Lailatul Qadar Bukan Peristiwa Alam

18 August 2011 § 3 Comments


Rasulullah lupa kapan beliau pernah dipertemukan dengan lailatul qadar.

إِنِّي أُرِيتُ لَيْلَةَ الْقَدْرِ ثُمَّ أُنْسِيتُهَا (أَوْ نُسِّيتُهَا) فَالْتَمِسُوهَا فِي الْعَشْرِ الْأَوَاخِرِ فِي الْوَتْرِ

“Aku pernah dipertemukan dengan lailatul qadar, hanya saja aku lupa kapan peristiwa itu terjadi. Tapi, cobalah kalian mencarinya pada bilangan ganjil sepuluh hari terakhir,” (HR Imam Bukhari dari Abu Sa’d).

Para sahabat juga pernah mengalami peristiwa lailatul qadar pada waktu yang berbeda-beda. Sebagian mengaku diperjumpakan dengan lailatul qadar pada tujuh hari terakhir Ramadhan dan sebagian yang lain mengaku pada sepuluh hari terakhir. Kabar itu kemudian sampai kepada Rasul. Rasul lalu menyimpulkan, seraya menganjurkan kepada orang-orang yang belum pernah diperjumpakan dengan lailatul qadar, “Coba kalian mencarinya pada tujuh hari terakhir Ramadhan,” (HR Imam Bukhari dari Ibnu Umar).

Teks hadisnya:

 عن ابن عمر رضي الله عنه: أَنَّ أُنَاسًا أُرُوا لَيْلَةَ الْقَدْرِ فِي السَّبْعِ الْأَوَاخِرِ وَأَنَّ أُنَاسًا أُرُوا أَنَّهَا فِي الْعَشْرِ الْأَوَاخِرِ فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْتَمِسُوهَا فِي السَّبْعِ الْأَوَاخِرِ

Dua pernyataan berbeda dari Rasul itu diriwayatkan dua sahabat berbeda, yang pertama oleh sahabat Abu Sa‘id dan yang kedua oleh sahabat Ibnu Umar. Keduanya riwayat sahih Imam Bukhari dalam karya besarnya, al-Jami‘ al-Shahih atau yang lebih masyhur dengan sebutan Shahih al-Bukhari. Dalam kajian hadis, kita tahu, Imam Bukhari dikenal paling ketat dalam meneliti dan menyeleksi hadis-hadis. Ia membuat rumusan standar kesahihan paling tinggi, sehingga para ulama hadis meletakkan Shahih al-Bukhari di tempat tertinggi dalam jajaran Kutub al-Sittah (Kitab Hadis Enam Imam: Imam Bukhari, Imam Muslim, Imam Nasa’i, Abu Dawud, Imam Tirmidzi, dan Ibnu Majah).

Karena dua riwayat di atas sama-sama berstatus sahih maka perbedaan sabda Rasul tersebut bukan perbedaan-kontradiktif, bukan perbedaan yang saling menafikan, melainkan perbedaan-variatif, perbedaan yang memperkaya pemaknaan dan pemahaman, yang mengisyaratkan bahwa lailatul qadar adalah tema yang luwes, multi tafsir.

Jika dalam teks sumber utama saja sudah terjadi perbedaan, perbedaan pendapat yang lebih variatif terjadi di kalangan ulama. Di Fath al-Bari (kitab syarah Shahih al-Bukhari), Ibnu Hajar al-Asqalani mencatat ada lebih dari empat puluh (tercatat: empat puluh enam) pendapat soal “tanggal main” lailatul qadar. Berikut saya sebutkan beberapa di antaranya:

  • Lailatul qadar dapat terjadi pada semua bulan, bukan hanya Ramadhan. Pendapat ini populer dalam Mazhab Hanafi.
  • Lailatul qadar dapat terjadi pada semua malam pada bulan Ramadhan. Ini pendapat Ibnu Umar.
  • Ada yang menyebut, lailatul qadar terjadi pada awal Ramadhan.
  • Lailatul qadar terjadi pada sepertiga kedua Ramadhan. Pendapat ini dianut oleh sebagian penganut Mazhab Syafi’i.
  • Lailatul qadar terjadi pada sepertiga pertama Ramadhan. Ini menjadi kecenderungan pendapat Imam Syafi’i.
  • Lailatul qadar terjadi pada malam kedua puluh tujuh Ramadhan. Ini beredar di kalangan Mazhab Ahmad.
  • Lailatul qadar terjadi pada bilangan witir sepuluh hari terakhir Ramadhan, dengan dukungan hadis riwayat Imam Bukhari dari Abu Sa’id di atas.
  • Lailatul qadar terjadi pada kisaran tujuh hari terakhir Ramadhan, berdasarkan hadis riwayat Imam Bukhari dari Ibnu Umar di atas.
(Selebihnya, Anda bisa cek sendiri di Fath al-Bari)

Perbedaan pendapat soal lailatul qadar di antara Rasul, para sahabat, dan para ulama, menurut saya menunjukkan bahwa lailatul qadar pada dasarnya adalah pengalaman jiwa yang sangat pribadi. Karenanya, orang bisa mengalaminya pada saat yang berbeda-beda. Jika kemudian Rasul menyimpulkan, lailatul qadar terjadi pada sepuluh atau tujuh hari terakhir Ramadhan, seperti dalam hadis di atas, itu adalah berdasarkan pengalaman pribadi beliau dan pengalaman sebagian sahabat yang secara kebetulan terjadi pada kisaran waktu-waktu tersebut.

Bahkan, Ibnu al-Arabi, seorang ulama bermazhab fikih Maliki, murid Imam al-Ghazali, (bukan Ibnu Arabi [tanpa “al”] yang terkenal dengan konsep wihdah al-wujud) sampai pada kesimpulan, “al-shahih annaha la tu’lamu”. Yang tepat, menurutnya, lailatul qadar tidak dapat diketahui berdasarkan waktu tertentu. Meski pendapat tersebut dibantah oleh Imam al-Nawawi, namun pernyataan Ibnu al-Arabi tetap layak sebagai pendapat alternatif.

(Dari ragam pendapat tentang waktu lailatul qadar di atas, Ibnu Hajar lebih memilih bahwa waktu lailatul qadar adalah sepuluh hari terakhir Ramadan).

Jadi, apa hikmah atau nilai yang dapat diambil dari keragaman pendapat tentang waktu lailatul qadar di atas—dalam hadis dan pendapat para ulama salaf?

Yaitu, seseorang tak perlu terobsesi dengan waktu dalam rangka mengejar mendapatkan lailatul qadar. Tapi, persiapkan diri, bersihkan jiwa, sebab, lailatul qadar hadir dalam jiwa tanpa ikatan waktu dan tempat tertentu. Dengan rahmat Allah, kapan pun dan di mana pun, seseorang dapat meraih spirit dan kebaikan lailatul qadar. Dan yang penting diketahui, lailatul qadar adalah rahasia Tuhan.

Keagungan Tak Terjangkau Nalar

Ya, lailatul qadar adalah rahasia Tuhan. Tak ada yang dapat memastikan. Allah dan Rasul memang memberikan informasi kebenaran lailatul qadar, tapi keduanya tidak memberikan kepastian tentang lailatul qadar. Inilah rahasia di balik diksi yang dipilih Allah dalam surah al-Qadr: wa ma adraka ma lailatul qadr.  Tahukah kau apakah lailatul qadar itu?

Para pakar tafsir, seperti Imam al-Syaukani dalam karya tafsirnya Fath al-Qadir, menyebutkan, kata “ma adraka” adalah bentuk pertanyaan (istifham) untuk menunjukkan bahwa yang menjadi objek pertanyaan adalah sesuatu yang sulit dijangkau hakikatnya secara sempurna oleh nalar manusia.

Contoh ayat lain yang menggunakan redaksi “ma adraka” adalah tentang hari kiamat dalam surah al-Infithar ayat 17: wa ma adraka ma yaumuddin? (Tahukah kau apa hari pembalasan itu?) atau surah al-Qari’ah ayat 3: wa ma adraka ma al-qari’ah? (Tahukah kau apa hari kiamat itu?). Berdasarkan ayat Al-Quran, kita tahu kebenaran “hari pembalasan” dan “hari kiamat”. Namun, hanya sebatas bahwa ia benar adanya, sedangkan hakikat “hari pembalasan” dan “hari kiamat” hanya Allah Yang Maha Mengetahui.

Demikian juga dengan lailatul qadar. Kita hanya sebatas tahu akan kebenarannya, sedangkan tentang hakikatnya dan siapa yang berhak memperolehnya adalah rahasia Allah. Bahkan, saking rahasianya, barangkali seseorang takkan pernah tahu jika dirinya pernah mengalami atau menjumpai lailatul qadar. Bahkan, saking rahasianya lailatul qadar itu, Rasulullah sendiri dibuat lupa oleh Allah, kapan tepatnya beliau pernah dipertemukan dengan lailatul qadar. Tentu ada hikmah, kenapa Rasulullah dibuat lupa kapan beliau pernah dipertemukan dengan lailatul qadar.

Bukan Tujuan Utama

Allah memberikan beberapa keistimewaan kepada lailatul qadar ini, antara lain ia lebih baik daripada seribu bulan. Artinya, amal ibadah seorang hamba yang dikerjakan bertepatan dengan pengalaman lailatul qadar dihitung lebih baik daripada amal yang dikerjakan selama pengalaman hidup seribu bulan yang tanpa lailatul qadar.

Namun, angka “seribu bulan” yang dimaksud bukanlah angka pasti, melainkan simbol untuk menjelaskan bahwa amal apa pun yang dikerjakan tepat pada pengalaman lailatul qadar memiliki keistimewaan tak terhingga. Angka itu juga lebih bersifat kualitatif: kata “seribu” menggambarkan hampir tak terbatasnya kemungkinan pemaknaan di baliknya.

Keistimewaan lain adalah seperti dijanjikan Rasul,

من صام رمضان إيمانا واحتسابا غفر له ما تقدم من ذنبه، ومن قام ليلة القدر إيمانا واحتسابا غفر له ما تقدم من ذنبه

“Orang yang berpuasa Ramadan karena beriman dan berharap pahala dan rida Allah, ia diampuni dosanya yang telah lewat (dilakukan). Dan orang yang menghidupkan malam lailatul qadar dengan ibadah (atau: orang yang menjalankan ketaatan pada malam lailatul qadar) maka akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu,” (HR Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah).

(Catatan: I’rob kata “lailatul qadar” dalam teks hadis di atas bisa jadi maf’ul bih, bisa juga jadi ma’ful fih atau dzorof zaman).

Penting disampaikan di sini, tiap kali Allah dan Rasul menganjurkan umat melaksanakan ibadah-ibadah atau amalan-amalan, hampir selalu dibarengi dengan “iming-iming” keuntungan ukhrawi, dengan harapan mereka terdorong melaksanakan anjuran tersebut.

Begitu pula dengan lailatul qadar dengan berbagai keistimewaannya. Lailatul qadar ibarat “bonus” beribadah kepada Allah agar umat semakin giat dalam menjalankan ibadah. Sebagai bonus, tentu saja ia bukan tujuan, tapi yang menjadi tujuan adalah penghambaan, kepatuhan, dan rahmat kepada Tuhan. “Bonus” tak perlu dicari; ia datang sendiri. “Bonus” akan malu kepada dirinya sendiri jika tak mendatangi orang-orang yang berfokus kepada tujuan.

Bukankah penghambaan tertinggi kepada Tuhan adalah yang didasari oleh kesadaran diri sebagai makhluk serta kesadaran akan rahmat-Tuhan yang tak terhingga, dan bukan penghambaan yang didasari atas “bonus” pahala atau takut akan dosa, atau yang didasari “iming-iming” surga atau takut akan neraka—meski pun itu tidak salah?! Wallahu a’lam.

*

Versi YouTube:

Iblis Ingin Bertobat

1 August 2011 § Leave a comment


Jika manusia mengalami ketidaktetapan iman: saat suatu ketika ia merasa begitu dekat dengan Tuhan dan pada saat yang lain secara tak sadar ia mengabaikan-Nya, maka iblis pernah lelah dengan pembangkangannya kepada Tuhan. Ia merasa perlu menyudahi permusuhan dengan-Nya. Ia ingin bertobat.

Niat tersebut iblis utarakan kepada Musa, berharap Musa mau membantu. Iblis tahu, hanya Musa yang bisa bercakap-cakap secara langsung dengan Tuhan, seperti yang pernah Musa lakukan saat ia meminta Tuhan menampakkan diri, tapi Tuhan menolak: bukan karena Ia tak mau atau tak mampu, melainkan karena diri-Nya terlalu perkasa untuk « Read the rest of this entry »

Mendekati Tuhan dengan Air Mata

10 June 2011 § Leave a comment


Yang tak pernah merasakan sakitnya berbuat nista,

takkan pernah merasakan nikmatnya mendekati Tuhan dengan air mata.

 

9.6.11

Pengantar Redaksi Buku “MENGAJI AL-HIKAM”

11 May 2011 § 2 Comments


Pengantar Redaksi

Jika “al-Hikam” disebut, barangkali yang pertama tebersit dalam benak Anda adalahal-Hikam Ibnu Athaillah. Karya itu memang memukau: kedalaman makrifat yang memikat dalam untaian mutiara kata-kata yang memesona. Maka, wajar, jika ia sangat tenar.

Namun, tahukah Anda, sebelum al-Hikam Ibnu Athaillah itu ditulis, bahkan jauh sebelum penulisnya lahir, telah ada karya ­al-Hikam lain, yaitu al-Hikam al-Ghautsiyyahyang ditulis Abu Madyan Syu‘aib ibn al-Husain al-Anshari (Abu Madyan lahir pada 520 H dan meninggal pada 594 H. Sementara—tidak ada catatan yang tegas—Ibnu Athaillah diperkirakan lahir pada antara 658 H dan 679 H. Jadi, lebih dari enam puluh tahun setelah kepergian Abu Madyan, baru lahirlah Ibnu Athaillah). « Read the rest of this entry »

Imam Syafi‘i Bertamu ke Rumah Imam Ahmad

21 March 2011 § 2 Comments


Suatu hari, Imam Syafi‘i bertamu dan menginap di rumah Imam Ahmad. Pagi harinya, putri Imam Ahmad menemui ayahnya dan bertanya, “Ayah, diakah orang yang sering kauceritakan kepadaku itu?” Imam Ahmad memang sering bercerita kepadanya bahwa Imam Syafi‘i orang yang mengagumkan. Dia berilmu, cerdas, dan saleh.

“Benar,” jawab Imam Ahmad. “Kenapa?”

“Ada tiga hal yang membuatku meragukan cerita Ayah selama ini,” kata putrinya.

“O, ya? Apa itu?” jawab sang Ayah. « Read the rest of this entry »

“Ngeblog” adalah Merekam Jejak Diri

18 March 2011 § 6 Comments


(Semacam Sekadar Sambutan Perayaan-Tanpa-Pesta Ulang Tahun Ketiga Warung Nalar 18 Maret 2011)

Semangat ngeblog adalah berbagi, dan itu membahagiakan. Yang lebih membahagiakan daripada itu tentu saja adalah jika ada orang yang memetik manfaat apa yang kita bagi, atau sekadar membubuhkan komentar berupa ucapan terima kasih telah berbagi. Beberapa teman Facebook pernah berkirim pesan, mereka meminta izin untuk menjadikan tulisan-tulisan di Warung Nalar sebagai « Read the rest of this entry »

Saat Saya Sakit

15 March 2011 § 1 Comment


1

Lantai berlumut yang menjadi licin setelah diguyur hujan sore hari dan sandal yang alasnya sudah tipis adalah kombinasi sempurna untuk musibah yang terjadi secara sederhana: kaki kanan terpeleset membuat saya tak bisa mengendalikan diri lalu terjatuh dengan lutut kaki kanan menghunjam lantai yang keras. Tidak rumit, tapi berakibat fatal. Esok harinya, tukang pijat patah tulang memvonis persendian lutut kaki kiri saya bergeser dari tempatnya, membuat saya tak bisa menekuk dan meluruskan kaki secara sempurna. O, rasa sakitnya tak tertanggungkan. Hari-hari berikutnya adalah masa-masa yang sangat sulit, tapi sepertinya sudah sesuai perhitungan: saya tak pernah jatuh sakit parah yang mengharuskan saya beristirahat total untuk beberapa pekan sampai kemudian saya beristri seorang penyabar. Ada keyakinan yang menguat dalam diri saya bahwa tak ada musibah yang layak menimpa seseorang kecuali sesuai dengan kadar kekuatannya « Read the rest of this entry »

Bikin Rak Buku

31 January 2011 § 11 Comments


Rumah yang bersinar adalah yang di dalamnya buku-buku tertata rapi di rak-rak. Sebaik-baik rak di rumah kontrakan adalah yang menempel di dinding. Tidak banyak memakan tempat (lantai). Tidak menyelipkan debu-debu di lantai sehingga tidak menyulitkan saat menyapu. Jadi, begitulah … Di bawah ini adalah foto-foto proses pembuatan rak buku dan rak setelah rak itu jadi.  « Read the rest of this entry »

Lalu Lahirlah Ilmu

24 January 2011 § Leave a comment


Saya pandangi dengan bangga. Rak-rak itu telah tersusun sempurna, dan buku-buku baru saja tertata. Di sisi kanan adalah buku-buku berbahasa Arab, kebanyakan literatur ilmu keislaman pokok berisi teori-teori rumit. Di antara berjilid-jilid literatur itu, satu mushaf-Al-Quran kecil nyempil. Sebentar saya termenung, kemudian segera teringat kisah Umar ibn Khathab …

Pada suatu malam yang serius, seseorang mengetuk pintu rumah Umar. “Apakah Umar sudah tidur?” tanya orang itu kepada si pembuka pintu. Si pembuka pintu belum sempat menjawab ketika Umar menuju pintu dengan segera dan bertanya kepada orang itu, “Ada apa? Kau ingin mengabarkan kedatangan pasukan Ghassan?”  « Read the rest of this entry »

Asal-usul Ingkar-Mungkir

4 October 2010 § 4 Comments


Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI),

  1. “Ingkar” dan “mungkir” dikategorikan verba.
  2. “Ingkar” diartikan “tidak menepati”, “tidak mau”. Dan “mungkir” diartikan “tidak mengaku(i)”,”tidak setia”, “tidak menepati (janji)”.

Verba atau Nomina?

“Ingkar” dan “mungkir” berasal dari bahasa arab: “inkâr” dan “munkir“. keduanya disebut ism (nomina), dan bukan fi‘l (verba). (Dalam bahasaArab, verba dari keduaya “ankara” dan “yunkiru”).

Inkâr” dan “Munkir

Dalam ilmu sharaf (ilmu tentang turunan kata dalam tata bahasa Arab), “inkâr” adalah ism mashdar atau kata sumber atau kata dasar, dan“munkir” adalah ism fa’il atau “pelaku”, “orang yang … “. Dalam kamus Arab-Indonesia « Read the rest of this entry »

Where Am I?

You are currently browsing entries tagged with Juman Rofarif at Warung Nalar.

%d bloggers like this: