Sudah Kuingatkan!

30 October 2009 § 1 Comment


Sudah kuingatkan,
berpeganglah erat-erat.
Jangan biarkan dirimu jatuh, Hati!

Sungguh, berpeganglah erat-erat.
Bila jatuh, engkau mudah patah, Hati!

Berpeganglah erat-erat. Sungguh!
Jika patah, engkau akan sakit, Hati!

Sudah kuingatkan!
Sungguh, benar-benar sungguh
sudah kuingatkan.

Berdamailah!

3 August 2009 § Leave a comment


sering kuamati hati
yang iri melihat mata
melampiaskan hasrat.

tak jarang kuperhatikan mata
berderai tangis menyaksikan hati
merunduk khusyuk.

selalu kukatakan:
berdamailah, kalian.
jangan buat hati sakit, mata.
jangan bikin mata sakit, hati.

Ciputat, 2 Agustus 2009

tears

Dialog Mata dan Mati

5 July 2009 § 1 Comment


Kalbu berkata kesal kepada mata,
“Hei, kau telah membuatku gelisah.
Sebagai utusan raga, kau hanya
menangkap dan menyerap penyakit.
Dan, akulah yang menanggung sakit.”

Mata balas berkata,
“Ah, bukankah kau ruang hasrat?!
Dan, aku hanya mengikuti hasratmu.
Justru kau yang sering membuatku
terbuai angan-angan dan keinginan.
Apalah aku ini?!”

Aku memaki keduanya,
“Diam, semuanya!
Kalian pembunuh!”

______________________________
*disadur dari sebuah syair dalam buku “Raudhah al-Muhibbin wa Nuzhah al-Musytaqin” [Taman para Kekasih & Wisata Cinta para Perindu] hal. 91 karya Ibn Qayyim al-Jauziyyah.

Mata Hati

7 June 2009 § Leave a comment


Mata:
Sungguh tak terbayang bagaimana
jika saat itu Tuhan benar-benar kalah oleh hasrat Musa,
kemudian Musa merekam dalam memorinya
wajah Tuhan yang pernah nyata.
Lalu, dari tutur Musa tersebarlah berita rupa
Tuhan di tengah umat manusia,
turun temurun kepada umat selanjutnya,
selanjutnya, dan selajutnya hingga masa ini kita ada.
Maka, tidakkah kau kasihan kepada orang buta?!

Hati:
Syukur, semua itu tak terjadi.
Tuhan Maha Suci.
Ia menolak hasrat Musa dan memilih niskala diri
Tuhan hadir dalam bayang-bayang misteri,
melampaui sekat-sekat nalar, melintas-batasi inderawi,
tak terpaku kaku pada simbol yang pasti,
memungkinkan siapa pun untuk menghayati
sampai pada batas di mana ia merasakan kenyamanan hati.
Maka, kasihanilah orang yang hatinya telah mati.

Ciputat, 7 Juni 2009

Seluas Apa Hati Sampean?

20 February 2009 § 2 Comments


Ikut kewjiban ritus rutin jumatan tadi, saya benar-benar “terganggu” oleh khutbah sang khatib, yang mengusik kebiasaan saya jika prosesi itu berlangsung: tertunduk khusyuk alias tenguk-tenguk terbelenggu kantuk. Tapi, kali ini tidak. Saya terbius untuk menyimak khutbah itu sampai akhir. Benar-benar tumben!

Pada prolognya, si khatib menyitir surat “alam nasyrah”: Alam nasyrah laka shadrak. Wawadha’naka ‘anka wizrak. Alladzi anqadha dzahrak. Warafa’na laka dzikrak. Fa inna ma’a al-‘usri yusra. Inna ma’a al-‘usri yusra. Faidza faraghta fanshab. Wa ila rabbika farghab…

Selanjutnya, si khatib menyampaikan khutbah denga tema “sekuler”, soal ekonomi. Agaknya, disimak dari penyampaiannya, si khatib paham betul soal perekonomian. Ia berbicara soal krisis yang terjadi di Amerika yang mengglobal, termasuk pengaruhnya terhadap Indonesia saat ini, kemudian membandingkannya dengan krisi yang terjadi di sini tahun 1998.

Indonesia dan beberapa negara Asia lainnya, ibarat anak-anak ayam, dan Amerika adalah induknya sebagai tempat bergantung. Tahun 1998, beberapa negara Asia, termasuk Indonesia, terkena krisis moneter. Jika “anak-anak” terserang penyakit, maka tidak akan berdampak besar pada induknya. Krisis di Indonesia saat itu, tak berdampak pada perekonomian Amerika. Sebaliknya, jika Amerika terkena krisis, maka akan berpengaruh pada negara-negara “anak ayam” semacam Indonesia.

Menjelang akhir “kuliah” ekonomi itu, saya sudah menebak, paling-paling selanjutnya si khatib akan berpesan, di balik kesusahan, kesengsaraan, krisis, tersimpan kemudahan, kelapangan. Setelah itu, selesailah prosesi khutbah. Eh, ternyata saya salah tebak. Si khatib melanjutkan khutbah dengan cerita ini…

Ada seorang murid sedang mumet dengan problem yang menurutnya berat. Lalu, ia meminta saran kepada gurunya. Si guru sufi, tidak memberi solusi langsung. Ia tidak memberi ikan, tapi membekalinya kail.

“Coba, sampean ambil gelas berisi air dan segenggam garam,” kata guru sufi.

“Sampean masukan segenggam garam itu ke dalam gelas berisi air itu. Aduk sampai garam itu benar-benar larut. Setelah itu, coba sampean dulit air itu.”

Si murid pun mengikuti petunjuk guru.

“Bagaimana rasanya?”

“Asin ndlijit tidak ketulung, Guru!” kata si murid.

“Baiklah, sekarang sampean ambil segenggam garam lagi, tapi sampean masukan ke dalam kolam yang lebar di belakang. Lalu sampean aduk sepuasnya. Kemudian, coba rasakan.”

Si murid kembali mengikuti arahan guru.

“Bagaimana rasanya?”

“Tawar, guru. Tidak ada rasa asinya.”

Si guru sufi kemudian menasihati, hidup ini tak pernah lepas dari persoalan. Bapak Adam dan ibu Hawa turun ke bumi pun karena sebuah persoalan. Sejatinya, tidak ada yang disebut persoalan berat atau ringan, besar atau kecil. Ukuran persoalan tak terletak pada dirinya, tapi bagaimana hati kita mengolahnya. Jika hati yang kita miliki cupet, tak cukup lapang dan luas, maka setiap masalah yang kita hadapi selalu akan terlihat besar, terasa “asin dlijit”.

“Bukankah Aku telah lapangkan dadamu?!” kata Allah.

Jiaaangkrik! Anjrit! Atau sampean bisa menerjemahkannya dengan: subhanallah!

Melangkah keluar menjauh dari masjid, saya hanya misuh-misuh terkesima oleh khutbah yang inspiratif itu. Gemanya mengiang-ngiang sepanjang jalan, mengiringi saya menuju ATM, menemani langkah saya ke warung sunda untuk beli sebungkus nasi, terus menerus sampai kost. Sesampainya di kost, saya muncratkan gema yang mengiang-ngiang itu menjadi tulisan ini, setelah sebelumnya melahap makanan sunda dengan komposisi cukup sempurna: telur bulat dengan bumbu yang pating ndlewer, terong oseng, dan tahu oseng. Poko’e, mua’ nyus! kata Bondan Winarno.

Where Am I?

You are currently browsing entries tagged with hati at Warung Nalar.

%d bloggers like this: