Tentang Perempuan; Mayoritas Tapi Minoritas

25 May 2008 § 1 Comment


ADA pertanyaan terlontar perihal perempuan, “Mengapa dalam dominasi kuantitasnya, perempuan (secara umum) minoritas dalam kualitas (peranan), ketimbang laki-laki?”

Ini realita, terjadi dalam berbagai hal, dalam ranah struktural maupun kultural, dari tingkat kelurahan sampai parlemen. Dalam komunitas yang terbuka untuk laki-laki dan perempuan, hampir peran laki-laki selalu mendominasi. Kalaupun ada peran perempuan yang dominan, itu sedikit dan terjadi dalam komunitasnya sendiri dan dalam masalah ‘kewanitaan’.

Data Inter-Parliametary Union 2002 menunjukan rendahnya keterwakilan perempuan dalam politik di Indonesia. Angkanya baru sekitar sembilan persen. Sesuai dengan prinsip keterwakilan dalam demokrasi, maka bila jumlah perempuan di Indonesia lebih dari 50 persen, tidak layak bila hanya diwakili oleh kurang dari 10 persen.

Dalam Pemilu 2004 lalu, kuota untuk perempuan di parlemen ditambah menjadi 30 persen. Namun, tetap saja angka itu adalah kecil bila ketimbang jumlah perempuan Indonesia. Bandingkan dengan kuota untuk laki-laki di parlemen. Dengan jumlah laki-laki yang kurang dari 50 persen (dari jumlah penduduk keseluruhan), mereka mendapat kuota 70 persen! Dan ironisnya, walaupun kuota untuk perempuan dalam parlemen ditambah menjadi 30 persen, tapi seolah-olah tidak ada kesungguhan untuk benar-benar menambah jumlah kursi untuk perempuan dalam parlemen. Sebab, ternyata caleg-caleg perempuan ditempatkan di nomor sepatu, bukan nomor jadi.

Itu baru satu contoh yang paling kongkrit. Dalam institusi pendidikan, misalnya, berapa jumlah dosen perempuan (menunjukan kualitas intelektual). Berapa persen jumlah mahasiswi di dalam ruang kelas (menunjukan minat perempuan dalam intelektualitas). Dalam instistusi pemerintahan, pendidikan, perusahaan, atau badan struktural lainnya, hampir seluruhnya laki-laki-lah yang memegang posisi strategis.

Secara umum, sebenarnya jawaban dari persoalan di atas mudah; minoritasnya SDM perempuan. Di samping kendala kultural dan struktural, memang ada beberapa faktor ‘alamiah’ dan kodrati yang ‘menuntut’ perempuan untuk tidak bisa bergerak dan berperan seleluasa laki-laki. Untuk yang terakhir bisa dimaklumi dan wajar. Tapi, hal tersebut sebenarnya tidak menjadi soal. Terbukti dengan adanya sosok-sosok perempuan yang menasional. Tapi, sekali lagi, yang seperti mereka hanya sedikit.

Keluar dari faktor-faktor kodrati, sesungguhnya (ini perlu disadari) ada faktor ‘kesengajaan’ yang menghambat peran kualitas intelektual perempuan. Faktor kesengajaan itu adalah di mana perempuan-perempuan telah di-setting agar tidak berperan dan cenderung dijadikan ‘objek’. Perempuan ditempatkan sebagai objek untuk dieksploitasi secara seksual. Perempuan dinobatkan sebagai bidadari jelita yang dipertontonkan, dipersembahkan, dan diperebutkan untuk semua orang, dengan keindahan fisik yang dimilikinya. Kita seharusnya tersinggung dan marah dengan hal itu, ketika yang dihargai dari perempuan adalah bibirnya, dadanya, pahanya, pinggulnya, bokongnya, rambutnya, bodynya. Kita seharusnya marah, kenapa bukan otaknya yang dihargai. Ini penghinaan! Tidak manusiawi!

Siapakah yang paling berperan dalam ‘pengobjekkan’ perempuan? Media massa. Perkembangan media massa beserta segala perangkat komunikasi saat ini memang menjalankan proses ‘pengobjekkan perempuan’. Selain media massa, (sebetulnya) jangan-jangan perempuan-perempuan itu sendiri, secara bawah sadar merelakan pengobjekkan itu, dan dengan sendirinya ia telah berperan dalam pengobjekkan dirinya sendiri, karena merasa pengobjekkan tersebut memberikan keuntungan bagi dirinya. Atau, jangan-jangan, tanpa disadari, kita pun melakukan pengobjekan tersebut, dan diam-diam menikmatinya.

Pengobjekkan adalah penghinaan, bukan hanya bagi perempuan sendiri, tapi bagi kemanusiaan secara keseluruhan. Sebagai mahluk yang dikaruniai otak dan akal yang membedakan dengan mahluk lainnya, tidak sepatutnya manusia menjadi objek. Otak (akal) yang merupakan karunia paling istimewa untuk manusia dan tidak dimiliki mahluk lain, tapi juteru banyak yang tidak merasa istimewa dengannya. Dan akan merasa istimewa dan terpandang oleh selainnya, merasa istimewa oleh kulit mulus, bibir seksi, dada menggunung, pinggul menggitar, yang notabene organ-organ tersebut juga dimilki oleh mahluk selain manusia. Mengistimewakan organ tubuh manusia tidaklah manusiawi. Yang manusiawi adalah mengistimewakan yang hanya dimiliki oleh manusia, dan tidak dimiliki oleh mahluk lain, yaitu otak alias akal. Karena di situlah hakekat kemanusiaan manusia (hayawan natiq).

Inilah tantangan bagi aktivis emansipan, aktivis perempuan dan aktivis gender untuk mengembalikan perempuan (dan kemanusiaan secara keseluruhan) ke dalam ‘habitat’ asalnya sebagai mahluk berotak dan berakal, sebagai mahluk yang dihargai karena akalnya, sebagai mahluk yang diperebutkan karena SDM-nya, bukan karena bodynya. Itulah seharusnya, sebelum mereka berteriak keras tentang emansipasi (di segala bidang). Bukan berteriak-teriak emansipasi tanpa melihat kualitas yang diperjuangkan (perempuan itu sendiri), sehingga yang terjadi adalah memaksakan emansipasi dan akhirnya menghasilkan emansipasi yang tak berkualitas.

Emansipasi peran laki-laki dan perempuan akan berjalan secara kultural, jika intelektualitas, yang merupakan jembatan ke arah itu, menjadi ukuran dan dihargai. Pengobjekkan perempuan akan sirna, jika yang dihargai adalah otaknya.

Jadi, mengapa terjadi minoritas peran perempuan?

Objek Seks

3 April 2008 § 3 Comments


oleh Juman Rofarif

img_0412bjklbhkbjklllnk.jpg

Saya tidak menganjurkan Anda membeli majalah Male Emporium (ME), X Men’s Magazine, Popular, FHM, dan Maxim, dan majalah sejenis, atau membuka situs worldsex.com, lalatx.com, penthouse.com, playboy.com, atau searching di google dengan keyword “bugil”, “telanjang”, “bokep”, “seks”, “sex”, dan seterusnya dan seterusnya…

sex-workers1.jpg

Terlepas setelah Anda membeli, membuka, dan melihat apa yang tidak saya anjurkan tersebut, Anda betah menikmati walaupun mengingkari, atau mengingkari tapi ingin menikmati, menikmati tidak mengingkari, atau tidak menikmati sekaligus mengingkari, yang jelas ada satu hal yang ketara (paling tidak menurut saya), yaitu objekisasi perempuan sebagai simbol seks. Suka tidak suka, yang namanya objek seks adalah perempuan. Sebagai objek, perempuan hanya dihargai karena kemolekan body-nya. Ia diposisikan sebagai objek untuk dieksploitasi secara seksual. Perempuan tak ubahnya (dijadikan) seperti kambing; mahluk tak berpikir yang dihargai karena kelezatannya. Jangan harap dalam majalah-majalah cabul atau situ-situs cabu tersebut akan ditemukan banyak model pria dengan pose telanjang. Alasannya simpel: karena tentu saja pria tidak laku dan tidak akan menarik dijadikan objek seks.

Ironisnya, sadar atau tidak, (sebagian) perempuan sendiri terlibat dalam objekisasi dirinya. Mereka bangga menjadi model telanjang untuk sebuah majalah demi obsesi popularitas dan titian karir. Menguntungkan, memang. Karenanya menjadi idaman perempuan yang terobsesi menjadi model. Pelabelan “majalah khusus pria dewasa”, “adult only”, semakin menguatkan fenomena objekisasi tersebut. Dan media massa, cetak maupun elektronik, adalah alat yang paling bertenggung jawab dalam masalah ini. Sebagai penikmat, laki-laki juga seharusnya menjadi pihak lain yang dipersalahkan bukan?! Bukankah sebuah produk tidak bisa eksis tanpa kehadiran konsumen?!

Seharusnya, masalah seperti ini menjadi perhatian para aktifis gender, yang menghendaki kesetaraan gender yang sehat; laki-laki dan perempuan bersaing dalam ruang publik untuk menjadi subyek yang dihargai karena potensi “akal dan pikir”nya, bukan sebagai objek yang dihargai dan dinikmati karena body-nya. Karena dengan akal dan pikiran itulah dapat diidentifikasi hakikat mahluk yang bernama manusia, yang dihargai karena kemanusiaannya.

Kita mengenal istilah al-insan hayawan natiq, pada dasarnya manusia tak tak jauh beda dengan kambing, sapi, anjing, kucing, kutu, burung, kerbau, babi, ayam. Kita punya paha, hewan-hewan itu juga. Kita memiliki syahwat untuk dilampiaskan, hewan-hewan itu juga. Dengan akal dan hati yang memunculkan sikap malu, kita tidak akan melampiaskan syahwat di jalan-jalan. Berbeda dengan hewan-hewan itu yang tidak dianugerahi akal dan pikiran. Bagi hewan-hewan itu, melampiaskan syahwat di sembarang tempat tak jadi soal. Al-insan hayawan natiq, kita adalah hewan yang mampu berpikir.

Objekisasi di atas hanya sebagian perempuan lho. Sebab, mungkin sebagian lagi diisi oleh laki-laki. He…he… Dan banyak pula perempuan-perempuan yang lebih terhormat yang karya nyatanya telah terbukti dan patut diapresiasi…

Tentang Cantik

30 March 2008 § 13 Comments


Salah satu sisi perempuan yang mendapat porsi perhatian ekstra (waktu dan biaya) adalah kecantikan (lahiriah). Isu kecantikan bukan persoalan sederhana. Ia menjadi isu terpenting, sekaligus kontradiktif, bagi perempuan. Konsep kecantikan lahiriah itu sendiri sangat relatif. Lain budaya, lain pula konsepnya. Lain masa, lain pula deskripsinya. Di Cina, awal abad 20, perempuan cantik adalah pemilik kaki kecil. Sedangkan bagi Suku Dayak di Kalimantan Tengah, perempuan bertelinga paling panjang menjuntai adalah gadis tercantik. Di era 50-an, konsep cantik berkiblat pada aktris Hollywood, Marlyn Monroe, yakni dada besar, pinggang kecil, dan berpinggul besar. Sedangkan era 60-an giliran model Twiggy, berbadan tipis langsing, yang jadi rujukan.

Media massa belakangan sangat berperan mendengungkan konsep kecantikan. Melalui iklan, sinetron, majalah atau video klip terbentuk image bahwa perempuan cantik adalah berkulit putih bersih, bermata indah, berwajah oval, hidung mancung, bibir sensual, tubuh langsing berisi, dan rambut hitam panjang lurus. Itulah mitos wanita sempurna. Gara-gara mitos cantik ini, perempuan bagai dituntut tampil sempurna. Apalagi sudah menjadi fitrah dan naluri, perempuan memang selalu ingin tampil cantik. Di manapun juga di jagad ini, sulit mencari perempuan yang mau tampil buruk, atau bahkan sekedar tampil apa adanya, lebih-lebih jika telah berinteraksi dengan orang lain, lebih-lebih lagi di mata lawan jenisnya.

Adanya berbagai ‘mazhab’ kecantikan yang ditawarkan lewat berbagai media tersebut, sesungguhnya dapat menimbulkan ‘krisis identitas’ dari pihak pemirsa. Sang pemirsa akan terus mencari sosok yang patut dijadikan ‘mazhab’ cantik. ‘Krisis’ itu akan muncul, jika dirinya ternyata sangat jauh berbeda dengan sosok yang diidealkannya. Dari sinilah akan muncul ekses; remaja putri akan merasa minder dengan dirinya, perempuan dewasa tidak segan-segan mempermak wajahnya atau anggota tubuh lainnya sedemikian rupa, hatta operasi plastik, untuk bisa tampil sesuai dengan sosok yang diidealkannya.

Begitulah, jika kecantikan telah dijadikan ukuran standar jati diri dan identitas. Seolah-olah jati diri dan identitas dirinya adalah kecantikannya. Tidak memiliki identitas dan jati diri jika tidak cantik. Pada dasarnya yang demikian tidak salah. Sebab, bagaimanapun, tampil cantik dan sempurna adalah fitrah dan naluri serta dambaan setiap insan. Namun yang perlu disadari adalah, bahwa yang demikian relatif adanya dan bukan segala-galanya. Ada yang lebih penting dari itu, yaitu inner beauty, kecantikan yang memancar dari dalam jiwa yang bersih. Ini definisi cantik yang lebih positif, bersifat universal dan tidak relatif, karena bersumber dari aturan normatif. Walapaupun definisi ini ‘asing’ untuk diungkapkan di tengah-tengah hegemoni identifikasi cantik adalah penampakan lahiriah. Bagi sebagian orang, kecantikan didefinisikan sebagai inner beauty, tapi lebih banyak lagi yang mengidentikkan cantik dengan penampakan lahiriah.

Masa remaja bagi perempuan adalah masa pencarian jati diri dan identitas diri, sekaligus kegelisihan mencari figur untuk dijadikan ‘mazhab’ identitasnya. Pada masa ini mereka terombang-ambing oleh definisi identitas yang beragam. Mereka terus bereksperimen dan selalu ingin mempraktikan fenomena yang mereka lihat. Ketika muncul fenomena ‘jilbab gaul’, apa salahnya mencoba. Ketika semakin banyak para artis yang mengenakan jilbab dengan style yang ngartisi, kalau bisa ditiru, kenapa tidak.Menurut Mr. Kontroversial Abdurahman ‘Gus Dur’ Wahid, yang seperti ini adalah tanda krisis identitas; tidak berani meninggalkan identitas diri sebagai muslimat, tetapi selalu ingin tampil stylish dan enggan disebut kampungan.

Pada masa inilah mereka masih memerlukan pengarahan dan bimbingan untuk menemukan jati diri serta identitasnya yang sebenarnya yang sesuai dengan dirinya sendiri, bukan memaksakan jati diri dan identitas orang lain untuk disematkan pada dirinya. Dalam hal ini, kecantikan menjadi persoalan yang tak terhindarkan. Ia bagian dari identitas yang juga harus dicari.

Jika berpijak pada aturan normatif, kecantikan atau untuk disebut cantik sesungguhnya menekankan ekuitas dua dimensi, yaitu dimensi material atau lahir (kecantikan lahiriah) dan dimensi imaterial atau jiwa (inner beauty). Keduanya harus seimbang. Aturan normatif mengatakan, bahwa Allah tidak memandang lahiriah seseorang, tapi memandang kepada jiwanya. Namun pada kesempatan lain, Allah menganjurkan tampil ‘cantik’ (khudzu zinatakum) ketika pergi ke masjid untuk menghadap-Nya. Nabi umat Islam, Muhammad Rasulullah diutus membenahi ahlak dan jiwa (inner beuty) umatnya, namun pada kesempatan lain, ketika Nabi didatangi oleh salah seorang shahabatnya yang menenakan pakaian kotor dan compang-camping, padahal ia mampu membeli pakaian yang lebih bagus, Nabi menyuruhnya untuk membeli pakaian yang bagus dan pantas. Ini artinya, definisi cantik dalam versi normatif adalah ekuitas antara jiwa yang bersih dan lahir yang sehat dan pantas. Cantik luar dalam. Definisi ini lebih positif

Definisi semacam ini harus terus dikampanyekan di tengah-tengah arus budaya hedonis. Apalagi di kalangan remaja putri yang berada dalam masa transisi. Dengan definisi cantik di atas, mereka akan lebih percaya diri dan tidak terombang-ombang dalam kegelisahannya menemukan jati dirinya.

Imam Salat Perempuan

30 March 2008 § Leave a comment


oleh Juman Rofarif

img_0412lguily89bjkl.jpg

Jumat, 18 Maret 2005, Aminah Wadud, seorang perempuan yang profesor bidang studi Islam di Virginia Commonwhealth University AS, menjadi imam sekaligus khatib untuk salat Jumat. Kontan dunia Islam dibikin geger. Kritikan deras mengalir. Ulama kondang dunia, Yusuf Qardlawi mengecam, dan menyatakan bahwa tindakan Aminah Wadud sebagai bid’ah yang munkar. Kritikan juga keluar dari Syaikh Al-Azhar, Sayyid Thanthawi. Reaksi bermunculan. Ada yang “suuzhan”, bahwa tindakan Wadud sebagai sensasi tanpa makna, ada sebuah sekenario yang melatarbelakanginya dari kelompok tertentu untuk kepentingan tertentu. Adian Husaini, dalam situs hidayatullah.com, menyebut apa yang dilakukan Wadud adalah tindakan nyleneh bias dari ideologi gender equality ala Barat-sekuler. Dan ragam kecaman lainnya. Dan ada juga yang memberikan apresiasi positif atas keberanian Wadud ngoyag-ngoyag kebenaran yang seolah-olah telah mutlak.

Kritikan dan reaksi tersebut sangat wajar. Secara umum, memang banyak garis dan titik yang terlanggar dari salat Jumat versi Wadud tersebut, atau tindakannya tidak dikenal dalam Islam sebelumnya. Tindakannya merupakan akumulasi beberapa pelanggaran. Ini bisa dilihat dari ikhtilath antara jamaah laki-laki dan perempuan, berdiri sejajar tanpa terhalang satir. Pengumandang azan yang perempuan. Jamaah perempuan yang tanpa mukena, karenanya anggota tubuh perempuan yang sebenarnya menjadi aurat dalam salat tidak tertutup. Namun, hemat penulis, sampai pada titik keimaman perempuan (imamah al-nisa’) bagi jamaah laki-laki, tidak seorang pun berhak memvonis sebagai tindakan salah, nyleneh, apalagi bid’ah. Dan khusnuzzan penulis, statemen bi’dah Yusuf Qardlawi hanya pada akumulasi pelanggaran pada ritual jumaatan itu, dan bukan pada titik keimaman perempuan bagi jamaah laki-laki. Sebab, ternyata tidak semua ulama, dalam sejarah pemikiran Islam, melarang perempuan menjadi imam bagi jamaah laki-laki.

Niqasy Nalar Ulama

Berbicara tentang imam salat perempuan bagi makmum laki-laki, akan berputar-putar pada dua Hadis, yaitu pertama, satu Hadis yang diriwayatkan oleh dua rawi, yaitu Abu Daud dan al-Daruquthni dalam kitab Sunan masing-masing. Kedua, Hadis yang diriwayatkan oleh Ibnu Majah dalam kitab Sunan-nya.

Tercatat, ulama yang memperbolehkan seorang perempuan menjadi imam salat bagi jamaah laki-laki antara lain Abu Tsaur (w. 240 H), al-Muzani (w. 264 H), dan al-Thabari (w. 310 H). Abu Tsaur termasuk mujtahid besar, ahli fikih dan murid Imam al-Syafi’i. Begitu juga al-Muzani. Ia adalah murid Imam al-Syafi’i yang kemudian (juga) menjadi mujtahid. Kepada muridnya tersebut, Imam Syafi’i pernah mengatakan, “Al-Muzani nashir mazhabi” (al-Muzani adalah pembela mazhabku). Al-Thabari, yang nama lengkapnya adalah Muhammad bin Jarir bin Yazid bin Khalid al-Thabari Abu Ja’far, adalah al-muhaddis (ahli Hadis), al-faqih (ahli fikih), dan al-muarrikh (sejarawan), dan ahli tafsir penulis kitab tafsir kondang, Tafsir al-Thabari.

Pendapat mereka didasarkan dari Hadis shahih (valid) yang diriwayatkan oleh Imam Abu Daud dalam kitab Sunan-nya.

Suatu ketika, Nabi beserta pasukannya akan berangkat perang Badar. Seorang shahabat perempuan bernama Ummu Waraqah binti Naufal al-Anshari(yah) meminta izin kepada Nabi untuk diikutsertakan dalam perang tersebut sebagai tenaga medis, dengan satu harapan, atas izin Allah, dapat memperoleh kesyahidan. Namun Nabi tidak mengizinkan, “Kamu tetap saja di rumah. Karena Allah akan memberikan kesyahidan itu kepadamu (tanpa harus mengikuti perang).” Ummu Waraqah setuju, namun ia meminta kepada Nabi untuk mengutus muazzin (pengumandang azan) ke rumahnya untuk mengumandangkan azan pada saat-saat salat. Nabi pun memenuhi permintaan Ummu Waraqah itu, dan mengutus kepadanya seorang laki-laki tua (syaikh kabir). Nabi menyuruh Ummu Waraqah menjadi imam untuk penghuni rumahnya. Saat itu, Ummu Waraqah, di rumahnya, memiliki pembantu laki-laki (ghulam) dan perempuan (jariyah). Keduanya mudabbar (budak yang bisa bebas jika tuannya telah mati).

Seperti di tulis oleh al-Shan’ani dalam Subul al-Salam kitab syarh (komentar) Bulugh al-Maram, Hadis di atas merupakan argumentasi kebolehan keimaman perempuan bagi keluarganya, meskipun dalam keluarga tersebut ada laki-laki. Dan walaupun pengumandang azannya adalah laki-laki (seperti riwayat Ummu Waraqah di atas). Dan Hadis tersebut jelas menunjukkan, pembantu laki-laki (ghulam) dan perempuan (jariyah) ikut salat bermakmum kepada Ummu Waraqah. Pendapat ini juga dinukil oleh Abu Thayyib Abadi dalam ‘Aun al-Ma’bud, kitab komentar Sunan Abi Daud.

Sementara itu, tidak ada Hadis shahih (valid) yang secara spesifik, jelas, dan pasti melarang seorang perempuan menjadi imam bagi jamaah laki-laki. Hadis riwayat Ibnu Majah yang melarang perempuan menjadi imam (ala la ta’ummanna imra’ah rajulan) tidak valid, dla’if. Sebab, salah seorang perawi Hadis tersebut, Abdullah bin Muhammad al-‘Adawi, tidak diakui integritasnya oleh para ulama. Imam Bukhari, dalam karyanya al-Tarikh al-Kabir, menganggapnya sebagai munkar al-hadis (hadisnya ditolak). Tentang Abdullah bin Muhammad al-‘Adawi, Ibnu Hajar al-‘Asqalani, dalam karyanya, Lisan al-Mizan, berkomentar: la yasih haditsuhu (hadisnya tidak sah). Ibnu Hibban, dalam kitabnya, al-Majruhin, memvonis la yahillu al-ihtijaj bi khabarihi (riwayat Hadisnya tidak boleh dijadikan argumen). Oleh karenya ia gugur sebagai dalil larangan keimaman perempuan bagi jamaah laki-laki.

Syaikh Khalil Ahmad al-Saharnafuri, penulis kitab Badzl al-Majhud, yang juga kitab komentar Sunan Abi Daud memberikan komentar yang berbeda dari Hadis Ummu Waraqah di atas. Dia meng-counter pendapat yang memperbolehkan keimaman perempuan dengan dalil Hadis Ummu Waraqah. Menurutnya, menjadikan Hadis di atas sebagai argumentasi kebolehan keimaman perempuan bagi jamaah laki-laki, tidak tepat (ghair shahih). Sebab, menurutnya, dalam salat yang diimami oleh Ummu Waraqah tersebut, tidak dapat dipastikan keikutsertaan dua pembantunya dan sang muazzin.

Permasalaannya adalah, alasan apakah yang yang membuat sang muazzin, yang mengumandangkan azan untuk menyampaikan ajakan salat, namun dia sendiri tidak mengikuti salat tersebut? Apakah karena larangan bermakmum kepada imam perempuan? Jika demikian, mengapa Nabi justru menyuruh Ummu Waraqah menjadi imam, padahal, pada saat yang sama, masih ada laki-laki, yaitu ghulam dan muazzin yang tua itu sendiri. Kalau memang imam perempuan dilarang, mengapa Nabi tidak menyuruh muazzin itu untuk (sekaligus) menjadi imam.

Memang, selain kasus Ummu Waraqah, praktik keimaman perempuan bagi jamaah laki-laki tidak populer. Seandainya, keimaman perempuan bagi jamaah laki-laki adalah sesuatu yang populer, maka Ibunda Aisyah, garwo kanjeng Nabi, adalah orang yang paling berhak di antara shahabat lain, untuk menjadi imam. Tapi ternyata, tidak ada satu pun riwayat yang menyatakan demikian. Namun demikian, ketidakpopuleran perempuan menjadi imam saat itu (atau pada masa shahabat), bukan berarti fenomena itu menunjukkan mutlak larangan dan menjadi larangan mutlak, oleh karenanya, ini tidak bisa dijadikan sebagai dalil pelarangan.

Namun, penting untuk dipahami, bahwa Hadis Ummu Waraqah tidak hanya diriwayatkan oleh Abu Daud saja, tapi (juga) oleh Imam al-Daruquthni di dalam kitab Sunan-nya. Jika satu Hadis diriwayatkan/ditulis oleh banyak ulama di dalam kitabnya masing-masing, maka harus dilakukan apa yang dalam ilmu Hadis disebut dengan jam’ al-riwayah, yaitu menyatukan berbagai riwayat itu, untuk mencapai maksud Hadis secara komprehensif. Jam’ al-riwayah itu penting dilakukan, karena Hadis-Hadis Nabi merupakan wihdah la tatajazza, unity intregity, satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan, dan saling menafsirkan, sebagaimana al-Quran dalam ayat-ayatnya. Begitu juga untuk Hadis Ummu Waraqah. Dalam riwayat Abu Daud, memang, Hadis itu menunjukkan sifat umum dan memiliki banyak ihtimalat (kemungkinan-kemungkinan) dan salah satu kemungkinan itu adalah, bahwa Ummu Waraqah juga menjadi imam bagi makmum laki-laki, sebagaimana ditulis oleh al-Shan’ani. Tapi kemumuman makna Hadis yang didiriwayatkan oleh Abu Daud ditakshis oleh riwayat Imam al-Daruquthni. Di dalam Sunan-nya, Imam al-Daruquthni dengan jelas meriwayatkan bahwa Ummu Waraqah hanya diizinkan untuk menjadi imam bagi keluarganya yang perempuan, artinya laki-laki tidak diizinkan bermakmum kepadanya. Sehingga, Hadis Ummu Waraqah tidak dapat dijadikan sebagai dalil kebolehan imam perempuan dalam salat.

Oleh karenanya, menurut al-Saharnafuri, larangan keimaman perempuan bagi jamaah laki-laki adalah atas dasar ijma’ (kesepakatan ulama). Dan pendapat kebolehan keimaman perempuan mahjuj (dikalahkan) oleh ijma’ itu. Namun, pernyataan ijma’ ini pun masih memungkinkan untuk di bahas, sebab “pernyataan tentang ijma’ hanya dapat diterima dari mereka yang benar-benar memiliki kemampuan merangkum semua riwayat. Pemberitaan seorang tentang adanya ijma’ bisa jadi bersumber dari riwayat yang lemah, atau boleh jadi ia menukil dari siapa yang tidak wajar diterima pemberitaannya, atau disampaikan hanya berdasar sangka baik kepada yang bersangkutan, atau terjadi darinya kekeliruan.” Seperti ditulis oleh Prof. Dr Qurasiy Shihab dalam Jilbab-nya, menukil dari pakar tafsir Lembah Biqa’, Libanon, Ibrahim Ibn Umar al-Biqa’ (1406-1480 M). Kemudian, al-Syaukani dalam kitab Irsyad al-Fuhul-nya menyatakan, “Jika ada salah seorang mujtahid yang berbeda pendapat dengan pendapat ijma’, menurut mayoritas ulama, maka ijma’ itu gugur dan tidak bisa dijadikan hujjah (argumentasi).” Jika pernyataan al-Syaukani ini diterima, maka ijma’ tentang larangan imam perempuan dalam salat, seperti di tulis al-Saharnafuri, gugur sebagai dalil, karena Abu Tsaur, al-Muzani, dan al-Thabari adalah termasuk yang memperbolehkan imam perempuan. Dengan kata lain, ijma’ itu tidak berlaku dan gugur oleh ketiga ulama tersebut.

Kesimpulan

Sampai pada titik ini, bisa dikatakan, bahwa tidak ada Hadis shahih yang jelas dan pasti, yang melarang atau memperbolehkan imam salat perempuan untuk makmum laki-laki. Hadis riwayat Ibnu Majah dengan jelas dan pasti melarang imam salat perempuan, namun ia dlaif (lemah) dan tidak bisa dipakai sebagai dalil. Hadis riwayat Abu Daud shahih, namun ia tidak menjelaskan dengan pasti, apakah Ummu Waraqah, selain menjadi imam bagi jamaah perempuan, juga menjadi imam bagi jamaah laki-laki. Bahkan riwayat itu ditakhshish oleh riwayat Imam al-Daruquthni, bahwa Ummu Waraqah hanya diperkenankan untuk menjadi imam bagi makmum perempuan saja. Sehingga Hadis ini tidak tepat untuk dalil pembolehan imam perempuan bagi makmum laki-laki. Artinya Hadis bersikap “netral” pada masalah imam perempuan bagi makmum laki-laki. Dalil ijma’ yang dinyatakan oleh al-Saharnafuri pun gugur, karena ada beberapa ulama yang berbeda pendapat, dan tidak termasuk dalam ijma’ itu.

Lalu, selama ini, apakah yang menjadi landasan larangan imam salat perempuan bagi jamaah laki-laki? Dalam catatan Muhammad Zakariya bin Yahya al-Kandahlawi, yang men-ta’liq kitab Badzl al-Majhud karya al-Saharnafuri, larangan itu adalah atas dasar qaul ‘amah al-fuqaha, pernyataan mayoritas ulama. Dan, qaul ‘amah al-fuqaha bukan termasuk dalam strata al-adillah al-syar’iyyah. Sehingga, pada gilirannya, larangan imam salat perempuan bagi jamaah laki-laki masih debatable.

* * *

Mengutip tulisan Prof. Dr Qurasiy Shihab, dalam buku yang sama, bahwa teks al-Quran – sebagaimana halnya semua teks, termasuk Hadis – bertemu dengan akal atau akal-akal manusia, dan akal itulah yang memberi makna kepadanya. Hakikat ini pada gilirannya mengantar kepada hakikat lain, yaitu bahwa pemahaman manusia terhadap suatu teks (nash), berbeda dengan teks itu sendiri; bisa kurang dari kandungan teks atau melebihinya. Teks al-Quran bahkan sebagian besar dari nash-nash yang mengandung ketentuan hukum juz’i dapat menampung lebih dari satu makna sehingga lahir aneka pandangan yang ketat atau longgar…sejak dari pandangan shahabat Nabi, seperti Abdullah bin Umar yang dinilai ketat sapai pada pandangan shahabat Nabi yang lain seperti Abdullah bin Abas yang dinilai penuh toleransi. Di sini dikenal apa yang dikemukakan oeh para pakar tentang perbedaan syari’at dengan fikih. Syari’at bersumber dari Allah, tidak boleh diubah dan tidak mengalami perkembangan, sedangkan fikih adalah pemahaman manusia atas syari’at, yang bisa benar, bisa juga salah, bisa kurang atau sempurna, bisa sementara, dan bisa juga bertahan sekian lama. Adanya imam dalam salat adalah syariat, namun soal imam perempuan bagi makmum laki-laki telah menjadi persoalan fikih.

Pendapat para ulama, mayoritas atau minoritas, dalam hal apa pun, termasuk keimaman perempuan, perlu diketengahkan dan diketahui secara deskripitif-obyektif. Tidak jarang, hanya mengetahui suatu pendapat, yang sebenarnya itu hanya salah satu dari ragam pendapat, dapat memunculkan sikap eksklusif, tidak arif atau bahkan emosional, ketika pendapat lain yang berbeda diketengahkan, kemudian dianggap sebagai “kenylenehan”.

Larangan perempuan menjadi imam bagi jamaah laki-laki, yang kita pegang selama ini adalah sebuah pendapat. Dan kebolehan perempuan menjadi imam bagi laki-laki, juga sebuah pendapat, yang tidak perlu dianggap sebagai “kenylenehan”. Masing-masing tidak berhak mengklaim bahwa pendapatnya adalah sebagai kebenaran seluruhnya dan seluruhnya adalah kebenaran. Wallahu a’lam.

Where Am I?

You are currently browsing entries tagged with gender at Warung Nalar.

%d bloggers like this: