Kidung Malam Jumat

10 May 2009 § 1 Comment


Iqamah sembayang Maghrib di langgar yang hanya berjarak satu rumah di depan, biasa dilangsungkan sepuluh sampai lima belas menit setelah azan dikumandangkan. Pada jeda itu, muazin akan menembangkan kidung-kidung. Para jamaah yang telah hadir sebagian melakukan sembayang qabliyah, sebagian yang lain duduk bersila ikut menembangkan kidung, puji-pujian.

Pada Maghrib malam Jumat, kidung yang ditembangkan adalah tentang anjuran mendoakan sanak keluarga yang telah bersemayam di alam lain. Tak pernah diketahui siapa penggubahnya, yang jelas kidung itu telah ditembangkan turun temurun dan hampir semua warga kampung menghafalnya, dari tiyang sepah (orang tua) sampai anak-anak madrasah. Tapi, apa pentingnya kidung semacam itu bagi anak-anak madrasah ingusan yang belum memiliki penghayatan itu kecuali sebagai ajang teriak-teriakan, lalu para orang tua akan menyentak mereka karena hanya mengumbar suara cempreng tak teratur.

Allahumma shalli ‘ala muhammad…

malem jumah ahli kubur tilik umah
nyuwun pandunga ayat quran sakalimah

anak putu ora pada ngaji
ngelus dada mbrebes mili

balik ning kuburan
awan bengi tangis-tangisan…

Setiap malam Jumat, ahli kubur, sanak keluarga yang telah di kubur akan menyambangi keluarganya yang masih hidup, mengharap doa dari mereka meski hanya satu ayat Alquran. Tapi sayang, mereka tidak ada yang mau membacanya. Ahli kubur sedih mengusap dada melihat mereka demikian. Ia kembali ke kubur membawa kekecewaan. Di sana, siang malam ia menangis, meratap…

Selepas sembayang jamaah di Maghrib malam Jumat itu, para orang tua akan mengurung anak-anak mereka di rumah. Tidak boleh ada aktifitas selain membaca Alquran untuk menjamu para ahli kubur yang sedang sambang. Setelah itu, para orang tua akan membebaskan anaknya bermain sepuasnya di luar atau menonton televisi (bagi yang punya televisi, zaman itu), sebab keesokan harinya mereka tidak belajar. Jumat adalah hari libur madrasah.

Para warga, khususnya yang berprofesi tukang ojek, paling takut jika menabrak kucing, apalagi jika si korban tewas seketika di lokasi kejadian. Pelaku penabrakan akan melakukan penguburan sebaik-baiknya pada korban tewas itu. Mereka punya keyakinan, jika kucing itu tak dikubur dengan baik, apalagi dibuang begitu saja, bakal membawa celaka. Sebab, kucing adalah hewan kesayangan salah seorang sahabat Kanjeng Rasul, Abu Hurairah.

Benarkah demikian? Apakah benar, sanak keluarga yang telah meninggal bakal menyambangi rumahnya di dunia? Apakah perlu dibenarkan orang yang punya keyakinan bahwa seekor kucing yang mati tertabrak bakal membawa celaka bagi pelakunya?

Ah, tentu saja tidak. Semua itu hanya bahasa simbol, cara untuk menyampaikan esensi sebuah pesan kearifan. Begitulah “wong ndeso”. Di balik kehidupannya yang bersahaja dengan pola pikir sederhana, mereka menyimpan kearifan mendalam yang telah mengakar, turun temurun menjadi pegangan. Dan, mereka memiliki cara unik beraroma mistik untuk menyampaikan kearifan itu.

Warga kampung barangkali akan takut jika diweden-wedeni bahwa kucing mati tertabrak yang tidak dikubur dengan baik akan membawa celaka pelakunya. Mereka lebih paham dan patuh dengan ancaman semacam itu ketimbang memahami sebuah esensi: agar bangkai kucing tak menimbulkan bau tengik yang akan mengganggu para pejalan kaki. Warga lebih bersedia dan bersemangat membaca Yasin di malam Jumat, mendoakan mbah-nya yang telah meninggal dengan diweden-wedeni bahwa si mbah sedang menjenguk, ketimbang karena kesadaran akan nilai kesalehan. Cara-cara seperti itu memang terkadang lebih mengena dan efektif mendorong seseorang untuk melaksanakan perintah atau anjuran.

Tak pernah diketahui dari mana warga menggali sumber kearifan itu dan memiliki cara unik menyampaikannya. Apakah hal itu memiliki keterkaitan dengan cara agama yang juga tak sedikit menggunakan bahasa simbol dalam menyampaikan esensi pesan, anjuran, perintah (melaksanakan atau meninggalkan), kemudian memengaruhi cara berpikir mereka? Mungkin saja. Sebab, agama—Kitab Suci dan Sabda Nabi—adalah pengajar terbaik ungkapan simbolis, terutama terkait dengan Tuhan dan ketuhanan. Tuhan yang sama sekali tak terjangkau pikiran manusia kerap hadir dalam bahasa manusiawi dengan tujuan membuka jalan agar manusia mampu menyentuh Tuhan dengan pikirannya, menjamah Tuhan dengan penghayatannya. Tuhan hadir dalam bahasa yang bisa dimengerti manusia. Dan tentu saja, bahasa tentang Tuhan hanyalah bayang-bayang Tuhan dan bukan esensi Tuhan itu sendiri.

Kita tahu, misal, Nabi yang pernah mengatakan bahwa pada sepertiga malam Tuhan selalu bertandang ke “langit dunia”, menyeru para penduduk bumi, “man yad’uni, fa astajibu lahu. Man yastaghfiruni, fa aghfiru lahu.” “Siapa yang berdoa, akan Kukabulkan. Siapa yang meminta ampunan, akan Kuberi.”

Tentu kita tidak akan memahami sabda itu bahwa Tuhan benar-benar hadir mengawang-awang di angkasa secara kasat mata, menyeru manusia dengan suara yang memecah keheningan sepertiga malam. Tak masuk akal (mustahil aqli) manusia dan tak layak bagi karakter ketuhanan, jika Tuhan melakukan itu. Dan nyatanya pada sepertiga malam tak pernah terdengar suara seruan kecuali tawa mengakak para insomniak, atau suara kipas dari mainboard komputer yang casing-nya telah rusak, atau hanya suara putaran jarum jam yang berdetak.

Sesuatu yang tak masuk akal, gaib, mistik, yang hadir dalam simbol-simbol, jika tak dipahami esensinya maka ia akan berhenti sekedar menjadi mitos—yang justru kerap menjadi daya dorong cukup kuat untuk melakukan perintah melakukan atau meninggalkan. Terdorong karena sebuah waktu dan tempat, atau karena iming-iming pahala atau weden-weden siksa, serangkai ritual barangkali pernah dilakukan. Pada saat seperti itu, penghambaan terhadap simbol sedang digelar. Mungkin karena sebuah esensi yang terlalu jauh.[jr]

Dalam Rasa

15 February 2009 § 3 Comments


Simbol diwujudkan sebagai ekspresi atas esensi yang asli dan sejati, yang tak terjangkau obyektifikasi inderawi, yang misteri – yang sebab itu selalu dirindui. Simbol bukan esensi yang asli dan sejati. Namun, terkadang memberi pemuasan diri. Simbol kemudian layak dihayati. Sebab rindu, simbol menjadi penting.

Masyarakat pagan jaman jahiliyah adalah adalah para perindu, orang-orang yang kangen akan “Yang Asli” dan “Yang Sejati”, satu esensi yang kehadirannya hanya mewujud dalam wajah yang bersembunyi, dalam bunyi yang sunyi. Patung-patung dibuat sebagai ekspresi kerinduan, sebagai penghubung untuk menjangkau “Yang Jauh”, yang tak terjangkau obyektifikasi inderawi. Ma na’buduhum illa liyuqarribuna ilallah zulfa, seperti dikisahkan Kitab Suci.Kami sembah patung-patung itu semata agar mendekatkan kami kepada Tuhan sedekat mungkin.”

Takdir Tuhan sejatinya adalah “wajah yang bersembunyi”, “bunyi yang sunyi”. Ia sama sekali tak berkehendak diri-Nya menjelma atau dijelmakan dengan sosok yang terang oleh mata dan telinga. Lau aradallah an yattakhidza walad, lashthafa mimma yakhluqu ma yasya. Subhanah. Sekiranya Tuhan hendak menjadikan anak, tentu Ia akan memilih apa yang dikehendaki-Nya di antara ciptaan-ciptaan yang telah ada. Maha Suci Tuhan.

Biarkan Ia tak terpandang oleh mata, tak terdengar oleh telinga, selalu dan selamanya. Pandangan mata dan pendengaran telinga adalah ilusi. Mata dan telinga manusia yang relatif tak pernah bisa adil dalam melihat dan mendengar Tuhan yang absolut, atau bahkan sekedar “anak”nya – jika saja Ia benar-benar mewujud diri terbuka oleh mata. Menjelmakan Tuhan pada patung-patung, atau mewujudkan patung-patung, atau simbol-simbol apa pun – di mana inderawi adalah pemeran utama – sebagai perantara mendapatkan kedekatan, sesungguhnya adalah ilusi yang reduktif tentang-Nya.

Tuhan menunjukkan kebijaksanaan-Nya yang luar biasa, ketika menolak Musa yang berhasrat agar Ia hadir dalam wajah yang terang, wajah yang terjangkau mata. Tuhan menolak kehadiran diri yang terjamah inderawi.

Sungguh tak terbayang, jika saat itu Tuhan benar-benar kalah oleh hasrat Musa. Kemudian Musa merekam dalam memorinya, wajah Tuhan yang pernah ia lihat. Lalu, dari tutur Musa tersebarlah informasi sketsa wajah Tuhan kepada umatnya, kemudian turun temurun kepada umat selanjutnya, selanjutnya, dan selajutnya hingga masa ini. Atau, katakanlah, pada setiap masa, kepada setiap rasul-Nya, Tuhan menampakkan diri. Tuhan mematok diri pada sebuah simbol yang pasti.

Tuhan Maha Suci dari semua itu. Tuhan mewujud dalam abstraksi di mana realita bersifat fisik tak lagi jadi acuan, hadir dalam bayang-bayang ketak-pastian, melintas-batasi inderawi, melampaui sekat-sekat nalar, tak terpatok kaku pada sebuah simbol yang pasti, memungkinkan siapa pun untuk menghayati-Nya sampai pada batas di mana ia merasakan kenyamanan jiwa.

“Siapa yang menduga ketersingkapan Tuhan terhampar dalam kalimat dan kata, terdampar dalam nalar dan dialektika, maka ia sedang membatasi rahmat Tuhan yang tak terbatas,” kata Imam al-Ghazali dalam al-Munqidz Min al-Dhalal (Pengentas Kesesatan).

Karena Tuhan hadir dalam rasa, di luar kekuasaan indera, di atas kelemahan kalimat dan kata. Dalam rasa, penghayatan tentang Tuhan adalah sesuatu yang sangat personal. Sedangkan kalimat dan kata hanya merupakan percobaan untuk mengulanginya dan menyusunnya. Rekonstruksi dari sebuah rasa.[jr]

Ambiguitas Tuhan

26 January 2009 § 3 Comments


Tuhan adalah sosok yang tak terjangkau, berada di tempat yang teramat jauh. “Ia ada di langit,” kata seorang perempuan, suatu ketika, kepada Rasul. “Perempuan itu telah beriman,” ujar Rasul menilai-benarkan apa yang perempuan tersebut tahu dan hayati tentang Tuhannya.

Langit, jika mungkin ia suatu tempat, maka pastilah tak terhingga jauhnya, tak ada alat ukur untuk menjangkaunya, kecuali hanya sebatas kata. Mungkin, begitu juga dengan al-‘arsy: tempat asing nun jauh di alam antah berantah yang tak terpindai pikiran manusia, di mana Tuhan singgah setelah mencipta semesta. Langit dan al-arsy, sejatinya mungkin sesuatu yang ada, namun yang pasti tak terkira.

Agaknya Tuhan pun tahu akan hal itu, sadar diri-Nya adalah sosok yang jauh, di mana manusia tak bisa hadir untuk menjangkau-Nya. Maka, Ia selalu hadir pada dini hari, pada suatu waktu yang hening, menyambangi setiap manusia yang rindu, mempersilakan diri-Nya dipeluk dan dijamah dengan segenap penghayatan. Bagi sebagian orang, Tuhan yang gaib mungkin bisa “nyata” di gelap malam yang hening, di sebuah “rumah Tuhan” di mana manusia bisa menjumpai-Nya.

Tuhan yang tak terjangkau, yang jauh di langit, yang singgah gagah di al-‘arsy, mungkin lebih disadari dan dimengerti. Sebab, barangkali, dengan semua itu, sosok Tuhan dapat dibanggakan, seolah ke-maha-an-Nya lebih tampak.

Dan ketika Tuhan hadir dalam sosok yang tersisihkan dan terpinggirkan di pojok-pojok bumi, yang hanya terlintas sekilas oleh pandangan mata, yang cuma menempati pojok kecil di ruang pikiran, atau bahkan tak pernah terpikirkan, maka hal itu mengherankan dan tak bisa dimengerti.

Serangkai cerita kecil datang dari Rasul. Dikisahkan, Tuhan berdialog dengan manusia, di akhirat.

“Aku pernah sakit, kenapa kau tak menjenguk? Aku pernah kelaparan dan kehausan, kenapa kau tak peduli?” tanya Tuhan kepada manusia.

Dengan ketak-mengertian mendalam, manusia tersebut berkata, “Tuhan, bagaimana aku bisa menjenguk-Mu, mengantarkan makanan dan minuman untuk-Mu, sedangkan Kau adalah Tuhan semesta alam?!”

Tuhan menjawab, “Tidakkah kau tahu, hambaku si Fulan pernah sakit?! Tidakkah kau tahu, hambaku si Fulan pernah kelaparan dan kehausan?! Aku tahu, kau tahu semua itu, hanya saja kau tak mau peduli. Padahal jika kau mau mendekati mereka, niscaya kau akan menjumpaiku di sisi mereka.”

Tuhan hadir dalam ambiguitas yang mengesankan. Ia mengawang di langit jauh, singgah gagah di singgasana al-‘arsy, dan sekaligus senantiasa bersama manusia di bumi, bahkan lebih banyak bersama manusia-manusia tersisih yang tak menyita perhatian mata.

Ambiguitas ini menyiratkan pemaknaan dan penghayatan yang luas tak terbatas tentang Tuhan. Karenanya, setiap hati memiliki kemandirian dan kebebasan mencari pemaknaan dan penghayatan itu sampai pada pilihan di mana ia merasakan kenyamanan.[jr]

Merebut Allah, Merebut Bayangan

8 December 2008 § 3 Comments


al-rahman ‘ala al-arsy istawa…

Tuhan adalah “sosok” yang tak pernah terbatas, rampung, final, dan komprehensif. Maka, berkahlah bagi manusia, Tuhan membahasakan diri, membatasi diri dengan bahasa yang manusiawi, dengan kata-kata, untuk diketahui manusia sehingga mereka dapat berkata-berkata tentang-Nya, meski dengan piranti nalar yang terbatas, bisa rampung dan final. Sebab itu, manusia mampu berbicara dan berkata-kata tentang Tuhan hanya pada batas-batas yang mampu dikatakannya.

Namun, bahasa selalu tak memadai untuk sepenuhnya mendeskripsikan, menjelaskan, dan dengan itu pula membubuhkan nilai dan merumuskan makna. Ribuan kalimat tersusun merangkai yang Tuhan firmankan tentang diri-Nya, bukanlah batas paling maksimal dan esensial tentang-Nya. Maka, bahasa sebenarnya hanya menangkap jejak, memotret bayangan dari “tongkat” yang tak pernah rampung dan final itu.

Bahasa, yang Tuhan gunakan untuk menjelaskan diri-Nya kepada manusia, adalah sebuah simbol: sebuah isyarat untuk mengungkapkan sesuatu dan pada saat yang sama menyembunyikan sesuatu. Sesuatu yang berada di luar jangkauan nalar dan tak terdeteksi indera tapi bisa dibahasakan, maka bahasa itulah simbol, jejak, bayangan dari esensi sesuatu itu. Kau bisa membaca, menafsirkan sebuah bahasa, tapi barangkali tak layak menyatakan diri telah sampai pada batas paling esensial, final, dan absolut. Selalu mungkin ada yang tersembunyi dari sebuah bahasa, yang luput dari sekedar pembacaan atasnya.

Selanjutnya, hal itu mengantarkan pada konskuensi wajar: bahasa tersaji terbuka untuk ditentukan oleh maksud pembaca. Tuhan membahasakan diri lewat bahasa simbol yang – dengan segenap misteri tersembunyi – merangsang manusia, sebagai pembaca, untuk mengurai, menelaah, menalar, sampai akhirnya memecahkan dan menentukan misteri yang tersembunyi dari balik simbol itu, sekali lagi, pada batas-batas yang mampu dikatakannya. Dan Tuhan, sebagai penulis kisah, bahkan pelaku cerita dari sebuah teks bahasa, dan paling mengerti maksud esensial bahasa itu, tak lagi hadir sebagai pengarah, “lepas tangan”, memberikan kewenangan kepada manusia untuk melakukan elaborasi.

Kita sadari atau tidak, itulah takdir bahasa.

Sepenggal firman yang saya nukil di atas, adalah (salah satu) contoh di mana Tuhan – esensi yang tak terjangkau nalar dan tak terdeteksi indera – membahasakan diri pada batas bahasa dan kata yang paling reduktif, tapi dengan itu manusia bisa berinteraksi. Firman itu kita terjemahkan dengan: “(Yaitu) Tuhan Yang Maha Pemurah, Yang bersemayam pada Arsy”.

Dari pengalaman empirik, kita bisa meraba-raba sepenggal firman itu, aktifitas “bersemayam” melibatkan dua unsur: “yang bersemayam” dan “yang disemayami”, dengan sederet persoalan di belakangnya, misalnya, bagaimana posisi “yang bersemayam” pada “yang disemayami”. Seperti apakah bentuk “yang disemayami” itu, apakah lebih besar dari “yang bersemayam”, jadi, katakanlah “yang disemayami” itu seperti rumah, atau lebih kecil, maka katakanlah “yang disemayami” itu sepeti kursi. Jika “yang disemayami” disepertikan rumah atau kursi, ke arah manakah ia menghadap.

Tentu, ada kemungkinan lain, misalnya, kita setuju dengan arti reduktif itu, hanya saja, karena ini menyangkut Allah, Tuhan Yang Maha Suci, maka tak perlulah ditanyakan, “bagaimana” dan “seperti apa” Ia bersemayam, yang pertanyaan itu hanya layak disandarkan kepada manusia. Bersikap al-tanzih saja. Yang jelas, bahasa Tuhan tentang diri-Nya adalah bahasa kebenaran. Sekilas, ini seperti pasrah menyerah pada bahasa, tapi sesungguhnya adalah sebuah sikap pilihan.

Atau sebuah kemungkinan lain: kita harus lari dari teks bahasa reduktif itu untuk menemukan makna, agar tidak terjebak pada pertanyaan-pertanyaan tak elok dan tak bakal selesai, atau terperangkap pada kesan pasrah menyerah pada bahasa. Makna lain itu, misalnya, sepenggal firman di atas adalah bahasa Tuhan untuk menyimbolkan ke-Maha-Perkasa-annya. Bagi Tuhan, cuma ada dua hal: diri-Nya dan bukan diri-Nya yang lahir dari diri-Nya. Dan yang bukan diri-Nya itu berada dalam lingkaran kuasa dan pengawasan-Nya. (Atau, sesungguhnya cuma ada diri-Nya, dan yang lain hanyalah manifes dari-Nya).

Atau, kemungkinan-kemungkinan pemaknaan lain di mana Kau sampai pada batas kenyamanan dan ketentraman hati.

Kau juga bisa mencari kemungkinan pemaknaan, misalkan, pada “wahuwa ma’akum anama kuntum” (Tuhan selalu menyertai di mana pun kalian berada), pada “yadullah fauqa aidihim” (Tangan Tuhan ada di atas tangan mereka), pada “qalb al-mu’min baina ishbain min ashabi’ al-rahman” (Kalbu orang beriman ada dalam genggaman jemari Tuhan), atau juga pada “…jannaat tajri min tahtiha al-anhar” (…surga yang di bawahnya melintas aliran sungai) …

Selalu ada kemungkinan yang bisa Kau temukan dari sebuah teks bahasa. Bila Kitab Suci punya pengantar dan tamat, teks bahasa Kitab Suci adalah sebuah hamparan pemaknaan yang meruah, membentang, jalin menjalin, terus menerus, tak punya awal, tak kunjung final. Dan, ketika kemungkinan sedemikian meruah, pilihanmu pada salah satu kemungkinan di antara yang meruah itu, sesungguhnya bukan lagi semata berdasar pada kebenaran nalar, tapi pada kenyamanan dan ketentraman hati.

Jelas, Allah, Ilahi, Rabbi, Tuhan, Gusti, Pangeran, God… hanya simbol, jejak, bayangan, sebuah batas bahasa di mana kita bisa berkata-kata, berdiskusi, berdebat tentang esensi yang supernatural, tak terjangkau nalar, tak terdeteksi indera, di mana sebuah esensi itu transenden, Yang Maha. Namun, bahasa akan bernasib “selalu tak memadai untuk sepenuhnya mendeskripsikan, menjelaskan”. Allah (sebagai bahasa) terlalu sempit, tidak akan sepenuhnya memadai untuk mendeskripsikan, menjelaskan Allah sebagai esensi yang supernatural, transenden, Yang Maha.

Telah lebih dari setahun, Malaysia memberlakukan larangan kata “Allah” digunakan media non-Islam. Hanya terjadi di Malaysia, kata “Allah” diklaim sebagai hak eksklusif umat Islam untuk menggunakannya. Alasannya: penggunaan kata “Allah” di media non-Islam ditakutkan akan menimbulkan gejolak di negara yang mayoritas penduduknya beragama Islam ini. Alasan yang cenderung naif.

Pertama, ini sama sekali sepele, tidak esensial dan tidak mencerdaskan. Kedua, cukup untuk menggambarkan “hidup yang didominasi oleh kuantifikasi, sebuah hidup yang memusuhi perbedaan kualitatif”. Ketiga, menunjukkan kepongahan mayoritas, dan pada saat yang sama inferioritas mayoritas, mayoritas yang kurang percaya diri, yang rapuh, sehingga membutuhkan kekuatan (pemerintah sekalipun) untuk menopangnya. Ini penyakit.[]

Yoga

2 December 2008 § 2 Comments


Sepenggal firman tersurat: fas aluu ahl al-dzikr in kuntum la ta’lamuun. “Jika tidak tahu, sampaikanlah pertanyaan kalian kepada ahli zikir”. Dua kali Tuhan menyuratkannya pada dua surat yang berbeda.

Secara spesifik, sepenggal firman itu merupakan bagian dari rangkaian kisah dialektikal Nabi dengan sebagian kalangan Arab waktu itu yang didera keraguan, mempertanyakan kerasulan Muhammad, sebab menimbang dirinya hanyalah manusia. Mungkin mereka juga bakal meragukan siapapun, seandainya ada manusia lain yang memproklamirkan diri menjadi rasul. Keyakinan mereka terhadap transendental Tuhan, memunculkan sikap penyucian terhadap-Nya (al-tanzih). Tuhan mesti dijauhkan dari dunia empiris, tidak layak bersentuhan dengan hal-hal profan, dari hal-hal yang berbau tanah bumi, beraroma keringat manusia. Maka, yang pantas menjadi rasul, menurut mereka, adalah para malaikat, mahluk langit.

Allah a’dzam min an yakuna rasuluhu basyar,” kata orang-orang itu. “Mosok iya, Tuhan dengan segenap keagungannya mau menjadikan rasul-Nya dari kelas manusia?! Itu akan menggerogoti transendental Tuhan!”

Ini persoalan kelas berat, yang nalar Nabi sendiri barangkali tak dapat memberikan jawaban meyakinkan kepada mereka. Maka, Tuhan sendiri yang menjawabnya.

Akana li al-nas ‘ajaban an auhaina ilaa rajulin minhum,” kata Tuhan.”Memangnya kenapa, jika yang menjadi rasul adalah manusia?! Herankah Kalian dan merasa aneh, jika Aku berikan titah kepada seorang laki-laki di antara Kalian?!”

Wama arsalna min qablika illa rijalan nuhi ilaihim,” Kata Tuhan lagi.”Pada masa lalu, yang Aku jadikan rasul pengantar wahyu juga manusia, lebih spesifiknya para lelaki.”

“Jadi, why not?!”

Agaknya mereka yang didera keraguan itu hanyalah orang-orang yang pandangan hidupnya membentur dinding tebal masa di mana mereka hidup, eksklusif dengan pemikiran, pengetahuan, dan informasi yang beredar pada masanya atau kalangannya saja, tanpa menyadari atau mungkin juga tak mau tahu jika di balik dinding tebal masanya ada masa lalu yang menghamparkan pemandangan luas. Mereka tidak memiliki jargon mulia seperti dalam tradisi NU: al-muhafadzah ‘ala al-qadim al-shalih, wal-akhdzu bi al-jadid al-ashlah. Menggali, menemukan, dan merawat warisan masa lalu, menengok preseden masa silam yang dapat memberikan pengayaan wacana, sekaligus mengikuti, mengamati, bahkan melibatkan diri pada perkembangan wacana masa kini yang juga dapat memberikan pengayaan, agar pengetahuan menjadi komperhensif dan lebih kaya.

Mungkin juga, karena tidak atau belum memiliki keimanan, mereka tidak atau belum memahami adagium bijak nan bajik, “al-hikmah dhallah al-mu’minin” atau “kebijaksanaan adalah barang hilang orang-orang beriman”. Karena lokasi hilangnya tidak jelas betul, maka di mana pun dan pada apa pun kebijaksanaan itu dijumpai, pungut saja.

Maka, jadilah mereka katak dalam tempurung. Eksklusif. Mereka melihat dirinya digdaya, tapi sebenarnya adalah kedunguan.

Mereka tidak tahu, perihal rasul dan risalah telah merayap sejak zaman purba, telah ada presedennya, dan yang terjadi dengan Muhammad hanyalah mata rantai. Dengan muatan kombinasi kemulian tradisi NU dan kebajikan adagium di atas, Allah menyarankan lawan dialektikal Rasul agar banyak belajar kepada siapa saja, termasuk kepada orang paling alimnya kelompok Nasrani, paling ahlinya kalangan Yahudi, para pakar Taurat, para pakar Injil, jika memang informasi dari Islam dianggap kurang kuat dan komprehensif. “Fas aluu ahl al-dzikr in kuntum la ta’lamuun”.

Ahl al-dzikr, ahli zikir bukanlah orang-orang yang zikirnya khusyuk dengan deraian air mata diiringi isak tangis sebagai latar sendu. Ahli zikir adalah para pakar intelektual. Kepada merekalah, lawan dialektikal Rasul disuruh menghadap membawa kebodohannya.

“Jika kalian tidak yakin, coba tanyakan, diskusikan dengan para intelektulal dari kalangan mana pun, Islam, Nasrani, Yahudi, atau para pakar mana pun yang menguasai kitab-kitab samawi, kalian akan menemukan satu jawaban, bahwa para rasul yang telah diterjunkan ke bumi, semuanya adalah manusia, tidak ada satu pun dari jenis malaikat. Dan itu tidak ada kaitanya dengan transendental atau profan. Sebab, bagaimana pun, Aku akan tetap menjadi diriku sendiri. Jangankan sekedar mengutus rasul dari kelas manusia, keagunganku tak akan dekaden secuil pun, meski umat seluruh dunia mengutukku. Atau, seandainya umat seluruh dunia memujiku, itu sama sekali tak akan menambah derajat kemualianku,” begitu kira-kira jawaban Tuhan untuk lawan dialektikal Rasul.

Saya kira, ada saat di mana Rasul selalu bersandar pada wahyu untuk memberikan jawaban atau menyelesaikan persoalan masyarakatnya, dalam hal yang relatif berat, seperti hal dan informasi gaib. Biasanya, kemudian, jawabanya saklek dari Tuhan, sebut saja, misal, “wa idza saalaka ‘ibadi ‘anni fa inni qarib”, “Muhammad, jika ada yang bertanya soal Aku kepadamu,” (jawab saja), “Aku cukup dekat kok.” Atau, “Yasaluka al-nas ‘an al-sa’ah, qul innama ‘ilmuha ‘inda Allah”, “Orang-orang bertanya kepadamu soal kiyamat. Jawab saja, cuma Allah yang tahu.” Termasuk persoalan di atas.

Ada saatnya juga Rasul menerima persoalan remeh temeh. Remeh temeh itu bisa diartikan dengan hal-hal sepele atau yang muncul dari kemanjaan dan kemalasan berpikir untuk berusaha mencari jawabannya sendiri. Untuk hal-hal semacam ini, barangkali Rasul tidak perlu menunggu wahyu untuk menanggapinya, apalagi melakukan investigasi. Atau mungkin juga, tidak perlu dijawab secara eksplisit.

Suatu ketika, ada salah seorang sahabat bernama Wabishah, bertanya kepada Rasul tentang definisi “kebaikan” dan “dosa”, syukur-syukur sekalian dengan contoh-contoh kongkritnya. Jawab Rasul,

“Istafti qalbak, ya wabishah!” Rasul sampai perlu mengulanginya tiga kali, menandakan penekanan, “al-birru ma ithmaannat ilaihi al-nafsu, wa al-itsmu ma haka fi al-nafsi.”

“Tanyakan pada hatimu! Mintalah fatwa pada kalbumu! Mintalah pertimbangan sukmamu! Jika hatimu merasa nyaman, adem, ayem, maka yang kamu lakukan itu berarti baik. Tapi kalau malah bikin resah, gelisah, berarti itu tidak baik, sehingga kamu merasa berdosa melakukanya.”

Saya, kok, jadi berkhayal, Kanjeng Rasul rawuh ke Indonesia, kemudian seseorang menghadapnya, bertanya soal yoga. Kira-kira, akan seperti apa respon Rasul?

AIDS Dalam Perspektif Tauhid

26 November 2008 § 1 Comment


Wabah flu burung pernah (atau mungkin masih) menjadi berita hangat dan banyak diperbincangkan di banyak media, baik cetak maupun elektronik. Masyarakat dibikin sibuk dan sebagian dibikin resah, karena khawatir terjangkit wabah mematikan ini. Unggas yang menjadi sumber wabah ini banyak yang dimusnahkan. Penyakit ini pun dianggap menular. Untunglah, orang-orang yang terjangkit wabah ini tidak banyak mendapat perlakuan diskriminatif.

Berbeda dengan wabah flu burung, para pengidap virus HIV dan orang-orang yang positif terkena AIDS banyak yang mendapatkan perlakukan diskrimitaif dan pengucilan, karena kekhawatiran akan menularnya virus yang juga mematikan tersebut.

Sah-sah saja melakukan tindakan antisipatif agar tidak terjangkit suatu penyakit. Karena, sangat manusiawi jika setiap orang lebih memilih hidup sehat tanpa penyakit. Suatu ketika Nabi Muhammad SAW pernah meminta para sahabat untuk melakukan antisipasi terhadap pengidap penyakit lepra (majdzum), “Jauhilah pengidap penyakit lepra, seperti kalian lari menjauh dari macan.” (HR Bukhari dari Abu Hurairah).

Namun demikian, Nabi tidak memerintahkan mereka untuk mengucilkan para pengidap penyakit lepra tersebut. Tetap bergaul seperti biasa, namun waspada dan antisipatif. Hadis Nabi di atas adalah dalam konteks tersebut, bukan dalam rangka mengukuhkan opini masyarakat kala itu bahwa suatu penyakit mutlak bisa menular secara alamiah.

Jika kita melihat hal ini dari konteks tauhid, sesungguhnya tidak ada penyakit menular dari atau melalui apapun secara alamiah. Jelas-jelas Nabi pernah menyatakan, “Tidak ada penyakit menular (‘adwa).” (HR Muslim dari Abu Hurairah). Bahkan, dalam satu hadis yang diriwayatkan oleh Imam Tirmizi dari sahabat Jabir bin Abdullah, Nabi pernah menemani makan salah seorang sahabat penderita lepra bernama Mu’aiqib bin Abi Fathimah, tanpa memiliki kekhawatiran yang berlebihan.

Sebab, jika tetap meyakini bahwa suatu penyakit bisa menular dari satu orang ke orang lain, maka bagaimana dengan pengidap pertama pernyakit tersebut?! Dari manakah ia terkena penyakit itu?! Dalam perspektif tauhid, orang kedua dan seterusnya yang “seolah” tertular penyakit, sesungguhnya sama prosesnya dengan orang pertama yang terkena penyakit. Artinya, penyakit yang menjangkiti orang kedua dan seterusnya bukan karena tertular oleh orang pertama. Tidak ada penyakit yang menular secara alamiah. Semuanya terjadi dalam lingkaran kuasa Allah.

Dan hadis Nabi di atas adalah dalam konteks membatalkan opini masyarakat jahiliah kala itu yang sangat kental nuansa syirik, yang meyakini bahwa wabah penyakit yang mejangkit saat itu menjalar secara alamiah tanpa adanya campur tangan kuasa Allah.

Maka, dengan tetap waspada dan antisipatif, seharusnya kita tetap bergaul secara wajar dengan para pengidap penyakit apapun, tanpa melakukan pengucilan dan kekhawatiran yang berlebihan. Justeru orang yang mengidap suatu penyakit tertentu lebih membuntuhkan pendampingan dan perhatian dari kita yang sehat.

Aib

7 November 2008 § 2 Comments


Setiap hari, dari mulai pagi sampai sore, kita disuguhi banyak berita tentang kalangan tertentu yang tanpa risih mengumbar aib dirinya, mempertontonkan perselingkuhan, perceraian, ketidakharmonisan keluarga, perseteruan antara anak dan orang tua, atau pihak-pihak tertentu yang menjelek-jelekan pihak lain, (mungkin) demi mendongkrak popularitas semu atau kepentingan-kepentingan lain. Seolah-olah, bagi mereka hal-hal semacam itu bukanlah aib. Parahnya, fenomena semacam itu didukung dan dijadikan ladang bisnis oleh media penyembah ratting. Padahal, sekecil-kecil dan sebenar-benar apapun aib, seharusnya selalu ditutup dan dijaga.

Dalam Islam, menjaga harga diri atau kehormatan (hifz al-‘irdh) merupakan salah satu dari lima prinsip dasar syariat yang harus dipertahankan oleh setiap muslim. Empat lainnya adalah menjaga agama (hifz ad-din), menjaga jiwa (hifz an-nafs), menjaga akal (hifz al-’aql), dan menjaga harta (hifz al-mal). Setiap muslim harus menjaga dan mempertahankan lima hal itu dari apapun yang bisa mengganggu atau merusaknya. Dan menutup aib merupakan bagian dari menjaga harga diri (hifz al-‘irdh) yang menjadi hak setiap muslim, baik untuk dirinya atau orang lain.

Dan suatu larangan, mengumbar aib diri sendiri, maka apalagi mengorek-ngorek aib orang lain. Kita dituntut untuk menutup aib. Nabi Muhammad SAW bersabda, “Siapa yang menutupi kejelekan orang lain, Allah akan menutupi kejelekannya di akhirat kelak.” (HR Bukharid dari Ibnu Umar).

Maka, Nabi pernah mengajarkan sebuah doa, berkaitan dengan prinsip-prinsip dasar di atas, “Ya Allah, aku memohon kepadamu kebaikan dan perlindungan dalam kehidupan beragamaku, kehidupan duniaku, kehidupan keluargaku, dan harta bendaku. Ya Allah, tutup dan jagalah kejelekanku (aibku).” (HR Abu Daud dari Ibnu Umar). Ibnu Umar menceritakan, bahwa Nabi membaca doa tersebut setiap hari dan tidak pernah meninggalkannya.

Begitulah seharusnya kita melihat aib diri sendiri dan kejelekan orang lain. Kita sama sekali tidak diperkenankan mempertontonkan aib sendiri apalagi aib orang lain. Bahkan untuk sekedar tahu urusan orang lain tanpa alasan maslahat pun tidak diperkenankan.

Orang-orang yang mempertontonan aib maksiatnya, dosa maksiat tersebut tidak akan diampuni oleh Allah. Nabi Muhammad SAW bersabda, “Setiap umatku akan diampuni dosanya (mu’afan), kecuali mujahirin.” (HR Bukhari dari Abu Hurairah).

Nabi menjelaskan, bahwa mujahirin adalah orang-orang yang melakukan perbuatan dosa di malam hari tanpa tanpa diketahui oleh orang lain. Pada saat itu, Allah SWT sedang menutup aib (perbuatan dosa) orang tersebut, dari penglihatan orang lain. Namun, pada pagi harinya, pelaku dosa itu justeru membuka aibnya sendiri, yang telah Allah tutup, membeberkan kepada orang-orang apa yang ia kerjakan pada malam hari. Wallahu a’lam bish-shawab.

Where Am I?

You are currently browsing entries tagged with rasul at Warung Nalar.

%d bloggers like this: