Iblis Ingin Bertobat

1 August 2011 § Leave a comment


Jika manusia mengalami ketidaktetapan iman: saat suatu ketika ia merasa begitu dekat dengan Tuhan dan pada saat yang lain secara tak sadar ia mengabaikan-Nya, maka iblis pernah lelah dengan pembangkangannya kepada Tuhan. Ia merasa perlu menyudahi permusuhan dengan-Nya. Ia ingin bertobat.

Niat tersebut iblis utarakan kepada Musa, berharap Musa mau membantu. Iblis tahu, hanya Musa yang bisa bercakap-cakap secara langsung dengan Tuhan, seperti yang pernah Musa lakukan saat ia meminta Tuhan menampakkan diri, tapi Tuhan menolak: bukan karena Ia tak mau atau tak mampu, melainkan karena diri-Nya terlalu perkasa untuk « Read the rest of this entry »

Semalam Bersama Cak Nun

21 March 2009 § 1 Comment


Bagai sinetron-sinetron televisi kita, pengusiran Iblis dari surga begitu dramatis. Kecemburuan, pengkhianatan, pembangkangan, dan dendam terkuak dalam tragedi itu.

Tragedi itu bermula ketika Tuhan memperkenalkan anggota “keluarga” baru bernama Adam dalam jajaran kemahlukan. Dalam perkenalan itu, Tuhan meminta kepada semua yang hadir untuk memberikan sujud penghormatan kepada keluarga baru itu. Tak dinyana, permintaan itu diprotes oleh kalangan Iblis. Mereka menolak sujud hormat kepada Adam. Lain hal dengan kalangan Malaikat yang paham perintah tersebut, bahwa sujud itu sejatinya bukan penghormatan kepada Adam, tapi kepada Tuhan sendiri yang telah menciptakannya sedemikian rupa.

“Ada apa, Iblis? Kenapa Kau menolak sujud hormat kepada Adam?”

“Maaf, Tuhanku, apakah adil, jika aku harus sujud kepadanya?!” kata Iblis. “Dia dari tanah dan aku dari api.”

Ternyata praktik narsisme telah bermula sebelum dunia sepenuhnya ada. Dan itu Iblis yang pertama melakukannya. Praktik narsisme dalam arti mencintai diri yang diukur dari kesempurnaan tubuh seraya menafikan keberadaan di luar dirinya. Iblis menyangka, perbedaan materi penciptaan akan berimbas pada derajat kemuliaan diri. Api, dengan karakternya yang gagah menyala, aktif, agresif, selalu ke atas, dan tak mudah dibentuk, seharusnya dipandang lebih mulia ketimbang tanah yang pasif, lemah (“lemah” [bahasa Jawa] artinya “tanah”. Dalam bahasa Indonesia, artinya “tak berdaya”), hanya diam, selalu ke bawah, dan mudah dibentuk tergantung pembentuknya. Barangkali Iblis berasumsi, seharusnya Adam yang sujud hormat kepadanya, selain karena relasi junior yang harus hormat kepada seniornya.

Entah bagaimana kita bayangkan ekpresi wajah Tuhan dalam suasana pembangkangan dan pengkhianatan itu. Yang jelas, setelah itu Tuhan mengusir Iblis. Tuhan mengecap di jidatnya sebagai mahluk sesat, sombong, dan hina.

Kepalang tanggung dicap demikian, Iblis mengajukan permintaan kepada Tuhan.

“Silakan. Apa permintaanmu?”

“Jangan Kau matikan aku sampai hari kiamat. Biarkan aku hidup sampai hari hisab dan hari kebangkitan tiba.”

“Baik. Permintaanmu disetujui.”

Mencengangkan. Setelah tahu permintaannya disetujui Tuhan, di hadapan-Nya, Iblis membeberkan rencana aksinya selama hidup dalam imortalitas di dunia.

“Kepalang tanggung Kau telah hukum aku sebagai mahluk sesat, aku akan konsisten pada jalan kesesatan. Aku akan merebut massa sebanyak-banyaknya untuk ikut jalanku. Aku akan pengaruhi mereka untuk melupakan-Mu, tersesat tak tahu arah menuju jalan lurus-Mu. Imortalitas hidupku di dunia, akan aku habiskan untuk menyesatkan manusia. Lihat saja, Tuhan, Kau bakal saksikan banyak manusia yang tak bersyukur.”

“Pergi, Kau, Iblis hina!”

~

Hampir mustahil saya menemui Cak Nun secara fisik. Untung saya punya ilmu “Sigar Raga”. Pada suatu malam, saya tinggalkan jasad saya yang terbujur tidur di kasur, berharap Cak Nun pun sedang meninggalkan raganya. Saya terbang menembus gelap malam angkasa, lalu sampailah pada dunia antah berantah. Benar saja, Cak Nun sedang kluyuran meninggalkan raga. Saya lihat dia pakai jubah dan bersurban putih, sebagaimana biasa jika tampil bersama Kyai Kanjeng. Saya dekati dia. Mengawali dengan sedikit basa-basi, kemudian berlanjut pada diskusi, termasuk soal tragedi pengusiran Iblis itu.

Tak disangka, ternyata Cak Nun punya hubungan cukup intim dengan Iblis. Kata Cak Nun kepada saya, dia pernah dibisiki oleh Iblis, argumentasi lanjutan kenapa ia tak mau bersujud kepada Adam, kala itu.

Kepada Cak Nun, si Iblis berbisik, “Kami sengaja tidak bersujud kepada Adam, kami minta satu periode zaman saja kepada Tuhan untuk membuktikan argumentasi kenapa kami tidak bersujud kepada Adam. Hari ini aku nyatakan: Tidak relevan Iblis bersujud kepada Adam, karena anak turun Adam sekarang terbukti sangat beramai-ramai dan kompak menyembah Iblis.”

Ramai & Kompak Sembah Iblis

10 January 2009 § Leave a comment


Semua sisi kehidupan kita sudah palsu. Setan bilang kepada saya: “Tidak ada tantangan lagi. Manusia bukan tandingan setan sama sekali. Manusia sangat mudah kami kendalikan. Sangat tidak memiliki kepegasan dan ketahanan untuk mempertahankan kemanusiaanya. Sungguh tidak menarik lagi bertugas sebagai setan…”

Di dalam kita suci disebutkan: “Dan ketika dikatakan kepada malaikat: ‘Bersujudlah kalian kepada Adam.’ Lalu mereka bersujud, kecuali iblis, karena somobong dan lalai…”

Diam-diam setan membisik kepada saya: “Kami sengaja tidak bersujud kepada Adam, kami minta satu periode zaman saja kepada Tuhan untuk membuktikan argumentasi kenapa kami tidak bersujud kepada Adam. Hari ini saya nyatakan: Tidak relevan iblis bersujud kepada Adam, karena anak turun Adam sekarang terbukti sangat beramai-ramai dan kompak menyembah iblis…”

~

* “Nyicil Simpati Kepada Setan” Emha Ainun Najib alias Cak Nun dalam “Jejak Tinju Pak Kiai”.

Where Am I?

You are currently browsing entries tagged with iblis at Warung Nalar.

%d bloggers like this: