Cerita Ibnu al-Jauzi Tentang Sunni dan Syiah dan Cerita Gus Dur Tentang NU dan Muhammadiyah

13 October 2018 § Leave a comment


Saya segera teringat tulisan Gus Dur tentang “Tokoh Kiai Sukri” di buku Melawan Melalui Lelucon ketika saya sedang membaca fragmen di pengantar Kitab al-Maudlu’at tentang Ibnu al-Jauzi (w. 597 H) yang ditanya oleh seseorang mengenai siapa yang lebih utama antara Abu Bakar al-Shidiq dan Ali ibn Abi Thalib. Kala itu, kelompok Ahlussunnah dan Syiah di kota Baghdad sedang berseteru: Ahlussunnah menganggap Abu Bakar yang lebih utama; Syiah mengklaim Ali yang lebih utama. Orang-orang Baghdad lalu mengutus seseorang tersebut untuk bertanya kepada Ibnu al-Jauzi. Sebagai tokoh rujukan, jawaban dan tanggapan Ibnu al-Jauzi atas persoalan yang sedang viral itu jelas ditunggu-tunggu untuk jadi legitimasi.

Apa jawaban Ibnu al-Jauzi?

« Read the rest of this entry »

Advertisements

Malaikat Sebagai Anekdot

2 May 2017 § Leave a comment


Dalam literatur klasik tasawuf, khususnya dalam fragmen cerita para nabi atau wali, kenapa malaikat-malaikat kadang digambarkan “sangat profan”, “biasa saja”, “sangat akrab”? Dalam hal ini, Munkar-Nakir dan Malakul Maut Izrail paling banyak menjadi bahan cerita.

Dalam Ihya Ulumiddin, Imam al-Ghazali mengutip kisah tentang Nabi Ibrahim didatangi Malakul Maut yang hendak mencabut nyawa sang Nabi. Tanggapan Nabi Ibrahim kepada malaikat pencabut nyawa itu?

« Read the rest of this entry »

Tanya Jawab Dengan Gus Dur

28 October 2008 § 1 Comment


Question : Gus, Mengapa Demam Berdarah marak di Jakarta ?

Gus Dur : Karena Sutiyoso melarang bemo, becak dan sebentar lagi bajaj. Padahal nyamuk sini cuma takut sama tiga roda.

Q: Mengapa dalam kampanye mereka, parpol-parpol senang membodohi rakyat?
G: Sebab kalau pintar rakyat tak akan pilih parpol-parpol itu. Orang pintar pilih Tolak Angin.

Q: Mengapa kampanye PPP selalu rame?
G: Sebab tiap suami membawa empat istri.

Q: Mengapa sampai kapan pun bulan bintang tak akan menang?
G: Sebab masih ada Matahari.

Q: Gus, Mengapa Anda selalu menutup doanya dengan “inggih, inggih”
G: Saya ndak mau bilang Amin…Amin. .., saya sebel dengan orang itu.

Q: Menurut Anda partai-partai mana saja yang sealiran ?
G: Partai Keadilan Sejahtera, Partai Damai Sejahtera dan Partai Buruh Sejahtera.

Q: Mengapa perilaku PDIP sering disamakan dengan perilaku Golkar?
G: Karena MEGA kan artinya sama dengan AKBAR.

Q: Jabatan apa menurut Anda yang cocok diduduki oleh Amin Rais ?
G: Kepala Bulog. Biar dia seneng ngurusin Rice

Q: Siapakah sebenarnya musuh terbesar PDIP ?
G: Taufik:censored: Kiemas, karena sudah sering dia menggoyang mbak Mega.

Q: Kemaren Anda sudah berkunjung ke SBY, Dimana sekarang SBY berada ?.
G: Yo’ kamu ini piye toh’… SBY dari dulu ada di Jowo Timur.

Q: Gus, Gimana kalau Anda dicalonkan dengan pendamping Anda Akbar Tanjung ?
G: Ogah !!! Takut Bocor !
Q: Bocor kenapa Gus ?
G: ‘ntar mahasiswa naek naek genteng MPR lagi

Islam Tidak Hitam-Putih

23 September 2008 § 1 Comment


Presiden Republik Indonesia (RI) KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur) menyatakan, cara pandang ulama tasawuf atau para sufi atas segala sesuatu tidaklah hitam-putih atau halal-haram sebagaimana ulama fikih. Karenanya, para sufi tidak mudah menyalahkan pihak lain yang berbeda.

“Orang hukum yang begitu (mudah menyalahkan, red). Sufi ya tidak begitu. Kita harus rendah hati. Mungkin justru kita yang keliru. Itu yang harus kita lakukan.”

Demikian disampaikan Ketua Umum Dewan Syura DPP Partai Kebangkitan Bangsa itu saat menjadi narasumber pada acara Kongkow Bareng Gus Dur di Green Radio Jl. Utan Kayu 68H Jakarta, Sabtu (13/09/2008). Hadir juga Pemimpin Redaksi Cahaya Sufi KH. Lukman Hakim.

Gus Dur mengingatkan, supaya umat Islam tidak melihat sesuatu secara hitam-putih. Namun diakuinya, hingga saat ini umat Islam masih belum beranjak dari cara pandang banner ini. “Ini yang menyebabkan umat Islam menjadi galak,” tegas Gus Dur.

Karena itu, Gus Dur menghimbau umat Islam untuk terus belajar dan belajar berbagai bidang ilmu keagamaan. Tidak hanya mempelajari fikih, namun juga mendalami tasawuf. “Islam itu tidak hanya satu bidang saja,” ungkapnya mengingatkan.

KH. Lukman Hakim menyatakan, sufi adalah sosok yang senantiasa mengamalkan ayat udkhulu fi al-silmi kaffah (masuklah dalam perdamaian secara total). “Ini perilaku yang mesti kita lakukan, sebagai kontribusi perdamaian dan pangkal pencerahan,” ungkapnya.

Prinsip ini meniscayakan para sufi menyebarkan dakwahnya dengan damai dan tanpa pemaksaan, apalagi kekerasan. Kiai Lukman – sapaan akrab KH. Lukman Hakim – karenanya mengritik sekelompok umat Islam yang merasa benar sendiri lantas memaksakan “hidayah” yang menjadi otoritas Allah SWT pada kelompok lain yang dinilainya “salah”.

“Itu (hidayah, red.) kan urusan Allah SWT. Jika dipaksakan, ini bisa menjadi pemicu konflik,” katanya kuatir.

Bagi Kiai Lukman, surga juga bukan monopoli kelompok muslim belaka. Menukil Abdul Karim al-Jili (w. 832 H) dalam karyanya al-Insan al-Kamil fi Ma’rifah al-Awakhir wa al-Awa’il, ia menyatakan Ahli al-Kitab juga ada yang masuk surga. Ini, katanya, berkat munajat Nabi Isa AS. Dalam al-Qur’an disebutkan, Isa bermunajat: fa in tu’adzdzibhum fainnahum ibaduk fa in taghfir lahum fainnaka azizun hakim (Jika Engkau menyiksa mereka, itu hamba-MU juga. Jika Engkau mengampuni mereka, maka Engkau Maha Besar dan Maha Bijaksana.

“Berkat munajat Nabi Isa ini, nanti ada umatnya yang diampuni dan masuk surga. Karenanya, kita tidak boleh mudah menghukumi (seseorang masuk surga atau neraka, red.),” harapnya.

Kiai Lukman juga menyentil kelompok spiritual yang disebutnya instan. Dalam bahasa Imam al-Ghazali (w. 505 H), katanya, kelompok ini disebut spiritual nafsani atau syahwati. Mereka berlaku spiritual, misalnya, karena unsur politis, pamrih duniawi dan atau motivasi lain selain Allah SWT.

“Umat Islam tidak boleh terjebak pada aspek yang sifatnya instan nafsu. Ini memudahkan perilaku spiritual umat Islam rentan pada pertarungan kebudayaan dan pluralistas. Akibatnya, secara psikologis ini memudahkan yang tidak sama dianggap salah,” ujarnya.

*Kliping diculik dari sini.

Menjaga Keseimbangan NU

24 July 2008 § 1 Comment


Oleh Rumadi (Peneliti The Wahid Institute, Dosen Fak. Syariah dan Hukum UIN Syarif Hidayatullah Jakarta)

SETELAH Muktamar Nahdlatul Ulama (NU) ke-30 tahun 2004 lalu, banyak kalangan menengarai bahwa bandul gerakan NU semakin bergeser ke kanan. Hal itu antara lain ditandai dengan semakin menguatnya arus konservatif dalam tubuh NU dan semakin jauhnya kader-kader kritis NU dari arus struktur NU. Ketika mendapat kritikan itu, Hasyim Muzadi (HM), Ketua Umum PB NU, menjawab dengan sangat diplomatis: bukan NU bergeser ke kanan, tapi karena selama ini terlalu lama berada di kiri, sehingga bergeser ke tengah dianggap ke kanan.

Kala itu, meski dengan berat hati saya masih bisa menerima. Saya berpandangan ini cara HM untuk membuat keseimbangan baru di tubuh NU. Harus diakui, ketika HM menjadi Ketua Umum PB NU sejak 1999, pengaruh Gus Dur sangat kuat. Pelan-pelan dia mulai menggeser pengaruh Gus Dur di tingkat pengurus cabang dan wilayah NU. HM cukup sukses melakukan hal ini. Bukan hanya menggeser orang-orang yang dianggap Gus Dur-ian, tapi juga anasir-anasir pemikiran Gus Dur mulai dipinggirkan. Sekarang ini, di tingkat pengurus cabang dan wilayah pengaruh HM cukup kuat, menggeser pengaruh Gus Dur. Hal ini antara lain bisa dilihat dari kuatnya dukungan pengurus cabang dan wilayah pada HM dalam Muktamar ke-30 lalu.

Setelah HM berhasil menggeser pengaruh, dia mulai berani secara terbuka beroposisi dengan Gus Dur. Dalam berbagai isu-isu penting, HM dan Gus Dur nyaris selalu berbeda pendapat. Bahkan, ada kawan yang berkomentar, HM sudah sampai pada taraf “asal beda” dengan Gus Dur. Dalam konteks kebangsaan, mereka berdua memang masih dalam satu suara tentang NKRI dengan Pancasila sebagai dasar negara sudah final. Tidak ada keharusan mendirikan negara Islam di Indonesia. Namun, derivasi dari masalah kebangsaan ini masing-masing punya cara pandang sendiri.

Dalam kaitan itu, tulisan ini ingin menfokuskan pada isu penting, yaitu soal penyikapan atas isu-isu keagamaan mutakhir, terutama menyangkut kekerasan atas nama agama. Sikap atas tragedi Monas bisa menjadi titik masuk.

Isu Kekerasan Agama
Sample terbaik untuk mengulas masalah ini adalah penyikapan atas tragedi Monas 1 Juni lalu. Dalam kasus ini Gus Dur dapat disebut sebagai tokoh terdepan untuk melawan anarkhisme Front Pembela Islam (FPI). Bahkan Gus Dur berteriak kencang agar keberadaan organisasi FPI ditinjau ulang. Gus Dur juga mengutuk keras aksi kekerasan di Monas dimana beberapa putra terbaik NU menjadi korban. Karena sikap Gus Dur ini, Rizieq Sihab, pemimpin FPI, mengeluarkan “lidah api”-nya dalam sebuah dialog di tv swasta dengan mengatakan Gus Dur tidak tahu apa-apa karena dia orang yang buta mata dan buta hati (3/6/08). Karena ucapan ini, kantong-kantong NU yang masih setia dengan Gus Dur bergerak dimana-mana mendesak agar FPI dibubarkan.

Karena itu, kalau boleh saya simplifikasi, penyikapan atas tragedi monas bisa menjadi sedemikian massif, terutama di wilayah Jawa, setidaknya karena dua hal: pertama, karena yang menjadi korban sebagian adalah aktifis-aktifis muda NU; kedua, karena faktor Gus Dur, terutama ucapan Rizieq Sihab yang menyakitkan itu. Saya yakin, kalau tidak ada faktor ini, tidak akan ada gerakan kantong-kantong NU melawan FPI.

Hal yang paling menarik di tengah situasi itu adalah sikap HM. Dalam konferensi pers beberapa hari setelah tragedi Monas dia mengatakan agar korban tragedi Monas tidak dikait-kaitkan dengan warga NU. Dia juga minta agar warga NU tidak dijadikan umpan untuk bertempur melawan FPI. Alih-alih memberi simpati kepada warga NU yang menjadi korban dan menghujat FPI, HM dalam pernyataan-pernyataannya justru lebih condong memberi dukungan kepada FPI. Pernyataan demikian berulang kali dia ucapkan dalam berbagai kesempatan.

Bahkan, dalam sebuah situs internet diberitakan PB NU mengirim tim yang tergabung dalam Lembaga Penyuluhan dan Bantuan Hukum (LPBH) NU untuk membela Rizieq Sihab. “LPBH-NU ikut sebagai bagian tim hukum yang sudah ada untuk mendampingi dan membela Habib dalam perkaranya,” kata Ketua LPBH NU Sholeh Amin saat menjenguk Rizieq di Rutan Narkoba, Polda Metro Jaya (www.detik.com 9/6/2008). Sejauh ini belum ada bantahan atas berita tersebut, meskipun lewat SMS saya mendapat informasi, HM minta kepada Sholeh Amin agar menjadi pembela Rizieq atas nama pribadi, bukan atas nama NU.

Akibat sikap HM ini, sikap masyarakat NU yang sudah geram dengan FPI akibat tindakan-tindakan anarkhisnya mulai terbelah. Sebagian besar pengurus struktural NU mulai termakan dengan ucapan HM. Tragedi Monas dianggap sebagai skenario kelompok sosialis untuk membenturkan NU dengan FPI. Karena mendapat angin dari HM ini, FPI di Jatim yang sudah tertekan merasa mendapat angin. Bahkan, FPI Jember yang sudah membubarkan diri dihidupkan lagi dan mendapat support dari seorang tokoh NU Jakarta yang sengaja datang ke Jember. Demikian juga dengan FPI di Madura yang justru semakin berani “menantang” karena angin HM ini.

Sikap ini sungguh sulit diterima akal sehat. Saya tidak melihat alasan apapun dari sikap HM ini kecuali hanya ingin sekedar beda dengan Gus Dur. Anak-anak muda NU yang menjadi korban tragedi Monas dikenal sebagai aktifis yang dekat dengan Gus Dur. Harus diakui juga, gerakan massif di berbagai daerah adalah kantong-kantong pendukung Gus Dur. Sebelum simpati terhadap Gus Dur menggelinding semakin besar, tidak ada pilihan lain bagi HM kecuali harus menghambatnya. Daripada sejalan dengan Gus Dur, HM lebih memilih simpati dan “mendukung” FPI.

Menurut saya, hal ini merupakan degradasi sikap ke-NU-an yang luar biasa atas kelompok yang gemar mengumbar kekerasan. HM telah mendevaluasi kehormatan NU sebagai organisasi sosial keagamaan yang dikenal moderat. Klaim Islam moderat dan rahmatan lil alamin yang dikampanyekan HM ke mana-mana seolah runtuh karena sikapnya ini. Posisi dia sebagai Presiden World Conference on Religion and Peace (WCRP) sama sekali tidak tercermin.

Bukan hanya soal tragedi Monas, dalam isu-isu yang lain seperti soal Ahmadiyah, RUU Anti Pornografi dan sebagainya, NU di bawah HM seolah menari dalam irama yang ditabuh “Islam kanan” yang dikomandani MUI. NU menjadi sering dijadikan legitimasi gerakan kelompok-kelompok fundamentalis. Tidak bisa diingkari, dalam tragedi Monas ini, PB NU tampak menjadi fundamentalis. Justru Muhammadiyah lebih kelihatan moderat.

Situasi demikian tidak bisa dibiarkan. Harus dipikirkan bagaimana menjaga kesimbangan NU, bukan hanya dalam pemikiran, tapi juga dalam gerakan praksis-nya. Dalam konteks ini ada beberapa hal yang bisa dilakukan. Pertama, NU harus meneguhkan kembali sikapnya sebagai Islam moderat. Bukan hanya dalam retorika, tapi harus dibuktikan secara konkrit. Kedua, pemimpin NU harus menjauhkan diri dari sikap “asal beda” dengan orang yang dianggap sebagai lawannya. Sikap asal beda ini sebenarnya menunjukkan bagaimana kualitas kepemimpinan seseorang, dan kita sulit mempercayai seorang pemimpin yang mempunyai karakter demikian. Ketiga, sudah saatnya, kader-kader NU di berbagai lapisan mulai memikirkan mencari figur pemimpin yang berani “pasang badan” untuk menjaga kehormatan NU.

*Artikel diboyong dari sini. Just click!

Nasionalisme & Politik Islam

18 July 2008 § Leave a comment


Oleh KH Abdurrahman “Gus Dur” Wahid

Beberapa waktu lalu penulis artikel ini ditanya orang, apakah yang akan terjadi dengan gerakan- gerakan politik Islam di negeri kita. Penulis artikel ini menyebutkan apa yang dinyatakan Soetrisno Bachir dari Partai Amanat Nasional (PAN) tentang hal ini. Dia menyebutkan bahwa berdasarkan hasil-hasil survei belakangan, organisasi sektarian akan semakin kurang diminati orang dalam pemilu yang akan datang. Karena itu, PAN sudah menentukan akan mengambil dasar-dasar nonsektarian dalam kiprahnya. Ini adalah kenyataan lapangan yang tidak dapat dibantah. Hal tersebut memperkuat kesimpulan penulis artikel ini bahwa memang mayoritas para pemilih dalam pemilu di negeri kita tidak mau bersikap sektarian.

Penulis artikel ini sendiri sudah tidak mengakui klaim bahwa mayoritas penduduk berpikir sektarian. Nama Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) itu sendiri menunjukkan hal itu. Bagaimana penulis sampai pada kesimpulan tersebut? Karena penulis setia melihat kenyataan, yaitu bahwa Nahdlatul Ulama (NU) memang tidak lagi menawarkan diri kepada publik sebagai organisasi sektarian. Walaupun sejak semula ia menggunakan bahasa Arab, NU senantiasa merujuk kepada hal-hal nonsektarian. Contohnya pada 1918 ia menamakan diri Nahdlatu al-Tujjar (kebangkitan kaum pedagang), sama sekali tidak digunakan kata Islam.

Begitu juga pada 1922, ketika para ulama itu mendirikan sebuah kelompok diskusi di Surabaya dengan nama Tasywir al- Afkar (konseptualisasi pemikiran). Tahun 1924, didirikanlah madrasah Nahdlatul Wathan (Kebangkitan Tanah Air). Pada 19 57, NU mengadakan musyawarah nasional alim ulama di Medan yang menghasilkan rumusan tentang presiden Republik Indonesia. Dalam rumusan tersebut, pemegang jabatan dipandang sebagai waliyyul amri dharuri bi al-syaukah (pemegang pemerintahan darurat dengan wewenang efektif).

Presiden dikatakan “waliyyul amri” karena ia memang memegang pemerintahan, yakni di zaman Presiden Soekarno (dan sampai sekarang pun masih demikian). Dikatakan Dharuri (untuk sementara) karena secara teoretis kedudukannya tidak memenuhi persyaratan sebagai imam/pemimpin umat Islam. “Bi al-Syaukah “karena memang pemerintahannya bersifat efektif.

Dengan demikian, tiap-tiap kali akan diadakan pemilihan presiden, para ulama harus menetapkan apakah sang calon memenuhi ukuranukuran bagi imam sesuai hukum agama Islam. Pada 1978, Rais Am Partai Persatuan Pembangunan (PPP) KH M Bisri Syansuri mengirimkan delegasi ke rumah mendiang Soeharto di Jalan Cendana dengan tugas menanyakan tujuh buah hal. Jika Pak Harto menjawab dengan empat buah hal saja yang benar, ia sudah layak dicalonkan PPP sebagai presiden. Tetapi KH M Masykur, HM Mintareja,dan KH Rusli Chalil (Perti) ternyata tidak menanyakan hal itu,melainkan bertanya bersedia atau tidak Pak Harto menjadi calon presiden dari PPP?

Sementara Harsono Tjokroaminoto tidak turut delegasi tersebut karena sudah melarikan diri dari tempat rapat, rumah KH Syaifuddin Zuhri di Jalan Dharmawangsa. Ketika penulis tanyakan kepada beliau bagaimana KH M Bisri Syansuri sebagai Rais Am PPP memandang hal ini, dijawab: beliau adalah salah seorang ulama yang sudah menetapkan policy berdasarkan aturan fikih.Dipakai atau tidak adalah tanggung jawab para politisi. Mereka akan ditanya Allah SWT di akhirat nanti.

Di sini tampaklah ketentuan yang dipegangi beliau bahwa ada beda antara orang yang menggunakan fikih dan menggunakan pertimbangan-pertimbangan akal belaka. Hal inilah yang membuat PPP menjadi partai yang sesuai bagi NU di masa itu. Namun, sekarang hal itu sudah tidak berlaku lagi karena PPP sudah digantikan oleh PKB. Kalau hal ini tidak disadari orang, akan terciptalah klaim yang tidak berdasarkan fakta nyata.

Akan tetapi perjuangan menegakkan demokrasi, termasuk memberlakukan ketentuan-ketentuan fikih dan kaidah-kaidah moral dalam kehidupan PKB, juga bukan tugas yang ringan. Dewasa ini Dewan Pimpinan Pusat Partai Kebangkitan Bangsa (DPP PKB) tengah mengadakan penertiban di segala bidang untuk menghadapi pemilihan umum dua tahun lagi. Dalam penertiban tersebut ada empat puluh kepengurusan PKB di tingkat provinsi dan kabupaten dibekukan dengan menunjuk caretaker (kepengurusan sementara).

Setelah itu akan dilakukan musyawarah-musyawarah dewan pengurus wilayah (DPW) pada tingkat provinsi dan dewan pengurus cabang (DPC) pada tingkat kabupaten/kota. Sikap ini diambil untuk menghasilkan sebuah proses yang bersih, serta menurut anggaran dasar dan anggaran rumah tangga partai dalam rangka pelaksanaan demokratisasi di negeri kita. Kalau ini tercapai, berarti PKB akan merintis jalan baru bagi bangsa dan negara. Sudah tentu kerangka yang dibuat itu tidak akan mencapai hasil apa-apa jika tidak disertai orientasi dan arah pembangunan bangsa dan negara yang benar.

Selama ini, pembangunan nasional kita hanya bersifat elitis, yaitu mementingkan golongan kaya dan pimpinan masyarakat saja. Sejak 17 Agustus 1945, pembangunan nasional kita sudah berwatak elitis. Apalagi sekarang, ketika kita dipimpin orang yang takut pada perubahan-perubahan. Tentu sudah waktunya kita sekarang mementingkan kebutuhan rakyat dalam orientasi pembangunan nasional kita. Kebutuhan dasar kita sebagai bangsa dan negara menghendaki kita mampu memanfaatkan segenap kekayaan alam sendiri beserta keterampilan berteknologi untuk kepentingan bangsa dan negara.

Untuk ini kita harus sanggup membagi dua pembangunan kita; di satu pihak perdagangan bebas (termasuk globalisasi) yang berdasarkan persaingan terbuka. Di pihak lain kita memerlukan usaha publik untuk memenuhi kebutuhan rakyat yang ditetapkan oleh Pasal 33 UUD 1945. Tugas yang sangat berat, bukan?!

*KH. Abdurrahman Wahid, Ketua Umum Dewan Suro DPP PKB

Sumber: Seputar Indonesia, Senin, 18 Februari 2008

kliping artikel ini diculik dari sini

FPI Yahudi

7 July 2008 § 14 Comments


Simpel, padat, dan cukup terang jika dilirik mata. Tulisan warna putih itu tercoret di aspal jl. Ir H. Juanda yang menjalur antara Pasar Jumat dan pasar Ciputat, tepatnya di mulut salah satu gang yang ada di jalur itu.

Saya yakin benar coretan tersebut memang terbaca seperti itu adanya, setelah sekian kali meyakinkan. Dan mungkin bisa dipastikan “FPI” yang dimaksud adalah “Front Pembela Islam”. Barangkali itu mewakili persepsi pencoretnya terhadap organisasi itu. Persepsinya FPI adalah Yahudi itu bisa jadi atas dasar aksi brutral FPI tepat 1 Juni lalu di Monas. Sebab, “opini jalanan” (karena letaknya memang di jalan) itu tiba-tiba saja ada beberapa hari setelah aksi brutal itu. Saya menduga, coretan itu dibikin pada malam hari. Jalur menuju pasar Ciputat dari Pasar Jumat yang selalu padat di selain malam hari, bisa jadi adalah alasanya. Tak mau meninggalkan resiko diketahui siapa pun termasuk anggota FPI sendiri, mungkin jadi alasan lain

Jika harus dicoretkan di jalan raya padat, bukan ditembok, spanduk, atau di media massa, barangkali media-media itu cukup terhormat bagi orang-orang yang enggan menghormati orang lain, pantas diletakkan di bawah dan biarlah para pengguna jalan ramai-ramai menginjaknya. Begitu, kalau boleh “menafsirkan” opini jalanan si pencoret iseng itu.

Yang masih belum jelas, dari jalur mana dia menemukan jalan sehaluan FPI-Yahudi, sendi-sendi apa yang mendasarkan FPI-Yahudi identik, kenapa FPI harus bersanding Yahudi. Jika tidak pula terang alasannya, menduga saja, pencoret mungkin gerah dan geram terhadap ulah FPI, sebagaimana ia pun gerah dan geram pada ulah Israel – yang diidentikkan Yahudi – terhadap Palestina.

Ah, apa pun yang dimaksud si pencoret itu dengan coretannya, bagi saya, ada pertanda baik dalam diri pencoret tersebut. Pertanda baik, dalam arti, ada keinsafan memahami Islam dan atribut keislaman. Dia telah insaf dan tak lagi tersilap oleh jubah, surban, celana gantung atau atribut Islam superfisial lainnya.

Bagaimana tidak dikatakan insaf; sekelompok orang mendirikan sebuah organisasi yang mengkhususkan membela Islam dan tentu saja mereka Islam, tapi karena kelakuannya sendiri, orang tak lagi sungkan, dan barangkali dengan kesal, mengatakan organisasi itu tidak seperti Islam, dan dengan kurang tepat disepertikan Yahudi. Pada titik penyepertian semacam itu saya kurang sependapat, dan bukan itu titik insafnya.

Jika ada sekelompok orang yang beratribut superfisial semacam di atas, kemudian dengan mengatasnamakan bela agama, melakukan tindakan anarkis, mencelakai yang lain atau melanggar aturan kepatuhan bersama, orang tak lagi serta merta silap mata bahwa itu bagian dari ekspresi beragama sesungguhnya. Inilah titik insaf dimaksud yang bisa disarikan dari coretan iseng tersebut. Mungkin saja dalam benaknya ada titik insaf semacam itu, hanya saja ia salah tingkah.

Bagi saya, ironis, jika masih ada yang terkesima oleh manipulasi “baju”. Yang fatal dari terkesima adalah kecenderungan membela dan membenarkan siapa pun yang memakai “baju” itu, meski tindak tanduknya tidak dibenarkan, merugikan dan bahkan mencelakakan.

Lebih ironis lagi, juga naif, justru jualan “baju” menjadi niaga yang kerap diminati, dan agama adalah “model baju” terlaris dan termenarik untuk mengikat emosi dan mendulang simpati, atensi, atau bahkan provokasi. Barangkali itu bisa dipahami, sebab legitimasi agama adalah Tuhan. Agama, setitik pun tak boleh dinodai. Menodai agama berarti mencemarkan nama baik Tuhan. Karakter Tuhan yang serbamaha, justru sang manusia sendiri yang acapkali sensitif dan mudah tersinggung dengan apa pun yang dianggap menodai ke-maha-anNya, walau setitik, sehingga perlu dibela, lahir dan batin.

Kurang lebih kondisi semacam ini yang menjadi keberangan Sarjana X – karakter dalam “Tuhan Tidak Perlu Dibela” yang pernah ditulis Gus Dur, 26 tahun lalu di majalah Tempo – yang seolah mendapatkan pencerahan setelah bertemu dan mendapat wejangan dari guru tarekat.

“Allah itu Mahabesar. Ia tidak memerlukan pembuktian akan kebesaran-Nya. Ia Mahabesar karena Ia ada. Apa yang diperbuat orang atas diri-Nya, sama sekali tidak ada pengaruhnya atas wujud dan kekauasaan-Nya. Allah tidak perlu disesali jika “menyulitkan” kita. Juga tidak perlu dibela kalau orang menyerang hakikat-Nya. Yang ditakuti berubah adalah persepsi manusia atas hakikat Allah, dengan kemungkinan kesulitan yang diakibatkannya.”

Barangkali wejangan semacam itu menjadi nilai bagi sebagian orang, dan berhenti sekedar menjadi bacaan, bagi sebagian yang lain. Jika Sarjana X, pada 26 tahun lalu, telah mendapatkan pencerahan atas keberangannya, maka keberangan-keberangan yang sama akan tetap menghinggapi sebagian orang – contohnya, ya, si pencoret iseng itu – seiring dengan tetap adanya para pembela Tuhan yang siap melakukan apa saja, dengan cara apa saja, dan kepada siapa saja.

Jika Sarjana X telah mendapatkan jawaban memuaskan atas keberangannya, maka pencoret iseng telah melek bagaimana mengidentifikasi “baju Islam” yang tepat, meski dengan ekspresi yang masih perlu dikoreksi.

NB: “FPI Yahudi” sudah tidak ada lagi, terlindas aspal baru. Jl. Ir H. Juanda itu telah diperbaiki, bukan karena ada tulisan itu. Tapi karena jalur tersebut yang memang bregajulan.

Where Am I?

You are currently browsing entries tagged with gus dur at Warung Nalar.

%d bloggers like this: