Aku dan Kekasihku

13 January 2010 § Leave a comment


Aku dan Kekasihku berjalan di bawah purnama yang satu.
Ia menatap pesona yang mengawang di puncak sempurna.
Matanya berbinar seterang langit malam.
Setiap pejam di kejap matanya adalah rindu.

Aku dan Kekasihku berjalan di bawah purnama yang satu.
Kungenggam tangannya seerat kelam menggenggam malam.
Mataku memindai jalan dan mensyukuri terang penunjuk langkah.
Setiap ayunan di langkah kakiku adalah puji.

Aku dan Kekasihku berjalan di bawah purnama yang satu,
di antara penghayatan, ditautkan genggaman tangan.

Kemang, 12 Januari 2010

Setiap Pertemuan

13 January 2010 § Leave a comment


Setiap pertemuan hanya seusia kejapan senja.
Selebihnya adalah rindu yang diam,
membeku dalam kelam di pelataran malam.

Setiap pertemuan hanya seusia kejapan senja.
Selebihnya adalah rindu yang riang,
mengembang oleh terang di sepanjang siang.

Kemang, 30 Desember 2009

Masa Lalu, Masa Kini, dan Masa Depan

13 January 2010 § Leave a comment


Di bawah langit, Masa Lalu, Masa Kini, dan Masa Depan berkumpul dalam satu meja, menikmati hidangan yang tersedia seraya berbincang-bincang tentang kehidupan yang menapaki masing-masing.

Masa Lalu tampak bersemangat. Ia menceritakan pelbagai peristiwa penting dan sosok-sosok besar yang tercatat dalam sejarah. Membanggakan pencapaian-pencapaian mereka, kemegahan istana-istana mereka, kegagahan mereka dalam pertempuran, serta bermacam kenikmatan hidup yang menaungi mereka.

“Aku,” kata si Masa Lalu, “jadi tak terlalu puas ada pada masa kini, masa sekarang ini. Aku merasa lebih baik kembali pada masaku saja.”

Masa Depan tampak menggerakan kepala sampai kemudian menengadah. Di antara mata dan langit yang ia tatap hanya ada kekosongan. Sesekali saja awan tipis melintas terlihat malas, dan angin yang berembus tanpa wujud.

“Aku melihat kemuliaan, kekayaan, dan keberhasilan sedang berjalan dengan pasti menujuku,” kata si Masa Depan.

Katanya, lagi, “Aku melihat mimpi-mimpi yang akan menjelma nyata. Kehidupan yang makmur dan mudah sedang melangkah ke arahku.”

Masa Kini segera menyela begitu Masa Depan terlihat usai berbicara. Nada bicaranya terdengar mantap.

“Aku takkan menangisi masa yang telah berlalu. Juga takkan pernah menghabiskan setiap jengkal waktu sekadar untuk bermimpi …

“Kejayaan yang pernah ada pada masa lalu selesai sudah. Dan, kemakmuran yang diharapkan belum pula nyata.

“Ada pun hari ini adalah miliku. Nyata dalam genggaman tanganku. Siapa yang mampu menggenggam dan mengendalikan hari ini, masa sekarang kini, ia berarti telah mampu melewati masa yang telah berlalu. Juga, pada hakikatnya sedang mengarahkan diri ke masa depan.

“Rahasia keberhasilan adalah saat jantungmu tak berdetak sia-sia pada setiap jengkal detik waktu masa kini.”

Semua terdiam. Awan tipis lain tampak melintas. Masih malas. Angin lain juga berembus. Masih tanpa wujud.[]

Dari tulisan lima paragraf versi berbahasa Arab di halaman 137 berjudul al-Madhi wa al-Hadhir, wa al-Mustaqbal dalam buku Kalimat Tun’isyu al-Hayah karya El Azraq. Diterjemahkan–dengan sedikit penambahan suasana–oleh Juman Rofarif.

Aku Bagimu (I)

13 January 2010 § 1 Comment


aku bagimu seumpama jarum penunjuk detik bagi jarum penunjuk jam.
kadangkala lancang berlari kencang menjauhimu.
kadangkala di belakang tertatih-tatih mendekatimu.
dan, pada sesekali yang sebentar segaris menunggal denganmu.

aku bagimu seperti yang engkau tahu:
tak pernah melepas diri dalam liputan waktumu.

ciputat, 19.12.09

Keparat

14 August 2009 § Leave a comment


Taat
dan bejat
demikian dekat,
merekat tak bersekat.
Dada ke atas shalat, tanpa hasrat,
entah di mana itu kiblat. Perut ke bawah nikmat
bermaksiat mengolah syahwat, masa bodoh itu laknat.
Dan, semua tamat, hanya jika bulan dan matahari sepakat merapat.

Puisi Dan Catur

24 January 2009 § 2 Comments


Puisi, kata Goenawan Mohamad, dalam dirinyalah keterbatasan dirundung janji. Dan janji itu adalah tentang sebuah makna. Dalam janji, sebuah makna tak pernah diketahui pasti.

Permainan catur adalah rangkaian puisi. Dalam puisi ada keniscayaan keterikatan “rima” dan “irama”. “Irama” menuntut gerakan yang teratur. Begitu juga dengan permainan catur. Pergerakan pion di atas papan catur adalah garakan teratur, langkah pasti, namun menjanjikan strategi mematikan yang hanya diketahui pasti oleh sang pemain, untuk menundukkan lawan main. Kenapa harus strategi yang tersembunyi? Sebab, jika terus terang, lawan dengan mudah akan mengelak, dan mungkin akan menundukkan balik sang pemain. Strategi permainan catur adalah strategi puisi: yang tampak tak bisa dibaca sebagaimana adanya. Pemain hanya bisa mengira-ngira dan “menafsiri” – dengan kemungkinan terkecoh – maksud langkah-langkah pion yang digerakkan lawan mainnya, sebagimana puisi – juga Kitab Suci – di mana pembaca selamanya hanya bisa “menafsiri” rangkaian kata yang dimaksud oleh penulis puisi, dengan kemungkinan tak pernah sampai pada maksud yang sejati.

Satu kekuatan puisi: ia mampu menyampaikan apa yang tak bisa diutarakan secara terus terang. Dalam permainan catur, kepada lawan, kita bisa katakan: “aku akan mengalahkanmu”, tapi strategi bagaimana “aku akan mengalahkanmu” selamanya adalah sebuah janji yang rumit diketahui pasti oleh lawan.

Puisi dan catur sama-sama menyembunyikan janji: janji puisi tentang sebuah makna, janji catur tentang strategi. Di sinilah puisi dan permainan catur terikat dalam benang merah.[jr]

Where Am I?

You are currently browsing entries tagged with prosa at Warung Nalar.

%d bloggers like this: