Kefikih-fikihan dan Kesufi-sufian

10 November 2014 § 2 Comments


ahli fikih-sufi « Read the rest of this entry »

Imam Syafi‘i Bertamu ke Rumah Imam Ahmad

21 March 2011 § 2 Comments


Suatu hari, Imam Syafi‘i bertamu dan menginap di rumah Imam Ahmad. Pagi harinya, putri Imam Ahmad menemui ayahnya dan bertanya, “Ayah, diakah orang yang sering kauceritakan kepadaku itu?” Imam Ahmad memang sering bercerita kepadanya bahwa Imam Syafi‘i orang yang mengagumkan. Dia berilmu, cerdas, dan saleh.

“Benar,” jawab Imam Ahmad. “Kenapa?”

“Ada tiga hal yang membuatku meragukan cerita Ayah selama ini,” kata putrinya.

“O, ya? Apa itu?” jawab sang Ayah. « Read the rest of this entry »

Meretas Jalan Surga Dalam Buku

7 March 2009 § 1 Comment


Ada fakta menarik dalam literatur keislaman: puja puji para pakar terhadap bidang keilmuan yang ditekuninya – biasa disampaikan pada setiap mukadimah sebuah karya – bahwa bidang keilmuannya adalah yang terbaik, berada di atas pada skala prioritas.

Nahwu (Gramatikal Arab)

Jamaluddin bin Hisyam al-Anshari, penulis Mughni al-Labib – sebuah karya tingkat lanjut bidang nawhu atau gramatikal Arab yang ditulis lebih dari enam ratus lima puluh tahun silam – membuka kitabnya itu dengan mukadimah berhias aliterasi apik, berisi pujian terhadap gramatikal Arab yang menjadi kepakarannya. Perhatikan,

Fainna aula ma taqtarikhuhu al-qaraih

Wa a’la ma tanajjaha ila tahshilihi al-jawanih

Ma yatayassara bihi fahm kitabillah al-munazzal

Wayattadhihu bihi ma’na haditsi nabiyyih al-mursal

Fainnahuma al-wasilah ila al-sa’adah al-abadaiyah

Wa al-dzari’ah ila tahshil al-mashalih al-diniyah wa al-dunyawiyyah

Wa ashl dzalik ‘ilm al-i’rab

Al-hadi ila shaub al-shawab

Mukkadimah apik dengan aliterasi ciamik itu – ciri umum yang mudah dijumpai dalam banyak karya (utamanya klasik) berbahasa arab, sekaligus menjadi keunggulannya – tentu saja tak akan dibiarkan terkoyak oleh terjemahan yang tak memperhatikan aliterasi. Maka terjemahan bebas mesti dilakukan – dengan tak mengacu pada arti tekstual mukadimah itu, tapi melihat pada karya penjelas (hamisy) yang berada di sampingnya (hasyiyah). Berikut,

Apa yang paling mendorong nalar dan hati

Itulah ilmu yang memiliki kekuatan akurasi dan presisi

Sehingga memahami Alquran menjadi mudah

Dan memaknai hadis jadi tak payah

Di mana keduanya adalah jembatan menuju bahagia abadi

Jalan meraih maslahat duniawi dan ukhrawi

Itulah “ilmu i’rab” di mana kepadanya semua berpangkal

Ilmu petunjuk arah kebenaran tak tersangkal

Dan “ilmu i’rab” yang dimaksud adalah nawhu. Dari mukadimah itu, bisa dimengerti, memahami nahwu atau gramatikal Arab adalah dasar mutlak bagi para penekun Alquran dan hadis, dua hal yang kata Rasul, “lan tadhillu ma tamassaktum bihima”, “kalian takkan tersesat sepanjang berpedoman kepada keduanya”, karena di sanalah terhampar petunjuk meraih ketentraman alam dunia, di sanalah pedoman menuju alam selanjutnya tersedia.

Alquran dan hadis adalah dunia kalimat dan kata. Untuk mendalami keduanya, terlebih dahulu seseorang mesti memahami dunia kalimat dan kata itu, menekuni “ilmu i’rab“: satu instrumen keilmuan yang mampu membedah sampai pada setiap detil huruf, bahkan harakat (baris/bunyi huruf Arab) dengan tingkat akurasi dan presisi yang tinggi. Sebab, perbedaan bunyi harakat dalam bahasa Arab akan berpengaruh pada pemakanaan. Maka, bergulat dengan Alquran dan hadis, memiliki pisau bedah bernama “ilmu i’rab” adalah mutlak, untuk menghindari kesalahan dalam pemaknaan terhadap keduanya, mengingat ia adalah mata air hukum dan sumber legitimasi.

Pada konteks seperti itu, tentu nahwu adalah yang terbaik, “di mana kepadanya semua berpangkal”.

Ilmu Kalam (Teologi)

Kita tuju, selanjutnya, bidang keilmuan teologi atau akidah atau ilmu kalam. Kita tengok, misalnya, mukadimah sebuah kitab al-Husun al-Hamidiyah karya Sayid Husain Afandi. Di sana tertulis puja puji ini,

“…wahuwa ashl al-‘ulum al-diniyyah wa afdhaluha, likaunih muta’alliq bidzatillah ta’ala wadzati rusulihi ‘alaihim al-shalah wa al-salam. Wasyaraf al-‘ulum bisyaraf al-ma’lum.”

Kata penulisnya, “…ia (ilmu kalam) adalah pokok dan paling prioritas dari semua kajian keagamaan. Sebab, obyek kajian ilmu ini adalah entitas penuh kemuliaan: Tuhan dan para utusan-Nya. Dan, derajat kemuliaan sebuah ilmu ditentukan oleh obyek kajiannya.”

Mengkaji ilmu ini, para pencari ilmu akan memahami bahwa segala yang wujud pasti ada yang mencipta, mengerti bahwa Tuhan mengutus Rasul ke alam dunia untuk menyampaikan risalah ketuhanan.

Namun, ada hal kontras mengesankan diutarakan Imam al-Ghazali terkait bidang ini. Dalam al-Iqtishad fi al-I’tiqad, karyanya sendiri dalam bidang ini, ia menyatakan, ilmu ini tak wajib bagi setiap orang, bukan fardhu a’in, tapi sekedar fardhu kifayah, diharuskan ada sebagian orang yang tetap mendalami ilmu ini. Bahkan, menurutnya, ada orang-orang yang justeru tak dianjurkan mempelajarinya, tak diperkenankan ilmu itu diperkenalkan kepada mereka. Di antaranya adalah orang-orang yang cukup baginya percaya akan Tuhan dan Rasul, mengerjakan ritual-ritual keagamaan, tanpa paham namun bukan berarti ragu, kenapa semua itu mesti dilakukan.

Barangkali bisa dijadikan contoh adalah orang tua, nenek, atau kakek sebagian kita yang kepercayaannya atas Tuhan dan Rasul, serta ritual, misalkan, shalatnya, berdasarkan “pokoknya percaya Tuhan itu ada dan Muhammad adalah Rasul-Nya”, “pokoknya shalat itu wajib”, tanpa mampu menjelaskan dasar kenapa harus demikian. Jika dengan kondisi seperti itu mereka telah bisa merasa nyaman berislam dan beriman, maka tak dianjurkan ilmu kalam diperkenalkan kepada mereka, tak dianjurkan diajukan pertanyaan kepada mereka, kenapa Tuhan itu ada, kenapa Tuhan mesti mengutus rasul, dan sebagainya dan seterusnya, jika kemudian pertanyaan teologis semacam itu justeru membuat bingung mereka. Saya sendiri memiliki seorang embah putri yang sama sekali tak bisa baca Alquran, hanya hapal beberapa surat Alquran untuk kepentingan shalat, hapal bacaan shalat dan wirid rutin yang dibaca selepas shalat, tanpa sama sekali paham terjemahan apa yang dibacanya, apalagi memahaminya. Embah putri saya tak paham semua itu. Yang ia tahu cuma, Tuhan itu ada, Tuhan mewajibkan shalat, maka ia lakukan kewajiban itu dengan konsisten tanpa keraguan. Tak lebih dari itu.

Kepada orang seperti itulah, ilmu kalam yang sarat perdebatan, tak bijak disampaikan. Maka, dalam analogi Imam al-Ghazali, ilmu kalam hanya ibarat obat yang semata dibutuhkan bagi orang sakit. Ilmu kalam dibutuhkan hanya bagi orang yang keberislaman dan keberimananya terbelunggu ragu.

Fikih

Puja dan puji dalam bidang fikih, bisa dijumpai dalam satu mukadimah Kifayah al-Akhyar buah karya Taqiyuddin Abu Bakr al-Husaini.

Disebutkan, “faidza kana al-fiqh bihadza al-martabah al-syarifah wa al-mazaya al-munifah, kana al-ihtimam bihi fi al-darajah al-ula. Wa sharf al-auqat al-nafsiyyah bal kull al-‘umr fihi aula. Lianna sabilahu sabil al-jannah.”

“Karena memiliki martabat mulia dan keunggulan yang luhur ini, maka menekuni ilmu fikih menjadi prioritas utama. Bahkan akan lebih baik jika seseorang menekuninya sepanjang hayat. Sebab, menekuni fikih adalah meretas jalan surga.”

Barangkali tak bisa disangkal, hanya dalam literatur fikih terpapar kajian lebih dalam dan detil tentang berbagai ritual keislaman, seperti shalat, zakat, puasa, perkawinan dan sebagainya dan seterusnya. Dalam konteks ini, tentu saja fikih lebih unggul dan bermartabat. Maka, bukan hal janggal jika kemudian puja dan puji di sampaikan kepadanya.

Hadis, Ilmu Hadis, Dan Tafsir

Untuk bidang ini, saya nukilkan mukadimah Bulugh al-Maram – kitab yang memuat hadis-hadis dasar hukum fikih buah pena Ibn Hajar al-Asqalani – yang disampaikan oleh Muhammad Hamid,

“Inna khaira ma tansharif ilaih himam al-mu’minin al-shadiqin, watatawajjah ilaih ‘inayah al-muwahhidin al-mukhlishin, kalam sayyid al-khalq ajma’in”.

“Obyek kajian terbaik di mana orang beriman mencurahkan kesungguhannya, di mana penganut tauhid mengarahkan perhatiannya, itulah tutur penghulu segenap mahluk.”

“Tutur penghulu segenap mahluk” yang dimaksud adalah hadis-hadis Rasul Muhammad.

Hadis menjadi obyek kajian terbaik, berada di atas pada skala prioritas untuk merinci apa yang global dalam Alquran, menjadi petunjuk teknis dan petunjuk pelaksana dari Alquran. Tuhan perlu mengutus seorang Rasul untuk menjelaskan teknik pelaksanaan shalat, zakat, haji, dan sebagainya dan seterusnya, dalam tutur dan tindakannya, karena di dalam Alquran Tuhan hanya memerintahkan shalat, zakat, haji, tanpa menjelaskan bagaimana teknik semua kewajiban itu mesti dilaksanakan. Untuk konteks ini, hadis adalah yang terbaik.

Sedangkan dalam bidang ilmu hadis, eloklah saya nukil di sini puja puji Ibnu Shalah yang ia sampaikan dalam karyanya atas nama Muqaddimah Ibn Shalah fi Ulum al-hadits, “Inna ‘ulum al-hadits min afdhal al-‘ulum al-fadhilah wa anfa’ al-funun al-nafi’ah… Wahuwa min aktsar al-‘ulum tawallujan fi fununiha, la siyama al-fiqh…”

Katanya, “Ilmu hadis adalah bagian dari keilmuan yang memiliki prioritas paling utama, bagian dari bidang keilmuan yang paling bermanfaat… Ia menjadi bidang keilmuan yang paling banyak masuk menjadi obyek kajian dalam bidang keilmuan yang lain, terutama fikih…”

Tafsir juga tak lepas dari puja puji semacam di atas. Lihat saja apa yang ada dalam mukadimah kitab tafsir karya Muhammad Ali al-Shabuni, Rawaih al-Bayan, Tafsir Ayat al-Ahkam min Al-Quran, “Inna khaira ma shurifat fihi aljuhud, wa isytaghala bihi al-‘ulama ta’liman wa tafsiran wa tafahhuman wa dirasatan wa istinbathan, kitabullah…

“Kajian terbaik untuk dicurahkan segala kesungguhan, di mana para ulama menyibukkan waktu untuk mengajarkannya, menafsirkannya, memahaminya, mendarasnya, dan menggali hukum darinya, maka itulah Kitab Tuhan…”

Dengan kepakaran dan ketekunan mendalam terhadap bidang keilmuan yang diselaminya, para pakar telah mampu meretas jalan surga dan jalan kedekatan menuju Tuhan. Apakah hanya dalam bidang keilmuan keagamaan jalan itu bisa diretas? Apakah hal itu tak membuat iri para pakar astronomi, ahli biologi, para saintis, dan sebagainya dan seterusnya, yang dengan kepakaran dan ketekunannya pula pada kajiannya, pada sepojok hatinya ia berguman tentang entitas yang tak pernah disinggung dalam bidang kajiannya, namun dapat ia rasakan “Oh, siapakah Kau yang mencipta semua ini? Ciptaan-Mu begitu luar biasa dan sempurna. Maka, pastilah betapa Kau lebih sempurna dari kesempurnaan ciptaanmu.”

Lalu, kita (jika sampean tak kebeberatan saya wakili), yang bukan pakar dalam bidang apa pun, yang tak mampu mencipta satu pun karya, apalagi yang luar biasa, dengan jalan apakah kita meretas surga?

Tak apa, kita retas surga dengan kaidah fikih ini: al-tabi’ tabi’, pengikut mengikut kemana yang diikuti pergi. Jika para pakar keilmuan di atas kelak masuk surga, kita yang hanya bisa membaca, menelaah karyanya, juga akan masuk surga, kecipratan berkahnya. Maka, tak berlebihan jika para kyai dan ustad di pesantren yang mengajarkan kitab tertentu, mengawalinya dengan permulaan ini: “Qala al-mushannif rahimahullah ta’ala, wanafa’ana bi ‘ulumihi fi al-darain…”.

“Penulis kitab ini – semoga Allah merahmatinya, dan memberikan manfaat bagi kita di dunia dan akhirat, karena ilmu-ilmunya – mengatakan…”. Setelah itu, baru dimualilah pengajian: al-kalamu huwa al-lafdzu…

~

Empat mahasiwa UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, masing-masing dari dari Fakultas Adab dan Humaniora, Fakultas Ushuluddin, Fakultas Syariah, dan Fakultas Dirasat Islamiyah, sedang mengantri di depan pintu surga, menunggu panggilan, akan masuk surga yag mana. Waktu hidup di dunia, di kampus yang begitu ia cintai itu, mereka adalah mahasiswa yang cemerlang. IPK mereka selalu mendekati 4.0, kecuali si mahasiwa dari Fakultas Dirasat Islamiyah yang IPK-nya paling tinggi hanya 3.2. Semuanya bergembira karena akan masuk surga bintang empat, dengan pertimbangan IPK mereka selalu kumlaud, kecuali si mahasiswa dari Fakultas Dirasat Islamiyah yang tampaknya pasrah dengan surga kelas melati pun, mengingat IPK-nya yang selalu pas-pasan.

Di luar dugaan, ternyata mahasiswa Fakultas Dirasat Islamiyah yang masuk surga bintang empat itu, dan tiga mahasiswa lainnya justeru masuk surga kelas melati. Kontan saja tiga mahasiswa itu mengajukan nota keberatan kepada malaikat penjaga surga.

“Eit, tenang, tenang. Saya bisa jelaskan… IPK kalian boleh selalu mendekati empat. Namun, kalian masuk surga ini bukan karena nilai, tapi cipratan-cipratan berkah yang membasahi kalian. Dan yang mendapatkan berkah lebih banyak waktu di dunia adalah mahasiswa dari Fakultas Dirasat Islamiyah. Maka, dia berhak mendapatkan surga bintang empat itu,” kata malaikat.

“Elho! Kok, bisa begitu, Tuan Malaikat?”

“Ya jelas, tho. Fakultas Dirasat Islamiyah itu kan terjemahannya Fakultas Studi Islam. Se-ta-di Is-lam. Dari namanya terang terlihat, kajianya tentang Islam pastilah lebih komprehensif. Pembahasannya lebih luas. “Islam” itu ya mencakup “ushuluddin”, “syariah”, “adab. Apa “ushuluddin” mencakup “syariah”? Apa “syariah” memuat “adab”? Apa “adab” melingkup “ushuluddin”? Ndak, tho?!” tantang Malaikat.

“Hayo, ngaku, kalian bertiga. Yang dari Fakultas Ushuluddin, apa fakultasmu mendata Kifayah al-Akhyar jadi referensi bacaan? Yang dari Fakultas Syariah, apa kamu diperintahkan baca Mughni al-Labib untuk referensi? Yang dari Fakultas Adab dan Humaniora, apakah dosen kalian menganjurkan Bulugh al-Maram jadi referensi di fakultasmu? Tidak, tho?! Di Fakultas Dirasat Islamiyah, semua yang disebut itu penting dimiliki. Wong, fakultas Islam komprehensif, je!”

“Sudah, sudah, jangan banyak protes, kalian! Nikmati saja jatah surgamu itu. Kelas melati la’ sing penting surga. Yes, tho?!”

Ketika Kelamin Jadi Ukuran

16 January 2009 § Leave a comment


Persepsi lahir dari konteks yang terindera, dari sebuah keadaan di mana empunya persepsi berinteraksi, menjadi respon atas realita di mana ia berada.

Imam Syafi’i yang pakar fikih – di mana karakter fikih adalah rigid – menyimpan keromantisan yang tersibak ketika mengatakan ini: “Sebagian orang mengatakan, mencintai wanita adalah bencana. Padahal, bencana sesungguhnya adalah berdekat dengan lelaki yang jauh dari cinta seorang wanita.”

Atau Ibnu Hazm yang dengan penuh gusto memberikan penghargaan kepada perempuan seraya mencemooh geram lelaki yang memandang ke-lelaki-annya sebagai ukuran.

Katanya: “Jika Anda merasa lebih utama dari Maryam, Aisyah, atau Fatimah, hanya karena engkau lelaki dan mereka perempuan, maka orang yang mengatakan hal itu pantas disebut orang bodoh.”

Meloncat dari suatu masa di negeri nun jauh, kita berdekat-dekat pada masa kini di negeri ini, dengan mengutip M. Quraish Shihab. Ujarnya: “…melecehkannya (perempuan) berarti melecehkan seluruh manusia, karena tidak seorang manusia pun – kecuali Adam dan Hawa – yang tak lahir melalui seorang perempuan.”

Persepsi apresiatif semacam itu tentu menjadi istimewa mengingat pengujarnya adalah para lelaki, sehingga melemahlah unsur subjektifitasnya, meski mungkin tidak sepenuhnya. Tapi di sinilah ironinya. “Apresisasi istimewa” menyuratkan gambaran aspek luar biasa yang mesti ditonjolkan dari satu entitas bernama perempuan, tapi menyiratkan adanya dominasi yang tak adil pandangannya: dominasi ke-lelaki-an yang selalu mengukur kelamin. Maka, apresisasi istimewa lahir dari konteks sebuah dominasi yang menghegemoni dari sebuah kelamin tertentu, dari keadaan yang diskriminatif, yang mungkin tersamar di bawah alam sadar.

Kata-kata para pengujar lelaki di atas adalah sarkasme, sindiran tajam, gugatan bagi keadaan di mana seorang lelaki memandang perempuan sebatas pada “karena aku lelaki dan mereka perempuan”, sebuah pandangan yang membentur raga, tidak menembus hakikat manusia yang tersemat di dalam seonggok raganya emosi dan nalar, hati dan pikiran, unsur spiritual dan intelektual. Dan raga adalah fisik. Sesuatu yang fisik mesti pula dihargai dengan yang bersifat fisik. Maka, transaksi dan interaksi yang terjadi adalah kebendaan, tak melibatkan aspek emosional dan rasional. Memandang perempuan seperti melihat barang dagangan di pasar. Memilah dan memilih sama mudah dengan meninggalkannya. Jika keadaan tak mendukung untuk mampu memilikinya, enteng saja berujar: “tinggal saja, cari lagi”. Mungkin orang dengan watak semacam ini tak memiliki cukup emosi dan nalar, hati dan pikiran, untuk menjangkau perempuan sampai pada hakikat kemanusiaannya.

Ini adalah keadaan anomali – di mana penistaan hakikat kemanusiaan dianggap lumrah sambil berusaha memaklumi – bukan hanya karena melanggar logika “tidak seorang manusia pun – kecuali Adam dan Hawa – yang tak lahir melalui seorang perempuan”, seperti dalam kata-kata M. Quraish Shihab, tapi juga sebab ada unsur-unsur hakikat kemanusiaan yang sengaja diabaikan. Sialnya, dalih-dalih “ini umum terjadi”, “ini pandangan umum”, dan segenap kambing hitam lain atas nama “kebanyakan orang”, dijadikan legitimasi bagi keadaan anomali itu.

Keadaan umum yang sejatinya anomali mestinya tidak dijadikan dalih dan dengan dungu ikut membesarkannya. Keadaan umum yang sejatinya anomali seharusnya menjadi objek keprihatinan seraya berharap segera lenyap.

Maka, konteks tulisan ini pun jelas: ketika kelamin – tepatnya ke-lelaki-an – jadi ukuran, saat mulut berbalut pongah mengangah sesumbar: “kamu itu lelaki, bukan perempuan!”, seolah takdir lelaki adalah kesempurnaan dan nasib perempuan adalah kecengengan.[jr]

Binatang Juga Menikah

18 October 2008 § 1 Comment


Kekeliruan yang dilakukan berkali-berkali berulang-ulang dan terus-menerus akan dianggap sebagai kebenaran, tepatnya “salah kaprah”. Sedangkan kebenarannya sendiri tertutupi, tidak coba dijelaskan, sehingga ketika diungkapkan justeru dianggap salah, risih, bahkan tidak sopan.

“Udah kawin, belum? Kapan kawin?”

“Kawin sih udah sering. Tinggal nikahnya.”

Atau,

“Udah kawin, belum?”

“Kawin, kawin. Nikah! Kayak kucing aja.”

Geli saya mendengarnya. Dari pada urusan jadi panjang, ya akhirnya cuma iya iya saja, meski bukan berarti membenarkan. Ini hanya saya dengar ketika di Jakarta saja. Padahal sebelumnya saya merasa nyaman dan enjoy saja melafalkan “kawin”, dan justeru merasa asing untuk bilang “nikah”, bukan karena melihat ada kekeliruan, tapi tidak mau dianggap “sok kota”, ngotani. Ya maklumlah, hidup di desa. (Wahai orang desa di seluruh jagat raya, masih mending jadi wong deso yang berperadaban kota, ketimbang orang kota yang ndeso). Tapi, lama-lama, saya jadi latah merasa risih juga ketika melafalkan “kawin” (maklum, hidup di kota). Padahal, sebenarnya sama saja antara “kawin” dan “nikah”, hanya saja yang pertama bahasa lokal, dan yang terakhir adalah bahasa Arab. (Seorang kawan hanya mringis-mringis saja saat saya beritahu demikian. Selama ini, dia mengira “nikah” adalah asli bahasa kita. Benar-benar ndeso).

Komunikasi verbal kita (setidaknya yang pernah saya dengar) sudah kadung menelan mentah-mentah “nikah” sebagai “proses akad jalinan suami isteri”, sedangkan untuk hubungan seksual keduanya digunakanlah kata “kawin”, yang juga digunakan untuk menunjukkan hubungan seksual binatang atau tumbuhan (maka muncullah isitilah “perkawinan silang”). Jadi, jika Anda tanya ke kawan Anda atau orang yang punya “kehormatan”, “Udah kawin, belum?”, maka akan dianggap tidak sopan.

Padahal, jika kita baca literatur-literatur fikih klasik dan mau “mengunyah” lebih lembut kata “nikah” (dalam bahasa Arab, bahasa asalnya), makna dasarnya adalah al-jamu’ (berkumpul). Dan dalam praktik berkomunikasi, “nikah” (al-nikaah) bukan hanya digunakan untuk menunjuk “proses akad laki-laki dan perempuan menjadi suami isteri”, tapi juga dipakai untuk menunjuk arti “hubungan seksual suami isteri”, yang dapat diketahui dari siyaqul kalam alias konteks pembicaraan. Jika disebutkan: nakaha fulanah (dia telah menikahi seorang perempuan), maka nakaha (menikahi) dalam kalimat tersebut berarti “proses akad”. Dan jika dikatakan: nakaha zaujatahu (dia “menikahi” isterinya), maka nakaha di situ berarti “berhubungan intim”.

Dan perlu diketahui, dalam bahasa asalnya, “nikah” dalam arti hubungan seksual tidak hanya digunakan untuk manusia. Ia juga digunakan untuk konteks tumbuhan dan binatang, seperti kalimat: nakahtu al-asyjar (saya telah “menikahkan” pohon). “Menikahkan” di situ berarti melakukan perkawinan silang dua pohon yang berbeda jenis.

Manusia menikah, tumbuhan “menikah”, binatang juga “menikah”. Jadi, kawin atau nikah? Sudah tahu begini pun terkadang saya masih merasa risih untuk mengatakan “kawin”. Ah, kekacau-balauan epistemologi dan kesewang-wenangan bahasa semacam ini sudah lumrah terjadi di negeri ini. Nikmati sajalah. Pada akhirnya, yang sering digunakan itulah yang benar.

Berhutang Puasa Ramadhan Sebelumnya. Hukumnya?

12 September 2008 § 2 Comments


Di antara kita barangkali pernah “berhutang” puasa Ramadhan karena berbagai alasan. Sebagai “hutang”, ia wajib dibayar lunas sesuai dengan jumlah hutang tersebut pada bulan-bulan selain Ramadhan. Namun, dengan berbagai alasan pula, barangkali sebagian kita tak sempat membayar lunas hutang tersebut, atau bahkan tak membayarkannya sama sekali, sampai Ramadhan selanjutnya datang. Belum pula lunas hutang puasa Ramadhan sebelumya, kewajiban puasa Ramadhan selanjutnya datang menyapa. Apa dan bagaimana hukumnya?

Tulisan ini adalah adaptasi dari monografi Takhrij Hadis “Man Adraka Ramadhan Wa ‘Alaihi Min Ramadhan Syaiun” (Uji Otentisitas Dan Kualitas Hadis; “Memasuki Ramadhan Dengan Berhutang Puasa Ramadhan Sebelumnya”) sebagai tugas akhir di Pesantren Luhur Ilmu Hadis Darus Sunnah Ciputat tahun 2006, di bawah bimbingan Prof. Dr. KH. Ali Mustafa Yaqub, Pengasuh Pesantren Luhur Ilmu Hadis Darus Sunnah, Guru Besar Ilmu Hadis Institut Ilmu Alquran (IIQ) dan Imam Besar Masjid Istiqlal Jakarta.

Adaptasi ini telah disimplifikasikan dengan mengabaikan “tata krama” standar karya ilmiah, semacam referensi, daftar pustaka atau hal lainnya, tidak seperti bentuk asli monografinya.

Teks Hadis

Hadis tersebut adalah: “Orang yang memasuki bulan Ramadhan – sedangkan ia masih “berhutang” puasa Ramadhan sebelumnya – maka puasa yang bersangkutan tidak akan diterima.”[1]

Rawi & Sanad Hadis

Sumber otentik hadis di atas adalah Musnad al-Imam Ahmad karya Imam Ahmad (setidaknya yang ditemukan penulis). Sementara sanad hadis (rangkaian rawi)-nya adalah: Hasan bin Musa, dari Ibnu Lahi’ah, dari Abu al-Aswad, dari Abdullah bin Rafi, dari Abu Hurairah, dari Rasul. Jika di gambarkan dalam skema, maka seperti ini;

Nama berwarna merah menunjukkan rawi yang kontroversial

Untuk lebih menyederhanakan tulisan ini, rawi yang akan dibahas hanyalah yang masih diperdebatkan kredibilitasnya, dalam hal ini adalah Ibnu Lahi’ah (nama berwarna merah pada skema).

Kontroversi Kredibilitas Ibnu Lahi’ah

Di antara para rawi hadis di atas, hanya Ibnu Lahi’ah seorang yang diperdebatkan kredibilitasnya (dan selebihnya adalah para rawi yang dinilai ta’dil – dinilai positif). Ia dinilai jarh (dinilai negatif) oleh sebagian kritikus hadis, dan pada saat yang sama ta’dil (dinilai positif) oleh sebagian yang lain. Imam Nasa’i dan Ibnu Ma’in, misalnya, menilai Ibnu Lahi’ah dha’if (lemah), hadisnya tidak layak dijadikan argumen. Pendapat berbeda disampaikan Ibnu Hiban dan Imam Ahmad yang masing-masing menilai Ibnu Lahi’ah shalih dan tsiqah (kedua kalimat itu merupakan bagian dari redaksi ta’dil).

Penilaian saling kontradiktif terhadap satu rawi oleh para kritikus adalah hal yang maklum terjadi. Maka, para ahli hadis membuat semacam “kaidah” dalam rangka memberikan jalan keluar masalah semacam itu. “Kaidah” itu adalah, jika seorang rawi dinilai jarh oleh sebagian kritikus hadis, dan pada saat yang sama ta’dil oleh sebagian yang lain, maka ta’dil-lah penilaian yang dianggap sah, selama tidak ada alasan dan penjelasan soal penilaian jarh tersebut. Dalam arti, jika seorang kritikus hadis menilai jarh seorang rawi tanpa menjelaskan alasannya, maka penilaian tersebut dianggap tidak ada. Semacam “asas praduga tak bersalah”; pada dasarnya setiap rawi adalah kredibel dan berintegritas (ta’dil), sampai ada bukti-bukti yang menyatakan sebaliknya (jarh). “Asas praduga tak bersalah” inilah yang juga menjadi alasan bahwa penilaian ta’dil oleh kritikus hadis terhadap rawi, tetap dianggap sah meski tidak disertai alasan – berbeda dengan jarh yang justeru dianggap tidak ada jika tak disertai alasan dan penjelasan.

Dari “jalan keluar” tersebut, dapat dipahami hilir alur kontroversi kredibilitas Ibnu Lahi’ah. Ta’dil adalah penilaian yang dianggap lebih sah baginya ketimbang jarh. Sebab, penilaian jarh terhadapnya tidak disertai alasan atau penjelasan apa pun. Ia dinilai dha’if, namun tidak dijelaskan alasan ke-dha’if-annya.

Kualitas Hadis

Sebelumnya, perlu disampaikan, penulis tidak ikut cawe-cawe urusan kualitas ini. Paling banter ia hanya mengurai kualitas tersebut, serta mengumpulkan mozaik-mozaik terserak terkait hadis ini.

Di atas, kontroversi Ibnu Lahi’ah telah diurai dan disimpulkan. Kemudian, dengan kontroversi yang ada, tentu sedikit banyak mempengaruhi status kualitas hadis di mana ia menjadi bagian dari periwayatannya. Sepertinya memang demikian, dan itulah kenapa para pakar (di antaranya adalah Ali bin Abu Bakar al-Haitsami dan Abdurrauf al-Minawi) kemudian menilai hadis ini mentok pada kualitas hasan. Ali bin Abu Bakar al-Haitsami bahkan menunjuk Ibnu Lahi’ah sebagai titik persoalan kualitas hasan ini.

Hasan berada satu tingkat di bawah shahih. Jika pada shahih sang rawi mesti memenuhi dua hal secara sempurna, yaitu moralitas yang baik (‘adl) dan kapasitas intelektual yang mumpuni (dlabth), maka pada hasan, moralitas sang rawi terkenal baik, hanya saja kapasitas intelektualnya tidak sesempurna (khaffa dlabthuhu) sebagaiamana disyaratkan shahih.

Dan khaffa dlabthuhu yang dimaksud pada hadis di atas, tak lain menunjuk pada Ibnu Lahi’ah. Ini dipertegas dengan penilaian Ibnu Hiban yang menyatakan Ibnu Lahi’ah shalih (hadis yang diriwayatkannya layak dipakai hanya sebagai i’tibar – diambil pelajaran dari isinya). Dalam disiplin ilmu hadis, “shalih” adalah tingkatan redaksi ta’dil paling rendah yang mengisyaratkan rawi yang bersangkutan khaffa dlabthuhu, kapasitas intelektualnya tidak sesempurna sebagaimana disyaratkan shahih, sehingga hadis yang diriwayatkannya hanya berkualitas hasan.

Berhutang Puasa Ramadhan Sebelumnya. Hukumnya?

Di dalam Alquran disebutkan, “…Siapa di antara kalian yang hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka ia mesti berpuasa pada bulan itu…” (Al-Baqarah: 158). Ayat ini menunjuk umat Islam yang hadir pada suatu daerah dan bermukim, serta bertepatan dengan masuknya bulan Ramadhan, untuk melaksanakan kewajiban puasa. Tentu saja “siapa” pada ayat itu hanya menunjuk orang-orang yang dianggap telah memenuhi prasyarat wajib berpuasa atau dalam fikih disebut dengan “syarat wajib”, yaitu umat Islam yang telah dewasa (baligh), normal (‘aqil), dan sehat jasmani. Siapa pun yang telah memenuhi kriteria itu, maka suatu kewajiban untuk melaksanakan puasa. Kemudian, orang yang telah memenuhi “syarat wajib”, pelaksanaan puasanya dianggap sah jika telah memenuhi prasyarat sah puasa (dalam fikih disebut “syarat sah”), yaitu niat dan tidak melakukan hal-hal yang membatalkan puasa (makan, minum, berhubungan intim)

Jika kita melihat kemudian menyapakti konsepsi “syarat wajib” dan “syarat sah” tersebut, maka “berhutang puasa Ramadhan sebelumnya” bukanlah bagian dari konsepsi itu. Artinya, siapa pun yang (Ramadhan) saat ini memiliki hutang puasa Ramadhan tahun lalu yang belum terbayar, itu tidak menghalanginya terkena kewajiban puasa Ramadhan. Sebab, “berhutang puasa Ramdhan sebelumnya” bukan bagian dari “syarat wajib” puasa, bukan pula “syarat sah”nya yang harus dilunasi. Dan hutang puasa tersebut tetaplah sebuah hutang yang harus dibayar sebagai sebuah kewajiban.

Lalu, bagaimana memahami hadis di atas?

Jika kita mengalir pada alur logika di atas, maka hadis tersebut mesti diletakkan di luar konteks “syarat wajib” atau “syarat sah”, dipahami di luar koridor “fikih puasa”.

Penulis memahami, penekanan hadis di atas adalah pada “pelunasan hutang”. Hutang, apa pun bentuknya, harus sesegera mungkin dibayar, termasuk puasa. Jika kondisi menyodorkan kesempatan untuk membayar hutang, maka tidak ada toleransi untuk menundanya. Maka, “lam yutaqabbal minhu” adalah semacam “teguran keras” bagi siapa pun yang telah diberi kesempatan untuk membayar hutang puasa, namun tetap mblunat, mbalelo, enak-enakan, meremehkan kewajiban yang semestinya ditunaikan.

Teguran keras yang masuk akal. Lihat saja, sanksi terberat pelanggaran puasa Ramadhan adalah puasa dua bulan berturut-turut. Sekilas terkesana sangat berat, namun bandingkan dengan sebelas bulan, waktu yang sangat longgar yang disediakan untuk menjalani sanksi itu. Apalagi hutang puasa yang cuma satu hari, dua hari, tiga hari, seminggu, sepuluh hari dan seterusnya. Jika pada rentang sebelas bulan, waktu selonggar itu dan dengan kondisi dan kesempatan yang memadai, hutang atau sanksi puasa tetap saja tidak dijalankan sampai datang Ramadhan selanjutnya, maka di Tuhan hanya perlu “merasa perlu” menegur dengan keras saja. Tidak ada yang pantas mendapatkan teguran keras, kecuali orang yang mblunat, mbalelo. Wallahu a’lam.


[1] من أدرك رمضان وعليه من رمضان شيء لم يقضه لم يتقبل منه.

Imam Syafi’i NU, Imam Malik Muhammadiyah

4 August 2008 § 9 Comments


Dalam suatu ruang kelas, seorang ustad sedang memberikan mata pelajaran fikih kepada murid-muridnya. Sang ustad menjelaskan…

“Imam Syafi’i adalah pendiri Mazhab Syafi’i yang salah satu tradisi mazhabnya adalah berqunut pada salat subuh. Dan Imam Malik adalah guru Imam Syafi’i yang juga memiliki mazhab fikih sendiri. Salah satu tradisi mazhabnya adalah tidak berqunut pada salat subuh.”

Sang Ustad melanjutkan, “Konon, keduanya pernah saling berkunjung ke rumah masing-masing. Saat Imam Syafi’i menginap di rumah Imam Malik, ia diminta menjadi imam salat subuh, dan Imam Malik makmumnya. Untuk menghormati gurunya yang tidak bermazhab qunut, maka Imam Syafii menjadi imam salat subuh dengan tidak berqunut.”

“Sebaliknya, saat Imam Malik yang bertandang ke rumah Imam Syafii, Imam Malik diminta menjadi imam salat subuh, dan Imam Syafii makmumnya. Dan untuk menghormati muridnya yang bermazhab qunut, maka Imam Malik menjadi imam salat subuh dengan berqunut.”

“Nah, anak-anak, dari cerita bapak tadi, siapa yang bisa mengambil kesimpulan atau pelajaran yang bisa dipetik? Yang bisa tunjuk tangan,” kata sang ustad mengakhiri ceritanya.

Salah seorang anak yang duduk di paling belakang tunjuk tangan,

“Saya bisa, ustad!” Dari cerita Bapak, saya bisa menyimpulkan, berarti Imam Syafi’i adalah orang NU, sebab kalau salat subuh pake qunut. Dan Imam Malik adalah orang Muhammadiyah, sebab kalau salat subuh ga pake qunut. Tapi, meski berbeda organisasi, keduanya tetap saling menghormati dan toleran.”

Ustad, “…???…???…???…???”

Tawasul; Relasi Memudahkan Komunikasi

20 June 2008 § Leave a comment


Mengimani Nabi Muhammad – juga para nabi yang lain – merupakan bagian integral dari keimanan dan keislaman seseorang. Islam sesorang tidak sempurna sehingga ia melengkapi keimanannya kepada Nabi Muhammad, sebab ia bagian dari rukun iman. “Mengimani” tidak sama dengan “mempercayai” (tashdiq).

Mengimani adalah mempercayai dengan segala konskwesnsi di belakangnya. Kepada Nabi Muhammad, Abu Tahlib, paman Nabi, baru sebatas mempercayai, belum mengimani. Sebab, kepercayaanya kepada Nabi tidak lantas membuatnya memeluk agama yang dibawa oleh Nabi. Keimanan tentu harus didasari oleh rasa cinta, walaupun rasa cinta tidak selamanya membawa kepada keimanan.

Para sahabat adalah contoh baik sosok yang memiliki cinta sejati kepada Kanjeng Nabi Muhammad shallahu’alaihi wasallam. Cinta mereka kepada Nabinya tidak terbatas dan melebihi apapun.

Sahabat ‘Ali bin Abi Thalib karrama allah wajhah suatu ketika pernah ditanya perihal kecintaannya kepada Kanjeng Nabi, beliau menajwab, “Nabi, Engkau lebih saya cintai ketimbang harta-harta yang saya miliki. Cinta saya kepada Engkau melebihi cinta saya kepada keluarga saya.”

Umar bin Khatab pernah memberikan pernyataan kepada Kanjeng Nabi, “Engkau adalah orang yang paling saya cintai. Cinta saya kepada engkau melebihi apapun, kecuali terhadap diri saya.”

Jawab Nabi, “Iman seseorang tidak akan sempurna sehingga saya lebih dicintai dari dirinya (jiwanya).” Mendengar tanggapan koreksi Nabi, Umar pun meralat pernyataanya, “Demi Allah, Engkau lebih saya cintai dari apapun, melebihi cinta saya kepada diri (jiwa) saya.” Nabi kemudian berkata seraya memberikan apresiasi kepada Umar, “Saat ini, iman kamu telah lurus, dan keyakinanmu telah sempurna.”

Dikisahkan, seorang perempuan dari kelompok Anshar yang kehilangan ayah, saudara, dan suaminya dalam perang Uhud (3 H), berkata kepada para sahabat, “Apa saja yang dikerjakan oleh Rasul?” Para sahabat menajwab, “Kebaikan. Beliau sebagaimana yang Engkau cintakan.” Perempuan tadi berkata, “Tunjukkan saya kepadanya!”

Para sahabat mengantarkan perempuan tersebut ke hadapan Nabi. Setelah bertemu langsung dengan Nabi, perempuan Anshar itu berkata, “Segala musibah setelah engkau adalah mudah.” Rasa duka yang dirasakan oleh perempuan Anshar karena kehilangan sanak saudaranya seketika lenyap setelah bertemu Nabi.

Begitulah. Cinta para sahabat kepada Nabinya tidak berdasarkan kalkulasi kepentingan. Cinta mereka tulus. Mereka sadar betul, bahwa cinta kepada Nabi pada hakikatnya adalah ekspresi cinta kepada Allah.

Cinta kepada Nabi mesti diapresiasikan dan diekspresikan segenap jiwa, sebagaimana yang dicirikan oleh Alquran. Dalam surat Ali Imran: 31-31, Allah berfirman, “Katakanlah (wahai Muhammad), “Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu.” Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Katakanlah (wahai Muhammad): “Taatilah Allah dan Rasul-Nya; jika kamu berpaling, maka sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang kafir.”

Ayat ini menunjuk ciri-ciri orang yang cinta kepada Allah dan Rasulnya. Sekaligus sebagai teguran bagi para hipokrit, yang menyatakan cinta manis hanya sebatas mulut.

Deskripsi di atas mewakili isi kitab Nûr al-Mubîn fi Mahabbah Sayyid al-Mursalîn karya al-‘Allamah Hadrah al-Syeikh Hasyim Asy’ari, yang juga pendiri NU dan Pesantren Tebuireng Jombang. Beliau adalah penulis produktif. Karya-karyanya sebagian besar dalam bahasa Arab dan masih berbentuk manuskrip (makhttuthath). Sebagian telah diterbitkan dan dikaji di pesantren-pesantren. Salah satunya adalah kitab tipis itu.

Sosok yang secara intent mengeksplorasi karya-karya Mbah Hasyim dan mengajarkannya secara bandongan kepada para santri adalah (alm.) KH. Ishom Hadzik (Gus Ishom), cucu dari anak perempuan Mbah Hasyim (saya sendiri ngaji kitab ini kepada beliau selama sebelas hari, 10 Maret – 21 Maret 2001 saat masih nyantri di Tebuireng). Pada setiap kitab mbah Hasyim yang ditahkik oleh Gus Ishom selalu tertulis sibth al-muallif (cucu [dari anak perempuan] pengarang). Termasuk dalam kitab ini.

Secara umum, kitab ini memperkenalkan pribadi Rasulullah. Perbab, dijelaskan sosok Nabi Muhammad sebagai Rasul yang harus ditaati dan diikuti ajaran yang dibawanya. Sebagai seorang Muhammad bin Abdullah bin Abdul Muthallib, yang memiliki keluhuran dan kemulian ahklak, ia adalah sosok yang pantas dicintai dan dihormati.

Melalui kitab ini, Mbah Hasyim seolah-olah mengajak berkenalan dengan Nabi Muhammad, beserta keluarga besarnya. Secara perbab pula, Mbah Hasyim memperkenalkan dan menjelaskan garis keturunan Nabi, putra-putri, paman, para istri, pelayan-pelayan, termasuk para budak yang pernah beliau miliki.

Tawasul

Dalam karya ini, Mbah Hasyim menjelaskan makna tawasul dalam bab tersendiri. Pembahasan tawasul ini bertitik dari ayat Alquran surat Al-Maidah ayat 35: yâ ayyuhalladzîna âmanû ittaqû allah wabtaghû ilaihi al-wasîlah/hai orang-orang yang beriman bertakwalah kalian kepada Allah dan carilah washilah (perantara) untuk sampai kepada-Nya.

Menurut Mbah Hasyim, kata al-wasîlah dalam ayat di atas memiliki arti “segala sesuatu yang telah jadikan/ditentukan oleh Allah, sebagai causa dan wushlah (medium) untuk memperolah obsesi materiil dan atau spiritual”. Dalam hal ini, al-wasîlah itu adalah sosok atau amalan yang yang dikehendaki oleh Allah dan sudah barang tentu baik menurut-Nya.

Karena kata al-wasîlah dalam ayat tersebut bersifat umum dan tidak menunjuk obyek tertentu, maka tawasul bisa dilakukan melalui wasilah sosok yang secara kategoris memiliki kemulian di sisi-Nya, seperti para Nabi, para wali Allah, dan orang-orang saleh, baik ketika mereka masih hidup atau setelah mati. Amalan-amalan saleh juga menjadi medium bertawasul.

Oleh karena itu, menurut mbah Hasyim, tawasul ada dua macam, pertama, tawasul dengan amalan-amalan saleh. Seperti shalat, puasa, haji, zakat, dzikir, infak dan sebagainya. Semua itu adalah medium yang telah Allah tentukan untuk menjupai-Nya.

Kedua, tawasul dengan medium orang-orang saleh. Seperti para Nabi, para wali, dan orang-orang saleh. Tawasul macam ini masih diperdebatkan legalitasnya. Tetapi, Mbah Hasyim cenderung memperbolehkannya.

Mbah Hasyim menukil perkataan Imam Taqiyyuddin al-Subki, “Perlu diketahui, bahwa bertawasul, istighasah dan meminta syafaat kepada Allah melalui perantara kemuliaan Nabi Muhammad adalah perbuatan baik yang sah. Kebolehan ini telah sejak lama dikenal oleh orang-orang Islam dan tidak ada yang mengingkari atau memprotesnya. Sehingga Ibnu Taimiyah muncul dan mengingkari tawasul tersebut, yang mempropagandakan larangan tawasul tersebut kepada orang-orang yang lemah secara intelektual. Perlu diketahui, bahwa larangan tawasul yang dilontarkan Ibnu Taimiyah adalah pendapat baru, yang tidak dikenal oleh ulama-ulama sebelumnya.”

Bagi Mbah Hasyim, tawasul dengan Nabi, pada hakikatnya adalah permohonan kepada Allah semata, sebaga prima causa. Nabi hanya sebagai wasilah, karena dianggap memiliki kemulian dan “posisi tawar” yang tinggi dihadapan Allah. Bukankah relasi memudahkan komunikasi. Para Nabi, para wali, para ulama saleh, mereka adalah orang-orang yang memiliki jiwa-jiwa yang bersih dan suci. Tentu saja relasi spiritual jiwa-jiwa yang bersih dengan Tuhan atau nilai-nilai ketuhanan lebih intim ketimbang jiwa yang tidak bersih. Orang-orang yang memiliki kedekatan relasi spiritual dengan Tuhan, tentu baginya komunikasi dengan-Nya lebih mudah. Sosok-sosok seperti inilah yang bisa “meyalurkan aspirasi” orang-orang yang “jauh” dari Tuhan.

Dalam hal tawasul, kita tetap meyakini hanya Allah sumber segalanya (prima causa). Dan, kepada Nabi Muhammad, kita hanya meyakini beliau adalah sosok yang memiliki relasi spiritual terdekat dengan Allah. Allah a’lam.

 

Tuhan Dalam Bingkai Teks

4 June 2008 § Leave a comment


Di Mana Tuhan?

Beberapa teks literal Alquran dan hadis menyebut posisi Tuhan yang berdiam pada suatu tempat. Sebut saja teks yang barangkali sudah sangat populer dalam teologi Islam seperti di bawah ini,

“Tuhan Yang Maha Pemurah, Yang bersemayam di atas `Arsy.” (Thaha: 5).

Rasul pernah mengajukan pertanyaan menguji kepada salah seorang sahabat, “Di mana Allah?” Sahabat itu menjawab, “Dia ada di langit”. Jawaban itu dibenarkan oleh Rasul. (HR Muslim, Nasa’i, dan Abu Daud dari Muawiyah bin Hakam).

Dan pada suatu waktu, Dia beranjak dari kediaman-Nya menuju ke tempat yang lain untuk suatu “keperluan”,

“Dialah Allah, yang menjadikan segala yang ada di bumi untuk kamu dan Dia berkehendak menuju langit, lalu dijadikan-Nya tujuh langit.” (Al-Baqarah: 29).

Setelah itu, Dia kembali ke “peraduan-Nya”,

“Sesungguhnya Tuhan kamu ialah Allah yang telah menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, lalu Dia bersemayam di atas `Arsy.” (Al-A’raf: 54. Ayat ini juga menjadi penggalan ayat dalam surat Yunus: 3).

“Allah-lah Yang meninggikan langit tanpa tiang (sebagaimana) yang kalian lihat, kemudian Dia bersemayam di atas `Arsy.” (Ar-Ra’d: 2).

Dia bukan “sosok rumahan” yang hanya senang berdiam diri asyik di “dunia atas”, tapi kerap turun ke “dunia bawah”, sebagaimana penuturan Rasul,

“Tuhan kita selalu turun ke “langit dunia” pada tiga paruh malam terakhir, dan memberikan tiga penawaran; pertama, siapa saja yang mau berdoa kepada-Nya, akan Ia kabulkan. Kedua, siapa saja yang meminta kepada-Nya, akan ia berikan. Dan yang ketiga, siapa saja yang meminta ampun kepada-Nya, akan Ia kabulkan.” (HR Bukhari, Muslim, Tirmizi, Abu Daud, dan Ibnu Majah dari Abu Hurairah).

Dia juga selalu berjalan beriringan dengan kita, manusia, kapan pun dan di mana pun,

“Dia bersama kalian di mana pun kalian berada.” (Al-Hadid: 4).

Bukan hanya itu, Dia juga “bergaul” erat dengan kita. Sikap baik kita kepada-Nya, akan berbalas kebaikan melebihi kebaikan yang kita berikan,

“Aku akan selalu bersama orang yang selalu ingat kepada-Ku. Jika orang itu melangkah kepadaku hanya sejarak satu jengkal, Aku akan melangkah kepadanya sejarak satu tangan. Jika orang itu melangkah kepadaku sejarak satu tangan, Aku akan melangkah kepada-Nya sejarak dua tangan. Jika orang itu mendekat kepadaku dengan berjalan, aku akan menyusulnya dengan berlari.” (HR Muslim dan Ahmad dari Abu Hurairah).

Saking erat, tanpa kita sadari, Dia telah menyatu dengan jasad kita,

“Aku lebih dekat kepada manusia dari pada urat lehernya sendiri.” (Qaf: 16).

Jadi, di mana Tuhan?

Tuhan bersemayam di Arsy… Tuhan melayang di langit… Tuhan ada di “langit dunia”… Tuhan berada dekat lebih erat ketimbang urat leher kita… Tuhan ada dalam ingatan kita… Tuhan ada di mana kita berada… Kita berada di mana Tuhan ada… Tuhan ada di mana-mana… Tuhan ada dalam lintasan teks…

*Tulisan ini akan dilanjutkan dengan versi urai pada posting selanjutnya dengan judul “Mengurai Teks Yang Membelenggu Tuhan”.

Makmum Fardu, Imam Sunnah. Makmum Sunnah, Imam Fardu.

29 May 2008 § 1 Comment


Saat masih di pesantren dulu, saya termasuk rajin shalat di masjid pesantren, walaupun tidak selalu ikut jamaah. Sebab, sering telat. Saat sudah sampai di masjid, jamaah sudah bubaran. Jika sudah begitu, saya mesti cari orang yang masih berdiri melaksanakan shalat, lalu menepuk pelan pundaknya, sebagai tanda saya bermakmum kepadanya. Namun, ada yang, sesaat setelah saya tepuk pelan pundaknya, si orang yang dimaksud mengangkat tangan kanannya. Saya berpikir, dia melakukan itu barangkali sebagai isyarat yang dilakukannya bukan shalat fardu, tapi shalat rawatib ba’diyah, sehingga tak sah untuk dimakmumi. Ya sudah, saya tidak jadi shalat berjamaah. Walaupun tidak menganggapnya benar, namun pada saat yang sama saya juga tidak punya argumen untuk menyatakan salah.

Saat kuliah, barulah tahu, bahwa kasus seperti itu adalah persoalan khilafiyah.

Mazhab Maliki dan Hanafi menganggap tidak sah shalat sang makmum yang berbeda jenis dengan shalat sang imam. Tidak sah shalat fardu seseorang yang bermakmum kepada imam yang shalat sunnah. Juga sebaliknya. Atau, misalkan, meng-qadla shalat dzuhur dengan bermakmum kepada orang yang shalat ashar. Makmum yang ada dalam shalat-shalat tersebut, menurut dua mazhab tersebut, tidak dianggap sah shalatnya. Bagi mereka, jelas, disebut imam karena harus diikuti oleh makmum, tidak hanya perilaku shalat, tapi juga niatnya (jenis shalat). Dalam shalat jamaah, jenis dan perilaku shalat antara imam dan makmum harus selaras.

Dalam hadis Nabi yang diriwayatkan Anas bin Malik yang disebutkan,

“Seseorang dijadikan imam karena memang untuk diikuti. Jika dia bertakbir, maka kalian juga harus bertakbir. Jika ruku’, kalian pun harus ikut ruku’. Jika duduk (tahiyyat), kalian juga harus ikut duduk. Pun, ketika sang imam shalat dalam posisi berdiri, kalian juga harus bermakmum dalam posisi berdiri.”[1] (HR Bukhari, Muslim, Tirmizi, Nasai, Abu Daud, dan Ibnu Majah).

(Dalam riwayat lain disebutkan “jika imam shalat dalam posisi duduk, maka kalian juga bermakmum dalam posisi duduk”)

Dalam hadis lain yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah,

“Seseorang dijadikan imam karena memang untuk ikuti. Maka, kalian jangan sampai berbeda dengannya.”[2]

Bagi Mazhab Maliki dan Hanafi, kedua hadis tersebut sudah cukup untuk menjelaskan keharusan persamaan shalat antara imam dan makmum, baik jenis maupun perilaku shalatnya.

Namun tidak demikian dengan Mazhab Syafi’i. Menurutnya, shalat sang makmum tetap sah, walaupun berbeda jenis dengan shalat si imam. Imam Syafi’i memberikan pandangan yang berbeda dengan Imam Malik dan Abu Hanifah terhadap kedua hadis di atas.

Manurutnya, maksud “Seseorang dijadikan imam karena memang untuk ikuti” dalam hadis tersebut adalah hanya diikuti perilaku lahiriah shalatnya, bukan niatnya. Penyebutan “Jika dia (imam) bertakbir, maka kalian juga harus bertakbir…” menguatkan maksud tersebut.

Dan maksud “kalian jangan sampai berbeda dengannya” adalah “berbeda perilaku lahiriah shalat antara imam dan makmum”. Maksdunya, ketika imam ruku, makmum juga ikut ruku’, tidak boleh melakukan gerakan lain yang berbeda dengan imam. Dan dalam hadis tersebut juga tidak disebutkan imam dan makmum harus sama dalam niat shalat masing-masing.

Maka, bagi Mazhab Syafi’i, sah-sah saja kita bermakmum kepada imam yang berbeda shalat, baik dari sisi waktu (fardu dengan fardu) atau jenis shalat (antara fardu dengan sunnah). Misalkan, shalat isya kita bermakmum kepada orang yang shalat sunnah ba’diyah isya atau shalat tarawih. Atau, kita shalat sunnah dengan bermakmum kepada imam yang shalat fardu. Atau, kita meng-qadla shalat dzuhur dengan bermakmum kepada orang yang shalat ashar. Shalat kita pada kondisi-kondisi demikian tetap sah dan tetap mendapat pahala berjamaah.

Dari dua pendapat di atas saya sendiri lebih condong kepada pendapat yang diajukan Imam Syafi’i, yang memperbolehkan shalat fardu bermakmum kepada imam yang shalat sunnah, atau sebaliknya. Hal ini dikuatkan dengan kisah sahabat Mu’az bin Jabal yang diceritakan oleh Jabir bin Abdillah dan diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam karyanya Shahih Muslim.

Suatu hari, Mu’az bin Jabal shalat isya berjamaah bersama Rasulullah shallallah ‘alaihi wasallam. Setelah selesai, Mu’az pergi mendatangi masyarakatnya (Bani Salamah), dan kebetulan saat itu masyarakat Bani Salamah masih menjalankan shalat isya berjamaah, kemudian Mu’az langsung masuk dalam shaf shalat tersebut. Dalam riwayat Imam Daruquthni disebutkan bahwa yang dilakukan oleh Mu’az adalah shalat sunnah. Atau mungkin saja, Mu’az masuk ke shaf kembali untuk melaksanakan shalat isya. Keikutsertaan kita dalam shalat yang sama yang sudah kita kerjakan (seperti yang dilakukan oleh Mu’az), maka hukum shalat itu adalah sunnah.

Jika yang dilakukan Mu’az adalah shalat isya, maka itu adalah salah satu contoh perpaduan shalat fardu dengan shalat sunnah. Dan itu sah, dalam mazhab Imam Syafi’i. wallahu a’lam bis shawab.

___________________________________________________________________________________

[1] إِنَّمَا جُعِلَ الْإِمَامُ لِيُؤْتَمَّ بِهِ فَإِذَا كَبَّرَ فَكَبِّرُوا وَإِذَا رَكَعَ فَارْكَعُوا وَإِذَا سَجَدَ فَاسْجُدُوا وَإِنْ صَلَّى قَائِمًا فَصَلُّوا قِيَامًا

[2] إِنَّمَا جُعِلَ الْإِمَامُ لِيُؤْتَمَّ بِهِ فَلَا تَخْتَلِفُوا عَلَيْهِ

Where Am I?

You are currently browsing entries tagged with fikih at Warung Nalar.

%d bloggers like this: