang ada adalah ketiadaan.

Dipertemukan dengan suami yang gagah sekali atau tak gagah sama sekali, dijodohkan dengan istri yang ayu sekali atau tak ayu sama sekali, dikaruniai anak berbakat luar biasa atau biasa saja atau bahkan di luar kebiasaan, dianugerahi kekasih yang menawan sekali atau tak menawan sama sekali, diberi harta banyak sekali atau sedikit sekali, dan sebagainya dan seterusnya, atau bahkan tak dikarunia satu pun di antara semua itu, tetap saja pada akhirnya ada yang lebih ingin dicari dan dimiliki di balik semuanya: ketenangan jiwa.

Sebab, pada ketenangan jiwa, seseorang merasa cukup dan berhenti melakukan pencarian. Meski tak mudah.[jr]

Dalam Pencarian

9 February 2009 § 1 Comment


Sejarah kebijaksanaan adalah sejarah kehilangan. Dan sejarah kehilangan adalah sejarah pencarian. Apa yang hilang tak selalu apa yang pernah ada yang menjadi tiada. Tapi juga apa yang belum ada dan diketemukan, yang mesti dicari – mengisyaratkan betapa penting betul ia.

Dan, sejarah pencarian adalah sejarah ketak-pastian. Ada pun Imam al-Ghazali yang berhenti pada “Thuruq al-Shufiyah”, Jalan Sufisme, yang ia katakan sebagai “jalan terbaik dan terbenar untuk sampai pada kesadaran akan Tuhan” – seperti ia tuturkan dalam al-Munqidz min al-Dhalal (Pengentas Kesesatan), sebuah memoar pengembaraan spiritual dan intelektual – maka sebaiknya dipahami sebagai jalan alternatif di mana ia akhirnya menapak dengan nyaman dan nikmat dalam menghayati Tuhan dan ketuhanan. Di antara sekian alternatif “obat”, pada Thuruq al-Shufiyah ia menjumpai penyembuhannya. Dan yang alternatif selamanya tak pernah absolut.

Sang Imam melakukan pencarian menemukan “ilmu” yang mampu menyingkap hakikat sesuatu tanpa sisa-sisa keraguan, yang ia sebut dengan ilmu yaqini. Ia menerjunkan diri dalam proses. Ia memasuki banyak ruang kemungkinan. Ia menjamah kosmos ilmu kalam, menelaah karya para mutakalimun (teolog) dan merefleksikan pandangan-pandangan teologinya dalam beberapa karya. Namun, pada akhirnya, ilmu kalam, katanya, tetap tak mampu mengobati “penyakit” yang ia derita.

Beranjak dari ilmu kalam, Imam al-Ghazali melakukan pencarian dalam filsafat. Lebih dari dua setengah tahun ia sempatkan diri untuk dunia filsafat, bergulat di dalamnya. Sampai akhirnya ia berksesimpulan, karya-karya filsafat yang ia jumpai hanya berisi “keraguan-keraguan yang tak diragukan”. Ia pun beranjak meninggalkannya.

Ketika yang ada hanyalah kemungkinan-kemungkinan – keniscayaan dari sebuah pencarian –, pilihan pada salah satu kemungkinan sesungguhnya bukan lagi semata berdasar pada kebenaran nalar dan perhitungan rasional, tapi kenyamanan dan ketentraman hati. Yang rasional mungkin selalu bisa menjawab, tapi tak selalu bisa menentramkan. Dan Imam al-Ghazali merasakan kenyamanan dan ketentraman hati itu dalam alternatif yang ia pilih selanjutnya: “Thuruq al-Shufiyah”, Jalan Sufisme. Sekali lagi, yang alternatif selamanya tak pernah absolut, sebagaimana ia menilai ilmu kalam semata sebagai “obat” yang hanya dibutuhkan saat sakit. Penderita bisa saja berhenti mengkonsumsi obat, jika ia terbukti tidak manjur, dan beralih ke obat lain.

Pencarian mengisyaratkan adanya diri yang tak sempurna dan memadai, diri yang gelisah. Ada yang lebih penting dalam pencarian, sebetulnya, ketimbang hasil pencarian itu sendiri – yang sangat mungkin bersifat subyektif dan personal – yaitu proses persentuhan dan perjumpaan dengan orang lain, siapa pun ia, atau bakan dengan apa pun. Maka, berrendah hati – menjadi sosok gelas kosong dan bening yang memungkinkan air masuk dan cahaya merasuk – adalah keharusan dalam proses itu. Sebab, dari proses itulah kebijaksanaan muncul, menunjukkan dan menegaskan adanya kelemahan dan kekurangan: diri yang tak sempurna dan memadai itu. Sekaligus proses mengeliminasinya.

Al-hikmah dhallah al-mu’minin, haitsu wajadaha akhadzaha, dalam ungkapan Arab yang terkenal. Kebijaksanaan adalah barang hilang orang-orang beriman. Di mana pun ia dijumpai, pungutlah.[jr]

Ambiguitas Tuhan

26 January 2009 § 3 Comments


Tuhan adalah sosok yang tak terjangkau, berada di tempat yang teramat jauh. “Ia ada di langit,” kata seorang perempuan, suatu ketika, kepada Rasul. “Perempuan itu telah beriman,” ujar Rasul menilai-benarkan apa yang perempuan tersebut tahu dan hayati tentang Tuhannya.

Langit, jika mungkin ia suatu tempat, maka pastilah tak terhingga jauhnya, tak ada alat ukur untuk menjangkaunya, kecuali hanya sebatas kata. Mungkin, begitu juga dengan al-‘arsy: tempat asing nun jauh di alam antah berantah yang tak terpindai pikiran manusia, di mana Tuhan singgah setelah mencipta semesta. Langit dan al-arsy, sejatinya mungkin sesuatu yang ada, namun yang pasti tak terkira.

Agaknya Tuhan pun tahu akan hal itu, sadar diri-Nya adalah sosok yang jauh, di mana manusia tak bisa hadir untuk menjangkau-Nya. Maka, Ia selalu hadir pada dini hari, pada suatu waktu yang hening, menyambangi setiap manusia yang rindu, mempersilakan diri-Nya dipeluk dan dijamah dengan segenap penghayatan. Bagi sebagian orang, Tuhan yang gaib mungkin bisa “nyata” di gelap malam yang hening, di sebuah “rumah Tuhan” di mana manusia bisa menjumpai-Nya.

Tuhan yang tak terjangkau, yang jauh di langit, yang singgah gagah di al-‘arsy, mungkin lebih disadari dan dimengerti. Sebab, barangkali, dengan semua itu, sosok Tuhan dapat dibanggakan, seolah ke-maha-an-Nya lebih tampak.

Dan ketika Tuhan hadir dalam sosok yang tersisihkan dan terpinggirkan di pojok-pojok bumi, yang hanya terlintas sekilas oleh pandangan mata, yang cuma menempati pojok kecil di ruang pikiran, atau bahkan tak pernah terpikirkan, maka hal itu mengherankan dan tak bisa dimengerti.

Serangkai cerita kecil datang dari Rasul. Dikisahkan, Tuhan berdialog dengan manusia, di akhirat.

“Aku pernah sakit, kenapa kau tak menjenguk? Aku pernah kelaparan dan kehausan, kenapa kau tak peduli?” tanya Tuhan kepada manusia.

Dengan ketak-mengertian mendalam, manusia tersebut berkata, “Tuhan, bagaimana aku bisa menjenguk-Mu, mengantarkan makanan dan minuman untuk-Mu, sedangkan Kau adalah Tuhan semesta alam?!”

Tuhan menjawab, “Tidakkah kau tahu, hambaku si Fulan pernah sakit?! Tidakkah kau tahu, hambaku si Fulan pernah kelaparan dan kehausan?! Aku tahu, kau tahu semua itu, hanya saja kau tak mau peduli. Padahal jika kau mau mendekati mereka, niscaya kau akan menjumpaiku di sisi mereka.”

Tuhan hadir dalam ambiguitas yang mengesankan. Ia mengawang di langit jauh, singgah gagah di singgasana al-‘arsy, dan sekaligus senantiasa bersama manusia di bumi, bahkan lebih banyak bersama manusia-manusia tersisih yang tak menyita perhatian mata.

Ambiguitas ini menyiratkan pemaknaan dan penghayatan yang luas tak terbatas tentang Tuhan. Karenanya, setiap hati memiliki kemandirian dan kebebasan mencari pemaknaan dan penghayatan itu sampai pada pilihan di mana ia merasakan kenyamanan.[jr]

Wajah Tuhan

23 January 2009 § 3 Comments


Musa begitu berhasrat memandang wajah Tuhan – setelah terhanyut nikmat oleh merdu suara-Nya. Laisa al-khabar ka al-mu’ayanah. Mendengar merdu suara Tuhan adalah kenikmatan, Musa membayangkan; maka apalagi sambil memandang wajah pemilik suara itu. Rindu rasa membuat Musa rindu rupa. Raga memang selalu butuh pemuasannya.

Namun, Tuhan tak berkenan. Ia menolak permohonan Musa untuk mewujud diri dalam rupa yang terang, dan memilih hadir dalam kebijaksanaan. Ia menjadikan diri-Nya tetap sebagai kerinduan, senantiasa menjadi bayang-bayang ketak-pastian, menjadi Yang Tak Terang, untuk Musa dan semua manusia, selamanya.

Justru dengan itu orang beriman dan tak pernah jera untuk itu. Subhanaka tubtu ilaika wa ana awwal al-mu’minin. “Maha Suci Engkau. Aku bertaubat kepada-Mu. Dan aku orang yang pertama-tama beriman,” kata Musa. Sebab, dalam terang, tak lagi disebut iman. Dalam terang, kenikmatan iman tak dapat dirasa, dan yang diimani kehilangan kesakralannya. Iman tak butuh pencarian bukti fisik, wajah yang terang. Al-iman kafin la yahtaj ma’ahu ila tanqir wa bahts, dalam kata-kata Alqurtubi. Dalam iman, wajah yang terang adalah ketak-sempurnaan dan keterbatasan. Dan Tuhan Maha Sempurna, Yang Tak Terbatas.

Tuhan Yang Maha Sempurna, Yang Tak Terbatas, Yang Tak Terpermanai, yang selalu menggetarkan hati dalam kerinduan, Yang Tak Terang di mana iman tak pernah jera, yang menjadi bayang-bayang ketak-pastian yang justru karena itu hati memiliki kebebasan melakukan penghayatan yang paling pribadi, hanya dapat dinikmati di dunia ini.

Pada dunia yang lain, bagai bulat purnama yang benderangnya bersih dari balutan awan paling tipis sekali pun, wajah Tuhan teramat terang oleh setiap mata telanjang. Pada saat itu, setiap wajah akan berseri-seri terpesona memandang wajah elok Tuhan. Wujuhun yaumaidzin nadhirah, ila rabbiha nadzirah, persis dalam kata-kata Kitab Suci. Mungkin juga ada wajah yang tertawa sebab memandang wajah Tuhan yang lucu. Atau wajah ketakutan karena memandang wajah Tuhan yang seram. Mungkin juga akan banyak ekspresi-ekspresi wajah yang lain. Masing-masing wajah akan menjadi penilai wajah Tuhan. Di dunia lain itu, Tuhan telah takluk. Di sana, Tuhan tidak hadir sebagai yang tak terbatas, tak lagi jadi yang tak terpermanai, tak ada hati yang bergetar dalam kerinduan sebab mata telah menemui pemuasannya. Mungkin, di sana, kelak, tidak ada iman…

Mungkin juga tidak seperti semua itu.[jr]

Allah Tak Hanya Milik Umat Islam

20 December 2008 § 7 Comments


Masih ingat, Malaysia yang melarang ‘Allah’ untuk media Kristen, setahun lalu, dengan alasan, penggunaan ‘Allah’ di media non Islam dikhawatirkan akan menimbulkan gejolak di negara yang mayoritas (sekitar 60 persen atau 27 juta) penduduknya beragama Islam ini? Sebagai urusan dalam negeri Malaysia, tentu kita tak berhak ikut campur, tapi bolehlah minimal menyungging sinis sambil bergumam, “Ah, Malaysia, iseng amat sih!”

Bolehlah, kita tidak berhak ikut campur dari sisi konstitusi negara kecil tetangga kita itu, tapi, sebagai umat Islam, di mana pun berada di pojok-pojok dunia ini, dari ujung kulon sampai ujung wetan, dari sabrang lor sampai sabrang kidul, kita berhak saja ikut berwacana soal ‘Allah’ ini. Atau, siapa pun kita yang mengganggap ‘Allah’ sebagai bagian dari kehidupan. Sebab, ‘Allah’ tidak hanya milik Malaysia.

Dalam tata bahasa Arab, ‘Allah’ disebut sebagai a’raf al-ma’arif (isim ma’rifat paling ma’rifat, paling spesifik, sehingga ketika disebut, dengan segera dipahami maksudnya). Namun, pada kenyataannya, ‘Allah’ justeru menjadi kata yang paling abstrak, paling tidak spesifik, sehingga memerlukan kata-kata lain untuk menjelaskannya, memperkenalkan siapa Dia. Kita (kalau Anda tidak keberatan saya wakili), akan lebih bisa memahami secara spesifik kata al-rahim (yang kita terjemahkan dengan “Maha Pengasih), ketimbang ‘Allah’. Kita akan lebih bisa memahami ‘Maha Pengasih’, dengan fokus pada kata ‘pengasih’ atau ‘kasih’, ketimbang ‘Allah’ atau ‘Tuhan’. Kita akan lebih memahami ‘Allah’ secara spesifik, paling tidak, setelah menelaah arti apa yang kita kenal dengan al-asma al-husna, atau pun segenap sifat-sifat lain yang ‘layak’ bagi-Nya, yang dirumuskan untuk mengidentifikasi esensi yang dibahasakan dengan ‘Allah’ itu.

Yang a’raf al-ma’arif, yang al-rahman, yang al-rahim, yang laisa kamitslihi syaiun, yang wahdaniyah, yang qudrah, yang iradah dan seterusnya dan sebagainya, yang umat Islam rumuskan untuk mengidentifikasikan satu esensi ‘Yang Maha’, yang dikenal dengan ‘Allah’ itu, tentu ini hanya ada dalam nomenklatur keislaman, untuk kemudian menyatakan bahwa ‘Allah’ yang demikian hanya milik umat Islam. Yang demikianlah ‘Allah’ dalam asumsi umat Islam. Dengan kata lain, umat Islam terikat oleh ‘Allah’ dengan definisi dan penjabaran yang Alquran identifikasikan, dan tidak bisa melepaskan diri dari ikatan itu. (Meski sesungguhnya Allah terlalu ‘maha’ jika semata terbungkus kata ‘Allah’ atau definisi dan identitas lainnya).

Sungguh pun demikin, marilah kita memahami preseden sejarah, bahwa ternyata ‘Allah’ tidak hanya eksklusif milik lisan umat Islam saja. Kafir dan musyrik Quraisy pada masa Nabi Muhammad juga menyebut ‘Allah’, dan bukan hanya itu, bahkan mereka mengakui ‘Allah’ sebagai pencipta, terlepas asumsi ‘Allah’ mereka sama persis atau bahkan sama sekali beda dengan ‘Allah’ seperti dalam asumsi umat Islam. Ini soal lain. Yang jelas, ‘Allah’ tidak kelu di lidah orang kafir/musyrik Quraisy. Lihatlah pengakuan mereka ini, “walain saaltahum, man khalaqa al-samawat wa al-ardh? Layaqulunna Allah”… “Jika kamu tanya mereka, ‘siapa pencipta langit dan bumi?’, mereka akan menjawab, ‘Allah’.” (lihat juga; Al-Ankabut: 61, Luqman: 25, Al-Zumar: 38, Al-Zuhruf: 87). Atau, ketika mereka, para penyembah berhala itu, ditanya, “Apa arti penyembahan kalian terhadap berhala-berhala itu?” Mereka menjawab, “ma na’buduhum illa liyuqarribuna ilallah zulfa”… “Kami menyembah mereka semata agar mereka mendekatkan kami kepada ‘Allah’ dengan sedekat-dekatnya”. (Al-Zumar: 3).

Dan, bukankah ‘Allah’ telah akrab menjadi tatanama orang-orang Arab pra-Islam. Sebelum Islam datang, ‘abdullah’ adalah nama yang tidak asing bagi mereka. Bahkan, barangkali bangsa Arab pra-Islam telah lebih dulu akrab dengan ‘Allah’, sampai kemudian Islam datang, memperkenalkan ‘Allah’ yang berbeda, revisioner dan revolusioner secara substantif.

Tentu saja, preseden ini paling tidak bisa menjadi acuan untuk tak melarang siapa pun, dari agama dan kepercayaan mana pun, termasuk Kristen, untuk mengucapkan ‘Allah’, terlepas kemudian asumsi tentang-Nya ternyata berbeda. Pada dirinya, ‘Allah’ tidak memiliki pengikat definisi. ‘Allah’ bebas nilai. Yang mempunyai tali pengikat adalah agama, yang menjadi instrumen perumus, pengidentifikasi, pemberi definisi tentang ‘Allah’. Maka muncullah ‘wahdaniyah’, ‘Yang Maha Esa’, yang ‘a’raful ma’arif’, dan sebagainya dan seterusnya, untuk mengidentifikasi ‘Allah’ dalam Islam, yang mengikat umat Islam agar tak sampai pada ‘Allah’ yang salah, yang tidak sesuai dengan definisi dan identifikasi Islam. Sebagaimana (barangkali) Kristen mengikat umatnya tentang ‘Allah’ mereka, agar tak sampai pada ‘Allah’ yang keliru, yang tidak sesuai dengan definisi dan identifikasi Kristen. Setiap agama, saya pikir memiliki ikatan demikian.

Teman muslimku, apakah keimananmu terganggu, jika ‘Allah’ yang Kau imani diucapkan, ditulis, oleh orang yang berbeda keyakinan? Jika ya, sepertinya Malaysia adalah sangkar emas yang aman untukmu.

O, ya?

Mba Qonita

18 December 2008 § Leave a comment


Aku berkandang ke kampungku setelah sekian tahun di rantau orang. Tentu saja banyak hal yang telah terjadi. Kantor desa yang cat dinding dan pagar temboknya sudah berganti warna hijau, yang terkhir aku lihat sebelumnya masih berwarna putih. Kata kakekku, warna hijau itu atas usulan kepala desa baru yang dua tahun lalu terpilih. Juga beberapa gang dari gang-gang kampung yang masih berhias rentetan bendera merah putih plastik yang warnanya telah memudar, sisa-sisa perayaan tujuh belasan. Selain itu, tidak ada perubahan mencolok dari infrastruktur kampung.

Hukum alam juga berlaku sebagaimana biasa. Ada yang pergi, ada yang datang. Ada yang meninggal, seperti Wak Daid, kawan seangkatan kakek, Haji Ramin, orang tua kades terdahulu, juga ada bayi lahir menambah perbendaharaan jumlah warga kampung.

Satu hal lagi di kampungku: sudah tidak ada lagi pengajian subuh di masjid desa yang diasuh Kyai Mualimin. Kata kakekku, pengajian itu sudah berhenti total sejak setahun lalu. Kyai Mualimin tak mau lagi melanjutkan mengajar kitab Mukhtashar Ihya ‘Ulumuddin karya Imam Ghazali, yang pada pertemuan terakhir baru sampai pada pertengahan kitab.

Kyai Mualimin seusia dengan kakekku. Ia teman kecil kakekku. Pada usia dewasa, ketika sadar hidup memberikan pilihan, Kyai Mualimin memilih melanjutkan pendidikannya di pesantren, sedangkan kakekku sepertinya lebih berbakat menjadi petani, mewarisi bakat tani bapaknya, alias buyutku. Dengan bakat dan ketekunan masing-masing, keduanya sukses: Kyai Mualimin di-kyai-kan oleh warga kampung karena kealimannya, sedangkan kakekku, cukup sukses dengan garapan sawahnya. Nasib memang menggariskan keduanya tetap akrab sampai tua. Jika dulu akrab sebagai teman kecil, sekarang akrab sebagai teman ngaji. Bedanya, Kyai Mualimin menjadi kyai, dan kakekku menjadi salah satu jamaah setia pengajian subuhnya, sejak pertama kali Kyai Mualimin membuka pengajian itu berpuluh tahun silam, sampai akhirnya Kyai Mualimin memutuskan memberhentikan pengajiaannya.

Kata kakekku, seingatnya, beberapa kitab yang pernah diajarkanya dalam rentang puluhan tahun itu antara lain al-Hikam karya Ibnu Athaillah, Adab al-Dunya wa al-Din karya Imam Mawardi, Riyadh al-Shalihin karya Imam Nawawi. Hanya itu yang kakekku ingat. Kata kakekku, hebatnya Kyai Mualimin, dia tidak hanya menguasai isi kitab-kitab itu, ia juga menguasai riwayat pengarangnya yang penuh hikmah, yang sering pula ia ceritakan di sela-sela pengajiannya. Hebatnya kakekku, ingatannya cukup kuat dan tidak pikun. Ya, paling tidak untuk menceritakan nama kitab sekaligus pengarangnya.

Tapi sayang, sore itu, cerita tentang pengajian Kyai Mualimin menjadi episode terakhir – yang sebelumnya diawali dengan episode suksesi kades dan kantor kades yang dicat hijau, episode kawan seangakatannya yang mangkat dan bayi yang lahir, episode garapan sawahnya yang diserahkan ke orang tuaku, dan beberapa selingan lainnya – dan tidak sampai pada detil kenapa Kyai Mualimin memberhentikan pengajiaanya yang sudah berlangsung puluhan tahun itu, karena terpotong azan magrib. Kakekku mengajakku jamaah di langgar depan rumah. Ah, ternyata lama juga aku mendengarkan cerita-cerita kakek. Aku perhatikan, kakekku sudah tiga kali nglinting klobot dari tembakau dan daun jagung yang dikeringkan – warga kampungku menyebutnya klaras – menemani ceritanya. Mungkin, aku akan meminta kakek melanjutkan cerita pengajian Kyai Mualimin yang tak tuntas itu, besok pagi setelah sarapan, atau sore hari selepas asar.

Esoknya, di sore hari, aku lihat kakekku sedang duduk santai di lincak, tempat duduk lebar dari bambu bikinannya, di teras rumah. Masih mengenakan peci hitam dan sarung. Baru turun dari langgar. Jika sudah begitu, apalagi yang paling enak selain menikmati lintingan-lintingan klobot, untuk membunuh sore, seperti biasanya.

“Patua, sekarang, kan, sudah banyak rokok pabrikan. Tinggal hisap, praktis, tidak perlu repot ngelinting-ngelinting begitu,” kataku.

“Bukan begitu, Nang. Ini soal seni dan kenikmatan. Lagi pula, patuamu ini tidak cocok menghisap rokok pabrikan itu. Ya bagaimana, wong, sudah biasa ngelobot begini.”

Ya, sudah. Lagian, itu cuma prolog basa-basi saja. Tujuan utamaku mendekati kakek adalah memintanya melanjutkan cerita soal pengajian Kyai Mualimin.

Kakekku tiba-tiba terdiam, dan raut mukanya seketika berubah, saat mendengar aku memintanya melanjutkan cerita. Begitu mendalamkah cerita itu bagi kakek?

“Kamu tahu Mba Qonita, kan? Anak bontot dan satu-satunya perempuan di antara anak-anak Kyai Mualimin itu?”

“Iya.” Tentu saja aku ingat. Dia kakak kelasku berapa tingkat di madrasah dulu. Tapi dia sampai kelas lima saja, untuk kemudian dikirim ke pesantren di luar daerah oleh bapaknya.

“Kenapa memangnya, Patua?”

Aku penasaran oleh pancingan-pancingan cerita kakek. Dan akhirnya, kakek bercerita juga…

“Mba Qonita, biarpun perempuan dan masih muda, dia itu bakal meneruskan bakat alim Kyai Mualimin, bapaknya. Sejak kecil sudah dimasukan pesantren. Kalau Kyai lagi tidak enak badan, Mba Qonita yang menggantikannya mengisi pengajian subuh. Meski belum sealim bapaknya, tapi ada bakat untuk itu. Mas-masnya justeru tidak ada yang bisa ngaji. Wong, tidak ada yang mau nyantren. Pada jadi pengusaha atau nggarap sawah.”

Aku mengangguk untuk suatu kewajaran. Mba Qanita memang terkenal cerdas, juga shalihah. Tentu saja cantik.

Klobot pertama habis. Kakekku memberi jeda cerita. Kembali ia ngelinting klobot.

“Terus?” kataku, melihat lintingan itu sudah terbakar, dan dihisapnya.

“Wallahu’alam. Ceritanya aneh. Ajaib.”

“Suatu ketika, Mba Qonita hamil. Dan itu diketahui setelah kandungannya berusia empat bulan. Padahal semua tahu, dia belum menikah. Semua terkaget. Tentu saja ini menjadi berita besar, dan dengan segera menyebar rata di seluruh penjuru kampung. Menjadi gunjingan di mana-mana. Di sawah, di kali, di kantor desa, di langgar, di pengajian muslimat dan fatayat, di pengajian reboan ibu-ibu, di lingkaran tahlilan bapak-bapak setiap malam jumat, apalagi di kumpulan-kumpulan dadakan semacam didisan dan petanan (cari kutu rambut) para ibu-ibu yang biasanya lebih seru jika dibumbui dengan ngerasani. Maklum, yang jadi berita adalah keluarga Kyai Mualimin, tokoh paling dituakan dan berpengaruh untuk soal agama.”

Pokoknya, kehamilam Mba Qonita menjadi isu top di segala forum.

“Bermacam reaksi menyeruak. Terkuaklah apa yang selama ini tersembunyi. Siapa-siapa yang selama ini dengan tulus menghormati Kyai Mualimin, tulus mengikuti pengajiannya, siapa-siapa yang berpura-pura bermuka manis di hadapannya tapi hatinya meneteskan liur asam, siapa-siapa yang selama ini menyimpan kebencian terselubung kepadanya. Tapi barangkali wajar, jika bermacam reaksi negatif bermunculan, mengingat yang terjadi dianggap aib yang mengotori kampung yang cukup relijius ini.”

“Ini juga mempengaruhi pengajian subuh yang diampunya. Sejak, pertama kali berita itu menyebar, semakin hari, para jamaah pengajian semakin menyusut, seperti sudah tidak percaya lagi kepada Kyai Mualimin. Katanya kyai yang alim soal agama, tapi ngurus anak sendiri saja, perempuan lagi, tidak becus, sampai bisa hamil di luar nikah begitu. Kira-kira seperti itulah yang digunjingkan warga. Hanya segelintir orang yang masih mau ngaji, termasuk Patuamu ini. Bahkan, oleh kades, atas usulan beberapa warga, Kyai pernah diminta untuk tidak lagi memberikan pengajian. Tapi Kyai menolak, alasanya selama masih ada yang mau ngaji, biar segelintir, ia tidak akan menghentikan pengajiannya. Alasannya diterima, tapi dengan catatan, tidak boleh menggunakan pengeras suara.”

“Sementara berita kehamilan Mba Qonita menggelinding liar di masyarakat – tak lagi diketahui yang mana fakta, yang mana desas-desus, semuanya campur baur menyaru bersama opini-opini, terkadang cacian dan umpatan – keluarga Kyai Mualimin sendiri tidak kalah dibikin ruwet. Masing-masing anggota keluarga terbakar emosi dengan kadar panas yang berbeda. Mas-masnya yang paling mendesak Mba Qonita agar mau mengakui, laki-laki mana yang menghamilinya. Ibunya hanya diam, tapi jelas memendam kekesalan. Kyai Mualimin sekali pernah menampar Mba Qonita. Sekali-kalinya kekerasan terhadap keluarga yang pernah ia lakukan. Wajar, itu reaksi spontan orang yang kaget untuk hal yang tidak wajar dan dianggap aib. Yang aneh, sejak pertama kali berita kehamilan Mba Qonita diketahui keluarganya, Mba Qonita mendadak jadi bisu, gagu. Wallahu a’lam. Itu yang aku dengar langsung dari Kyai Mualimin. Jadi, bagaimana dia mau menjelaskan atau membela diri atas desakan-desakan keluarganya.”

“Kasihan, Mba Qonita. Di dalam rumah ia terpojok. Di luar rumah orang-orang ramai mengolok. Siang malam hanya bisa menangis. Di kamarnya ia mengunci diri.”

Lagi-lagi, kakek memberi jeda, untuk membakar klobot-nya yang padam karena beberapa saat tak dihisap. Aku jadi ikut hanyut, emosional mendengar empati kakek terhadap nasib Mba Qonita.

Kakek menghisap klobot yang baru dibakarnya, dengan kenikmatan mendalam.

“Terus?”

“Yang selanjutnya terjadi, keadaan malah semakin menyudutkan Mba Qonita.” Cerita kakek, kalau aku bahasakan begini: Mba Qonita tidak hanya tersudut secara kultural, tapi juga terdesak oleh kekuatan struktural.

“Suatu malam, kades dan beberapa ketua RW mendatangi rumah Kyai Mualimin, untuk menyampaikan, yang kata kades sendiri, adalah suara warga. Kata kades, warga meminta agar Mba Qonita dititipkan saja ke sanak keluarga Kyai di luar kampung. Kasarnya, diusir keluar kampung. Kata kades lagi, warga khawatir, aib ini akan membawa musibah bagi kampung. Jika sudah dititipkan keluar kampung, Kyai Mualimin boleh memberikan pengajian dengan menggunakan pengeras suara.”

“Kyai Mualimin setuju?”

“Iya.” Sejenak kakek memberi jeda, untuk menghisap rokok klobot-nya.

“Terus?”

“Kamu tahu, Nang?”

“Apa itu?”

“Cerita ini aku dengar langsung dari Kyai Mualimin…”

” ‘Pada suatu pagi buta, di mana aku biasa melaksanakan tahajud, tiba-tiba ada suara ketukan di pintu rumahku. Setelah kubuka, aku terkejut, ternyata itu adalah sosok putriku, Qonita, yang tujuh bulan lalu aku usir, aku titipkan di sanak saudaraku di luar kampung. Ia mengenakan jubah hitam. Wajahnya putih, bersih, dan bersinar. Benar-benar bersinar. Ia membopong seorang bayi. Aku hanya melotot. Heran, kaget, dan takjub bercampur jadi satu. Tapi, sesungguhnya ada rasa haru juga di hatiku.’

” ‘Setelah putriku masuk dan duduk di kursi, dalam hitungan detik, sinar di wajahnya tiba-tiba berpindah ke wajah sang bayi yang masih di pangkuannya. Dan ini yang hampir aku tak percaya, bayi itu tiba-tiba bisa bicara! Bukan suara anak kecil, tapi suara orang tua yang berat dan berwibawa!’

” ‘Aku langsung terduduk di lantai, lemas. Aku merasakan dingin yang tiba-tiba merasuk di sekujur tubuhku, ketika bayi yang wajahnya bersinar itu memberondongiku dengan perkataan-perkataannya. Aku merinding mendengarkannya.’

” ‘Kenapa, Mualimin?! Kenapa kau sepertinya kaget dengan ini?!’

” ‘Kenapa Kau heran, meradang dengan apa yang terjadi pada Qonita?!’

” ‘Kenapa hatimu buram, pikiranmu buntu melihat kehamilan Qonita yang tanpa ayah?!’

” ‘Kenapa Kau melihat itu sebagai kemustahilan?!’

” ‘Apakah hatimu ragu akan kuasa Allah, saat mulutmu begitu memukau menyampaikannya dalam ceramahmu setiap pagi?!’

” ‘Mualimin, kau yang dikenal alim di sepenjuru kampung, tapi tampak kerdil oleh kehamilan putrimu.’

” ‘Tak tahukah Kau, mudah saja bagi Allah menjadikan Qonita hamil tanpa ayah sekalipun, sebagaimana mudahnya Ia menjadikan warga menyebutmu “kyai”?! Apakah Kau berpikir warga memanggilmu “kyai” sebagai kewajaran karena ada sebab-musababnya, sementara kehamilan Qonita yang tanpa sebab Kau anggap sebagai ketakwajaran?!’

” ‘Mualimin, Kau alim dan begitu mencintai pengajianmu. Penyakit orang sepertimu, orang alim yang pandai mengaji, adalah tak mau ngaji dan belajar lagi. Merasa dirinya telah alim. Lebih merasa pantas diri menjadi pengajar, ketimbang mengambil pelajaran.’

Cerita sore itu dihentikan oleh kumandang azan magrib. Kakek kembali mengajakku shalat jamaah di langgar. Saat berangkat ke langgar, aku sempat mengungkapkan keheranan akan cerita ajaib tentang Kyai Mualimin itu.

“Wallahu a’lam, Nang. Tapi itulah yang aku dengar dari Kyai Mualimin sendiri, beberapa hari setelah peristiwa itu, setahun yang lalu. Dan katanya, Patuamu ini satu-satunya orang yang diceritainya. Dan Kamu, Nang, orang kedua yang tahu, setelah aku. Dan sejak peristiwa itulah, Kyai Mualimin menghentikan total pengajiannya di masjid.”

Malam harinya, aku benar-benar sulit tidur. Cerita kakek mengiang-ngiang di benakku, memporak-porandakan nalarku. Masih heran betul. Tapi aku masih sempat berpikir: bagaimana kondisi bayi ajaib itu saat ini, juga Mba Qonita? Ah, mungkin nanti aku bisa tanyakan kepada kakek, atau meminta kakek mengajakku bertamu ke rumah Kyai Mualimin.[jr]

Ciputat, 17 Desember 2008

…….

* Patua: bapak tua atau kakek.
* Nang: lanang atau anak laki-laki

Where Am I?

You are currently browsing entries tagged with tasawuf at Warung Nalar.

%d bloggers like this: