Asal-usul Ingkar-Mungkir

4 October 2010 § 4 Comments


Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI),

  1. “Ingkar” dan “mungkir” dikategorikan verba.
  2. “Ingkar” diartikan “tidak menepati”, “tidak mau”. Dan “mungkir” diartikan “tidak mengaku(i)”,”tidak setia”, “tidak menepati (janji)”.

Verba atau Nomina?

“Ingkar” dan “mungkir” berasal dari bahasa arab: “inkâr” dan “munkir“. keduanya disebut ism (nomina), dan bukan fi‘l (verba). (Dalam bahasaArab, verba dari keduaya “ankara” dan “yunkiru”).

Inkâr” dan “Munkir

Dalam ilmu sharaf (ilmu tentang turunan kata dalam tata bahasa Arab), “inkâr” adalah ism mashdar atau kata sumber atau kata dasar, dan“munkir” adalah ism fa’il atau “pelaku”, “orang yang … “. Dalam kamus Arab-Indonesia « Read the rest of this entry »

Aku Bagimu (I)

13 January 2010 § 1 Comment


aku bagimu seumpama jarum penunjuk detik bagi jarum penunjuk jam.
kadangkala lancang berlari kencang menjauhimu.
kadangkala di belakang tertatih-tatih mendekatimu.
dan, pada sesekali yang sebentar segaris menunggal denganmu.

aku bagimu seperti yang engkau tahu:
tak pernah melepas diri dalam liputan waktumu.

ciputat, 19.12.09

Antologi Status [5]

21 October 2009 § 1 Comment


Status-status pilihan yang ditulis pada rentang 1- 20 Oktober 2009
————————————————————————–

Masa lalu menjadi romantika atau trauma, masa depan menjadi harapan atau ancaman, akan memengaruhi apakah masa kini kau bahagia atau menderita. [1 Oktober 2009/20:24 WIB]

Karena kasih sayang itu anugerah Tuhan serupa hujan tak bermata, membasahi apa saja di wajah bumi: lembah landai hijau oleh rerumputan atau pun bukit terjal bebatuan. Dimangsa masa, kini, hijaumu tinggal sisa. Dan sebab anugerah kasih sayang, kekasih akan tetap di sisi. [2 Oktober 2009/19:55 WIB]

Sebagaimana buah kerja mereka: kekayaan dan popularitas, buah hati mereka: putra dan putri, pun bahkan tak dapat menyelamatkan dan menyatukan tenunan cinta mereka yang terurai. Entah bagaimana mereka berdua merajutnya, dulu. [3 Oktober 2009/14:53 WIB] « Read the rest of this entry »

Melamar Kekasih

27 August 2009 § Leave a comment


Aku malu
menemui Tuhan sendirian.
Pula, Ia terlampau jauh bagiku.
Dan, aku terlalu lemah
untuk berjalan jauh menuju-Nya.
Aku butuh pendampingan
seseorang yang mampu mengantarkanku
mendekat kepada-Nya.

Maukah kau menikah denganku, Kekasih?

Mei 2009

Sesederhana Itu Kasihku

18 August 2009 § Leave a comment


Kasihku itu bumi,
tempat berpijak siapa saja,
para pendosa dan orang mulia.

Kasihku itu hujan,
airnya membasahi apa saja,
sepetak sawah petani miskin dan mawar merah di halaman rumah mewah.

Sesederhana itu kasihku bekerja, untuk kauketahui.

Berdamailah!

3 August 2009 § Leave a comment


sering kuamati hati
yang iri melihat mata
melampiaskan hasrat.

tak jarang kuperhatikan mata
berderai tangis menyaksikan hati
merunduk khusyuk.

selalu kukatakan:
berdamailah, kalian.
jangan buat hati sakit, mata.
jangan bikin mata sakit, hati.

Ciputat, 2 Agustus 2009

tears

Antologi Status [1]

15 July 2009 § 3 Comments


Mani Menjadi Bangkai
hei, kau!
dari mani kau berawal,
menjadi bangkai kau akan final.
ada di antaranya,
kau menenggak mani
dan melahap bangkai 

[jr]

Hadiah
jika kelak tuhan memberimu surga,
atau menjatahimu neraka,
sepertinya bukan karena
kesalahenmu seluas angkasa,
bukan pula kebejatanmu memenuhi semesta.
kesalehanmu bahkan sepanjang hidupmu
terlalu murah untuk membeli surga,
kebejatanmu bahkan seumur hidupmu
terlalu ringan untuk menukar neraka.
o, apalah diri… « Read the rest of this entry »

Dialog Mata dan Mati

5 July 2009 § 1 Comment


Kalbu berkata kesal kepada mata,
“Hei, kau telah membuatku gelisah.
Sebagai utusan raga, kau hanya
menangkap dan menyerap penyakit.
Dan, akulah yang menanggung sakit.”

Mata balas berkata,
“Ah, bukankah kau ruang hasrat?!
Dan, aku hanya mengikuti hasratmu.
Justru kau yang sering membuatku
terbuai angan-angan dan keinginan.
Apalah aku ini?!”

Aku memaki keduanya,
“Diam, semuanya!
Kalian pembunuh!”

______________________________
*disadur dari sebuah syair dalam buku “Raudhah al-Muhibbin wa Nuzhah al-Musytaqin” [Taman para Kekasih & Wisata Cinta para Perindu] hal. 91 karya Ibn Qayyim al-Jauziyyah.

Penyair Peluk Mesra Malam

15 June 2009 § 3 Comments


يا ليل طل يا نوم زل
يا صبح قف لا تطلع

ألا أيها الليل الطويل ألا انجلي
بصبح وما الأصباح منك بأمثل

wahai malam, lestarilah dirimu
wahai tidur, menyingkirlah dariku
wahai siang, sembunyikan wajahmu
jangan tampakkan untukku

wahai malam panjang,
jangan serahkan dirimu pada siang
ia tak menjanjikan sebaik yang kauberi sekarang

Mata Hati

7 June 2009 § Leave a comment


Mata:
Sungguh tak terbayang bagaimana
jika saat itu Tuhan benar-benar kalah oleh hasrat Musa,
kemudian Musa merekam dalam memorinya
wajah Tuhan yang pernah nyata.
Lalu, dari tutur Musa tersebarlah berita rupa
Tuhan di tengah umat manusia,
turun temurun kepada umat selanjutnya,
selanjutnya, dan selajutnya hingga masa ini kita ada.
Maka, tidakkah kau kasihan kepada orang buta?!

Hati:
Syukur, semua itu tak terjadi.
Tuhan Maha Suci.
Ia menolak hasrat Musa dan memilih niskala diri
Tuhan hadir dalam bayang-bayang misteri,
melampaui sekat-sekat nalar, melintas-batasi inderawi,
tak terpaku kaku pada simbol yang pasti,
memungkinkan siapa pun untuk menghayati
sampai pada batas di mana ia merasakan kenyamanan hati.
Maka, kasihanilah orang yang hatinya telah mati.

Ciputat, 7 Juni 2009

Where Am I?

You are currently browsing entries tagged with kata at Warung Nalar.

%d bloggers like this: