Malaikat Sebagai Anekdot

2 May 2017 § Leave a comment


Dalam literatur klasik tasawuf, khususnya dalam fragmen cerita para nabi atau wali, kenapa malaikat-malaikat kadang digambarkan “sangat profan”, “biasa saja”, “sangat akrab”? Dalam hal ini, Munkar-Nakir dan Malakul Maut Izrail paling banyak menjadi bahan cerita.

Dalam Ihya Ulumiddin, Imam al-Ghazali mengutip kisah tentang Nabi Ibrahim didatangi Malakul Maut yang hendak mencabut nyawa sang Nabi. Tanggapan Nabi Ibrahim kepada malaikat pencabut nyawa itu?

« Read the rest of this entry »

Advertisements

Semalam Bersama Cak Nun

21 March 2009 § 1 Comment


Bagai sinetron-sinetron televisi kita, pengusiran Iblis dari surga begitu dramatis. Kecemburuan, pengkhianatan, pembangkangan, dan dendam terkuak dalam tragedi itu.

Tragedi itu bermula ketika Tuhan memperkenalkan anggota “keluarga” baru bernama Adam dalam jajaran kemahlukan. Dalam perkenalan itu, Tuhan meminta kepada semua yang hadir untuk memberikan sujud penghormatan kepada keluarga baru itu. Tak dinyana, permintaan itu diprotes oleh kalangan Iblis. Mereka menolak sujud hormat kepada Adam. Lain hal dengan kalangan Malaikat yang paham perintah tersebut, bahwa sujud itu sejatinya bukan penghormatan kepada Adam, tapi kepada Tuhan sendiri yang telah menciptakannya sedemikian rupa.

“Ada apa, Iblis? Kenapa Kau menolak sujud hormat kepada Adam?”

“Maaf, Tuhanku, apakah adil, jika aku harus sujud kepadanya?!” kata Iblis. “Dia dari tanah dan aku dari api.”

Ternyata praktik narsisme telah bermula sebelum dunia sepenuhnya ada. Dan itu Iblis yang pertama melakukannya. Praktik narsisme dalam arti mencintai diri yang diukur dari kesempurnaan tubuh seraya menafikan keberadaan di luar dirinya. Iblis menyangka, perbedaan materi penciptaan akan berimbas pada derajat kemuliaan diri. Api, dengan karakternya yang gagah menyala, aktif, agresif, selalu ke atas, dan tak mudah dibentuk, seharusnya dipandang lebih mulia ketimbang tanah yang pasif, lemah (“lemah” [bahasa Jawa] artinya “tanah”. Dalam bahasa Indonesia, artinya “tak berdaya”), hanya diam, selalu ke bawah, dan mudah dibentuk tergantung pembentuknya. Barangkali Iblis berasumsi, seharusnya Adam yang sujud hormat kepadanya, selain karena relasi junior yang harus hormat kepada seniornya.

Entah bagaimana kita bayangkan ekpresi wajah Tuhan dalam suasana pembangkangan dan pengkhianatan itu. Yang jelas, setelah itu Tuhan mengusir Iblis. Tuhan mengecap di jidatnya sebagai mahluk sesat, sombong, dan hina.

Kepalang tanggung dicap demikian, Iblis mengajukan permintaan kepada Tuhan.

“Silakan. Apa permintaanmu?”

“Jangan Kau matikan aku sampai hari kiamat. Biarkan aku hidup sampai hari hisab dan hari kebangkitan tiba.”

“Baik. Permintaanmu disetujui.”

Mencengangkan. Setelah tahu permintaannya disetujui Tuhan, di hadapan-Nya, Iblis membeberkan rencana aksinya selama hidup dalam imortalitas di dunia.

“Kepalang tanggung Kau telah hukum aku sebagai mahluk sesat, aku akan konsisten pada jalan kesesatan. Aku akan merebut massa sebanyak-banyaknya untuk ikut jalanku. Aku akan pengaruhi mereka untuk melupakan-Mu, tersesat tak tahu arah menuju jalan lurus-Mu. Imortalitas hidupku di dunia, akan aku habiskan untuk menyesatkan manusia. Lihat saja, Tuhan, Kau bakal saksikan banyak manusia yang tak bersyukur.”

“Pergi, Kau, Iblis hina!”

~

Hampir mustahil saya menemui Cak Nun secara fisik. Untung saya punya ilmu “Sigar Raga”. Pada suatu malam, saya tinggalkan jasad saya yang terbujur tidur di kasur, berharap Cak Nun pun sedang meninggalkan raganya. Saya terbang menembus gelap malam angkasa, lalu sampailah pada dunia antah berantah. Benar saja, Cak Nun sedang kluyuran meninggalkan raga. Saya lihat dia pakai jubah dan bersurban putih, sebagaimana biasa jika tampil bersama Kyai Kanjeng. Saya dekati dia. Mengawali dengan sedikit basa-basi, kemudian berlanjut pada diskusi, termasuk soal tragedi pengusiran Iblis itu.

Tak disangka, ternyata Cak Nun punya hubungan cukup intim dengan Iblis. Kata Cak Nun kepada saya, dia pernah dibisiki oleh Iblis, argumentasi lanjutan kenapa ia tak mau bersujud kepada Adam, kala itu.

Kepada Cak Nun, si Iblis berbisik, “Kami sengaja tidak bersujud kepada Adam, kami minta satu periode zaman saja kepada Tuhan untuk membuktikan argumentasi kenapa kami tidak bersujud kepada Adam. Hari ini aku nyatakan: Tidak relevan Iblis bersujud kepada Adam, karena anak turun Adam sekarang terbukti sangat beramai-ramai dan kompak menyembah Iblis.”

Pendidikan & Lingkungan

2 September 2008 § Leave a comment


Pendidikan adalah hal yang mutlak dalam kehidupan. Ia menjadi urgen dalam rangka menciptakan kebudayaan yang maju dan berperadaban. Penilaian maju atau mundur suatu masyarakat (bangsa), tinggi atau rendah peradaban yang dimilikinya, diukur dari tingkat pendidikan yang dimiliki masyarakat tersebut.

Dalam Alquran disebutkan, pendidikan dan pengajaran merupakan bagian dari awal penciptaan manusia pertama, yaitu Nabi Adam. Oleh karenanya, Adamlah yang kemudian menjadi khalifah di bumi, meski sempat mendapat “protes” dari para malaikat. Malaikat merasa lebih pantas, karena merasa memiliki sipiritualitas yang lebih, selalu taat terhadap perintah Allah. Tapi, menurut Allah, untuk menjadi khalifah di bumi dibutuhkan mahluk terdidik, tidak hanya secara spiritual, tapi juga secara intelektual.

Oleh karenanya pula, Adam menjadi mahluk yang terhormat di antara mahluk-mahluk lain, meski menunai bantahan dari iblis, yang enggan sujud hormat kepadanya. (Albaqarah: 30-34). Iblis merasa lebih terhormat, karena diciptakan dari api, ketimbang Adam yang hanya dari tanah. (Shad: 76). Karenanya, ia menolak sujud hormat kepada Adam. Menurut iblis, kehormatan diukur dari bentuk lahiriah. Oleh karena itu, secara lahiriah, dialah yang merasa pantas disujud-hormatkan. Tapi bagi Allah, kehormatan lahir dari pendidikan dan pengetahuan.

Tujuan ideal pendidikan dan pengajaran adalah mengaktualisasikan potensi kecerdasan spiritual dan intelektual yang telah tertanam dalam diri setiap manusia, dan mengintegrasikan akal dan hati. Dalam agama Islam, tindakan apa pun tidak akan terlepas dari unsur ilahi.

Setidaknya ada empat unsur yang menjadi faktor keberhasilan pendidikan dan pengajaran, yaitu keluarga, lembaga pendidikan (sekolah), masyarakat, dan pemerintah.

Faktor-faktor tersebut harus selaras dan saling mendukung dalam proses pendidikan. Apa yang disampaikan oleh sekolah kepada perserta didik mesti mendapat dukungan dan tindak lanjut dari lingkungan keluarga. Setelah itu, ia jangan dibiarkan terseret arus pergaulan masyarakat yang tidak sesuai dengan ajaran-ajaran yang diperolehnya di keluarga dan sekolah. Sebab, lingkungan masyarakat sangat berperan dalam membentuk karakter spiritual dan intelektual seseorang.

Demikian pula dengan pemerintah, hendaknya tidak mengeluarkan kebijakan yang memasung kebebasan peserta didik untuk menjalankan ajaran dan didikan yang diperolah dari sekolah atau keluarga.

Ketimpangan dan tidak selarasnya faktor-faktor tersebut akan menyebabkan kegagalan dan tak tercapainya tujuan pendidikan yang ideal, juga akan menimbulkan kebingungan pada peserta didik, karena dihadapkan pada hal-hal yang bertentangan.

Pembacaan lebih jauh ini didasarkan pada hadis Rasul yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dalam Shahih-nya dari Abu Hurairah. Rasul bersabda, “Setiap anak dilahirkan dalam keadaan al-fithrah (Islam). Orang tuanyalah yang berperan menjadikannya yahudi, nasrani, atau majusi.”

Artinya, karakter dan perilaku spiritual seseorang sangat dipengaruhi oleh lingkungan di mana ia tinggal. Keluarga adalah lingkungan terdekat dan terkecil, selanjutnya adalah lingkungan sekolah, masyarakat, kemudian negara. Lingkungan-lingkungan itu tentu saja tidak hanya mempengaruhi perilaku spiritual, tapi juga intelektual.

Narasi Tarhib Ramadhan

24 August 2008 § Leave a comment


Kalau kita mengajak saling baik, saling benar, saling enak satu sama lain, itu bukanya kita, kok, mau jadi malaikat. Nggak juga. Kita ga akan jadi malaikat. Tapi, bukan berarti kita lantas mau jadi setan. Kita tidak bisa sesuci malaikat, sebenar malaikat, sebaik malaikat. Tapi kita juga tidak punya cita-cita selaknat setan, sedurhaka setan, dan sekalap setan.

Malaikat itu mahluk statis. Meski pun dia diletakkan atau hadir di tempat pelacuran, tempat perjudian, tempat minum-minum, dia tetap baik yang dilakukan. Setan juga mahluk statis, meski dia hadir di masjid, di kuil di gereja, tetap saja jelek yang dia lakukan.

Sementara kita di tengah-tengahnya. Kita memiliki pilihan. Kita memiliki dua kemungkinan untuk kita pilih; menuju kebaikan atau menuju kebrengsengkan. Maka, di tengah-tengah pertengkaran terus menerus antara golongan A dengan golongan B, di tengah benturan yang tidak selesai-selesai antara kelompok satu dengan kelompok yang lain, di tengah perang frontal atau perang dingin di dalam batin antara aliran satu dengan aliran yang lain, di tengah ketidak-relaan, ketidak-ridlaan, ketidak-ikhlasan antara satu dengan manusia yang lain, insyaallah, saya yakin seyakin-yakinnya, bahwa kita akan memilih untuk menggerakkan diri kita semua ini bersama-sama sebagai satu bangsa menuju sesuatu yang lebih baik, menuju kerendah-hatian satu sama lain, menuju sikap untuk mau mengalah satu sama lain, untuk menomor-satukan yang terbaik bagi kita bersama-sama, bukan yang terbaik bagi A, terburuk B, bukan yang terbenar bagi C, terburuk bagi D dan sebagainya. Saya yakin, kita akan memilih yang terbaik. Happy end. Khusnul khatimah.

Kecuali kita berpihak kepada kebodohan, kita berpihak kepada kekerdilan, kita berpihak kepada kesempitan dan melapetaka. Ya, satu-satunya jalan, saya kira, mawas diri. Mau membuat diri kita ini pas. Kalau lebih, kita bikin pas, kalau kurang kita bikin pas. Bahasa Indoneisanya, “mawas diri”. Taubah… tobat…

~ Narasi musikal Cak Nun (Emha Ainun Najib) diiringi backsound shalawatan Kyai Kanjeng ~

Bisikan Setan & Bisikan Malaikat

22 July 2008 § Leave a comment


Dalam hadis yang diriwayatkan oleh Imam Tirmizi, Nabi Muhammad SAW bersabda, “Setan dan malaikat selalu memberikan bisikan dalam jiwa manusia. Jika seseorang terbesit dalam dirinya untuk melakukan kejahatan dan mengingkari kebenaran, maka itu adalah bisikan setan. Dan jika terbesit dalam dirinya untuk melakukan kebaikan dan membenarkan yang benar, maka itu adalah bisikan malaikat.”

Nabi melanjutkan, “Jika seseorang merasakan dalam dirinya bisikan kebaikan, maka pujilah Allah. Jika merasakan bisikan kejahatan, mintalah perlindungan dari Allah dari setan yang terkutuk.”

Seraya memberikan penegasan atas ucapannya, Nabi menukil firman Allah, “Setan menjanjikan (menakut-nakuti) kalian dengan kemiskinan dan menyuruh kalian berbuat kejahatan (kikir).” (al-Baqarah: 268).

Artinya, dengan kemiskinan dan serba kekurangan, seseorang memiliki alasan untuk tidak berinfak dalam kebaikan, dan jika perlu, melakukan cara apapun untuk mentas dari kemiskinan itu, entah cara itu halal atau haram. Semacam itulah bisikan setan dalam jiwa manusia.

Imam al-Mubarakfuri menyebut bisikan malaikat sebagai ilham, dan bisikan setan sebagai hasutan (waswasah). Keduannya sekaligus menjadi ciri unik manusia dan menjadikannya sebagai mahluk yang dinamis. Kita bisa melihat jutaan manusia di muka bumi ini dengan ragam karakter. Sebagian dari mereka memiliki kecenderungan bisikan malaikat yang besar, perilakunya baik, hidupnya menjadi pencerah dan bermanfaat bagi lingkungannya. Sebagian yang lain memiliki kecenderungan bisikan setan yang lebih besar, waktunya banyak terbuang untuk hal yang sia-sia, kehidupannya menjadi keresahan dan kerugian bagi orang-orang sekitarnya, dan sebagainya

Bisikan malaikat dan bisikan setan adalah simbol dari kutub konflik kejiwaan dan spiritual manusia. Jiwa dan spiritualitas manusia terbungkus oleh tubuhnya. Maka, kecenderungan bisikan malaikat atau setankah yang lebih besar dalam jiwa seorang manusia, adalah bagaimana ia membawa tubuhnya. Jika tubuh diarahkan ke lingkungan yang saleh, maka bisikan malaikat dalam jiwa tubuh manusia cenderung akan lebih besar. Dan jika tubuh dibawa menuju lingkungan hitam, maka bisikan setan akan lebih besar.

Maka, saya kurang setuju dengan anggapan “dasarnya”; jika pada dasarnya seseorang memiliki tabiat baik, di mana pun berada, dia tetap baik. Jika pada dasarnya seseorang memiliki karakter buruk, di mana pun berada, dia tetap buruk.

Meski saya percaya, bahwa setiap individu memiliki dan membawa kecenderungan idealismenya masing-masing, sebagaimana saya percaya bahwa idealiasme itu bukanlah benteng kokoh yang tak bisa dirobohkan. Idealisme kerap rontok oleh godaan realitas yang tidak disanggup dibendung, dan tabiat buruk bisa luntur oleh lingkungan yang memiliki kecenderungan baik.

Where Am I?

You are currently browsing entries tagged with malaikat at Warung Nalar.

%d bloggers like this: