Ramadhan Diawali Rahmat. Dhaif!!!

9 September 2008 § 1 Comment


Salah satu hadis kondang di bulan Ramadan adalah, Awal bulan Ramadhan adalah rahmat, pertengahanya adalah ampunan, dan penghabisannya adalah pembebasan dari neraka.[1] Karena ada tiga keistimewaan tersebut, maka masing-masing menempati sepertiga dari bulan Ramadhan. “Rahmat” menempati sepuluh hari pertama, “ampunan” pada sepuluh hari kedua, dan “pembebasan dari neraka” pada sepuluh hari terakhir. Para “dai artis” kita kerap mengumandangkannya saat Ramadhan datang. Mereka adalah para penyeru dengan penampilan artifisial yang menawan, layaknya artis. Wajah yang rupawan dengan polesan make-up, “wardrobe” yang nyetil, retorika dan artikulasi yang menarik, serta pandai memainkan ekspresi wajah. Singkatnya, sebagai penyeru, dari sisi penampilan dan gaya, mereka cukup menarik dan “mengundang”, sehingga memudahkan dalam penyampaian tema, termasuk peran mereka dalam menyampaikan hadis kondang di atas. Beberapa hari lalu, saya juga mendegar salah satu “dai artis” kita menyampaikan hadis di atas.

Tapi, tahukah Anda, sebenarnya hadis di atas tidak layak disampaikan. Hadis tersebut tidak dapat dipertanggung-jawabkan dari sisi akademis-ilmiyah, terutama dari sudut pandang ilmu hadis, lebih spesifik lagi dari ilmu takhrij hadis (sub-pembahasan ilmu hadis untuk menemukan sumber otentik suatu hadis, kemudian menentukan status kualitasnya).

Periwayat dan Sanad Hadis (Rangkaian Periwayat)

Hadis di atad diriwayatkan oleh al-‘Uqaili dalam kitab al-Dhu’afa, Ibnu ‘Adiy, al-Khatib al-Baghdadi dalam kitab Tarikh Baghdad, al-Dailami, dan Ibnu ‘Asakir. Sementara sanad hadis tersebut adalah: Sallam bin Sawwar, dari Maslamah bin al-Shalth, dari al-Zuhri, dari Abu Salamah, dari Abu Hurairah, dari Nabi Muhammad. Jika digambarkan dalam sekema, maka seperti ini:

Skema periwayat hadis dimaksud. Nama berwarna merah menunjukkan titik lemah hadis tersebut.

Kualitas Hadis

Dalam hasil penelitiannya, Imam Suyuthi menilai hadis di atas dha’if (lemah). Sedangkan menurut Syeikh Muhammad Nashiruddin al-Albani, ahli hadis masa kini, hadis itu munkar. Hadis munkar adalah hadis yang dalam sanadnya terdapat rawi (periwayat) yang pernah melakukan kesalahan fatal, pelupa, atau terbukti senagai seorang pelaku maksiat (fasiq). Hadis munkar merupakan bagian dari hadis dha’if, bahkan sangat lemah, sehingga sama sekali tidak dapat dijadikan pegangan atau dalil, sekali pun untuk beramal kebajikan (fadhailul a’mal). Sebagai hadis dha’if, ia menempati urutan ketiga setelah matruk (semi palsu) dan maudhu’ (palsu).

Titik lemah hadis di atas terletak pada dua orang periwayatnya, masing-masing adalah Sallam bin Sawwar dan Maslamah bin al-Shalth (pada skema, nama yang berwarna merah).

Menurut kritikus hadis Ibnu ‘Adiy (w. 365 H), Sallam bin Sawwar (lengkapnya Sallam bin Sulaiman bin Sawwar) masuk dalam kategori munkar al-hadis (dinilai munkar untuk meriwayatkan hadis). Sementara Imam Ibnu Hibban (w. 354) menyatakan, Sallam bin Sulaiman tidak bisa dijadikan hujjah (pegangan), kecuali apabila ada rawi lain yang meriwayatkan hadisnya.

Sedangkan Maslamah bin al-Shalt adalah matruk. Secara kebahasaan artinya “ditinggalkan”. Sedangkan dalam definisi ilmu hadis, matruk adalah hadis yang dalam sanadnya terdapat rawi yang dituduh sebagai pendusta.

Oleh sebab itu, sekali lagi, hadis di atas tidak dapat dijadikan dalil untuk persoalan apa pun, dan tidak layak pula disebut-sebut dan disampaikan dalam ceramah atau pengajian Ramadhan. Dan jika pun disampaikan, mesti disertai penjelasan tentang kedha’ifan hadis tersebut.

Maka, akan lebih mencerahkan, jika para dai artis kita, dengan segala penampilan artifisialnya yang serba menarik, lebih menambah bobot substansialnya dengan tidak mengesampingkan sisi akademis-ilmiah pada tema ceramah yang disampaikannya. Tidak hanya mengikuti logika televisi untuk performance, tapi juga melandasi tema ceramahnya dengan kedalaman logika akademis.

Tulisan ini disari-sadurkan dari buku Hadis-Hadis Palsu Seputar Ramadhan karya Prof. Dr. KH. Ali Mustafa Yaqub, Pengasuh Pesantren Luhur Ilmu Hadis Darus Sunnah Jakarta, Guru Besar Ilmu Hadis Institut Ilmu Alquran (IIQ) Jakarta, Imam Besar Masjid Istiqlal Jakarta.


[1] أول شهر رمضان رحمة وأوسطه مغفرة وأخره عتق من النار.

Tidak Ada Istilah “Tarawih”

7 September 2008 § 10 Comments


Tulisan tentang tarawih ini hanya menggunakan sudut pandang hadis, yang disarikan dari buku Hadis-Hadis Palsu Seputar Ramadhan karya Prof. Dr KH Ali Mustafa Yaqub alias Kyai Duladi, Imam Besar Masjid Istiqlal, Guru Besar Ilmu Hadis Institut Ilmu Alquran (IIQ), dan pengasuh Pesantren Luhur Ilmu Hadis Ciputat (semoga Allah selalu menjaganya)…

Tidak Ada Istilah “Tarawih”

Prof. Dr. KH Ali Mustafa Yaqub alias Kyai Duladi, penulis buku itu.

Kata “tarawih” adalah bentuk plural dari kata “tarwihah”, yang secara kebahasaan memiliki arti “ mengistirahatkan” atau “duduk istirahat”. Maka dari sudut bahasa, salat tarawih adalah salat yang banyak istirahatnya. Kemudian, tarawih dalam nomenklatur Islam digunakan untuk menyebut salat sunah malam hari yang yang dilakukan hanya pada bulan Ramadan.

Pada masa Rasul tidak ada istilah “salat tarawih”. Dalam hadis-hadisnya, Rasul tidak pernah menyebut kata itu. Dan kata yang digunakan adalah “qiyam ramadhan”. Tampaknya istilah “tarawih” muncul dari penuturan Aisyah, isteri Rasul. Seperti diriwayatkan oleh Imam Baihaqi, Aisyah mengatakan,

“Nabi salat malam empat rakaat, kemudian yatarawwahu (istirahat). Kemudian kembali salat. Panjang sekali salatnya.”

Dalil Tarawih 20 Rakaat Lemah

Di negeri kita, ada dua versi pelaksanaan salat tarawih, dua puluh rakaat dan delapan rakaat.

Rumusan dalil yang menjadi dasar pelaksanaan tarawih duapuluh rakaat adalah hadis riwayat Imam Thabarani dan Imam Khatib Al-Baghdadi. Riwayat itu,

Ibnu Abas bertutur, “Pada bulan Ramadan, Nabi Muhammad salat dua puluh rakaat dan witir.”

Hadis di atas, seperti yang dituturkan oleh Imam Ibnu Hajar Al-Haitami dalam karyanya Al-Fatawa al-Kubra al-Fiqhiyyah, lemah sekali. Titik lemah hadis ini adalah pada salah satu periwayatnya (dalam rangkaian sanad hadis ini) yang bernama Abu Syaibah Ibrahim bin Utsman.

Menurut Imam Bukhari, para ulama tidak mau berkomentar tentang Abu Syaibah. Imam Tirmidzi menilai hadis Abu Syaibah munkar. Sedangkan Imam Nasai menilai matruk. Bahkan Imam Syu’bah menilai Abu Syaibah sebagai pendusta. Dalam disipln ilmu hadis, komentar-komentar miring seperti di atas memberikan implikasi yang bersangkutan jika meriwayatkan hadis, maka status hadis itu menjadi tidak valid.

Maka, hadis riwayat Ibnu Abas di atas dapat dikategorikan sebagai hadis palsu atau minimal matruk (semi palsu), karena ada rawi pendusta (Abu Syaibah) dalam rangkaian sanadnya. Pada gilirannya, hadis di atas tidak dapat dijadikan dalil untuk salat tarawih dua puluh rakaat. Dengan kata lain, apabila kita salat tarawih dua puluh rakaat atas dasar dalil hadis di atas, maka kita telah malakukan kekeliruan.

Dalil Tarawih 8 Rakaat Juga Lemah

Hadis yang diindikasikan sebagai dalil salat tarawih delapan rakaat adalah hadis yang disebutkan dalam kitab Shahih IbnuHibban sebagai berikut,

Jabir bin Abdullah berkata, “Ubay bin Ka’ab datang menghadap Nabi lalu berkata, “Rasul, tadi malam (bulan Ramadan) aku melakukan sesuatu.” Kata Nabi, “Apa itu?” Ubay menjawab, “Para wanita di rumahku tidak ada yang bisa baca Alquran. Mereka memintaku menjadi imam salat. Kemudian kami salat delapan rakaat ditambah witir.” Rasul diam saja mendegar penuturan Ubay. Jabir menganggap Nabi memperkenankan apa yang telah dilakukan oleh Ubay.

Kualitas hadis ini sangat lemah, sebab dalam rangkaian sanadnya terdapat salah seorang periwayat yang bernama Isa bin Jariyah. Menurut para ahli kritik hadis papan atas, seperti Imam Nasai dan Imam Ibnu Main, hadis-hadis yang diriwayatkan oleh Isa bin Jariyah kualitasnya lemah. Imam Nasai menilai hadisnya matruk (palsu, karena diriwayatkan oleh pendusta). Hadis ini pun gugur sebagai dalil tarawih delapan rakaat.

Ada juga hadis lain tentang salat tarawih delapan rakaat, bahkan lebih kongkrit dari hadis di atas, yang diriwayatkan oleh Ja’far bin Humaid dari Jabir bin Abdullah,

“Nabi pernah mengimami kami salat pada satu malam Ramadan dengan delapan rakaat.”

Tapi sayang, hadis ini kualitasnya sama dengan hadis di atas, sebab hadis ini juga diriwayatkan oleh Isa bin Jariyah yang hadisnya dinilai matruk .

Dengan demikian, dalil salat tarawih delapan rakaat tidak memiliki sandaran nash yang kuat.

Hadis Shahih Ini Bukan Dalil Salat Tarawih

Hadis Imam Bukhari dan lain-lain yang diriwayatkan oleh Aisyah di bawah ini kerap dijadikan dalil oleh sebagian kalangan yang menganut tarawih delapan rakaat,

Rasul tidak pernah salat lebih dari sebelas rakaat, baik pada bulan Ramadan atau selainnya. Beliau salat empat rakaat. Tak perlu ditanyakan lagi, betapa bagus dan panjang salatnya itu. Setelah salam, ia kembali salat empat rakaat. Setelah itu, ia mengakhiri dengan salat tiga rakaat. Aisyah bertanya, “Rasul, apakah Engkau tidur sebelum melaksanakan salat witir?” Jawab Rasul, “Aisyah, matakau boleh tidur. Tapi tidak dengan hatiku.”

Benarkan hadis itu merupakan dalil salat tarawih delapan rakaat?

Pada hadis tersebut, Aisyah dengan gamblang menyatakan, Nabi tidak pernah salat lebih dari sebelas rakaat, baik pada bulan Ramadan maupun selainnya, alias sepanjang tahun. Salat yang dilakukan setiap malam sepanjang tahun, tentunya bukan salat tarawih. Sebab salat tarawih hanya dilaksanakan pada malam bulan Ramadan.

Oleh karen itu, para ulama berpendapat, hadis Aisyah di atas berbicara tentang salat witir, bukan salat tarawih. Para ulama umumnya juga menempatkan hadis itu pada bab salat witir atau salat malam, bukan pada bab salat tarawih, seperti Al-Qadhi ‘Iyadh dan Imam Nawawi. Imam Ibnu Hajar juga menempatkan hadis di atas dalam konteks salat witir.

Hadis yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari, Muslim dan Abu Dauwd dari Aisyah di bawah ini bisa menjadi peneguh pendapat di atas,

Rasulullah salat malam tiga belas rakaat, terdiri dari salat witir dan dua rakaat fajar.

Tarawih Tidak Berorientasi Angka

Justeru, hadis shahih tentang salat tarawih atau “qiyam Ramadan” tidak memberikan batasan jumlah rakaat yang pasti, tidak berorientasi sedikit atau banyaknya jumlah rakaat salat. Hadis tersebut diriwayatkan oleh Imam Bukhari, yaitu,

“Siapa yang menjalankan “qiyam Ramadan” karena iman kepada Allah dan mengharap pahala kepada-Nya, maka dosa-dosanya yang telah lalu akan terampuni.”

Pada hadis itu, Nabi sama sekali tidak menyinggung bilangan rakaat salat apalagi membatasinya. Kuantitas bukan orientasi utama dalam salat tarawih, tapi yang mesti diutamakan adalah kualitas. Jadi, mau salat tarawih empat rakaat silakan, enam rakaat monggo, delapan rakaat tidak mengapa, dua puluh rakaat mbonten nopo-nopo, atau bahkan lima puluh, seratus dan seterusnya, dengan catatan tetap menjaga kualitas; ikhlas, khusu’, baik, dan sebagainya. Wallahu a’lam.


عن ابن عباس قال، كان النبي صلى الله عليه وسلم يصلي في رمضان عشرين ركعة والوتر.

عن جابر بن عبد الله، قال: جاء أبي بن كعب إلى النبي صلى الله عليه وسلم فقال: يا رسول الله، إنه كان مني الليلة شيء – يعني في رمضان. قال: وما ذاك يا أبي؟ قال: نسوة في داري قلن إنا لا نقرأ القرأن، فنصلي بصلاتك. قال: قصليت بهن ثماني ركعات ثم أوترت. قال: فكان شبيه الرضا ولم يقل شيئا.

صلى بنا رسول الله صلى الله عليه وسلم ليلة في رمضان ثماني ركعات والوتر.

ما كان رسول الله صلى الله يزيد في رمضان ولا في غيره علىإحدى عشرة ركعة. يصلي أربعا فلا تسأل عن حسنهن وطولهن ثم يصلي أربعا فلا تسأل عن حسنهن وطولهن ثم يصلي ثلاثا. قالت عائشة رضي الله عنها، فقلت: يا رسول الله، أتنام قبل أن توتر؟ قال: يا عائشة، إن عيني تنامان ولا ينام قلبي.

كان رسول الله صلى الله عليه وسلم يصلي من الليل ثلاث عشرة ركعة، منها الوتر وركعتا الفجر.

من قام رمضان إيمانا واحتسابا غفر له ما تقدم من ذنبه.

Syukur

6 September 2008 § Leave a comment


Suatu ketika, seorang tabi’in berkunjung ke rumah Aisyah, istri Rasulullah. Ia ingin mengetahui tentang perilaku Rasulullah yang paling menakjubkan. Aisyah menjawab, “Adakah yang tidak menakjubkan dari Rasulullah?!”

Suatu malam, beliau menghampiriku. Sangat dekat sekali hingga kulit kami saling bersentuhan. Kemudian beliau berkata, “Wahai putri Abu Bakar, izinkan Aku bermunajat kepada Tuhanku.” Aku menjawab, “Tapi Aku tidak ingin jauh darimu. Aku ingin selalu di sampingmu.” Kemudian beliau berwudlu dan salat. Aku tetap di sampingnya, memperhatikan beliau salat. Selama salat, beliau menangis. Air matanya tak henti-hentinya mengalir, menetes membasahi dadanya.

Selesai salat, Aku bertanya kepada beliau, “Rasul, kenapa Engkau menangis? Bukankah Allah telah mengampuni dosa-dosamu dan menjaga dirimu dari segala kenistaan?”

Beliau menjawab, “Aku hanya ingin bersyukur kepada Allah. Allah telah menurunkan ayat: Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, pergantian malam dan siang, bahtera yang berlayar di laut membawa apa yang berguna bagi manusia, dan apa yang Allah turunkan dari langit berupa air, lalu dengan air itu Dia hidupkan bumi sesudah mati (kering)-nya, dan dia sebarkan di bumi itu segala jenis hewan, dan hembusan angin dan awan yang dikendalikan antara langit dan bumi; sungguh dalam semua itu terdapat tanda-tanda keesaan dan kebesaran Allah bagi kaum yang mau berpikir (Al-Baqarah: 164).”

“Adakah alasan bagiku untuk tidak bersyukur?!” (HR Ibnu Hibban).

Makna dasar syukur adalah memberikan pujian kepada orang yang telah memberikan kebaikan, dengan menyebut atau mengingat kebaikannya sebagai balasan. Syukur seorang hamba kepada Allah berarti selalu berzikir setiap waktu kepada-Nya dan melakukan ketaatan. Di dalam Alquran, Allah menyifati diri-Nya dengan al-syakur, yang artinya Allah yang selalu membalas kebaikan hambanya, sekecil apapun.

Syukur terbagi dalam tiga kategori, pertama syukur dengan lisan, yaitu dengan mengakui bahwa segala anugerah yang ada di dunia ini hanya dari Allah, dengan mengucapkan tahmid atau kalimat thayibah lainnya. Kedua, syukur dengan badan atau amalan, yaitu dengan mengkhidmatkan semua gerak badan dan amalan untuk beribadah kepada Allah dan meraih rida-Nya. Ketiga, syukur dengan kalbu, yaitu meyakini dengan sepenuh hati bahwa segala anugerah hanya dari dan milik Allah, Yang Maha Pemurah lagi Maha Pemberi.

Syukur lain yang tak kalah istimewa adalah ketika kita telah mampu bersyukur atas anugerah syukur. Sebab kesediaan kita untuk bersyukur adalah sebuah anugerah tersendiri dari Allah yang patut disyukuri. Jika diteruskan, maka ini akan menjadi mata rantai syukur dan nikmat yang tidak akan putus.

Maka, sesungguhnya syukur harus menjadi bagian dari hidup. Disadari atau tidak, di setiap kedipan mata, di setiap hembusan nafas, di setiap helai rambut yang bergoyang, di setiap keringat yang menetes lewat pori-pori kulit, di setiap sel darah yang mengalir di dalam tubuh adalah bagian dari anugerah dan kebesaran Allah. Adakah alasan bagi kita untuk tidak bersyukur kepada Allah?!

Allah berfiman, “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti kami akan menambah nikmat kepadamu, dan jika kamu mengingkari nikmat-Ku, maka Sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.” (Ibrahim: 7).

Where Am I?

You are currently browsing entries tagged with sunnah at Warung Nalar.

%d bloggers like this: