Kisah Persahabatan Terhebat

17 February 2010 § 2 Comments


Judul: Sekolah Cinta Rasulullah: Kisah Suka Duka Generasi Muslim Pertama
Penulis: Dr. Nizar Abazhah
Penerjemah: Taufik Damas & M. Abidun
Penerbit: Zaman
Tebal: 463 Halaman
Terbit: Januari 2010
Harga: Rp. 54.000,00
————————–
BAGAIMANA kondisi generasi muslim pertama? Bagaimana mereka satu per satu jatuh hati pada Rasulullah dan ajarannya yang suci? Bagaimana mereka tumbuh di Makkah lewat tantangan demi tantangan yang teramat berat?

Buku ini bertutur tentang fragmen kisah generasi « Read the rest of this entry »

Ali

17 February 2010 § Leave a comment


Banyak pemuka kesatria sufi menelusuri garis silsilah mereka kembali kepada Ali, belum tentu karena mereka Syiah, kata Tamim Ansary, tapi karena Ali secara legendaris terkenal sebagai kesatria sempurna, kombinasi ideal kekuatan, keberanian, kesalehan dan kehormatan. Dalam Syiah memang tidak ada sahabat-Rasul yang paling istimewa selain Ali. Tamim melanjutkan, Syiah merasa bahwa otoritas keagamaan mutlak dan turun-temurun dimiliki oleh seorang tokoh yang disebut imam, yang merupakan wakil Allah di bumi. Dan selalu ada satu imam di dunia, tidak pernah ada dua; dan imam sejati sebuah zaman selalu diturunkan dari Rasul melalui putrinya Fathimah, yang tak lain adalah istri Ali.

Saya sendiri tumbuh dalam tutur dan literatur yang tak mengistimewakan salah seorang sahabat tertentu. Setiap sahabat adalah istimewa di hati Rasul, dengan keistimewaan masing-masing. Abu Bakar adalah sahabat Rasul sejak kecil, yang kemudian menjadi mertua Rasul. Rasul pernah berujar tentang Abu Bakar, “Jika orang lain akan meminta waktu untuk berpikir saat aku menyampaikan Islam, tidak demikian dengan Abu Bakar. Ia menerima Islam tanpa ragu dan tak butuh waktu.”

Umar adalah jawaban Tuhan untuk Rasul. Rasul pernah berdoa, “Tuhan! Kuatkanlah Islam dengan salah satu dari dua Umar: Umar ibn Khathab dan Amr ibn Hisyam.” Amr ibn Hisyam tak lain adalah Abu Jahal. Selain Abu Jahal, Umar adalah sosok pemberani cenderung kejam. Jika salah satu dari mereka memeluk Islam, Islam di Makkah akan berwibawa dan ditakuti. Dan, ternyata, pilihan Tuhan adalah Umar ibn Khathab—yang kemudian memeluk Islam secara dramatis dan mengharukan: takluk oleh air mata saudarinya yang menetes oleh tamparan Umar.

Sedangkan Utsman adalah menantu Rasul dengan menikahi Ruqayah. Setelah Ruqayah wafat, Utsman menikahi putri-Rasul yang lain, Ummu Kultsum. Sebab itulah Utsman bergelar Dzû al-Nurayn atau “orang yang memiliki dua cahaya”. Maksudnya adalah dua cahaya hati Rasul: Ruqayah dan Ummu Kultsum.

Ali? Ali adalah sepupu Rasul sekaligus menantunya. Sejak muda telah dikenal sebagai kesatria. Dialah pemuda tujuh belas tahun yang menempati tempat tidur Rasul untuk mengelabui orang-orang yang hendak menjadikan Rasul sebagai target pembunuhan—Rasul kemudian keluar dari Makkah secara sembunyi-sembunyi bersama Abu Bakar, menuju Yatsrib (Madinah). Ali sangat sadar, menempati tempat tidur Rasul sama saja dengan menyerahkan nyawa. Orang-orang musyrik bisa saja meyakini jika ia adalah Rasul yang tertidur lelap, lalu dengan mudah menikamnya.

Saya akan menukil kisah lain tentang kekesatriaan Ali. Kali ini dari buku Destiny Disrupted: A History of The World through Islamic Eyes karya Tamim Ansary, seorang sejarawan dan sastrawan dunia kelahiran Afghanistan—yang akan segera diindonesiakan oleh Penerbit Zaman menjadi Dari Puncak Bagdad: Sejarah Dunia Versi Islam. Anda tahu, saya benar-benar terharu oleh sepenggal kisah ini, kisah tentang keberanian, keromantisan, dan religiusitas …

Dalam satu pertempuran penting pada masa-masa awal Islam, seorang pemuda menuju Ali sambil mengayunkan pedangnya.

“Kau tidak tahu siapa aku?! Ah, bodoh! Aku Ali! Kau tidak akan mampu mengalahkanku. Justru aku yang akan membunuhmu. Kenapa kau masih nekat?”

“Karena aku sedang jatuh cinta,” kata pemuda itu. “Dan, kekasihku berkata jika aku mampu membunuhmu, dia akan menjadi milikku sepenuhnya.”

“Tapi, jika kita berduel, kemungkinan justru aku yang akan membunuhmu.”

“Adakah yang lebih baik daripada terbunuh demi cinta?!”

Ali luluh oleh penuturan terakhir si pemuda. Ia melepas helm besinya lalu menjulurkan lehernya.

“Tebaslah aku di bagian ini,” kata Ali seraya menunjuk lehernya.

Akan tetapi, melihat kesediaan Ali untuk mati demi cinta, giliran hati pemuda itu terbakar dan luluh, mengubah cintanya kepada wanita menjadi sesuatu yang lebih tinggi: cinta kepada Tuhan. Dalam sesaat, Ali mengubah pemuda biasa menjadi seorang sufi tecerahkan.[]

Umar Menjelang Gugur

21 July 2008 § Leave a comment


Umar bin Khattab ra. adalah sahabat Nabi yang memiliki banyak keutamaan. Sebagai seorang khalifah ia telah membebaskan banyak wilayah di luar jazirah Arabia. Keberhasilan ia tentu saja mengundang kebencian para mantan penguasa yang ditaklukannya. Mereka menyewa pembunuh bayaran untuk menghabisi Umar. Tugas yang tidak sulit, karena Umar adalah pemimpin yang enggan didampingi oleh pasukan pengawal.

Sampai pada suatu pagi, Umar berkeliling membangunkan kaum muslimin untuk salat subuh berjamaah. Pada salat subuh itu, Umar sendiri yang menjadi imamnya. Ketika ia baru saja mengucapkan takbiratul ihram, tiba-tiba seorang pembunuh yang menaruh dendam menikamnya dengan dua (atau tiga) kali tikaman. Pertama mengenai bahunya dan yang kedua menusuk pinggangnya.

Setelah itu, Umar yang terluka di bawa ke rumahnya. Dalam keadaan terluka namun sadar, Umar meminta kepada Ibnu Abas, “Cari tahu, siapa yang menikamku!” Setelah beberapa saat, Ibnu Abas datang dengan membawa berita dan menyampaikannya kepada Umar, “Ia adalah si Fairuz, Abu Lu’luah. Bekas tawanan dari Persia.” Umar berkata, “Tuhan mengutuknya. Aku telah memerintahkan berbuat baik kepadanya. Syukurlah, kematianku bukan di tangan orang muslim.”

Pada saat-saat kritis Umar, Ibnu Abas sempat berkata kepadanya, “Amir al-Mu’minin, Engkau telah memeluk Islam, ketika orang lain masih kafir. Engkau berjuang bersama Nabi, saat kebanyakan orang memusuhinya. Engkau terbunuh sebagai syahid, dan tidak seorang pun yang berselisih tentangmu. Rasul pun wafat dengan meninggalkan ridla untukmu.” Umar meminta agar Ibnu Abas mengulangi ucapannya itu.

Sebagai negarawan, Umar bin Khattab adalah sosok demokratis dan tidak sekterian atau melebihkan kabilah tertentu. Pada saat-saat kritis, Umar masih sempat berpesan kepada para sahabat agar membentuk dewan syura untuk memilih khalifah baru. Walaupun seandainya mau, ia boleh saja menunjuk Utsman, Ali, atau putranya, Ibnu Umar sebagai khalifah baru. Seperti diketahui, Umar menjadi khalifah atas penunjukkan Abu Bakar. Namun, Umar berpikir jauh. Ia tahu, menunjuk sahabat tertentu untuk menggantikannya sebagai khalifah akan berekses negatif. Ia akan dianggap nepotis dan pilih kasih, yang tentu saja dapat menimbulkan konflik horizontal dan merusak barisan persatuan umat. Walaupun firasatnya mengatakan, yang akan terpilih dalam majlis musyawarah itu adalah antara Utsman atau Ali.

Maka, ketika ajalnya sudah kian dekat, Umar berpesan kepada Ali, “Ali, jika nanti Engkau berkuasa atas kepentingan umat Islam, jangan sekali-kali Kau letakkan masyarakat Bani Hasyim di atas pundak umat Islam.” Kepada Utsman pun Umar berpesan, “Utsman, jika Engkau berkuasa atas kepentingan umat Islam, jangan sekali-kali Kau letakkan masyarakat Bani Umayyah di atas pundak umat Islam.” Maksudnya, siapapun yang menjadi khalifah tidak boleh nepotis, pilih kasih dan mementingkan kabilahnya.

Pesan itu tersebut Umar sampaikan kepada Utsman yang dari kabilah Bani Umayah, dan Ali yang dari kabilah Bani Hasyim, setelah ia melihat keduanya seperti bersaing ingin menduduki jabatan khalifah. Sebab Umar tahu, Bani Umayah dan Bani Hasyim adalah seteru abadi.

Dan si pembunuh Umar, Abu Lu’lu’ah, akhirnya bunuh diri dengan senjata yang ia gunakan untuk menikam Umar. Itu dilakukannya setelah ia tertangkap oleh salah seorang sahabat, terhempas ke tanah, dan terpojok. Ia tertangkap setelah berusaha menerobos orang-orang yang berusaha mencekalnya. Sambil menerobos, ia menikam-nikamkan senjata dan melukai 12 orang. Dan 6 atau 9 di antaranya meninggal.

Aisyah

14 May 2008 § 3 Comments


Kurang lebih, dua tahun sudah Khadijah meninggalkan Rasul,[1] seorang istri yang begitu ia hormati karena kedewasaannya, loyalitasnya sebagai seorang istri yang secara total menyerahkan jiwa raga dan hartanya untuk perjuangan sang suami. Rasa hormat Rasul yang begitu besar terhadap Khadijah membuat ia sungkan berbagi hati selama dalam pelukannya.[2] Ia adalah satu-satunya istri Rasul yang mendapatkan kiriman langsung “salam“ dari Allah, dan salah seorang istri Rasul yang mendapatkan titipan salam dari Malaikat Jibril, selain Aisyah.[3] Tak ada alasan bagi Rasul untuk tidak selalu mengingat dan mengenang putri Khuwailid itu.

Namun ia takkan membiarkan dirinya terbenam kelam dalam alam kenangan dan menutup diri untuk membuka hatinya yang selama ini berselaput awan kabung. Bagaimana pun Khadijah adalah masa lalu, sedangkah ia masih dan akan berjalan menjejaki waktu, mengemban beban-beban risalah di pundaknya. Sepeninggal Khadijah, ia akan tetap membutuhkan dukungan sebuah keluarga.

Di antara rekan-rekan Rasul yang peduli dengan kesendiriannya dan tak segan menganjurkannya kembali menikah adalah seorang perempuan bernama Khaulah binti Hakim.

“Rasul, tidakkah Kau ingin menikah lagi?”

“Tentu saja ingin. Tapi dengan siapa?” Jawab Rasul.

“Aku memiliki pilihan yang mungkin sesuai dengan kecenderunganmu, baik janda atau yang masih gadis,” kata Khaulah memberikan pilihan. “Jika janda, dia adalah Saudah binti Zam’ah. Dia sudah menjadi pengikut ajaranmu.”

“Jika yang masih gadis, dialah Aisyah, putri Abu Bakar, sahabat yang paling Kau cintai itu.”

Rasul memandang pilihan Khaulah bukanlah pilihan yang buruk. Namun demikian, ia tidak serta merta menjatuhkan pilihannya. Ia hendak meneladankan bahwa pernikahan adalah kepentingan dua orang yang saling bercenderung. Pernikahan bukanlah ajang seorang laki-laki menjadi pemilih dan perempuan sebagai objek-objek pilihan. Betapapun Rasul bercenderung kepada salah satu dari dua orang itu, dengan pesona kenabiannya, ia tak hendak memaksakan kecenderungannya itu. Ia meminta Khaulah menjadi penghubung, menyampaikan terlebih dahulu hasratnya kepada orang yang dimaksud.

Atas perintah Rasul, Khaulah mendatangi keluarga Aisyah.

“Bu, aku datang kesini atas perintah Rasul,” kata Khaulah kepada Ummu Ruman, ibunda Aisyah, yang saat itu hanya dia yang ada di rumah.

“Dengan segala hormat, Rasul hendak meminang Aisyah, putri Ibu,” Khaulah memperjelas maksudnya.

“Maaf, aku belum bisa memutuskan. Alangkah lebih baiknya jika menunggu Abu Bakar pulang. Saat ini dia sedang keluar.” Kata Ummu Ruman yang disambut dengan anggukan oleh Khaulah. “O, baiklah, kalau begitu.”

Jeda beberapa saat, Abu bakar datang. Dan kepadanya, Khaulah mengulang apa yang tadi ia sampaikan kepada Ummu Ruman.

“Maaf, sebelumnya. Hmm…, bukankah aku saudara Rasul? Apakah pernikahan itu diperbolehkan?” Jawab Abu Bakar sembari menyampaikan pertanyaan ketidakpahaman. “Tolong, sampaikan itu dulu kepada Rasul.”

Khaulah kembali kepada Rasul dengan membawa pertanyaan dari Abu bakar. Beberapa saat kemudian, ia kembali kepada Abu Bakar dengan membawa jawaban dari Rasul.

“Abu, Rasul bilang, Kau dan Rasul adalah saudara dalam bingkai Islam, bukan dalam ikatan nasab. Jadi pernikahannya dengan putrimu diperbolehkan.”

“O, begitu…” Kata Abu Bakar sembari mengangguk-angguk paham.

Kepada Khaulah, untuk disampaikah kepada Rasul, Abu meminta waktu untuk berpikir.

Abu Bakar dan Ummu Ruman sebenarnya berada dalam dilema. Ia menyambut bahagia jika Rasul menjadi bagian dari keluarga besarnya, di sisi lain, sebenarnya ia dan istrinya telah terlebih dahulu melakukan pertemuan dangan keluarga Muth’im bin ‘Adiy, soal anak masing-masing. Abu Bakar merasa berat menolak Rasul sebagai mantunya, sekaligus merasa tidak enak hati jika harus menghentikan pembicaraan bersama kelauarga Muth’im. Ia terjepit di antara dua posisi yang sama-sama tidak ideal. Namun, ia harus memutuskan dan memilih satu dengan berusaha tidak menyakiti satu pihak yang lain.[4] Dan Abu Bakar memilih Rasul.

Akhirnya, Rasul dan Aisyah melangsungkan akad nikah di Makkah kurang lebih satu tahun sebelum Rasul hijrah ke Madinah. Saat itu, Aisyah berusia enam tahun.[5]

Sebelum menikah dengan Aisyah, Rasul telah beberapa kali memimpikannya. Dalam mimpi itu, Rasul melihat dirinya didatangi malaikat yang membawa wanita bercadar, dan mengatakan bahwa wanita itu adalah calon istrinya. Sang malaikat meminta Rasul membuka cadar wanita itu. Ketika dibuka, nampak jelas, paras yang ia lihat adalah wajah Aisyah. Ketika bangun, Rasul hanya berdoa, jika itu adalah petunjuk Allah, maka jadikan mimpi itu nyata.[6]

Aisyah menjadi istri pertama Rasul, setelah Khadijah wafat. Kelak, di antara para istri Rasul, ia adalah satu-satunya yang gadis.[7] Bersama Rasul, ia tumbuh menjadi perempuan paling cerdas pada waktu itu. Ia tidak pernah menyerah pada ketidaktahuan.[8] Gaya bicaranya lugas, tutur bahasanya fasih, dengan retorika yang argumentatif.[9] Selain sebagai istri, Aisyah adalah teman diskusi Rasul. Setelah Rasul wafat, ia menjadi tempat bertanya dan sumber ilmu bagi orang-orang.

Suatu kewajaran jika kemudian Aisyah menjadi istri Rasul yang paling ia cintai. Rasul bukanlah petualang cinta. Sebab itulah ia tak bisa berbagi cinta lebih, kecuali terhadap Aisyah. Ia hanyalah seorang pengasih yang sama sekali takkan tega melihat penderitaan seorang janda beranak enam, bernama Saudah binti Zam’ah. Demi menanggung beban Saudah beserta keenam anaknya itu, Rasul merelakan seonggok raganya untuk dimiliki juga oleh Saudah. Awalnya Saudah menolak.

“Apa yang membuatmu tidak menerimaku?” Tanya Rasul lembut kepada Saudah.

“Sungguh, Rasul, dengan segala hormat, tidak ada alasan bagiku untuk tidak menerimamu. Kau adalah orang yang paling aku cintai. Namun, semata aku khawatir, aku beserta anak-anakku hanya akan merepotkanmu, di sela-sela beban berat di pundakmu,” kata Saudah beralasan.

“Adakah alasan lain yang lebih dari itu?”[10] Kata Rasul tidak berasalan, tapi meyakinkan bahwa keputusannya menikahi Saudah adalah justru untuk membantu meringankan beban tanggungannya, termasuk yang terakhir disebut Khaulah.

Rasul menikahi Saudah binti Zam’ah, janda dari Sakran bin Amr, beberapa waktu setelah menikahi Aisyah, juga sebelum ia hijrah ke Madinah. Ia menjadi istri kedua Rasul, setelah Aisyah. Binti Zam’ahlah yang pada masa-masa tuanya menyerahkan hari gilirannya untuk Aisyah.[11] Di tengah keterbatasannya, Saudah memang dikenal sebagai istri Rasul yang paling senang bersedekah.[12] Rasul mengakui dan memuji hal itu. Dan hari gilirannya diberikan kepada Aisyah, semata karena ia tahu Aisyahlah istri yang paling dicintai Rasul.

Pun betapa adil Rasul berperan sebagai seorang suami dari beberapa orang istri, hati tetap bukanlah raga yang bisa menjadi milik bersama. Jiwanya yang lembut membuatnya mudah saja berbagi kasih secara adil kepada semua, termasuk kepada istri-istrinya, tetapi tidak dengan berbagi cinta. Cinta Rasul hanya untuk Aisyah, walaupun kasihnya ia tebarkan kepada istri-istrinya.

Dan pun betapa besar cinta Rasul kepada Aisyah, ia seperti tak bisa menghindar dari bayang-bayang Khadijah. Bagi Rasul, Khadijah bagai udara yang ia hela dan selalu ada, walaupun tak terindra. Sejejak hatinya terisi oleh sejarah Khadijah. Pada setiap kesempatan, ia tak jarang memuji semenjulang langit seluas angkasa istri pertamanya yang pernah mendapat kabar surga dari Allah itu,[13] Hingga tak jarang hal itu membarakan cemburu di benak Aisyah.

“Rasul, tak bisakah Kau sebentar saja tak menyebut Khadijah?!”[14] naluri alamiah Aisyah meronta, tak bisa menahan perasaan, setiap kali Rasul menyebut Khadijah. Di antara para istri Rasul, hanya Khadijah binti Khuwilid yang bisa membuat Aisyah cemburu, walaupun hanya sekedar kata tentangnya yang keluar dari lisan Rasul. Rasan-rasan di hati Aisyah membisikkan, seperti sudah tidak ada wanita saja di muka bumi ini, selain Khadijah yang sudah mangkat itu.[15]

“Rasul, bukankah kini telah ada orang yang lebih baik darinya di sisimu?!”[16]

Mendengar curahan bara cemburu dari tutur Aisyah, seketika raut wajah Rasul berubah merah. Raut itu hanya nampak saat ia menerima titah ilahiyah atau ketika sedang terselubung amarah. Dan, raut wajah merah di paras Rasul saat itu adalah jelas tanda amarah.[17] Rasul menghadapkan tubuh dan mukanya ke Aisyah.

“Aisyah, perlu Kau tahu, Allah tidak akan mendatangkan untukku pengganti sebaik atau yang lebih dari Khadijah! Tidak akan ada lagi perempuan seperti dia!” Jelas Rasul sedang marah. Mungkin karena tersinggung oleh ucapan Aisyah.

“Tahukah Kau, Aisyah, dia telah terjaga akan kenabianku, ketika orang lain masih terlelap parah berselimut jahiliyah. Dia memastikan ucapanku sebagai kebenaran, saat orang lain mengaggapnya bualan. Dia tak segan mengeluarkan hartanya untuk kebutuhanku, tatkala orang lain enggan melakukannya. Kau perlu tahu semua itu, Aisyah!”[18]

Aisyah memang agak pencemburu ketimbang istri-istri Rasul yang lain. Barangkali karena usianya yang masih remaja. Masih sering muncul sifat kolokannya. Misal saja ketika Rasul menjuluki semua istrinya, Aisyah pun minta agar dirinya juga diberi julukan. Dan Rasul memberikan julukan kepadanya dengan “Ummu Abdillah” (ibu dari seorang hamba Allah). Walaupun sampai akhir hayatnya, darinya Rasul tidak dikarunia anak.[19]

Ah, keluarga yang dinamis. Cinta, kasih, amarah, cemburu, dengan sedikit konflik, datang dan pergi, berputar dan berlalu bersama waktu. Satu kebiasaan jika Aisyah sebal terhadap Rasul adalah ia tak mau bersumpah yang mengandung unsur namanya. Cukuplah bagi Rasul tahu Aisyah sedang sebal jika ia mengatakan “la, wa rabbi ibrahim”, bukan “la, wa rabbi muhammad”, seperti biasa jika ia sedang bahagia atau berbunga-bunga karena cinta.

Aisyah tersipu malu, Rasul mengetahui kebiasaanya itu.

“Kau benar, Rasul. Itu kebiasaanku. Tapi sungguh, pun betapa sebalnya aku kepadamu, itu sama sekali tak menggoyahkan cintaku kepadamu. Aku memang bisa memalingkan bibirku untuk tak menyebut namamu, tapi sama sekali aku tak mampu memalingkan hatiku dari cintamu.”[20]

Satu keistimewaan yang dimiliki oleh Aisyah dan tidak dimiliki oleh istri-istri Rasul yang lain adalah, Aisyah menjadi istri Rasul tidak hanya di dunia, namun di akhirat kelak.[21] Sungguh, apresiasi besar dan istimewa dari Allah untuk seorang Aisyah, gadis belia yang selama bersama Rasul, Allah berkenan menurunkan tidak sedikit risalah atas peristiwa yang berkenaan dengannya. Seorang gadis, yang dengan kecerdasan di atas rata-rata kebanyakan orang saat itu, dia adalah seorang wirai yang tak mau dipuji, lebih senang untuk tak dikenang.

Ketika Aisyah dalam keadaan paling payah karena tua dan mendekati sekarat, Ibnu Abas datang menjenguknya. Awalnya, kedatangan Ibnu Abas ia tolak, khawatir hanya akan mengumbar pujian. Namun, atas bujukan saudara-saudaranya yang saat itu juga menjenguk, akhirnya Ibnu Abas bisa menemui orang yang paling dicintai Rasul itu, mungkin untuk terakhir kalinya.

“Ummul Muminin, Kau adalah istri yang paling dicintai Rasul. Dan tidak ada yang dicintai Rasul kecuali ia adalah baik…,” benar saja, Ibnu Abas datang untuk memberikan pujian.

“Hanya Kau perempuan masih gadis yang dinikahinya… Kau belia terfitnah, namun Allah sendiri yang menampik fitnah itu, sehingga siang dan malam masjid-masjid sesak penuh orang-orang yang mendaras Alquran, menyambut pembebasanmu dari fitnah… Sebab Kau, turun risalah rukhshah tayamum sebagai pengganti wudu… Kau perempuan pembawa berkah bagi umat… “

“Ibnu Abas, cukup! Sudahi omonganmu!” Aisyah yang terbaring lemah memotong serentetan pujian yang meluncur deras dari mulut Ibnu Abas.

“Aku lebih nyaman tanpa pujian… Aku lebih senang untuk tak dikenang…”[22]

14 Mei 2008


[1] HR Bukhari dari ‘Urwah bin Zubair.

[2] HR Muslim dari Aisyah. Lihat juga Al-Bidahay wa al-Nihayah karya Ibnu Katsir, 3/129.

[3] Fath al-Bari Syarh Shahih al-Bukhari karya Ibnu Hajar , 7/139

[4] HR Ahmad

[5] HR Bukhari dari ‘Urwah bin Zubair.

[6] HR Bukhari dari Aisyah.

[7] HR Bukhari dari Ibnu Abas.

[8] HR Bukhari dari Aisyah.

[9] HR Tirmizi dari Aisyah.

[10] HR Ahmad dari Ibnu Abas.

[11] HR Bukhari dari Aisyah.

[12] HR Nasa’i dari Aisyah.

[13] HR Bukhari dari Aisyah.

[14] HR Ahmad dari Aisyah.

[15] HR Bukhari dari Aisyah.

[16] HR Bukhari dari Aisyah.

[17] HR Ahmad dari Aisyah.

[18] HR Ahmad dari Aisyah.

[19] HR Ahmad dari Aisyah.

[20] HR Bukhari, Muslim dan Ahmad dari Aisyah.

[21] HR Tirmizi dari Aisyah.

[22] HR Bukhari dan Ahmad dari Ibnu Abas.

Ketika Dua Penyangga Roboh

2 May 2008 § 1 Comment


Belum lagi kering air mata kesedihan atas meninggalnya sang paman, Abu Thalib, kesedihan lain bertubi mendera Rasul. Sang istri, Khadijah berpulang meninggalkan Rasul, menyusul sang paman untuk selamanya. Khadijah, sang istri yang ia sebut sebagai salah seorang perempuan terbaik dunia, selain Maryam binti Imran Sang Perawan Suci yang melahirkan Nabi Isa, Asiyah istri Raja Firaun, dan Fatimah putrinya sendiri.[1]

Khadijah adalah sudagar kaya yang memiliki banyak pegawai. Salah seorang di antaranya adalah pemuda bernama Muhammad bin Abdullah yang kelak menjadi Rasul. Kebaikan, kejujuran, dan sifat-sifat bajik lain yang tersemat pada pegawainya itu, membuat sang sudagar jatuh hati. Semakin hari berlalu, perasaan terpikat itu semakin dalam tertancap di hati saudagar berumur empatpuluh tahun tersebut, hingga akhirnya memutuskan untuk meminang seorang pemuda berusia duapuluh lima tahun itu.

Pada awalnya, ayah Khadijah enggan menyetujui keinginan putrinya itu. Namun, ia tak kurang akal agar keinginan memiliki Muhammad tercapai. Diadakanlah pesta terselubung. Suatu hari, Khadijah membuat banyak makanan dan minuman. Saat itu, belum ada larangan minuman keras. Diundanglah ayah dan beberapa kerabatnya serta sejumlah orang-orang dari suku Quraisy. Sudah menjadi adat masyarakat Arab kala itu, minuman keras menjadi sajian khas untuk acara pesta atau sekedar kumpul-kumpul. Dan sebagai giliran, mabuk-mabukan menjadi hal yang tak bisa terelakkan. Demikian juga yang terjadi pada hajatan laten Khadijah itu. Sebagian besar orang-orang yang hadir pada acara itu telah teler, termasuk ayahnya. Pada kondisi seperti itulah Khadijah melaksanakan niatnya.

“Ayah, Muhammad telah melamarku. Aku harap Ayah mau menerimanya dan menikahkannya untukku,” pinta Khadijah kepada Ayahnya yang masih mabuk. Dan Ayahnya hanya manggut-manggut saja mendengar permintaan putrinya itu.

Pesta pernikahan Khadijah dan Muhammad pun siap dilangsungkan. Persiapan di sana sini dilakukan. Khadijah mendandani ayahnya sedemikian rupa. Begitu juga dengan orang-orang yang hadir di situ.

Untuk beberapa lama, pesta pernikahan pun berlangsung. Kebahagian di sana sini terpancar berbaur dengan riuh rendah hadirin yang mabuk. Sampai akhirnya sedikit kericuhan terjadi, saat ayah Khadijah sadar dari mabuknya dan melihat dirinya telah berpakaian rapi, berdandan pula.

“Ada apa ini?! Ada apa ini? Apa yang terjadi di sini?!” Ayah Khadijah yang sedari tadi menjadi bagian dari pesta itu, seperti orang yang terjebak pada sebuah mimpi buruk dan tiba-tiba terbangun. Ia terakut kejut. Khadijah didekatinya.

“Ada apa ini? Kenapa aku berpakaian seperti ini?”

“Ayah baru saja menikahkanku dengan Muhammad bin Abdullah,” jawab Khadijah berusaha tenang.

“Apa?! Aku telah menikahkanmu dengan si yatim asuhan Abu Thalib itu?” Ayah Khadijah semakin terkaget mendengar pernyataan putrinya.

“Iya. Ayah telah melakukan itu. Memangnya kenapa?!”

“Tidak, tidak! Aku tidak setuju!”

Tapi Khadijah bukanlah perempuan lemah yang gampang terpojok.

“Apa engkau tidak malu?! Engkau ingin membuat dirimu tampak bodoh di mata orang-orang Quraisy dengan memberi tahu mereka engkau sedang mabuk dan masih belum waras?! ”<!–[if !supportFootnotes]–>[2]<!–[endif]–>

Hari-hari berlalu melunakkan keadaan. Khadijah dan Muhammad pun hidup bersama. Bersama Khadijah, awal perjuangan Muhammad menyampaikan pesan-pesan ketuhanan dimulai. Ia sering bermimpi tentang kewahyuan. Ia juga lebih sering menyendiri, meninggalkan istri, keluarga dan masyarakatnya. Ia memilih Gua Hira sebagai tempat menyendiri. Ia pulang kepada Khadijah jika perbekalannya sudah habis. Setelah itu kembali lagi ke gua.

Namun, kali ini, Muhammad pulang ke Khadijah bukan untuk mengambil bekal. Ia pulang dengan raut wajah pucat pasi berbalut ketakutan luar biasa. Keringat dingin mengalir deras membasahi tubuhnya. Khadijah segera memapah tubuh menggigil Muhammad ke ranjang, menyelimutinya, dan mendekapnya erat. Khadijah berusaha menenangkan Muhammad, hingga akhirnya ia menceritakan perihal yang terjadi.

“Suamiku, tenangkanlah dirimu. Aku percaya, apa yang terjadi padamu bukanlah pertanda buruk. Aku yakin, sekali-kali Allah tidak akan menyusahkanmu. Kau orang baik yang selalu menjalin hubungan baik dengan orang-orang. Kau selalu membantu orang-orang tak mampu, orang-orang yang terkena musibah, dan mau menanggung kebutuhan mereka. Kau selalu menghormati tamu…”

Komentar sejuk Khadijah tersebut memancarkan energi kehangatan dan ketenangan bagi jiwa Muhammad yang masih erat dalam dekapan isterinya itu.

Keesokan harinya, Khadijah mengajak Muhammad menemui Waraqah bin Naufal, seorang renta mantan penyembah berhala yang terpesona dengan agama Nasrani hingga kemudian memeluknya, untuk menanyakan apa yang terjadi pada Muhammad dari sudut pandang Injil. Waraqah sangat menguasai Injil. Dia pula yang menyalin Injil dari bahasa Ibrani ke bahasa Arab.

“Saudaraku,” kata Waraqah kepada Muhammad, “yang mendatangimu di Gua Hira adalah malaikat Jibril yang juga pernah mendatangi Nabi Musa. Andai saja, saat ini, aku masih muda, niscaya kelak aku dapat melihat Engkau diusir oleh masyarakatmu…”

“Aku akan diusir oleh masyarakatku sendiri?!” Tanya Muhammad menyela, kaget dengan yang terakhir dikatakan Waraqah.

“Benar. Tidak ada orang sepertimu, yang membawa pesan-pesan ketuhanan, yang tidak dimusuhi. Jika pada saatnya itu terjadi, dan aku masih hidup, niscaya aku akan menolongmu.”

Namun, tak lama setelah itu, Waraqah meninggal dunia membawa serta angannya.<!–[if !supportFootnotes]–>[3]<!–[endif]–>

Ya, Khadijah telah meninggalkan Rasul untuk selamanya. Seorang isteri yang menjadi selimut hangat bagi suami, menjadi tongkat tangguh bagi sandaran rapuh suami, orang yang pertama kali merespon positif risalah ketuhanan yang dibawa sang suami, dan orang yang mencurahkan jiwa, raga, harta, dan apa pun yang dimilikinya untuk perjuangan sang suami.<!–[if !supportFootnotes]–>[4]<!–[endif]–>

Tahun itu, tepatnya tiga tahun sebelum hijrah ke Madinah, menjadi masa-masa paling berkabung bagi Rasul. Sebelum kematian sang istri, Rasul telah ditinggal terlebih dahulu oleh sang paman. Genap sudah kesedihan Sang Rasul. Detik-detik menjelang kematian Abu Thalib, dan bahkan sepeninggalnya, adalah masa-masa dramatis bagi Sang Rasul…

Abu Thalib, orang yang sangat mencintai Rasul dan ia pun begitu, sedang tertatih-tatih menapaki sisa hidupnya. Ia sedang berada di ujung jurang kehidupan dunia. Sedikit saja Israil menjentikkan jarinya, ia akan terlempar ke dunia lain.

Saat Rasul yang menjenguk Abu Thalib, di situ telah ada sanak saudaranya dan sejumlah orang dari suku Quraisy, di antaranya adalah Abu Jahal dan Abdullah bin Abi Umayyah yang telah datang lebih dulu.

Orang-orang yang hadir menjenguk Abu Thalib terbelah menjadi dua kubu, mereka yang telah memeluk agama Rasul Muhammad dan mereka yang masih menggenggam erat agama Abdul Muthalib (kepercayaan jahiliyah). Dua kubu itu mempertaruhkan sisa hidup Abu Thalib untuk mau mengikuti ajakan masing-masing, antara ajakan Rasul terhadap Islam dan peneguhan Abu Jahal terhadap kepercayaan jahiliyah yang telah dianut Abu Thalib.

Di akhir masa hidup Abu Thalib, situasi panas justru menghinggapi orang-orang yang datang menjenguknya. Abu Jahal berulah dengan menghalangi Rasul yang hendak mendekati Abu Thalib untuk menyampaikan sesuatu.

“Kemenakanku, ada apa?” Tanya Abu Thalib kepada Rasul, melihat kemenakannya itu punya maksud.

Rasul yang pada awalnya ingin mengutarakan maksudnya lebih dekat dengan Abu Thalib, terpaksa menyampaikan dengan agak jauh darinya.

“Paman, jika Allah menentukan saat ini adalah perjumpaan terakhirku denganmu, hanya satu yang kuminta darimu, ucapkanlah la ilaha illallah. Dan aku akan menjadi saksi di hadapan Allah atas ucapanmu itu,”<!–[if !supportFootnotes]–>[5]<!–[endif]–> tak sampai hati Rasul menyaksikan orang yang sudah seperti ayahnya sendiri, bahkan lebih dari itu, di akhir hayatnya masih menganut kepercayaan jahiliyah.

“Paman, jika sekalimat itu Paman ucapkan, semenanjung Arab akan mengikuti Paman. Begitu juga dengan orang-orang non-Arab.”<!–[if !supportFootnotes]–>[6]<!–[endif]–>

Abu Thalib adalah salah seorang tokoh Quraisy yang paling disegani dan dipanuti. Ia sangat setia dengan kepercayaan moyangnya. Sejak umur delapan tahun<!–[if !supportFootnotes]–>[7]<!–[endif]–>, Rasul telah berada di bawah asuhan Abu Thalib, setelah beberapa lama di bawah asuhan kakeknya, Abdul Muthallib. Dengan cinta, ia berperan sebagai ayah bagi Rasul. Ia tidak tidur kecuali Muhammad kecil ada di sampingnya. Ia tidak keluar rumah kecuali si yatim Muhammad menyertainya. Ia dan keluarganya tidak akan makan kecuali Muhammad telah datang dan mendapatkan bagian. Ia dan keluarganya tak sayang mendapatkan sedikit jatah makanan, asal Muhammad kenyang.<!–[if !supportFootnotes]–>[8]<!–[endif]–>

Ketokohannya menjadi benteng pelindung bagi Rasul dalam menyampaikan risalah ketuhanan, dari aksi kelompok-kelompok yang anti. Kekerabatan, cinta, dan simpati kepada Rasul, telah melebur menjadi satu dalam diri Abu Thalib, menembus sekat-sekat perbedaan keyakinan paman dan kemenakan itu. Abu Thalib rela mempertaruhkan nyawanya jika sedikit saja ada yang berani menggores kulit Sang Rasul. Abu Thalib telah mempersembahkan separuh hidupnya untuk Rasul.

Orang-orang, utamanya mereka yang menggenggam erat agama Abdul Muthalib, semakin ricuh mendengar ucapan Rasul.

“Abu Thalib, apakah Kau telah membenci kepercayaan moyang kita, kepercayaan Abdul Muthallib?!” Spontan Abu Jahal menyela seraya membantah ucapan Rasul, untuk meneguhkan keyakinan Abu Thalib agar tidak goyah oleh pengaruh Rasul.<!–[if !supportFootnotes]–>[9]<!–[endif]–>

“Heh, Muhammad! Kau ingin menjadikan tuhan-tuhan yang telah ada menjadi satu tuhan?! Hah, itu konyol, Muhammad?!” Yang lain ikut-ikutan menyalak.

Mereka yang tidak ikut menyalak hanya bisa saling berbisik. Sinis menyangsikan maksud Rasul. Namun Rasul tak henti-hentinya menggunakan kesempatan, secuil apa pun itu. Berulang-berulang, berkali-kali, ia menatap Abu Thalib, berulang-berulang, berkali-kali pula menyampaikan harapan kepadanya. Sampai pada akhirnya, Abu Thalib berujar kepada Rasul…

“Kemenakanku, Aku tak ingin, sepeninggalku nanti, orang-orang akan mencacimu, memaki sanak turun ayahmu. Aku khawatir, jika aku memenuhi permintaanmu, orang-orang akan melakukan itu. Mereka (orang-orang Quraisy) akan menyangka, aku memenuhi permintaanmu semata-mata karena terpojok kematian. Aku tak mau itu terjadi.<!–[if !supportFootnotes]–>[10]<!–[endif]–> Kemenakanku, aku minta maaf, aku tak bisa menanggalkan keyakinanku, aku tak dapat meninggalkan kepercayaan moyangku…”

Abu Thalib, sang benteng pelindung Rasul, telah berpulang, menjejakan sebidang kesedihan di hati Rasul. Sedih, telah ditinggal pergi sang pelindung, sedih pula karena sang paman pergi membawa serta keyakinan jahiliyah.

Kepergiannya menyisakan tantangan bagi Rasul. Selama dalam perlindungan Abu Thalib, kelompok-kelompok anti Rasul tidak ada yang bisa menyentuhnya. Aksi mereka hanya sebatas gerakan urat saraf. Namun, sepeninggal Abu Thalib, gerakan itu telah meningkat menjadi gerakan kekuatan otot. Mereka menjadi lebih berani mengekspresikan kebencian terhadap Rasul. Apa yang tidak bisa dilakukan untuk mengintimidasi Rasul selama ia berada di bawah perlindungan Abu Thalib, mudah saja mereka lakukan sepeninggalnya, bahkan semakin menjadi-jadi…

Pada peristiwa detik-detik terakhir hidup Abu Thalib itu, tiga ayat turun merespon tiga hal yang terjadi ketika itu. Ayat pertama adalah, “Shaad, demi Alquran yang mempunyai keagungan. Sebenarnya orang-orang kafir itu (berada) dalam kesombongan dan permusuhan yang sengit.” (Shaad: 1-2), yang merespon sikap Abu Jahal dan rekan-rekannya saat menghalangi Rasul untuk mendekati Abu Thalib dan saat mereka menyela seraya membantah ucapan Rasul dengan nada pongah.<!–[if !supportFootnotes]–>[11]<!–[endif]–>

Ayat kedua dan ketiga yang turun adalah, “Tidaklah sepatutnya bagi Nabi dan orang-orang yang beriman memintakan ampun (kepada Allah) bagi orang-orang musyrik, walaupun orang-orang musyrik itu adalah kaum kerabatnya, sesudah jelas bagi mereka, bahwasanya orang-orang musyrik itu, adalah penghuni neraka Jahanam.” (At-taubah: 113), dan ayat, “Sesungguhnya kamu tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu cintai, tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang dikehendaki-Nya. Dan Allah lebih mengetahui orang-orang yang mau menerima petunjuk.” (Al-Qashash: 56), yang merespon Rasul, yang sangat berhasrat agar sang paman mau memeluk Islam, dan meminta agar Allah berkenan mengampuni dosa-dosanya, setelah melihat pilihan akhir sang paman atas keyakinannya.<!–[if !supportFootnotes]–>[12]<!–[endif]–>

Ciputat, 1 Mei 2008

<!–[if !supportFootnotes]–>

<!–[endif]–>

<!–[if !supportFootnotes]–>[2]<!–[endif]–>HR Ahmad bin Hanbal dari Ibnu Abas

<!–[if !supportFootnotes]–>[4]<!–[endif]–>Tuhfah Al-Ahwazi bi syarhi Jami’ At-Tirmizi

<!–[if !supportFootnotes]–>[5]<!–[endif]–>HR Bukhari dari Musayyab bin Khuzn (Ayah Said bin Musayyab).

<!–[if !supportFootnotes]–>[6]<!–[endif]–>Al-Bidayah wa An-Nihayah 3/123-124, karya Ibnu Katsir.

<!–[if !supportFootnotes]–>[7]<!–[endif]–>Al-Bidayah wa An-Nihayah 2/282, karya Ibnu Katsir.

<!–[if !supportFootnotes]–>[8]<!–[endif]–>Al-Bidayah wa An-Nihayah 2/282, karya Ibnu Katsir.

<!–[if !supportFootnotes]–>[9]<!–[endif]–>HR Bukhari dari Musayyab bin Khuzn (Ayah Said bin Musayyab).

<!–[if !supportFootnotes]–>[10]<!–[endif]–>Al-Bidayah wa An-Nihayah 3/123, karya Ibnu Katsir.

<!–[if !supportFootnotes]–>[11]<!–[endif]–>Al-Bidayah wa An-Nihayah 3/124, karya Ibnu Katsir.

<!–[if !supportFootnotes]–>[12]<!–[endif]–>HR Bukhari dari Musayyab bin Khuzn (Ayah Said bin Musayyab).

Perempuan Terfitnah

13 April 2008 § 2 Comments


(Diadaptasi dari hadis riwayat Imam Bukhari berjudul Hadits al-Ifki, dalam karyanya, Shahih al-Bukhari)

Rasul menjengukku dengan sikap yang tak biasa. Paras tampannya bak digelayuti awan mendung. Kelam, hampir tanpa ekspresi. Sikapnya yang lembut dan penuh kasih sayang, seperti biasa terpancar setiap kali menjenguk sakitku, kali itu tak tampak sama sekali. Ia masuk dan hanya menanyakan kondisiku. Hanya itu. Sekadar duduk pun tidak. Lantas langsung berlalu dengan awan mendung masih menggelayut di wajahnya. Aku tak punya prasangka buruk soal itu. Namun, tetap saja menjejakan misteri.

Hari-hari berlalu, aku merasakan kondisi tubuhku telah membaik. Bersama Ummu Misthah, saudari jauhku, aku berniat keluar rumah untuk suatu keperluan. Ummu adalah seorang ibu dari seorang anak bernama Misthah. Oleh karenanya orang-orang memangilnya “Ummu Mistah”, artinya, ibunya Misthah.

Dalam perjalanan pulang, Ummu bercerita tentang isu yang sedang santer di masyarakat. Sedihnya, isu itu tentang aku. Darinya aku tahu, isu aku telah berbuat nista dengan salah seorang pasukan penyisir, saat aku tertinggal rombongan dalam bepergian, telah menyebar dari mulut ke mulut di kota ini, bagai tiupan angin yang menerpa apa saja yang dilaluinya tanpa ada yang mampu mengendalikan. Ternyata, selama aku sakit, isu tentangku jauh lebih populer ketimbang kabar sakitku.

Aku yang baru sebentar merasakan nikmatnya sehat, ternyata masih belum siap mendengarkan cerita Ummu. Aku kembali terbaring sakit. Kembali pula Rasul menjengukku. Sikapnya masih sama. Aku menduga, barangkali isu itulah yang menyebabkan sikapnya berubah. Hatiku bergemuruh oleh dugaanku sendiri.

Tidak ada percakapan antara aku dan Rasul. Aku juga tidak meminta penjelasan atas sikapnya itu. Aku hanya minta agar ia mengizinkanku menemui orangtuaku. Aku harap ada kejelasan di sana.

“Bunda, orang-orang membicarakan apa tentangku?” Tanyaku bukan untuk mencari jawaban, tapi mendapatkan kepastian.

“Sayangku…,” sapanya lembut. “Tenangkanlah hatimu. Sedikit sekali, seorang suami yang memiliki isteri cantik lagi ia cintai, tega membeberkan aib isterinya tersebut.” Jawaban ibu tidak lugas, barangkali karena ingin menjaga perasaanku, namun semakin menguatkan dugaan, bahwa isu tentangku memang telah benar-benar menyebar di masyarakat.

“Benarkah orang-orang membicarakan hal itu?!” Bukan mencari jawaban, bukan pula untuk mendapatkan kepastian, tapi justeru reaksi atas kepastian. Gemuruh hatiku telah berubah menjadi isak tangis.

Tubuhku lunglai. Jiwa dan pikiranku terukir perih. Malam semakin tebal berselimut gulita, tak peduli dengan derai air mataku yang terus mengalir, tak memberikan kesempatan bagiku untuk memejamkan mata, sampai pagi menjelang.

Berharap menemukan titik terang prahara rumah tangganya, seiring dengan tersendatnya komunikasi wahyu saat itu, Rasul tak segan meminta masukan dan komentar dari rekan-rekan teredekatnya.

“Rasul, yang aku ketahui, keluarga Anda tidak seperti yang orang-orang bicarakan. Aku tidak tahu tentang keluarga Anda kecuali mereka adalah orang-orang baik.”

“Isteri Anda? Dia hanyalah gadis belia yang ketika tidur sering belepotan oleh adonan makanan. Jika ada yang pantas dianggap aib darinya, ya, cuma itu. Tidak ada yang lain,” kata seorang perempuan berpendapat tentang isteri Rasul

Ada juga yang berkomentar, “Sudah, Rasul. Allah tidak akan menyulitkan Anda. Toh, masih banyak perempuan lain selain dia.”

Cukuplah baginya komentar-komentar itu. Aku, sebagai terdakwa, hanya bisa berdiam pilu, membiarkan orang-orang berkomentar tentangku. Aku memang tidak bisa menyodorkan bukti-bukti jika aku benar-benar tidak senista yang dituduhkan. Namun isu itu telah kadung merata bagai pasir gurun di penjuru kota, seolah telah menjadi kebenaran, walaupun validitasnya tidak teruji. Tidak ada bukti, tidak pula diketahui kepada siapa isu itu berpangkal. Pada yang terakhir itulah Rasul sedang fokus.

Suatu kesempatan Rasul manfaatkan untuk memberikan pernyataan terbuka sekaligus mengambil sikap untuk kasus yang menimpa keluarganya, saat masyarakat sedang berkumpul.

Rasul berdiri di mimbar, sementara orang-orang yang hadir di forum itu menunggu apa yang akan disampaikannya.

“Siapa yang bersedia membantuku menangkap orang yang telah menyakitiku?” Kata Rasul, melemparkan pertanyaan kepada salah seorang yang hadir di tempat itu yang bernama Abdullah bin Ubay bin Salul.

Rasul kembali mengulangi pertanyaan, kali ini ditujukkan kepada semua yang hadir…

“Siapa yang bersedia membantuku menangkap orang yang telah menyakiti keluargaku? Demi Allah, tidak ada yang aku ketahui tentang keluargaku, kecuali mereka adalah-orang baik. Mereka telah menyebut-nyebut nama satu orang yang aku ketahui baik. Dia tidak pernah berkunjung ke rumahku, kecuali bersamaku.”

“Aku bersedia, Rasul!” Sela Sa’d bin Mu’azd sambil berdiri penuh semangat. “Jika orang itu dari kelompok Aus, aku siap membubuhnya! Jika dia saudara kita dari kelompok Khazraj, aku siap melakukan apa saja yang Anda perintahkan.”

“Sa’d bin Mua’dz, Kau pembohong!” Sa’d bin Ubadah, salah seorang tetua dari Khazraj,tiba-tiba berdiri, memotong perkataan Bin Mu’adz. Ia merasa tersinggung, kelompoknya ikut-ikut disebut dalam kasus itu. “Kau tidak akan membunuhnya! Kau tidak akan mampu melakukan itu!”

“Kau yang pembohong, Sa’d bin Ubadah!” Seru yang lain, membela Sa’d bin Mu’azd. “Kami benar-benar akan membunuhnya! Kau hanya seorang munafik. Munafik yang menyerang munafik!”

Situasi saat itu benar-benar panas. Emosi sebagian orang, menyulut emosi sebagian yang lain, semakin mempertajam perselisihan. Saling tunjuk, saling tuding, tidak peduli di hadapan mereka ada seorang Rasul.

“Sudah!!! Sudah!!!” Situasi yang sudah tak terkontrol lagi memaksa Rasul turun dari mimbar. Hampir saja terjadi baku hantam, jika Rasul tidak segera menengahi dan menenangkan mereka.

Aku tidak menyangka, efek fitnah keji itu begitu besar, hampir saja menimbulkan konflik dan perpecahan di masyarakat. Sungguh, peristiwa hari itu semakin mencabik-cabik sanubariku yang telah pilu, mengoyak jiwaku yang sedang layu, tidak sedikit pun menyisakan ruang bahagia di hatiku, untuk aku bisa menghentikan air mata. Pada dua hari berikutnya, aku tetap terbenam dalam suasana demikian.

Orangtuaku menghampiri aku yang sedang menagis. Bukan untuk apa-apa, hanya ingin menamani sedihku. Seolah ingin mengatakan, mereka akan selalu ada untukku. Setelah itu, datanglah seorang sahabatku. Sama seperti orangtuaku, ia hanya ingin menemani sedihku.

Pada saat kami sedang terlarut bersama dalam sedih, tiba-tiba Rasul datang. Setelah mengucap salam, ia duduk. Itulah kali pertama ia bersedia duduk di rumahku, sejak sebulan terakhir, setelah isu tentangku mulai beredar di masyarakat. Ia datang bukan untuk menemani sedihku, tapi untuk mengatakan sesuatu…

“Aisyah, aku sudah mendengar kabar ini itu tentangmu. Jika Kau memang tidak bersalah, Allah yang akan membersihkan namamu. Dan jika perbuatan nista itu benar-benar telah Kau lakukan, mintalah ampun kepada Allah.”

Tertunduk aku menyimak ucapan Rasul. Air mata yang selama ia bicara hanyalah genangan-genangan di kelopak, meleleh membasahi pipi tanpa aku sadari. Tidak kuusap.

Rasul telah memulai pembicaraan. Saat yang tepat bagiku untuk buka suara, atau paling tidak orang tuaku mau mewakili suaraku. Aku menoleh ke ayahku, memintanya memberikan hak jawab kepada Rasul untukku. Ayah menggeleng. Aku menoleh ke ibuku, meminta hal yang sama. Ibu juga menggeleng. Ayah-ibuku melihat dirinya tidak memiliki kapasitas untuk menanggapi, menjawab, atau menambah titah yang disampaikan Rasul.

Aku kembali tertunduk. Air mataku meleleh lagi. Isak tangisku tak tertahan. Melihat orangtuaku hanya diam, hatiku semakin bergejolak, seperti ada yang meronta. Sebelum kuangkat kepalaku, sejenak kuhela nafas sambil memejamkan mata. Namun, tetap tak mampu menghentikan tangisku.

Isak tangis dan air mata tumpah ruah bersama isi hatiku. Kepada Rasul, orangtuaku, dan seorang sahabatku, aku katakan…

“Memang, aku hanyalah gadis belia yang belum banyak memahami Alquran,” aku mengawali perkataan diiringi isak tangis, menjadi latar sendu. “Aku tahu, telinga kalian telah mendengar ini itu tentangku, dan hati kalian membenarkannya. Kalian boleh tidak percaya, jika aku katakan, aku bukanlah seperti yang orang-orang katakan. Tapi, percayalah kepada Allah, bahwa Dia tahu, aku bukanlah seperti yang orang-orang katakan. Nasib malang yang menimpaku ini mengingatkanku pada perkataan Nabi Yaqub, ayahanda Nabi Yusuf, maka kesabaran yang baik itulah (kesabaranku). Dan Allah semata yang dimohon pertolongan-Nya terhadap apa yang kalian ceritakan.<!–[if !supportFootnotes]–>[1]<!–[endif]–>

Hanya sabar yang bisa aku lakukan. Hanya Allah yang bisa aku percaya. Sungguh, selain menitikkan air mata, hanya itu yang bisa aku lakukan untuk menghadapi fitnah itu.

Selesai kuutarakan isi hati, aku berlalu ke kamarku, meninggalkan mereka di ruang tamu. Di kamar, kurebahkan tubuh payahku, kubenamkan jiwa dan pikiranku pada kondisi yang paling rendah dan kosong.

Aku yakin dengan apa yang aku katakan saat di ruang tamu tadi. Sepenuhnya aku yakin, Allah akan membersihkan namaku seperti sedia kala. Tapi aku tak mau menduga-duga akan turun wahyu kepada Rasul untukku, mengabarkan kebenaran keyakinanku. Aku yang hina dina ini, merasa tidak pantas, jika sekalimat wahyu akan turun hanya untukku. Tapi, sungguh, aku sangat berharap, paling tidak malam ini Rasul akan bermimpi, Allah membersihkan namaku.

Hidup hanyalah putaran waktu yang konstan berlalu. Semua yang menempati waktu pun pasti akan berlalu seiring dengan berlalunya sang waktu.

Pagi itu begitu sejuk. Namun tak sesejuk wajah sang Rasul. Awan mendung kelam yang dalam beberapa waktu lalu menggelayut di wajahnya telah sirna. Kebenaran telah nampak terang. Fajar merah pagi itu telah tersingkap oleh benderang cahaya matahari.

“Berbahagialah, Aisyah. Allah telah membersihkan namamu dari segala tuduhan,” kata Rasul kepadaku dengan ekspresi yang berbinar-binar. Hatinya yang berbunga menyemburatkan tawa bahagia yang menghias paras tampannya.

“Berdirilah, anakku. Kecum kening Rasul. Pujilah dia. Berterima kasihlah kepadanya,” seru ibuku yang juga tidak bisa menyembunyikan kebahagiannya.

“Tidak, Bu. Aku tidak mau berdiri untuknya. Dan jika ada yang pantas dipuji, maka hanya Allah yang telah membersihkan namaku.”

Aiysah telah melewati masa pahit hidupnya, yang pahitnya melebihi apapun dari semua yang pahit. Dan berhak menikmati buah sabar yang manisnya melebihi apapun dari semua yang manis, saat Allah menurunkan ayat yang merehabilitasi namanya…

“Sesungguhnya orang-orang yang membawa berita bohong itu adalah dari golongan kamu juga. Janganlah kamu kira bahwa berita bohong itu buruk bagi kamu, bahkan ia adalah baik bagi kamu. Tiap-tiap seseorang dari mereka mendapat balasan dari dosa yang dikerjakannya. Dan siapa di antara mereka yang mengambil bagian yang terbesar dalam penyebaran berita bohong itu, baginya azab yang besar.” (An-Nur: 11)

Ciputat, 13 April 2008

<!–[if !supportFootnotes]–>

<!–[endif]–>

<!–[if !supportFootnotes]–>[1]<!–[endif]–>Yusuf: 18

Where Am I?

You are currently browsing entries tagged with sejarah at Warung Nalar.

%d bloggers like this: