Saat Saya Sakit

15 March 2011 § 1 Comment


1

Lantai berlumut yang menjadi licin setelah diguyur hujan sore hari dan sandal yang alasnya sudah tipis adalah kombinasi sempurna untuk musibah yang terjadi secara sederhana: kaki kanan terpeleset membuat saya tak bisa mengendalikan diri lalu terjatuh dengan lutut kaki kanan menghunjam lantai yang keras. Tidak rumit, tapi berakibat fatal. Esok harinya, tukang pijat patah tulang memvonis persendian lutut kaki kiri saya bergeser dari tempatnya, membuat saya tak bisa menekuk dan meluruskan kaki secara sempurna. O, rasa sakitnya tak tertanggungkan. Hari-hari berikutnya adalah masa-masa yang sangat sulit, tapi sepertinya sudah sesuai perhitungan: saya tak pernah jatuh sakit parah yang mengharuskan saya beristirahat total untuk beberapa pekan sampai kemudian saya beristri seorang penyabar. Ada keyakinan yang menguat dalam diri saya bahwa tak ada musibah yang layak menimpa seseorang kecuali sesuai dengan kadar kekuatannya « Read the rest of this entry »

Advertisements

Menjaga Perasaan

27 April 2010 § Leave a comment


dimuat di kolom “Hikmah” Republika, Selasa, 27 April 2010

Termasuk etika dalam bersahabat dan lebih luas lagi dalam bermasyarakat, adalah menjaga perasaan. Bahkan, Rasulullah SAW menjadikan itu sebagai salah satu prasyarat Muslim sejati.

Rasul SAW mengatakan bahwa yang disebut Muslim adalah orang yang mulut dan tangannya membuat orang lain merasa damai. Kata-katanya tidak menyakiti, perilakunya tidak melukai. Dua-duanya menjadi satu-kesatuan utuh untuk membentuk karakter Muslim sejati. « Read the rest of this entry »

Pada Ketenangan Jiwa

25 March 2009 § 2 Comments


Harta adalah harta. Pada dirinya, ia tidak mulia atau hina, baik atau buruk. Ia mati dan manusia menghidupkannya, untuk kemudian berada dalam kendali dan memberi arti atau justru menjadi tuan penguasa diri. Dengan harta, mampukah manusia menjadi hamba yang baik di hadapan Sang Pemilik, atau justru menjadi hamba harta dan mengabdi kepadanya.

Tutur kata Kitab Suci, “innama amwalukum wa auladakum fitnah. Wallahu ‘indahu ajr adzim.” “Harta dan anak-anakmu hanyalah materi ujian bagimu. Hanya di sisi Tuhan pahala yang besar”.

Begitulah hakikat harta dan segala pesona dunia. Sebagai ujian, ia ditimpakan kepada siapa saja, lintas strata, dan tanpa pandang bulu: cendekiawan, pejabat, agamawan, dan siapa pun yang tak terdefinisikan dalam titel dan sebutan. Masing-masing diuji dengan apa yang ada pada mereka. Yang kaya diuji dengan kekayaannya. Yang miskin diuji dengan kemiskinannya. Kekayaan dan kemiskinan bukanlah sesuatu apa. Keduanya hanya instrumen ujian, berada di garis yang sama dengan perbedaan semu.

Tutur Suci di atas tak hanya memastikan harta adalah ujian, namun juga menunjukkan, sesungguhnya harta – juga jenis kenikmatan duniawi lainnya – seberapa pun banyaknya, tidak memiliki nilai sama sekali di hadapan Tuhan. Sebanyak apa pun harta yang dimiliki seseorang, ia tetap kecil di hadapan-Nya dan tidak kekal. Yang bernilai adalah apa yang ada di sisi Tuhan, yaitu ketika harta itu difungsikan dengan tepat, sesuai hak dan kewajiban yang diamanatkan pada harta itu, ketika sebagai intstumen ujian, seorang manusia berhasil lulus dengan baik.

Kesadaran memahami kehidupan dunia sebagai ujian semacam di atas perlu dibangun agar tak ada fitrah kemanusiaan yang tercerabut. Kitab Suci menyebutkan, “Ya ayuhalladzina amanu la tulhikum amwalukum wa auladukum ‘an dzikrillah. Waman yaf’al dzalik, faualaika hum al-khasirun.” ”Wahai orang-orang beriman, jangan sampai harta dan anak-anak yang Kau miliki melalaikanmu dari Tuhan. Siapa yang terlalaikan, itulah orang yang rugi.”

Karena itu, sikap terbaik dalam menjalani hidup adalah zuhud, asketis. Zuhud adalah sikap di mana harta dan kenikamatan duniwai tak menyilaukan mata dan membutakan hati. Sebaliknya, juga tak menjejakkan duka merana ketika segala kenikmatan tersebut dicabut dan tiada.

“Likaila ta’sau ‘ala ma fatakum, wala tafrahu bima atakum,” begitu tersebut dalam Kitab Suci. “Supaya Kau tak berduka pada apa yang telah luput darimu, dan tak terlampau gembira pada apa yang Ia beri untukmu.”

Sikap zuhud mengontrol manusia dari dalam jiwa. Yang hilang tak akan membuatnya meradang. Yang datang tak akan menjadikannya senang bukan kepalang. Sikap zuhud menemani manusia menjalani hidup dengan tenang bersama yang ada, bahkan dengan yang tiada.

“Kekayaan adalah ketenangan jiwa.” Yakni, tenang dengan apa, bagaimana, dan berapa pun yang ada, bahkan tenang ketika yang ada adalah ketiadaan.

Dipertemukan dengan suami yang gagah sekali atau tak gagah sama sekali, dijodohkan dengan istri yang ayu sekali atau tak ayu sama sekali, dikaruniai anak berbakat luar biasa atau biasa saja atau bahkan di luar kebiasaan, dianugerahi kekasih yang menawan sekali atau tak menawan sama sekali, diberi harta banyak sekali atau sedikit sekali, dan sebagainya dan seterusnya, atau bahkan tak dikarunia satu pun di antara semua itu, tetap saja pada akhirnya ada yang lebih ingin dicari dan dimiliki di balik semuanya: ketenangan jiwa.

Sebab, pada ketenangan jiwa, seseorang merasa cukup dan berhenti melakukan pencarian. Meski tak mudah.[jr]

Seluas Apa Hati Sampean?

20 February 2009 § 2 Comments


Ikut kewjiban ritus rutin jumatan tadi, saya benar-benar “terganggu” oleh khutbah sang khatib, yang mengusik kebiasaan saya jika prosesi itu berlangsung: tertunduk khusyuk alias tenguk-tenguk terbelenggu kantuk. Tapi, kali ini tidak. Saya terbius untuk menyimak khutbah itu sampai akhir. Benar-benar tumben!

Pada prolognya, si khatib menyitir surat “alam nasyrah”: Alam nasyrah laka shadrak. Wawadha’naka ‘anka wizrak. Alladzi anqadha dzahrak. Warafa’na laka dzikrak. Fa inna ma’a al-‘usri yusra. Inna ma’a al-‘usri yusra. Faidza faraghta fanshab. Wa ila rabbika farghab…

Selanjutnya, si khatib menyampaikan khutbah denga tema “sekuler”, soal ekonomi. Agaknya, disimak dari penyampaiannya, si khatib paham betul soal perekonomian. Ia berbicara soal krisis yang terjadi di Amerika yang mengglobal, termasuk pengaruhnya terhadap Indonesia saat ini, kemudian membandingkannya dengan krisi yang terjadi di sini tahun 1998.

Indonesia dan beberapa negara Asia lainnya, ibarat anak-anak ayam, dan Amerika adalah induknya sebagai tempat bergantung. Tahun 1998, beberapa negara Asia, termasuk Indonesia, terkena krisis moneter. Jika “anak-anak” terserang penyakit, maka tidak akan berdampak besar pada induknya. Krisis di Indonesia saat itu, tak berdampak pada perekonomian Amerika. Sebaliknya, jika Amerika terkena krisis, maka akan berpengaruh pada negara-negara “anak ayam” semacam Indonesia.

Menjelang akhir “kuliah” ekonomi itu, saya sudah menebak, paling-paling selanjutnya si khatib akan berpesan, di balik kesusahan, kesengsaraan, krisis, tersimpan kemudahan, kelapangan. Setelah itu, selesailah prosesi khutbah. Eh, ternyata saya salah tebak. Si khatib melanjutkan khutbah dengan cerita ini…

Ada seorang murid sedang mumet dengan problem yang menurutnya berat. Lalu, ia meminta saran kepada gurunya. Si guru sufi, tidak memberi solusi langsung. Ia tidak memberi ikan, tapi membekalinya kail.

“Coba, sampean ambil gelas berisi air dan segenggam garam,” kata guru sufi.

“Sampean masukan segenggam garam itu ke dalam gelas berisi air itu. Aduk sampai garam itu benar-benar larut. Setelah itu, coba sampean dulit air itu.”

Si murid pun mengikuti petunjuk guru.

“Bagaimana rasanya?”

“Asin ndlijit tidak ketulung, Guru!” kata si murid.

“Baiklah, sekarang sampean ambil segenggam garam lagi, tapi sampean masukan ke dalam kolam yang lebar di belakang. Lalu sampean aduk sepuasnya. Kemudian, coba rasakan.”

Si murid kembali mengikuti arahan guru.

“Bagaimana rasanya?”

“Tawar, guru. Tidak ada rasa asinya.”

Si guru sufi kemudian menasihati, hidup ini tak pernah lepas dari persoalan. Bapak Adam dan ibu Hawa turun ke bumi pun karena sebuah persoalan. Sejatinya, tidak ada yang disebut persoalan berat atau ringan, besar atau kecil. Ukuran persoalan tak terletak pada dirinya, tapi bagaimana hati kita mengolahnya. Jika hati yang kita miliki cupet, tak cukup lapang dan luas, maka setiap masalah yang kita hadapi selalu akan terlihat besar, terasa “asin dlijit”.

“Bukankah Aku telah lapangkan dadamu?!” kata Allah.

Jiaaangkrik! Anjrit! Atau sampean bisa menerjemahkannya dengan: subhanallah!

Melangkah keluar menjauh dari masjid, saya hanya misuh-misuh terkesima oleh khutbah yang inspiratif itu. Gemanya mengiang-ngiang sepanjang jalan, mengiringi saya menuju ATM, menemani langkah saya ke warung sunda untuk beli sebungkus nasi, terus menerus sampai kost. Sesampainya di kost, saya muncratkan gema yang mengiang-ngiang itu menjadi tulisan ini, setelah sebelumnya melahap makanan sunda dengan komposisi cukup sempurna: telur bulat dengan bumbu yang pating ndlewer, terong oseng, dan tahu oseng. Poko’e, mua’ nyus! kata Bondan Winarno.

Where Am I?

You are currently browsing entries tagged with hikmah at Warung Nalar.

%d bloggers like this: