Hukum Musik

28 January 2009 § 3 Comments


Dalam hadis riwayat Imam Bukhari dikisahkan, pada suatu hari lebaran (entah Idul Fitri atau Idul Adha), Aisyah mendendangkan lagu-lagu dan mungkin dengan tetabuhan seadanya. Rasulullah mendampingi. Abu Bakar kemudian datang. Ia rupanya tak berkenan Aisyah bernyanyi. Tak pasti kenapa. Mungkin karena Abu Bakar termasuk orang yang tak memiliki selera dengan tembang-tembang dan tetabuhan. “Bunyi-bunyian setan di sini?!” katanya, unjuk rasa tidak sukanya. Ia mengatakan itu dua kali. Atau mungkin karena Abu Bakar melihat ada Rasulullah di situ sehingga dianggap tak sopan jika Aisyah asyik bernyanyi. Tapi, justru…

“Biarkan saja, Abu Bakar. Setiap kaum memiliki hari raya. Dan saat ini adalah hari raya kita,” kata Rasul.

Pun tak terang pasti, kenapa Rasul melarang Abu Bakar untuk melarang Aisyah dan dua kawannya mendendangkan tembang-tembang dan memainkan tetabuhan. Mungkin hanya soal momentum, karena hari itu adalah saat lebaran saat kegembiraan layak diekspresikan dan dirayakan. Atau, sejatinya lagu-lagu dan tetabuhan adalah sesuatu yang tak bisa dihukum. Namun, yang jelas, Aisyah menyuakinya.

Di antara orang yang menyukai dan dapat menikmati tembang-tembang dan musik adalah Imam al-Ghazali. Ia memiliki kesan tersendiri tentangnya. “Siapa yang tidak tergetar hatinya mendengar kemerduan musik dan keindahan pemandangan,” katanya, “maka dia telah mengidap penyakit yang sulit diobati.”

Tentu Imam al-Ghazali tak sepenuhnya adil soal pernyataannya itu, apalagi jika dihadapkan pada era ini, ketika penyanyi dan grup musik baru cepat bermunculan dengan beragam aliran, secepat mereka tenggelam untuk digantikan oleh pendatang yang lebih baru. Ketika keadaan demikian, apa yang disebutnya “tidak tergetar hatinya mendengar kemerduan musik” adalah bukan soal musik, tapi soal momentum hati untuk berinteraksi dengan musik.

Pada akhirnya, menikmati musik (tertentu) yang membuat hati bergetar atau bahkan membencinya sehingga pantas disebut “tetabuhan setan”, adalah soal rasa dan selera jiwa, tentang suasana hati, masalah mood. Musik, pada dirinya, ia tak memiliki hukum.

Advertisements

Dealova

23 April 2008 § 7 Comments


aku ingin menjadi mimpi indah…

dalam tidurmu.

aku ingin menjadi sesuatu

yang mungkin bisa kau rindu…

karena langkahku rapuh

tanpa dirimu…

karena hati telah letih.

aku ingin menjadi sesuatu

yang selalu bisa kau sentuh.

aku ingin kau tahu

bahwa kuselalu memujamu.

tanpamu sepinya waktu

merantai hati…

bayangmu seakan-akan…

kau seperti nyanyian dalam hatiku,

yang memanggil rinduku padamu…

seperti udara yang kuhela,

kau selalu ada…

hanya dirimu,

yang bisa membuatku tenang.

tanpa dirimu,

aku merasa diam dan sepi.

Bagi sebagian orang, barangkali barisan bait-bait puitis di atas sudah tak asing lagi. Ya, bait-bait indah itu merupakan single yang dipopulerkan Once, sang vokalis band Dewa, yang menjadi original sound trakc (OST) film Dealova. Bait-bait indah tersebut menjadi sebuah lagu yang betul-betul indah, sempurna, dan menyentuh, ketika terpadu dengan tarikan suara Once, diringi dengan alunan musik yang mellow, slow dan mendayu-dayu. Aura sentuhannya akan begitu terasa, jika Anda mendengarkan lagu itu dengan penuh perenungan, penghayatan, dan pastinya jika Anda adalah orang yang memiliki hati lembut dan sensitif, walaupun tanpa harus memiliki sense of music yang peka. Dengan begitu, Anda akan terbawa pada kondisi tertentu yang penuh makna. Entah kenapa, sudah belasan, puluhan atau mungkin dalam hitungan tak terhingga, lagu-lagu mellow, slow dan mendayu-dayu yang aku dengarkan dan aku nikmati, sampai pada lagu yang didaulat sebagai lagu reliji penuh pesan moral dan ketuhanan, namun hanya lagu Dealova itu yang bisa mencuri perhatian lebih dariku, bukan hanya telinga, tapi juga jiwa dan pikiran.

Dalam beberapa waktu, lagu itu aku putar berulang-ulang, berkali-kali di pc, menemaniku saat menulis, mengerjakan makalah, main game, menjadi pengantar tidur atau sengaja ingin menikmati dan menghayati lirik-liriknya. Tulisan ini pun aku ketik dengan iringannya. Lagu itu mampu menjadi inspirasi, oleh karenanya ia mendapat apresiasi lebih.

Bagiku, sungguh, lagu itu begitu menyentuh. Ia telah merasuki otak dan meresap ke dalam kalbu, hingga memutar kembali memori, untuk mengenang masa lalu bersama orang-orang terdekat, yang cintanya telah menancap terpatri begitu dalam di hati, namun mereka tak lagi di sisi, dan atau menjadi lagu latar dalam lika-liku kehidupan (cinta) saat ini.

Lagu Once, yang diciptakan Opick, dan ia lantunkan bersama Victorian Philharmonic Orchestra, itu seolah-olah telah mempertemukanku dengan orang-orang terdekat dan tercinta yang telah lama tiada atau sekedar berpindah tempat, serta semakin menjadikan intim dan bergerlora hubungan yang saat ini sedang terjalin.

Oleh sebab itu, aku sepakat dengan Once. Orang-orang yang pernah dekat dengan kita dan apalagi telah memiliki ikatan cinta, meski (telah) berpisah raga, namun, karena cinta ia selalu ada. Intuisi dan hati memahami benar masalah ini. Mereka “seperti udara yang kuhela, kau selalu ada…”.

Pada dasarnya, lagu memiliki sifat netral bi zatihi, apapun jenisnya. Respon jiwa kita yang menjadikannya bermakna. Dengan merengungi dan menyelami jiwa sebuah lagu tertentu, ia bisa menghantarkan jiwa manusia pada kondisi terdalam dan bermakna, serta mampu menggoyahkan sendi-sendi psikologi. Terus terang, lagu Once di atas pernah menghancurkan dinding mataku, karena tak kuasa menahan linangan air mata. Aku benar-benar tersentuh dan larut dalam syair indah penuh makna itu. Alunan syairnya membawaku pada kondisi spiritual yang intim, seolah-olah kedekatan Tuhan – yang disadari atau tidak, Ia memang dekat – begitu terasa. Memang, perasaan intim dengan Tuhan bisa dirasakan bukan hanya melalui ritual-ritual formal. Itulah hati. Aktifitasnya tak terlembagakan dalam bentuk simbol-simbol dan ritual, serta tak terbelenggu oleh dimensi ruang (apa pun, di mana pun)dan waktu (kapan pun). Hanya sebuah lagu pun bisa memantik hati menghayati perasaan itu.

Alangkah Anda akan merasa intim dengan Tuhan, jika bait ini, “hanya diri-Mu, yang bisa membuatku tenang, tanpa dirimu, aku merasa diam dan sepi…”, Anda sampaikan kepada-Nya (atau “nya”) dengan perenungan dan bahasa jiwa. Tersirat di sana, Anda telah berikrar untuk selalu ada untuk-Nya (nya), dan mengharap Ia (ia) menjadi bagian dari Anda.

Dari hati yang paling dalam mengaharaplah, “aku ingin menjadi sesuatu yang selalu bisa Kau sentuh.” Sebab, aktifitas kita tidak akan pernah terlaksana tanpa Dia memberikan “sentuhan”Nya.

Dengan bahasa kalbu, sampaikanlah pada Tuhan (cinta), “aku ingin Kau tahu bahwa kuselalu memuja-Mu”. Ada harapan tersyirat di baliknya, bahwa sedikitpun Anda tak ingin dicampakkan oleh-Nya (nya). Pujian Anda kepada-Nya (nya) pasti akan berbalas dengan perhatian-Nya (nya).

Pada akhir semua itu, kita pasti mengaharap Tuhan mengundang kita dengan kerinduan-Nya. “Aku ingin menjadi sesuatu yang mungkin bisa kau rindu. Uatarakanlah keingingan itu dengan hati penuh cinta. Sebab, hanya dengan mencintai Sang Tuhan (atau siapa pun), Anda akan selalu menjadi orang yang dirindukan-Nya sekaligus Anda menerindukan-Nya. Dengan Rindu-Nya, Ia akan mengundang dan mengajak siapa saja yang mencintai-Nya, masuk ke dalam rumah abadi.

Ahsana ma qala, tepat dan bagus sekali, ungkapan yang pernah disampaikan Imam Ghazali, “Siapa yang tidak tergetar hatinya mendengar kemerduan musik dan keindahan pemandangan, maka dia telah mengidap penyakit yang sulit diobati.” Dan hanya hati lembut dan sensitif semata yang mampu menangkap getaran itu. Lalu, hanya jiwa yang peka saja yang menjadikan getaran tersebut bermakna.

Where Am I?

You are currently browsing entries tagged with musik at Warung Nalar.

%d bloggers like this: