Ketika Kelamin Jadi Ukuran

16 January 2009 § Leave a comment


Persepsi lahir dari konteks yang terindera, dari sebuah keadaan di mana empunya persepsi berinteraksi, menjadi respon atas realita di mana ia berada.

Imam Syafi’i yang pakar fikih – di mana karakter fikih adalah rigid – menyimpan keromantisan yang tersibak ketika mengatakan ini: “Sebagian orang mengatakan, mencintai wanita adalah bencana. Padahal, bencana sesungguhnya adalah berdekat dengan lelaki yang jauh dari cinta seorang wanita.”

Atau Ibnu Hazm yang dengan penuh gusto memberikan penghargaan kepada perempuan seraya mencemooh geram lelaki yang memandang ke-lelaki-annya sebagai ukuran.

Katanya: “Jika Anda merasa lebih utama dari Maryam, Aisyah, atau Fatimah, hanya karena engkau lelaki dan mereka perempuan, maka orang yang mengatakan hal itu pantas disebut orang bodoh.”

Meloncat dari suatu masa di negeri nun jauh, kita berdekat-dekat pada masa kini di negeri ini, dengan mengutip M. Quraish Shihab. Ujarnya: “…melecehkannya (perempuan) berarti melecehkan seluruh manusia, karena tidak seorang manusia pun – kecuali Adam dan Hawa – yang tak lahir melalui seorang perempuan.”

Persepsi apresiatif semacam itu tentu menjadi istimewa mengingat pengujarnya adalah para lelaki, sehingga melemahlah unsur subjektifitasnya, meski mungkin tidak sepenuhnya. Tapi di sinilah ironinya. “Apresisasi istimewa” menyuratkan gambaran aspek luar biasa yang mesti ditonjolkan dari satu entitas bernama perempuan, tapi menyiratkan adanya dominasi yang tak adil pandangannya: dominasi ke-lelaki-an yang selalu mengukur kelamin. Maka, apresisasi istimewa lahir dari konteks sebuah dominasi yang menghegemoni dari sebuah kelamin tertentu, dari keadaan yang diskriminatif, yang mungkin tersamar di bawah alam sadar.

Kata-kata para pengujar lelaki di atas adalah sarkasme, sindiran tajam, gugatan bagi keadaan di mana seorang lelaki memandang perempuan sebatas pada “karena aku lelaki dan mereka perempuan”, sebuah pandangan yang membentur raga, tidak menembus hakikat manusia yang tersemat di dalam seonggok raganya emosi dan nalar, hati dan pikiran, unsur spiritual dan intelektual. Dan raga adalah fisik. Sesuatu yang fisik mesti pula dihargai dengan yang bersifat fisik. Maka, transaksi dan interaksi yang terjadi adalah kebendaan, tak melibatkan aspek emosional dan rasional. Memandang perempuan seperti melihat barang dagangan di pasar. Memilah dan memilih sama mudah dengan meninggalkannya. Jika keadaan tak mendukung untuk mampu memilikinya, enteng saja berujar: “tinggal saja, cari lagi”. Mungkin orang dengan watak semacam ini tak memiliki cukup emosi dan nalar, hati dan pikiran, untuk menjangkau perempuan sampai pada hakikat kemanusiaannya.

Ini adalah keadaan anomali – di mana penistaan hakikat kemanusiaan dianggap lumrah sambil berusaha memaklumi – bukan hanya karena melanggar logika “tidak seorang manusia pun – kecuali Adam dan Hawa – yang tak lahir melalui seorang perempuan”, seperti dalam kata-kata M. Quraish Shihab, tapi juga sebab ada unsur-unsur hakikat kemanusiaan yang sengaja diabaikan. Sialnya, dalih-dalih “ini umum terjadi”, “ini pandangan umum”, dan segenap kambing hitam lain atas nama “kebanyakan orang”, dijadikan legitimasi bagi keadaan anomali itu.

Keadaan umum yang sejatinya anomali mestinya tidak dijadikan dalih dan dengan dungu ikut membesarkannya. Keadaan umum yang sejatinya anomali seharusnya menjadi objek keprihatinan seraya berharap segera lenyap.

Maka, konteks tulisan ini pun jelas: ketika kelamin – tepatnya ke-lelaki-an – jadi ukuran, saat mulut berbalut pongah mengangah sesumbar: “kamu itu lelaki, bukan perempuan!”, seolah takdir lelaki adalah kesempurnaan dan nasib perempuan adalah kecengengan.[jr]

Advertisements

Kepada Para Perokok

26 December 2008 § 30 Comments


Kepada Yth,

Para perokok di di kolong-kolong langit mana pun, di pojok-pojok bumi mana pun…

Cuekkanlah gambar-gambar profokatif ini, sebagaimana sampean cuek menghisap-keluarkan asap kenikmatan rokok di jari sampean, dari orang-orang di sekeliling sampean.

Nikmatilah gambar-gambar yang tak bersahabat buat sampean ini, sebagaimana sampean menikmati rokok yang juga tak bersahabat buat sampean sendiri.

Jika sampean tak bisa cuek, juga tak bisa menikmati, maka silakan sampean mengumpat dan misuh. Muntahkanlah segala kedongkolan sampean, terserah, untuk gambar-gambar permusuhan itu (dan semua yang terkait dengannya) atau untuk diri sampen sendiri.

Para perokok yang budiman,

Betapa sampean berada dalam posisi ambivalensi, paradok dan ironi yang mengesankan. Betapa semakin banyak sampean merokok, betapa semakin banyak para perokok,  tuntutan perihal kerugian di satu sisi dan pundi-pundi keuntungan di sisi yang lain, betapa pula semakin banyak, berjalan beriringan dalam bingkai harmoni.

Hidup rokok dan perokok!

Hidup anti-rokok!

Hidup kerugian!

Hidup keuntungan!

1322324352617181Masih mau berhenti merokok?

Dendang Kehidupan Biduan Dangdut

25 August 2008 § 4 Comments


Pada suatu malam Minggu, saya ngeluyur. Ah, sekedar iseng ikut kawan-kawan kost. Lagi pula, mau apel kemana dan dengan siapa, toh pacar sudah putus beberapa bulan yang lalu. Raga boleh ngeluyur, tapi nalar dan hati semoga tetap bisa diatur. Akur!

Awalnya, di sore hari, salah seorang kawan tersebut menginformasikan, di daerah Legoso Ciputat akan ada pementasan organ tunggal dangdutan kelas kampung, entah dalam rangka apa. Okelah, malam hari, sekitar jam setengah sepuluhan, kita berempat berangkat dengan dua sepeda motor ke tempat yang dituju. Benar saja informasi seorang kawan tadi.

Ketika kami datang, seorang biduan sedang melantunkan lagunya dengan goyang badan seadanya, dan sesekali melenggak-lenggokkan pinggulnya. Soal kostum, sudah tentulah “standard” para penyanyi dangdut. Celana dan baju ketat menonjolkan lika-liku lekuk tubuh. Jika bukan celana, maka baju terusan hanya sampai beberapa senti di atas lutut. Penampilan artifisial menjadi utama atau sangat utama, meski kemampuan pas-pasan. Pada pentas dangdut itu, bagi kebanyakan penonton, barangkali kualitas suara tak jadi soal, yang penting mereka bisa menikmati keriangan yang dipancarkan pentas itu. Seorang kawan berujar, “Kita lihat saja dulu. Kalau penyanyinya “mantap”, kita bisa berlama-lama di sini.” Bukan “mantap” dalam kualitas suara, pastinya.

Sementara itu, para penonton mengelilingi panggung. Beberapa orang naik ke atas panggung, bergoyang mengikuti irama dangdut, tentunya sambil nyawer dengan gayanya yang khas. Dan yang tidak punya anggaran nyawer, tapi ingin tetap bergoyang, cukup bergoyang di bawah panggung saja. Di sisi yang lain di bawah panggung, anak-anak kecil menatap lugu aksi si penyanyi. Ada juga yang naik ke panggung, bahkan bergoyang meniru orang-orang dewasa. Saya yakin, mereka melakukannya dengan kepolosan, tanpa nalar, tanpa hasrat, tanpa nikmat sebagaimana jika orang-orang dewasa melakukannya. Hanya keriangan khas anak kecil. Tapi, kemana orang tua mereka? Bukankah seharusnya mereka sudah tidur? Ah, mungkin justeru orang tua mereka yang mengajak ke tempat itu.

Di sisi lain, di samping tempat saya berdiri, beberapa orang sepertinya sedang menikmati anggur merah. Aromanya kuat menyengat.

Menonton pentas dangdut kelas kampung itu, saya teringat dawuh Rasul yang menitahkan bahwa perempuan yang berjalan genit melengak-lenggokkan badannya, “berpakaian tapi telanjang” (kasiyah ‘ariyah), tidak akan menyium aroma wangi surgawi (maka apalagi masuk ke dalam surga). Apakah pentas dangdut tersebut salah satu praktek dari titah Rasul itu, apakah para penyanyi dangdut itu kelak tak dapat menikmati surga, apakah mereka para pendosa, apakah kemudian pentas dangdut itu berarti pentas kemungkaran. Saya berguman.

Jika itu adalah pentas kemungkaran oleh para pendosa, apakah kemudian saya harus marah, menegakan amar ma’ruf nahi munkar, karena tidak mampu dengan “tangan” atau “mulut”, ya dengan hati. Jika memang semua itu tak bisa, mbo’ yo hengkang saja dari pentas itu, agar mata ini tak brengsek, telinga ini tak tuli, hati ini tak busuk sebab kemungkaran itu, itung-itung mempraktekkan doa Rasul yang selalu dipanjatkan hampir setiap hari; allahumma inni a’uudzubika min syarri sam’iy wamin syarri bashariy wamin syarri lisaniy wamin syarri qalbiy wamin syarri maniyyiy. Saya masih berguman.

Entahlah. Saya tak juga hengkang, masih tegak berdiri, “bertafakur” tentang ragam dinamika mahluk Tuhan di area pentas dangdut itu. Berharap saja, siapa tahu ada hikmah kebijaksanaan terserak yang dibisa dipungut dari keriangan di malam itu.

Entahlah. Saya seperti tak berhasrat mengelaborasi guman perspektif agama tersebut, lalu mengambil keputusan. Barangkali karena saya termasuk orang yang tak terlalu relijius, maksudnya tidak memiliki kecenderungan serba agama sebagai satu-satunya perspektif dalam melihat kehidupan. Bukankah kehidupan ini terlalu kompleks untuk dipahami hanya dengan perspektif agama?! Oleh karena itu, semestinya agama tidak menjadi satu-satunya perspektif untuk “menghakimi”nya.

Entahlah. Di tengah keriangan pentas dangdut, di antara guman perspektif agama, ada guman lain coba memahami; perempuan-perempuan itu hanya berusaha mencari nafkah, mandiri menghidupi diri sendiri, dengan cara mereka sendiri yang secara kebetulan atau mungkin pilihan – atau mungkin juga karena tak ada pilihan selain – sebagai biduan dangdut dengan segenap konskuensi dan logika umum dangdut. Denyut nadi kehidupannya berdetak di antara alunan musik dangdut. Narasi kehidupannya terbaris pada bait-bait lagu dangdut. Bagi mereka, barangkali dangdut adalah dendang kehidupan.

Jika kaum moralis dan agamawan menasihati mereka dengan anggapan ekses-ekses negatif yang potensial terjadi dari profesi mereka, atau bahkan ditakut-takuti tidak akan masuk surga, barangkali mereka acuh tak acuh. Bukan tak percaya, tapi dikarenakan nasihat semacam itu kurang strategis dan kongkrit bagi dendang kehidupan mereka. Dari pada mencerna nasihat yang tidak strategis, ya mending fokus saja dengan kerjaan sendiri yang lebih kongkrit bagi kehidupan mereka.

Seorang biduan dihadirkan dalam acara dialog di sebuah televisi swasta. Wajah si biduan itu dipakaikan topeng, agar tidak diketahui identitasnya, sehingga ia tidak malu, seolah hendak dicitrakan, profesi biduan dangdut adalah hina. Ketika ditanya, apakah Anda tidak merasa risih dengan dandanan yang Anda kenakan saat tampil, apakah Anda menyadari ekses-ekses kurang baik yang bisa ditimbulkan dari profesi Anda, khususnya bagi anak-anak, apakah Anda bla, bla, bla… si biduan menjawab, “Ya, gimana lagi, wong kerjaan emang gini.”

Cukup Sadar Diri Untuk Berambut Panjang

9 July 2008 § 1 Comment


Beberapa tempo lalu, saya harus memotong rambut panjang saya. “Harus”, bukan karena kepatuhan terhadap suatu peraturan, bukan karena hukuman, bukan karena masalah kesehatan rambut, bukan pula jengah, tapi sebagai ekspresi memuliakan atas sebuah kecenderungan. Rambut bagus seperti itu lebih layak diurus salon dengan para pegawai yang melek model-model potongan rambut mutakhir plus memahami karakter rambut sebelum diputuskan model potongan rambut yang tepat, dan saya cukup sadar diri untuk memilih salon ketimbang tempat pangkas rambut ‘konvensional” yang hanya mengerti satu model; yang penting dipotong, meski harus menahan hati setelahnya – dengan tetap eksisnya tempat pangkas rambut konvensional itu, menandakan ada orang-orang yang sesuai dan puas dengan pelayanannya, dan saya bukan salah satunya.

Dari sejak kecil saya memang menyukai rambut panjang. Hanya saat aliyah (SMA), rambut saya tak pernah menyentuh telinga, begitu juga saat kuliah, karena aturannya memang seperti itu. Semasa itu, saya berada di lingkungan orang-orang yang berkecenderungan tak menyukai rambut panjang. Karena itu – meski tidak sesuai dengan naluri – saya tak berpanjang rambut, berusaha menaruh hormat kepada mereka.

Belakangan saya cukup sadar diri, berpanjang rambut bukan sekedar suka, tapi memang saya lebih layak, cocok, dan pantas, mungkin juga lebih “cute” dengan itu. Dan jika saat ini berambut panjang, itu sama sekali tak berarti saya memberontak orang-orang yang berkecenderungan sebaliknya. Namun, jika itu tetap juga dianggap tidak hormat, tentu masih banyak cara lain untuk menaruh hormat.

Itulah, saya kira pentingnya “sadar diri”, atau “narsis” jika Anda melihatnya dengan kesinisan, atau mungkin juga “pede”.

Tapi, memang, garis perbedaan ketiga hal itu adalah semu. Seorang kawan enggan menampilkan foto diri pada friendster-nya, alasannya dia bukan tipe narsis (bisa juga karena argumentasi “beraroma teologis” soal “larangan gambar”, atau dalih “bercita rasa moral”; menjaga “harga diri”, atau mungkin juga karena alasan emosional; malu alias ga pede!), sehingga ditampilkanlah citra abstrak yang “dihalalkan”. Apa berarti saya yang menampilkan foto saya sendiri di friendster, termasuk narsis? Bagaimana jika saya katakan, saya cukup sadar diri, cukup pede, atau bahkan terlalu pede untuk menampilkan gambar saya itu. Semu bukan?!

Barangkali, kita mengetahui sosok diri kita masing-masing, namun belum tentu sadar diri. Saya pernah mempunyai kawan yang, katakanlah, “korban mode”. Dia ingin tampil sesuai dengan citra lain yang menurutnya bagus atau tren berpakaian masa kini yang ia lihat. Bila perlu dicari, kemudian dibeli. Setelah dikenakan, barulah sadar bahwa pakaian itu tak cocok untuknya. Jika saja ia sadar diri sedari awal dan pede dengan kesadarannya, barangkali ia tak harus mengeluarkan duit untuk hal yang akhirnya sia-sia. Tapi, paling tidak ia telah memperdebatkan “trial dan eror” untuk menyepakati yang pantas bagi dirinya.

“Ketidaksadaran diri” atau “ketidak-pede-an” agaknya juga melanda sebagian warga negara di negeri bernama Indonesia. Tak henti-hentinya sebagian kalangan menggembar-gemborkan khilafah sebagai “model baju” untuk digunakan Indonesia di tengah-tengah kondisinya yang sedemikian rupa, sebagian yang lain hendak mengenakan model lain sebagai antitesisnya.

Citra ideal soal “baju timur” lebih mempesona bagi sebagian kalangan, dan “baju barat” pun tak kalah pula mempesonanya bagi sebagian yang lain, (seolah meneyampingkan citra pribumi keindonesiaan sendiri), meski citra-citra itu belum tentu cocok teruji dan sesuai dengan kebutuhan – sebagian yang lain mengganggapnya utopia belaka, apalagi menggantikan citra pribumi yang telah melekat selama berabad-abad, dan nyaman-nyaman saja dikenakan, sampai datang citra-citra baru itu. Biarlah Indonesia tumbuh berkembang dengan keindonesiaannya, bukan dengan syariatnya (khilafah), bukan pula dengan ke-liberal-annya. Ketidakjelasan semacam ini justeru menjadi kejelasan karakter Indonesia.

Ekses dari ketidaksadaran diri atas citra sendiri dan silau dengan citra lain adalah tercerabutnya budaya kita sendiri, maka jadilah ia “korban mode”.

Tentang Perempuan; Mayoritas Tapi Minoritas

25 May 2008 § 1 Comment


ADA pertanyaan terlontar perihal perempuan, “Mengapa dalam dominasi kuantitasnya, perempuan (secara umum) minoritas dalam kualitas (peranan), ketimbang laki-laki?”

Ini realita, terjadi dalam berbagai hal, dalam ranah struktural maupun kultural, dari tingkat kelurahan sampai parlemen. Dalam komunitas yang terbuka untuk laki-laki dan perempuan, hampir peran laki-laki selalu mendominasi. Kalaupun ada peran perempuan yang dominan, itu sedikit dan terjadi dalam komunitasnya sendiri dan dalam masalah ‘kewanitaan’.

Data Inter-Parliametary Union 2002 menunjukan rendahnya keterwakilan perempuan dalam politik di Indonesia. Angkanya baru sekitar sembilan persen. Sesuai dengan prinsip keterwakilan dalam demokrasi, maka bila jumlah perempuan di Indonesia lebih dari 50 persen, tidak layak bila hanya diwakili oleh kurang dari 10 persen.

Dalam Pemilu 2004 lalu, kuota untuk perempuan di parlemen ditambah menjadi 30 persen. Namun, tetap saja angka itu adalah kecil bila ketimbang jumlah perempuan Indonesia. Bandingkan dengan kuota untuk laki-laki di parlemen. Dengan jumlah laki-laki yang kurang dari 50 persen (dari jumlah penduduk keseluruhan), mereka mendapat kuota 70 persen! Dan ironisnya, walaupun kuota untuk perempuan dalam parlemen ditambah menjadi 30 persen, tapi seolah-olah tidak ada kesungguhan untuk benar-benar menambah jumlah kursi untuk perempuan dalam parlemen. Sebab, ternyata caleg-caleg perempuan ditempatkan di nomor sepatu, bukan nomor jadi.

Itu baru satu contoh yang paling kongkrit. Dalam institusi pendidikan, misalnya, berapa jumlah dosen perempuan (menunjukan kualitas intelektual). Berapa persen jumlah mahasiswi di dalam ruang kelas (menunjukan minat perempuan dalam intelektualitas). Dalam instistusi pemerintahan, pendidikan, perusahaan, atau badan struktural lainnya, hampir seluruhnya laki-laki-lah yang memegang posisi strategis.

Secara umum, sebenarnya jawaban dari persoalan di atas mudah; minoritasnya SDM perempuan. Di samping kendala kultural dan struktural, memang ada beberapa faktor ‘alamiah’ dan kodrati yang ‘menuntut’ perempuan untuk tidak bisa bergerak dan berperan seleluasa laki-laki. Untuk yang terakhir bisa dimaklumi dan wajar. Tapi, hal tersebut sebenarnya tidak menjadi soal. Terbukti dengan adanya sosok-sosok perempuan yang menasional. Tapi, sekali lagi, yang seperti mereka hanya sedikit.

Keluar dari faktor-faktor kodrati, sesungguhnya (ini perlu disadari) ada faktor ‘kesengajaan’ yang menghambat peran kualitas intelektual perempuan. Faktor kesengajaan itu adalah di mana perempuan-perempuan telah di-setting agar tidak berperan dan cenderung dijadikan ‘objek’. Perempuan ditempatkan sebagai objek untuk dieksploitasi secara seksual. Perempuan dinobatkan sebagai bidadari jelita yang dipertontonkan, dipersembahkan, dan diperebutkan untuk semua orang, dengan keindahan fisik yang dimilikinya. Kita seharusnya tersinggung dan marah dengan hal itu, ketika yang dihargai dari perempuan adalah bibirnya, dadanya, pahanya, pinggulnya, bokongnya, rambutnya, bodynya. Kita seharusnya marah, kenapa bukan otaknya yang dihargai. Ini penghinaan! Tidak manusiawi!

Siapakah yang paling berperan dalam ‘pengobjekkan’ perempuan? Media massa. Perkembangan media massa beserta segala perangkat komunikasi saat ini memang menjalankan proses ‘pengobjekkan perempuan’. Selain media massa, (sebetulnya) jangan-jangan perempuan-perempuan itu sendiri, secara bawah sadar merelakan pengobjekkan itu, dan dengan sendirinya ia telah berperan dalam pengobjekkan dirinya sendiri, karena merasa pengobjekkan tersebut memberikan keuntungan bagi dirinya. Atau, jangan-jangan, tanpa disadari, kita pun melakukan pengobjekan tersebut, dan diam-diam menikmatinya.

Pengobjekkan adalah penghinaan, bukan hanya bagi perempuan sendiri, tapi bagi kemanusiaan secara keseluruhan. Sebagai mahluk yang dikaruniai otak dan akal yang membedakan dengan mahluk lainnya, tidak sepatutnya manusia menjadi objek. Otak (akal) yang merupakan karunia paling istimewa untuk manusia dan tidak dimiliki mahluk lain, tapi juteru banyak yang tidak merasa istimewa dengannya. Dan akan merasa istimewa dan terpandang oleh selainnya, merasa istimewa oleh kulit mulus, bibir seksi, dada menggunung, pinggul menggitar, yang notabene organ-organ tersebut juga dimilki oleh mahluk selain manusia. Mengistimewakan organ tubuh manusia tidaklah manusiawi. Yang manusiawi adalah mengistimewakan yang hanya dimiliki oleh manusia, dan tidak dimiliki oleh mahluk lain, yaitu otak alias akal. Karena di situlah hakekat kemanusiaan manusia (hayawan natiq).

Inilah tantangan bagi aktivis emansipan, aktivis perempuan dan aktivis gender untuk mengembalikan perempuan (dan kemanusiaan secara keseluruhan) ke dalam ‘habitat’ asalnya sebagai mahluk berotak dan berakal, sebagai mahluk yang dihargai karena akalnya, sebagai mahluk yang diperebutkan karena SDM-nya, bukan karena bodynya. Itulah seharusnya, sebelum mereka berteriak keras tentang emansipasi (di segala bidang). Bukan berteriak-teriak emansipasi tanpa melihat kualitas yang diperjuangkan (perempuan itu sendiri), sehingga yang terjadi adalah memaksakan emansipasi dan akhirnya menghasilkan emansipasi yang tak berkualitas.

Emansipasi peran laki-laki dan perempuan akan berjalan secara kultural, jika intelektualitas, yang merupakan jembatan ke arah itu, menjadi ukuran dan dihargai. Pengobjekkan perempuan akan sirna, jika yang dihargai adalah otaknya.

Jadi, mengapa terjadi minoritas peran perempuan?

Tentang Cantik; Kriterianya Apa?

23 May 2008 § 1 Comment


Terinspirasi oleh seorang viewer yang berkomentar di salah satu tulisan di blog ini berjudul “Tentang Cantik“…

Yaa… saya setuju mengenai definisi cantik dalam versi normatif adalah ekuitas antara jiwa yang bersih dan lahir yang sehat dan pantas. Tapi bagaimana qt bisa melihat atau mengetahui dan memastikan bahwa wanita yang qt knal mempunyai kecantikan (jiwa yang bersih) tersebut? Klo cantik lahiriah, bisa terlihat dengan mata qta.

Jika kecantikan lahiriah, obyek penilaianya adalah “body”, maka kecantikan batin, obyek penilainya (menurut saya) adalah “moral”. Cakupan moral sangat luas sekali, dari tindakan, ucapan, karakter, cara dia berinteraksi dengan orang lain, bagaimana dia berkomitmen, bagaimana dia bergaul saat kita ada di sisinya, dan saat kita tidak di sisinya (atau mungkin Anda bisa tambahkan dengan kepatuhan terhadap ajaran agama atau peraturan) dan seterusnya dan sebagainya… Lho, Mas, siapa bilang hanya kecantikan lahiriah saja yang bisa dlilihat, kencatikan jiwa juga bisa kita lihat, lho, walaupun sebatas indikasi-indikasi…

Misalkan, dalam Islam, ada ungkapan hikmah yang beraroma moralitas, seperti: “fadhl al-mar’i yu’rafu bi qaulihi”, artinya, indikasi orang baik bisa diliat dari tutur sapanya… Ada juga ungkapan, “la tashhab man la yunhidhuka ila Allah haluhu, wa la yadulluka ila allah qauluhu”. Kurang lebih artinya jangan berteman dengan orang yang tingkah lakunya tidak membuat Anda termotivasi berbuat baik, dan tutur sapanya tidak mengarahkan Anda untuk berbuat baik… Kata “Allah” di ungkapan itu saya persempit dengan arti “perbuatan baik”. Sebab, kata “Allah” terlalu luas untuk dijabarkan…

Maaf, ya mas, kalo jawabannya hanya sekilas dan terkesan tidak fokus pada pertanyaan Anda. Jawaban saya generalisasikan tentang siapapun yang yang dekat dengan kita, cowok or cewek, pacar or temen biasa, isteri or bukan. Sebab, orang yang kita harapkan baik bukan hanya satu jenis manusia aja kan…

Dan satu hal, kita hanya bisa melihat dan mengetahui bahwa orang yang dekat dengan kita baik or tidak baik (dengan subyektifitas penilaian kita, tentu), tapi sama sekali kita tidak bisa memastikan… Sebab kita tidak bisa memantau pergerakan seorang temen dalam 24 jam, bukan?! Sekalipun bisa, kita sama sekali tidak akan pernah tahu yang sesungguhnya.

Nahnu nahkmumu bidz dzawahir, wallahu yatawallaa bis saraair… Kita hanya bisa menilai sebatas yang kita lihat, dan biarkan Tuhan yang menilai apa yang tidak kita lihat, begitu kata sebuah kaidah.

Dan terakhir, iftati qalbak, tanyakanlah pada nurani Anda, apakah temen Anda benar2 baik dan pantas dijadikan sahabat, pacar, suami, isteri, atau justeru sebaliknya…

Tuhan Usir Oknum Mengaku Umat Islam

16 May 2008 § 1 Comment


Sebuah imajinasi…

Suatu ketika, Tuhan memanggil seorang oknum yang Mengakunya Umat Islam.

“Hei, Kamu! Kemana aja kamu!” Kata Tuhan, agak membentak.

“A-a-apa, maksudMU, Tuhanku?” kata si oknum tergagap, bingung bercampur takut. Disusul kemudian dengan jawaban polos…

“Aku masih di bumi, kok, Tuhan. MembelaMU. Mempertahankan agamaMu.”

“Membelaku? Mempertahankan agamaku?”kata Tuhan yang disahut dengan anggukan polos si oknum itu. “Apa yang sudah Kamu lakukan untuk itu?”

Melihat pertanyaan Tuhan ini, si oknum menyunggingkan senyumnya, merasa itu adalah pertanyaan mudah. Dengan lugas, si oknum menjawab…

“Kami berhasil menekan Lia Eden dan pengikutnya. Walaupun saat ini dia sudah bebas dari penjara, tapi kami jamin, ajaran dan pengikutnya tak akan meluas… Kami sudah berhasil menjadikan Mushadeq, yang pernah mengaku sebagai nabiMU untuk abad ini, bertaubat… Kami sudah berhasil menyudutkan Ahmadiyah… Kami melarang umatMU untuk mengucapkan ucapan selamat hari raya agama lain kepada pengikutnya… Kami haramkan sekulerisme, pluralisme, liberalisme… Kami haramkan nikah beda agama… Kami haramkan wanita jadi imam shalat…“

“Kami melarang Dewi Persik bergoyang… Kami mengharamkan goyang ngebor Inul… Film-film yang mengumbar pornoaksi kami larang tayang… Kami melarang ini… Kami mengharamkan itu… Kami menyesatkan aliran ini… Kami menyesatkan kelompok itu… Kami sudah bla, bla, bla, bla, bla… Pokoknya kami sudah banyak berjuang untuk li i’laa i kalimatillah demi ‘izzul islam wal muslimin…”

“O, begitu,” Tuhan mendengar jawaban si oknum dengan raut ekspresi biasa saja. Si oknum seperti terlihat bangga dengan wajah berseri-seri.

“Hei, kamu! Denger-denger, pemerintah di negerimu bakal menaikan harga BBM yang akan berdampak bagi harga kebutuhan lain. Denger-denger juga, di negerimu mayoritas miskin, dan merekalah yang paling merasakan dampak kenaikan BBM itu. Dan sudah ada yang bunuh diri sebab itu? Benar? Aku juga lihat ada bencana lumpur Lapindo di sidoarjo. Korban-korbannya banyak yang masih menderita. Benar kan? Aku juga menyaksikan ada rumah-rumah ibadahku yang dibakar? Betulkan?” Si oknum hanya mengangguk mengiyakan serentetan pertantanyaan Tuhan itu.

“Apa yang sudah Kamu lakukan untuk itu?” tanya Tuhan selanjutnya.

“Maaf, Tuhan, aku pikir sudah ada yang berwenang untuk menyelesaikan masalah-masalah itu. Jadi kami tidak perlu turut campur. Lagian kami tidak sempat melakukannya, di tengah kesibukan tugas-tugas kami itu.”

“Ggrrhhh… Apa Kamu bilaaang!!! Pergi!!! Kamu tak pantas menemuiku!!!”

Terdengar tamparan keras yang menjungkalkan si oknum itu.

– – –

Sebuah refleksi…

Dalam satu hadis qudsi, pada hari kiamat kelak, dikisahkan Allah berdialog dengan hambaNya. “Wahai manusia, aku pernah sakit, kenapa Kau tidak menjengukku? Aku pernah kelaparan, kenapa Kau tidak memberiKu makanan? Aku pernah kehausan, kenapa Kau tidak memberiKu minuman?”

Dengan bingung, hamba tersebut berkata, “Wahai Tuhanku, bagaimana aku bisa menemuimu dan menjengukMu, memberiMu makanan dan minuman, sedangkan Engkau adalah Tuhan semesta alam?!”

Lalu Allah SWT menjawab, “Wahai manusia, tidakkah Kau tahu, hambaku si Fulan pernah sakit?! Tidakkah Kau tahu, hambaku si Fulan pernah kelaparan dan kehausan?! Aku tahu, Kau mengetahui semua kenyataan itu, hanya saja Kau tidak mau peduli. Padahal jika Kau mau peduli kepada mereka, niscaya Kau akan menjumpaiKu di sisi mereka.” (HR Muslim dari Abu Hurairah).

Where Am I?

You are currently browsing entries tagged with sosial at Warung Nalar.

%d bloggers like this: