Jenggotnya Panjang, Otaknya Pendek

25 October 2017 § 1 Comment


Saya urung memasukkan kutipan ini ke buku “Al-Hikam Imam Syafii”. Kalimat tersebut tidak bisa dipahami secara lugas dalam sekali baca. Butuh konteks untuk mengerti makna sebenarnya sebagaimana maksud pengucapnya. Alasan tersebut tidak sesuai dengan konsep buku “Al-Hikam Imam Syafii”: buku ini hanya memuat kutipan-kutipan Imam al-Syafii [beserta terjemahannya] yang secara langsung bisa dipahami dan dimengerti maknanya oleh pembaca tanpa butuh paham konteks kutipan. « Read the rest of this entry »

Advertisements

Malaikat Sebagai Anekdot

2 May 2017 § Leave a comment


Dalam literatur klasik tasawuf, khususnya dalam fragmen cerita para nabi atau wali, kenapa malaikat-malaikat kadang digambarkan “sangat profan”, “biasa saja”, “sangat akrab”? Dalam hal ini, Munkar-Nakir dan Malakul Maut Izrail paling banyak menjadi bahan cerita.

Dalam Ihya Ulumiddin, Imam al-Ghazali mengutip kisah tentang Nabi Ibrahim didatangi Malakul Maut yang hendak mencabut nyawa sang Nabi. Tanggapan Nabi Ibrahim kepada malaikat pencabut nyawa itu?

« Read the rest of this entry »

Where Am I?

You are currently browsing entries tagged with ihya ulumiddin at Warung Nalar.

%d bloggers like this: