Lailatul Qadar Bukan Peristiwa Alam

18 August 2011 § 3 Comments


Rasulullah lupa kapan beliau pernah dipertemukan dengan lailatul qadar.

إِنِّي أُرِيتُ لَيْلَةَ الْقَدْرِ ثُمَّ أُنْسِيتُهَا (أَوْ نُسِّيتُهَا) فَالْتَمِسُوهَا فِي الْعَشْرِ الْأَوَاخِرِ فِي الْوَتْرِ

“Aku pernah dipertemukan dengan lailatul qadar, hanya saja aku lupa kapan peristiwa itu terjadi. Tapi, cobalah kalian mencarinya pada bilangan ganjil sepuluh hari terakhir,” (HR Imam Bukhari dari Abu Sa’d).

Para sahabat juga pernah mengalami peristiwa lailatul qadar pada waktu yang berbeda-beda. Sebagian mengaku diperjumpakan dengan lailatul qadar pada tujuh hari terakhir Ramadhan dan sebagian yang lain mengaku pada sepuluh hari terakhir. Kabar itu kemudian sampai kepada Rasul. Rasul lalu menyimpulkan, seraya menganjurkan kepada orang-orang yang belum pernah diperjumpakan dengan lailatul qadar, “Coba kalian mencarinya pada tujuh hari terakhir Ramadhan,” (HR Imam Bukhari dari Ibnu Umar).

Teks hadisnya:

 عن ابن عمر رضي الله عنه: أَنَّ أُنَاسًا أُرُوا لَيْلَةَ الْقَدْرِ فِي السَّبْعِ الْأَوَاخِرِ وَأَنَّ أُنَاسًا أُرُوا أَنَّهَا فِي الْعَشْرِ الْأَوَاخِرِ فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْتَمِسُوهَا فِي السَّبْعِ الْأَوَاخِرِ

Dua pernyataan berbeda dari Rasul itu diriwayatkan dua sahabat berbeda, yang pertama oleh sahabat Abu Sa‘id dan yang kedua oleh sahabat Ibnu Umar. Keduanya riwayat sahih Imam Bukhari dalam karya besarnya, al-Jami‘ al-Shahih atau yang lebih masyhur dengan sebutan Shahih al-Bukhari. Dalam kajian hadis, kita tahu, Imam Bukhari dikenal paling ketat dalam meneliti dan menyeleksi hadis-hadis. Ia membuat rumusan standar kesahihan paling tinggi, sehingga para ulama hadis meletakkan Shahih al-Bukhari di tempat tertinggi dalam jajaran Kutub al-Sittah (Kitab Hadis Enam Imam: Imam Bukhari, Imam Muslim, Imam Nasa’i, Abu Dawud, Imam Tirmidzi, dan Ibnu Majah).

Karena dua riwayat di atas sama-sama berstatus sahih maka perbedaan sabda Rasul tersebut bukan perbedaan-kontradiktif, bukan perbedaan yang saling menafikan, melainkan perbedaan-variatif, perbedaan yang memperkaya pemaknaan dan pemahaman, yang mengisyaratkan bahwa lailatul qadar adalah tema yang luwes, multi tafsir.

Jika dalam teks sumber utama saja sudah terjadi perbedaan, perbedaan pendapat yang lebih variatif terjadi di kalangan ulama. Di Fath al-Bari (kitab syarah Shahih al-Bukhari), Ibnu Hajar al-Asqalani mencatat ada lebih dari empat puluh (tercatat: empat puluh enam) pendapat soal “tanggal main” lailatul qadar. Berikut saya sebutkan beberapa di antaranya:

  • Lailatul qadar dapat terjadi pada semua bulan, bukan hanya Ramadhan. Pendapat ini populer dalam Mazhab Hanafi.
  • Lailatul qadar dapat terjadi pada semua malam pada bulan Ramadhan. Ini pendapat Ibnu Umar.
  • Ada yang menyebut, lailatul qadar terjadi pada awal Ramadhan.
  • Lailatul qadar terjadi pada sepertiga kedua Ramadhan. Pendapat ini dianut oleh sebagian penganut Mazhab Syafi’i.
  • Lailatul qadar terjadi pada sepertiga pertama Ramadhan. Ini menjadi kecenderungan pendapat Imam Syafi’i.
  • Lailatul qadar terjadi pada malam kedua puluh tujuh Ramadhan. Ini beredar di kalangan Mazhab Ahmad.
  • Lailatul qadar terjadi pada bilangan witir sepuluh hari terakhir Ramadhan, dengan dukungan hadis riwayat Imam Bukhari dari Abu Sa’id di atas.
  • Lailatul qadar terjadi pada kisaran tujuh hari terakhir Ramadhan, berdasarkan hadis riwayat Imam Bukhari dari Ibnu Umar di atas.
(Selebihnya, Anda bisa cek sendiri di Fath al-Bari)

Perbedaan pendapat soal lailatul qadar di antara Rasul, para sahabat, dan para ulama, menurut saya menunjukkan bahwa lailatul qadar pada dasarnya adalah pengalaman jiwa yang sangat pribadi. Karenanya, orang bisa mengalaminya pada saat yang berbeda-beda. Jika kemudian Rasul menyimpulkan, lailatul qadar terjadi pada sepuluh atau tujuh hari terakhir Ramadhan, seperti dalam hadis di atas, itu adalah berdasarkan pengalaman pribadi beliau dan pengalaman sebagian sahabat yang secara kebetulan terjadi pada kisaran waktu-waktu tersebut.

Bahkan, Ibnu al-Arabi, seorang ulama bermazhab fikih Maliki, murid Imam al-Ghazali, (bukan Ibnu Arabi [tanpa “al”] yang terkenal dengan konsep wihdah al-wujud) sampai pada kesimpulan, “al-shahih annaha la tu’lamu”. Yang tepat, menurutnya, lailatul qadar tidak dapat diketahui berdasarkan waktu tertentu. Meski pendapat tersebut dibantah oleh Imam al-Nawawi, namun pernyataan Ibnu al-Arabi tetap layak sebagai pendapat alternatif.

(Dari ragam pendapat tentang waktu lailatul qadar di atas, Ibnu Hajar lebih memilih bahwa waktu lailatul qadar adalah sepuluh hari terakhir Ramadan).

Jadi, apa hikmah atau nilai yang dapat diambil dari keragaman pendapat tentang waktu lailatul qadar di atas—dalam hadis dan pendapat para ulama salaf?

Yaitu, seseorang tak perlu terobsesi dengan waktu dalam rangka mengejar mendapatkan lailatul qadar. Tapi, persiapkan diri, bersihkan jiwa, sebab, lailatul qadar hadir dalam jiwa tanpa ikatan waktu dan tempat tertentu. Dengan rahmat Allah, kapan pun dan di mana pun, seseorang dapat meraih spirit dan kebaikan lailatul qadar. Dan yang penting diketahui, lailatul qadar adalah rahasia Tuhan.

Keagungan Tak Terjangkau Nalar

Ya, lailatul qadar adalah rahasia Tuhan. Tak ada yang dapat memastikan. Allah dan Rasul memang memberikan informasi kebenaran lailatul qadar, tapi keduanya tidak memberikan kepastian tentang lailatul qadar. Inilah rahasia di balik diksi yang dipilih Allah dalam surah al-Qadr: wa ma adraka ma lailatul qadr.  Tahukah kau apakah lailatul qadar itu?

Para pakar tafsir, seperti Imam al-Syaukani dalam karya tafsirnya Fath al-Qadir, menyebutkan, kata “ma adraka” adalah bentuk pertanyaan (istifham) untuk menunjukkan bahwa yang menjadi objek pertanyaan adalah sesuatu yang sulit dijangkau hakikatnya secara sempurna oleh nalar manusia.

Contoh ayat lain yang menggunakan redaksi “ma adraka” adalah tentang hari kiamat dalam surah al-Infithar ayat 17: wa ma adraka ma yaumuddin? (Tahukah kau apa hari pembalasan itu?) atau surah al-Qari’ah ayat 3: wa ma adraka ma al-qari’ah? (Tahukah kau apa hari kiamat itu?). Berdasarkan ayat Al-Quran, kita tahu kebenaran “hari pembalasan” dan “hari kiamat”. Namun, hanya sebatas bahwa ia benar adanya, sedangkan hakikat “hari pembalasan” dan “hari kiamat” hanya Allah Yang Maha Mengetahui.

Demikian juga dengan lailatul qadar. Kita hanya sebatas tahu akan kebenarannya, sedangkan tentang hakikatnya dan siapa yang berhak memperolehnya adalah rahasia Allah. Bahkan, saking rahasianya, barangkali seseorang takkan pernah tahu jika dirinya pernah mengalami atau menjumpai lailatul qadar. Bahkan, saking rahasianya lailatul qadar itu, Rasulullah sendiri dibuat lupa oleh Allah, kapan tepatnya beliau pernah dipertemukan dengan lailatul qadar. Tentu ada hikmah, kenapa Rasulullah dibuat lupa kapan beliau pernah dipertemukan dengan lailatul qadar.

Bukan Tujuan Utama

Allah memberikan beberapa keistimewaan kepada lailatul qadar ini, antara lain ia lebih baik daripada seribu bulan. Artinya, amal ibadah seorang hamba yang dikerjakan bertepatan dengan pengalaman lailatul qadar dihitung lebih baik daripada amal yang dikerjakan selama pengalaman hidup seribu bulan yang tanpa lailatul qadar.

Namun, angka “seribu bulan” yang dimaksud bukanlah angka pasti, melainkan simbol untuk menjelaskan bahwa amal apa pun yang dikerjakan tepat pada pengalaman lailatul qadar memiliki keistimewaan tak terhingga. Angka itu juga lebih bersifat kualitatif: kata “seribu” menggambarkan hampir tak terbatasnya kemungkinan pemaknaan di baliknya.

Keistimewaan lain adalah seperti dijanjikan Rasul,

من صام رمضان إيمانا واحتسابا غفر له ما تقدم من ذنبه، ومن قام ليلة القدر إيمانا واحتسابا غفر له ما تقدم من ذنبه

“Orang yang berpuasa Ramadan karena beriman dan berharap pahala dan rida Allah, ia diampuni dosanya yang telah lewat (dilakukan). Dan orang yang menghidupkan malam lailatul qadar dengan ibadah (atau: orang yang menjalankan ketaatan pada malam lailatul qadar) maka akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu,” (HR Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah).

(Catatan: I’rob kata “lailatul qadar” dalam teks hadis di atas bisa jadi maf’ul bih, bisa juga jadi ma’ful fih atau dzorof zaman).

Penting disampaikan di sini, tiap kali Allah dan Rasul menganjurkan umat melaksanakan ibadah-ibadah atau amalan-amalan, hampir selalu dibarengi dengan “iming-iming” keuntungan ukhrawi, dengan harapan mereka terdorong melaksanakan anjuran tersebut.

Begitu pula dengan lailatul qadar dengan berbagai keistimewaannya. Lailatul qadar ibarat “bonus” beribadah kepada Allah agar umat semakin giat dalam menjalankan ibadah. Sebagai bonus, tentu saja ia bukan tujuan, tapi yang menjadi tujuan adalah penghambaan, kepatuhan, dan rahmat kepada Tuhan. “Bonus” tak perlu dicari; ia datang sendiri. “Bonus” akan malu kepada dirinya sendiri jika tak mendatangi orang-orang yang berfokus kepada tujuan.

Bukankah penghambaan tertinggi kepada Tuhan adalah yang didasari oleh kesadaran diri sebagai makhluk serta kesadaran akan rahmat-Tuhan yang tak terhingga, dan bukan penghambaan yang didasari atas “bonus” pahala atau takut akan dosa, atau yang didasari “iming-iming” surga atau takut akan neraka—meski pun itu tidak salah?! Wallahu a’lam.

*

Versi YouTube:

Iblis Ingin Bertobat

1 August 2011 § Leave a comment


Jika manusia mengalami ketidaktetapan iman: saat suatu ketika ia merasa begitu dekat dengan Tuhan dan pada saat yang lain secara tak sadar ia mengabaikan-Nya, maka iblis pernah lelah dengan pembangkangannya kepada Tuhan. Ia merasa perlu menyudahi permusuhan dengan-Nya. Ia ingin bertobat.

Niat tersebut iblis utarakan kepada Musa, berharap Musa mau membantu. Iblis tahu, hanya Musa yang bisa bercakap-cakap secara langsung dengan Tuhan, seperti yang pernah Musa lakukan saat ia meminta Tuhan menampakkan diri, tapi Tuhan menolak: bukan karena Ia tak mau atau tak mampu, melainkan karena diri-Nya terlalu perkasa untuk « Read the rest of this entry »

Pencuri yang Tercuri

16 August 2010 § 6 Comments


Malik ibn Dinar adalah seorang periwayat hadis dari generasi tabi‘in. Ia orang miskin. Sangat miskin. Tidak ada barang berharga di rumahnya. Jelas, jika ada pencuri memasuki rumahnya, itu adalah keputusan yang sangat salah. Seperti pencuri yang satu ini. Saya nukilkan kisah Malik dan si pencuri dari buku Qashash min Siyar al-Musytâqqîn ilâ al-Jannah (Kisah Para perindu Surga) karya Muhammad ibn Hamid Abdul Wahhab …

Suatu malam, pencuri itu memasuki rumah Malik ibn Dinar. Ia mencari-cari barangkali ada barang berharga yang bisa dicuri. Semua ruangan dimasuki. Malik ibn Dinar yang saat itu sedang mengerjakan shalat di kamarnya tahu jika ada yang masuk ke rumahnya. Ia tetap mengerjakan shalat, tidak khawatir « Read the rest of this entry »

Kwitansi

10 November 2008 § 1 Comment


Jika ada yang paling aku tunggu saat ini, itulah adzan maghrib. Bolak-balik aku lirik jam. Ah, tapi baru jam empat. Jika “baru” berarti waktu yang dinantikan masih begitu jauh. Sepertinya lelet betul waktu berjalan. Aku tak sabar bercampur gelisah menunggu waktu di mana hari baru dalam kalender hijriyah akan bermula. Maklum, hari ini aku sedang puasa.

Elho, hari Minggu, kok, puasa?

Ssst…! Dengarkan, ini puasa sebab keadaan darurat. Tapi, ini sungguh-sungguh puasa. Ritualnya, syarat dan rukunnya aku penuhi. Jadi, secara fikih, puasaku itu sudah betul, hanya saja sedikit aku politisir: ada kepentingan ekonomi laten di sana. Jadi, puasaku itu mencakup dua bidang sekaligus, yaitu bidang agama dan bidang ekonomi. Aku tidak hanya sedang beribadah tapi sekaligus sedang melakukan upaya penataan ekonomi untuk menghadapi krisis yang sedang menderaku. Intinya, aku lagi bokek. Sial! Dan duit yang aku punya saat ini adalah selembar sepuluh ribu perak yang sudah dianggarkan untuk berbuka nanti. Betapa berharganya duit sejumlah itu jika berada di tempat dan waktu yang tepat. Aku timang-timang duit semata wayang itu dengan penuh kasih sayang seperti anak tunggal yang cerdas dan menjadi harapan masa depan.

Memang, minggu-minggu ini kehidupanku ibarat pensil yang meruncing pada ujungnya. Semakin hari, semakin cekak saja duitku, semakin harus irit pula aku mengeluarkannya. Dan hari ini adalah ujung paling ujung dari pensil, ketika aku harus bertahan hidup hanya dengan sepuluh ribu rupiah itu. Bahkan, adegan bertahan itu telah dimulai sejak tadi malam. Dan syukurlah, sampai sore ini aku masih bisa makan, bahkan mungkin sampai besok. Aku tidak mungkin akan menghabiskan sepuluh ribu itu untuk sekali makan saat berbuka nanti. Subsidi anggaran makan harus dikurangi. Ingat, ini masih krisis. Setiap rupiah yang keluar harus atas azas fungsi dan manfaat pokok. Pengeluaran-pengeluaran sekunder biar dihentikan dulu jika ingin tetap bertahan sampai pada saatnya nanti aku kembali berlimpah duit. Entah kapan.

Seperti siang tadi, aku menolak dengan halus pengemis yang mendatangi rumahku, maksudnya, rumah kontrakanku, dengan modus infak pembangunan masjid. Ya, bagaimana lagi, duit sepuluh ribu itu adalah pertahanan pangan terakhirku. Bagaimana aku bisa berbelas kasih kepada orang lain sementara aku sendiri butuh dikasihani. Tapi, keluhan semacam ini hanya ada dalam hatiku. Tidak mungkin, keadaan tak ideal itu aku umbar kemana-mana, ke kawan-kawanku, misalnya, apalagi demi mendapatkan belas kasihan.

Maaf, aku memang tidak mau dibelaskasihani. Ditawari pun aku pantang (tentu aku akan menolaknya dengan sehalus-halusnya agar tak menyinggung perasaan orang yang bermaksud baik), apalagi meminta belas kasihan. Ini soal prinsip. Bagiku, orang yang memberi belas kasihan adalah seorang hipokrit yang narsis. Orang yang berbelas kasih kepada orang lain sesungguhnya ia sedang memanifestasikan cintanya kepada diri sendiri, bukan karena cintanya kepada sesama, bukan karena altruistis atau al-itsar dalam bahasa Arab, bukan karena kesediaan ingin membantu yang lahir dari sifat kedermawanan. Setelah memberikan belas kasihan, ia akan melihat dirinya sendiri sambil bergumam syukur semu, “Alhamdulillah! Terima kasih, Tuhan. Ternyata, aku masih beruntung”. Maka, konteks yang terjadi adalah hubungan antara “si beruntung” dengan “si buntung” yang tak beruntung. “Si beruntung” yang sedang memanfaatkan ketak-beruntungan “si buntung” untuk bersyukur. Ya, mungkin juga belas kasihannya adalah ekspresi ketakutan dan ketidak-mampuan menanggung beban jika dirinya yang berada pada posisi “si buntung” itu. Ah, narsis!

Nah, tapi itu orang lain. Aku tidak seperti itu. Kalau aku, sih, apa yang aku berikan, aku hutangkan, aku sedekahkan, tentu saja atas dasar kedermawananku. Aku tidak punya rasa belas kasihan, yang aku punya adalah kedermawanan. Pemberian seorang dermawan biasanya didasarkan pada kebutuhan faktual orang yang diberi, bukan semata-mata “menggugurkan kewajiban”, maka asal saja memberi. Kepada pengemis, misalkan, aku selalu mengestimasikan kebutuhan makan mereka, minimal dalam satu hari, atau paling tidak sekali makan. Maka, nominal minimal yang mampu aku berikan kepada pengemis adalah sepuluh ribu rupiah. Cukuplah untuk makan dua kali sehari dengan porsi yang memadai atau untuk sekali makan dengan lauk agak mewah, bagi ukuran mereka tentu. Dan, sekali lagi, itu atas dasar kedermawananku, bukan karena kasihan.

Berdasarkan kedermawananku itu, lantas aku punya prinsip selanjutnya: tidak akan melibatkan orang lain pada setiap masalahku. Termasuk soal krisis ini. Aku lebih memilih menyunat subsidi anggaran makanku dengan berpuasa atau mengurangi jatah makan ketimbang berhutang kepada kawan. Aku tak mau merepotkan orang lain atas masalahku. Juga demi harga diri. Gengsi, seorang aku berhutang. Hendak kutaruh di mana mukaku dan apa kata dunia, jika aku yang dermawan, terbiasa menjadi tumpuan kawan-kawan dalam berhutang, kok ya, ikut-ikutan berhutang. Tidak! Itu tidak akan terjadi. Jangankan berhutang yang tentu akan menurunkan derajat kedermawananku, bahkan, untuk sekedar tahu keadaanku yang sedang cetek duit ini pun, mereka tak akan kubiarkan. Lebih baik lapar mempertahankan harga diri ketimbang kenyang dengan merendahkan diri mengemis dikasihani.

Aku tidak mau harga diriku dekaden karena masalah duit, meski dengan duit pula aku mendapatkan harga dan citra diri yang pantas di antara kawan-kawanku. Di antara mereka, citraku adalah seorang dermawan. Berhutang kepadaku tak sulit. Bahkan aku sering tak menagih hutang-hutang itu. Jika dibayar, syukur. Jika tidak, entah sengaja karena tahu aku dermawan atau karena lupa, juga tak masalah. Perlakuan yang baik, hubungan yang harmonis, dan penghargaan yang layak, sudah cukup bagiku.

Hah, adakah yang lebih nikmat dari seorang yang lapar selain bermalas-malasan sambil berkhayal?!

Kembali aku lirik jam. Asem! Baru jam lima kurang seperempat. Kok, ya, dunia ini lambat betul berputarnya. Aku jadi semakin sebal saja dengan putaran menit dan detik dari jam dinding laknat itu. Berkali-kali dilirik sepertinya semakin malas saja berputar. Tidak tahu apa, cacing-cacing pada bergeliat menari keroncongan sambil menusuk-nusuk dinding perutku!

Duit semata wayang sepuluh ribu perak yang sudah lusuh bin kumal binti kucel itu, yang dalam waktu kurang dari satu jam akan segera berkurang untuk menjadi sebungkus nasi warteg tanpa es teh manis sebagai menu berbuka puasa, aku tatap dengan rasa haru seperti pandangan seorang pengasih terhadap kekasihnya yang hendak berlalu. Aku pandangi duit itu sambil glelengan malas di depan televisi seperti orang lumpuh. Televisi menyala tapi tak aku tonton-perhatikan.

Sementara itu, di hadapanku terhampar bayang-bayang samar tak jelas yang mencitrakan hari-hari esokku. Seketika aku pecahkan, aku gecek, aku idek-idek bayang-bayang sialan itu.

Tiba-tiba terdengar suara ketukan di pintu, membuyarkan segala macam pikiran yang berputar-putar di otakku.

“Assalamu’alakum…”

Siapa lagi itu. Ah, semoga keberuntungan. Dengan malas karena lemas kubuka pintu.

“Wa’alaikum salam…”

“Permisi, Mas Tris. Maaf, kalau mengganggu.”

“O, tidak. Lagi santai, kok.”

“Ini, Mas, seperti biasa.” Seseorang yang sudah akrab di lingkunganku itu menyerahkan selembar kertas yang sepertinya sudah dipersiapkan sebelumnya, bertuliskan:

No: 15. Telah diterima dari: TRISNO ARTHO. Uang sejumlah: SEPULUH RIBU RUPIAH. Untuk pembayaran: KEBERSIHAN DAN KEAMANAN RT 05/RW 08.

Glek!!!

Ciputat, 9 November 2008

Momentum Bersilat Kata

15 October 2008 § Leave a comment


Momen-momen tertentu bisa membuat orang kreatif bersilat kata, seperti momen lebaran, misalnya, lewat ucapan-ucapan lebaran via sms.

Isinya pun bermacam-macam. Ada yang, kata Tukul, tuncep poin – terjemahan paling bagus dalam bahasa Indonesia dari to the point. Ada yang menggunakan – menurut ilmu balaghah disebut dengan – kalam ithnab: berbulet-bulet dan berpanjang kalam, dengan nada agak romantis, puitis, doais, lucuis, pantunis dan bahkan narsis, dan sebagainya yang intinya cuma ucapan lebaran atau maaf-maafan, dengan ragam bahasa dunia, baik yang saya mudengi atau pun tidak, seperti bahasa Jawa, Indonesia, Arab, dan Inggris. Dan sms yang menggunakan bahasa yang tidak dimudengi, saya cuma bisa mringis-mringis. Yo wis…

Yang tuncep poin antara lain,

…Zuman maaf lahir batin ya. Dr org subang tea…

…SELAMAT HARI RAYA IDUL FITRI 1 SYAWAL 1429. MOHON MAAF LAHIR & BATIN. SEMOGA AMAL IBADAH KITA DI BULAN RAMADHAN MENDAPAT RIDHA ALLAH SWT…

…Tertuju kpd ikhwah semua, sy mhn maaf atas sgl hal yg krg brkenan dhati slm qt interksi. smg qt smua bs jelng akhr rmdhn dgn ht yg brsh n azzam jd lbh baik…

…Dr hati yg trdalm, Slmt Idul Fitri 1429H. Mhn maaf lahir & batin. Kullu ‘am wa antum bikhair wa ja’alanallahu wa iyyakum minal ‘aidin wal faizin…

…Selamat jalan Ramadhan, semoga tahun depan kita berjumpa lagi… Mohon maaf lahir batin, Met Idul Fitri 1429 H…

Yang paling banyak adalah sms dengan nada putis pantunis agak romantis, seperti,

…Lebaran is wonderFul opportuniTy 2 care, 2 Luv, 2 forgiven, 2 thanksz 4 bLeSsing n back 2 fitrah… mEt idul FitRi. m0h0n mav Lahir baTHin…

…Yg brt itu “AMANAH”. Yg slt itu “IKHLAS”. Yg daudit itu “APA YANG KITA MILIKI”. tp yang trindah itu, jk qt bs “SLG MEMAAFKAN”. Minal aidzin wal faizin. Maaf lahir batin…

…jikA j3mAr! Tak s3mPat brjaBat tAnGan… J!Ka RaGa tAk KuAsA uNtuK b’taTap… Maka B!la KaTa mMb3Kas LaRa… MrAsUk SuKmA… Sm0gA p!Ntu MaAf mSih t’buka… TaQobbALallaH m!Nna Wa MiNkuM. m0hon maAf LaH!r n BaTi tAs sglA sAlaHku… Have a nice leBarAn…

…Jika hati seputih kapas, jangan biarkan t’crah noda & dendam… Jika iman msh t’jaga, jangan biarkan t’crah dosa. Smoga di hari yg fitri ini kita t’lahir kembali. Minal ‘Aidin wal faizin, Mohon Maaf Lahir & Bathin… Kullu ‘Aam wa Antum Bikhair…

…IkhLs m’MfkN tRasA s9t mNyEjkN, tRLbh L9 msh dLm NvAnsA s!LatvRahMi, d hR nAn FitRi bEbskn dR ksLhN. vn9kpkN kBhg9iAn d9 svc!kN h4ti. M!n4L ‘4idz!n w4Lf4!dz!n…

…RmdhAn iS eNaugh. HaPpy Celebrate. Dlm Krendahn Hati da Ktinggian Budi. Dlm Kmikinn Harta da Kkayaan Jiwa. Dlm Khilaf da Smudra Maaf. Mhn maaf lHr&Btn…

Ada juga yang mengunakan bahasa internasional, meski saya gak mudeng,

…Sinaring suanten takbir kang ngebaki pamireng, anandani rawuhing riadi kang pinajeng… dalem nyuwun gungipun pangapunten, sugeng riadi, mugi tansah wilujeng…

…Sinartan tulusing raos, sucining kalbu, mugi sirno sdoyo duso kalepatan, gumantos rumaketing silatrahmi. Mijil manjalmaning sesanti “minal aidin wal faidzin…

Ada juga yang sambil promosi kartu telepon seluler, kayak ini,

…3 (three) gratis SMS ke smua oprator stiap harinya, selama 24 jam penuh. Tapi hari ini wlw gratis, tak lengkap maaf2n… w&kluarga mengucpkn Selamat hari raya ‘Idul Fitri 1429 H. MOHOM MAAF LAHIR & BATIN…

Juga ada yang tak mau repot-repot mikir, dengan mengcopy paste lagu milik band PADI dengan judul “Harmoni”,

…Kau membuatku mengerti hidp ini. Kt terlahir dari slembar kertas putih hingga Qlukis dgn tinta pesan deamai n trwujd harmoni… met idul fitri 1429…

Adapula yang narsis, yang membuat saya ngiri sama Allah, seperti ini,

…Mar’ah shalihh mlukis kkuatn Lwt masalah’x… Trsnyum saat trtekn, trtwa saat ht sdg mnngis, mmbrkati saat trhina, mpesona krn m’mfkn… mar’ah shalihh mngashi tnp pamrih br+ kwt dlm doa & hrpn… ini dikrim khusus dr mar’ah shalihh nan cantik milik ALLAH. Minal Aidn Wlfaizn. Maf lahr batin jg…

Jika Allah Yang Maha Indah dan menyukai keindahan saja sudi memiliki mar’ah sahilah tersebut (yang sudah pasti indah), maka apalagi saya. He…he…he…

Saya sendiri tidak terlalu oke dalam merangkai kata-kata semacam di atas, apalagi yang puitis romantis. Maka, kepada sebagian kawan, saya kirim sms seperti di bawah ini,

…Ariel peterpan, pasha ungu, risky the titans, once, baim wong, tora sudiro, luna maya, dian sastro, riyanti, marshanda, dan SAYA sendiri berserta segenap artis lainnya, ngucpin selamat lebaran. Maafkanku dgn segenap lahir batinmu…

Puasa-Puasa Selain Ramadhan

14 October 2008 § Leave a comment


Berbicara tentang puasa, galibnya dikaitkan dengan bulan Ramadan. Ini wajar, karena pada bulan ini umat Islam berkewajiban menjalankan rukun Islam keempat, yaitu puasa sebulan penuh. Padahal, semestinya tidak selalu demikian. Sebab, Allah lewat Rasul Muhamamad sendiri menyariatkan banyak puasa selain puasa wajib Ramadan, sebagai tindak lanjut dari spirit yang dibangun dalam Ramadan.

Ini bisa dilihat dengan disyariatkannya puasa sunah enam hari di bulan syawal. Bahkan Nabi memberikan “iming-iming”, puasa Ramadan yang dilanjutkan dengan puasa enam hari setelahnya, pahala yang diperoleh seperti puasa satu tahun. (HR Ad-Darimi). Lagi-lagi, “iming-iming” pahala “seperti puasa satu tahun” adalah semata simbol. Itu adalah idiom Allah, logika Allah yang disampaikan dengan logika manusiawi melalui kalkulasi matematis agar mudah dipahami oleh manusia. Sebab, “pahala” adalah abstrak, yang menungkinkan dipahami oleh nalar manusia dengan hal-hal yang kongkrit, contonya dengan kalkulasi matematis semacam itu. Intinya, wallahu’alam, orang yang berpuasa wajib Ramadhan kemudian dilanjutkan dengan enam hari di bulan Syawal, memiliki peluang investasi kebaikan yang tak terhingga banyaknya, untuk dirinya sendiri, sebagai bekal kehidupan abadi kelak.

Maka, “pahala satu tahun” tidak perlu lantas dirasionaliasikan; pahala puasa Ramadhan tiga puluh hari digandakan seperti pahala tiga ratus hari (pahala satu hari puasa digandakan sepuluh sepadannya, atas petunjuk man ja a bi al-khasanah falahu ‘asyru amtsaliha; siapa yang membawa amal kebaikan, maka ia berhak mendapatkan pahala sepuluh kali lipat). Jika pahala Ramadhan ditambah pahala enam hari puasa Syawal (pahalanya digandakan menjadi enam puluh kali lipat), atau tiga ratus ditambah eman puluh, maka total jendral sama dengan tiga ratus enam puluh, atau setara dengan jumlah hari dalam satu tahun. Pun, secara kalkulasi matematis mendekati tepat, tidak lantas dipahami hakikatnya semacam itu.

Kalkulasi pahala secara matematis atau disimbolkan dengan benda-benda duniawi tertentu (seperti pahala akan dibangunkan masjid di surga), sudah menjadi “kebiasan” Allah setiap kali menyariatkan amalan-amalan tertentu, sebagai testimoni, sebagaimana anak kecil yang mesti diberi hadiah untuk mau melaksanakan perintah orang tuanya, atau seperti para pedagang yang selalu mengharap untung dari barang dagangannya. Yang demikian tidaklah salah. Namun, seiring dengan perkembangan kedewasaan keberagamaan, sudah sepatutnya penghayatan keberagamaan tidak didasarkan pada logika kekanak-kanakan atau logika untung rugi ala pedagang. Tapi penghayatan yang muncul dari kesadaran sebagai mahluk atas segala kebijaksanaan dan kemurahan Sang Khalik yang tak terhingga dan terbatas.

Terkait soal puasa, Imam Ghazali memberikan tiga kategori laku puasa seorang muslim. Pertama, puasa awam (shaum al-‘umum), yaitu puasa yang dikerjakan sekedar menggugurkan kewajiban, hanya menahan lapar dan haus sepanjang siang serta menghindari hal-hal yang dapat membatalkan puasa. Barangkali bisa disebut puasa model “fikih”.

Kedua, satu tingkat di atasnya adalah “puasa khusus” (shaum al-khusus). Imam Ghazali memperkenalkan nomenklatur ini untuk mendeskripsikan puasa yang memiliki jiwa sehingga mampu menjadi kontrol bagi pelakunya untuk menggerakan seluruh anggota badannya ke arah positif dan maslahat. Tidak ada yang meluncur dari mulut kecuali ucapan kebaikan. Tidak ada yang terdengar dari telinga kecuali suara kebaikan. Tidak ada yang terlihat dari mata kecuali pandangan kebaikan. Tidak ada langkah kecuali menuju kebaikan. Tidak ada gerakan tangan kecuali memberikan manfaat kepada sesama.

Ketiga, lebih tinggi dari semua itu adalah puasa hati, pikiran, dan tindakan. Artinya mengarahkan semua hal hanya untuk Allah dan memalingkannya dari kecenderungan-kecenderungan duniawai yang menunggangi dan melekat, sehingga tidak terjebak menjadi budak dunia. Kecenderungan ini bukan berarti mengajarkan kebencian terhadap duniawi yang belaka benda mati (oleh karenanya tak patut dibenci). Tapi mengatur jiwa justru agar menjadi tuan bagi dunianya untuk kemsalahatan bersama. Imam Ghazali menyebutnya dengan shaum khusus al-khusus.

Allah menyebut, puasa Ramadhan disyariatkan sebagai pengasah bagi umat agar memiliki ketakawaan. Bagi saya, ketakwaan adalah proses spiritual yang tak henti-henti sampai mati, yang pelaksanaannya tidak terikat oleh waktu-waktu tertentu, atau dilaksanakan pada waktu-waktu tertentu. Diperlukan sikap istikamah, berkesinambungan. Di sinilah, menurut saya, hikmah disyariatkannya puasa-puasa sunnah, sebagai tindak lanjut spirit dan tujuan takwa yang hendak dicapai dalam Ramadhan. Meski Ramdhan datang berkala, namun spiritnya tetap bisa dibangun pada bulan-bulan selainnya, dengan puasa sunnah. Sehingga jalan ketakwaan lewat puasa tidak hanya ditempuh melulu pada Ramadhan, tapi di sepanjang tahun.

Allah lewat Rasul-Nya sendiri begitu banyak menyariatkan puasa-puasa sunnah. Di sepanjang tahun selalu ada puasa yang dikerjakan pada saat-saat tertentu. Di antaranya ada yang dikerjakan secara berkala setiap tahun, seperti puasa enam hari setelah Ramadan, puasa hari Arafah, hari tarwiyyah. Nabi juga memperbanyak puasa di bulan Sya’ban.

Dan puasa yang dikerjakan setiap bulan antara lain puasa tiga hari di pertengahan bulan (hijriah), yang disebut dengan puasa al-ayyam al-bidl (hari-hari putih). Adapun puasa yang kerjakan dalam kala mingguan adalah puasa hari senin dan kamis, atau muasani hari kelahiran kita sebagaimana Rasul berpuasa hari senin yang merupakan hari kelahirannya.

Dari puasa-puasa sunnah tersebut, yang paling utama adalah puasa yang menjadi amalan Nabi Daud, yaitu sehari puasa, sehari buka. Nabi bersabda, “Puasa yang paling utama adalah puasa yang dikerjakan saudaraku, Nabi Daud, yaitu sehari puasa, sehari berbuka.” (HR. Ahmad dan Tirmidzi).

Tentang Lailatul Qadar

20 September 2008 § 5 Comments


Seorang “tamu” memberikan komentar pada artikel Lailatul Qadar & “Iming-Iming” di blog saya, berupa pertanyaan-pertanyaan sebagai berikut:

Kalau diijinkan, saya hendak bertanya tentang lailatul qadar…

  1. Apakah semua orang yang sedang beribadah ketika para Malaikat turun, PASTI MENDAPAT LAILATUL QADAR…? Ataukah Lailatul Qadar berkunjung seperti tamu, jadi tidak semuanya dapat walaupun sdg beribadah…?
  2. Malaikat turun di negara mana…? Misal di Indonesia malam hari & ternyata terjadi lailatul qadar, apakah umat Islam di belahan bumi lain misalnya di Eropa yang sedang ibadah puasa (karena siang hari) PASTI MENDAPAT KEUTAMAAN LAILATUL QADAR, karena sedang beribadah ketika malaikat turun…?
  3. Bagaimana kalau para ulama sedunia membuat catatan kapan lailatul qadar terjadi di tahun-tahun sebelumnya… Misal pada tahun 1428H lailatul qadar terjadi pada malam 27, tahun 1427H pada malam 23 dan seterusnya…

Terima kasih saya haturkan…

Semoga Allah menyatukan & melembutkan hati semua umat Islam, amin…

Salam,
Achmad Faisol

Tapi, sayang, entah kenapa, pertanyaan menarik seperti itu justeru menjadi komentar “sampah” (spam), sehingga tidak bisa tampil di page. Meski demikian, saya berusaha menjawabnya dengan berbekal data-data teks terkait yang saya ketahui, kemudian coba menalarnya, tentu saja dengan subjektifitas pemahaman saya pribadi. Sebab, tidak ada yang tidak subjektif dari penalaran seseorang atas teks, kecuali teks itu sendiri. Maka, kebenaran produk subjektifitas akal atas penalaran terhadap teks selalu tidak absolut, kecuali teks itu sendiri.

Bukan Peristiwa Alam

Bagi saya, lailatul qadar adalah fenomena pengalaman sipiritual yang abstrak – dan bukan peristiwa alam yang nampak – yang melintas batas waktu, tempat, garis geografis dan bersifat metafisik imaterial.Meski teks-teks agama menyuratkannya sebagai “peristiwa alam” dan “peristiwa waktu”. Tengok saja ayat lailatul qadar yang terkenal itu, “Sesungguhnya Kami telah menurunkan Alquran pada malam “qadar”. “Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar.” (Al-Qadr: 1 & 5).

Bahkan, meski masih kontroversi, teks hadis menunjuk lebih spesifik kapan “malam” itu terjadi. Rasul pernah menyatakan, “Aku pernah dipertemukan dengan lailatul qadar, hanya saja aku lupa, kapan pastinya itu terjadi. Tapi, cobalah kalian mencarinya pada sepuluh hari terkahir Ramadhan, terutama pada bilangan ganjil.”[1] (HR Bukhari dari Abu Sa’id).

Para sahabat pun pernah memiliki pengalaman yang sama, bahkan dengan waktu-waktu yang beragam. Sebagian mengaku pernah diperjumpakan dengan lailatul qadar pada tujuh hari terakhir Ramadhan, dan sebagian mengaku pada sepuluh hari terakhir. Berita ini akhirnya sampai kepada Rasul. Rasul kemudian menyimpulkan, seraya menganjurkan kepada orang-orang yang belum pernah merasa diperjumpakan dengan lailatul qadar, “Cobalah kalian berusaha mencarinya pada tujuh hari terakhir Ramadhan.”[2] (HR Bukhari dari Ibnu Umar).

Jika pada ranah teks saja sudah terjadi kontroversi, maka sangat wajar jika kontroversi yang lebih hebat kemudian terjadi di kalangan para pembaca teks itu. Dalam catatan Ibnu Hajar al-Asqalani, ada lebih dari empat puluh pendapat soal “tanggal main” lailatul qadar, dengan penganutnya masing-masing. Berikut saya sebutkan beberapa di antaranya;

  • Lailatul qadar dapat terjadi pada semua bulan, bukan hanya Ramadhan. Pendapat ini populer dalam Mazhab Hanafi.
  • Lailatul qadar dapat terjadi pada semua malam pada bulan Ramadhan. Ini pendapat Ibnu Umar.
  • Ada yang menyebut, lailatul qadar terjadi pada awal Ramadhan.
  • Lailatul qadar terjadi pada sepertiga kedua Ramadhan. Pendapat ini dianut oleh sebagian penganut Mazhab Syafi’i.
  • Lailatul qadar terjadi pada awal sepertiga Ramadhan. Ini menjadi kecenderungan pendapat Imam Syafi’i.
  • Lailatul qadar terjadi pada malam kedua puluh tujuh Ramadhan. Ini beredar di kalangan Mazhab Ahmad.
  • Lailatul qadar terjadi pada bilangan witir sepuluh hari terakhir Ramadhan, dengan dukungan hadis riwayat Imam Bukhari dari Abu Sa’id di atas.
  • Lailatul qadar terjadi pada kisaran tujuh hari terakhir Ramadhan, berdasarkan hadis riwayat Imam Bukhari dari Ibnu Umar di atas.

Terjadinya kontroversi pada tingkat teks syari’ soal “tanggal main” lailatul qadar, dilanjutkan dengan kontroversi yang lebih hebat di kalangan ulama dan mazhab, menyodorkan interpretasi, bahwa lailatul qadar pada dasarnya adalah pengalaman jiwa yang sangat pribadi, dan bukan peristiwa alam. Ia terjadi pada jiwa, dan bukan pada alam yang terikat waktu dan tempat tertentu. Sebagai pengalaman, maka akan berbeda satu orang dengan yang lainnya, berdasarkan pengalaman masing-masing (seperti perbedaan pengalaman antara Rasul dan sebagian sahabatnya). Dan jika kemudian Rasul menyimpulkan, lailatul qadar terjadi pada sepuluh atau tujuh hari terakhir Ramadhan, seperti dalam pernyataan hadisnya, itu adalah berdasarkan pengalaman pribadinya dan sebagian para sahabatnya yang secara kebetulan mendapatkan pengalaman lailatul qadar itu bertepatan pada kisaran waktu-waktu tersebut. (Sebagian orang tidak mau menggunakan kata “kebetulan”).

Bahkan, Ibnu al-Arabi (bukan “Arabi”) sampai pada kesimpulan, “al-shahih annaha la tu’lam”. Yang benar, katanya, lailatul qadar tidak dapat diketahui berdasarkan hitungan waktu tertentu. Sehingga, tak perlu menunggu waktu untuk meraih lailatul qadar, tapi persiapkanlah jiwamu kapan pun, di mana pun. Sebab, ia hadir di dalam jiwa, dan tidak terrikat oleh waktu dan tempat tertentu. Jadi, kapan pun dan di mana pun, dengan rahmat Tuhan, seseorang bisa meraih lailatul qadar.

Jika demikian, maka “lailah” pada lailah al-qadr tidak diartikan sebagai “malam”, waktu tertentu, tapi “hari” yang mencakup “siang” dan “malam”. Seperti disebutkan dalam Alquran: “Dan (ingatlah), ketika Kami berjanji kepada Musa (memberikan Taurat, sesudah) empat puluh hari (arba’iina lailatan), lalu kamu menjadikan anak lembu (sembahanmu) sepeninggalnya dan kamu adalah orang-orang yang zalim.”[3] (Al-Baqarah: 51).

Atau, dalam bahasa Arab, jika dikatakan, “a’takifu lailataani”, maka artinya adalah “aku beri’tikaf selama dua hari”, (dua hari, dua malam). Bukan diartikan “dua malam” dalam arti beri’tikaf hanya pada malam hari selama dua hari berturut-turut, dan siangnya tidak.

Jika kita setuju dengan penjelasan di atas, maka pertanyaan nomor dua tersebut di atas, menjadi tidak relevan diajukan, maka apalagi dijawab. Pertanyaan itu tentang “waktu”, sementara konsep “waktu” dalam lailatul qadar pada penjelasan di atas tidak diterima.

Keagungan Tak Terjangkau Nalar

Lalu, apakah setiap orang yang beribadah akan “pasti” mendapatkan lailatul qadar?

Tidak ada kata pasti untuk sesuatu yang mungkin.

Lailatul qadar adalah rahasia Tuhan tingkat tinggi. Maka, jangankan memastikan, mengira kapan kira-kira kita akan memperolehnya saja adalah hal yang tidak mudah, jika enggan berkata mustahil. Allah dan Rasul memang memberikan informasi kebenaran lailatul qadar, dan kita percaya itu, tapi keduanya tidak memberikan kepastian kapan ia datang. Jika Allah dan Rasul-Nya saja tidak memastikan “waktu” lailatul qadar, maka sebuah kemustahilan bagi kita, memastikan telah memperolehnya. Inilah rahasia di balik diksi yang dipilih Allah dalam surat Al-Qadr untuk menjelaskan lailatul qadar: wa maa adraka maa lailatul qadr (Dan tahukah kamu apakah lailatul qadar itu?). Para pakar tafsir, sebut saja Imam al-Syaukani dalam karya tafsirnya Fath al-Qadir, menyebutkan, kata “maa adraka” adalah bentuk pertanyaan (istifham) yang digunakan untuk menunjukkan bahwa yang menjadi obyek pertanyaan adalah hal-hal yang sulit dijangkau hakikatnya secara sempurna oleh nalar manusia.

Senada dengan ayat lailatul qadar itu, sebut saja ayat lain yang menggunakan redaksi “maa adraka”, seperti dalam surat Al-Infithar ayat 17: wa maa adraaka maa yaumuddin? (Tahukah kamu apakah hari pembalasan itu?), surat Al-Qari’ah ayat 3: wa maa adraaka maa al-qaari’ah? (Tahukah kamu apakah hari Kiamat itu?).

Dari informasi dua ayat di atas, kita jadi tahu akan kebenaran “hari pembalasan” dan “hari kiamat”. Namun hanya sebatas itu saja (tahu akan kebenarannya), sedangkan hakikat “hari pembalasan” dan “hari kiamat” hanya Allah Yang Maha Mengetahui. Begitu juga dengan lailatul qadar. Tentang lailatul qadar, kita hanya sebatas tahu akan kebenarannya, sedangkan tentang hakikat dan siapa yang berhak memperolehnya, adalah rahasia Allah. Oleh karena itu, menurut saya, seseorang tidak berhak memastikan kehadiran lailatul qadar, apalagi memastikan memperolehnya, bahkan meski dengan melakukan ibadah sebanyak-banyaknya sekali pun. Jika seseorang tidak berhak memastikan memperoleh lailatul qadar, maka bagaimana pula ia akan mencatatkannya?! Bagaimana orang bisa mencatatkannya pada tanggal-tanggal tertentu, sedangkan Allah dan Rasul-Nya sendiri tidak memastikan kehadirannya?!

Lalu, bagaimana bisa seseorang (ulama) akan membuat catatan waktu lailatul qadar, sedangkan ia adalah “pengalaman jiwa”, terjadi pada jiwa – dan bukan “peristiwa alam” – yang tidak terikat dan terbelenggu oleh waktu dan tempat tertentu, seperti telah dijelaskan di atas?! Pertanyaan ketiga di atas, bagi saya, adalah ide konyol.

Pemaparan ini menjadi jawaban pertanyaan pertama sekaligus ketiga di atas.

Amma ba’du… Allah memberikan beberapa keistimewaan pada pengalaman lailatul qadar ini, antara lain ia lebih baik dari seribu bulan. Artinya, amal ibadah seorang hamba yang dikerjakan bertepatan dengan pengalaman lailatul qadar, dihitung lebih baik dari amal ibadah yang dikerjakan selama pengalaman hidup seribu bulan yang tanpa lailatul qadar. Namun, angka “seribu bulan” yang dimaksud bukanlah angka pasti, melainkan sebagai simbol untuk menjelaskan bahwa amal apapun yang dikerjakan tepat pada pengalaman lailatul qadar memiliki keistimewaan tak terhingga. Lagi pula, “malam seribu bulan” belum tentu pas kalau lailatul qadar dihitung melalui jumlah hari, jam, menit, dan detik dalam seribu bulan. Idiom Allah itu juga lebih bersifat kualitatif; kata “seribu” menggambarkan hampir tak terbatasnya peluang pemaknaan di balik idiom itu.

Keistimewaan lain adalah, seperti dijanjikan Rasul, “Siapa yang pernah memiliki pengalaman laitatul qadar karena iman dan mengaharapakan pahala, maka akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” (HR Bukhari dan Muslim dari Abu Huraiah).

Penting di sampaikan di sini, setiap kali Allah dan Rasul menganjurkan manusia melaksanakan ibadah-ibadah tertentu, hampir selalu dibarengi dengan “iming-iming” bonus keuntungan ukhrawi, dengan harapan mereka terdorong melaksanakan anjuran tersebut. Begitu juga dengan lailatul qadar dengan berbagai keistimewaannya. Bagi saya, lailatul qadar adalah ibarat “bonus” dalam konteks penghambaan (beribadah) Allah. Sebagai bonus, tentu saja ia bukanlah prioritas dan target utama (untuk tak mengatakan kurang penting, jika dianggap tidak sopan), tapi yang menjadi prioritas utama adalah penghambaan dan penghayatan nilai-nilai ilahi itu sendiri.

Bukankah penghambaan tertinggi kepada Tuhan adalah yang didasari oleh kesadaran diri sebagai mahluk serta kesadaran akan kebijaksanaan Tuhan yang tak terhingga, dan bukan penghambaan yang didasari atas “bonus” pahala atau takut akan dosa, atau yang didasari oleh “iming-iming” surga atau takut akan neraka?! Wallahu a’lam.


 

[1]إِنِّي أُرِيتُ لَيْلَةَ الْقَدْرِ ثُمَّأُنْسِيتُهَا –أَوْ نُسِّيتُهَا – فَالْتَمِسُوهَا فِي الْعَشْرِ الْأَوَاخِرِ فِي الْوَتْر.

[2]عن ابن عمر رضي اللّه عنه، أن أناسا أروا ليلة الْقدر في السّبع الْأَواخر، وأنَّ أناسا أروا أنَها في العشر الأواخر، فقال النَّبيّ: الْتَمِسُوهَا فِي السَّبْعِ الْأَوَاخِر.

[3]وَإِذْ وَاعَدْنَا مُوسَى أَرْبَعِينَ لَيْلَةً ثُمَّ اتَّخَذْتُمُ الْعِجْلَ مِنْ بَعْدِهِ وَأَنْتُمْ ظَالِمُونَ

Ramadhan Diawali Rahmat. Dhaif!!!

9 September 2008 § 1 Comment


Salah satu hadis kondang di bulan Ramadan adalah, Awal bulan Ramadhan adalah rahmat, pertengahanya adalah ampunan, dan penghabisannya adalah pembebasan dari neraka.[1] Karena ada tiga keistimewaan tersebut, maka masing-masing menempati sepertiga dari bulan Ramadhan. “Rahmat” menempati sepuluh hari pertama, “ampunan” pada sepuluh hari kedua, dan “pembebasan dari neraka” pada sepuluh hari terakhir. Para “dai artis” kita kerap mengumandangkannya saat Ramadhan datang. Mereka adalah para penyeru dengan penampilan artifisial yang menawan, layaknya artis. Wajah yang rupawan dengan polesan make-up, “wardrobe” yang nyetil, retorika dan artikulasi yang menarik, serta pandai memainkan ekspresi wajah. Singkatnya, sebagai penyeru, dari sisi penampilan dan gaya, mereka cukup menarik dan “mengundang”, sehingga memudahkan dalam penyampaian tema, termasuk peran mereka dalam menyampaikan hadis kondang di atas. Beberapa hari lalu, saya juga mendegar salah satu “dai artis” kita menyampaikan hadis di atas.

Tapi, tahukah Anda, sebenarnya hadis di atas tidak layak disampaikan. Hadis tersebut tidak dapat dipertanggung-jawabkan dari sisi akademis-ilmiyah, terutama dari sudut pandang ilmu hadis, lebih spesifik lagi dari ilmu takhrij hadis (sub-pembahasan ilmu hadis untuk menemukan sumber otentik suatu hadis, kemudian menentukan status kualitasnya).

Periwayat dan Sanad Hadis (Rangkaian Periwayat)

Hadis di atad diriwayatkan oleh al-‘Uqaili dalam kitab al-Dhu’afa, Ibnu ‘Adiy, al-Khatib al-Baghdadi dalam kitab Tarikh Baghdad, al-Dailami, dan Ibnu ‘Asakir. Sementara sanad hadis tersebut adalah: Sallam bin Sawwar, dari Maslamah bin al-Shalth, dari al-Zuhri, dari Abu Salamah, dari Abu Hurairah, dari Nabi Muhammad. Jika digambarkan dalam sekema, maka seperti ini:

Skema periwayat hadis dimaksud. Nama berwarna merah menunjukkan titik lemah hadis tersebut.

Kualitas Hadis

Dalam hasil penelitiannya, Imam Suyuthi menilai hadis di atas dha’if (lemah). Sedangkan menurut Syeikh Muhammad Nashiruddin al-Albani, ahli hadis masa kini, hadis itu munkar. Hadis munkar adalah hadis yang dalam sanadnya terdapat rawi (periwayat) yang pernah melakukan kesalahan fatal, pelupa, atau terbukti senagai seorang pelaku maksiat (fasiq). Hadis munkar merupakan bagian dari hadis dha’if, bahkan sangat lemah, sehingga sama sekali tidak dapat dijadikan pegangan atau dalil, sekali pun untuk beramal kebajikan (fadhailul a’mal). Sebagai hadis dha’if, ia menempati urutan ketiga setelah matruk (semi palsu) dan maudhu’ (palsu).

Titik lemah hadis di atas terletak pada dua orang periwayatnya, masing-masing adalah Sallam bin Sawwar dan Maslamah bin al-Shalth (pada skema, nama yang berwarna merah).

Menurut kritikus hadis Ibnu ‘Adiy (w. 365 H), Sallam bin Sawwar (lengkapnya Sallam bin Sulaiman bin Sawwar) masuk dalam kategori munkar al-hadis (dinilai munkar untuk meriwayatkan hadis). Sementara Imam Ibnu Hibban (w. 354) menyatakan, Sallam bin Sulaiman tidak bisa dijadikan hujjah (pegangan), kecuali apabila ada rawi lain yang meriwayatkan hadisnya.

Sedangkan Maslamah bin al-Shalt adalah matruk. Secara kebahasaan artinya “ditinggalkan”. Sedangkan dalam definisi ilmu hadis, matruk adalah hadis yang dalam sanadnya terdapat rawi yang dituduh sebagai pendusta.

Oleh sebab itu, sekali lagi, hadis di atas tidak dapat dijadikan dalil untuk persoalan apa pun, dan tidak layak pula disebut-sebut dan disampaikan dalam ceramah atau pengajian Ramadhan. Dan jika pun disampaikan, mesti disertai penjelasan tentang kedha’ifan hadis tersebut.

Maka, akan lebih mencerahkan, jika para dai artis kita, dengan segala penampilan artifisialnya yang serba menarik, lebih menambah bobot substansialnya dengan tidak mengesampingkan sisi akademis-ilmiah pada tema ceramah yang disampaikannya. Tidak hanya mengikuti logika televisi untuk performance, tapi juga melandasi tema ceramahnya dengan kedalaman logika akademis.

Tulisan ini disari-sadurkan dari buku Hadis-Hadis Palsu Seputar Ramadhan karya Prof. Dr. KH. Ali Mustafa Yaqub, Pengasuh Pesantren Luhur Ilmu Hadis Darus Sunnah Jakarta, Guru Besar Ilmu Hadis Institut Ilmu Alquran (IIQ) Jakarta, Imam Besar Masjid Istiqlal Jakarta.


[1] أول شهر رمضان رحمة وأوسطه مغفرة وأخره عتق من النار.

Tidak Ada Istilah “Tarawih”

7 September 2008 § 10 Comments


Tulisan tentang tarawih ini hanya menggunakan sudut pandang hadis, yang disarikan dari buku Hadis-Hadis Palsu Seputar Ramadhan karya Prof. Dr KH Ali Mustafa Yaqub alias Kyai Duladi, Imam Besar Masjid Istiqlal, Guru Besar Ilmu Hadis Institut Ilmu Alquran (IIQ), dan pengasuh Pesantren Luhur Ilmu Hadis Ciputat (semoga Allah selalu menjaganya)…

Tidak Ada Istilah “Tarawih”

Prof. Dr. KH Ali Mustafa Yaqub alias Kyai Duladi, penulis buku itu.

Kata “tarawih” adalah bentuk plural dari kata “tarwihah”, yang secara kebahasaan memiliki arti “ mengistirahatkan” atau “duduk istirahat”. Maka dari sudut bahasa, salat tarawih adalah salat yang banyak istirahatnya. Kemudian, tarawih dalam nomenklatur Islam digunakan untuk menyebut salat sunah malam hari yang yang dilakukan hanya pada bulan Ramadan.

Pada masa Rasul tidak ada istilah “salat tarawih”. Dalam hadis-hadisnya, Rasul tidak pernah menyebut kata itu. Dan kata yang digunakan adalah “qiyam ramadhan”. Tampaknya istilah “tarawih” muncul dari penuturan Aisyah, isteri Rasul. Seperti diriwayatkan oleh Imam Baihaqi, Aisyah mengatakan,

“Nabi salat malam empat rakaat, kemudian yatarawwahu (istirahat). Kemudian kembali salat. Panjang sekali salatnya.”

Dalil Tarawih 20 Rakaat Lemah

Di negeri kita, ada dua versi pelaksanaan salat tarawih, dua puluh rakaat dan delapan rakaat.

Rumusan dalil yang menjadi dasar pelaksanaan tarawih duapuluh rakaat adalah hadis riwayat Imam Thabarani dan Imam Khatib Al-Baghdadi. Riwayat itu,

Ibnu Abas bertutur, “Pada bulan Ramadan, Nabi Muhammad salat dua puluh rakaat dan witir.”

Hadis di atas, seperti yang dituturkan oleh Imam Ibnu Hajar Al-Haitami dalam karyanya Al-Fatawa al-Kubra al-Fiqhiyyah, lemah sekali. Titik lemah hadis ini adalah pada salah satu periwayatnya (dalam rangkaian sanad hadis ini) yang bernama Abu Syaibah Ibrahim bin Utsman.

Menurut Imam Bukhari, para ulama tidak mau berkomentar tentang Abu Syaibah. Imam Tirmidzi menilai hadis Abu Syaibah munkar. Sedangkan Imam Nasai menilai matruk. Bahkan Imam Syu’bah menilai Abu Syaibah sebagai pendusta. Dalam disipln ilmu hadis, komentar-komentar miring seperti di atas memberikan implikasi yang bersangkutan jika meriwayatkan hadis, maka status hadis itu menjadi tidak valid.

Maka, hadis riwayat Ibnu Abas di atas dapat dikategorikan sebagai hadis palsu atau minimal matruk (semi palsu), karena ada rawi pendusta (Abu Syaibah) dalam rangkaian sanadnya. Pada gilirannya, hadis di atas tidak dapat dijadikan dalil untuk salat tarawih dua puluh rakaat. Dengan kata lain, apabila kita salat tarawih dua puluh rakaat atas dasar dalil hadis di atas, maka kita telah malakukan kekeliruan.

Dalil Tarawih 8 Rakaat Juga Lemah

Hadis yang diindikasikan sebagai dalil salat tarawih delapan rakaat adalah hadis yang disebutkan dalam kitab Shahih IbnuHibban sebagai berikut,

Jabir bin Abdullah berkata, “Ubay bin Ka’ab datang menghadap Nabi lalu berkata, “Rasul, tadi malam (bulan Ramadan) aku melakukan sesuatu.” Kata Nabi, “Apa itu?” Ubay menjawab, “Para wanita di rumahku tidak ada yang bisa baca Alquran. Mereka memintaku menjadi imam salat. Kemudian kami salat delapan rakaat ditambah witir.” Rasul diam saja mendegar penuturan Ubay. Jabir menganggap Nabi memperkenankan apa yang telah dilakukan oleh Ubay.

Kualitas hadis ini sangat lemah, sebab dalam rangkaian sanadnya terdapat salah seorang periwayat yang bernama Isa bin Jariyah. Menurut para ahli kritik hadis papan atas, seperti Imam Nasai dan Imam Ibnu Main, hadis-hadis yang diriwayatkan oleh Isa bin Jariyah kualitasnya lemah. Imam Nasai menilai hadisnya matruk (palsu, karena diriwayatkan oleh pendusta). Hadis ini pun gugur sebagai dalil tarawih delapan rakaat.

Ada juga hadis lain tentang salat tarawih delapan rakaat, bahkan lebih kongkrit dari hadis di atas, yang diriwayatkan oleh Ja’far bin Humaid dari Jabir bin Abdullah,

“Nabi pernah mengimami kami salat pada satu malam Ramadan dengan delapan rakaat.”

Tapi sayang, hadis ini kualitasnya sama dengan hadis di atas, sebab hadis ini juga diriwayatkan oleh Isa bin Jariyah yang hadisnya dinilai matruk .

Dengan demikian, dalil salat tarawih delapan rakaat tidak memiliki sandaran nash yang kuat.

Hadis Shahih Ini Bukan Dalil Salat Tarawih

Hadis Imam Bukhari dan lain-lain yang diriwayatkan oleh Aisyah di bawah ini kerap dijadikan dalil oleh sebagian kalangan yang menganut tarawih delapan rakaat,

Rasul tidak pernah salat lebih dari sebelas rakaat, baik pada bulan Ramadan atau selainnya. Beliau salat empat rakaat. Tak perlu ditanyakan lagi, betapa bagus dan panjang salatnya itu. Setelah salam, ia kembali salat empat rakaat. Setelah itu, ia mengakhiri dengan salat tiga rakaat. Aisyah bertanya, “Rasul, apakah Engkau tidur sebelum melaksanakan salat witir?” Jawab Rasul, “Aisyah, matakau boleh tidur. Tapi tidak dengan hatiku.”

Benarkan hadis itu merupakan dalil salat tarawih delapan rakaat?

Pada hadis tersebut, Aisyah dengan gamblang menyatakan, Nabi tidak pernah salat lebih dari sebelas rakaat, baik pada bulan Ramadan maupun selainnya, alias sepanjang tahun. Salat yang dilakukan setiap malam sepanjang tahun, tentunya bukan salat tarawih. Sebab salat tarawih hanya dilaksanakan pada malam bulan Ramadan.

Oleh karen itu, para ulama berpendapat, hadis Aisyah di atas berbicara tentang salat witir, bukan salat tarawih. Para ulama umumnya juga menempatkan hadis itu pada bab salat witir atau salat malam, bukan pada bab salat tarawih, seperti Al-Qadhi ‘Iyadh dan Imam Nawawi. Imam Ibnu Hajar juga menempatkan hadis di atas dalam konteks salat witir.

Hadis yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari, Muslim dan Abu Dauwd dari Aisyah di bawah ini bisa menjadi peneguh pendapat di atas,

Rasulullah salat malam tiga belas rakaat, terdiri dari salat witir dan dua rakaat fajar.

Tarawih Tidak Berorientasi Angka

Justeru, hadis shahih tentang salat tarawih atau “qiyam Ramadan” tidak memberikan batasan jumlah rakaat yang pasti, tidak berorientasi sedikit atau banyaknya jumlah rakaat salat. Hadis tersebut diriwayatkan oleh Imam Bukhari, yaitu,

“Siapa yang menjalankan “qiyam Ramadan” karena iman kepada Allah dan mengharap pahala kepada-Nya, maka dosa-dosanya yang telah lalu akan terampuni.”

Pada hadis itu, Nabi sama sekali tidak menyinggung bilangan rakaat salat apalagi membatasinya. Kuantitas bukan orientasi utama dalam salat tarawih, tapi yang mesti diutamakan adalah kualitas. Jadi, mau salat tarawih empat rakaat silakan, enam rakaat monggo, delapan rakaat tidak mengapa, dua puluh rakaat mbonten nopo-nopo, atau bahkan lima puluh, seratus dan seterusnya, dengan catatan tetap menjaga kualitas; ikhlas, khusu’, baik, dan sebagainya. Wallahu a’lam.


عن ابن عباس قال، كان النبي صلى الله عليه وسلم يصلي في رمضان عشرين ركعة والوتر.

عن جابر بن عبد الله، قال: جاء أبي بن كعب إلى النبي صلى الله عليه وسلم فقال: يا رسول الله، إنه كان مني الليلة شيء – يعني في رمضان. قال: وما ذاك يا أبي؟ قال: نسوة في داري قلن إنا لا نقرأ القرأن، فنصلي بصلاتك. قال: قصليت بهن ثماني ركعات ثم أوترت. قال: فكان شبيه الرضا ولم يقل شيئا.

صلى بنا رسول الله صلى الله عليه وسلم ليلة في رمضان ثماني ركعات والوتر.

ما كان رسول الله صلى الله يزيد في رمضان ولا في غيره علىإحدى عشرة ركعة. يصلي أربعا فلا تسأل عن حسنهن وطولهن ثم يصلي أربعا فلا تسأل عن حسنهن وطولهن ثم يصلي ثلاثا. قالت عائشة رضي الله عنها، فقلت: يا رسول الله، أتنام قبل أن توتر؟ قال: يا عائشة، إن عيني تنامان ولا ينام قلبي.

كان رسول الله صلى الله عليه وسلم يصلي من الليل ثلاث عشرة ركعة، منها الوتر وركعتا الفجر.

من قام رمضان إيمانا واحتسابا غفر له ما تقدم من ذنبه.

Fragmen Hamba Tak Berkualitas

7 September 2008 § Leave a comment


Keluar dari pesantren, semakin lama sepertinya saya semakin jauh saja dari masjid/mushalla (dalam arti yang sebenarnya), dan hal-hal yang berkaitan dengannya. Saat di pesantren, kehidupan seperti dekat dan melekat dengan masjid. Keluar dari pesantren dan menghuni rumah kost, lebih dari setahun pertama, otomomatis kedekatan itu merenggang, meski masih beruntung, hanya dibutuhkan beberapa langkah saja untuk ke mushalla. Jamaah untuk salat-salat tertentu masih menjadi hal mudah. Kini, setahun selanjutnya, di kost yang berbeda, mushalla benar-benar jauh. Butuh beberapa ratus langkah untuk menuju ke sana. Sudah beberapa bulan ini, ibarat kate, dari lima waktu salat, enam di antaranya tidak jamaah. Salat jamaah menjadi hal sangat istimewa bagi saya saat ini, apalagi di “masjid”. Gusti, Gusti! Semaputlah aku, jika arti “pemuda yang hatinya selalu terpaut dengan masjid” adalah orang-orang yang rajin salat di masjid. Sebab, saat ini saya hampir tak pernah melakukannya, kecuali untuk salat jumat.

Maka, pada Ramadan pertama, ketika orang-orang ramai berduyun ke masjid dan mushalla untuk melaksanakan tarawih, jasad ini hanya terpaku di kost. Di antara sayup-sayup lantunan Alquran imam salat di mushalla nun jauh di sana, saya hanya bisa mengasihani diri sendiri, sambil nonton race GP dan pertandingan Serie A Liga Italia antara Milan dan Bologna, di Trans7.

Ya, sudah. Tak apa. Nanti bisa tarawih sendiri. Dilihat dari kalkulasi pahala, jelas saya telah kehilangan beberapa di antaranya. Pahala melangkah ke “rumah Allah”. Pahala salat jamaah. Pahala menahan kegondokan nafsu. Inilah salah satu “kegondokan” salat tarawih di masjid; tidak bisa mengatur sendiri bilangan rakaat sesuai kehendak hati. Jika mushalla tersebut penganut tarawih duapuluh rakaat plus witir tiga rakaat, ya sudah ikuti saja jumlah itu. Jika delapan rakaat plus tiga, ya sudah ikuti saja jumlah yang ada. Nah, bukankah dihitung “uang lelah”, jika kegondokan nafsu yang menginginkan salat seringkas dan secepatnya terpatahkan oleh aturan mushalla yang menerapkan bilangan rakaat yang baku. Al-ajru bi qadr al-ta’ab. Besar kecilnya pahala dihitung dari tingkat “kelelahan” yang terjadi atau yang dirasakan, lahir dan batin.

Anda boleh mengkalkulasikan pahala untuk kasus ini; Anda berangkat ke masjid untuk salat tarawih dengan kelelahan dan konflik lahir batin yang hebat. Ngantuk dan kemalasan luar biasa menyerang akibat terlalu banyak makanan yang disantap saat berbuka. Adalah anugerah besar jika pada kondisi seperti itu Anda tetap masih bisa melangkahkan kaki menuju masjid cukup jauh yang menganut tarawih duapuluh rakaat plus witir tiga rakaat, mengalahkan kengantukan dan kemalasan diri.

Tapi, ritual individual semacam salat atau puasa Ramadan, jika dilaksanakan secara massal, memang membangkitkan spirit dan memberikan kondisi tersendiri. Hampir selalu bisa mengikuti jumlah rakaat yang ditentukan. Jika “jiwa malas” ini ingin berhenti pada rakaat keenam salat tarawih, seluruh jamaah seperti mengatakan kepada saya, “Ayo teruskan salatnya. Jangan berhenti.”

Jika salat tarawih di mushalla yang menganut sebelas rakaat termasuk witir, di akhir salat, di dalam hati saya bilang; “Cukup” atau “alhamdulillah!” menunjukkan syukur, maka untuk yang duapuluh tiga rakaat, saya akan bilang, “cukup! Cukup!” atau “akhirnya!” menandakan kelegaan. Lalu kita pun mengira-ngira, pada salat tarawih yang dilaksanakan dua kali (seperti di Masjid Istiqlal atau Masjid UIN Jakarta), kenapa para jamaah pada berbubaran pada rakaat ke sebelas (delapan rakaat tarawih plus tiga rakaat witir), dan hanya menyisakan satu shaf saja yang bersedia tuntas sampai rakaat keduapuluh tiga? Beberapa kemungkinan bisa dikemukakan. Mungkin mereka yang bubar pada rakaat kesebelas adalah orang-orang Muhammadiyah, karena rumusan argumentasinya memang demikian, dan sisanya adalah orang NU. Atau orang-orang NU yang kebetulan ada keperluan mendesak pada rakaat itu, atau mungkin kentut, atau mungkin merasa terlalu banyak untuk meyelesaikan duapuluh tiga rakaat. Atau probabilitas masuk akal lainya.

Tapi, apa pun, dilihat dari kuantitas, salat tarawih berjamaah sebelas atau duapuluh tiga rakaat, adalah kondisi paling baik yang dipancarkan oleh salat jamaah, ketimbang salat tarawih sendirian, bagi saya. Sebab, tiap kali salat tarawih sendirian, seperti yang sudah-sudah, rakaat terbanyak adalah sembilan (delapan rakaat tarawih ditambah cukup satu witir). Rakaat favorit ya tujuh (enam rakaat tarawih plus satu witir). Meski pernah juga tarawih cuma empat rakaat. Batas jumlah rakaat salat tarawih sendirian adalah “kecenderungan”. Jika pada rakaat keenam saya merasa harus berhenti, saya sudahi salat itu. Bahkan jika pada rakaat keempat saya mesti sudahi, ya saya berhenti. Jika seperti ada kemudahan untuk menyentuh rakaat delapan, ya saya lakukan. Betapa sulitnya tarawih dua puluh rakaat jika salat sendirian. Saya mengikuti “fatwa hati”. Iftati qalbak. Mintalah fatwa pada hatimu. Jika hati bilang sudah, ya sudah. Jika bilang teruskan, ya dilanjut salatnya. Seperti tidak ada yang mengingatkan, tidak ada dorongan luar agar meneruskan salat pada rakaat selanjutnya.

Tapi untung saja, tidak ada aturan normatif yang valid soal jumlah rakaat tertentu untuk salat tarawih. Kanjeng Nabi tidak menekankan orientasi kuantitas angka dalam salat tarawih (pada masa Nabi tidak ada istilah “tarawih”, tapi yang ada adalah “qiyam ramadan”). Tapi yang menjadi perhatian adalah kualitas salat itu. Meski saya tak hendak mengatakan bahwa salat saya telah berkualitas. Tapi, paling tidak, berapapun rakaat salat tarawih yang saya kerjakan, tidak salah menurut aturan normatifnya, sebab ia memang tidak mengatur atau memberikan batasan tertentu. Dan jika saya melaksanakan salat tarawih dalam bilangan rakaat yang minimalis, tidak lantas menjadikan aturan normatif itu sebagai pembenar. Atau ketiadaan aturan normtif yang valid soal jumlah rakaat salat tarawih menjadi argumentasi pembenar salat tarawih saya yang minimalis. Tidak demikian. Itu hanya soal pilihan berdasarkan kecenderungan hati.

Duh, Gusti! Maafkan hamba-Mu yang tak berkualitas ini. Yang beragama masih pada ranah kognitif, masih sebatas “pengetahuan”, masih berorientasi kalkulasi pahala (jika pun berhak atas pahala, maka yang proporsional ya pahala minimalis) belum menyentuh aspek afektif, penghayatan sebagai hamba dan kesadaran akan kebijaksanaan-Mu.

Allahumma a’inni ‘alaa dzikrika wa syukrika wa husni ‘ibadatika.

Oleh karena itu, mohon kerja samanya, agar aku selalu eling kepada-Mu, bisa mengapresiasi kebijaksanaan-Mu, dan menjalin harmoni yang berkualitas dengan-Mu. Amin.

Baca tulisan terkait di link ini:

Where Am I?

You are currently browsing entries tagged with puasa at Warung Nalar.

%d bloggers like this: