Ijazah

28 March 2010 § Leave a comment


Aku hanya selembar kertas yang murung. Namaku Ijazah. Lihatlah kalimat pertama aku memulai cerita … Muram. “Hanya” dan “murung”, menandakan jika aku adalah sosok tak dianggap, berada di sudut yang siapa pun sepertinya tak sudi sekadar memikirkannya. Tentu saja itu memprihatinkan, jika melihat mulanya aku adalah kertas yang dipersiapkan untuk berfungsi, dan bagi sementara manusia, sosok semacam aku bisa menaikkan gengsi. Terkadang, dalam kesendirian yang menyedihkan, aku sering menangis: kenapa aku harus menjadi milik orang-yang-seharusnya-menjadi-tuanku seperti dia?! Kenapa aku tak menjadi milik si fulan yang sering membawa ijazahnya ke mana-mana, ke setiap tempat yang ia tahu membuka lowongan pekerjaan?! Meski lamaran si fulan sering ditolak, ijazah miliknya pasti tetap merasa bangga karena paling tidak ia masih dianggap ada dan difungsikan semestinya. Aku dapat merasakan itu.

Ya, begitulah nasibku saat ini. Padahal, dulu, bagi orang-yang-seharusnya-menjadi-tuanku, aku adalah sosok idaman, menjadi tujuan dan kebanggaan. Sosok seperti akulah bukti intelektualitas di atas kertas, bahwa di kelas, orang-yang-seharusnya-menjadi-tuanku itu telah bekerja keras.

Pernah suatu ketika aku tersanjung saat seseorang yang menjadi teman orang-yang-seharusnya-menjadi-tuanku menawari agar orang-yang-seharusnya-menjadi-tuanku itu mengirim lamaran pekerjaan ke sebuah kantor. Wah! Bangganya aku. Aku, maksudku, salinanku, aku yang hanya saja tak sejati namun setara dalam fungsi, bakal berguna sebagaimana mestinya. Aku, beserta beberapa lembar kertas lain, dimasukan ke dalam amplop coklat yang hangat. Setelah melewati kantor jasa pengiriman, aku akan sampai ke kantor yang dituju, lalu diterima oleh seorang menejer yang lalu dengan saksama mengamati angka-angka yang tertera di atasku. Angka-angka itu jika diterjemahkan dalam dua kata maka akan terbaca: Amat Baik. Menejer itu akan mengulum senyum kagum. Dan, tentu saja tak sedang terkagum-kagum kepadaku, tapi kepada orang-yang-seharusnya-menjadi-tuanku. Namun, aku tak merasa kecewa dengan itu. Takdirku memang sebatas wakil bagi orang-yang-seharusnya-menjadi-tuanku, dan teman yang mengantarkannya meraih cita-cita. Begitulah aku meraih kebanggaanku.

“Tapi aku belum mendapatkan ijazahku,” kata orang-yang-seharusnya-menjadi-tuanku kepada temannya itu. Saat orang-yang-seharusnya-menjadi-tuanku berkata demikian, aku sangat berharap temannya akan menanggapi begini: “O, ya … Sebaiknya kau dapatkan ijazahmu dulu, secepatnya.” Aku memang benar-benar ingin keluar dari tempat ini. Sejak keluar dari percetakan aku sangat ingin menjadi kebanggaan, tanpa harus berlama-lama di penampungan semacam sini.

“Tak masalah. Sekarang kau hanya perlu mengirim CV-mu,” kata teman orang-yang-seharusnya-menjadi-tuanku. “Aku tak akan merekomendasikan kecuali orang yang kutahu keahliannya. Kirim saja CV-mu. Tak apa tanpa ijazahmu.”

Dapat kubayangkan kebahagiaan yang merasuk dalam diri orang-yang-seharusnya-menjadi-tuanku: satu peluang kerja di depan matanya sedang tersenyum menggoda, dan bisa didapatkan tanpa sedikit pun keterlibatanku. Jika benar-benar terjadi maka itu adalah tragedi besar hidupku. Ah, entah. Aku tak mengerti, kenapa orang-yang-seharusnya-menjadi-tuanku itu menganggap aku sebagai beban, sejak beberapa hari setelah pesta bahagia, resmi, dan prosedural Sabtu itu, yang dalam rentang empat tahun sebelumnya aku adalah tujuan. Setiap perjalanan-empat-tahun adalah aku yang menjadi tujuan. Di aku, perjalanan-empat-tahun berhenti melangkah. Tetapi, apa yang terjadi antara aku dan orang-yang-seharusnya-menjadi-tuanku adalah ironi yang suram yang membuat aku merasa martabat dan derajatku dekaden.

Setarikan napas panjang mengeluh …

Bulan ini adalah tepat satu tahun kurang sebulan sejak tragedi besar itu, dan tepat tiga tahun kurang empat bulan sejak pesta Sabtu itu. Aku masih hanya selembar kertas yang murung … dan masih di sini, di penampungan pengap ini. Satu-satunya hal yang bisa aku syukuri saat ini adalah bahwa aku masih bernama Ijazah.[jr]

27.03.10

Advertisements

Aku Bagimu (II)

8 February 2010 § Leave a comment


Aku bumi bagi langitmu,
ditautkan hujan sore hari.

Aku siang bagi malammu,
ditautkan senja bercahaya jingga.

Aku darat bagi lautmu,
ditautkan pantai dengan ombak yang tak lelah menari.

Aku puisi bagi rasa jiwamu,
ditautkan serangkai kata-kata sunyi.

Ciputat, 06.02.10

———————-

“Aku Bagimu (I)”, klik di sini.

Aku Ingin Berpuisi

8 February 2010 § 2 Comments


Aku ingin berpuisi dengan sederhana:
dengan makna yang takkan sempat diterjemah kata.

Aku ingin berpuisi dengan sederhana:
dengan rasa yang takkan sempat dijamah indera.

Aku ingin berpuisi, di hati.

—————————–
Efek “Aku Ingin” Sapardi Djoko Damono, penyair-cinta idola.

Aku Adalah Air Mata

8 February 2010 § Leave a comment


Aku adalah air mata:
menitik pada suka dan duka hatimu.

Ciputat, 7 November 2009
JR

Aku dan Kekasihku

13 January 2010 § Leave a comment


Aku dan Kekasihku berjalan di bawah purnama yang satu.
Ia menatap pesona yang mengawang di puncak sempurna.
Matanya berbinar seterang langit malam.
Setiap pejam di kejap matanya adalah rindu.

Aku dan Kekasihku berjalan di bawah purnama yang satu.
Kungenggam tangannya seerat kelam menggenggam malam.
Mataku memindai jalan dan mensyukuri terang penunjuk langkah.
Setiap ayunan di langkah kakiku adalah puji.

Aku dan Kekasihku berjalan di bawah purnama yang satu,
di antara penghayatan, ditautkan genggaman tangan.

Kemang, 12 Januari 2010

Setiap Pertemuan

13 January 2010 § Leave a comment


Setiap pertemuan hanya seusia kejapan senja.
Selebihnya adalah rindu yang diam,
membeku dalam kelam di pelataran malam.

Setiap pertemuan hanya seusia kejapan senja.
Selebihnya adalah rindu yang riang,
mengembang oleh terang di sepanjang siang.

Kemang, 30 Desember 2009

Masa Lalu, Masa Kini, dan Masa Depan

13 January 2010 § Leave a comment


Di bawah langit, Masa Lalu, Masa Kini, dan Masa Depan berkumpul dalam satu meja, menikmati hidangan yang tersedia seraya berbincang-bincang tentang kehidupan yang menapaki masing-masing.

Masa Lalu tampak bersemangat. Ia menceritakan pelbagai peristiwa penting dan sosok-sosok besar yang tercatat dalam sejarah. Membanggakan pencapaian-pencapaian mereka, kemegahan istana-istana mereka, kegagahan mereka dalam pertempuran, serta bermacam kenikmatan hidup yang menaungi mereka.

“Aku,” kata si Masa Lalu, “jadi tak terlalu puas ada pada masa kini, masa sekarang ini. Aku merasa lebih baik kembali pada masaku saja.”

Masa Depan tampak menggerakan kepala sampai kemudian menengadah. Di antara mata dan langit yang ia tatap hanya ada kekosongan. Sesekali saja awan tipis melintas terlihat malas, dan angin yang berembus tanpa wujud.

“Aku melihat kemuliaan, kekayaan, dan keberhasilan sedang berjalan dengan pasti menujuku,” kata si Masa Depan.

Katanya, lagi, “Aku melihat mimpi-mimpi yang akan menjelma nyata. Kehidupan yang makmur dan mudah sedang melangkah ke arahku.”

Masa Kini segera menyela begitu Masa Depan terlihat usai berbicara. Nada bicaranya terdengar mantap.

“Aku takkan menangisi masa yang telah berlalu. Juga takkan pernah menghabiskan setiap jengkal waktu sekadar untuk bermimpi …

“Kejayaan yang pernah ada pada masa lalu selesai sudah. Dan, kemakmuran yang diharapkan belum pula nyata.

“Ada pun hari ini adalah miliku. Nyata dalam genggaman tanganku. Siapa yang mampu menggenggam dan mengendalikan hari ini, masa sekarang kini, ia berarti telah mampu melewati masa yang telah berlalu. Juga, pada hakikatnya sedang mengarahkan diri ke masa depan.

“Rahasia keberhasilan adalah saat jantungmu tak berdetak sia-sia pada setiap jengkal detik waktu masa kini.”

Semua terdiam. Awan tipis lain tampak melintas. Masih malas. Angin lain juga berembus. Masih tanpa wujud.[]

Dari tulisan lima paragraf versi berbahasa Arab di halaman 137 berjudul al-Madhi wa al-Hadhir, wa al-Mustaqbal dalam buku Kalimat Tun’isyu al-Hayah karya El Azraq. Diterjemahkan–dengan sedikit penambahan suasana–oleh Juman Rofarif.

Where Am I?

You are currently browsing entries tagged with sastra at Warung Nalar.

%d bloggers like this: