Ketika Dua Penyangga Roboh

2 May 2008 § 1 Comment


Belum lagi kering air mata kesedihan atas meninggalnya sang paman, Abu Thalib, kesedihan lain bertubi mendera Rasul. Sang istri, Khadijah berpulang meninggalkan Rasul, menyusul sang paman untuk selamanya. Khadijah, sang istri yang ia sebut sebagai salah seorang perempuan terbaik dunia, selain Maryam binti Imran Sang Perawan Suci yang melahirkan Nabi Isa, Asiyah istri Raja Firaun, dan Fatimah putrinya sendiri.[1]

Khadijah adalah sudagar kaya yang memiliki banyak pegawai. Salah seorang di antaranya adalah pemuda bernama Muhammad bin Abdullah yang kelak menjadi Rasul. Kebaikan, kejujuran, dan sifat-sifat bajik lain yang tersemat pada pegawainya itu, membuat sang sudagar jatuh hati. Semakin hari berlalu, perasaan terpikat itu semakin dalam tertancap di hati saudagar berumur empatpuluh tahun tersebut, hingga akhirnya memutuskan untuk meminang seorang pemuda berusia duapuluh lima tahun itu.

Pada awalnya, ayah Khadijah enggan menyetujui keinginan putrinya itu. Namun, ia tak kurang akal agar keinginan memiliki Muhammad tercapai. Diadakanlah pesta terselubung. Suatu hari, Khadijah membuat banyak makanan dan minuman. Saat itu, belum ada larangan minuman keras. Diundanglah ayah dan beberapa kerabatnya serta sejumlah orang-orang dari suku Quraisy. Sudah menjadi adat masyarakat Arab kala itu, minuman keras menjadi sajian khas untuk acara pesta atau sekedar kumpul-kumpul. Dan sebagai giliran, mabuk-mabukan menjadi hal yang tak bisa terelakkan. Demikian juga yang terjadi pada hajatan laten Khadijah itu. Sebagian besar orang-orang yang hadir pada acara itu telah teler, termasuk ayahnya. Pada kondisi seperti itulah Khadijah melaksanakan niatnya.

“Ayah, Muhammad telah melamarku. Aku harap Ayah mau menerimanya dan menikahkannya untukku,” pinta Khadijah kepada Ayahnya yang masih mabuk. Dan Ayahnya hanya manggut-manggut saja mendengar permintaan putrinya itu.

Pesta pernikahan Khadijah dan Muhammad pun siap dilangsungkan. Persiapan di sana sini dilakukan. Khadijah mendandani ayahnya sedemikian rupa. Begitu juga dengan orang-orang yang hadir di situ.

Untuk beberapa lama, pesta pernikahan pun berlangsung. Kebahagian di sana sini terpancar berbaur dengan riuh rendah hadirin yang mabuk. Sampai akhirnya sedikit kericuhan terjadi, saat ayah Khadijah sadar dari mabuknya dan melihat dirinya telah berpakaian rapi, berdandan pula.

“Ada apa ini?! Ada apa ini? Apa yang terjadi di sini?!” Ayah Khadijah yang sedari tadi menjadi bagian dari pesta itu, seperti orang yang terjebak pada sebuah mimpi buruk dan tiba-tiba terbangun. Ia terakut kejut. Khadijah didekatinya.

“Ada apa ini? Kenapa aku berpakaian seperti ini?”

“Ayah baru saja menikahkanku dengan Muhammad bin Abdullah,” jawab Khadijah berusaha tenang.

“Apa?! Aku telah menikahkanmu dengan si yatim asuhan Abu Thalib itu?” Ayah Khadijah semakin terkaget mendengar pernyataan putrinya.

“Iya. Ayah telah melakukan itu. Memangnya kenapa?!”

“Tidak, tidak! Aku tidak setuju!”

Tapi Khadijah bukanlah perempuan lemah yang gampang terpojok.

“Apa engkau tidak malu?! Engkau ingin membuat dirimu tampak bodoh di mata orang-orang Quraisy dengan memberi tahu mereka engkau sedang mabuk dan masih belum waras?! ”<!–[if !supportFootnotes]–>[2]<!–[endif]–>

Hari-hari berlalu melunakkan keadaan. Khadijah dan Muhammad pun hidup bersama. Bersama Khadijah, awal perjuangan Muhammad menyampaikan pesan-pesan ketuhanan dimulai. Ia sering bermimpi tentang kewahyuan. Ia juga lebih sering menyendiri, meninggalkan istri, keluarga dan masyarakatnya. Ia memilih Gua Hira sebagai tempat menyendiri. Ia pulang kepada Khadijah jika perbekalannya sudah habis. Setelah itu kembali lagi ke gua.

Namun, kali ini, Muhammad pulang ke Khadijah bukan untuk mengambil bekal. Ia pulang dengan raut wajah pucat pasi berbalut ketakutan luar biasa. Keringat dingin mengalir deras membasahi tubuhnya. Khadijah segera memapah tubuh menggigil Muhammad ke ranjang, menyelimutinya, dan mendekapnya erat. Khadijah berusaha menenangkan Muhammad, hingga akhirnya ia menceritakan perihal yang terjadi.

“Suamiku, tenangkanlah dirimu. Aku percaya, apa yang terjadi padamu bukanlah pertanda buruk. Aku yakin, sekali-kali Allah tidak akan menyusahkanmu. Kau orang baik yang selalu menjalin hubungan baik dengan orang-orang. Kau selalu membantu orang-orang tak mampu, orang-orang yang terkena musibah, dan mau menanggung kebutuhan mereka. Kau selalu menghormati tamu…”

Komentar sejuk Khadijah tersebut memancarkan energi kehangatan dan ketenangan bagi jiwa Muhammad yang masih erat dalam dekapan isterinya itu.

Keesokan harinya, Khadijah mengajak Muhammad menemui Waraqah bin Naufal, seorang renta mantan penyembah berhala yang terpesona dengan agama Nasrani hingga kemudian memeluknya, untuk menanyakan apa yang terjadi pada Muhammad dari sudut pandang Injil. Waraqah sangat menguasai Injil. Dia pula yang menyalin Injil dari bahasa Ibrani ke bahasa Arab.

“Saudaraku,” kata Waraqah kepada Muhammad, “yang mendatangimu di Gua Hira adalah malaikat Jibril yang juga pernah mendatangi Nabi Musa. Andai saja, saat ini, aku masih muda, niscaya kelak aku dapat melihat Engkau diusir oleh masyarakatmu…”

“Aku akan diusir oleh masyarakatku sendiri?!” Tanya Muhammad menyela, kaget dengan yang terakhir dikatakan Waraqah.

“Benar. Tidak ada orang sepertimu, yang membawa pesan-pesan ketuhanan, yang tidak dimusuhi. Jika pada saatnya itu terjadi, dan aku masih hidup, niscaya aku akan menolongmu.”

Namun, tak lama setelah itu, Waraqah meninggal dunia membawa serta angannya.<!–[if !supportFootnotes]–>[3]<!–[endif]–>

Ya, Khadijah telah meninggalkan Rasul untuk selamanya. Seorang isteri yang menjadi selimut hangat bagi suami, menjadi tongkat tangguh bagi sandaran rapuh suami, orang yang pertama kali merespon positif risalah ketuhanan yang dibawa sang suami, dan orang yang mencurahkan jiwa, raga, harta, dan apa pun yang dimilikinya untuk perjuangan sang suami.<!–[if !supportFootnotes]–>[4]<!–[endif]–>

Tahun itu, tepatnya tiga tahun sebelum hijrah ke Madinah, menjadi masa-masa paling berkabung bagi Rasul. Sebelum kematian sang istri, Rasul telah ditinggal terlebih dahulu oleh sang paman. Genap sudah kesedihan Sang Rasul. Detik-detik menjelang kematian Abu Thalib, dan bahkan sepeninggalnya, adalah masa-masa dramatis bagi Sang Rasul…

Abu Thalib, orang yang sangat mencintai Rasul dan ia pun begitu, sedang tertatih-tatih menapaki sisa hidupnya. Ia sedang berada di ujung jurang kehidupan dunia. Sedikit saja Israil menjentikkan jarinya, ia akan terlempar ke dunia lain.

Saat Rasul yang menjenguk Abu Thalib, di situ telah ada sanak saudaranya dan sejumlah orang dari suku Quraisy, di antaranya adalah Abu Jahal dan Abdullah bin Abi Umayyah yang telah datang lebih dulu.

Orang-orang yang hadir menjenguk Abu Thalib terbelah menjadi dua kubu, mereka yang telah memeluk agama Rasul Muhammad dan mereka yang masih menggenggam erat agama Abdul Muthalib (kepercayaan jahiliyah). Dua kubu itu mempertaruhkan sisa hidup Abu Thalib untuk mau mengikuti ajakan masing-masing, antara ajakan Rasul terhadap Islam dan peneguhan Abu Jahal terhadap kepercayaan jahiliyah yang telah dianut Abu Thalib.

Di akhir masa hidup Abu Thalib, situasi panas justru menghinggapi orang-orang yang datang menjenguknya. Abu Jahal berulah dengan menghalangi Rasul yang hendak mendekati Abu Thalib untuk menyampaikan sesuatu.

“Kemenakanku, ada apa?” Tanya Abu Thalib kepada Rasul, melihat kemenakannya itu punya maksud.

Rasul yang pada awalnya ingin mengutarakan maksudnya lebih dekat dengan Abu Thalib, terpaksa menyampaikan dengan agak jauh darinya.

“Paman, jika Allah menentukan saat ini adalah perjumpaan terakhirku denganmu, hanya satu yang kuminta darimu, ucapkanlah la ilaha illallah. Dan aku akan menjadi saksi di hadapan Allah atas ucapanmu itu,”<!–[if !supportFootnotes]–>[5]<!–[endif]–> tak sampai hati Rasul menyaksikan orang yang sudah seperti ayahnya sendiri, bahkan lebih dari itu, di akhir hayatnya masih menganut kepercayaan jahiliyah.

“Paman, jika sekalimat itu Paman ucapkan, semenanjung Arab akan mengikuti Paman. Begitu juga dengan orang-orang non-Arab.”<!–[if !supportFootnotes]–>[6]<!–[endif]–>

Abu Thalib adalah salah seorang tokoh Quraisy yang paling disegani dan dipanuti. Ia sangat setia dengan kepercayaan moyangnya. Sejak umur delapan tahun<!–[if !supportFootnotes]–>[7]<!–[endif]–>, Rasul telah berada di bawah asuhan Abu Thalib, setelah beberapa lama di bawah asuhan kakeknya, Abdul Muthallib. Dengan cinta, ia berperan sebagai ayah bagi Rasul. Ia tidak tidur kecuali Muhammad kecil ada di sampingnya. Ia tidak keluar rumah kecuali si yatim Muhammad menyertainya. Ia dan keluarganya tidak akan makan kecuali Muhammad telah datang dan mendapatkan bagian. Ia dan keluarganya tak sayang mendapatkan sedikit jatah makanan, asal Muhammad kenyang.<!–[if !supportFootnotes]–>[8]<!–[endif]–>

Ketokohannya menjadi benteng pelindung bagi Rasul dalam menyampaikan risalah ketuhanan, dari aksi kelompok-kelompok yang anti. Kekerabatan, cinta, dan simpati kepada Rasul, telah melebur menjadi satu dalam diri Abu Thalib, menembus sekat-sekat perbedaan keyakinan paman dan kemenakan itu. Abu Thalib rela mempertaruhkan nyawanya jika sedikit saja ada yang berani menggores kulit Sang Rasul. Abu Thalib telah mempersembahkan separuh hidupnya untuk Rasul.

Orang-orang, utamanya mereka yang menggenggam erat agama Abdul Muthalib, semakin ricuh mendengar ucapan Rasul.

“Abu Thalib, apakah Kau telah membenci kepercayaan moyang kita, kepercayaan Abdul Muthallib?!” Spontan Abu Jahal menyela seraya membantah ucapan Rasul, untuk meneguhkan keyakinan Abu Thalib agar tidak goyah oleh pengaruh Rasul.<!–[if !supportFootnotes]–>[9]<!–[endif]–>

“Heh, Muhammad! Kau ingin menjadikan tuhan-tuhan yang telah ada menjadi satu tuhan?! Hah, itu konyol, Muhammad?!” Yang lain ikut-ikutan menyalak.

Mereka yang tidak ikut menyalak hanya bisa saling berbisik. Sinis menyangsikan maksud Rasul. Namun Rasul tak henti-hentinya menggunakan kesempatan, secuil apa pun itu. Berulang-berulang, berkali-kali, ia menatap Abu Thalib, berulang-berulang, berkali-kali pula menyampaikan harapan kepadanya. Sampai pada akhirnya, Abu Thalib berujar kepada Rasul…

“Kemenakanku, Aku tak ingin, sepeninggalku nanti, orang-orang akan mencacimu, memaki sanak turun ayahmu. Aku khawatir, jika aku memenuhi permintaanmu, orang-orang akan melakukan itu. Mereka (orang-orang Quraisy) akan menyangka, aku memenuhi permintaanmu semata-mata karena terpojok kematian. Aku tak mau itu terjadi.<!–[if !supportFootnotes]–>[10]<!–[endif]–> Kemenakanku, aku minta maaf, aku tak bisa menanggalkan keyakinanku, aku tak dapat meninggalkan kepercayaan moyangku…”

Abu Thalib, sang benteng pelindung Rasul, telah berpulang, menjejakan sebidang kesedihan di hati Rasul. Sedih, telah ditinggal pergi sang pelindung, sedih pula karena sang paman pergi membawa serta keyakinan jahiliyah.

Kepergiannya menyisakan tantangan bagi Rasul. Selama dalam perlindungan Abu Thalib, kelompok-kelompok anti Rasul tidak ada yang bisa menyentuhnya. Aksi mereka hanya sebatas gerakan urat saraf. Namun, sepeninggal Abu Thalib, gerakan itu telah meningkat menjadi gerakan kekuatan otot. Mereka menjadi lebih berani mengekspresikan kebencian terhadap Rasul. Apa yang tidak bisa dilakukan untuk mengintimidasi Rasul selama ia berada di bawah perlindungan Abu Thalib, mudah saja mereka lakukan sepeninggalnya, bahkan semakin menjadi-jadi…

Pada peristiwa detik-detik terakhir hidup Abu Thalib itu, tiga ayat turun merespon tiga hal yang terjadi ketika itu. Ayat pertama adalah, “Shaad, demi Alquran yang mempunyai keagungan. Sebenarnya orang-orang kafir itu (berada) dalam kesombongan dan permusuhan yang sengit.” (Shaad: 1-2), yang merespon sikap Abu Jahal dan rekan-rekannya saat menghalangi Rasul untuk mendekati Abu Thalib dan saat mereka menyela seraya membantah ucapan Rasul dengan nada pongah.<!–[if !supportFootnotes]–>[11]<!–[endif]–>

Ayat kedua dan ketiga yang turun adalah, “Tidaklah sepatutnya bagi Nabi dan orang-orang yang beriman memintakan ampun (kepada Allah) bagi orang-orang musyrik, walaupun orang-orang musyrik itu adalah kaum kerabatnya, sesudah jelas bagi mereka, bahwasanya orang-orang musyrik itu, adalah penghuni neraka Jahanam.” (At-taubah: 113), dan ayat, “Sesungguhnya kamu tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu cintai, tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang dikehendaki-Nya. Dan Allah lebih mengetahui orang-orang yang mau menerima petunjuk.” (Al-Qashash: 56), yang merespon Rasul, yang sangat berhasrat agar sang paman mau memeluk Islam, dan meminta agar Allah berkenan mengampuni dosa-dosanya, setelah melihat pilihan akhir sang paman atas keyakinannya.<!–[if !supportFootnotes]–>[12]<!–[endif]–>

Ciputat, 1 Mei 2008

<!–[if !supportFootnotes]–>

<!–[endif]–>

<!–[if !supportFootnotes]–>[2]<!–[endif]–>HR Ahmad bin Hanbal dari Ibnu Abas

<!–[if !supportFootnotes]–>[4]<!–[endif]–>Tuhfah Al-Ahwazi bi syarhi Jami’ At-Tirmizi

<!–[if !supportFootnotes]–>[5]<!–[endif]–>HR Bukhari dari Musayyab bin Khuzn (Ayah Said bin Musayyab).

<!–[if !supportFootnotes]–>[6]<!–[endif]–>Al-Bidayah wa An-Nihayah 3/123-124, karya Ibnu Katsir.

<!–[if !supportFootnotes]–>[7]<!–[endif]–>Al-Bidayah wa An-Nihayah 2/282, karya Ibnu Katsir.

<!–[if !supportFootnotes]–>[8]<!–[endif]–>Al-Bidayah wa An-Nihayah 2/282, karya Ibnu Katsir.

<!–[if !supportFootnotes]–>[9]<!–[endif]–>HR Bukhari dari Musayyab bin Khuzn (Ayah Said bin Musayyab).

<!–[if !supportFootnotes]–>[10]<!–[endif]–>Al-Bidayah wa An-Nihayah 3/123, karya Ibnu Katsir.

<!–[if !supportFootnotes]–>[11]<!–[endif]–>Al-Bidayah wa An-Nihayah 3/124, karya Ibnu Katsir.

<!–[if !supportFootnotes]–>[12]<!–[endif]–>HR Bukhari dari Musayyab bin Khuzn (Ayah Said bin Musayyab).

Dealova

23 April 2008 § 9 Comments


aku ingin menjadi mimpi indah…

dalam tidurmu.

aku ingin menjadi sesuatu

yang mungkin bisa kau rindu…

karena langkahku rapuh

tanpa dirimu…

karena hati telah letih.

aku ingin menjadi sesuatu

yang selalu bisa kau sentuh.

aku ingin kau tahu

bahwa kuselalu memujamu.

tanpamu sepinya waktu

merantai hati…

bayangmu seakan-akan…

kau seperti nyanyian dalam hatiku,

yang memanggil rinduku padamu…

seperti udara yang kuhela,

kau selalu ada…

hanya dirimu,

yang bisa membuatku tenang.

tanpa dirimu,

aku merasa diam dan sepi.

Bagi sebagian orang, barangkali barisan bait-bait puitis di atas sudah tak asing lagi. Ya, bait-bait indah itu merupakan single yang dipopulerkan Once, sang vokalis band Dewa, yang menjadi original sound trakc (OST) film Dealova. Bait-bait indah tersebut menjadi sebuah lagu yang betul-betul indah, sempurna, dan menyentuh, ketika terpadu dengan tarikan suara Once, diringi dengan alunan musik yang mellow, slow dan mendayu-dayu. Aura sentuhannya akan begitu terasa, jika Anda mendengarkan lagu itu dengan penuh perenungan, penghayatan, dan pastinya jika Anda adalah orang yang memiliki hati lembut dan sensitif, walaupun tanpa harus memiliki sense of music yang peka. Dengan begitu, Anda akan terbawa pada kondisi tertentu yang penuh makna. Entah kenapa, sudah belasan, puluhan atau mungkin dalam hitungan tak terhingga, lagu-lagu mellow, slow dan mendayu-dayu yang aku dengarkan dan aku nikmati, sampai pada lagu yang didaulat sebagai lagu reliji penuh pesan moral dan ketuhanan, namun hanya lagu Dealova itu yang bisa mencuri perhatian lebih dariku, bukan hanya telinga, tapi juga jiwa dan pikiran.

Dalam beberapa waktu, lagu itu aku putar berulang-ulang, berkali-kali di pc, menemaniku saat menulis, mengerjakan makalah, main game, menjadi pengantar tidur atau sengaja ingin menikmati dan menghayati lirik-liriknya. Tulisan ini pun aku ketik dengan iringannya. Lagu itu mampu menjadi inspirasi, oleh karenanya ia mendapat apresiasi lebih.

Bagiku, sungguh, lagu itu begitu menyentuh. Ia telah merasuki otak dan meresap ke dalam kalbu, hingga memutar kembali memori, untuk mengenang masa lalu bersama orang-orang terdekat, yang cintanya telah menancap terpatri begitu dalam di hati, namun mereka tak lagi di sisi, dan atau menjadi lagu latar dalam lika-liku kehidupan (cinta) saat ini.

Lagu Once, yang diciptakan Opick, dan ia lantunkan bersama Victorian Philharmonic Orchestra, itu seolah-olah telah mempertemukanku dengan orang-orang terdekat dan tercinta yang telah lama tiada atau sekedar berpindah tempat, serta semakin menjadikan intim dan bergerlora hubungan yang saat ini sedang terjalin.

Oleh sebab itu, aku sepakat dengan Once. Orang-orang yang pernah dekat dengan kita dan apalagi telah memiliki ikatan cinta, meski (telah) berpisah raga, namun, karena cinta ia selalu ada. Intuisi dan hati memahami benar masalah ini. Mereka “seperti udara yang kuhela, kau selalu ada…”.

Pada dasarnya, lagu memiliki sifat netral bi zatihi, apapun jenisnya. Respon jiwa kita yang menjadikannya bermakna. Dengan merengungi dan menyelami jiwa sebuah lagu tertentu, ia bisa menghantarkan jiwa manusia pada kondisi terdalam dan bermakna, serta mampu menggoyahkan sendi-sendi psikologi. Terus terang, lagu Once di atas pernah menghancurkan dinding mataku, karena tak kuasa menahan linangan air mata. Aku benar-benar tersentuh dan larut dalam syair indah penuh makna itu. Alunan syairnya membawaku pada kondisi spiritual yang intim, seolah-olah kedekatan Tuhan – yang disadari atau tidak, Ia memang dekat – begitu terasa. Memang, perasaan intim dengan Tuhan bisa dirasakan bukan hanya melalui ritual-ritual formal. Itulah hati. Aktifitasnya tak terlembagakan dalam bentuk simbol-simbol dan ritual, serta tak terbelenggu oleh dimensi ruang (apa pun, di mana pun)dan waktu (kapan pun). Hanya sebuah lagu pun bisa memantik hati menghayati perasaan itu.

Alangkah Anda akan merasa intim dengan Tuhan, jika bait ini, “hanya diri-Mu, yang bisa membuatku tenang, tanpa dirimu, aku merasa diam dan sepi…”, Anda sampaikan kepada-Nya (atau “nya”) dengan perenungan dan bahasa jiwa. Tersirat di sana, Anda telah berikrar untuk selalu ada untuk-Nya (nya), dan mengharap Ia (ia) menjadi bagian dari Anda.

Dari hati yang paling dalam mengaharaplah, “aku ingin menjadi sesuatu yang selalu bisa Kau sentuh.” Sebab, aktifitas kita tidak akan pernah terlaksana tanpa Dia memberikan “sentuhan”Nya.

Dengan bahasa kalbu, sampaikanlah pada Tuhan (cinta), “aku ingin Kau tahu bahwa kuselalu memuja-Mu”. Ada harapan tersyirat di baliknya, bahwa sedikitpun Anda tak ingin dicampakkan oleh-Nya (nya). Pujian Anda kepada-Nya (nya) pasti akan berbalas dengan perhatian-Nya (nya).

Pada akhir semua itu, kita pasti mengaharap Tuhan mengundang kita dengan kerinduan-Nya. “Aku ingin menjadi sesuatu yang mungkin bisa kau rindu. Uatarakanlah keingingan itu dengan hati penuh cinta. Sebab, hanya dengan mencintai Sang Tuhan (atau siapa pun), Anda akan selalu menjadi orang yang dirindukan-Nya sekaligus Anda menerindukan-Nya. Dengan Rindu-Nya, Ia akan mengundang dan mengajak siapa saja yang mencintai-Nya, masuk ke dalam rumah abadi.

Ahsana ma qala, tepat dan bagus sekali, ungkapan yang pernah disampaikan Imam Ghazali, “Siapa yang tidak tergetar hatinya mendengar kemerduan musik dan keindahan pemandangan, maka dia telah mengidap penyakit yang sulit diobati.” Dan hanya hati lembut dan sensitif semata yang mampu menangkap getaran itu. Lalu, hanya jiwa yang peka saja yang menjadikan getaran tersebut bermakna.

Perempuan Terfitnah

13 April 2008 § 2 Comments


(Diadaptasi dari hadis riwayat Imam Bukhari berjudul Hadits al-Ifki, dalam karyanya, Shahih al-Bukhari)

Rasul menjengukku dengan sikap yang tak biasa. Paras tampannya bak digelayuti awan mendung. Kelam, hampir tanpa ekspresi. Sikapnya yang lembut dan penuh kasih sayang, seperti biasa terpancar setiap kali menjenguk sakitku, kali itu tak tampak sama sekali. Ia masuk dan hanya menanyakan kondisiku. Hanya itu. Sekadar duduk pun tidak. Lantas langsung berlalu dengan awan mendung masih menggelayut di wajahnya. Aku tak punya prasangka buruk soal itu. Namun, tetap saja menjejakan misteri.

Hari-hari berlalu, aku merasakan kondisi tubuhku telah membaik. Bersama Ummu Misthah, saudari jauhku, aku berniat keluar rumah untuk suatu keperluan. Ummu adalah seorang ibu dari seorang anak bernama Misthah. Oleh karenanya orang-orang memangilnya “Ummu Mistah”, artinya, ibunya Misthah.

Dalam perjalanan pulang, Ummu bercerita tentang isu yang sedang santer di masyarakat. Sedihnya, isu itu tentang aku. Darinya aku tahu, isu aku telah berbuat nista dengan salah seorang pasukan penyisir, saat aku tertinggal rombongan dalam bepergian, telah menyebar dari mulut ke mulut di kota ini, bagai tiupan angin yang menerpa apa saja yang dilaluinya tanpa ada yang mampu mengendalikan. Ternyata, selama aku sakit, isu tentangku jauh lebih populer ketimbang kabar sakitku.

Aku yang baru sebentar merasakan nikmatnya sehat, ternyata masih belum siap mendengarkan cerita Ummu. Aku kembali terbaring sakit. Kembali pula Rasul menjengukku. Sikapnya masih sama. Aku menduga, barangkali isu itulah yang menyebabkan sikapnya berubah. Hatiku bergemuruh oleh dugaanku sendiri.

Tidak ada percakapan antara aku dan Rasul. Aku juga tidak meminta penjelasan atas sikapnya itu. Aku hanya minta agar ia mengizinkanku menemui orangtuaku. Aku harap ada kejelasan di sana.

“Bunda, orang-orang membicarakan apa tentangku?” Tanyaku bukan untuk mencari jawaban, tapi mendapatkan kepastian.

“Sayangku…,” sapanya lembut. “Tenangkanlah hatimu. Sedikit sekali, seorang suami yang memiliki isteri cantik lagi ia cintai, tega membeberkan aib isterinya tersebut.” Jawaban ibu tidak lugas, barangkali karena ingin menjaga perasaanku, namun semakin menguatkan dugaan, bahwa isu tentangku memang telah benar-benar menyebar di masyarakat.

“Benarkah orang-orang membicarakan hal itu?!” Bukan mencari jawaban, bukan pula untuk mendapatkan kepastian, tapi justeru reaksi atas kepastian. Gemuruh hatiku telah berubah menjadi isak tangis.

Tubuhku lunglai. Jiwa dan pikiranku terukir perih. Malam semakin tebal berselimut gulita, tak peduli dengan derai air mataku yang terus mengalir, tak memberikan kesempatan bagiku untuk memejamkan mata, sampai pagi menjelang.

Berharap menemukan titik terang prahara rumah tangganya, seiring dengan tersendatnya komunikasi wahyu saat itu, Rasul tak segan meminta masukan dan komentar dari rekan-rekan teredekatnya.

“Rasul, yang aku ketahui, keluarga Anda tidak seperti yang orang-orang bicarakan. Aku tidak tahu tentang keluarga Anda kecuali mereka adalah orang-orang baik.”

“Isteri Anda? Dia hanyalah gadis belia yang ketika tidur sering belepotan oleh adonan makanan. Jika ada yang pantas dianggap aib darinya, ya, cuma itu. Tidak ada yang lain,” kata seorang perempuan berpendapat tentang isteri Rasul

Ada juga yang berkomentar, “Sudah, Rasul. Allah tidak akan menyulitkan Anda. Toh, masih banyak perempuan lain selain dia.”

Cukuplah baginya komentar-komentar itu. Aku, sebagai terdakwa, hanya bisa berdiam pilu, membiarkan orang-orang berkomentar tentangku. Aku memang tidak bisa menyodorkan bukti-bukti jika aku benar-benar tidak senista yang dituduhkan. Namun isu itu telah kadung merata bagai pasir gurun di penjuru kota, seolah telah menjadi kebenaran, walaupun validitasnya tidak teruji. Tidak ada bukti, tidak pula diketahui kepada siapa isu itu berpangkal. Pada yang terakhir itulah Rasul sedang fokus.

Suatu kesempatan Rasul manfaatkan untuk memberikan pernyataan terbuka sekaligus mengambil sikap untuk kasus yang menimpa keluarganya, saat masyarakat sedang berkumpul.

Rasul berdiri di mimbar, sementara orang-orang yang hadir di forum itu menunggu apa yang akan disampaikannya.

“Siapa yang bersedia membantuku menangkap orang yang telah menyakitiku?” Kata Rasul, melemparkan pertanyaan kepada salah seorang yang hadir di tempat itu yang bernama Abdullah bin Ubay bin Salul.

Rasul kembali mengulangi pertanyaan, kali ini ditujukkan kepada semua yang hadir…

“Siapa yang bersedia membantuku menangkap orang yang telah menyakiti keluargaku? Demi Allah, tidak ada yang aku ketahui tentang keluargaku, kecuali mereka adalah-orang baik. Mereka telah menyebut-nyebut nama satu orang yang aku ketahui baik. Dia tidak pernah berkunjung ke rumahku, kecuali bersamaku.”

“Aku bersedia, Rasul!” Sela Sa’d bin Mu’azd sambil berdiri penuh semangat. “Jika orang itu dari kelompok Aus, aku siap membubuhnya! Jika dia saudara kita dari kelompok Khazraj, aku siap melakukan apa saja yang Anda perintahkan.”

“Sa’d bin Mua’dz, Kau pembohong!” Sa’d bin Ubadah, salah seorang tetua dari Khazraj,tiba-tiba berdiri, memotong perkataan Bin Mu’adz. Ia merasa tersinggung, kelompoknya ikut-ikut disebut dalam kasus itu. “Kau tidak akan membunuhnya! Kau tidak akan mampu melakukan itu!”

“Kau yang pembohong, Sa’d bin Ubadah!” Seru yang lain, membela Sa’d bin Mu’azd. “Kami benar-benar akan membunuhnya! Kau hanya seorang munafik. Munafik yang menyerang munafik!”

Situasi saat itu benar-benar panas. Emosi sebagian orang, menyulut emosi sebagian yang lain, semakin mempertajam perselisihan. Saling tunjuk, saling tuding, tidak peduli di hadapan mereka ada seorang Rasul.

“Sudah!!! Sudah!!!” Situasi yang sudah tak terkontrol lagi memaksa Rasul turun dari mimbar. Hampir saja terjadi baku hantam, jika Rasul tidak segera menengahi dan menenangkan mereka.

Aku tidak menyangka, efek fitnah keji itu begitu besar, hampir saja menimbulkan konflik dan perpecahan di masyarakat. Sungguh, peristiwa hari itu semakin mencabik-cabik sanubariku yang telah pilu, mengoyak jiwaku yang sedang layu, tidak sedikit pun menyisakan ruang bahagia di hatiku, untuk aku bisa menghentikan air mata. Pada dua hari berikutnya, aku tetap terbenam dalam suasana demikian.

Orangtuaku menghampiri aku yang sedang menagis. Bukan untuk apa-apa, hanya ingin menamani sedihku. Seolah ingin mengatakan, mereka akan selalu ada untukku. Setelah itu, datanglah seorang sahabatku. Sama seperti orangtuaku, ia hanya ingin menemani sedihku.

Pada saat kami sedang terlarut bersama dalam sedih, tiba-tiba Rasul datang. Setelah mengucap salam, ia duduk. Itulah kali pertama ia bersedia duduk di rumahku, sejak sebulan terakhir, setelah isu tentangku mulai beredar di masyarakat. Ia datang bukan untuk menemani sedihku, tapi untuk mengatakan sesuatu…

“Aisyah, aku sudah mendengar kabar ini itu tentangmu. Jika Kau memang tidak bersalah, Allah yang akan membersihkan namamu. Dan jika perbuatan nista itu benar-benar telah Kau lakukan, mintalah ampun kepada Allah.”

Tertunduk aku menyimak ucapan Rasul. Air mata yang selama ia bicara hanyalah genangan-genangan di kelopak, meleleh membasahi pipi tanpa aku sadari. Tidak kuusap.

Rasul telah memulai pembicaraan. Saat yang tepat bagiku untuk buka suara, atau paling tidak orang tuaku mau mewakili suaraku. Aku menoleh ke ayahku, memintanya memberikan hak jawab kepada Rasul untukku. Ayah menggeleng. Aku menoleh ke ibuku, meminta hal yang sama. Ibu juga menggeleng. Ayah-ibuku melihat dirinya tidak memiliki kapasitas untuk menanggapi, menjawab, atau menambah titah yang disampaikan Rasul.

Aku kembali tertunduk. Air mataku meleleh lagi. Isak tangisku tak tertahan. Melihat orangtuaku hanya diam, hatiku semakin bergejolak, seperti ada yang meronta. Sebelum kuangkat kepalaku, sejenak kuhela nafas sambil memejamkan mata. Namun, tetap tak mampu menghentikan tangisku.

Isak tangis dan air mata tumpah ruah bersama isi hatiku. Kepada Rasul, orangtuaku, dan seorang sahabatku, aku katakan…

“Memang, aku hanyalah gadis belia yang belum banyak memahami Alquran,” aku mengawali perkataan diiringi isak tangis, menjadi latar sendu. “Aku tahu, telinga kalian telah mendengar ini itu tentangku, dan hati kalian membenarkannya. Kalian boleh tidak percaya, jika aku katakan, aku bukanlah seperti yang orang-orang katakan. Tapi, percayalah kepada Allah, bahwa Dia tahu, aku bukanlah seperti yang orang-orang katakan. Nasib malang yang menimpaku ini mengingatkanku pada perkataan Nabi Yaqub, ayahanda Nabi Yusuf, maka kesabaran yang baik itulah (kesabaranku). Dan Allah semata yang dimohon pertolongan-Nya terhadap apa yang kalian ceritakan.<!–[if !supportFootnotes]–>[1]<!–[endif]–>

Hanya sabar yang bisa aku lakukan. Hanya Allah yang bisa aku percaya. Sungguh, selain menitikkan air mata, hanya itu yang bisa aku lakukan untuk menghadapi fitnah itu.

Selesai kuutarakan isi hati, aku berlalu ke kamarku, meninggalkan mereka di ruang tamu. Di kamar, kurebahkan tubuh payahku, kubenamkan jiwa dan pikiranku pada kondisi yang paling rendah dan kosong.

Aku yakin dengan apa yang aku katakan saat di ruang tamu tadi. Sepenuhnya aku yakin, Allah akan membersihkan namaku seperti sedia kala. Tapi aku tak mau menduga-duga akan turun wahyu kepada Rasul untukku, mengabarkan kebenaran keyakinanku. Aku yang hina dina ini, merasa tidak pantas, jika sekalimat wahyu akan turun hanya untukku. Tapi, sungguh, aku sangat berharap, paling tidak malam ini Rasul akan bermimpi, Allah membersihkan namaku.

Hidup hanyalah putaran waktu yang konstan berlalu. Semua yang menempati waktu pun pasti akan berlalu seiring dengan berlalunya sang waktu.

Pagi itu begitu sejuk. Namun tak sesejuk wajah sang Rasul. Awan mendung kelam yang dalam beberapa waktu lalu menggelayut di wajahnya telah sirna. Kebenaran telah nampak terang. Fajar merah pagi itu telah tersingkap oleh benderang cahaya matahari.

“Berbahagialah, Aisyah. Allah telah membersihkan namamu dari segala tuduhan,” kata Rasul kepadaku dengan ekspresi yang berbinar-binar. Hatinya yang berbunga menyemburatkan tawa bahagia yang menghias paras tampannya.

“Berdirilah, anakku. Kecum kening Rasul. Pujilah dia. Berterima kasihlah kepadanya,” seru ibuku yang juga tidak bisa menyembunyikan kebahagiannya.

“Tidak, Bu. Aku tidak mau berdiri untuknya. Dan jika ada yang pantas dipuji, maka hanya Allah yang telah membersihkan namaku.”

Aiysah telah melewati masa pahit hidupnya, yang pahitnya melebihi apapun dari semua yang pahit. Dan berhak menikmati buah sabar yang manisnya melebihi apapun dari semua yang manis, saat Allah menurunkan ayat yang merehabilitasi namanya…

“Sesungguhnya orang-orang yang membawa berita bohong itu adalah dari golongan kamu juga. Janganlah kamu kira bahwa berita bohong itu buruk bagi kamu, bahkan ia adalah baik bagi kamu. Tiap-tiap seseorang dari mereka mendapat balasan dari dosa yang dikerjakannya. Dan siapa di antara mereka yang mengambil bagian yang terbesar dalam penyebaran berita bohong itu, baginya azab yang besar.” (An-Nur: 11)

Ciputat, 13 April 2008

<!–[if !supportFootnotes]–>

<!–[endif]–>

<!–[if !supportFootnotes]–>[1]<!–[endif]–>Yusuf: 18

Berbeda Pendapat Tetap Akur Jua

7 April 2008 § Leave a comment


Konon, mutiara hikmah ini diungkapkan Imam Syafi’i: ra’yuna shawwab yahtamil al-khatha, wa ra’yu ghairina khatha yahtamil al-shawab, artinya, pendapatku benar, namun bagi orang lain, bisa saja keliru. Dan pendapat orang lain, yang dianggap keliru, bisa saja benar.

Sungguh, ungkapan yang sangat bijak dan bajik, jauh dari kesan arogansi. Tak sedikit pun mencerminkan pemaksaan. Sangat tak terbayang, jika pengucapnya bernafsu pendapatnya harus diikuti, jika memang di sana ada kebenaran yang lain, atau yang lebih benar. Sebuah kuliah penting dari ulama moderat. Untuk beberapa saat, ungkapan ini, menjadi bahan renungan.

Cara berpikir seperti inilah yang perlu ditanamkan pada diri setiap orang. Tindakan pemaksaan kesamaan pikiran, pemaksaan pendapat, barang kali bisa dilakukan, seperti yang terjadi akhir-akhir ini di negeri kita tercinta, namun itu sesungguhnya tidak akan pernah bisa memaksa pikiran kita sama. Sebab, pikiran setiap orang sangat subyektif. Kebenaran yang dianut oleh seseorang, bisa saja adalah kekeliruan bagi yang lain. Sangat sulit untuk serta merta menerima pendapat subyektif orang lain.

null

Tindakan pemaksaan pendapat sesungguhnya adalah pemaksaan subyektifitas untuk menjadi obyektif, sedangkan obyektifitas itu sendiri sesungguhnya tidak diketahui, karena ia hanya milik Tuhan. Obyektifitas Tuhan itu sendiri akan terreduksi, manakala ia bersentuhan dengan alam pikiran manusia yang sama sekali subyektif. Seobyektif apapun pendapat yang kita kemukakan, tetap saja subyektif. Oleh karenanya, subyektifitas pribadi tak seharusnya dipaksakan kepada orang lain.

Persamaan mendasar pada mahluk bernama manusia adalah, mereka sama-sama “hewan” yang berpikir. Dan perbedaan mendasar darinya adalah, apa yang mereka pikirkan pada satu hal tidak sama.

Tanah luas kosong, akan terimajinasi dari darinya ragam macam bangunan. Bagi seorang kyai, tanah seluas itu, sayang kalau dibiarkan mati, dan lebih baik dibangun pesantren di atasnya. Bagi seorang kontraktor, tanah kosong itu potensial dibangun apartemen, kontrakan atau kost-an. Bagi seorang petani, ya, lebih baik dibikin lahan perkebunan atau pertanian. Lain lagi bagi seorang mucikari, tanah itu akan bagus dan prospektif jika diatasnya dibangun rumah bordir. Bagi pencinta sepak bola, mendingan tidak usah dibangun apa-apa, biar bisa terus main bola. Entah apa yang dipikirkan orang yang hobi mancing terhadap tanah itu.

Mereka sama-sama berpikir “menghidupkan” tanah mati itu, namun “kehidupan” apa yang akan mereka bangun, sama sekali berbeda.

Para ulama terdahulu kita pun sering berbeda pendapat pada satu hal. Misal saja, sekte Muktazilah memiliki manhaj (metode berpikir) yang berbeda dengan sekte Asy’ariyah, yang banyak menyebutnya sebagai ahlus-sunah. Muktazilah, misalkan, manhaj mereka adalah taqdim al-‘aql ‘ala al-naql/mengedepankan akal atas Alquran atau hadis. Berbeda dengan Asy’ariyah yang taqdim al-naql ‘ala al-‘aql/mengedapankan Alquran atau hadis atas akal. Perbedaan metode berpikir ini menimbulkan pendapat-pendapat mereka berbeda, bahkan saling menfikan.

Atau, kata “quru” dalam Alquran. Pada satu kata ini, ulama kita bebeda pendapat. Bagi sebagian ulama, kata itu bermakna “suci dari haid”. Dan bagi sebagian yang lain, kata tersebut bermakna “haid”.

Sepintas kita bertanya, apa yang menyebabkan mereka berbeda pada masalah yang sama? Secara teknis, bisa dijawab; karena metode berpikir mereka berbeda. Mereka membuat kaidah sendiri yang baginya tepat untuk menuju titik kebenaran.

Ya, metode berpikir (manhaj) itulah yang tepenting. Kita bisa berkata dan berpendapat apa saja. Apa saja, karena hal itu memang tidak penting. Namun, yang terpenting adalah bagaimana kita berpikir, landasan yang mendasari perkataan kita, argumentsi yang menjadi dasar bangunan pendapat kita. Jadi, kalau pendapat dan perkataan tak lagi penting, mengapa harus ada pemaksaan pendapat untuk menjadi sama?! Mengapa orang lain dipaksa berkata sama?! Yang terkadang dilakukan dengan sangat tidak bijak dan santun.

Bukankah ulama kita mengajarkan cara beda pendapat yang bijak dan santun, yang jauh dari kesan anarkis?! Jangankan hanya sekedar beda pendapat, kemungkaran yang terpampang jelas pun tidak diperkenankan diubah dengan cara anarkis dan main hakim sendiri, apa lagi di negara hukum ini.

Objek Seks

3 April 2008 § 3 Comments


oleh Juman Rofarif

img_0412bjklbhkbjklllnk.jpg

Saya tidak menganjurkan Anda membeli majalah Male Emporium (ME), X Men’s Magazine, Popular, FHM, dan Maxim, dan majalah sejenis, atau membuka situs worldsex.com, lalatx.com, penthouse.com, playboy.com, atau searching di google dengan keyword “bugil”, “telanjang”, “bokep”, “seks”, “sex”, dan seterusnya dan seterusnya…

sex-workers1.jpg

Terlepas setelah Anda membeli, membuka, dan melihat apa yang tidak saya anjurkan tersebut, Anda betah menikmati walaupun mengingkari, atau mengingkari tapi ingin menikmati, menikmati tidak mengingkari, atau tidak menikmati sekaligus mengingkari, yang jelas ada satu hal yang ketara (paling tidak menurut saya), yaitu objekisasi perempuan sebagai simbol seks. Suka tidak suka, yang namanya objek seks adalah perempuan. Sebagai objek, perempuan hanya dihargai karena kemolekan body-nya. Ia diposisikan sebagai objek untuk dieksploitasi secara seksual. Perempuan tak ubahnya (dijadikan) seperti kambing; mahluk tak berpikir yang dihargai karena kelezatannya. Jangan harap dalam majalah-majalah cabul atau situ-situs cabu tersebut akan ditemukan banyak model pria dengan pose telanjang. Alasannya simpel: karena tentu saja pria tidak laku dan tidak akan menarik dijadikan objek seks.

Ironisnya, sadar atau tidak, (sebagian) perempuan sendiri terlibat dalam objekisasi dirinya. Mereka bangga menjadi model telanjang untuk sebuah majalah demi obsesi popularitas dan titian karir. Menguntungkan, memang. Karenanya menjadi idaman perempuan yang terobsesi menjadi model. Pelabelan “majalah khusus pria dewasa”, “adult only”, semakin menguatkan fenomena objekisasi tersebut. Dan media massa, cetak maupun elektronik, adalah alat yang paling bertenggung jawab dalam masalah ini. Sebagai penikmat, laki-laki juga seharusnya menjadi pihak lain yang dipersalahkan bukan?! Bukankah sebuah produk tidak bisa eksis tanpa kehadiran konsumen?!

Seharusnya, masalah seperti ini menjadi perhatian para aktifis gender, yang menghendaki kesetaraan gender yang sehat; laki-laki dan perempuan bersaing dalam ruang publik untuk menjadi subyek yang dihargai karena potensi “akal dan pikir”nya, bukan sebagai objek yang dihargai dan dinikmati karena body-nya. Karena dengan akal dan pikiran itulah dapat diidentifikasi hakikat mahluk yang bernama manusia, yang dihargai karena kemanusiaannya.

Kita mengenal istilah al-insan hayawan natiq, pada dasarnya manusia tak tak jauh beda dengan kambing, sapi, anjing, kucing, kutu, burung, kerbau, babi, ayam. Kita punya paha, hewan-hewan itu juga. Kita memiliki syahwat untuk dilampiaskan, hewan-hewan itu juga. Dengan akal dan hati yang memunculkan sikap malu, kita tidak akan melampiaskan syahwat di jalan-jalan. Berbeda dengan hewan-hewan itu yang tidak dianugerahi akal dan pikiran. Bagi hewan-hewan itu, melampiaskan syahwat di sembarang tempat tak jadi soal. Al-insan hayawan natiq, kita adalah hewan yang mampu berpikir.

Objekisasi di atas hanya sebagian perempuan lho. Sebab, mungkin sebagian lagi diisi oleh laki-laki. He…he… Dan banyak pula perempuan-perempuan yang lebih terhormat yang karya nyatanya telah terbukti dan patut diapresiasi…

Tentang Cantik

30 March 2008 § 13 Comments


Salah satu sisi perempuan yang mendapat porsi perhatian ekstra (waktu dan biaya) adalah kecantikan (lahiriah). Isu kecantikan bukan persoalan sederhana. Ia menjadi isu terpenting, sekaligus kontradiktif, bagi perempuan. Konsep kecantikan lahiriah itu sendiri sangat relatif. Lain budaya, lain pula konsepnya. Lain masa, lain pula deskripsinya. Di Cina, awal abad 20, perempuan cantik adalah pemilik kaki kecil. Sedangkan bagi Suku Dayak di Kalimantan Tengah, perempuan bertelinga paling panjang menjuntai adalah gadis tercantik. Di era 50-an, konsep cantik berkiblat pada aktris Hollywood, Marlyn Monroe, yakni dada besar, pinggang kecil, dan berpinggul besar. Sedangkan era 60-an giliran model Twiggy, berbadan tipis langsing, yang jadi rujukan.

Media massa belakangan sangat berperan mendengungkan konsep kecantikan. Melalui iklan, sinetron, majalah atau video klip terbentuk image bahwa perempuan cantik adalah berkulit putih bersih, bermata indah, berwajah oval, hidung mancung, bibir sensual, tubuh langsing berisi, dan rambut hitam panjang lurus. Itulah mitos wanita sempurna. Gara-gara mitos cantik ini, perempuan bagai dituntut tampil sempurna. Apalagi sudah menjadi fitrah dan naluri, perempuan memang selalu ingin tampil cantik. Di manapun juga di jagad ini, sulit mencari perempuan yang mau tampil buruk, atau bahkan sekedar tampil apa adanya, lebih-lebih jika telah berinteraksi dengan orang lain, lebih-lebih lagi di mata lawan jenisnya.

Adanya berbagai ‘mazhab’ kecantikan yang ditawarkan lewat berbagai media tersebut, sesungguhnya dapat menimbulkan ‘krisis identitas’ dari pihak pemirsa. Sang pemirsa akan terus mencari sosok yang patut dijadikan ‘mazhab’ cantik. ‘Krisis’ itu akan muncul, jika dirinya ternyata sangat jauh berbeda dengan sosok yang diidealkannya. Dari sinilah akan muncul ekses; remaja putri akan merasa minder dengan dirinya, perempuan dewasa tidak segan-segan mempermak wajahnya atau anggota tubuh lainnya sedemikian rupa, hatta operasi plastik, untuk bisa tampil sesuai dengan sosok yang diidealkannya.

Begitulah, jika kecantikan telah dijadikan ukuran standar jati diri dan identitas. Seolah-olah jati diri dan identitas dirinya adalah kecantikannya. Tidak memiliki identitas dan jati diri jika tidak cantik. Pada dasarnya yang demikian tidak salah. Sebab, bagaimanapun, tampil cantik dan sempurna adalah fitrah dan naluri serta dambaan setiap insan. Namun yang perlu disadari adalah, bahwa yang demikian relatif adanya dan bukan segala-galanya. Ada yang lebih penting dari itu, yaitu inner beauty, kecantikan yang memancar dari dalam jiwa yang bersih. Ini definisi cantik yang lebih positif, bersifat universal dan tidak relatif, karena bersumber dari aturan normatif. Walapaupun definisi ini ‘asing’ untuk diungkapkan di tengah-tengah hegemoni identifikasi cantik adalah penampakan lahiriah. Bagi sebagian orang, kecantikan didefinisikan sebagai inner beauty, tapi lebih banyak lagi yang mengidentikkan cantik dengan penampakan lahiriah.

Masa remaja bagi perempuan adalah masa pencarian jati diri dan identitas diri, sekaligus kegelisihan mencari figur untuk dijadikan ‘mazhab’ identitasnya. Pada masa ini mereka terombang-ambing oleh definisi identitas yang beragam. Mereka terus bereksperimen dan selalu ingin mempraktikan fenomena yang mereka lihat. Ketika muncul fenomena ‘jilbab gaul’, apa salahnya mencoba. Ketika semakin banyak para artis yang mengenakan jilbab dengan style yang ngartisi, kalau bisa ditiru, kenapa tidak.Menurut Mr. Kontroversial Abdurahman ‘Gus Dur’ Wahid, yang seperti ini adalah tanda krisis identitas; tidak berani meninggalkan identitas diri sebagai muslimat, tetapi selalu ingin tampil stylish dan enggan disebut kampungan.

Pada masa inilah mereka masih memerlukan pengarahan dan bimbingan untuk menemukan jati diri serta identitasnya yang sebenarnya yang sesuai dengan dirinya sendiri, bukan memaksakan jati diri dan identitas orang lain untuk disematkan pada dirinya. Dalam hal ini, kecantikan menjadi persoalan yang tak terhindarkan. Ia bagian dari identitas yang juga harus dicari.

Jika berpijak pada aturan normatif, kecantikan atau untuk disebut cantik sesungguhnya menekankan ekuitas dua dimensi, yaitu dimensi material atau lahir (kecantikan lahiriah) dan dimensi imaterial atau jiwa (inner beauty). Keduanya harus seimbang. Aturan normatif mengatakan, bahwa Allah tidak memandang lahiriah seseorang, tapi memandang kepada jiwanya. Namun pada kesempatan lain, Allah menganjurkan tampil ‘cantik’ (khudzu zinatakum) ketika pergi ke masjid untuk menghadap-Nya. Nabi umat Islam, Muhammad Rasulullah diutus membenahi ahlak dan jiwa (inner beuty) umatnya, namun pada kesempatan lain, ketika Nabi didatangi oleh salah seorang shahabatnya yang menenakan pakaian kotor dan compang-camping, padahal ia mampu membeli pakaian yang lebih bagus, Nabi menyuruhnya untuk membeli pakaian yang bagus dan pantas. Ini artinya, definisi cantik dalam versi normatif adalah ekuitas antara jiwa yang bersih dan lahir yang sehat dan pantas. Cantik luar dalam. Definisi ini lebih positif

Definisi semacam ini harus terus dikampanyekan di tengah-tengah arus budaya hedonis. Apalagi di kalangan remaja putri yang berada dalam masa transisi. Dengan definisi cantik di atas, mereka akan lebih percaya diri dan tidak terombang-ombang dalam kegelisahannya menemukan jati dirinya.

Intuisi, Bercinta, dan Menulis

30 March 2008 § Leave a comment


Pernah jatuh cinta? Bagaimana rasanya?

Berikut adalah ekspresi berlebihan mencintai seorang kekasih, dan Anda boleh tidak percaya… Yang terjadi, saat itu, semuanya menjadi indah, semua menjadi bermakna, tapi sekligus tidak masuk akal, tidak bisa dinalar oleh rasio dan tidak logis. Bagaimana tidak, ruang kelas yang penuh dengan dengan puluhan mahasiswa, yang tentu saja panas dan gerah, bagi saya adalah sebuah taman luas nan indah dan segar. Dan, seolah-olah di taman itu yang ada hanya saya dan dia. Kuliah dan kampus sepertinya menjadi sebuah kegiatan dan tempat yang menyenangkan.

Apapun yang melekat pada si dia, dari ujung rambut sampai ujung tali sepatu menjadi penuh makna. Gaun warna biru yang dikenakannya, yang bagi orang lain ia tetaplah warna biru yang membisu tanpa makna, bagi orang kasmaran hal itu tentu termaknai begitu dalam, seolah-olah ada pesan yang ingin disampaikan oleh si dia lewat warna biru gaunnya itu. Dia yang jauh di di balik tembok tebal sana, seolah-olah berada dekat di sini. Dia yang jauh di mata, begitu lekat di hati.

Orang yang sedang kasmaran, mampu membalik keadaan menjadi seratus delapan puluh derajat. Naik angkot akan berubah seperti naik mobil pibadi serba mewah. Halte bus dan pertigaan akan berubah menjadi sebuah tempat penantian yang menyenangkan, biarpun kendaraan yang telah berjam-jam ditunggu tak kunjung muncul, padahal pada saat itu ia bisa saja menjadi tempat yang menjemukkan bagi orang lain.

Terlalu berlebihan memang, bahkan bisa dibilang mustahil ‘aqly adanya, tidak masuk akal. Bagaimanapun, akal tidak akan menerima adanya angkot jelek yang bisa berubah seketika menjadi mobil pibadi serba mewah. Akal tidak akan menerima adanya halte bus yang berubah menjadi tempat menyenangkan. Akal juga tidak akan menerima adanya gaun warna biru, yang notabene ia adalah benda mati, yang bisa menyampaikan sebuah pesan. Akal tentu tidak akan menerima, objek yang jauh di mata, pada saat itu juga menjadi dekat di hati. Bagaimana juga, akal akan menerima adanya ujung tali sepatu, apalagi sepatu butut, yang memiliki ‘makna’, paling-paling maknanya, ya, pemiliknya lagi bokek dan tidak mampu membeli sepatu baru.

Tapi, sesungguhnya bagi orang yang sedang jatuh cinta, fenomena-fenomena (pengetahuan) tersebut bisa riil adanya, walaupun tetap tidak masuk akal.Kok, bisa?

Cinta, termasuk bermacam derivatifnya, merupakan persoalan yang menjadi wilayah hati (intuisi), bukan akal dan indra. Untuk memahami cinta kita harus menggunakan intuisi sebagai alat yang paling tepat untuknya. Sebab dalam bercinta akan muncul banyak fenomena yang tidak bisa dimengerti dan pahami oleh akal, namun hati (intusisi) sangat mengerti dan memahaminya.

Maka tidak heran jika akal, penalaran rasional, dan indra akan mengatakan tidak mungkin, bahkan mustahil adanya, terhadap fenomena-fenomena yang dialami oleh orang yang sedang kasmaran di atas. Tapi, dengan intuisi, cinta dan fenomena-fenomena yang lahir darinya bisa dipahami dan dimengerti, bahkan bisa riil adanya, tidak lagi mustahil. Maka, jika dihadapkan pada persoalan cinta, kedepankanlah hati (intuisi), dan kesampingkanlah akal dan indra. Akal tidak bisa berkata apa-apa tentang cinta, pikiran buntu, lidahpun kelu. Tentang cinta, hati lebih mampu berkata dan berpikir.

Yang menjadi pertanyaan, kemudian, adalah bagaimana cara memperoleh pemahaman yang hanya bisa dipahami oleh intuisi itu? Praktisnya, bagaimana mendapatkan pemahaman tentang ‘cinta’ dan berbagai fenomena yang muncul karenanya? Bagaimana cara melekatkan si dia di dalam hati pada saat dia jauh berada di balik tembok tebal sana? Bagaimana cara menangkap pesan yang disampaikan oleh si dia lewat gaun birunya? Bagimana cara merubah halte dan pertigaan menjadi tempat yang menyenangkan? Jawabannya sama sekali tidak bisa dijelaskan dengan akal, tapi bisa dengan intuisi.

Pemahaman intuisi adalah pengetahuan yang didasarkan pada pengalaman atau ‘eksperensial’. Kita mengerti ‘manis’ bukan dari kata orang atau lewat bacaan, melainkan dengan cara mencicipi gula. Kita mengerti ‘pedas’ bukan lewat teori, tapi setelah kita mengunyah cabe.

Analogi-analogi itu harus diterapkan pada masalah cinta, jika Anda benar-benar ingin tahu apa itu apa itu ‘cinta’. Cinta tidak bisa dipahami lewat bacaan atau teori-teori cinta yang sering kali tidak sesuai dengan yang dialami (termasuk tulisan ini) melainkan memahami betul-betul jatuh cinta. Jika Anda betul-betul ingin mengenal cinta, berusahalah jatuh cinta. Jalal al-Din al-Rumi pernah mengatakan, “Kalau Anda ingin mengetahui api secara intuitif, pangganglah diri Anda di atas api!”

Dengan demikian, Anda akan dapat merasakan ruang kuliah yang berubah menjadi taman luas; karena cinta lewat intuisi. Halte dan pertigaan akan berubah menjadi tempat mengesankan; karena cinta lewat intuisi. Si dia yang jauh di sana akan selalu lekat di hati; karena cinta lewat intuisi.

Terus, hubungannya dengan menulis?

Seperti halnya bercinta, menulis merupakan pengetahuan ‘eksperiensial’ atau pengetahuan yang didasarkan pada pengalaman, dalam arti Anda tidak akan memiliki pengetahuan tentang menulis kecuali Anda pernah menulis. Menulis tidak bisa hanya dibayangkan lewat akal, tapi dengan betul-betul menulis itu sendirilah Anda akan dapat memahami pengetahuan tentang menulis. Menulis tidak bisa dipahami lewat buku-teori tentang tulis-menulis atau lewat pelatihan jurnalistik. Buku-buku dan pelatihan jurnalistik itu akan menjadi percuma sama sekali dan cenderung membuang waktu, biaya, dan tanaga jika dalam diri Anda sendiri tidak pernah terbesit sama sekali untuk mencoba menulis.

Andrias Harefa, penulis buku-buku best seller, pernah berujar, “Dengan membaca buku teori tulis-menulis, Anda baru “belajar tentang” dan sama sekali belum “belajar” mengarang/menulis. Mengarang/menulis adalah praktek. Sehingga hanya dengan melakukannya Anda menjadi bisa”.

Jadi, percayalah, teori-teori (tentang menulis) yang didapat dari buku-buku ataupun pelatihan jurnalistik selamamya akan menjadi pengetahuan yang membeku di otak semata, jika Anda tidak pernah mencoba untuk prektek menulis. Masih nggak percaya?! Tanyain aja sama kawan-kawan yang pernah ikut pelatihan jurnalistik!

Imam Salat Perempuan

30 March 2008 § Leave a comment


oleh Juman Rofarif

img_0412lguily89bjkl.jpg

Jumat, 18 Maret 2005, Aminah Wadud, seorang perempuan yang profesor bidang studi Islam di Virginia Commonwhealth University AS, menjadi imam sekaligus khatib untuk salat Jumat. Kontan dunia Islam dibikin geger. Kritikan deras mengalir. Ulama kondang dunia, Yusuf Qardlawi mengecam, dan menyatakan bahwa tindakan Aminah Wadud sebagai bid’ah yang munkar. Kritikan juga keluar dari Syaikh Al-Azhar, Sayyid Thanthawi. Reaksi bermunculan. Ada yang “suuzhan”, bahwa tindakan Wadud sebagai sensasi tanpa makna, ada sebuah sekenario yang melatarbelakanginya dari kelompok tertentu untuk kepentingan tertentu. Adian Husaini, dalam situs hidayatullah.com, menyebut apa yang dilakukan Wadud adalah tindakan nyleneh bias dari ideologi gender equality ala Barat-sekuler. Dan ragam kecaman lainnya. Dan ada juga yang memberikan apresiasi positif atas keberanian Wadud ngoyag-ngoyag kebenaran yang seolah-olah telah mutlak.

Kritikan dan reaksi tersebut sangat wajar. Secara umum, memang banyak garis dan titik yang terlanggar dari salat Jumat versi Wadud tersebut, atau tindakannya tidak dikenal dalam Islam sebelumnya. Tindakannya merupakan akumulasi beberapa pelanggaran. Ini bisa dilihat dari ikhtilath antara jamaah laki-laki dan perempuan, berdiri sejajar tanpa terhalang satir. Pengumandang azan yang perempuan. Jamaah perempuan yang tanpa mukena, karenanya anggota tubuh perempuan yang sebenarnya menjadi aurat dalam salat tidak tertutup. Namun, hemat penulis, sampai pada titik keimaman perempuan (imamah al-nisa’) bagi jamaah laki-laki, tidak seorang pun berhak memvonis sebagai tindakan salah, nyleneh, apalagi bid’ah. Dan khusnuzzan penulis, statemen bi’dah Yusuf Qardlawi hanya pada akumulasi pelanggaran pada ritual jumaatan itu, dan bukan pada titik keimaman perempuan bagi jamaah laki-laki. Sebab, ternyata tidak semua ulama, dalam sejarah pemikiran Islam, melarang perempuan menjadi imam bagi jamaah laki-laki.

Niqasy Nalar Ulama

Berbicara tentang imam salat perempuan bagi makmum laki-laki, akan berputar-putar pada dua Hadis, yaitu pertama, satu Hadis yang diriwayatkan oleh dua rawi, yaitu Abu Daud dan al-Daruquthni dalam kitab Sunan masing-masing. Kedua, Hadis yang diriwayatkan oleh Ibnu Majah dalam kitab Sunan-nya.

Tercatat, ulama yang memperbolehkan seorang perempuan menjadi imam salat bagi jamaah laki-laki antara lain Abu Tsaur (w. 240 H), al-Muzani (w. 264 H), dan al-Thabari (w. 310 H). Abu Tsaur termasuk mujtahid besar, ahli fikih dan murid Imam al-Syafi’i. Begitu juga al-Muzani. Ia adalah murid Imam al-Syafi’i yang kemudian (juga) menjadi mujtahid. Kepada muridnya tersebut, Imam Syafi’i pernah mengatakan, “Al-Muzani nashir mazhabi” (al-Muzani adalah pembela mazhabku). Al-Thabari, yang nama lengkapnya adalah Muhammad bin Jarir bin Yazid bin Khalid al-Thabari Abu Ja’far, adalah al-muhaddis (ahli Hadis), al-faqih (ahli fikih), dan al-muarrikh (sejarawan), dan ahli tafsir penulis kitab tafsir kondang, Tafsir al-Thabari.

Pendapat mereka didasarkan dari Hadis shahih (valid) yang diriwayatkan oleh Imam Abu Daud dalam kitab Sunan-nya.

Suatu ketika, Nabi beserta pasukannya akan berangkat perang Badar. Seorang shahabat perempuan bernama Ummu Waraqah binti Naufal al-Anshari(yah) meminta izin kepada Nabi untuk diikutsertakan dalam perang tersebut sebagai tenaga medis, dengan satu harapan, atas izin Allah, dapat memperoleh kesyahidan. Namun Nabi tidak mengizinkan, “Kamu tetap saja di rumah. Karena Allah akan memberikan kesyahidan itu kepadamu (tanpa harus mengikuti perang).” Ummu Waraqah setuju, namun ia meminta kepada Nabi untuk mengutus muazzin (pengumandang azan) ke rumahnya untuk mengumandangkan azan pada saat-saat salat. Nabi pun memenuhi permintaan Ummu Waraqah itu, dan mengutus kepadanya seorang laki-laki tua (syaikh kabir). Nabi menyuruh Ummu Waraqah menjadi imam untuk penghuni rumahnya. Saat itu, Ummu Waraqah, di rumahnya, memiliki pembantu laki-laki (ghulam) dan perempuan (jariyah). Keduanya mudabbar (budak yang bisa bebas jika tuannya telah mati).

Seperti di tulis oleh al-Shan’ani dalam Subul al-Salam kitab syarh (komentar) Bulugh al-Maram, Hadis di atas merupakan argumentasi kebolehan keimaman perempuan bagi keluarganya, meskipun dalam keluarga tersebut ada laki-laki. Dan walaupun pengumandang azannya adalah laki-laki (seperti riwayat Ummu Waraqah di atas). Dan Hadis tersebut jelas menunjukkan, pembantu laki-laki (ghulam) dan perempuan (jariyah) ikut salat bermakmum kepada Ummu Waraqah. Pendapat ini juga dinukil oleh Abu Thayyib Abadi dalam ‘Aun al-Ma’bud, kitab komentar Sunan Abi Daud.

Sementara itu, tidak ada Hadis shahih (valid) yang secara spesifik, jelas, dan pasti melarang seorang perempuan menjadi imam bagi jamaah laki-laki. Hadis riwayat Ibnu Majah yang melarang perempuan menjadi imam (ala la ta’ummanna imra’ah rajulan) tidak valid, dla’if. Sebab, salah seorang perawi Hadis tersebut, Abdullah bin Muhammad al-‘Adawi, tidak diakui integritasnya oleh para ulama. Imam Bukhari, dalam karyanya al-Tarikh al-Kabir, menganggapnya sebagai munkar al-hadis (hadisnya ditolak). Tentang Abdullah bin Muhammad al-‘Adawi, Ibnu Hajar al-‘Asqalani, dalam karyanya, Lisan al-Mizan, berkomentar: la yasih haditsuhu (hadisnya tidak sah). Ibnu Hibban, dalam kitabnya, al-Majruhin, memvonis la yahillu al-ihtijaj bi khabarihi (riwayat Hadisnya tidak boleh dijadikan argumen). Oleh karenya ia gugur sebagai dalil larangan keimaman perempuan bagi jamaah laki-laki.

Syaikh Khalil Ahmad al-Saharnafuri, penulis kitab Badzl al-Majhud, yang juga kitab komentar Sunan Abi Daud memberikan komentar yang berbeda dari Hadis Ummu Waraqah di atas. Dia meng-counter pendapat yang memperbolehkan keimaman perempuan dengan dalil Hadis Ummu Waraqah. Menurutnya, menjadikan Hadis di atas sebagai argumentasi kebolehan keimaman perempuan bagi jamaah laki-laki, tidak tepat (ghair shahih). Sebab, menurutnya, dalam salat yang diimami oleh Ummu Waraqah tersebut, tidak dapat dipastikan keikutsertaan dua pembantunya dan sang muazzin.

Permasalaannya adalah, alasan apakah yang yang membuat sang muazzin, yang mengumandangkan azan untuk menyampaikan ajakan salat, namun dia sendiri tidak mengikuti salat tersebut? Apakah karena larangan bermakmum kepada imam perempuan? Jika demikian, mengapa Nabi justru menyuruh Ummu Waraqah menjadi imam, padahal, pada saat yang sama, masih ada laki-laki, yaitu ghulam dan muazzin yang tua itu sendiri. Kalau memang imam perempuan dilarang, mengapa Nabi tidak menyuruh muazzin itu untuk (sekaligus) menjadi imam.

Memang, selain kasus Ummu Waraqah, praktik keimaman perempuan bagi jamaah laki-laki tidak populer. Seandainya, keimaman perempuan bagi jamaah laki-laki adalah sesuatu yang populer, maka Ibunda Aisyah, garwo kanjeng Nabi, adalah orang yang paling berhak di antara shahabat lain, untuk menjadi imam. Tapi ternyata, tidak ada satu pun riwayat yang menyatakan demikian. Namun demikian, ketidakpopuleran perempuan menjadi imam saat itu (atau pada masa shahabat), bukan berarti fenomena itu menunjukkan mutlak larangan dan menjadi larangan mutlak, oleh karenanya, ini tidak bisa dijadikan sebagai dalil pelarangan.

Namun, penting untuk dipahami, bahwa Hadis Ummu Waraqah tidak hanya diriwayatkan oleh Abu Daud saja, tapi (juga) oleh Imam al-Daruquthni di dalam kitab Sunan-nya. Jika satu Hadis diriwayatkan/ditulis oleh banyak ulama di dalam kitabnya masing-masing, maka harus dilakukan apa yang dalam ilmu Hadis disebut dengan jam’ al-riwayah, yaitu menyatukan berbagai riwayat itu, untuk mencapai maksud Hadis secara komprehensif. Jam’ al-riwayah itu penting dilakukan, karena Hadis-Hadis Nabi merupakan wihdah la tatajazza, unity intregity, satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan, dan saling menafsirkan, sebagaimana al-Quran dalam ayat-ayatnya. Begitu juga untuk Hadis Ummu Waraqah. Dalam riwayat Abu Daud, memang, Hadis itu menunjukkan sifat umum dan memiliki banyak ihtimalat (kemungkinan-kemungkinan) dan salah satu kemungkinan itu adalah, bahwa Ummu Waraqah juga menjadi imam bagi makmum laki-laki, sebagaimana ditulis oleh al-Shan’ani. Tapi kemumuman makna Hadis yang didiriwayatkan oleh Abu Daud ditakshis oleh riwayat Imam al-Daruquthni. Di dalam Sunan-nya, Imam al-Daruquthni dengan jelas meriwayatkan bahwa Ummu Waraqah hanya diizinkan untuk menjadi imam bagi keluarganya yang perempuan, artinya laki-laki tidak diizinkan bermakmum kepadanya. Sehingga, Hadis Ummu Waraqah tidak dapat dijadikan sebagai dalil kebolehan imam perempuan dalam salat.

Oleh karenanya, menurut al-Saharnafuri, larangan keimaman perempuan bagi jamaah laki-laki adalah atas dasar ijma’ (kesepakatan ulama). Dan pendapat kebolehan keimaman perempuan mahjuj (dikalahkan) oleh ijma’ itu. Namun, pernyataan ijma’ ini pun masih memungkinkan untuk di bahas, sebab “pernyataan tentang ijma’ hanya dapat diterima dari mereka yang benar-benar memiliki kemampuan merangkum semua riwayat. Pemberitaan seorang tentang adanya ijma’ bisa jadi bersumber dari riwayat yang lemah, atau boleh jadi ia menukil dari siapa yang tidak wajar diterima pemberitaannya, atau disampaikan hanya berdasar sangka baik kepada yang bersangkutan, atau terjadi darinya kekeliruan.” Seperti ditulis oleh Prof. Dr Qurasiy Shihab dalam Jilbab-nya, menukil dari pakar tafsir Lembah Biqa’, Libanon, Ibrahim Ibn Umar al-Biqa’ (1406-1480 M). Kemudian, al-Syaukani dalam kitab Irsyad al-Fuhul-nya menyatakan, “Jika ada salah seorang mujtahid yang berbeda pendapat dengan pendapat ijma’, menurut mayoritas ulama, maka ijma’ itu gugur dan tidak bisa dijadikan hujjah (argumentasi).” Jika pernyataan al-Syaukani ini diterima, maka ijma’ tentang larangan imam perempuan dalam salat, seperti di tulis al-Saharnafuri, gugur sebagai dalil, karena Abu Tsaur, al-Muzani, dan al-Thabari adalah termasuk yang memperbolehkan imam perempuan. Dengan kata lain, ijma’ itu tidak berlaku dan gugur oleh ketiga ulama tersebut.

Kesimpulan

Sampai pada titik ini, bisa dikatakan, bahwa tidak ada Hadis shahih yang jelas dan pasti, yang melarang atau memperbolehkan imam salat perempuan untuk makmum laki-laki. Hadis riwayat Ibnu Majah dengan jelas dan pasti melarang imam salat perempuan, namun ia dlaif (lemah) dan tidak bisa dipakai sebagai dalil. Hadis riwayat Abu Daud shahih, namun ia tidak menjelaskan dengan pasti, apakah Ummu Waraqah, selain menjadi imam bagi jamaah perempuan, juga menjadi imam bagi jamaah laki-laki. Bahkan riwayat itu ditakhshish oleh riwayat Imam al-Daruquthni, bahwa Ummu Waraqah hanya diperkenankan untuk menjadi imam bagi makmum perempuan saja. Sehingga Hadis ini tidak tepat untuk dalil pembolehan imam perempuan bagi makmum laki-laki. Artinya Hadis bersikap “netral” pada masalah imam perempuan bagi makmum laki-laki. Dalil ijma’ yang dinyatakan oleh al-Saharnafuri pun gugur, karena ada beberapa ulama yang berbeda pendapat, dan tidak termasuk dalam ijma’ itu.

Lalu, selama ini, apakah yang menjadi landasan larangan imam salat perempuan bagi jamaah laki-laki? Dalam catatan Muhammad Zakariya bin Yahya al-Kandahlawi, yang men-ta’liq kitab Badzl al-Majhud karya al-Saharnafuri, larangan itu adalah atas dasar qaul ‘amah al-fuqaha, pernyataan mayoritas ulama. Dan, qaul ‘amah al-fuqaha bukan termasuk dalam strata al-adillah al-syar’iyyah. Sehingga, pada gilirannya, larangan imam salat perempuan bagi jamaah laki-laki masih debatable.

* * *

Mengutip tulisan Prof. Dr Qurasiy Shihab, dalam buku yang sama, bahwa teks al-Quran – sebagaimana halnya semua teks, termasuk Hadis – bertemu dengan akal atau akal-akal manusia, dan akal itulah yang memberi makna kepadanya. Hakikat ini pada gilirannya mengantar kepada hakikat lain, yaitu bahwa pemahaman manusia terhadap suatu teks (nash), berbeda dengan teks itu sendiri; bisa kurang dari kandungan teks atau melebihinya. Teks al-Quran bahkan sebagian besar dari nash-nash yang mengandung ketentuan hukum juz’i dapat menampung lebih dari satu makna sehingga lahir aneka pandangan yang ketat atau longgar…sejak dari pandangan shahabat Nabi, seperti Abdullah bin Umar yang dinilai ketat sapai pada pandangan shahabat Nabi yang lain seperti Abdullah bin Abas yang dinilai penuh toleransi. Di sini dikenal apa yang dikemukakan oeh para pakar tentang perbedaan syari’at dengan fikih. Syari’at bersumber dari Allah, tidak boleh diubah dan tidak mengalami perkembangan, sedangkan fikih adalah pemahaman manusia atas syari’at, yang bisa benar, bisa juga salah, bisa kurang atau sempurna, bisa sementara, dan bisa juga bertahan sekian lama. Adanya imam dalam salat adalah syariat, namun soal imam perempuan bagi makmum laki-laki telah menjadi persoalan fikih.

Pendapat para ulama, mayoritas atau minoritas, dalam hal apa pun, termasuk keimaman perempuan, perlu diketengahkan dan diketahui secara deskripitif-obyektif. Tidak jarang, hanya mengetahui suatu pendapat, yang sebenarnya itu hanya salah satu dari ragam pendapat, dapat memunculkan sikap eksklusif, tidak arif atau bahkan emosional, ketika pendapat lain yang berbeda diketengahkan, kemudian dianggap sebagai “kenylenehan”.

Larangan perempuan menjadi imam bagi jamaah laki-laki, yang kita pegang selama ini adalah sebuah pendapat. Dan kebolehan perempuan menjadi imam bagi laki-laki, juga sebuah pendapat, yang tidak perlu dianggap sebagai “kenylenehan”. Masing-masing tidak berhak mengklaim bahwa pendapatnya adalah sebagai kebenaran seluruhnya dan seluruhnya adalah kebenaran. Wallahu a’lam.

Kekuatan Pikiran

30 March 2008 § Leave a comment


oleh Juman Rofarif

the-secret.jpg

Nabi Muhammad SAW bersabda bahwasanya Allah SWT telah berfirman, “Ana ‘inda dzanni abdi bi; Aku kuasa melakukan apa pun yang terbesit dalam benak hambaku.” (HR. Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah). Jika dalam benak dan pikiran sesorang terbesit bahwa dia akan berhasil dalam melakukan sesuatu dan bersikap optimis, maka yakinlah Allah akan membatu pekerjaan itu. Sebaliknya, jika seseorang selalu pesimis atas apa yang dilakukannya, maka kegagalan akan menjadi bayang-bayang.

Inilah kekuatan pikiran yang dimiliki oleh manusia yang menjadi kekuatan lain bagi dinamika kehidupan manusia.

Seorang sarjana perempuan Barat bernama Rhonda Byne menulis sebuah buku berjudul The Secret. Dalam bukunya itu dia mengungkap sebuah rahasia besar kehidupan, yaitu hukum tarik menarik yang berpusat pada pikiran

Hukum tarik menarik mengatakan bahwa kemiripan menarik kemiripan. Ketika seseorang memikirakan suatu pikiran, ia juga menarik pikiran-pikiran serupa kepada dirinya. Ketika seseorang memikirkan hal-hal yang tidak disukainya dan selalu berpikir buruk, hukum tarik menarik segera mendatangkan lebih banyak pikiran yang serupa kepada dirinya. Ia sama saja sedang menarik kondisi buruk. Jika pikiran-pikiran semacam itu terus dipelihara, maka kondisi akan semakin memburuk.

Hukum tarik menarik adalah hukum alam (sunnatullah). Hukum ini tidak memilih dan tidak memandang sesuatu sebagai sesuatu yang baik atau sesuatu yang buruk. Ia hanya menerima setiap pikiran seseorang dan memantulkannya kembali kepadanya sebagai pengalaman hidup. Hukum tarik menarik sekadar memberikan kepada seseorang hal-hal yang dipikiran olehnya.

Hal itu dikarenakan pikiran bersifat magnetis dan memiliki frekuensi. Apa yang dipancarkan oleh pikiran akan terkirim ke semesta, dan secara magnetis pikiran akan menarik semua hal yang berada dalam frekuensi yang sama. Segala sesuatu yang yang dikirim ke luar oleh pikiran akan kembali ke sumbernya, yaitu kita sendiri.

Maka tugas kita sebagai manusia adalah memelihara pikiran-pikiran baik yang kita inginkan, memperjelas apa yang kita inginkan di dalam benak, dari situ kita mulai membangun salah satu hukum terbesar di semesta. Maka, sesungguhnya kondisi kehidupan kita sekarang ini adalah cerminan dari pikiran-pikiran di masa lalu. Pikiran-pikiran baik yang terpelihara dalam pikiran kita saat ini adalah kondisi baik di masa yang akan datang.

Pada tiga hari sebelum wafat Nabi Muhammad SAW pernah berpesan kepada para sahabat, “La yamutunna ahadukum illa wahuwa yuhsinu al-dzanna billahi ‘azza wa jalla: Jangan sekali-kali salah satu dari kalian meninggal kecuali selalu berpikir positif kepada Allah ‘azza wa jalla.” (HR Muslim dari Jabir bin Abdillah).

Barangkali bisa dikatakan bahwa hukum tarik menarik merupakan penjelasan sekuler dan rasional dari kedua hadis Nabi di atas.

Menulislah Sebelum Mati!

28 March 2008 § Leave a comment


oleh Juman Rofarif

img_1579.jpg

“Qayyidu al-ilm bi al-kitab,”begitu kata shahabat Umar bin Khatab, yang diriwayatkan oleh Imam al-Darimi dalam sunan-nya, mengenai pentingnya menuangkan ilmu, gagasan, ide, dan pemikiran ke dalam tulisan/buku. Anjuran ini bukan semata karena manusia adalah mahluk pelupa dan sering berbuat salah, tapi lebih dari itu, sesungguhnya banyak hikmah di balik anjuran tersebut. Di luar itu, sesungguhnya tulisan memiliki kekuatan luar biasa.

Nama Ulil punya kesan tersendiri. Ia identik dengan Islam Liberal. Nama Ulil terkukuhkan dengan pemikir muda progresif NU setelah generasi Abdurahman Wahid dan Masdar Farid Mas’udi. Tahun 2001, Ulil bergabung dengan kaukus pemikir muda Islam, mengorganisasikan JIL, Jaringan Islam Liberal. Jaringan tersebut dibentuk sebagai wadah dan agensi propaganda gagasan-gagsan Islib yang terlebih dulu digulirkan oleh beberapa pemikir senior, macam Nurkholis Madjid dan Abdurahman Wahid.

Selanjutnya, Ulil ditunjuk sebagai koordinator JIL sekaligus konduktor orkestra yang berisi aneka warna pemikiran liberal. Pemikiran-pemikiran JIL yang kerap melawan kemapanan pun dikampanyekan lewat berbagai media, terutama lewat media tulis. Sayap JIL semakin melebar.

JIL seolah-olah telah menjadi mazhab tersendiri dengan imamnya bernama Ulil. Kesan pengerucutan ini berawal November 2002, ketika kontroversi artikel Ulil di harian Kompas menyulut fatwa mati dari Forum Ulama Ummat Indonesia (FUUI) Bandung. Kolom berjudul ‘Menyegarkan kembali pemahaman Islam’ itu kian melekatkan label Islib pada sosok Ulil.

‘Sihir’ apakah yang ada dalam artikel Ulil, sehingga harus keluar fatwa mati?

* * *

Sungguh, tulisan adalah sesuatu yang sangat luar biasa. Kekuatan yang terkandung di dalamnya bukan saja bisa menghadirkan masa lalu di hadapan Anda, dan membawa Anda ke masa itu, ia juga bisa menghadirkan sesuatu yang tidak ada. Bahkan, ia pun bisa menghidupkan orang-orang yang telah mati, yang kemudian bisa Anda ajak interaksi. Sebuah tulisan bukan saja seolah-olah bisa menghidupkan orang yang telah mati. Lebih dari itu, ia seolah-olah menjadi nyawa kedua, untuk terus menghidupkan penulisnya di dunia.

Anda bisa melihat, bagaimana ternyata Imam Syafi’i, Imam Malik, Imam Ahmad, dan Imam Hanafi masih berkeliaran di negeri kita tercinta, Indonesia. Kehadirannya sering mengisi forum-forum diskusi seputar fikih. Tak jarang mereka diajak berdebat, argumen-argumennya diadu. Mereka menjadi semacam konsultan masalah fikih.

Karya-karya merekalah yang menjadi nyawa kedua. Lihat juga Imam Ghazali. Dengan Ihya-nya beliau tetap hidup. Anda pun bisa bekenalan dengannya. Dengan Ihya-nya, beliau membuka klinik untuk berbagai macam penyakit hati. Bukalah Ihya-nya, Anda akan menemukan resep bagaimana ‘bercumbu’ dengan Tuhan menjadi lebih nikmat dan khusuk.

Anda juga bisa melihat betapa terpandang dan tersohornya Imam Bukhari dengan karya besarnya, Shahih al-Bukhari, kitab kumpulan hadis-hadis shahih, yang diklaim sebagai ashahhul kitab ba’da al-Quran, kitab yang berada satu tingkat di bawah al-Quran. Begitu juga dengan Imam Muslim, dan tokoh-tokoh yang sekarang masih dan akan terus dihidupkan oleh nyawa keduanya, yaitu karya tulis.

Begitulah. Mereka tidak akan Anda kenal sama sekali, kecuali Anda melihat karya tulis peniggalannya. Secara personal saya dan Anda tidak mengenal mereka, karena jasad mereka pun telah tertimbun tanah. Karya tulis yang mereka tinggalkan menjadi medium (wushlah) yang memperkenalkan kita dengan mereka. Layaknya sistem isnad dalam ilmu hadis, sebuah karya tulis adalah jembatan lintas generasi yang menghubungkan kita, yang hidup hidup pada masa sekarang, dengan orang-orang yang telah mati berabad-abad lalu. Sebuah karya tulis bisa menyatukan dua masa dan tempat yang berbeda dalam satu masa dan tempat yang sama.

Salah satu perbedaan mendasar antara bahasa tulisan dan bahasa verbal adalah sifatnya yang mempublik. Karena sifatnya itulah, seorang penulis dan pengarang memiliki potensi besar untuk menjadi orang terpandang dan tersohor sepanjang masa. Siapa yang tak kenal muassis mazhab empat?! Siapa yang tak kenal Imam Bukhari?! Siapa tak kenal Imam Muslim?! Siapa yang tak kenal al-Ghazali?! Pernakah Anda berkenalan langsung dengan mereka?! Belum pernah, bukan?! Jadi, lewat apa Anda kenal mereka?!

Lewat tulisannya, seorang penulis menembus dimensi keabadian, menyusup lewat sekat-sekat zaman. Walau dia mati, tulisannya bisa terus menjadi inspirasi.

Karena itulah, lebih dari sekedar ekspresi diri dan propaganda pemikiran, menulis juga merupakan pelaksanaan kepemimpinan dan pendidikan bagi banyak orang sampai lintas generasi. Seorang penulis bisa menjadi guru tanpa harus berhadapan dengan murid dalam satu ruang dan waktu. Tak mengherankan jika ada sebuah syair yang mengatakan, “Al-Khaththu yabqa zamaanan ba’da shaahibihi, wa kaatib al-khaththi tahta al-ardhi madfuunun“, karya tulis akan kekal sepanjang masa, sementara penulisnyan hancur terkubur di bawah tanah.

Sungguh hebat mereka yang telah mengukir sejarah lewat tulisan dan menjadi inspirasi bagi generasi berikutnya. Karya tulis mereka telah menjadi parfum wamgi yang mengharumkan nama mereka, menjadi nyawa yang akan terus menghidupkan mereka sepanjang zaman.

Tulisan memiliki hubungan timbal balik yang erat dan sensitif dengan penulisnya, juga pembacanya. Tulisan akan menjadi parfum, jika tulisan itu diterima baik dan positif oleh pembacanya. Sebaliknya ia akan menjadi bumerang bagi penulisnya, jika tulisan tersebut menyinggung perasaan publik. Ia bisa tiba-tiba mengganas, menghancurkan Anda, melahap harta Anda, bahkan mengancam nyawa Anda. Tahukah Anda, jika Ulil divonis fatwa mati karena artikelnya yang terlalu menyinggung sensitivitas dan mendobrak kemapanan? Ya, sebuah tulisan.

Begitulah sebuah tulisan menunjukkan kekuatannya.

Setiap kita memiliki potensi untuk menulis, dan akan menjadi aktual jika potensi tersbut selalu diasah. Jadikanlah menulis sebagai suatu kewajaran, sebagaimana Anda fasih mengatakan bahwa berbuat salah adalah wajar selama jadi menusia. Maka katakanlah, “Saya manusia, maka saya menulis. Wajar, dong!”

Yang ingin saya tekankan adalah, bahwa menulis adalah praktek, praktek, dan praktek. Anda tidak perlu repot-repot buang tenaga dan duit untuk membeli buku tentang teori tulis-menulis. Teori yang ada pada sebuah buku adalah hanya milik penulis buku tersebut. Kita jauh dari bisa untuk menggunakan teori milik orang lain. Setiap penulis memiliki corak dan karakteristik yang berbeda-beda. Menulis adalah pengalaman pribadi. Selamanya Anda akan terbelenggu oleh teori, jika tanpa praktek. Sebaliknya, dengan selalu praktek, Anda akan bisa berteori.

Andrias Harefa, penulis buku-buku best seller, pernah berujar, “Dengan membaca buku teori tulis-menulis, Anda baru “belajar tentang” dan sama sekali belum “belajar”mengarang/menulis. Mengarang/menulis adalah praktek. Sehingga hanya dengan melakukannya Anda menjadi bisa“.

Walaa tamuutunna illa wa antum kaatibuun“. Ini bukanlah plesetan dari ayat al-Quran. Dalam ilmu balaghah, ibarah seperti itu disebut dengan badi’ iqtibash, yaitu perkataan atau tulisan yang memuat redaksi mirip ayat al-Quran.

Pernakah Anda menulis? Jika belum, saya berdoa, buat diri saya dan Anda, semoga Tuhan kita tercinta memberi umur panjang, dan sebagiannya kita gunakan untuk menulis. Jika sudah, saya persilahkan Anda menikmati kematian.

Selamat berkarya!


Where Am I?

You are currently browsing entries tagged with essai at Warung Nalar.

%d bloggers like this: