Cerita Ibnu al-Jauzi Tentang Sunni dan Syiah dan Cerita Gus Dur Tentang NU dan Muhammadiyah

13 October 2018 § Leave a comment


Saya segera teringat tulisan Gus Dur tentang “Tokoh Kiai Sukri” di buku Melawan Melalui Lelucon ketika saya sedang membaca fragmen di pengantar Kitab al-Maudlu’at tentang Ibnu al-Jauzi (w. 597 H) yang ditanya oleh seseorang mengenai siapa yang lebih utama antara Abu Bakar al-Shidiq dan Ali ibn Abi Thalib. Kala itu, kelompok Ahlussunnah dan Syiah di kota Baghdad sedang berseteru: Ahlussunnah menganggap Abu Bakar yang lebih utama; Syiah mengklaim Ali yang lebih utama. Orang-orang Baghdad lalu mengutus seseorang tersebut untuk bertanya kepada Ibnu al-Jauzi. Sebagai tokoh rujukan, jawaban dan tanggapan Ibnu al-Jauzi atas persoalan yang sedang viral itu jelas ditunggu-tunggu untuk jadi legitimasi.

Apa jawaban Ibnu al-Jauzi?

« Read the rest of this entry »

Advertisements

Imam Syafi’i NU, Imam Malik Muhammadiyah

4 August 2008 § 8 Comments


Dalam suatu ruang kelas, seorang ustad sedang memberikan mata pelajaran fikih kepada murid-muridnya. Sang ustad menjelaskan…

“Imam Syafi’i adalah pendiri Mazhab Syafi’i yang salah satu tradisi mazhabnya adalah berqunut pada salat subuh. Dan Imam Malik adalah guru Imam Syafi’i yang juga memiliki mazhab fikih sendiri. Salah satu tradisi mazhabnya adalah tidak berqunut pada salat subuh.”

Sang Ustad melanjutkan, “Konon, keduanya pernah saling berkunjung ke rumah masing-masing. Saat Imam Syafi’i menginap di rumah Imam Malik, ia diminta menjadi imam salat subuh, dan Imam Malik makmumnya. Untuk menghormati gurunya yang tidak bermazhab qunut, maka Imam Syafii menjadi imam salat subuh dengan tidak berqunut.”

“Sebaliknya, saat Imam Malik yang bertandang ke rumah Imam Syafii, Imam Malik diminta menjadi imam salat subuh, dan Imam Syafii makmumnya. Dan untuk menghormati muridnya yang bermazhab qunut, maka Imam Malik menjadi imam salat subuh dengan berqunut.”

“Nah, anak-anak, dari cerita bapak tadi, siapa yang bisa mengambil kesimpulan atau pelajaran yang bisa dipetik? Yang bisa tunjuk tangan,” kata sang ustad mengakhiri ceritanya.

Salah seorang anak yang duduk di paling belakang tunjuk tangan,

“Saya bisa, ustad!” Dari cerita Bapak, saya bisa menyimpulkan, berarti Imam Syafi’i adalah orang NU, sebab kalau salat subuh pake qunut. Dan Imam Malik adalah orang Muhammadiyah, sebab kalau salat subuh ga pake qunut. Tapi, meski berbeda organisasi, keduanya tetap saling menghormati dan toleran.”

Ustad, “…???…???…???…???”

Where Am I?

You are currently browsing entries tagged with muhammadiyah at Warung Nalar.

%d bloggers like this: