Lailatul Qadar & “Iming-Iming”

1 September 2008 § 1 Comment


Lailatul Qadar menjadi waktu pilihan Allah untuk menurunkan Alquran. Ia menjadi malam istimewa hingga Rasul menganjurkan umatnya untuk mendapatkannya. Sabda Rasul, “Aku pernah diperjumpakan oleh Allah dengan Lailatul Qadar, tapi aku lupa kapan tepatnya peristiwa itu terjadi. Namun, hendaknya kalian mencarinya pada hitungan ganjil sepuluh malam terakhir Ramadhan.” (HR Bukhari, Muslim dan Ibnu Majah dari Abi Sa’id Alkhudri).

Tentang Lailatul Qadar bisa dilihat dalam surat Al-Qadr. Allah berfirman, “Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Alquran) pada Lailatul Qadar. Dan tahukah kamu apakah Lailatul Qadar itu? Lailatul Qadar itu lebih baik dari seribu bulan. Pada malam itu turun para malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan. Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar.” (Al-Qadr: 1-5).

Dari surat tersebut kita dapat mengetahui beberapa hal. Di antaranya adalah bahwa Lailatul Qadar lebih baik dari seribu bulan. Artinya, amal ibadah seorang hamba yang dikerjakan bertepatan dengan Lailatul Qadar dihitung lebih baik dari amal ibadah yang dikerjakan selama seribu bulan yang tanpa Lailatul Qadar. Namun, angka seribu bulan yang dimaksud bukanlah angka pasti, melainkan sebagai simbol untuk menjelaskan bahwa ibadah apapun yang dikerjakan tepat pada Lailatul Qadar akan diberi pahala berlipat ganda oleh Allah. Lagi pula, “malam seribu bulan” belum tentu pas kalau Lailatul Qadar dihitung melalui jumlah hari, jam, menit, dan detik dalam seribu bulan. Idiom Allah itu juga lebih bersifat kualitatif; kata “seribu” menggambarkan hampir tak terbatasnya peluang pemaknaan di balik idiom itu. Juga bersifat dinamis, bergantung pada pola pergerakan hubungan antara Tuhan dengan hamban-Nya.

Hal lain yang bisa sarikan dari surat Al-Qadr di atas adalah, para malaikat turun, masuk ke dalam relung-relung jiwa hamba Allah, menebar rahmat, kesejahteraan, dan kedamaian. Tidak semua hamba Allah akan mendapatkan kemulian seperti ini. Kemuliaan tersebut hanya diberikan kepada hamba-hamba-Nya yang anggap siap menerimanya, yaitu hamba-hamba Allah yang memiliki jiwa bersih, yang menjalin harmoni kepada sesama juga kepada Tuhan-nya. Tanda orang yang mendapatkan kemualian tersebut adalah kecenderungannya berbuat baik. Sebab, malaikat hanya membisik manusia untuk berbuat baik.

Rasul pernah bersabda, “Setan dan malaikat selalu memberikan bisikan kepada manusia. Jika seseorang terbesit dalam dirinya untuk melakukan kejahatan dan mengingkari kebenaran, maka itu adalah bisikan setan. Dan jika terbesit dalam dirinya untuk melakukan kebaikan, maka itu adalah bisikan malaikat. Jika seseorang merasakan dalam dirinya bisikan kebaikan, maka pujilah Allah. Jika merasakan bisikan kejahatan, mintalah perlindungan kepada Allah.” (HR Tirmdzi dari Abdullah bin Mas’ud)

Dan salah satu keistimewaan Lailataul Qadar selanjutnya adalah akan diampuni dosa orang menjumpainya, seperti dijanjikan oleh Rasul, “Siapa yang menjumpai Laitatul Qadar karena iman dan mengaharapakan pahala, maka akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu. Dan siapa yang menjalankan puasa karena iman dan mengaharapakan pahala, maka akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” (HR Bukhari dan Muslim dari Abu Huraiah).

Penting disampaikan di sini, setiap kali Allah dan Rasul menganjurkan manusia melaksanakan ibadah-ibadah tertentu hampir selalu dibarengi dengan “iming-iming” keuntungan ukhrawi dengan harapan mereka terdorong melaksanakan anjuran tersebut. Seperti “kebaikan seribu bulan” bagi yang diperjumpakan dengan Lailatul Qadar, atau terampuni dosa-dosa yang telah lalu bagi yang melaksanakan puasa atas dasar iman, yang telah disebutkan di atas.

Sah-sah saja, bila seseorang melaksanakan amal kebaikan karena mengharap “iming-iming” yang dijanjikan, sebagaimana seorang pedagang yang selalu mengharap untung atas barang niaganya. Atau, sah saja bila kita melaksanakan amal kebaikan sebab ketakutan akan “azab” yang akan ditimpakan jika tidak melaksanakannya, sebagaimana seorang budak yang takut kepada majikannya. Sah saja kita memiliki kecenderungan pedagang atau budak dalam membangun hubungan dengan Tuhan; beribadah kepada-Nya dengan mengharap surga, atau beribadah agar terhindar dari neraka. Apakah kita memiliki kecenderungan salah satunya, hanya “kedalaman rasa” kita sendiri yang dapat merasakan.

Namun, kecenderungan paling baik dalam membangun hubungan (beribadah) dengan Tuhan adalah “kesadaran”; kesadaran kita sebagai mahluk yang datang dari-Nya dan kelak kembali kepada-Nya, kesadaran kita akan anugerah dan kebijaksanaan-Nya yang tak terbatas. Orang yang memiliki kecenderungan semacam ini, ibadah yang dilakukannya bukan karena mengharap “iming-iming” surga atau terhindar dari neraka. Ibarat “bonus”, “iming-iming” tersebut sekedar sampingan dan bukan target atau tujuan utama melaksanakan ibadah.

Semoga kita termasuk orang yang memiliki kecenderungan paling baik itu. Amin.

Ramadan Tanpa Rindu

28 August 2008 § Leave a comment


Jika buku dan tulisan tentang Ramadan itu penting, maka Ramadan jadi kurang penting, sebab dua hal. Pertama, jika Ramadan yang datang dari Yang Maha Sempurna masih perlu perwakilan penjelasan dari yang tak sempurna, maka bisa terjadi reduksi makna Ramadan (paling tidak “terkesan tereduksi”). Kedua, jika Ramadan adalah sebuah “karya” dari Yang Maha Sempurna masih perlu diwakili oleh pandangan dari yang tak sempurna lagi tak ikut dalam proses berkarya, maka kualitas karya itu jeblok (paling tidak “terkesan jeblok). Maka tulisan ini mesti berada di luar itu semua. Jelasnya, tulisan ini kurang penting sebagai substansi. Ia hanya punya makna sebagai refleksi diri.

~Adaptasi dari sebuah paragraf salah satu tulisan Cak Nun. Oke punya, sih… ~

Ramadan kembali datang. Puasa kembali menantang. Bulan di mana, menurut informasi agama, Tuhan membuka pintu-pintu surga dan menutup pintu-pintu neraka, membelengu setan pengganggu manusia, sebagaimana titah Rasul, “Jika Ramadan datang, Tuhan membuka pintu-pintu surga, menutup pintu-pintu neraka, dan membelenggu setan-setan”. (HR. Bukhari dan Muslim, Turmudzi, Nasa’i, Abu Daud, dan Ibnu Majah).

Hadis metafisik; surga, neraka, setan, malaikat. Namun ditujukan kepada manusia yang sama sekali fisik. Dalam kitab Fathul Bari, yang menjadi syarh (kitab komentar) dari Shahih Bukhari, hadis tersebut coba dirasionalkan. Yang dimaksud dengan “setan di belenggu” adalah, pada bulan itu setan tidak akan mudah menggoda umat manusia, ketimbang pada bulan selain Ramadan, sehingga mereka sulit terjerumus dalam kemaksiatan. Umat sedang disibukkan dengan aktifitas puasa, menahan lapar dan haus, yang biasanya dibarengi dengan peningkatan amal-amal saleh, seperti membaca Alquran, memperbanyak i’tikaf, dzikir, dan segala macam amalan-amalan saleh lainya (tentu saja bagi mereka yang melakukannya). Dengan kesibukan itu, kemungkinan untuk tersibukkan oleh perbuatan maksiat sangat kecil. Menurut Anda?

Jadi, pada bulan Ramadan, apa atau siapa yang menjadi jaminan paten para setan, mahluk Tuhan yang dikutuk itu, tidak mengajak kita berasyik masyuk dengan kemaksiatan? “Rumah” Ramadan yang semua pintu dan jendelanya tertutup rapat, dirajah pula, sehingga para setan yang coba memasukinya bakal terbakar, atau “rumah jiwa” kita sendiri?

Sungguh, aku tidak tahu, harus mengeler-eler pertanyaan sendiri itu dengan alur logika yang bagaimana, kecuali aku sungguh terpengaruh celoteh Cak Nun (Emha Ainun Najib) untuk konteks itu; manusia tidak berhenti hanya menjadi manusia, kecuali ia tak bisa dinamakan manusia. Itu yang disebut dengan mahluk dinamis, berbeda dengan malaikat dan setan yang statis, mahluk kepastian. Malaikat itu mahluk statis. Meski dia diletakkan atau hadir di tempat pelacuran, tempat perjudian, tempat minum-minum, di malam hari, siang, sore, hari Jumat, Minggu, bulan Ramadan, Muharram, tetap baik yang dilakukan. Setan juga mahluk statis, meski dia hadir di masjid, di kuil, di gereja, di malam hari, di siang hari, hari Jumat, Minggu, bulan Ramadan, Muharram, tetap saja jelek yang dia lakukan.

Sementara, manusia, kita, ada di tengah-tengah mereka. Kita adalah “mahluk kemungkinan”. Kita memiliki pilihan. Kita memiliki dua kemungkinan untuk dipilih; menuju kebaikan atau menuju kejelekan dan kebrengsengkan. Jiwa kita mesti bekonflik antara mendapatkan bisikan maut setan atau ilham malaikat.

Apakah pada bulan Ramadan, di “rumah” Ramadan, kita tak lagi menjadi mahluk kemungkinan, aman bersinggah di dalamnya, terbebas dari bisikan maut para setan karena mereka sedang dibelenggu?

Sekali lagi, aku sungguh terpengaruh celoteh Cak Nun di atas. Ah, masih mending terpengaruh celotehnya ketimbang terpengaruh kebingungan. Memang, Cak Nun bukan syari’ yang celotehnya bisa digenggam sebagai pegangan hidup, namun siapa pun tak berhak intervensi (bahkan diriku sendiri) ketika kedalaman “rasa”ku terhujam oleh celotehnya itu. Sebab, “rasa” adalah sesuatu yang sangat pribadi.

Maka, Ramadan tetap hanyalah Ramadan dengan ke-khas-an yang tak dimiliki bulan lain; puasa di sepanjang siang, “siapa berpuasa berlandaskan keimanan dan mengharap baik, dosa yang telah lalu diampuni”, “setan di belenggu”, salat tarawih, Alquran dulu turun sekaligus dari al-lauh al-mahfudz ke bait al-‘izzah di bulan ini, ada “lailatul qadar” di bulan ini, dan seterusnya dan sebagainya (silakan tambahkan dengan kekayaan keilmuan Anda soal Ramadan). Ada juga citra khas Ramadan yang diduga tersirat dari isyarat-isyarat itu; “bulan suci”. Maka, orang-orang pun ramai latah sepakat dengan citra itu. Karena sumber citra itu berupa isyarat tersirat, maka penjelasannya pun beragam. Bagi sebagian kalangan, “kesucian” Ramadan dijelaskan dan diejawantahkan dengan razia gelandangan, pengemis, penertiban dan sapu bersih tempat “kotor”, para aktris kita coba tampil “lebih sopan” untuk menghormati kesuciannya, dan seterusnya dan sebagainya. Citra suci ini mesti diperjuangkan, dengan tangan pemerintah atau “keberanian” kelompok-kelompok partikelir, terkadang dengan marah-marah, sewenang-wenang dan ada pihak-pihak yang terzalimi.

Ramadan, dengan ke-khas-annya, tetap cuma Ramadan. Dan kita, manusia, juga tetap manusia. Ramadan dan kita tak memiliki hubungan otomatis saling mengikat. Ramadan, juga bulan-bulan lain, tak bisa menjadikan kita baik, sebagaimana tak bisa menjadikan kita brengsek. Tak ada jaminan paten. Kecuali jiwa kita sendiri yang merespon atau meyampakkannya. Dan jika ada yang dapat merasakan “ikatan spesial” dengannya, maka itu hanya soal kedalaman rasa yang sangat pribadi yang tak salah untuk dirasakan dan diekspresikan. Konon, Rasul menjadi lebih dermawan pada bulan ini.

Dan Ramadan itu kembali menyapa kita untuk kesekian ulang kali. Ada yang suka cita, ada yang “marah”, ada yang “ngeri” (biasanya sehari makan tiga kali), ada pula yang menggebu-gebu penuh kerinduan (tanpa menafikan “ada-ada yang” lain). Dan orang yang rindu biasanya adalah orang yang kehilangan atau terpisah jarak, dan ingin segera bertemu. Setelah bertemu, kangen-kangenan sedemikian rupa. Setelah sering-sering bertemu dan bersatu, kangen dan rindu menjadi biasa dan akhirnya tak lagi istimewa, atau malah sengak! Awwaluhu gairah menggebu, wa ausathuhu jadi biasa, wa akhiruhu mlempem! Persis jamaah salat tarawih di masjid-masjid kita; penuh sesak di awal Ramadan, longgar di pertengahan, dan tinggal satu, dua, tiga shaf saja di akhir-akhir Ramadan, shaf pertamanya adalah si imam. “Quasi-rindu”; kerinduan semu karena yang menjadi obyek rindu adalah lahiriah, “body”, ritual.

Jika Kau merindukan Ramadan, berarti selama ini Kau telah kehilangannya. Terlalu sibuk dan lelahkah Kau dengan ritual puasa yang selama ini berkali-kali berulang-ulang Kau kerjakan sampai melalaikan spiritnya, sehingga di usia seperempat abad ini Kau masih saja merasa kehilanganya, dan berkali-kali berulang-ulang pula Kau merindukannya?!

Kosong mlompongkah “rumah jiwa”mu dari spirit Ramadan, sehingga Kau masih saja merindukan kehadiranya, berharap Tuhan akan “mengampuni dosa-dosamu yang telah lalu”, “membuka pintu-pintu surga, menutup pintu-pintu neraka, dan membelenggu setan-setanmu”, serta “iming-iming” ukhrawi lainnya, seperti anak kecil yang minta hadiah atas perbuatannya?! Kenapa pula harapan itu kau gantungkan cuma pada Ramadan, tidak di sepanjang zamanmu?! Lagi pula, lupakah Kau, nasihat Imam Ghazali yang bilang, puasamu saja masih shaum al-‘umum, puasa kelas rendahan, hanya menahan lapar dan haus belaka, cuma menggugurkan kewajiban, tanpa jiwa, tanpa rasa.

Jika Kau sungguh-sungguh berharap itu semua di sepanjang hidupmu, semayamkan dirimu dalam “rumah jiwa”mu yang telah terisi spirit Ramadan. Puasakan lahir dan batinmu dalam sepanjang hidupmu. Jangan Kau semayamkan dirimu dalam Ramadan. Sebab, ia datang dan pergi. Kebaikan dirimu dan “iming-iming” yang Kau harapakan pun akan datang dan pergi. Ya, meski itu sebenarnya masih mending ketimbang pergi dan berlalu.

Plak! Plak!!! Seperti ada yang menampar pipiku, kiri dan kanan. Yang kiri keras, yang kanan lebih keras.

Selamat datang Ramadan.

Narasi Tarhib Ramadhan

24 August 2008 § Leave a comment


Kalau kita mengajak saling baik, saling benar, saling enak satu sama lain, itu bukanya kita, kok, mau jadi malaikat. Nggak juga. Kita ga akan jadi malaikat. Tapi, bukan berarti kita lantas mau jadi setan. Kita tidak bisa sesuci malaikat, sebenar malaikat, sebaik malaikat. Tapi kita juga tidak punya cita-cita selaknat setan, sedurhaka setan, dan sekalap setan.

Malaikat itu mahluk statis. Meski pun dia diletakkan atau hadir di tempat pelacuran, tempat perjudian, tempat minum-minum, dia tetap baik yang dilakukan. Setan juga mahluk statis, meski dia hadir di masjid, di kuil di gereja, tetap saja jelek yang dia lakukan.

Sementara kita di tengah-tengahnya. Kita memiliki pilihan. Kita memiliki dua kemungkinan untuk kita pilih; menuju kebaikan atau menuju kebrengsengkan. Maka, di tengah-tengah pertengkaran terus menerus antara golongan A dengan golongan B, di tengah benturan yang tidak selesai-selesai antara kelompok satu dengan kelompok yang lain, di tengah perang frontal atau perang dingin di dalam batin antara aliran satu dengan aliran yang lain, di tengah ketidak-relaan, ketidak-ridlaan, ketidak-ikhlasan antara satu dengan manusia yang lain, insyaallah, saya yakin seyakin-yakinnya, bahwa kita akan memilih untuk menggerakkan diri kita semua ini bersama-sama sebagai satu bangsa menuju sesuatu yang lebih baik, menuju kerendah-hatian satu sama lain, menuju sikap untuk mau mengalah satu sama lain, untuk menomor-satukan yang terbaik bagi kita bersama-sama, bukan yang terbaik bagi A, terburuk B, bukan yang terbenar bagi C, terburuk bagi D dan sebagainya. Saya yakin, kita akan memilih yang terbaik. Happy end. Khusnul khatimah.

Kecuali kita berpihak kepada kebodohan, kita berpihak kepada kekerdilan, kita berpihak kepada kesempitan dan melapetaka. Ya, satu-satunya jalan, saya kira, mawas diri. Mau membuat diri kita ini pas. Kalau lebih, kita bikin pas, kalau kurang kita bikin pas. Bahasa Indoneisanya, “mawas diri”. Taubah… tobat…

~ Narasi musikal Cak Nun (Emha Ainun Najib) diiringi backsound shalawatan Kyai Kanjeng ~

Where Am I?

You are currently browsing entries tagged with puasa at Warung Nalar.

%d bloggers like this: