Vaksin Measle-Rubella Menurut Kaidah Fikhiyyah, Ushul Fikih, Akidah, dan Tasawuf

13 September 2018 § Leave a comment


MUI mengharamkan vaksin Measle-Rubella (MR), tapi membolehkan vaksinasi MR.

Lah gimana bisa gitu? Haram tapi boleh? Gimana maksudnya?

Iya. Sesuatu yang haram, dalam kondisi tertentu, boleh dikonsumsi tanpa ia kehilangan status haramnya. “Boleh” ya, bukan “halal”. “Boleh” tidak sama dengan “halal”.

Gimana sih?

« Read the rest of this entry »

Advertisements

Fatwa MUI

2 February 2009 § 5 Comments


Hampir semua orang tahu kejujuran ini: MEROKOK DAPAT MENYEBABKAN KANKER, SERANGAN JANTUNG, IMPOTENSI DAN GANGGUAN KEHAMILAN DAN JANIN. Di televisi atau radio, peringatan itu selalu menjadi penutup dari semua iklan produk rokok. Semua itu ditulis kapital sehingga mencolok, dan disampaikan penuh penekanan. Barangkali, rokok adalah satu-satunya produk paling jujur. Ketika iklan produk-produk lain selalu berusaha tampil meyakinkan dengan menonjolkan kualitas, azas fungsi dan manfaat yang terkadang secara berlebihan, dan peringatan-peringatan efek samping selalu disamarkan, rokok sebaliknya. Ia sama sekali tak melakukan semua itu, dan justru menonjolkan efek samping secara gamblang. Begitu jelas.

Peringatan – bahkan cenderung seperti ancaman – itu tentu tak kurang hebat. Sebab, jiwa yang menjadi sasaran ancaman. Peringatan itu telah begitu benderang bagi siapa pun, kalangan perokok atau bukan. Jika benar, setiap fatwa MUI yang dikeluarkan selalu atas pertanyaan dari (sebagian) masyarakat, kemungkinan masyarakat yang bertanya (tentang rokok) itu tak sedang hendak mencari terang perihal seluk beluk rokok. Salah alamat, bertanya kepada MUI soal seluk beluk rokok. Jika ada pihak yang paling otoritatif untuk dilempari pertanyaan perihal rokok kemudian mengeluarkan fatwa tentangnya, maka itu adalah para “ulama” medis. Tapi, bahkan, sepertinya bertanya kepada “ulama” medis pun sebenarnya tak perlu. Sebab, sekali lagi, rokok adalah satu-satunya produk paling jujur. Peringatan bahwa rokok dapat menyebabkan sekian penyakit telah begitu gamblang tertera di antara bayang-bayang kenikmatannya. Dan hampir semua orang tahu itu.

Lalu, kenapa itu terjadi, kenapa ada sebagian masyarakat yang bersandar kepada (lembaga) agama, dan melemparkan pertanyaan kepada mereka yang dianggap otoritatif di dalamnya, ketika semuanya telah begitu terang, gamblang dan rasional? Mungkin sekedar untuk mendapatkan kenyamanan dan ketenteraman jiwa, ketimbang benar-benar ekspresi ketak-mengertian kemudian benar-benar hendak mencari jawaban yang rasional. Barangkali, masyarakat penanya tersebut adalah orang-orang yang akan lebih merasa mantap jika agama telah ikut memutus, meski secara rasional sebenarnya mereka sendiri dapat memutus. Yang rasional mungkin selalu bisa menjawab, tapi tak selalu bisa menentramkan. Pada saat seperti itulah agama menjadi penting.

Inilah masa – seperti kata-kata Goenawan Mohamad dalam prakata Tuhan & Hal-Hal Yang Tak Selesai – ketika Tuhan tak bisa ditolak dan agama bertambah penting dalam hidup orang banyak, memberi kekuatan, menerangi jalan, tapi juga membingungkan dan menakutkan.

Karena MUI tak mengeluarkan fatwa kecuali ada pertanyaan dari masyarakat, maka fatwa rokok MUI menjadi penting – “memberi kekuatan, menerangi jalan” – tentu saja semestinya terbatas semata bagi masyarakat yang bertanya dan merasa berkepentingan, atau orang-orang yang sependapat dengan alur logikanya. Tak adil, jika yang tak bertanya dan tak pula merasa berkepentingan dengan fatwa itu, kemudian dibebankan menanggung dan menjalankan fatwa itu.

Jadi, katakanlah, fatwa MUI hanyalah sebuah “pendapat” sekelompok orang, yang terdengar gagah – mungkin “menakutkan” – dengan nama “fatwa”.

Dan, posisi MUI yang tak jelas – tidak memiliki posisi struktural dalam pemerintahan, kenyataannya seperti membayang-bayangi (atau di bawah bayang-bayang) pemerintah – dianggap “membingungkan”, kerap menimbulkan asumsi yang semestinya tak dibenarkan: fatwa MUI adalah sikap pemerintah.[jr]

Kepada Para Perokok

26 December 2008 § 30 Comments


Kepada Yth,

Para perokok di di kolong-kolong langit mana pun, di pojok-pojok bumi mana pun…

Cuekkanlah gambar-gambar profokatif ini, sebagaimana sampean cuek menghisap-keluarkan asap kenikmatan rokok di jari sampean, dari orang-orang di sekeliling sampean.

Nikmatilah gambar-gambar yang tak bersahabat buat sampean ini, sebagaimana sampean menikmati rokok yang juga tak bersahabat buat sampean sendiri.

Jika sampean tak bisa cuek, juga tak bisa menikmati, maka silakan sampean mengumpat dan misuh. Muntahkanlah segala kedongkolan sampean, terserah, untuk gambar-gambar permusuhan itu (dan semua yang terkait dengannya) atau untuk diri sampen sendiri.

Para perokok yang budiman,

Betapa sampean berada dalam posisi ambivalensi, paradok dan ironi yang mengesankan. Betapa semakin banyak sampean merokok, betapa semakin banyak para perokok,  tuntutan perihal kerugian di satu sisi dan pundi-pundi keuntungan di sisi yang lain, betapa pula semakin banyak, berjalan beriringan dalam bingkai harmoni.

Hidup rokok dan perokok!

Hidup anti-rokok!

Hidup kerugian!

Hidup keuntungan!

1322324352617181Masih mau berhenti merokok?

Yoga

2 December 2008 § 2 Comments


Sepenggal firman tersurat: fas aluu ahl al-dzikr in kuntum la ta’lamuun. “Jika tidak tahu, sampaikanlah pertanyaan kalian kepada ahli zikir”. Dua kali Tuhan menyuratkannya pada dua surat yang berbeda.

Secara spesifik, sepenggal firman itu merupakan bagian dari rangkaian kisah dialektikal Nabi dengan sebagian kalangan Arab waktu itu yang didera keraguan, mempertanyakan kerasulan Muhammad, sebab menimbang dirinya hanyalah manusia. Mungkin mereka juga bakal meragukan siapapun, seandainya ada manusia lain yang memproklamirkan diri menjadi rasul. Keyakinan mereka terhadap transendental Tuhan, memunculkan sikap penyucian terhadap-Nya (al-tanzih). Tuhan mesti dijauhkan dari dunia empiris, tidak layak bersentuhan dengan hal-hal profan, dari hal-hal yang berbau tanah bumi, beraroma keringat manusia. Maka, yang pantas menjadi rasul, menurut mereka, adalah para malaikat, mahluk langit.

Allah a’dzam min an yakuna rasuluhu basyar,” kata orang-orang itu. “Mosok iya, Tuhan dengan segenap keagungannya mau menjadikan rasul-Nya dari kelas manusia?! Itu akan menggerogoti transendental Tuhan!”

Ini persoalan kelas berat, yang nalar Nabi sendiri barangkali tak dapat memberikan jawaban meyakinkan kepada mereka. Maka, Tuhan sendiri yang menjawabnya.

Akana li al-nas ‘ajaban an auhaina ilaa rajulin minhum,” kata Tuhan.”Memangnya kenapa, jika yang menjadi rasul adalah manusia?! Herankah Kalian dan merasa aneh, jika Aku berikan titah kepada seorang laki-laki di antara Kalian?!”

Wama arsalna min qablika illa rijalan nuhi ilaihim,” Kata Tuhan lagi.”Pada masa lalu, yang Aku jadikan rasul pengantar wahyu juga manusia, lebih spesifiknya para lelaki.”

“Jadi, why not?!”

Agaknya mereka yang didera keraguan itu hanyalah orang-orang yang pandangan hidupnya membentur dinding tebal masa di mana mereka hidup, eksklusif dengan pemikiran, pengetahuan, dan informasi yang beredar pada masanya atau kalangannya saja, tanpa menyadari atau mungkin juga tak mau tahu jika di balik dinding tebal masanya ada masa lalu yang menghamparkan pemandangan luas. Mereka tidak memiliki jargon mulia seperti dalam tradisi NU: al-muhafadzah ‘ala al-qadim al-shalih, wal-akhdzu bi al-jadid al-ashlah. Menggali, menemukan, dan merawat warisan masa lalu, menengok preseden masa silam yang dapat memberikan pengayaan wacana, sekaligus mengikuti, mengamati, bahkan melibatkan diri pada perkembangan wacana masa kini yang juga dapat memberikan pengayaan, agar pengetahuan menjadi komperhensif dan lebih kaya.

Mungkin juga, karena tidak atau belum memiliki keimanan, mereka tidak atau belum memahami adagium bijak nan bajik, “al-hikmah dhallah al-mu’minin” atau “kebijaksanaan adalah barang hilang orang-orang beriman”. Karena lokasi hilangnya tidak jelas betul, maka di mana pun dan pada apa pun kebijaksanaan itu dijumpai, pungut saja.

Maka, jadilah mereka katak dalam tempurung. Eksklusif. Mereka melihat dirinya digdaya, tapi sebenarnya adalah kedunguan.

Mereka tidak tahu, perihal rasul dan risalah telah merayap sejak zaman purba, telah ada presedennya, dan yang terjadi dengan Muhammad hanyalah mata rantai. Dengan muatan kombinasi kemulian tradisi NU dan kebajikan adagium di atas, Allah menyarankan lawan dialektikal Rasul agar banyak belajar kepada siapa saja, termasuk kepada orang paling alimnya kelompok Nasrani, paling ahlinya kalangan Yahudi, para pakar Taurat, para pakar Injil, jika memang informasi dari Islam dianggap kurang kuat dan komprehensif. “Fas aluu ahl al-dzikr in kuntum la ta’lamuun”.

Ahl al-dzikr, ahli zikir bukanlah orang-orang yang zikirnya khusyuk dengan deraian air mata diiringi isak tangis sebagai latar sendu. Ahli zikir adalah para pakar intelektual. Kepada merekalah, lawan dialektikal Rasul disuruh menghadap membawa kebodohannya.

“Jika kalian tidak yakin, coba tanyakan, diskusikan dengan para intelektulal dari kalangan mana pun, Islam, Nasrani, Yahudi, atau para pakar mana pun yang menguasai kitab-kitab samawi, kalian akan menemukan satu jawaban, bahwa para rasul yang telah diterjunkan ke bumi, semuanya adalah manusia, tidak ada satu pun dari jenis malaikat. Dan itu tidak ada kaitanya dengan transendental atau profan. Sebab, bagaimana pun, Aku akan tetap menjadi diriku sendiri. Jangankan sekedar mengutus rasul dari kelas manusia, keagunganku tak akan dekaden secuil pun, meski umat seluruh dunia mengutukku. Atau, seandainya umat seluruh dunia memujiku, itu sama sekali tak akan menambah derajat kemualianku,” begitu kira-kira jawaban Tuhan untuk lawan dialektikal Rasul.

Saya kira, ada saat di mana Rasul selalu bersandar pada wahyu untuk memberikan jawaban atau menyelesaikan persoalan masyarakatnya, dalam hal yang relatif berat, seperti hal dan informasi gaib. Biasanya, kemudian, jawabanya saklek dari Tuhan, sebut saja, misal, “wa idza saalaka ‘ibadi ‘anni fa inni qarib”, “Muhammad, jika ada yang bertanya soal Aku kepadamu,” (jawab saja), “Aku cukup dekat kok.” Atau, “Yasaluka al-nas ‘an al-sa’ah, qul innama ‘ilmuha ‘inda Allah”, “Orang-orang bertanya kepadamu soal kiyamat. Jawab saja, cuma Allah yang tahu.” Termasuk persoalan di atas.

Ada saatnya juga Rasul menerima persoalan remeh temeh. Remeh temeh itu bisa diartikan dengan hal-hal sepele atau yang muncul dari kemanjaan dan kemalasan berpikir untuk berusaha mencari jawabannya sendiri. Untuk hal-hal semacam ini, barangkali Rasul tidak perlu menunggu wahyu untuk menanggapinya, apalagi melakukan investigasi. Atau mungkin juga, tidak perlu dijawab secara eksplisit.

Suatu ketika, ada salah seorang sahabat bernama Wabishah, bertanya kepada Rasul tentang definisi “kebaikan” dan “dosa”, syukur-syukur sekalian dengan contoh-contoh kongkritnya. Jawab Rasul,

“Istafti qalbak, ya wabishah!” Rasul sampai perlu mengulanginya tiga kali, menandakan penekanan, “al-birru ma ithmaannat ilaihi al-nafsu, wa al-itsmu ma haka fi al-nafsi.”

“Tanyakan pada hatimu! Mintalah fatwa pada kalbumu! Mintalah pertimbangan sukmamu! Jika hatimu merasa nyaman, adem, ayem, maka yang kamu lakukan itu berarti baik. Tapi kalau malah bikin resah, gelisah, berarti itu tidak baik, sehingga kamu merasa berdosa melakukanya.”

Saya, kok, jadi berkhayal, Kanjeng Rasul rawuh ke Indonesia, kemudian seseorang menghadapnya, bertanya soal yoga. Kira-kira, akan seperti apa respon Rasul?

Fatwa Soal Tendangan Penalti

21 August 2008 § 1 Comment


Dalam sebuah pertandingan sepak bola, sang komentator mengoceh…

“….Thuram mengoper bola kepada Ribery. Dari lapangan tengah, Ribery menggiring bola dengan melewati satu pemain, dua pemain, dan tiga pemain, sampai akhirnya ia oper kepada Henry yang telah berdiri tepat digaris kotak penalty. Ia tidak langsung melesakkan bola ke gawang lawan, mengingat di depannya masih ada satu pemain belakang lawan. Dengan satu, dua gerakan dia mencoba mengecoh pemain itu. sampai pada gerakan ke tiga, dia terjatuh… Oh…. Apa yang terjadi di sana…. Prittttt….!!! wasit menunjuk titik putih, tanda akan ada eksekusi penalty. Pemain perancis pun bersorak sorai mendapat hadiah penalty… Tapi kita lihat gerakan slow motion pada siaran ulang… Oh.. ternyata henry melakukan diffing. Tampak sekali, kaki bek lawan sama sekali tidak menyentuh kaki henry. Tapi apa dikata… Wasit telah meniup peluit, menunjuk titik putih. Ribery melakukan tugasnya sebagai eksekutor, dan…. gooolll…!!! Stadion bergermuruh oleh luapan kegembiraan suporter perancis….”

“Bagaimana Bung Roni, Anda melihat gol Perancis ini?” kata pembawa acara.

Bung Roni (komentator bola): “Sangat cantik. Kita tidak melihat penaltinya, kita melihat proses golnya yang begitu menawan. Luar biasa!”

“Anda, Bung Jhony?”

Bung Jhony (politikus): “Saya pikir, Henry terlalu mempolitisir keadaan. Dia menggunakan segala macam cara untuk mencapai tujuannya. Tapi, ya, itulah politik sepak bola.”

“Anda, Bung Alim?”

Bung Alim (dari agamawan): “Gol yang mengandung unsur ghoror alias menipu dan merugikan pihak-pihak tertentu, maka hukumnya haram!

Where Am I?

You are currently browsing entries tagged with mui at Warung Nalar.

%d bloggers like this: