Pencuri yang Tercuri

16 August 2010 § 6 Comments


Malik ibn Dinar adalah seorang periwayat hadis dari generasi tabi‘in. Ia orang miskin. Sangat miskin. Tidak ada barang berharga di rumahnya. Jelas, jika ada pencuri memasuki rumahnya, itu adalah keputusan yang sangat salah. Seperti pencuri yang satu ini. Saya nukilkan kisah Malik dan si pencuri dari buku Qashash min Siyar al-Musytâqqîn ilâ al-Jannah (Kisah Para perindu Surga) karya Muhammad ibn Hamid Abdul Wahhab …

Suatu malam, pencuri itu memasuki rumah Malik ibn Dinar. Ia mencari-cari barangkali ada barang berharga yang bisa dicuri. Semua ruangan dimasuki. Malik ibn Dinar yang saat itu sedang mengerjakan shalat di kamarnya tahu jika ada yang masuk ke rumahnya. Ia tetap mengerjakan shalat, tidak khawatir « Read the rest of this entry »

Momentum Bersilat Kata

15 October 2008 § Leave a comment


Momen-momen tertentu bisa membuat orang kreatif bersilat kata, seperti momen lebaran, misalnya, lewat ucapan-ucapan lebaran via sms.

Isinya pun bermacam-macam. Ada yang, kata Tukul, tuncep poin – terjemahan paling bagus dalam bahasa Indonesia dari to the point. Ada yang menggunakan – menurut ilmu balaghah disebut dengan – kalam ithnab: berbulet-bulet dan berpanjang kalam, dengan nada agak romantis, puitis, doais, lucuis, pantunis dan bahkan narsis, dan sebagainya yang intinya cuma ucapan lebaran atau maaf-maafan, dengan ragam bahasa dunia, baik yang saya mudengi atau pun tidak, seperti bahasa Jawa, Indonesia, Arab, dan Inggris. Dan sms yang menggunakan bahasa yang tidak dimudengi, saya cuma bisa mringis-mringis. Yo wis…

Yang tuncep poin antara lain,

…Zuman maaf lahir batin ya. Dr org subang tea…

…SELAMAT HARI RAYA IDUL FITRI 1 SYAWAL 1429. MOHON MAAF LAHIR & BATIN. SEMOGA AMAL IBADAH KITA DI BULAN RAMADHAN MENDAPAT RIDHA ALLAH SWT…

…Tertuju kpd ikhwah semua, sy mhn maaf atas sgl hal yg krg brkenan dhati slm qt interksi. smg qt smua bs jelng akhr rmdhn dgn ht yg brsh n azzam jd lbh baik…

…Dr hati yg trdalm, Slmt Idul Fitri 1429H. Mhn maaf lahir & batin. Kullu ‘am wa antum bikhair wa ja’alanallahu wa iyyakum minal ‘aidin wal faizin…

…Selamat jalan Ramadhan, semoga tahun depan kita berjumpa lagi… Mohon maaf lahir batin, Met Idul Fitri 1429 H…

Yang paling banyak adalah sms dengan nada putis pantunis agak romantis, seperti,

…Lebaran is wonderFul opportuniTy 2 care, 2 Luv, 2 forgiven, 2 thanksz 4 bLeSsing n back 2 fitrah… mEt idul FitRi. m0h0n mav Lahir baTHin…

…Yg brt itu “AMANAH”. Yg slt itu “IKHLAS”. Yg daudit itu “APA YANG KITA MILIKI”. tp yang trindah itu, jk qt bs “SLG MEMAAFKAN”. Minal aidzin wal faizin. Maaf lahir batin…

…jikA j3mAr! Tak s3mPat brjaBat tAnGan… J!Ka RaGa tAk KuAsA uNtuK b’taTap… Maka B!la KaTa mMb3Kas LaRa… MrAsUk SuKmA… Sm0gA p!Ntu MaAf mSih t’buka… TaQobbALallaH m!Nna Wa MiNkuM. m0hon maAf LaH!r n BaTi tAs sglA sAlaHku… Have a nice leBarAn…

…Jika hati seputih kapas, jangan biarkan t’crah noda & dendam… Jika iman msh t’jaga, jangan biarkan t’crah dosa. Smoga di hari yg fitri ini kita t’lahir kembali. Minal ‘Aidin wal faizin, Mohon Maaf Lahir & Bathin… Kullu ‘Aam wa Antum Bikhair…

…IkhLs m’MfkN tRasA s9t mNyEjkN, tRLbh L9 msh dLm NvAnsA s!LatvRahMi, d hR nAn FitRi bEbskn dR ksLhN. vn9kpkN kBhg9iAn d9 svc!kN h4ti. M!n4L ‘4idz!n w4Lf4!dz!n…

…RmdhAn iS eNaugh. HaPpy Celebrate. Dlm Krendahn Hati da Ktinggian Budi. Dlm Kmikinn Harta da Kkayaan Jiwa. Dlm Khilaf da Smudra Maaf. Mhn maaf lHr&Btn…

Ada juga yang mengunakan bahasa internasional, meski saya gak mudeng,

…Sinaring suanten takbir kang ngebaki pamireng, anandani rawuhing riadi kang pinajeng… dalem nyuwun gungipun pangapunten, sugeng riadi, mugi tansah wilujeng…

…Sinartan tulusing raos, sucining kalbu, mugi sirno sdoyo duso kalepatan, gumantos rumaketing silatrahmi. Mijil manjalmaning sesanti “minal aidin wal faidzin…

Ada juga yang sambil promosi kartu telepon seluler, kayak ini,

…3 (three) gratis SMS ke smua oprator stiap harinya, selama 24 jam penuh. Tapi hari ini wlw gratis, tak lengkap maaf2n… w&kluarga mengucpkn Selamat hari raya ‘Idul Fitri 1429 H. MOHOM MAAF LAHIR & BATIN…

Juga ada yang tak mau repot-repot mikir, dengan mengcopy paste lagu milik band PADI dengan judul “Harmoni”,

…Kau membuatku mengerti hidp ini. Kt terlahir dari slembar kertas putih hingga Qlukis dgn tinta pesan deamai n trwujd harmoni… met idul fitri 1429…

Adapula yang narsis, yang membuat saya ngiri sama Allah, seperti ini,

…Mar’ah shalihh mlukis kkuatn Lwt masalah’x… Trsnyum saat trtekn, trtwa saat ht sdg mnngis, mmbrkati saat trhina, mpesona krn m’mfkn… mar’ah shalihh mngashi tnp pamrih br+ kwt dlm doa & hrpn… ini dikrim khusus dr mar’ah shalihh nan cantik milik ALLAH. Minal Aidn Wlfaizn. Maf lahr batin jg…

Jika Allah Yang Maha Indah dan menyukai keindahan saja sudi memiliki mar’ah sahilah tersebut (yang sudah pasti indah), maka apalagi saya. He…he…he…

Saya sendiri tidak terlalu oke dalam merangkai kata-kata semacam di atas, apalagi yang puitis romantis. Maka, kepada sebagian kawan, saya kirim sms seperti di bawah ini,

…Ariel peterpan, pasha ungu, risky the titans, once, baim wong, tora sudiro, luna maya, dian sastro, riyanti, marshanda, dan SAYA sendiri berserta segenap artis lainnya, ngucpin selamat lebaran. Maafkanku dgn segenap lahir batinmu…

Puasa-Puasa Selain Ramadhan

14 October 2008 § Leave a comment


Berbicara tentang puasa, galibnya dikaitkan dengan bulan Ramadan. Ini wajar, karena pada bulan ini umat Islam berkewajiban menjalankan rukun Islam keempat, yaitu puasa sebulan penuh. Padahal, semestinya tidak selalu demikian. Sebab, Allah lewat Rasul Muhamamad sendiri menyariatkan banyak puasa selain puasa wajib Ramadan, sebagai tindak lanjut dari spirit yang dibangun dalam Ramadan.

Ini bisa dilihat dengan disyariatkannya puasa sunah enam hari di bulan syawal. Bahkan Nabi memberikan “iming-iming”, puasa Ramadan yang dilanjutkan dengan puasa enam hari setelahnya, pahala yang diperoleh seperti puasa satu tahun. (HR Ad-Darimi). Lagi-lagi, “iming-iming” pahala “seperti puasa satu tahun” adalah semata simbol. Itu adalah idiom Allah, logika Allah yang disampaikan dengan logika manusiawi melalui kalkulasi matematis agar mudah dipahami oleh manusia. Sebab, “pahala” adalah abstrak, yang menungkinkan dipahami oleh nalar manusia dengan hal-hal yang kongkrit, contonya dengan kalkulasi matematis semacam itu. Intinya, wallahu’alam, orang yang berpuasa wajib Ramadhan kemudian dilanjutkan dengan enam hari di bulan Syawal, memiliki peluang investasi kebaikan yang tak terhingga banyaknya, untuk dirinya sendiri, sebagai bekal kehidupan abadi kelak.

Maka, “pahala satu tahun” tidak perlu lantas dirasionaliasikan; pahala puasa Ramadhan tiga puluh hari digandakan seperti pahala tiga ratus hari (pahala satu hari puasa digandakan sepuluh sepadannya, atas petunjuk man ja a bi al-khasanah falahu ‘asyru amtsaliha; siapa yang membawa amal kebaikan, maka ia berhak mendapatkan pahala sepuluh kali lipat). Jika pahala Ramadhan ditambah pahala enam hari puasa Syawal (pahalanya digandakan menjadi enam puluh kali lipat), atau tiga ratus ditambah eman puluh, maka total jendral sama dengan tiga ratus enam puluh, atau setara dengan jumlah hari dalam satu tahun. Pun, secara kalkulasi matematis mendekati tepat, tidak lantas dipahami hakikatnya semacam itu.

Kalkulasi pahala secara matematis atau disimbolkan dengan benda-benda duniawi tertentu (seperti pahala akan dibangunkan masjid di surga), sudah menjadi “kebiasan” Allah setiap kali menyariatkan amalan-amalan tertentu, sebagai testimoni, sebagaimana anak kecil yang mesti diberi hadiah untuk mau melaksanakan perintah orang tuanya, atau seperti para pedagang yang selalu mengharap untung dari barang dagangannya. Yang demikian tidaklah salah. Namun, seiring dengan perkembangan kedewasaan keberagamaan, sudah sepatutnya penghayatan keberagamaan tidak didasarkan pada logika kekanak-kanakan atau logika untung rugi ala pedagang. Tapi penghayatan yang muncul dari kesadaran sebagai mahluk atas segala kebijaksanaan dan kemurahan Sang Khalik yang tak terhingga dan terbatas.

Terkait soal puasa, Imam Ghazali memberikan tiga kategori laku puasa seorang muslim. Pertama, puasa awam (shaum al-‘umum), yaitu puasa yang dikerjakan sekedar menggugurkan kewajiban, hanya menahan lapar dan haus sepanjang siang serta menghindari hal-hal yang dapat membatalkan puasa. Barangkali bisa disebut puasa model “fikih”.

Kedua, satu tingkat di atasnya adalah “puasa khusus” (shaum al-khusus). Imam Ghazali memperkenalkan nomenklatur ini untuk mendeskripsikan puasa yang memiliki jiwa sehingga mampu menjadi kontrol bagi pelakunya untuk menggerakan seluruh anggota badannya ke arah positif dan maslahat. Tidak ada yang meluncur dari mulut kecuali ucapan kebaikan. Tidak ada yang terdengar dari telinga kecuali suara kebaikan. Tidak ada yang terlihat dari mata kecuali pandangan kebaikan. Tidak ada langkah kecuali menuju kebaikan. Tidak ada gerakan tangan kecuali memberikan manfaat kepada sesama.

Ketiga, lebih tinggi dari semua itu adalah puasa hati, pikiran, dan tindakan. Artinya mengarahkan semua hal hanya untuk Allah dan memalingkannya dari kecenderungan-kecenderungan duniawai yang menunggangi dan melekat, sehingga tidak terjebak menjadi budak dunia. Kecenderungan ini bukan berarti mengajarkan kebencian terhadap duniawi yang belaka benda mati (oleh karenanya tak patut dibenci). Tapi mengatur jiwa justru agar menjadi tuan bagi dunianya untuk kemsalahatan bersama. Imam Ghazali menyebutnya dengan shaum khusus al-khusus.

Allah menyebut, puasa Ramadhan disyariatkan sebagai pengasah bagi umat agar memiliki ketakawaan. Bagi saya, ketakwaan adalah proses spiritual yang tak henti-henti sampai mati, yang pelaksanaannya tidak terikat oleh waktu-waktu tertentu, atau dilaksanakan pada waktu-waktu tertentu. Diperlukan sikap istikamah, berkesinambungan. Di sinilah, menurut saya, hikmah disyariatkannya puasa-puasa sunnah, sebagai tindak lanjut spirit dan tujuan takwa yang hendak dicapai dalam Ramadhan. Meski Ramdhan datang berkala, namun spiritnya tetap bisa dibangun pada bulan-bulan selainnya, dengan puasa sunnah. Sehingga jalan ketakwaan lewat puasa tidak hanya ditempuh melulu pada Ramadhan, tapi di sepanjang tahun.

Allah lewat Rasul-Nya sendiri begitu banyak menyariatkan puasa-puasa sunnah. Di sepanjang tahun selalu ada puasa yang dikerjakan pada saat-saat tertentu. Di antaranya ada yang dikerjakan secara berkala setiap tahun, seperti puasa enam hari setelah Ramadan, puasa hari Arafah, hari tarwiyyah. Nabi juga memperbanyak puasa di bulan Sya’ban.

Dan puasa yang dikerjakan setiap bulan antara lain puasa tiga hari di pertengahan bulan (hijriah), yang disebut dengan puasa al-ayyam al-bidl (hari-hari putih). Adapun puasa yang kerjakan dalam kala mingguan adalah puasa hari senin dan kamis, atau muasani hari kelahiran kita sebagaimana Rasul berpuasa hari senin yang merupakan hari kelahirannya.

Dari puasa-puasa sunnah tersebut, yang paling utama adalah puasa yang menjadi amalan Nabi Daud, yaitu sehari puasa, sehari buka. Nabi bersabda, “Puasa yang paling utama adalah puasa yang dikerjakan saudaraku, Nabi Daud, yaitu sehari puasa, sehari berbuka.” (HR. Ahmad dan Tirmidzi).

Tentang Lailatul Qadar

20 September 2008 § 5 Comments


Seorang “tamu” memberikan komentar pada artikel Lailatul Qadar & “Iming-Iming” di blog saya, berupa pertanyaan-pertanyaan sebagai berikut:

Kalau diijinkan, saya hendak bertanya tentang lailatul qadar…

  1. Apakah semua orang yang sedang beribadah ketika para Malaikat turun, PASTI MENDAPAT LAILATUL QADAR…? Ataukah Lailatul Qadar berkunjung seperti tamu, jadi tidak semuanya dapat walaupun sdg beribadah…?
  2. Malaikat turun di negara mana…? Misal di Indonesia malam hari & ternyata terjadi lailatul qadar, apakah umat Islam di belahan bumi lain misalnya di Eropa yang sedang ibadah puasa (karena siang hari) PASTI MENDAPAT KEUTAMAAN LAILATUL QADAR, karena sedang beribadah ketika malaikat turun…?
  3. Bagaimana kalau para ulama sedunia membuat catatan kapan lailatul qadar terjadi di tahun-tahun sebelumnya… Misal pada tahun 1428H lailatul qadar terjadi pada malam 27, tahun 1427H pada malam 23 dan seterusnya…

Terima kasih saya haturkan…

Semoga Allah menyatukan & melembutkan hati semua umat Islam, amin…

Salam,
Achmad Faisol

Tapi, sayang, entah kenapa, pertanyaan menarik seperti itu justeru menjadi komentar “sampah” (spam), sehingga tidak bisa tampil di page. Meski demikian, saya berusaha menjawabnya dengan berbekal data-data teks terkait yang saya ketahui, kemudian coba menalarnya, tentu saja dengan subjektifitas pemahaman saya pribadi. Sebab, tidak ada yang tidak subjektif dari penalaran seseorang atas teks, kecuali teks itu sendiri. Maka, kebenaran produk subjektifitas akal atas penalaran terhadap teks selalu tidak absolut, kecuali teks itu sendiri.

Bukan Peristiwa Alam

Bagi saya, lailatul qadar adalah fenomena pengalaman sipiritual yang abstrak – dan bukan peristiwa alam yang nampak – yang melintas batas waktu, tempat, garis geografis dan bersifat metafisik imaterial.Meski teks-teks agama menyuratkannya sebagai “peristiwa alam” dan “peristiwa waktu”. Tengok saja ayat lailatul qadar yang terkenal itu, “Sesungguhnya Kami telah menurunkan Alquran pada malam “qadar”. “Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar.” (Al-Qadr: 1 & 5).

Bahkan, meski masih kontroversi, teks hadis menunjuk lebih spesifik kapan “malam” itu terjadi. Rasul pernah menyatakan, “Aku pernah dipertemukan dengan lailatul qadar, hanya saja aku lupa, kapan pastinya itu terjadi. Tapi, cobalah kalian mencarinya pada sepuluh hari terkahir Ramadhan, terutama pada bilangan ganjil.”[1] (HR Bukhari dari Abu Sa’id).

Para sahabat pun pernah memiliki pengalaman yang sama, bahkan dengan waktu-waktu yang beragam. Sebagian mengaku pernah diperjumpakan dengan lailatul qadar pada tujuh hari terakhir Ramadhan, dan sebagian mengaku pada sepuluh hari terakhir. Berita ini akhirnya sampai kepada Rasul. Rasul kemudian menyimpulkan, seraya menganjurkan kepada orang-orang yang belum pernah merasa diperjumpakan dengan lailatul qadar, “Cobalah kalian berusaha mencarinya pada tujuh hari terakhir Ramadhan.”[2] (HR Bukhari dari Ibnu Umar).

Jika pada ranah teks saja sudah terjadi kontroversi, maka sangat wajar jika kontroversi yang lebih hebat kemudian terjadi di kalangan para pembaca teks itu. Dalam catatan Ibnu Hajar al-Asqalani, ada lebih dari empat puluh pendapat soal “tanggal main” lailatul qadar, dengan penganutnya masing-masing. Berikut saya sebutkan beberapa di antaranya;

  • Lailatul qadar dapat terjadi pada semua bulan, bukan hanya Ramadhan. Pendapat ini populer dalam Mazhab Hanafi.
  • Lailatul qadar dapat terjadi pada semua malam pada bulan Ramadhan. Ini pendapat Ibnu Umar.
  • Ada yang menyebut, lailatul qadar terjadi pada awal Ramadhan.
  • Lailatul qadar terjadi pada sepertiga kedua Ramadhan. Pendapat ini dianut oleh sebagian penganut Mazhab Syafi’i.
  • Lailatul qadar terjadi pada awal sepertiga Ramadhan. Ini menjadi kecenderungan pendapat Imam Syafi’i.
  • Lailatul qadar terjadi pada malam kedua puluh tujuh Ramadhan. Ini beredar di kalangan Mazhab Ahmad.
  • Lailatul qadar terjadi pada bilangan witir sepuluh hari terakhir Ramadhan, dengan dukungan hadis riwayat Imam Bukhari dari Abu Sa’id di atas.
  • Lailatul qadar terjadi pada kisaran tujuh hari terakhir Ramadhan, berdasarkan hadis riwayat Imam Bukhari dari Ibnu Umar di atas.

Terjadinya kontroversi pada tingkat teks syari’ soal “tanggal main” lailatul qadar, dilanjutkan dengan kontroversi yang lebih hebat di kalangan ulama dan mazhab, menyodorkan interpretasi, bahwa lailatul qadar pada dasarnya adalah pengalaman jiwa yang sangat pribadi, dan bukan peristiwa alam. Ia terjadi pada jiwa, dan bukan pada alam yang terikat waktu dan tempat tertentu. Sebagai pengalaman, maka akan berbeda satu orang dengan yang lainnya, berdasarkan pengalaman masing-masing (seperti perbedaan pengalaman antara Rasul dan sebagian sahabatnya). Dan jika kemudian Rasul menyimpulkan, lailatul qadar terjadi pada sepuluh atau tujuh hari terakhir Ramadhan, seperti dalam pernyataan hadisnya, itu adalah berdasarkan pengalaman pribadinya dan sebagian para sahabatnya yang secara kebetulan mendapatkan pengalaman lailatul qadar itu bertepatan pada kisaran waktu-waktu tersebut. (Sebagian orang tidak mau menggunakan kata “kebetulan”).

Bahkan, Ibnu al-Arabi (bukan “Arabi”) sampai pada kesimpulan, “al-shahih annaha la tu’lam”. Yang benar, katanya, lailatul qadar tidak dapat diketahui berdasarkan hitungan waktu tertentu. Sehingga, tak perlu menunggu waktu untuk meraih lailatul qadar, tapi persiapkanlah jiwamu kapan pun, di mana pun. Sebab, ia hadir di dalam jiwa, dan tidak terrikat oleh waktu dan tempat tertentu. Jadi, kapan pun dan di mana pun, dengan rahmat Tuhan, seseorang bisa meraih lailatul qadar.

Jika demikian, maka “lailah” pada lailah al-qadr tidak diartikan sebagai “malam”, waktu tertentu, tapi “hari” yang mencakup “siang” dan “malam”. Seperti disebutkan dalam Alquran: “Dan (ingatlah), ketika Kami berjanji kepada Musa (memberikan Taurat, sesudah) empat puluh hari (arba’iina lailatan), lalu kamu menjadikan anak lembu (sembahanmu) sepeninggalnya dan kamu adalah orang-orang yang zalim.”[3] (Al-Baqarah: 51).

Atau, dalam bahasa Arab, jika dikatakan, “a’takifu lailataani”, maka artinya adalah “aku beri’tikaf selama dua hari”, (dua hari, dua malam). Bukan diartikan “dua malam” dalam arti beri’tikaf hanya pada malam hari selama dua hari berturut-turut, dan siangnya tidak.

Jika kita setuju dengan penjelasan di atas, maka pertanyaan nomor dua tersebut di atas, menjadi tidak relevan diajukan, maka apalagi dijawab. Pertanyaan itu tentang “waktu”, sementara konsep “waktu” dalam lailatul qadar pada penjelasan di atas tidak diterima.

Keagungan Tak Terjangkau Nalar

Lalu, apakah setiap orang yang beribadah akan “pasti” mendapatkan lailatul qadar?

Tidak ada kata pasti untuk sesuatu yang mungkin.

Lailatul qadar adalah rahasia Tuhan tingkat tinggi. Maka, jangankan memastikan, mengira kapan kira-kira kita akan memperolehnya saja adalah hal yang tidak mudah, jika enggan berkata mustahil. Allah dan Rasul memang memberikan informasi kebenaran lailatul qadar, dan kita percaya itu, tapi keduanya tidak memberikan kepastian kapan ia datang. Jika Allah dan Rasul-Nya saja tidak memastikan “waktu” lailatul qadar, maka sebuah kemustahilan bagi kita, memastikan telah memperolehnya. Inilah rahasia di balik diksi yang dipilih Allah dalam surat Al-Qadr untuk menjelaskan lailatul qadar: wa maa adraka maa lailatul qadr (Dan tahukah kamu apakah lailatul qadar itu?). Para pakar tafsir, sebut saja Imam al-Syaukani dalam karya tafsirnya Fath al-Qadir, menyebutkan, kata “maa adraka” adalah bentuk pertanyaan (istifham) yang digunakan untuk menunjukkan bahwa yang menjadi obyek pertanyaan adalah hal-hal yang sulit dijangkau hakikatnya secara sempurna oleh nalar manusia.

Senada dengan ayat lailatul qadar itu, sebut saja ayat lain yang menggunakan redaksi “maa adraka”, seperti dalam surat Al-Infithar ayat 17: wa maa adraaka maa yaumuddin? (Tahukah kamu apakah hari pembalasan itu?), surat Al-Qari’ah ayat 3: wa maa adraaka maa al-qaari’ah? (Tahukah kamu apakah hari Kiamat itu?).

Dari informasi dua ayat di atas, kita jadi tahu akan kebenaran “hari pembalasan” dan “hari kiamat”. Namun hanya sebatas itu saja (tahu akan kebenarannya), sedangkan hakikat “hari pembalasan” dan “hari kiamat” hanya Allah Yang Maha Mengetahui. Begitu juga dengan lailatul qadar. Tentang lailatul qadar, kita hanya sebatas tahu akan kebenarannya, sedangkan tentang hakikat dan siapa yang berhak memperolehnya, adalah rahasia Allah. Oleh karena itu, menurut saya, seseorang tidak berhak memastikan kehadiran lailatul qadar, apalagi memastikan memperolehnya, bahkan meski dengan melakukan ibadah sebanyak-banyaknya sekali pun. Jika seseorang tidak berhak memastikan memperoleh lailatul qadar, maka bagaimana pula ia akan mencatatkannya?! Bagaimana orang bisa mencatatkannya pada tanggal-tanggal tertentu, sedangkan Allah dan Rasul-Nya sendiri tidak memastikan kehadirannya?!

Lalu, bagaimana bisa seseorang (ulama) akan membuat catatan waktu lailatul qadar, sedangkan ia adalah “pengalaman jiwa”, terjadi pada jiwa – dan bukan “peristiwa alam” – yang tidak terikat dan terbelenggu oleh waktu dan tempat tertentu, seperti telah dijelaskan di atas?! Pertanyaan ketiga di atas, bagi saya, adalah ide konyol.

Pemaparan ini menjadi jawaban pertanyaan pertama sekaligus ketiga di atas.

Amma ba’du… Allah memberikan beberapa keistimewaan pada pengalaman lailatul qadar ini, antara lain ia lebih baik dari seribu bulan. Artinya, amal ibadah seorang hamba yang dikerjakan bertepatan dengan pengalaman lailatul qadar, dihitung lebih baik dari amal ibadah yang dikerjakan selama pengalaman hidup seribu bulan yang tanpa lailatul qadar. Namun, angka “seribu bulan” yang dimaksud bukanlah angka pasti, melainkan sebagai simbol untuk menjelaskan bahwa amal apapun yang dikerjakan tepat pada pengalaman lailatul qadar memiliki keistimewaan tak terhingga. Lagi pula, “malam seribu bulan” belum tentu pas kalau lailatul qadar dihitung melalui jumlah hari, jam, menit, dan detik dalam seribu bulan. Idiom Allah itu juga lebih bersifat kualitatif; kata “seribu” menggambarkan hampir tak terbatasnya peluang pemaknaan di balik idiom itu.

Keistimewaan lain adalah, seperti dijanjikan Rasul, “Siapa yang pernah memiliki pengalaman laitatul qadar karena iman dan mengaharapakan pahala, maka akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” (HR Bukhari dan Muslim dari Abu Huraiah).

Penting di sampaikan di sini, setiap kali Allah dan Rasul menganjurkan manusia melaksanakan ibadah-ibadah tertentu, hampir selalu dibarengi dengan “iming-iming” bonus keuntungan ukhrawi, dengan harapan mereka terdorong melaksanakan anjuran tersebut. Begitu juga dengan lailatul qadar dengan berbagai keistimewaannya. Bagi saya, lailatul qadar adalah ibarat “bonus” dalam konteks penghambaan (beribadah) Allah. Sebagai bonus, tentu saja ia bukanlah prioritas dan target utama (untuk tak mengatakan kurang penting, jika dianggap tidak sopan), tapi yang menjadi prioritas utama adalah penghambaan dan penghayatan nilai-nilai ilahi itu sendiri.

Bukankah penghambaan tertinggi kepada Tuhan adalah yang didasari oleh kesadaran diri sebagai mahluk serta kesadaran akan kebijaksanaan Tuhan yang tak terhingga, dan bukan penghambaan yang didasari atas “bonus” pahala atau takut akan dosa, atau yang didasari oleh “iming-iming” surga atau takut akan neraka?! Wallahu a’lam.


 

[1]إِنِّي أُرِيتُ لَيْلَةَ الْقَدْرِ ثُمَّأُنْسِيتُهَا –أَوْ نُسِّيتُهَا – فَالْتَمِسُوهَا فِي الْعَشْرِ الْأَوَاخِرِ فِي الْوَتْر.

[2]عن ابن عمر رضي اللّه عنه، أن أناسا أروا ليلة الْقدر في السّبع الْأَواخر، وأنَّ أناسا أروا أنَها في العشر الأواخر، فقال النَّبيّ: الْتَمِسُوهَا فِي السَّبْعِ الْأَوَاخِر.

[3]وَإِذْ وَاعَدْنَا مُوسَى أَرْبَعِينَ لَيْلَةً ثُمَّ اتَّخَذْتُمُ الْعِجْلَ مِنْ بَعْدِهِ وَأَنْتُمْ ظَالِمُونَ

Berhutang Puasa Ramadhan Sebelumnya. Hukumnya?

12 September 2008 § 2 Comments


Di antara kita barangkali pernah “berhutang” puasa Ramadhan karena berbagai alasan. Sebagai “hutang”, ia wajib dibayar lunas sesuai dengan jumlah hutang tersebut pada bulan-bulan selain Ramadhan. Namun, dengan berbagai alasan pula, barangkali sebagian kita tak sempat membayar lunas hutang tersebut, atau bahkan tak membayarkannya sama sekali, sampai Ramadhan selanjutnya datang. Belum pula lunas hutang puasa Ramadhan sebelumya, kewajiban puasa Ramadhan selanjutnya datang menyapa. Apa dan bagaimana hukumnya?

Tulisan ini adalah adaptasi dari monografi Takhrij Hadis “Man Adraka Ramadhan Wa ‘Alaihi Min Ramadhan Syaiun” (Uji Otentisitas Dan Kualitas Hadis; “Memasuki Ramadhan Dengan Berhutang Puasa Ramadhan Sebelumnya”) sebagai tugas akhir di Pesantren Luhur Ilmu Hadis Darus Sunnah Ciputat tahun 2006, di bawah bimbingan Prof. Dr. KH. Ali Mustafa Yaqub, Pengasuh Pesantren Luhur Ilmu Hadis Darus Sunnah, Guru Besar Ilmu Hadis Institut Ilmu Alquran (IIQ) dan Imam Besar Masjid Istiqlal Jakarta.

Adaptasi ini telah disimplifikasikan dengan mengabaikan “tata krama” standar karya ilmiah, semacam referensi, daftar pustaka atau hal lainnya, tidak seperti bentuk asli monografinya.

Teks Hadis

Hadis tersebut adalah: “Orang yang memasuki bulan Ramadhan – sedangkan ia masih “berhutang” puasa Ramadhan sebelumnya – maka puasa yang bersangkutan tidak akan diterima.”[1]

Rawi & Sanad Hadis

Sumber otentik hadis di atas adalah Musnad al-Imam Ahmad karya Imam Ahmad (setidaknya yang ditemukan penulis). Sementara sanad hadis (rangkaian rawi)-nya adalah: Hasan bin Musa, dari Ibnu Lahi’ah, dari Abu al-Aswad, dari Abdullah bin Rafi, dari Abu Hurairah, dari Rasul. Jika di gambarkan dalam skema, maka seperti ini;

Nama berwarna merah menunjukkan rawi yang kontroversial

Untuk lebih menyederhanakan tulisan ini, rawi yang akan dibahas hanyalah yang masih diperdebatkan kredibilitasnya, dalam hal ini adalah Ibnu Lahi’ah (nama berwarna merah pada skema).

Kontroversi Kredibilitas Ibnu Lahi’ah

Di antara para rawi hadis di atas, hanya Ibnu Lahi’ah seorang yang diperdebatkan kredibilitasnya (dan selebihnya adalah para rawi yang dinilai ta’dil – dinilai positif). Ia dinilai jarh (dinilai negatif) oleh sebagian kritikus hadis, dan pada saat yang sama ta’dil (dinilai positif) oleh sebagian yang lain. Imam Nasa’i dan Ibnu Ma’in, misalnya, menilai Ibnu Lahi’ah dha’if (lemah), hadisnya tidak layak dijadikan argumen. Pendapat berbeda disampaikan Ibnu Hiban dan Imam Ahmad yang masing-masing menilai Ibnu Lahi’ah shalih dan tsiqah (kedua kalimat itu merupakan bagian dari redaksi ta’dil).

Penilaian saling kontradiktif terhadap satu rawi oleh para kritikus adalah hal yang maklum terjadi. Maka, para ahli hadis membuat semacam “kaidah” dalam rangka memberikan jalan keluar masalah semacam itu. “Kaidah” itu adalah, jika seorang rawi dinilai jarh oleh sebagian kritikus hadis, dan pada saat yang sama ta’dil oleh sebagian yang lain, maka ta’dil-lah penilaian yang dianggap sah, selama tidak ada alasan dan penjelasan soal penilaian jarh tersebut. Dalam arti, jika seorang kritikus hadis menilai jarh seorang rawi tanpa menjelaskan alasannya, maka penilaian tersebut dianggap tidak ada. Semacam “asas praduga tak bersalah”; pada dasarnya setiap rawi adalah kredibel dan berintegritas (ta’dil), sampai ada bukti-bukti yang menyatakan sebaliknya (jarh). “Asas praduga tak bersalah” inilah yang juga menjadi alasan bahwa penilaian ta’dil oleh kritikus hadis terhadap rawi, tetap dianggap sah meski tidak disertai alasan – berbeda dengan jarh yang justeru dianggap tidak ada jika tak disertai alasan dan penjelasan.

Dari “jalan keluar” tersebut, dapat dipahami hilir alur kontroversi kredibilitas Ibnu Lahi’ah. Ta’dil adalah penilaian yang dianggap lebih sah baginya ketimbang jarh. Sebab, penilaian jarh terhadapnya tidak disertai alasan atau penjelasan apa pun. Ia dinilai dha’if, namun tidak dijelaskan alasan ke-dha’if-annya.

Kualitas Hadis

Sebelumnya, perlu disampaikan, penulis tidak ikut cawe-cawe urusan kualitas ini. Paling banter ia hanya mengurai kualitas tersebut, serta mengumpulkan mozaik-mozaik terserak terkait hadis ini.

Di atas, kontroversi Ibnu Lahi’ah telah diurai dan disimpulkan. Kemudian, dengan kontroversi yang ada, tentu sedikit banyak mempengaruhi status kualitas hadis di mana ia menjadi bagian dari periwayatannya. Sepertinya memang demikian, dan itulah kenapa para pakar (di antaranya adalah Ali bin Abu Bakar al-Haitsami dan Abdurrauf al-Minawi) kemudian menilai hadis ini mentok pada kualitas hasan. Ali bin Abu Bakar al-Haitsami bahkan menunjuk Ibnu Lahi’ah sebagai titik persoalan kualitas hasan ini.

Hasan berada satu tingkat di bawah shahih. Jika pada shahih sang rawi mesti memenuhi dua hal secara sempurna, yaitu moralitas yang baik (‘adl) dan kapasitas intelektual yang mumpuni (dlabth), maka pada hasan, moralitas sang rawi terkenal baik, hanya saja kapasitas intelektualnya tidak sesempurna (khaffa dlabthuhu) sebagaiamana disyaratkan shahih.

Dan khaffa dlabthuhu yang dimaksud pada hadis di atas, tak lain menunjuk pada Ibnu Lahi’ah. Ini dipertegas dengan penilaian Ibnu Hiban yang menyatakan Ibnu Lahi’ah shalih (hadis yang diriwayatkannya layak dipakai hanya sebagai i’tibar – diambil pelajaran dari isinya). Dalam disiplin ilmu hadis, “shalih” adalah tingkatan redaksi ta’dil paling rendah yang mengisyaratkan rawi yang bersangkutan khaffa dlabthuhu, kapasitas intelektualnya tidak sesempurna sebagaimana disyaratkan shahih, sehingga hadis yang diriwayatkannya hanya berkualitas hasan.

Berhutang Puasa Ramadhan Sebelumnya. Hukumnya?

Di dalam Alquran disebutkan, “…Siapa di antara kalian yang hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka ia mesti berpuasa pada bulan itu…” (Al-Baqarah: 158). Ayat ini menunjuk umat Islam yang hadir pada suatu daerah dan bermukim, serta bertepatan dengan masuknya bulan Ramadhan, untuk melaksanakan kewajiban puasa. Tentu saja “siapa” pada ayat itu hanya menunjuk orang-orang yang dianggap telah memenuhi prasyarat wajib berpuasa atau dalam fikih disebut dengan “syarat wajib”, yaitu umat Islam yang telah dewasa (baligh), normal (‘aqil), dan sehat jasmani. Siapa pun yang telah memenuhi kriteria itu, maka suatu kewajiban untuk melaksanakan puasa. Kemudian, orang yang telah memenuhi “syarat wajib”, pelaksanaan puasanya dianggap sah jika telah memenuhi prasyarat sah puasa (dalam fikih disebut “syarat sah”), yaitu niat dan tidak melakukan hal-hal yang membatalkan puasa (makan, minum, berhubungan intim)

Jika kita melihat kemudian menyapakti konsepsi “syarat wajib” dan “syarat sah” tersebut, maka “berhutang puasa Ramadhan sebelumnya” bukanlah bagian dari konsepsi itu. Artinya, siapa pun yang (Ramadhan) saat ini memiliki hutang puasa Ramadhan tahun lalu yang belum terbayar, itu tidak menghalanginya terkena kewajiban puasa Ramadhan. Sebab, “berhutang puasa Ramdhan sebelumnya” bukan bagian dari “syarat wajib” puasa, bukan pula “syarat sah”nya yang harus dilunasi. Dan hutang puasa tersebut tetaplah sebuah hutang yang harus dibayar sebagai sebuah kewajiban.

Lalu, bagaimana memahami hadis di atas?

Jika kita mengalir pada alur logika di atas, maka hadis tersebut mesti diletakkan di luar konteks “syarat wajib” atau “syarat sah”, dipahami di luar koridor “fikih puasa”.

Penulis memahami, penekanan hadis di atas adalah pada “pelunasan hutang”. Hutang, apa pun bentuknya, harus sesegera mungkin dibayar, termasuk puasa. Jika kondisi menyodorkan kesempatan untuk membayar hutang, maka tidak ada toleransi untuk menundanya. Maka, “lam yutaqabbal minhu” adalah semacam “teguran keras” bagi siapa pun yang telah diberi kesempatan untuk membayar hutang puasa, namun tetap mblunat, mbalelo, enak-enakan, meremehkan kewajiban yang semestinya ditunaikan.

Teguran keras yang masuk akal. Lihat saja, sanksi terberat pelanggaran puasa Ramadhan adalah puasa dua bulan berturut-turut. Sekilas terkesana sangat berat, namun bandingkan dengan sebelas bulan, waktu yang sangat longgar yang disediakan untuk menjalani sanksi itu. Apalagi hutang puasa yang cuma satu hari, dua hari, tiga hari, seminggu, sepuluh hari dan seterusnya. Jika pada rentang sebelas bulan, waktu selonggar itu dan dengan kondisi dan kesempatan yang memadai, hutang atau sanksi puasa tetap saja tidak dijalankan sampai datang Ramadhan selanjutnya, maka di Tuhan hanya perlu “merasa perlu” menegur dengan keras saja. Tidak ada yang pantas mendapatkan teguran keras, kecuali orang yang mblunat, mbalelo. Wallahu a’lam.


[1] من أدرك رمضان وعليه من رمضان شيء لم يقضه لم يتقبل منه.

Ramadhan Diawali Rahmat. Dhaif!!!

9 September 2008 § 1 Comment


Salah satu hadis kondang di bulan Ramadan adalah, Awal bulan Ramadhan adalah rahmat, pertengahanya adalah ampunan, dan penghabisannya adalah pembebasan dari neraka.[1] Karena ada tiga keistimewaan tersebut, maka masing-masing menempati sepertiga dari bulan Ramadhan. “Rahmat” menempati sepuluh hari pertama, “ampunan” pada sepuluh hari kedua, dan “pembebasan dari neraka” pada sepuluh hari terakhir. Para “dai artis” kita kerap mengumandangkannya saat Ramadhan datang. Mereka adalah para penyeru dengan penampilan artifisial yang menawan, layaknya artis. Wajah yang rupawan dengan polesan make-up, “wardrobe” yang nyetil, retorika dan artikulasi yang menarik, serta pandai memainkan ekspresi wajah. Singkatnya, sebagai penyeru, dari sisi penampilan dan gaya, mereka cukup menarik dan “mengundang”, sehingga memudahkan dalam penyampaian tema, termasuk peran mereka dalam menyampaikan hadis kondang di atas. Beberapa hari lalu, saya juga mendegar salah satu “dai artis” kita menyampaikan hadis di atas.

Tapi, tahukah Anda, sebenarnya hadis di atas tidak layak disampaikan. Hadis tersebut tidak dapat dipertanggung-jawabkan dari sisi akademis-ilmiyah, terutama dari sudut pandang ilmu hadis, lebih spesifik lagi dari ilmu takhrij hadis (sub-pembahasan ilmu hadis untuk menemukan sumber otentik suatu hadis, kemudian menentukan status kualitasnya).

Periwayat dan Sanad Hadis (Rangkaian Periwayat)

Hadis di atad diriwayatkan oleh al-‘Uqaili dalam kitab al-Dhu’afa, Ibnu ‘Adiy, al-Khatib al-Baghdadi dalam kitab Tarikh Baghdad, al-Dailami, dan Ibnu ‘Asakir. Sementara sanad hadis tersebut adalah: Sallam bin Sawwar, dari Maslamah bin al-Shalth, dari al-Zuhri, dari Abu Salamah, dari Abu Hurairah, dari Nabi Muhammad. Jika digambarkan dalam sekema, maka seperti ini:

Skema periwayat hadis dimaksud. Nama berwarna merah menunjukkan titik lemah hadis tersebut.

Kualitas Hadis

Dalam hasil penelitiannya, Imam Suyuthi menilai hadis di atas dha’if (lemah). Sedangkan menurut Syeikh Muhammad Nashiruddin al-Albani, ahli hadis masa kini, hadis itu munkar. Hadis munkar adalah hadis yang dalam sanadnya terdapat rawi (periwayat) yang pernah melakukan kesalahan fatal, pelupa, atau terbukti senagai seorang pelaku maksiat (fasiq). Hadis munkar merupakan bagian dari hadis dha’if, bahkan sangat lemah, sehingga sama sekali tidak dapat dijadikan pegangan atau dalil, sekali pun untuk beramal kebajikan (fadhailul a’mal). Sebagai hadis dha’if, ia menempati urutan ketiga setelah matruk (semi palsu) dan maudhu’ (palsu).

Titik lemah hadis di atas terletak pada dua orang periwayatnya, masing-masing adalah Sallam bin Sawwar dan Maslamah bin al-Shalth (pada skema, nama yang berwarna merah).

Menurut kritikus hadis Ibnu ‘Adiy (w. 365 H), Sallam bin Sawwar (lengkapnya Sallam bin Sulaiman bin Sawwar) masuk dalam kategori munkar al-hadis (dinilai munkar untuk meriwayatkan hadis). Sementara Imam Ibnu Hibban (w. 354) menyatakan, Sallam bin Sulaiman tidak bisa dijadikan hujjah (pegangan), kecuali apabila ada rawi lain yang meriwayatkan hadisnya.

Sedangkan Maslamah bin al-Shalt adalah matruk. Secara kebahasaan artinya “ditinggalkan”. Sedangkan dalam definisi ilmu hadis, matruk adalah hadis yang dalam sanadnya terdapat rawi yang dituduh sebagai pendusta.

Oleh sebab itu, sekali lagi, hadis di atas tidak dapat dijadikan dalil untuk persoalan apa pun, dan tidak layak pula disebut-sebut dan disampaikan dalam ceramah atau pengajian Ramadhan. Dan jika pun disampaikan, mesti disertai penjelasan tentang kedha’ifan hadis tersebut.

Maka, akan lebih mencerahkan, jika para dai artis kita, dengan segala penampilan artifisialnya yang serba menarik, lebih menambah bobot substansialnya dengan tidak mengesampingkan sisi akademis-ilmiah pada tema ceramah yang disampaikannya. Tidak hanya mengikuti logika televisi untuk performance, tapi juga melandasi tema ceramahnya dengan kedalaman logika akademis.

Tulisan ini disari-sadurkan dari buku Hadis-Hadis Palsu Seputar Ramadhan karya Prof. Dr. KH. Ali Mustafa Yaqub, Pengasuh Pesantren Luhur Ilmu Hadis Darus Sunnah Jakarta, Guru Besar Ilmu Hadis Institut Ilmu Alquran (IIQ) Jakarta, Imam Besar Masjid Istiqlal Jakarta.


[1] أول شهر رمضان رحمة وأوسطه مغفرة وأخره عتق من النار.

Tidak Ada Istilah “Tarawih”

7 September 2008 § 10 Comments


Tulisan tentang tarawih ini hanya menggunakan sudut pandang hadis, yang disarikan dari buku Hadis-Hadis Palsu Seputar Ramadhan karya Prof. Dr KH Ali Mustafa Yaqub alias Kyai Duladi, Imam Besar Masjid Istiqlal, Guru Besar Ilmu Hadis Institut Ilmu Alquran (IIQ), dan pengasuh Pesantren Luhur Ilmu Hadis Ciputat (semoga Allah selalu menjaganya)…

Tidak Ada Istilah “Tarawih”

Prof. Dr. KH Ali Mustafa Yaqub alias Kyai Duladi, penulis buku itu.

Kata “tarawih” adalah bentuk plural dari kata “tarwihah”, yang secara kebahasaan memiliki arti “ mengistirahatkan” atau “duduk istirahat”. Maka dari sudut bahasa, salat tarawih adalah salat yang banyak istirahatnya. Kemudian, tarawih dalam nomenklatur Islam digunakan untuk menyebut salat sunah malam hari yang yang dilakukan hanya pada bulan Ramadan.

Pada masa Rasul tidak ada istilah “salat tarawih”. Dalam hadis-hadisnya, Rasul tidak pernah menyebut kata itu. Dan kata yang digunakan adalah “qiyam ramadhan”. Tampaknya istilah “tarawih” muncul dari penuturan Aisyah, isteri Rasul. Seperti diriwayatkan oleh Imam Baihaqi, Aisyah mengatakan,

“Nabi salat malam empat rakaat, kemudian yatarawwahu (istirahat). Kemudian kembali salat. Panjang sekali salatnya.”

Dalil Tarawih 20 Rakaat Lemah

Di negeri kita, ada dua versi pelaksanaan salat tarawih, dua puluh rakaat dan delapan rakaat.

Rumusan dalil yang menjadi dasar pelaksanaan tarawih duapuluh rakaat adalah hadis riwayat Imam Thabarani dan Imam Khatib Al-Baghdadi. Riwayat itu,

Ibnu Abas bertutur, “Pada bulan Ramadan, Nabi Muhammad salat dua puluh rakaat dan witir.”

Hadis di atas, seperti yang dituturkan oleh Imam Ibnu Hajar Al-Haitami dalam karyanya Al-Fatawa al-Kubra al-Fiqhiyyah, lemah sekali. Titik lemah hadis ini adalah pada salah satu periwayatnya (dalam rangkaian sanad hadis ini) yang bernama Abu Syaibah Ibrahim bin Utsman.

Menurut Imam Bukhari, para ulama tidak mau berkomentar tentang Abu Syaibah. Imam Tirmidzi menilai hadis Abu Syaibah munkar. Sedangkan Imam Nasai menilai matruk. Bahkan Imam Syu’bah menilai Abu Syaibah sebagai pendusta. Dalam disipln ilmu hadis, komentar-komentar miring seperti di atas memberikan implikasi yang bersangkutan jika meriwayatkan hadis, maka status hadis itu menjadi tidak valid.

Maka, hadis riwayat Ibnu Abas di atas dapat dikategorikan sebagai hadis palsu atau minimal matruk (semi palsu), karena ada rawi pendusta (Abu Syaibah) dalam rangkaian sanadnya. Pada gilirannya, hadis di atas tidak dapat dijadikan dalil untuk salat tarawih dua puluh rakaat. Dengan kata lain, apabila kita salat tarawih dua puluh rakaat atas dasar dalil hadis di atas, maka kita telah malakukan kekeliruan.

Dalil Tarawih 8 Rakaat Juga Lemah

Hadis yang diindikasikan sebagai dalil salat tarawih delapan rakaat adalah hadis yang disebutkan dalam kitab Shahih IbnuHibban sebagai berikut,

Jabir bin Abdullah berkata, “Ubay bin Ka’ab datang menghadap Nabi lalu berkata, “Rasul, tadi malam (bulan Ramadan) aku melakukan sesuatu.” Kata Nabi, “Apa itu?” Ubay menjawab, “Para wanita di rumahku tidak ada yang bisa baca Alquran. Mereka memintaku menjadi imam salat. Kemudian kami salat delapan rakaat ditambah witir.” Rasul diam saja mendegar penuturan Ubay. Jabir menganggap Nabi memperkenankan apa yang telah dilakukan oleh Ubay.

Kualitas hadis ini sangat lemah, sebab dalam rangkaian sanadnya terdapat salah seorang periwayat yang bernama Isa bin Jariyah. Menurut para ahli kritik hadis papan atas, seperti Imam Nasai dan Imam Ibnu Main, hadis-hadis yang diriwayatkan oleh Isa bin Jariyah kualitasnya lemah. Imam Nasai menilai hadisnya matruk (palsu, karena diriwayatkan oleh pendusta). Hadis ini pun gugur sebagai dalil tarawih delapan rakaat.

Ada juga hadis lain tentang salat tarawih delapan rakaat, bahkan lebih kongkrit dari hadis di atas, yang diriwayatkan oleh Ja’far bin Humaid dari Jabir bin Abdullah,

“Nabi pernah mengimami kami salat pada satu malam Ramadan dengan delapan rakaat.”

Tapi sayang, hadis ini kualitasnya sama dengan hadis di atas, sebab hadis ini juga diriwayatkan oleh Isa bin Jariyah yang hadisnya dinilai matruk .

Dengan demikian, dalil salat tarawih delapan rakaat tidak memiliki sandaran nash yang kuat.

Hadis Shahih Ini Bukan Dalil Salat Tarawih

Hadis Imam Bukhari dan lain-lain yang diriwayatkan oleh Aisyah di bawah ini kerap dijadikan dalil oleh sebagian kalangan yang menganut tarawih delapan rakaat,

Rasul tidak pernah salat lebih dari sebelas rakaat, baik pada bulan Ramadan atau selainnya. Beliau salat empat rakaat. Tak perlu ditanyakan lagi, betapa bagus dan panjang salatnya itu. Setelah salam, ia kembali salat empat rakaat. Setelah itu, ia mengakhiri dengan salat tiga rakaat. Aisyah bertanya, “Rasul, apakah Engkau tidur sebelum melaksanakan salat witir?” Jawab Rasul, “Aisyah, matakau boleh tidur. Tapi tidak dengan hatiku.”

Benarkan hadis itu merupakan dalil salat tarawih delapan rakaat?

Pada hadis tersebut, Aisyah dengan gamblang menyatakan, Nabi tidak pernah salat lebih dari sebelas rakaat, baik pada bulan Ramadan maupun selainnya, alias sepanjang tahun. Salat yang dilakukan setiap malam sepanjang tahun, tentunya bukan salat tarawih. Sebab salat tarawih hanya dilaksanakan pada malam bulan Ramadan.

Oleh karen itu, para ulama berpendapat, hadis Aisyah di atas berbicara tentang salat witir, bukan salat tarawih. Para ulama umumnya juga menempatkan hadis itu pada bab salat witir atau salat malam, bukan pada bab salat tarawih, seperti Al-Qadhi ‘Iyadh dan Imam Nawawi. Imam Ibnu Hajar juga menempatkan hadis di atas dalam konteks salat witir.

Hadis yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari, Muslim dan Abu Dauwd dari Aisyah di bawah ini bisa menjadi peneguh pendapat di atas,

Rasulullah salat malam tiga belas rakaat, terdiri dari salat witir dan dua rakaat fajar.

Tarawih Tidak Berorientasi Angka

Justeru, hadis shahih tentang salat tarawih atau “qiyam Ramadan” tidak memberikan batasan jumlah rakaat yang pasti, tidak berorientasi sedikit atau banyaknya jumlah rakaat salat. Hadis tersebut diriwayatkan oleh Imam Bukhari, yaitu,

“Siapa yang menjalankan “qiyam Ramadan” karena iman kepada Allah dan mengharap pahala kepada-Nya, maka dosa-dosanya yang telah lalu akan terampuni.”

Pada hadis itu, Nabi sama sekali tidak menyinggung bilangan rakaat salat apalagi membatasinya. Kuantitas bukan orientasi utama dalam salat tarawih, tapi yang mesti diutamakan adalah kualitas. Jadi, mau salat tarawih empat rakaat silakan, enam rakaat monggo, delapan rakaat tidak mengapa, dua puluh rakaat mbonten nopo-nopo, atau bahkan lima puluh, seratus dan seterusnya, dengan catatan tetap menjaga kualitas; ikhlas, khusu’, baik, dan sebagainya. Wallahu a’lam.


عن ابن عباس قال، كان النبي صلى الله عليه وسلم يصلي في رمضان عشرين ركعة والوتر.

عن جابر بن عبد الله، قال: جاء أبي بن كعب إلى النبي صلى الله عليه وسلم فقال: يا رسول الله، إنه كان مني الليلة شيء – يعني في رمضان. قال: وما ذاك يا أبي؟ قال: نسوة في داري قلن إنا لا نقرأ القرأن، فنصلي بصلاتك. قال: قصليت بهن ثماني ركعات ثم أوترت. قال: فكان شبيه الرضا ولم يقل شيئا.

صلى بنا رسول الله صلى الله عليه وسلم ليلة في رمضان ثماني ركعات والوتر.

ما كان رسول الله صلى الله يزيد في رمضان ولا في غيره علىإحدى عشرة ركعة. يصلي أربعا فلا تسأل عن حسنهن وطولهن ثم يصلي أربعا فلا تسأل عن حسنهن وطولهن ثم يصلي ثلاثا. قالت عائشة رضي الله عنها، فقلت: يا رسول الله، أتنام قبل أن توتر؟ قال: يا عائشة، إن عيني تنامان ولا ينام قلبي.

كان رسول الله صلى الله عليه وسلم يصلي من الليل ثلاث عشرة ركعة، منها الوتر وركعتا الفجر.

من قام رمضان إيمانا واحتسابا غفر له ما تقدم من ذنبه.

Where Am I?

You are currently browsing entries tagged with ramadhan at Warung Nalar.

%d bloggers like this: