Kalla…

19 November 2008 § Leave a comment


“Kalla” menjadi nama belakang wapres kita, Jusuf Kalla. Dan tulisan ini bukan soal dia, namanya, isterinya, anaknya, mantunya, perusahaannya, bukan pula soal Golkar atau Makasar…

Saat masih nyantren di Tebuireng dulu, saya pernah menangkap penggalan ceramah dari kyai (namanya KH Ishaq Lathif yang sampai pada usia senjanya saat ini lebih memilih hidup perjaka tanpa jamahan seorang wanita) di sela-sela pengajian bandongan sebuah kitab, bahwa Allah akan selalu merespon, mengacuhkan doa setiap orang dengan beberapa kemungkinan: dikabulkan sesuai permintaan baik segera atau tertunda, dikabulkan tapi tidak sesuai permintaan alias diganti (barangkali Allah menimbang, sesuatu yang dimintanya tidak proporsional bagi dirinya), atau dikabulkan tapi tidak untuk dinikmati di dunia, di akhirat. Meski yang disebutkan terakhir agak kurang mengena (bukankah kosmos akhirat adalah serba tak butuh?!), tapi yang jelas filosofi pengabulan doa itu mak clep sejak pertama kali masuk telinga kemudian bersemayam di otak, sampai saat ini. Rupanya, filosofi itu adalah sebuah pembacaan dari sebuah teks Alquran ujibu da’wah ad-da’i idza da’ani/Aku (Allah) akan mengabulkan doa orang yang berdoa kepadaku.

“Sementara tak sulit untuk mengerti “maksud si pembaca”, tak mudah untuk tahu bagaimana sebenarnya maksud “teks yang dibaca,” bagitu yang tertulis dalam Eksotopi-nya Goenawan Mohamad. Meski Kyai Ishak, “si pembaca”, memberikan pembacaan terhadap “teks yang dibaca” itu secara sederhana, namun sejujurnya memberikan kemudahan (sementara) bagi saya dalam memahami teks Alquran yang “tak mudah” itu, menjadi pembimbing dan penenang bagi grundengan-grundengan jiwa terhadap Allah terkait litani doa-doa yang terucap tapi seperti masih mengawang-awang.

Mungkin saja, dalam bentuk yang kongkrit, kita telah tak mendapatkan apa yang menjadi harapan dalam doa, namun dengan ketiadaan itu, kita tetap tenang dan nyaman, bahkan dengan kadar yang lebih meningkat, tanpa perubahan emosi yang radikal, bagi saya itu sudah menjadi doa yang terrespon. Sebab, bagi saya, doa adalah kenyamanan, ketenangan. Pelaku utamanya adalah jiwa. Yang menjadi kenikmatan, akhirnya, bukan semata terkabulnya sebuah doa, tapi penghayatan dari doa tersebut. Ukurannya bukan lagi semata bersifat inderawi yang konkrit.

Maka, jika pada rentang waktu tertentu, seperti terindikasikan harapan-harapan yang terrangkum dalam doa tak juga terwujud, segera asumsi itu saya alihkan dengan menikmat-hayati kemungkinan-kemungkinan: mungkin masih butuh waktu, mungkin saya meminta sesuatu yang tidak proporsional, mungkin yang saya minta belum saatnya diminta, mungkin bakal terwujud dengan hal lain, mungkin telah terwujud tanpa disadari… mungkin… mungkin… sambil tetap berdoa jika masih tetap berharap atau sudahi saja doa itu jika jiwamu tak lagi menikmati lantunan doa-doa itu, meski tak juga menolak jika suatu saat harapan itu mak jleg tiba-tiba hadir dalam wujud yang kongkrit. Sebab, bisa saja Allah memberikan apa yang kita harapkan, kita inginkan, justeru pada saat kita melonggarkan harapan dan keinginan itu atau bahkan saat tak lagi memiliki harapan sama sekali. Intinya, tidak ada celah untuk mengatakan Allah tak mengacuhkan doa saya. Acuh Allah tak harus dipahami sebagai terkabulnya doa sesuai dengan keinginan. (“Acuh” artinya “peduli”. “Tak mengacuhkan” berarti “tak mempedulikan”. “Acuh tak acuh” artinya “peduli tak peduli” alias cuek. Kata yang sering dijungkir-balikkan artinya. Dengar saja lagu berjudul “Aku Mau” dari Once atau “Cinta Ini Membunuhku” dari D’Masif, dan simak kata “acuh” dalam liriknya).

Senafas dengan hal itu, ada doa yang paling menggemparkan jagat, paling meresap, paling mendalam, paling bisa merontokkan sendi-sendi jiwa (tapi mungkin juga bikin sesak nafas), adalah “allahumma, la mani’a lima a’thaita, wala mu’thiya lima mana’ta”. Jika dilihat dari isinya, doa itu barangkali lebih pas tidak disebut doa jika definisinya adalah permohonan. “Gusti Pangeran, semua pasti akan terjadi jika panjenengan mengizinkan. Dan pasti akan nihil jika penjenengan menolaknya”. Tidak ada permohonan di sana, dan mungkin lebih cenderung berisi pujian atas superitotas Allah. Pun jika disebut doa, maka itu adalah permintaan agar kita selalu eling, ingat, sadar, awas, waspada, terjaga, melek, lebih dari sekedar tahu superioritas Allah itu.

Bahwa “la mani’a lima a’thaita” adalah pujian superioritas Allah. Bahwa Allah mampu melaksanakan, mewujudkan, menghadirkan apa pun yang kita inginkan. Bahwa kemudian itu menyenangkan kita sebagai manusia. Jika hidup ini penuh dengan keinginan dan obsesi yang berjubel di benak, maka apa lagi yang lebih membahagiakan selain keinginan dan obsesi itu mencuat dalam alam nyata. Bukankah puncak dari keinginan adalah terlaksananya keinginan itu?! Bukankah hal yang paling membahagiakan adalah terwujudnya sesuatu keinginan, kemudian menikmatinya?! Bahwa keyakinan kita akan superioritas Allah itu kerap bertambah kadarnya, saat keinginan-keinginan kita terwujud, ketika hasrat-hasrat mencuat. Dan mungkin dengan agak berlebihan sambil mengatakan, “Allah memang baik, memang kuasa, memang sayang”. Seolah-olah memang seperti itulah tugas Allah. Seolah-olah superioritas Allah terbatas jika Ia melakukan apa yang menjadi keinginan dan menyenangkan kita. Lalu Ia dingambeki jika tak berbuat seperti itu.

Kalla…” kata Allah, “Mbok ya jangan nyangka seperti itu… Masak definisi kasih sayangku kepadamu hanya diterjemahkan dengan hal-hal yang Kau rasa enak saja. Terus, Kau menggetingiku, karena aku Kau anggap menelantarkanmu pada kondisi serba tak enak, dan sebab itu Kau anggap aku sedang menghinakanmu…”

“Aku memang mampu berbuat apa saja. Kamu pasti sudah tahu itu. Tapi bukan berarti aku mesti meladeni hasratmu. Aku juga mampu untuk tak berbuat apa-apa untukmu. Seharusnya kamu juga tahu itu, biar jalan pikiranmu tidak pincang, supaya jalan spiritualmu lempang. Cobalah pahami aku dengan kemungkinan, bukan dengan kepastian atau ketak-mungkinan…”

Wala mu’thiya lima mana’ta…

Advertisements

Fragmen Hamba Tak Berkualitas

7 September 2008 § Leave a comment


Keluar dari pesantren, semakin lama sepertinya saya semakin jauh saja dari masjid/mushalla (dalam arti yang sebenarnya), dan hal-hal yang berkaitan dengannya. Saat di pesantren, kehidupan seperti dekat dan melekat dengan masjid. Keluar dari pesantren dan menghuni rumah kost, lebih dari setahun pertama, otomomatis kedekatan itu merenggang, meski masih beruntung, hanya dibutuhkan beberapa langkah saja untuk ke mushalla. Jamaah untuk salat-salat tertentu masih menjadi hal mudah. Kini, setahun selanjutnya, di kost yang berbeda, mushalla benar-benar jauh. Butuh beberapa ratus langkah untuk menuju ke sana. Sudah beberapa bulan ini, ibarat kate, dari lima waktu salat, enam di antaranya tidak jamaah. Salat jamaah menjadi hal sangat istimewa bagi saya saat ini, apalagi di “masjid”. Gusti, Gusti! Semaputlah aku, jika arti “pemuda yang hatinya selalu terpaut dengan masjid” adalah orang-orang yang rajin salat di masjid. Sebab, saat ini saya hampir tak pernah melakukannya, kecuali untuk salat jumat.

Maka, pada Ramadan pertama, ketika orang-orang ramai berduyun ke masjid dan mushalla untuk melaksanakan tarawih, jasad ini hanya terpaku di kost. Di antara sayup-sayup lantunan Alquran imam salat di mushalla nun jauh di sana, saya hanya bisa mengasihani diri sendiri, sambil nonton race GP dan pertandingan Serie A Liga Italia antara Milan dan Bologna, di Trans7.

Ya, sudah. Tak apa. Nanti bisa tarawih sendiri. Dilihat dari kalkulasi pahala, jelas saya telah kehilangan beberapa di antaranya. Pahala melangkah ke “rumah Allah”. Pahala salat jamaah. Pahala menahan kegondokan nafsu. Inilah salah satu “kegondokan” salat tarawih di masjid; tidak bisa mengatur sendiri bilangan rakaat sesuai kehendak hati. Jika mushalla tersebut penganut tarawih duapuluh rakaat plus witir tiga rakaat, ya sudah ikuti saja jumlah itu. Jika delapan rakaat plus tiga, ya sudah ikuti saja jumlah yang ada. Nah, bukankah dihitung “uang lelah”, jika kegondokan nafsu yang menginginkan salat seringkas dan secepatnya terpatahkan oleh aturan mushalla yang menerapkan bilangan rakaat yang baku. Al-ajru bi qadr al-ta’ab. Besar kecilnya pahala dihitung dari tingkat “kelelahan” yang terjadi atau yang dirasakan, lahir dan batin.

Anda boleh mengkalkulasikan pahala untuk kasus ini; Anda berangkat ke masjid untuk salat tarawih dengan kelelahan dan konflik lahir batin yang hebat. Ngantuk dan kemalasan luar biasa menyerang akibat terlalu banyak makanan yang disantap saat berbuka. Adalah anugerah besar jika pada kondisi seperti itu Anda tetap masih bisa melangkahkan kaki menuju masjid cukup jauh yang menganut tarawih duapuluh rakaat plus witir tiga rakaat, mengalahkan kengantukan dan kemalasan diri.

Tapi, ritual individual semacam salat atau puasa Ramadan, jika dilaksanakan secara massal, memang membangkitkan spirit dan memberikan kondisi tersendiri. Hampir selalu bisa mengikuti jumlah rakaat yang ditentukan. Jika “jiwa malas” ini ingin berhenti pada rakaat keenam salat tarawih, seluruh jamaah seperti mengatakan kepada saya, “Ayo teruskan salatnya. Jangan berhenti.”

Jika salat tarawih di mushalla yang menganut sebelas rakaat termasuk witir, di akhir salat, di dalam hati saya bilang; “Cukup” atau “alhamdulillah!” menunjukkan syukur, maka untuk yang duapuluh tiga rakaat, saya akan bilang, “cukup! Cukup!” atau “akhirnya!” menandakan kelegaan. Lalu kita pun mengira-ngira, pada salat tarawih yang dilaksanakan dua kali (seperti di Masjid Istiqlal atau Masjid UIN Jakarta), kenapa para jamaah pada berbubaran pada rakaat ke sebelas (delapan rakaat tarawih plus tiga rakaat witir), dan hanya menyisakan satu shaf saja yang bersedia tuntas sampai rakaat keduapuluh tiga? Beberapa kemungkinan bisa dikemukakan. Mungkin mereka yang bubar pada rakaat kesebelas adalah orang-orang Muhammadiyah, karena rumusan argumentasinya memang demikian, dan sisanya adalah orang NU. Atau orang-orang NU yang kebetulan ada keperluan mendesak pada rakaat itu, atau mungkin kentut, atau mungkin merasa terlalu banyak untuk meyelesaikan duapuluh tiga rakaat. Atau probabilitas masuk akal lainya.

Tapi, apa pun, dilihat dari kuantitas, salat tarawih berjamaah sebelas atau duapuluh tiga rakaat, adalah kondisi paling baik yang dipancarkan oleh salat jamaah, ketimbang salat tarawih sendirian, bagi saya. Sebab, tiap kali salat tarawih sendirian, seperti yang sudah-sudah, rakaat terbanyak adalah sembilan (delapan rakaat tarawih ditambah cukup satu witir). Rakaat favorit ya tujuh (enam rakaat tarawih plus satu witir). Meski pernah juga tarawih cuma empat rakaat. Batas jumlah rakaat salat tarawih sendirian adalah “kecenderungan”. Jika pada rakaat keenam saya merasa harus berhenti, saya sudahi salat itu. Bahkan jika pada rakaat keempat saya mesti sudahi, ya saya berhenti. Jika seperti ada kemudahan untuk menyentuh rakaat delapan, ya saya lakukan. Betapa sulitnya tarawih dua puluh rakaat jika salat sendirian. Saya mengikuti “fatwa hati”. Iftati qalbak. Mintalah fatwa pada hatimu. Jika hati bilang sudah, ya sudah. Jika bilang teruskan, ya dilanjut salatnya. Seperti tidak ada yang mengingatkan, tidak ada dorongan luar agar meneruskan salat pada rakaat selanjutnya.

Tapi untung saja, tidak ada aturan normatif yang valid soal jumlah rakaat tertentu untuk salat tarawih. Kanjeng Nabi tidak menekankan orientasi kuantitas angka dalam salat tarawih (pada masa Nabi tidak ada istilah “tarawih”, tapi yang ada adalah “qiyam ramadan”). Tapi yang menjadi perhatian adalah kualitas salat itu. Meski saya tak hendak mengatakan bahwa salat saya telah berkualitas. Tapi, paling tidak, berapapun rakaat salat tarawih yang saya kerjakan, tidak salah menurut aturan normatifnya, sebab ia memang tidak mengatur atau memberikan batasan tertentu. Dan jika saya melaksanakan salat tarawih dalam bilangan rakaat yang minimalis, tidak lantas menjadikan aturan normatif itu sebagai pembenar. Atau ketiadaan aturan normtif yang valid soal jumlah rakaat salat tarawih menjadi argumentasi pembenar salat tarawih saya yang minimalis. Tidak demikian. Itu hanya soal pilihan berdasarkan kecenderungan hati.

Duh, Gusti! Maafkan hamba-Mu yang tak berkualitas ini. Yang beragama masih pada ranah kognitif, masih sebatas “pengetahuan”, masih berorientasi kalkulasi pahala (jika pun berhak atas pahala, maka yang proporsional ya pahala minimalis) belum menyentuh aspek afektif, penghayatan sebagai hamba dan kesadaran akan kebijaksanaan-Mu.

Allahumma a’inni ‘alaa dzikrika wa syukrika wa husni ‘ibadatika.

Oleh karena itu, mohon kerja samanya, agar aku selalu eling kepada-Mu, bisa mengapresiasi kebijaksanaan-Mu, dan menjalin harmoni yang berkualitas dengan-Mu. Amin.

Baca tulisan terkait di link ini:

Tuhan Usir Oknum Mengaku Umat Islam

16 May 2008 § 1 Comment


Sebuah imajinasi…

Suatu ketika, Tuhan memanggil seorang oknum yang Mengakunya Umat Islam.

“Hei, Kamu! Kemana aja kamu!” Kata Tuhan, agak membentak.

“A-a-apa, maksudMU, Tuhanku?” kata si oknum tergagap, bingung bercampur takut. Disusul kemudian dengan jawaban polos…

“Aku masih di bumi, kok, Tuhan. MembelaMU. Mempertahankan agamaMu.”

“Membelaku? Mempertahankan agamaku?”kata Tuhan yang disahut dengan anggukan polos si oknum itu. “Apa yang sudah Kamu lakukan untuk itu?”

Melihat pertanyaan Tuhan ini, si oknum menyunggingkan senyumnya, merasa itu adalah pertanyaan mudah. Dengan lugas, si oknum menjawab…

“Kami berhasil menekan Lia Eden dan pengikutnya. Walaupun saat ini dia sudah bebas dari penjara, tapi kami jamin, ajaran dan pengikutnya tak akan meluas… Kami sudah berhasil menjadikan Mushadeq, yang pernah mengaku sebagai nabiMU untuk abad ini, bertaubat… Kami sudah berhasil menyudutkan Ahmadiyah… Kami melarang umatMU untuk mengucapkan ucapan selamat hari raya agama lain kepada pengikutnya… Kami haramkan sekulerisme, pluralisme, liberalisme… Kami haramkan nikah beda agama… Kami haramkan wanita jadi imam shalat…“

“Kami melarang Dewi Persik bergoyang… Kami mengharamkan goyang ngebor Inul… Film-film yang mengumbar pornoaksi kami larang tayang… Kami melarang ini… Kami mengharamkan itu… Kami menyesatkan aliran ini… Kami menyesatkan kelompok itu… Kami sudah bla, bla, bla, bla, bla… Pokoknya kami sudah banyak berjuang untuk li i’laa i kalimatillah demi ‘izzul islam wal muslimin…”

“O, begitu,” Tuhan mendengar jawaban si oknum dengan raut ekspresi biasa saja. Si oknum seperti terlihat bangga dengan wajah berseri-seri.

“Hei, kamu! Denger-denger, pemerintah di negerimu bakal menaikan harga BBM yang akan berdampak bagi harga kebutuhan lain. Denger-denger juga, di negerimu mayoritas miskin, dan merekalah yang paling merasakan dampak kenaikan BBM itu. Dan sudah ada yang bunuh diri sebab itu? Benar? Aku juga lihat ada bencana lumpur Lapindo di sidoarjo. Korban-korbannya banyak yang masih menderita. Benar kan? Aku juga menyaksikan ada rumah-rumah ibadahku yang dibakar? Betulkan?” Si oknum hanya mengangguk mengiyakan serentetan pertantanyaan Tuhan itu.

“Apa yang sudah Kamu lakukan untuk itu?” tanya Tuhan selanjutnya.

“Maaf, Tuhan, aku pikir sudah ada yang berwenang untuk menyelesaikan masalah-masalah itu. Jadi kami tidak perlu turut campur. Lagian kami tidak sempat melakukannya, di tengah kesibukan tugas-tugas kami itu.”

“Ggrrhhh… Apa Kamu bilaaang!!! Pergi!!! Kamu tak pantas menemuiku!!!”

Terdengar tamparan keras yang menjungkalkan si oknum itu.

– – –

Sebuah refleksi…

Dalam satu hadis qudsi, pada hari kiamat kelak, dikisahkan Allah berdialog dengan hambaNya. “Wahai manusia, aku pernah sakit, kenapa Kau tidak menjengukku? Aku pernah kelaparan, kenapa Kau tidak memberiKu makanan? Aku pernah kehausan, kenapa Kau tidak memberiKu minuman?”

Dengan bingung, hamba tersebut berkata, “Wahai Tuhanku, bagaimana aku bisa menemuimu dan menjengukMu, memberiMu makanan dan minuman, sedangkan Engkau adalah Tuhan semesta alam?!”

Lalu Allah SWT menjawab, “Wahai manusia, tidakkah Kau tahu, hambaku si Fulan pernah sakit?! Tidakkah Kau tahu, hambaku si Fulan pernah kelaparan dan kehausan?! Aku tahu, Kau mengetahui semua kenyataan itu, hanya saja Kau tidak mau peduli. Padahal jika Kau mau peduli kepada mereka, niscaya Kau akan menjumpaiKu di sisi mereka.” (HR Muslim dari Abu Hurairah).

Ketika Dua Penyangga Roboh

2 May 2008 § 1 Comment


Belum lagi kering air mata kesedihan atas meninggalnya sang paman, Abu Thalib, kesedihan lain bertubi mendera Rasul. Sang istri, Khadijah berpulang meninggalkan Rasul, menyusul sang paman untuk selamanya. Khadijah, sang istri yang ia sebut sebagai salah seorang perempuan terbaik dunia, selain Maryam binti Imran Sang Perawan Suci yang melahirkan Nabi Isa, Asiyah istri Raja Firaun, dan Fatimah putrinya sendiri.[1]

Khadijah adalah sudagar kaya yang memiliki banyak pegawai. Salah seorang di antaranya adalah pemuda bernama Muhammad bin Abdullah yang kelak menjadi Rasul. Kebaikan, kejujuran, dan sifat-sifat bajik lain yang tersemat pada pegawainya itu, membuat sang sudagar jatuh hati. Semakin hari berlalu, perasaan terpikat itu semakin dalam tertancap di hati saudagar berumur empatpuluh tahun tersebut, hingga akhirnya memutuskan untuk meminang seorang pemuda berusia duapuluh lima tahun itu.

Pada awalnya, ayah Khadijah enggan menyetujui keinginan putrinya itu. Namun, ia tak kurang akal agar keinginan memiliki Muhammad tercapai. Diadakanlah pesta terselubung. Suatu hari, Khadijah membuat banyak makanan dan minuman. Saat itu, belum ada larangan minuman keras. Diundanglah ayah dan beberapa kerabatnya serta sejumlah orang-orang dari suku Quraisy. Sudah menjadi adat masyarakat Arab kala itu, minuman keras menjadi sajian khas untuk acara pesta atau sekedar kumpul-kumpul. Dan sebagai giliran, mabuk-mabukan menjadi hal yang tak bisa terelakkan. Demikian juga yang terjadi pada hajatan laten Khadijah itu. Sebagian besar orang-orang yang hadir pada acara itu telah teler, termasuk ayahnya. Pada kondisi seperti itulah Khadijah melaksanakan niatnya.

“Ayah, Muhammad telah melamarku. Aku harap Ayah mau menerimanya dan menikahkannya untukku,” pinta Khadijah kepada Ayahnya yang masih mabuk. Dan Ayahnya hanya manggut-manggut saja mendengar permintaan putrinya itu.

Pesta pernikahan Khadijah dan Muhammad pun siap dilangsungkan. Persiapan di sana sini dilakukan. Khadijah mendandani ayahnya sedemikian rupa. Begitu juga dengan orang-orang yang hadir di situ.

Untuk beberapa lama, pesta pernikahan pun berlangsung. Kebahagian di sana sini terpancar berbaur dengan riuh rendah hadirin yang mabuk. Sampai akhirnya sedikit kericuhan terjadi, saat ayah Khadijah sadar dari mabuknya dan melihat dirinya telah berpakaian rapi, berdandan pula.

“Ada apa ini?! Ada apa ini? Apa yang terjadi di sini?!” Ayah Khadijah yang sedari tadi menjadi bagian dari pesta itu, seperti orang yang terjebak pada sebuah mimpi buruk dan tiba-tiba terbangun. Ia terakut kejut. Khadijah didekatinya.

“Ada apa ini? Kenapa aku berpakaian seperti ini?”

“Ayah baru saja menikahkanku dengan Muhammad bin Abdullah,” jawab Khadijah berusaha tenang.

“Apa?! Aku telah menikahkanmu dengan si yatim asuhan Abu Thalib itu?” Ayah Khadijah semakin terkaget mendengar pernyataan putrinya.

“Iya. Ayah telah melakukan itu. Memangnya kenapa?!”

“Tidak, tidak! Aku tidak setuju!”

Tapi Khadijah bukanlah perempuan lemah yang gampang terpojok.

“Apa engkau tidak malu?! Engkau ingin membuat dirimu tampak bodoh di mata orang-orang Quraisy dengan memberi tahu mereka engkau sedang mabuk dan masih belum waras?! ”<!–[if !supportFootnotes]–>[2]<!–[endif]–>

Hari-hari berlalu melunakkan keadaan. Khadijah dan Muhammad pun hidup bersama. Bersama Khadijah, awal perjuangan Muhammad menyampaikan pesan-pesan ketuhanan dimulai. Ia sering bermimpi tentang kewahyuan. Ia juga lebih sering menyendiri, meninggalkan istri, keluarga dan masyarakatnya. Ia memilih Gua Hira sebagai tempat menyendiri. Ia pulang kepada Khadijah jika perbekalannya sudah habis. Setelah itu kembali lagi ke gua.

Namun, kali ini, Muhammad pulang ke Khadijah bukan untuk mengambil bekal. Ia pulang dengan raut wajah pucat pasi berbalut ketakutan luar biasa. Keringat dingin mengalir deras membasahi tubuhnya. Khadijah segera memapah tubuh menggigil Muhammad ke ranjang, menyelimutinya, dan mendekapnya erat. Khadijah berusaha menenangkan Muhammad, hingga akhirnya ia menceritakan perihal yang terjadi.

“Suamiku, tenangkanlah dirimu. Aku percaya, apa yang terjadi padamu bukanlah pertanda buruk. Aku yakin, sekali-kali Allah tidak akan menyusahkanmu. Kau orang baik yang selalu menjalin hubungan baik dengan orang-orang. Kau selalu membantu orang-orang tak mampu, orang-orang yang terkena musibah, dan mau menanggung kebutuhan mereka. Kau selalu menghormati tamu…”

Komentar sejuk Khadijah tersebut memancarkan energi kehangatan dan ketenangan bagi jiwa Muhammad yang masih erat dalam dekapan isterinya itu.

Keesokan harinya, Khadijah mengajak Muhammad menemui Waraqah bin Naufal, seorang renta mantan penyembah berhala yang terpesona dengan agama Nasrani hingga kemudian memeluknya, untuk menanyakan apa yang terjadi pada Muhammad dari sudut pandang Injil. Waraqah sangat menguasai Injil. Dia pula yang menyalin Injil dari bahasa Ibrani ke bahasa Arab.

“Saudaraku,” kata Waraqah kepada Muhammad, “yang mendatangimu di Gua Hira adalah malaikat Jibril yang juga pernah mendatangi Nabi Musa. Andai saja, saat ini, aku masih muda, niscaya kelak aku dapat melihat Engkau diusir oleh masyarakatmu…”

“Aku akan diusir oleh masyarakatku sendiri?!” Tanya Muhammad menyela, kaget dengan yang terakhir dikatakan Waraqah.

“Benar. Tidak ada orang sepertimu, yang membawa pesan-pesan ketuhanan, yang tidak dimusuhi. Jika pada saatnya itu terjadi, dan aku masih hidup, niscaya aku akan menolongmu.”

Namun, tak lama setelah itu, Waraqah meninggal dunia membawa serta angannya.<!–[if !supportFootnotes]–>[3]<!–[endif]–>

Ya, Khadijah telah meninggalkan Rasul untuk selamanya. Seorang isteri yang menjadi selimut hangat bagi suami, menjadi tongkat tangguh bagi sandaran rapuh suami, orang yang pertama kali merespon positif risalah ketuhanan yang dibawa sang suami, dan orang yang mencurahkan jiwa, raga, harta, dan apa pun yang dimilikinya untuk perjuangan sang suami.<!–[if !supportFootnotes]–>[4]<!–[endif]–>

Tahun itu, tepatnya tiga tahun sebelum hijrah ke Madinah, menjadi masa-masa paling berkabung bagi Rasul. Sebelum kematian sang istri, Rasul telah ditinggal terlebih dahulu oleh sang paman. Genap sudah kesedihan Sang Rasul. Detik-detik menjelang kematian Abu Thalib, dan bahkan sepeninggalnya, adalah masa-masa dramatis bagi Sang Rasul…

Abu Thalib, orang yang sangat mencintai Rasul dan ia pun begitu, sedang tertatih-tatih menapaki sisa hidupnya. Ia sedang berada di ujung jurang kehidupan dunia. Sedikit saja Israil menjentikkan jarinya, ia akan terlempar ke dunia lain.

Saat Rasul yang menjenguk Abu Thalib, di situ telah ada sanak saudaranya dan sejumlah orang dari suku Quraisy, di antaranya adalah Abu Jahal dan Abdullah bin Abi Umayyah yang telah datang lebih dulu.

Orang-orang yang hadir menjenguk Abu Thalib terbelah menjadi dua kubu, mereka yang telah memeluk agama Rasul Muhammad dan mereka yang masih menggenggam erat agama Abdul Muthalib (kepercayaan jahiliyah). Dua kubu itu mempertaruhkan sisa hidup Abu Thalib untuk mau mengikuti ajakan masing-masing, antara ajakan Rasul terhadap Islam dan peneguhan Abu Jahal terhadap kepercayaan jahiliyah yang telah dianut Abu Thalib.

Di akhir masa hidup Abu Thalib, situasi panas justru menghinggapi orang-orang yang datang menjenguknya. Abu Jahal berulah dengan menghalangi Rasul yang hendak mendekati Abu Thalib untuk menyampaikan sesuatu.

“Kemenakanku, ada apa?” Tanya Abu Thalib kepada Rasul, melihat kemenakannya itu punya maksud.

Rasul yang pada awalnya ingin mengutarakan maksudnya lebih dekat dengan Abu Thalib, terpaksa menyampaikan dengan agak jauh darinya.

“Paman, jika Allah menentukan saat ini adalah perjumpaan terakhirku denganmu, hanya satu yang kuminta darimu, ucapkanlah la ilaha illallah. Dan aku akan menjadi saksi di hadapan Allah atas ucapanmu itu,”<!–[if !supportFootnotes]–>[5]<!–[endif]–> tak sampai hati Rasul menyaksikan orang yang sudah seperti ayahnya sendiri, bahkan lebih dari itu, di akhir hayatnya masih menganut kepercayaan jahiliyah.

“Paman, jika sekalimat itu Paman ucapkan, semenanjung Arab akan mengikuti Paman. Begitu juga dengan orang-orang non-Arab.”<!–[if !supportFootnotes]–>[6]<!–[endif]–>

Abu Thalib adalah salah seorang tokoh Quraisy yang paling disegani dan dipanuti. Ia sangat setia dengan kepercayaan moyangnya. Sejak umur delapan tahun<!–[if !supportFootnotes]–>[7]<!–[endif]–>, Rasul telah berada di bawah asuhan Abu Thalib, setelah beberapa lama di bawah asuhan kakeknya, Abdul Muthallib. Dengan cinta, ia berperan sebagai ayah bagi Rasul. Ia tidak tidur kecuali Muhammad kecil ada di sampingnya. Ia tidak keluar rumah kecuali si yatim Muhammad menyertainya. Ia dan keluarganya tidak akan makan kecuali Muhammad telah datang dan mendapatkan bagian. Ia dan keluarganya tak sayang mendapatkan sedikit jatah makanan, asal Muhammad kenyang.<!–[if !supportFootnotes]–>[8]<!–[endif]–>

Ketokohannya menjadi benteng pelindung bagi Rasul dalam menyampaikan risalah ketuhanan, dari aksi kelompok-kelompok yang anti. Kekerabatan, cinta, dan simpati kepada Rasul, telah melebur menjadi satu dalam diri Abu Thalib, menembus sekat-sekat perbedaan keyakinan paman dan kemenakan itu. Abu Thalib rela mempertaruhkan nyawanya jika sedikit saja ada yang berani menggores kulit Sang Rasul. Abu Thalib telah mempersembahkan separuh hidupnya untuk Rasul.

Orang-orang, utamanya mereka yang menggenggam erat agama Abdul Muthalib, semakin ricuh mendengar ucapan Rasul.

“Abu Thalib, apakah Kau telah membenci kepercayaan moyang kita, kepercayaan Abdul Muthallib?!” Spontan Abu Jahal menyela seraya membantah ucapan Rasul, untuk meneguhkan keyakinan Abu Thalib agar tidak goyah oleh pengaruh Rasul.<!–[if !supportFootnotes]–>[9]<!–[endif]–>

“Heh, Muhammad! Kau ingin menjadikan tuhan-tuhan yang telah ada menjadi satu tuhan?! Hah, itu konyol, Muhammad?!” Yang lain ikut-ikutan menyalak.

Mereka yang tidak ikut menyalak hanya bisa saling berbisik. Sinis menyangsikan maksud Rasul. Namun Rasul tak henti-hentinya menggunakan kesempatan, secuil apa pun itu. Berulang-berulang, berkali-kali, ia menatap Abu Thalib, berulang-berulang, berkali-kali pula menyampaikan harapan kepadanya. Sampai pada akhirnya, Abu Thalib berujar kepada Rasul…

“Kemenakanku, Aku tak ingin, sepeninggalku nanti, orang-orang akan mencacimu, memaki sanak turun ayahmu. Aku khawatir, jika aku memenuhi permintaanmu, orang-orang akan melakukan itu. Mereka (orang-orang Quraisy) akan menyangka, aku memenuhi permintaanmu semata-mata karena terpojok kematian. Aku tak mau itu terjadi.<!–[if !supportFootnotes]–>[10]<!–[endif]–> Kemenakanku, aku minta maaf, aku tak bisa menanggalkan keyakinanku, aku tak dapat meninggalkan kepercayaan moyangku…”

Abu Thalib, sang benteng pelindung Rasul, telah berpulang, menjejakan sebidang kesedihan di hati Rasul. Sedih, telah ditinggal pergi sang pelindung, sedih pula karena sang paman pergi membawa serta keyakinan jahiliyah.

Kepergiannya menyisakan tantangan bagi Rasul. Selama dalam perlindungan Abu Thalib, kelompok-kelompok anti Rasul tidak ada yang bisa menyentuhnya. Aksi mereka hanya sebatas gerakan urat saraf. Namun, sepeninggal Abu Thalib, gerakan itu telah meningkat menjadi gerakan kekuatan otot. Mereka menjadi lebih berani mengekspresikan kebencian terhadap Rasul. Apa yang tidak bisa dilakukan untuk mengintimidasi Rasul selama ia berada di bawah perlindungan Abu Thalib, mudah saja mereka lakukan sepeninggalnya, bahkan semakin menjadi-jadi…

Pada peristiwa detik-detik terakhir hidup Abu Thalib itu, tiga ayat turun merespon tiga hal yang terjadi ketika itu. Ayat pertama adalah, “Shaad, demi Alquran yang mempunyai keagungan. Sebenarnya orang-orang kafir itu (berada) dalam kesombongan dan permusuhan yang sengit.” (Shaad: 1-2), yang merespon sikap Abu Jahal dan rekan-rekannya saat menghalangi Rasul untuk mendekati Abu Thalib dan saat mereka menyela seraya membantah ucapan Rasul dengan nada pongah.<!–[if !supportFootnotes]–>[11]<!–[endif]–>

Ayat kedua dan ketiga yang turun adalah, “Tidaklah sepatutnya bagi Nabi dan orang-orang yang beriman memintakan ampun (kepada Allah) bagi orang-orang musyrik, walaupun orang-orang musyrik itu adalah kaum kerabatnya, sesudah jelas bagi mereka, bahwasanya orang-orang musyrik itu, adalah penghuni neraka Jahanam.” (At-taubah: 113), dan ayat, “Sesungguhnya kamu tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu cintai, tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang dikehendaki-Nya. Dan Allah lebih mengetahui orang-orang yang mau menerima petunjuk.” (Al-Qashash: 56), yang merespon Rasul, yang sangat berhasrat agar sang paman mau memeluk Islam, dan meminta agar Allah berkenan mengampuni dosa-dosanya, setelah melihat pilihan akhir sang paman atas keyakinannya.<!–[if !supportFootnotes]–>[12]<!–[endif]–>

Ciputat, 1 Mei 2008

<!–[if !supportFootnotes]–>

<!–[endif]–>

<!–[if !supportFootnotes]–>[2]<!–[endif]–>HR Ahmad bin Hanbal dari Ibnu Abas

<!–[if !supportFootnotes]–>[4]<!–[endif]–>Tuhfah Al-Ahwazi bi syarhi Jami’ At-Tirmizi

<!–[if !supportFootnotes]–>[5]<!–[endif]–>HR Bukhari dari Musayyab bin Khuzn (Ayah Said bin Musayyab).

<!–[if !supportFootnotes]–>[6]<!–[endif]–>Al-Bidayah wa An-Nihayah 3/123-124, karya Ibnu Katsir.

<!–[if !supportFootnotes]–>[7]<!–[endif]–>Al-Bidayah wa An-Nihayah 2/282, karya Ibnu Katsir.

<!–[if !supportFootnotes]–>[8]<!–[endif]–>Al-Bidayah wa An-Nihayah 2/282, karya Ibnu Katsir.

<!–[if !supportFootnotes]–>[9]<!–[endif]–>HR Bukhari dari Musayyab bin Khuzn (Ayah Said bin Musayyab).

<!–[if !supportFootnotes]–>[10]<!–[endif]–>Al-Bidayah wa An-Nihayah 3/123, karya Ibnu Katsir.

<!–[if !supportFootnotes]–>[11]<!–[endif]–>Al-Bidayah wa An-Nihayah 3/124, karya Ibnu Katsir.

<!–[if !supportFootnotes]–>[12]<!–[endif]–>HR Bukhari dari Musayyab bin Khuzn (Ayah Said bin Musayyab).

Dealova

23 April 2008 § 9 Comments


aku ingin menjadi mimpi indah…

dalam tidurmu.

aku ingin menjadi sesuatu

yang mungkin bisa kau rindu…

karena langkahku rapuh

tanpa dirimu…

karena hati telah letih.

aku ingin menjadi sesuatu

yang selalu bisa kau sentuh.

aku ingin kau tahu

bahwa kuselalu memujamu.

tanpamu sepinya waktu

merantai hati…

bayangmu seakan-akan…

kau seperti nyanyian dalam hatiku,

yang memanggil rinduku padamu…

seperti udara yang kuhela,

kau selalu ada…

hanya dirimu,

yang bisa membuatku tenang.

tanpa dirimu,

aku merasa diam dan sepi.

Bagi sebagian orang, barangkali barisan bait-bait puitis di atas sudah tak asing lagi. Ya, bait-bait indah itu merupakan single yang dipopulerkan Once, sang vokalis band Dewa, yang menjadi original sound trakc (OST) film Dealova. Bait-bait indah tersebut menjadi sebuah lagu yang betul-betul indah, sempurna, dan menyentuh, ketika terpadu dengan tarikan suara Once, diringi dengan alunan musik yang mellow, slow dan mendayu-dayu. Aura sentuhannya akan begitu terasa, jika Anda mendengarkan lagu itu dengan penuh perenungan, penghayatan, dan pastinya jika Anda adalah orang yang memiliki hati lembut dan sensitif, walaupun tanpa harus memiliki sense of music yang peka. Dengan begitu, Anda akan terbawa pada kondisi tertentu yang penuh makna. Entah kenapa, sudah belasan, puluhan atau mungkin dalam hitungan tak terhingga, lagu-lagu mellow, slow dan mendayu-dayu yang aku dengarkan dan aku nikmati, sampai pada lagu yang didaulat sebagai lagu reliji penuh pesan moral dan ketuhanan, namun hanya lagu Dealova itu yang bisa mencuri perhatian lebih dariku, bukan hanya telinga, tapi juga jiwa dan pikiran.

Dalam beberapa waktu, lagu itu aku putar berulang-ulang, berkali-kali di pc, menemaniku saat menulis, mengerjakan makalah, main game, menjadi pengantar tidur atau sengaja ingin menikmati dan menghayati lirik-liriknya. Tulisan ini pun aku ketik dengan iringannya. Lagu itu mampu menjadi inspirasi, oleh karenanya ia mendapat apresiasi lebih.

Bagiku, sungguh, lagu itu begitu menyentuh. Ia telah merasuki otak dan meresap ke dalam kalbu, hingga memutar kembali memori, untuk mengenang masa lalu bersama orang-orang terdekat, yang cintanya telah menancap terpatri begitu dalam di hati, namun mereka tak lagi di sisi, dan atau menjadi lagu latar dalam lika-liku kehidupan (cinta) saat ini.

Lagu Once, yang diciptakan Opick, dan ia lantunkan bersama Victorian Philharmonic Orchestra, itu seolah-olah telah mempertemukanku dengan orang-orang terdekat dan tercinta yang telah lama tiada atau sekedar berpindah tempat, serta semakin menjadikan intim dan bergerlora hubungan yang saat ini sedang terjalin.

Oleh sebab itu, aku sepakat dengan Once. Orang-orang yang pernah dekat dengan kita dan apalagi telah memiliki ikatan cinta, meski (telah) berpisah raga, namun, karena cinta ia selalu ada. Intuisi dan hati memahami benar masalah ini. Mereka “seperti udara yang kuhela, kau selalu ada…”.

Pada dasarnya, lagu memiliki sifat netral bi zatihi, apapun jenisnya. Respon jiwa kita yang menjadikannya bermakna. Dengan merengungi dan menyelami jiwa sebuah lagu tertentu, ia bisa menghantarkan jiwa manusia pada kondisi terdalam dan bermakna, serta mampu menggoyahkan sendi-sendi psikologi. Terus terang, lagu Once di atas pernah menghancurkan dinding mataku, karena tak kuasa menahan linangan air mata. Aku benar-benar tersentuh dan larut dalam syair indah penuh makna itu. Alunan syairnya membawaku pada kondisi spiritual yang intim, seolah-olah kedekatan Tuhan – yang disadari atau tidak, Ia memang dekat – begitu terasa. Memang, perasaan intim dengan Tuhan bisa dirasakan bukan hanya melalui ritual-ritual formal. Itulah hati. Aktifitasnya tak terlembagakan dalam bentuk simbol-simbol dan ritual, serta tak terbelenggu oleh dimensi ruang (apa pun, di mana pun)dan waktu (kapan pun). Hanya sebuah lagu pun bisa memantik hati menghayati perasaan itu.

Alangkah Anda akan merasa intim dengan Tuhan, jika bait ini, “hanya diri-Mu, yang bisa membuatku tenang, tanpa dirimu, aku merasa diam dan sepi…”, Anda sampaikan kepada-Nya (atau “nya”) dengan perenungan dan bahasa jiwa. Tersirat di sana, Anda telah berikrar untuk selalu ada untuk-Nya (nya), dan mengharap Ia (ia) menjadi bagian dari Anda.

Dari hati yang paling dalam mengaharaplah, “aku ingin menjadi sesuatu yang selalu bisa Kau sentuh.” Sebab, aktifitas kita tidak akan pernah terlaksana tanpa Dia memberikan “sentuhan”Nya.

Dengan bahasa kalbu, sampaikanlah pada Tuhan (cinta), “aku ingin Kau tahu bahwa kuselalu memuja-Mu”. Ada harapan tersyirat di baliknya, bahwa sedikitpun Anda tak ingin dicampakkan oleh-Nya (nya). Pujian Anda kepada-Nya (nya) pasti akan berbalas dengan perhatian-Nya (nya).

Pada akhir semua itu, kita pasti mengaharap Tuhan mengundang kita dengan kerinduan-Nya. “Aku ingin menjadi sesuatu yang mungkin bisa kau rindu. Uatarakanlah keingingan itu dengan hati penuh cinta. Sebab, hanya dengan mencintai Sang Tuhan (atau siapa pun), Anda akan selalu menjadi orang yang dirindukan-Nya sekaligus Anda menerindukan-Nya. Dengan Rindu-Nya, Ia akan mengundang dan mengajak siapa saja yang mencintai-Nya, masuk ke dalam rumah abadi.

Ahsana ma qala, tepat dan bagus sekali, ungkapan yang pernah disampaikan Imam Ghazali, “Siapa yang tidak tergetar hatinya mendengar kemerduan musik dan keindahan pemandangan, maka dia telah mengidap penyakit yang sulit diobati.” Dan hanya hati lembut dan sensitif semata yang mampu menangkap getaran itu. Lalu, hanya jiwa yang peka saja yang menjadikan getaran tersebut bermakna.

Perempuan Terfitnah

13 April 2008 § 2 Comments


(Diadaptasi dari hadis riwayat Imam Bukhari berjudul Hadits al-Ifki, dalam karyanya, Shahih al-Bukhari)

Rasul menjengukku dengan sikap yang tak biasa. Paras tampannya bak digelayuti awan mendung. Kelam, hampir tanpa ekspresi. Sikapnya yang lembut dan penuh kasih sayang, seperti biasa terpancar setiap kali menjenguk sakitku, kali itu tak tampak sama sekali. Ia masuk dan hanya menanyakan kondisiku. Hanya itu. Sekadar duduk pun tidak. Lantas langsung berlalu dengan awan mendung masih menggelayut di wajahnya. Aku tak punya prasangka buruk soal itu. Namun, tetap saja menjejakan misteri.

Hari-hari berlalu, aku merasakan kondisi tubuhku telah membaik. Bersama Ummu Misthah, saudari jauhku, aku berniat keluar rumah untuk suatu keperluan. Ummu adalah seorang ibu dari seorang anak bernama Misthah. Oleh karenanya orang-orang memangilnya “Ummu Mistah”, artinya, ibunya Misthah.

Dalam perjalanan pulang, Ummu bercerita tentang isu yang sedang santer di masyarakat. Sedihnya, isu itu tentang aku. Darinya aku tahu, isu aku telah berbuat nista dengan salah seorang pasukan penyisir, saat aku tertinggal rombongan dalam bepergian, telah menyebar dari mulut ke mulut di kota ini, bagai tiupan angin yang menerpa apa saja yang dilaluinya tanpa ada yang mampu mengendalikan. Ternyata, selama aku sakit, isu tentangku jauh lebih populer ketimbang kabar sakitku.

Aku yang baru sebentar merasakan nikmatnya sehat, ternyata masih belum siap mendengarkan cerita Ummu. Aku kembali terbaring sakit. Kembali pula Rasul menjengukku. Sikapnya masih sama. Aku menduga, barangkali isu itulah yang menyebabkan sikapnya berubah. Hatiku bergemuruh oleh dugaanku sendiri.

Tidak ada percakapan antara aku dan Rasul. Aku juga tidak meminta penjelasan atas sikapnya itu. Aku hanya minta agar ia mengizinkanku menemui orangtuaku. Aku harap ada kejelasan di sana.

“Bunda, orang-orang membicarakan apa tentangku?” Tanyaku bukan untuk mencari jawaban, tapi mendapatkan kepastian.

“Sayangku…,” sapanya lembut. “Tenangkanlah hatimu. Sedikit sekali, seorang suami yang memiliki isteri cantik lagi ia cintai, tega membeberkan aib isterinya tersebut.” Jawaban ibu tidak lugas, barangkali karena ingin menjaga perasaanku, namun semakin menguatkan dugaan, bahwa isu tentangku memang telah benar-benar menyebar di masyarakat.

“Benarkah orang-orang membicarakan hal itu?!” Bukan mencari jawaban, bukan pula untuk mendapatkan kepastian, tapi justeru reaksi atas kepastian. Gemuruh hatiku telah berubah menjadi isak tangis.

Tubuhku lunglai. Jiwa dan pikiranku terukir perih. Malam semakin tebal berselimut gulita, tak peduli dengan derai air mataku yang terus mengalir, tak memberikan kesempatan bagiku untuk memejamkan mata, sampai pagi menjelang.

Berharap menemukan titik terang prahara rumah tangganya, seiring dengan tersendatnya komunikasi wahyu saat itu, Rasul tak segan meminta masukan dan komentar dari rekan-rekan teredekatnya.

“Rasul, yang aku ketahui, keluarga Anda tidak seperti yang orang-orang bicarakan. Aku tidak tahu tentang keluarga Anda kecuali mereka adalah orang-orang baik.”

“Isteri Anda? Dia hanyalah gadis belia yang ketika tidur sering belepotan oleh adonan makanan. Jika ada yang pantas dianggap aib darinya, ya, cuma itu. Tidak ada yang lain,” kata seorang perempuan berpendapat tentang isteri Rasul

Ada juga yang berkomentar, “Sudah, Rasul. Allah tidak akan menyulitkan Anda. Toh, masih banyak perempuan lain selain dia.”

Cukuplah baginya komentar-komentar itu. Aku, sebagai terdakwa, hanya bisa berdiam pilu, membiarkan orang-orang berkomentar tentangku. Aku memang tidak bisa menyodorkan bukti-bukti jika aku benar-benar tidak senista yang dituduhkan. Namun isu itu telah kadung merata bagai pasir gurun di penjuru kota, seolah telah menjadi kebenaran, walaupun validitasnya tidak teruji. Tidak ada bukti, tidak pula diketahui kepada siapa isu itu berpangkal. Pada yang terakhir itulah Rasul sedang fokus.

Suatu kesempatan Rasul manfaatkan untuk memberikan pernyataan terbuka sekaligus mengambil sikap untuk kasus yang menimpa keluarganya, saat masyarakat sedang berkumpul.

Rasul berdiri di mimbar, sementara orang-orang yang hadir di forum itu menunggu apa yang akan disampaikannya.

“Siapa yang bersedia membantuku menangkap orang yang telah menyakitiku?” Kata Rasul, melemparkan pertanyaan kepada salah seorang yang hadir di tempat itu yang bernama Abdullah bin Ubay bin Salul.

Rasul kembali mengulangi pertanyaan, kali ini ditujukkan kepada semua yang hadir…

“Siapa yang bersedia membantuku menangkap orang yang telah menyakiti keluargaku? Demi Allah, tidak ada yang aku ketahui tentang keluargaku, kecuali mereka adalah-orang baik. Mereka telah menyebut-nyebut nama satu orang yang aku ketahui baik. Dia tidak pernah berkunjung ke rumahku, kecuali bersamaku.”

“Aku bersedia, Rasul!” Sela Sa’d bin Mu’azd sambil berdiri penuh semangat. “Jika orang itu dari kelompok Aus, aku siap membubuhnya! Jika dia saudara kita dari kelompok Khazraj, aku siap melakukan apa saja yang Anda perintahkan.”

“Sa’d bin Mua’dz, Kau pembohong!” Sa’d bin Ubadah, salah seorang tetua dari Khazraj,tiba-tiba berdiri, memotong perkataan Bin Mu’adz. Ia merasa tersinggung, kelompoknya ikut-ikut disebut dalam kasus itu. “Kau tidak akan membunuhnya! Kau tidak akan mampu melakukan itu!”

“Kau yang pembohong, Sa’d bin Ubadah!” Seru yang lain, membela Sa’d bin Mu’azd. “Kami benar-benar akan membunuhnya! Kau hanya seorang munafik. Munafik yang menyerang munafik!”

Situasi saat itu benar-benar panas. Emosi sebagian orang, menyulut emosi sebagian yang lain, semakin mempertajam perselisihan. Saling tunjuk, saling tuding, tidak peduli di hadapan mereka ada seorang Rasul.

“Sudah!!! Sudah!!!” Situasi yang sudah tak terkontrol lagi memaksa Rasul turun dari mimbar. Hampir saja terjadi baku hantam, jika Rasul tidak segera menengahi dan menenangkan mereka.

Aku tidak menyangka, efek fitnah keji itu begitu besar, hampir saja menimbulkan konflik dan perpecahan di masyarakat. Sungguh, peristiwa hari itu semakin mencabik-cabik sanubariku yang telah pilu, mengoyak jiwaku yang sedang layu, tidak sedikit pun menyisakan ruang bahagia di hatiku, untuk aku bisa menghentikan air mata. Pada dua hari berikutnya, aku tetap terbenam dalam suasana demikian.

Orangtuaku menghampiri aku yang sedang menagis. Bukan untuk apa-apa, hanya ingin menamani sedihku. Seolah ingin mengatakan, mereka akan selalu ada untukku. Setelah itu, datanglah seorang sahabatku. Sama seperti orangtuaku, ia hanya ingin menemani sedihku.

Pada saat kami sedang terlarut bersama dalam sedih, tiba-tiba Rasul datang. Setelah mengucap salam, ia duduk. Itulah kali pertama ia bersedia duduk di rumahku, sejak sebulan terakhir, setelah isu tentangku mulai beredar di masyarakat. Ia datang bukan untuk menemani sedihku, tapi untuk mengatakan sesuatu…

“Aisyah, aku sudah mendengar kabar ini itu tentangmu. Jika Kau memang tidak bersalah, Allah yang akan membersihkan namamu. Dan jika perbuatan nista itu benar-benar telah Kau lakukan, mintalah ampun kepada Allah.”

Tertunduk aku menyimak ucapan Rasul. Air mata yang selama ia bicara hanyalah genangan-genangan di kelopak, meleleh membasahi pipi tanpa aku sadari. Tidak kuusap.

Rasul telah memulai pembicaraan. Saat yang tepat bagiku untuk buka suara, atau paling tidak orang tuaku mau mewakili suaraku. Aku menoleh ke ayahku, memintanya memberikan hak jawab kepada Rasul untukku. Ayah menggeleng. Aku menoleh ke ibuku, meminta hal yang sama. Ibu juga menggeleng. Ayah-ibuku melihat dirinya tidak memiliki kapasitas untuk menanggapi, menjawab, atau menambah titah yang disampaikan Rasul.

Aku kembali tertunduk. Air mataku meleleh lagi. Isak tangisku tak tertahan. Melihat orangtuaku hanya diam, hatiku semakin bergejolak, seperti ada yang meronta. Sebelum kuangkat kepalaku, sejenak kuhela nafas sambil memejamkan mata. Namun, tetap tak mampu menghentikan tangisku.

Isak tangis dan air mata tumpah ruah bersama isi hatiku. Kepada Rasul, orangtuaku, dan seorang sahabatku, aku katakan…

“Memang, aku hanyalah gadis belia yang belum banyak memahami Alquran,” aku mengawali perkataan diiringi isak tangis, menjadi latar sendu. “Aku tahu, telinga kalian telah mendengar ini itu tentangku, dan hati kalian membenarkannya. Kalian boleh tidak percaya, jika aku katakan, aku bukanlah seperti yang orang-orang katakan. Tapi, percayalah kepada Allah, bahwa Dia tahu, aku bukanlah seperti yang orang-orang katakan. Nasib malang yang menimpaku ini mengingatkanku pada perkataan Nabi Yaqub, ayahanda Nabi Yusuf, maka kesabaran yang baik itulah (kesabaranku). Dan Allah semata yang dimohon pertolongan-Nya terhadap apa yang kalian ceritakan.<!–[if !supportFootnotes]–>[1]<!–[endif]–>

Hanya sabar yang bisa aku lakukan. Hanya Allah yang bisa aku percaya. Sungguh, selain menitikkan air mata, hanya itu yang bisa aku lakukan untuk menghadapi fitnah itu.

Selesai kuutarakan isi hati, aku berlalu ke kamarku, meninggalkan mereka di ruang tamu. Di kamar, kurebahkan tubuh payahku, kubenamkan jiwa dan pikiranku pada kondisi yang paling rendah dan kosong.

Aku yakin dengan apa yang aku katakan saat di ruang tamu tadi. Sepenuhnya aku yakin, Allah akan membersihkan namaku seperti sedia kala. Tapi aku tak mau menduga-duga akan turun wahyu kepada Rasul untukku, mengabarkan kebenaran keyakinanku. Aku yang hina dina ini, merasa tidak pantas, jika sekalimat wahyu akan turun hanya untukku. Tapi, sungguh, aku sangat berharap, paling tidak malam ini Rasul akan bermimpi, Allah membersihkan namaku.

Hidup hanyalah putaran waktu yang konstan berlalu. Semua yang menempati waktu pun pasti akan berlalu seiring dengan berlalunya sang waktu.

Pagi itu begitu sejuk. Namun tak sesejuk wajah sang Rasul. Awan mendung kelam yang dalam beberapa waktu lalu menggelayut di wajahnya telah sirna. Kebenaran telah nampak terang. Fajar merah pagi itu telah tersingkap oleh benderang cahaya matahari.

“Berbahagialah, Aisyah. Allah telah membersihkan namamu dari segala tuduhan,” kata Rasul kepadaku dengan ekspresi yang berbinar-binar. Hatinya yang berbunga menyemburatkan tawa bahagia yang menghias paras tampannya.

“Berdirilah, anakku. Kecum kening Rasul. Pujilah dia. Berterima kasihlah kepadanya,” seru ibuku yang juga tidak bisa menyembunyikan kebahagiannya.

“Tidak, Bu. Aku tidak mau berdiri untuknya. Dan jika ada yang pantas dipuji, maka hanya Allah yang telah membersihkan namaku.”

Aiysah telah melewati masa pahit hidupnya, yang pahitnya melebihi apapun dari semua yang pahit. Dan berhak menikmati buah sabar yang manisnya melebihi apapun dari semua yang manis, saat Allah menurunkan ayat yang merehabilitasi namanya…

“Sesungguhnya orang-orang yang membawa berita bohong itu adalah dari golongan kamu juga. Janganlah kamu kira bahwa berita bohong itu buruk bagi kamu, bahkan ia adalah baik bagi kamu. Tiap-tiap seseorang dari mereka mendapat balasan dari dosa yang dikerjakannya. Dan siapa di antara mereka yang mengambil bagian yang terbesar dalam penyebaran berita bohong itu, baginya azab yang besar.” (An-Nur: 11)

Ciputat, 13 April 2008

<!–[if !supportFootnotes]–>

<!–[endif]–>

<!–[if !supportFootnotes]–>[1]<!–[endif]–>Yusuf: 18

Berbeda Pendapat Tetap Akur Jua

7 April 2008 § Leave a comment


Konon, mutiara hikmah ini diungkapkan Imam Syafi’i: ra’yuna shawwab yahtamil al-khatha, wa ra’yu ghairina khatha yahtamil al-shawab, artinya, pendapatku benar, namun bagi orang lain, bisa saja keliru. Dan pendapat orang lain, yang dianggap keliru, bisa saja benar.

Sungguh, ungkapan yang sangat bijak dan bajik, jauh dari kesan arogansi. Tak sedikit pun mencerminkan pemaksaan. Sangat tak terbayang, jika pengucapnya bernafsu pendapatnya harus diikuti, jika memang di sana ada kebenaran yang lain, atau yang lebih benar. Sebuah kuliah penting dari ulama moderat. Untuk beberapa saat, ungkapan ini, menjadi bahan renungan.

Cara berpikir seperti inilah yang perlu ditanamkan pada diri setiap orang. Tindakan pemaksaan kesamaan pikiran, pemaksaan pendapat, barang kali bisa dilakukan, seperti yang terjadi akhir-akhir ini di negeri kita tercinta, namun itu sesungguhnya tidak akan pernah bisa memaksa pikiran kita sama. Sebab, pikiran setiap orang sangat subyektif. Kebenaran yang dianut oleh seseorang, bisa saja adalah kekeliruan bagi yang lain. Sangat sulit untuk serta merta menerima pendapat subyektif orang lain.

null

Tindakan pemaksaan pendapat sesungguhnya adalah pemaksaan subyektifitas untuk menjadi obyektif, sedangkan obyektifitas itu sendiri sesungguhnya tidak diketahui, karena ia hanya milik Tuhan. Obyektifitas Tuhan itu sendiri akan terreduksi, manakala ia bersentuhan dengan alam pikiran manusia yang sama sekali subyektif. Seobyektif apapun pendapat yang kita kemukakan, tetap saja subyektif. Oleh karenanya, subyektifitas pribadi tak seharusnya dipaksakan kepada orang lain.

Persamaan mendasar pada mahluk bernama manusia adalah, mereka sama-sama “hewan” yang berpikir. Dan perbedaan mendasar darinya adalah, apa yang mereka pikirkan pada satu hal tidak sama.

Tanah luas kosong, akan terimajinasi dari darinya ragam macam bangunan. Bagi seorang kyai, tanah seluas itu, sayang kalau dibiarkan mati, dan lebih baik dibangun pesantren di atasnya. Bagi seorang kontraktor, tanah kosong itu potensial dibangun apartemen, kontrakan atau kost-an. Bagi seorang petani, ya, lebih baik dibikin lahan perkebunan atau pertanian. Lain lagi bagi seorang mucikari, tanah itu akan bagus dan prospektif jika diatasnya dibangun rumah bordir. Bagi pencinta sepak bola, mendingan tidak usah dibangun apa-apa, biar bisa terus main bola. Entah apa yang dipikirkan orang yang hobi mancing terhadap tanah itu.

Mereka sama-sama berpikir “menghidupkan” tanah mati itu, namun “kehidupan” apa yang akan mereka bangun, sama sekali berbeda.

Para ulama terdahulu kita pun sering berbeda pendapat pada satu hal. Misal saja, sekte Muktazilah memiliki manhaj (metode berpikir) yang berbeda dengan sekte Asy’ariyah, yang banyak menyebutnya sebagai ahlus-sunah. Muktazilah, misalkan, manhaj mereka adalah taqdim al-‘aql ‘ala al-naql/mengedepankan akal atas Alquran atau hadis. Berbeda dengan Asy’ariyah yang taqdim al-naql ‘ala al-‘aql/mengedapankan Alquran atau hadis atas akal. Perbedaan metode berpikir ini menimbulkan pendapat-pendapat mereka berbeda, bahkan saling menfikan.

Atau, kata “quru” dalam Alquran. Pada satu kata ini, ulama kita bebeda pendapat. Bagi sebagian ulama, kata itu bermakna “suci dari haid”. Dan bagi sebagian yang lain, kata tersebut bermakna “haid”.

Sepintas kita bertanya, apa yang menyebabkan mereka berbeda pada masalah yang sama? Secara teknis, bisa dijawab; karena metode berpikir mereka berbeda. Mereka membuat kaidah sendiri yang baginya tepat untuk menuju titik kebenaran.

Ya, metode berpikir (manhaj) itulah yang tepenting. Kita bisa berkata dan berpendapat apa saja. Apa saja, karena hal itu memang tidak penting. Namun, yang terpenting adalah bagaimana kita berpikir, landasan yang mendasari perkataan kita, argumentsi yang menjadi dasar bangunan pendapat kita. Jadi, kalau pendapat dan perkataan tak lagi penting, mengapa harus ada pemaksaan pendapat untuk menjadi sama?! Mengapa orang lain dipaksa berkata sama?! Yang terkadang dilakukan dengan sangat tidak bijak dan santun.

Bukankah ulama kita mengajarkan cara beda pendapat yang bijak dan santun, yang jauh dari kesan anarkis?! Jangankan hanya sekedar beda pendapat, kemungkaran yang terpampang jelas pun tidak diperkenankan diubah dengan cara anarkis dan main hakim sendiri, apa lagi di negara hukum ini.

Where Am I?

You are currently browsing entries tagged with essai at Warung Nalar.

%d bloggers like this: