Situs-situs & Gambar-Gambar Porno Ngetop, Woii!

20 May 2008 § 6 Comments


Celotehan gara-gara ga bisa tidur…

Dalam data statistik blog saya ini, saat tulisan ini dibuat, postingan lumayan lama berjudul “Situs-Situs & Gambar-Gambar Porno” mendapatkan arus terbanyak (tulisan teratas) kedua (setelah “Tentang Aku”, atau salah satu dari tiga postingan, satu yang lain adalah “Tentang Cantik”) di antara puluhan postingan yang ada. Judul posting berbau mesum tersebut juga kerap bolak-balik masuk lima besar dalam kategori “Tulisan Top”. Postingan lain dengan bau yang sama, juga kerap masuk lima besar tersebut, seperti “Homoseks; Rahmat, laknat, enak, enek” dan “Objek Seks”.

Data statistik di atas kini telah berubah, setelah masuknya posting yang sedang Anda baca ini. Posting ini, dalam waktu relatif sangat singkat, merangsek naik menjadi tulisan teratas sampai saat ini. -juman rofarif-

Apa artinya? Artinya, dalam blog ini, judul beraroma mesum tersebut termasuk postingan yang paling sering diklik, dilihat, dan dibaca.

Apa artinya “paling sering diklik, dilihat, dan dibaca”? Artinya seksualitas adalah persoalan misterius yang menjadi tanda tanya hati, kemudian dicari, setelah itu – jika bisa – dinikmati. Persoalan misterius koma bagi para lajang yang anti seks bebas, tentu. Sebab, bagi para pasangan suami istri atau lajang perawan tapi telah menikmati aktifitas suami istri, tentu saja persoalan itu bukan misteri, tapi telah menjadi materi.

Pun betapa seorang lajang perawan (anti seks bebas) telah bisa menikmati aktifitas seksual (cat: aktifitas “seksual” bukan terbatas pada aktifitas “ngeseks” lazimnya suami-istri), baik secara alamiah (mimpi basah) atau “manual” (ups!), tetap saja persoalan seksual adalah misteri. Sebab, persoalan itu, terkhusus aktifitas “ngesek” suami istri, adalah persoalan intuitif, yang misterinya tidak akan terkuak kecuali dengan melakukan dan merasakan langsung. Atau dalam istilah Jalaluddin Rumi, “Jika Anda ingin mengetahui panasnya api, pangganglah diri Anda di atas api!”. Atau dalam istilah ngawur disebut dengan “ilmu laduni”, yang tidak perlu teori, mekanisme, dan omong macam-macam, tapi berdasarkan pengalaman dan akan datang sendiri dari naluri.

Dan selama menjadi misteri, persoalan seks akan menjadi pertarungan pikiran dan batin, antara sekuat tenaga mempertahankannya tetap menjadi misteri hingga menikah nanti atau justru sekuat tenaga mengubah misteri itu menjadi materi.

Ah, sesuatu yang misterius memang selalu bikin penasaran, tanda tanya hati, dicari dan terkadang enak saja diikuti sampai berakhir menemukan arti, termasuk persoalan seksual dan yang berkaitan dengannya. Jika Anda berhasil membaca tulisan ini sampai pada kalimat yang terakhir Anda baca (Ya, betul. Memang itu!), cukuplah jadi bukti sederhana, jika persoalan seks dan yang terkait dengannya memang (terkadang) bikin penasaran dan pula enak saja diikuti, walaupun hanya secoret tulisan sederhana ini.

Dalam bayangan saya, aktifitas “ngeseks” suami istri adalah puncak dan akhir dari persoalan seks, sekaligus sebagai pembuka tabir misteri seksualitas. Iyzo, tah? Ah, mbuh! Durung kawin, sih… Saya bicara soal seks, lho, bukan tentang seks sebagai puncak tujuan suami istri.

Yo wis lah… Tadinya, sih mau tidur. Tapi, karena sampai jam setengah tiga pagi belum juga bisa memejamkan mata, sampai guling sana guling sini, madep sana madep sini, tetep aja ga merem-merem, ya mending buat celotehan ini. Mungkin itu lebih baik ketimbang ga bisa tidur, terus merenung, berdiam diri, berfantasi, kemudian tiba-tiba ada setan lewat ngajak saya menelusuri jejak-jejak misteri persoalan seksi… iii..i…

Advertisements

Objek Seks

3 April 2008 § 3 Comments


oleh Juman Rofarif

img_0412bjklbhkbjklllnk.jpg

Saya tidak menganjurkan Anda membeli majalah Male Emporium (ME), X Men’s Magazine, Popular, FHM, dan Maxim, dan majalah sejenis, atau membuka situs worldsex.com, lalatx.com, penthouse.com, playboy.com, atau searching di google dengan keyword “bugil”, “telanjang”, “bokep”, “seks”, “sex”, dan seterusnya dan seterusnya…

sex-workers1.jpg

Terlepas setelah Anda membeli, membuka, dan melihat apa yang tidak saya anjurkan tersebut, Anda betah menikmati walaupun mengingkari, atau mengingkari tapi ingin menikmati, menikmati tidak mengingkari, atau tidak menikmati sekaligus mengingkari, yang jelas ada satu hal yang ketara (paling tidak menurut saya), yaitu objekisasi perempuan sebagai simbol seks. Suka tidak suka, yang namanya objek seks adalah perempuan. Sebagai objek, perempuan hanya dihargai karena kemolekan body-nya. Ia diposisikan sebagai objek untuk dieksploitasi secara seksual. Perempuan tak ubahnya (dijadikan) seperti kambing; mahluk tak berpikir yang dihargai karena kelezatannya. Jangan harap dalam majalah-majalah cabul atau situ-situs cabu tersebut akan ditemukan banyak model pria dengan pose telanjang. Alasannya simpel: karena tentu saja pria tidak laku dan tidak akan menarik dijadikan objek seks.

Ironisnya, sadar atau tidak, (sebagian) perempuan sendiri terlibat dalam objekisasi dirinya. Mereka bangga menjadi model telanjang untuk sebuah majalah demi obsesi popularitas dan titian karir. Menguntungkan, memang. Karenanya menjadi idaman perempuan yang terobsesi menjadi model. Pelabelan “majalah khusus pria dewasa”, “adult only”, semakin menguatkan fenomena objekisasi tersebut. Dan media massa, cetak maupun elektronik, adalah alat yang paling bertenggung jawab dalam masalah ini. Sebagai penikmat, laki-laki juga seharusnya menjadi pihak lain yang dipersalahkan bukan?! Bukankah sebuah produk tidak bisa eksis tanpa kehadiran konsumen?!

Seharusnya, masalah seperti ini menjadi perhatian para aktifis gender, yang menghendaki kesetaraan gender yang sehat; laki-laki dan perempuan bersaing dalam ruang publik untuk menjadi subyek yang dihargai karena potensi “akal dan pikir”nya, bukan sebagai objek yang dihargai dan dinikmati karena body-nya. Karena dengan akal dan pikiran itulah dapat diidentifikasi hakikat mahluk yang bernama manusia, yang dihargai karena kemanusiaannya.

Kita mengenal istilah al-insan hayawan natiq, pada dasarnya manusia tak tak jauh beda dengan kambing, sapi, anjing, kucing, kutu, burung, kerbau, babi, ayam. Kita punya paha, hewan-hewan itu juga. Kita memiliki syahwat untuk dilampiaskan, hewan-hewan itu juga. Dengan akal dan hati yang memunculkan sikap malu, kita tidak akan melampiaskan syahwat di jalan-jalan. Berbeda dengan hewan-hewan itu yang tidak dianugerahi akal dan pikiran. Bagi hewan-hewan itu, melampiaskan syahwat di sembarang tempat tak jadi soal. Al-insan hayawan natiq, kita adalah hewan yang mampu berpikir.

Objekisasi di atas hanya sebagian perempuan lho. Sebab, mungkin sebagian lagi diisi oleh laki-laki. He…he… Dan banyak pula perempuan-perempuan yang lebih terhormat yang karya nyatanya telah terbukti dan patut diapresiasi…

Homoseks; rahmat, laknat, enak, enek…

1 April 2008 § 2 Comments


nav_homoseks_logo.gif

Orang yang mengakui homoseksualitas: orang yang menolak homoseksualitas didasarkan pada penafsiran-penafsiran berfikir sempit dalam pengajaran-pengajaran Islam. (hidayatullah.com, 31 Maret 2008 — http://hidayatullah.com/index.php?option=com_content&task=view&id=6605&Itemid=1)

Orang yang menolak homoseksualitas: orang yang mengakui homosekualitas didasarkan pada dangkalnya pemahaman mereka dalam menafsirkan sumber-sumber pokok ajaran Islam. (NU online, 31 Maret 2008)

Celoteh: perbedaan pendapat jadi rahmat, laknat, enak atau enek, yang jelas, si homo akan memilih tidak mengakui sekaligus tidak menolak, karena mereka mempraktekkan… he…he…

Situs-situs & Gambar-gambar Porno

29 March 2008 § 1 Comment


desain_web.jpg

Usaha pemerintah untuk memblokir situs-situs porno sepertinya akan berat. Sebab, pornografi di dunia maya tidak hanya terangkum dalam situs-situs “profesional”, tapi para netter juga bisa membuat situs-situs porno “amatiran”, macam friendster, blog, multiply, dan semacamnya. Ibaratnya, “patah tumbuh, hilang berganti”. Sudah banyak kan para netter yang menjadikan friendster, blog, dll, sebagai tampungan gambar-gambar porno?! Jika demikian, bukankah akhirnya friendster, blog, dll, bisa juga disebut “situs porno”? wiiihhhh…. beraaattt… Lebih berat lagi, otak kita juga sudah menjadi “situs porno”. So, ketika ada tulisan: “gambar porno”, “situs porno”, “gadis telanjang”, “foto bugil”, “gadis kampus”, “anak SMA”, serta merta sebagian kita mengira di situ akan tersedia gambar-gambar seperti yang dimaksud dalam tulisan tersebut. Dan dikliklah tulisan itu. Eh, ternyata… Ketipu deh!

Waduh! Bisa-bisa pemerintah memblokir otak kita, coz termasuk dalam kategori “situs porno”. Wakak…kakak…kakak…

Gimana nih?

Where Am I?

You are currently browsing entries tagged with seks at Warung Nalar.

%d bloggers like this: