Mendekati Tuhan dengan Air Mata

10 June 2011 § Leave a comment


Yang tak pernah merasakan sakitnya berbuat nista,

takkan pernah merasakan nikmatnya mendekati Tuhan dengan air mata.

 

9.6.11

Aku Bagimu (II)

8 February 2010 § Leave a comment


Aku bumi bagi langitmu,
ditautkan hujan sore hari.

Aku siang bagi malammu,
ditautkan senja bercahaya jingga.

Aku darat bagi lautmu,
ditautkan pantai dengan ombak yang tak lelah menari.

Aku puisi bagi rasa jiwamu,
ditautkan serangkai kata-kata sunyi.

Ciputat, 06.02.10

———————-

“Aku Bagimu (I)”, klik di sini.

Aku Ingin Berpuisi

8 February 2010 § 2 Comments


Aku ingin berpuisi dengan sederhana:
dengan makna yang takkan sempat diterjemah kata.

Aku ingin berpuisi dengan sederhana:
dengan rasa yang takkan sempat dijamah indera.

Aku ingin berpuisi, di hati.

—————————–
Efek “Aku Ingin” Sapardi Djoko Damono, penyair-cinta idola.

Aku Adalah Air Mata

8 February 2010 § Leave a comment


Aku adalah air mata:
menitik pada suka dan duka hatimu.

Ciputat, 7 November 2009
JR

Senyuman

16 December 2009 § 1 Comment


Wajah adalah jendela kamar.
Dan, senyuman adalah mentari pagi yang merasuk di sela-selanya.

Tawa riang adalah siang. Diam adalah kelam malam.
Dan, senyuman adalah cahaya pagi yang menautkan keduanya.

Wajah yang yang tak tersenyum
serupa kuncup bunga yang tak kunjung mekar: layu di ranting yang kering.

———————————————————————–
Dari tulisan lima baris berjudul Ibtisam (Senyumandi halaman ke-232 dari buku berjudul Kalimat Tun’isyu al-Hayah karya El Azrak. Diterjemahkan oleh Juman Rofarif.

Antologi Status [7]

16 December 2009 § Leave a comment


Niscaya. Ada yang hilang, ada yang datang. Yang hilang, memberi hikmah. Yang datang, membawa berkah. Semoga. [6 November 2009/ 07:58 WIB]

Lakukanlah sesuatu yang mampu dikerjakan menurut ukuran diri sendiri, bukan berdasar ukuran orang lain. Sebab, jika orang itu di atas maka kita cenderung akan memaksakan diri. Jika orang itu di bawah maka kita cenderung akan membanggakan diri. [6 November 2009/13:54 WIB]

Seperti semangat berapi-api, sementara sekadar nyala lilin pengetahuan yang dimiliki. [7 November 2009/18:19 WIB]

Aku adalah air mata. Menitik pada suka dan duka hatimu. [7 November 2009/23:20 WIB] « Read the rest of this entry »

Sunah Semesta

16 December 2009 § Leave a comment


Air melepas diri dari hulu karena merindu memeluk sungai.
Sungai menempuh jalan panjang demi menuntas rindu memeluk laut.
Di langit, awan dan angin telah berpelukan.
Tiada sesiapa menghendaki sendiri yang sepi.
Demikianlah sunah semesta.
Kemarilah, Kekasih! Peluk aku!

Bunga-bunga,
dahan-dahan,
burung-burung,
dan udara terselubung selimut peluk.
Mentari memeluk bumi dengan sinarnya pada siang hari.
Berganti bulan; membelai dan mencium bumi dengan cahaya pada kelam hari.
Semua itu tampak lebih indah saat menjadi latar penghias sepasang kekasih yang menyatu dalam peluk.

———————————————
Oleh Percy Bysshe Shelley [1792 – 1822], penyair terkemuka Inggris. Diterjemahkan dari versi Bahasa Arab berjudul ‘Inaq [Peluk] oleh Juman Rofarif.

Where Am I?

You are currently browsing entries tagged with sajak at Warung Nalar.

%d bloggers like this: