Kiai Duladi & Hal-Hal Tak Terduga

28 July 2008 § 2 Comments


Sepulang ngelmu dari Universitas King Saud, Saudi Arabia, tahun 1985, Kiai Duladi, selain membawa “oleh-oleh” gelar master, juga memiliki angan-angan, dirinya akan terjun ke suatu pulau terpelosok atau daerah terpencil, membangun rumah di sana, mengajarkan ilmu-ilmu agama, dan di saat tidak sedang mengajar, waktunya dihabiskan dengan bercocok tanam, berdagang, atau “profesi kampung” lainnya. Angan-angan yang terdengar “aneh”, setidaknya jika diperdengarkan saat ini. Bukankah dengan gengsi “master”nya, dari luar negeri pula, bisa saja ia mendapatkan pekerjaan yang layak atau setidaknya meramaikan wacana intelektual tingkat nasional dengan keilmuan yang dimilikinya. Tapi tidak. Pilihan “kiai kampung” rasanya lebih menarik baginya.

Kyai Duladi saat memberikan sambutan pada Wisuda Pesantren Darus Sunnah 2006

Pada awalnya, saat ini, dan mungkin pada akhirnya, Kiai Duladi tetap seorang “santri” yang terbenam dalam dirinya “nilai-nilai utama pesantren”, begitu Gus Dur menyebutnya (Abdurrahman Wahid, Menggerakan Tradisi, 2007). Nilai-nilai utama pesantren tersebut terlampau kuat mengakar dalam dirinya. Sepuluh tahun di pesantren Tebuireng (tiga tahun pertama di Pesantren Seblak, yang lokasinya hanya beberapa ratus meter dari Tebuireng), di bawah asuhan para kiai sepuh (yang semuanya telah almarhum), semisal KH Idris Kamali, KH Adlan Ali, KH Shobari, dan KH Syansuri Badawi, barangkali sejak saat itulah akar nilai-nilai itu menjalar dalam jiwanya.

Sebagaimana pernah ditulis Gus Dur, setidaknya ada tiga nilai-nilai utama pesantren. Pertama, cara memandang kehidupan secara keseluruhan sebagai ibadah. Semenjak pertama kali memasuki pesantren, seorang santri sudah diperkenalkan pada dunia tersendiri, di mana peribadatan menempati kedudukan tertinggi.

Kedua, dari sudut perlakuan pada kehidupan sebagai ibadah inilah baru dapat dimengerti bagaimana kecintaan pada ilmu-ilmu pengetahuan agama dapat tertanam begitu kuat di pesantren. Ilmu-ilmu agama, sebagaimana dimengerti di lingkungan pesantren, merupakan landasan yang membenarkan pandangan beribadah di atas. Sebaliknya, dengan landasan pandangan beribadah inilah, supremasi ilmu-ilmu agama secara mutlak ditegakkan. Jalan untuk mengerjakan ibadah secara sempurna, menurut pandangan ini adalah melalui suatu upaya menuntut ilmu-ilmu agama secara tidak berkeputusan, dan kemudian menyebarkannya. Ilmu dan ibadah kemudian menjadi identik, dengan sendirinya muncul kecintaan yang mendalam pada ilmu-ilmu agama, sebagai nilai utama lainnya yang berkembang di pesantren. Kecintaan pada ilmu-ilmu agama, mampu membuat seorang kiai mengajar berjam-jam, meski hanya kepada beberapa gelintir santri, setiap hari. Ketiga, nilai-nilai utama pesantren lainnya adalah ketulusan.

Ketiga nilai-nilai di atas telah mengakar kuat dalam jiwa Kiai Duladi. Kendati, setelah dari Tebuireng, ia melanjutkan sembilan tahun menuntut ilmu di “negeri wahabi”, tak lantas nilai-nilai itu luntur, dan tak latah pula ia menjadi wahabi. Maka, begitu kembali ke tanah air, yang terangan dalam pikirannya adalah menjadi “kiai kampung”, menyebarkan ilmu-ilmu agama di pulau terpelosok atau daerah terpencil sebagai manifistesi kecintaannya terhadap ilmu-ilmu agama, dengan niat ibadah. Tak apa, berkiprah di pelosok jauh dari hiruk pikuk manusia, tak peduli dengan gengsi “master”nya, memanifestasikan ketulusan.

Dan jika kini Kiai Duladi telah mendirikan pesantren, mengajarkan ilmu-ilmu agama, tapi bukan di pulau terpelosok atau daerah terpencil, namun di Ciputat, oleh karenanya ia harus menetap di sana, adalah hal yang tak pernah ia duga sebelumnya dan bukan bagian dari “rencana besar” hidupnya. Yang barangkali ia duga dari dirinya adalah ia mencintai ilmu-ilmu agama dan menyebarkannya.

Bukan bagian dari “rencana besar”, pada mulanya pesantren itu adalah kombinasi seorang “guru” dan “murid” yang sama-sama mencintai ilmu-ilmu agama. Satu murid, sang guru menerimanya tanpa sungkan. Satu, dua murid, sang guru mengajarinya dengan ringan. Satu, dua, tiga, dua puluh sampai empat puluh murid, sang guru melayaninya tanpa beban, cuma rumahnya yang tak begitu luas jadi kewalahan menampung para murid yang antusias mengikuti pengajiannya, hingga mengharuskan dipindahkan ke masjid yang tak jauh di belakang rumahnya. Begitulah, sampai pada akhirnya, berdirilah (bangunan) pesantren, “Darus Sunnah” namanya, atas dasar semangat dan komitmen mencintai ilmu-ilmu agama dan menyebarkannya.

Pesantrennya lumayan mungil, dan tentu santrinya sedikit, meski yang berhasrat lumayan banyak. Oleh karenanya, setiap tahun ajaran baru, kurang lebih hanya menerima dua puluh santri, sekaligus meluluskan kurang lebih (juga) dua puluh santrinya. Biarlah keadaannya seperti ini. Alasan lain, Kiai Duladi kerap mengatakan, lebih baik punya beberapa mobil tapi semuanya berfungsi, bisa memberikan manfaat, ketimbang punya banyak mobil, tapi yang mogok juga tak kalah banyaknya, hanya bikin repot. Artinya dengan sedikit santri akan lebih mudah mengontrol satu per satu santrinya, termasuk perkembangan intelektualnya. Dengan sedikit santri, akan mudah baginya mendeteksi siapa di antara santrinya yang perlu lebih banyak disuruh “baca” dan “ditanya”. Ada relasi batin yang dekat kiai-santri pada kondisi semacam ini.

Meskipun selalu ada saja percikan “keluhan”; seandainya semua yang berhasrat masuk ke pesantrennya bisa diterima. Tapi, apa mau dikata, pesantrennya terlampau mungil dengan peminat terlampau besar.

Namun, selalu ada saja hal yang tak terduga pada diri Kiai Duladi. Sebagaimana menetap di Ciputat dan pengajian rumahannya berkembang menjadi pesantren, yang bukan bagian dari “rencana besar” hidupnya, dalam beberapa tahun ke depan, pesantrennya tak akan lagi mungil (tanah cukup luas telah dipersiapkan), sehingga memungkinkan menerima lebih banyak santri dan tentunya dengan segenap “konskuensi alamiah” dari berbagai sisi, mungkin juga bukan bagian dari “rencana besar” hidupnya (kelak, jika santrinya banyak, barangkali Kiai Duladi tak akan lagi beranalogi santri dan mobil, atau akan sulit mendeteksi satu per satu santrinya. Ah, siapa duga, selalu ada hal yang tak terduga).

Pola hidupnya seperti tidak berjalan berdasarkan obsesi atau rencana besar, tapi hanya mengolah sedemikan rupa “pemberian Tuhan” yang ada dalam genggamannya, yang semakin lama semakin berkembang dan terus berkembang. Mungkin tidak ia duga sebelumnya.

Salam maaf dan hormat saya untuk Njenengan, Prof. Dr. KH Ali Mustafa Yaqub…

Asketisme Alamiah Pesantren Dusun

25 July 2008 § 2 Comments


Beberapa tempo lalu, saya berkunjung ke sebuah pesantren di Banten, atas ajakan seorang kawan yang tak lain adalah mantu kyai pemilik pesantren tersebut. Dari Jakarta (Ciputat), kurang lebih empat jam perjalanan mesti ditempuh, meski sebenarnya bisa lebih singkat jika menggunakan sepeda motor. Namun atas beberapa pertimbangan, diputuskan untuk menggunakan kendaraan umum. Ya, itung-itung sekalian menyaksikan ragam manusia dan fenomena kemanusiaan yang bisa dijumpai, terutama di kereta api. Siapa tahu ada hikmah kebijaksanaan tercecer yang dibisa dipulung dari ragam dan fenomena itu. Bukankah “hikmah” adalah “barang hilang” seorang beriman, di mana pun dan pada apa pun ia terlihat, petiklah?!

Soal pesantren, ingatan saya merujuk ke almamater, Pesantren Tebuireng Jombang. Sebagai pesantren besar (secara kuantitas) dan berada di lokasi yang sangat mudah berakses ke tempat-tempat pelayanan publik, mudah dipahami jika pesantren ini, secara infrastruktur, bagai penjara, dalam arti dikelilingi tembok tinggi, dan memberlakukan aturan ketat, sebagai istrumen untuk menekankan asketisme yang menjadi kultur khas dunia pesantren, yang kontras dengan dunia di luarnya.

Maka, bagi sebagian santri, adalah anugerah agung jika bisa menyelip dari tembok besar dan menikmati dunia luar, menyairkan saturasi akibat tekanan pola hidup asketisme, apalagi pada jam-jam di mana aturan-aturan “dilarang keluar” berlaku, seolah ada kenikmatan tersendiri. Dinamika pesantren yang bagai “penjara” tersebut, dengan sangat dibatasinya mengakses segala sesuatu yang bukan bagian dari pola hidup asketis, menjadikan hal itu teristimewa, sehingga menggoda untuk dicari kemudian dinikmati.

Adalah suatu kenikmatan tersendiri, bisa nongkrong di warung-warung yang tersebar di sekeliling pesantren, sekedar mencari “waktu dan tempat” yang tepat untuk bisa merokok, sekedar minum kopi, nonton tv atau mencari (mencuri) waktu untuk melepaskan diri dari basa basi lainnya yang jarang bisa dilakukan di lingkunan dalam pesantren. Atau, yang sedikit ekstrim, “kluyuran” malam di daerah kota, mencari tempat penyewaan “home theater”, nonton seharian, dan sebagainya. Sungguh, “aktifitas sampingan” semacam itu terasa istimewa dilakukan dan menggoda, meski dengan segenap resiko.

Budaya asketisme yang mengharuskan tidak melekat pada “kelezatan duniawi”, yang diagungkan pesantren sekaligus sebagai ciri khasnya, mesti dipertahankan dan ditanamkan kepada setiap santri, sedangkan dunia di luarnya terus berkembang dengan alur dan aturannya sendiri tanpa kompromi. Dalam keadaan demikian, “kesadaran moral” seorang “santri remaja” yang masih labil dan rentan dari godaan dunia di luar pesantren, tidak bisa diandalkan. Maka, tembok tinggi tebal yang mengelilingi pesantren, dan dengan segala aturan di dalamnya, adalah sekat pekat yang mengawal praktik pola hidup asketisme tersebut, dari pengaruh pola hidup yang kontras di luarnya.

“Penembokan” semacam itu lazim di pesantren besar, dus berada di lokasi (kota) yang secara geografis mudah diakses (atau mengakses) sarana publik (yang kerap menjadi godaan budaya asketisme). Penekanan budaya asketisme yang membuat jenuh pada satu sisi, dan perkembangan “dunia luar” yang menggoda pada sisi yang lain, kerap menimbulkan pelanggaran-pelanggaran terhadap aturan pesantren dari santri yang jenuh dengan budaya itu (katakan saja; mereka hanya butuh penyegaran atas kejenuhan).

Di pesantren kecil (kuantitas santri sedikit), tentu mudah saja untuk mengidentifikasi satu per satu santrinya. Sehingga para santri mesti berpikir matang untuk “menyairkan kejenuhan” di luar pesantren.

Dan pesantren yang terletak di dusun, dengan akses transportasi yang cukup “menekankan kesabaran”, sehingga meyulitkan akses ke sarana-sarana pelayan publik yang memungkinkan santri bisa meyairkan kejenuhannya (atau, karena letaknya yang di dusun, sehingga sedikit sekali tersentuh “budaya” terbaru. Saya yakin di sekeliling pesantren semacam ini, tidak ada rental PS), barangkali tak (belum) memerlukan tembok tinggi mengelilingi area pesantren, untuk mengawal praktik pola hidup asketisme, sebagaimana di pesantren besar di kota atau pinggiran kota.

Dengan kata lain, pola hidup asketisme di pesantren dusun lebih berjalan alamiah, tidak memerlukan penekanan aturan-aturan ketat yang menjenuhkan. Pesantren dusun yang mayoritas santrinya berasal dari warga sekitar, dusun sekitar, kecamatan sekitar, atau kabupaten sekitar, dan satu, dua tiga santri yang berasal dari luar daerah, yang memiliki kultur kesahajaan relatif sama, bisa menjadi faktor. Artinya, pesantren tidak merasa perlu memberlakukan instrumen aturan pola hidup asketisme yang ketat, toh mereka telah terbiasa dengan pola semacam itu di lingkungannya masing-masing. Tidak merasa perlu memberlakukan aturan, misalnya, santri dilarang membawa HP. Tanpa ada aturan itu pun, mereka tidak akan membawanya. Kesahajaan hidup mereka bisa diandalkan. Atau pemberlakukan aturan “tutup gerbang” atau “jam malam”, untuk mengantisipasi santri yang “kluyuran”. Tanpa memberlakukan aturan semacam itu pun, tidak akan ada santri yang berhasrat melakukannya. Sebab, hendak kemana dan ngapain mereka. Toh, tidak ada tempat menarik di luar sana, apalagi menggoda. Yang ada hanya kegelapan malam. Pada akhirnya, pesantren dusun tak memerlukan tembok tinggi tebal mengelilingi pesantren.

Berkunjung ke sebuah pesantren di Banten milik kyai mertua dari seorang kawan, seperti itulah yang saya lihat. Terbayang dalam pikiran saya, barangkali Tebuireng pada usia mudanya, belum berkeliling tembok seperti saat ini, karena “dunia luarnya” belum begitu menggoda, sebagaimana pesantren milik kyai tadi, kini. Mungkin saja, jika pesantren milik kyai itu telah tua kelak, setua Tebuireng saat ini (Tebuireng berdiri tahun 1899), akan juga dibangun tembok di sekelingnya, sebagaimana Tebuireng, kini. Sebab, barangkali dusun itu kelak akan ramai, seiring dengan perkembangan budaya yang kian menggoda, sementara budaya asketisme dunia pesantren mesti dipertahankan.

Where Am I?

You are currently browsing entries tagged with pondok at Warung Nalar.

%d bloggers like this: