Fatwa MUI

2 February 2009 § 5 Comments


Hampir semua orang tahu kejujuran ini: MEROKOK DAPAT MENYEBABKAN KANKER, SERANGAN JANTUNG, IMPOTENSI DAN GANGGUAN KEHAMILAN DAN JANIN. Di televisi atau radio, peringatan itu selalu menjadi penutup dari semua iklan produk rokok. Semua itu ditulis kapital sehingga mencolok, dan disampaikan penuh penekanan. Barangkali, rokok adalah satu-satunya produk paling jujur. Ketika iklan produk-produk lain selalu berusaha tampil meyakinkan dengan menonjolkan kualitas, azas fungsi dan manfaat yang terkadang secara berlebihan, dan peringatan-peringatan efek samping selalu disamarkan, rokok sebaliknya. Ia sama sekali tak melakukan semua itu, dan justru menonjolkan efek samping secara gamblang. Begitu jelas.

Peringatan – bahkan cenderung seperti ancaman – itu tentu tak kurang hebat. Sebab, jiwa yang menjadi sasaran ancaman. Peringatan itu telah begitu benderang bagi siapa pun, kalangan perokok atau bukan. Jika benar, setiap fatwa MUI yang dikeluarkan selalu atas pertanyaan dari (sebagian) masyarakat, kemungkinan masyarakat yang bertanya (tentang rokok) itu tak sedang hendak mencari terang perihal seluk beluk rokok. Salah alamat, bertanya kepada MUI soal seluk beluk rokok. Jika ada pihak yang paling otoritatif untuk dilempari pertanyaan perihal rokok kemudian mengeluarkan fatwa tentangnya, maka itu adalah para “ulama” medis. Tapi, bahkan, sepertinya bertanya kepada “ulama” medis pun sebenarnya tak perlu. Sebab, sekali lagi, rokok adalah satu-satunya produk paling jujur. Peringatan bahwa rokok dapat menyebabkan sekian penyakit telah begitu gamblang tertera di antara bayang-bayang kenikmatannya. Dan hampir semua orang tahu itu.

Lalu, kenapa itu terjadi, kenapa ada sebagian masyarakat yang bersandar kepada (lembaga) agama, dan melemparkan pertanyaan kepada mereka yang dianggap otoritatif di dalamnya, ketika semuanya telah begitu terang, gamblang dan rasional? Mungkin sekedar untuk mendapatkan kenyamanan dan ketenteraman jiwa, ketimbang benar-benar ekspresi ketak-mengertian kemudian benar-benar hendak mencari jawaban yang rasional. Barangkali, masyarakat penanya tersebut adalah orang-orang yang akan lebih merasa mantap jika agama telah ikut memutus, meski secara rasional sebenarnya mereka sendiri dapat memutus. Yang rasional mungkin selalu bisa menjawab, tapi tak selalu bisa menentramkan. Pada saat seperti itulah agama menjadi penting.

Inilah masa – seperti kata-kata Goenawan Mohamad dalam prakata Tuhan & Hal-Hal Yang Tak Selesai – ketika Tuhan tak bisa ditolak dan agama bertambah penting dalam hidup orang banyak, memberi kekuatan, menerangi jalan, tapi juga membingungkan dan menakutkan.

Karena MUI tak mengeluarkan fatwa kecuali ada pertanyaan dari masyarakat, maka fatwa rokok MUI menjadi penting – “memberi kekuatan, menerangi jalan” – tentu saja semestinya terbatas semata bagi masyarakat yang bertanya dan merasa berkepentingan, atau orang-orang yang sependapat dengan alur logikanya. Tak adil, jika yang tak bertanya dan tak pula merasa berkepentingan dengan fatwa itu, kemudian dibebankan menanggung dan menjalankan fatwa itu.

Jadi, katakanlah, fatwa MUI hanyalah sebuah “pendapat” sekelompok orang, yang terdengar gagah – mungkin “menakutkan” – dengan nama “fatwa”.

Dan, posisi MUI yang tak jelas – tidak memiliki posisi struktural dalam pemerintahan, kenyataannya seperti membayang-bayangi (atau di bawah bayang-bayang) pemerintah – dianggap “membingungkan”, kerap menimbulkan asumsi yang semestinya tak dibenarkan: fatwa MUI adalah sikap pemerintah.[jr]

Advertisements

Ambiguitas Tuhan

26 January 2009 § 3 Comments


Tuhan adalah sosok yang tak terjangkau, berada di tempat yang teramat jauh. “Ia ada di langit,” kata seorang perempuan, suatu ketika, kepada Rasul. “Perempuan itu telah beriman,” ujar Rasul menilai-benarkan apa yang perempuan tersebut tahu dan hayati tentang Tuhannya.

Langit, jika mungkin ia suatu tempat, maka pastilah tak terhingga jauhnya, tak ada alat ukur untuk menjangkaunya, kecuali hanya sebatas kata. Mungkin, begitu juga dengan al-‘arsy: tempat asing nun jauh di alam antah berantah yang tak terpindai pikiran manusia, di mana Tuhan singgah setelah mencipta semesta. Langit dan al-arsy, sejatinya mungkin sesuatu yang ada, namun yang pasti tak terkira.

Agaknya Tuhan pun tahu akan hal itu, sadar diri-Nya adalah sosok yang jauh, di mana manusia tak bisa hadir untuk menjangkau-Nya. Maka, Ia selalu hadir pada dini hari, pada suatu waktu yang hening, menyambangi setiap manusia yang rindu, mempersilakan diri-Nya dipeluk dan dijamah dengan segenap penghayatan. Bagi sebagian orang, Tuhan yang gaib mungkin bisa “nyata” di gelap malam yang hening, di sebuah “rumah Tuhan” di mana manusia bisa menjumpai-Nya.

Tuhan yang tak terjangkau, yang jauh di langit, yang singgah gagah di al-‘arsy, mungkin lebih disadari dan dimengerti. Sebab, barangkali, dengan semua itu, sosok Tuhan dapat dibanggakan, seolah ke-maha-an-Nya lebih tampak.

Dan ketika Tuhan hadir dalam sosok yang tersisihkan dan terpinggirkan di pojok-pojok bumi, yang hanya terlintas sekilas oleh pandangan mata, yang cuma menempati pojok kecil di ruang pikiran, atau bahkan tak pernah terpikirkan, maka hal itu mengherankan dan tak bisa dimengerti.

Serangkai cerita kecil datang dari Rasul. Dikisahkan, Tuhan berdialog dengan manusia, di akhirat.

“Aku pernah sakit, kenapa kau tak menjenguk? Aku pernah kelaparan dan kehausan, kenapa kau tak peduli?” tanya Tuhan kepada manusia.

Dengan ketak-mengertian mendalam, manusia tersebut berkata, “Tuhan, bagaimana aku bisa menjenguk-Mu, mengantarkan makanan dan minuman untuk-Mu, sedangkan Kau adalah Tuhan semesta alam?!”

Tuhan menjawab, “Tidakkah kau tahu, hambaku si Fulan pernah sakit?! Tidakkah kau tahu, hambaku si Fulan pernah kelaparan dan kehausan?! Aku tahu, kau tahu semua itu, hanya saja kau tak mau peduli. Padahal jika kau mau mendekati mereka, niscaya kau akan menjumpaiku di sisi mereka.”

Tuhan hadir dalam ambiguitas yang mengesankan. Ia mengawang di langit jauh, singgah gagah di singgasana al-‘arsy, dan sekaligus senantiasa bersama manusia di bumi, bahkan lebih banyak bersama manusia-manusia tersisih yang tak menyita perhatian mata.

Ambiguitas ini menyiratkan pemaknaan dan penghayatan yang luas tak terbatas tentang Tuhan. Karenanya, setiap hati memiliki kemandirian dan kebebasan mencari pemaknaan dan penghayatan itu sampai pada pilihan di mana ia merasakan kenyamanan.[jr]

Wajah Tuhan

23 January 2009 § 3 Comments


Musa begitu berhasrat memandang wajah Tuhan – setelah terhanyut nikmat oleh merdu suara-Nya. Laisa al-khabar ka al-mu’ayanah. Mendengar merdu suara Tuhan adalah kenikmatan, Musa membayangkan; maka apalagi sambil memandang wajah pemilik suara itu. Rindu rasa membuat Musa rindu rupa. Raga memang selalu butuh pemuasannya.

Namun, Tuhan tak berkenan. Ia menolak permohonan Musa untuk mewujud diri dalam rupa yang terang, dan memilih hadir dalam kebijaksanaan. Ia menjadikan diri-Nya tetap sebagai kerinduan, senantiasa menjadi bayang-bayang ketak-pastian, menjadi Yang Tak Terang, untuk Musa dan semua manusia, selamanya.

Justru dengan itu orang beriman dan tak pernah jera untuk itu. Subhanaka tubtu ilaika wa ana awwal al-mu’minin. “Maha Suci Engkau. Aku bertaubat kepada-Mu. Dan aku orang yang pertama-tama beriman,” kata Musa. Sebab, dalam terang, tak lagi disebut iman. Dalam terang, kenikmatan iman tak dapat dirasa, dan yang diimani kehilangan kesakralannya. Iman tak butuh pencarian bukti fisik, wajah yang terang. Al-iman kafin la yahtaj ma’ahu ila tanqir wa bahts, dalam kata-kata Alqurtubi. Dalam iman, wajah yang terang adalah ketak-sempurnaan dan keterbatasan. Dan Tuhan Maha Sempurna, Yang Tak Terbatas.

Tuhan Yang Maha Sempurna, Yang Tak Terbatas, Yang Tak Terpermanai, yang selalu menggetarkan hati dalam kerinduan, Yang Tak Terang di mana iman tak pernah jera, yang menjadi bayang-bayang ketak-pastian yang justru karena itu hati memiliki kebebasan melakukan penghayatan yang paling pribadi, hanya dapat dinikmati di dunia ini.

Pada dunia yang lain, bagai bulat purnama yang benderangnya bersih dari balutan awan paling tipis sekali pun, wajah Tuhan teramat terang oleh setiap mata telanjang. Pada saat itu, setiap wajah akan berseri-seri terpesona memandang wajah elok Tuhan. Wujuhun yaumaidzin nadhirah, ila rabbiha nadzirah, persis dalam kata-kata Kitab Suci. Mungkin juga ada wajah yang tertawa sebab memandang wajah Tuhan yang lucu. Atau wajah ketakutan karena memandang wajah Tuhan yang seram. Mungkin juga akan banyak ekspresi-ekspresi wajah yang lain. Masing-masing wajah akan menjadi penilai wajah Tuhan. Di dunia lain itu, Tuhan telah takluk. Di sana, Tuhan tidak hadir sebagai yang tak terbatas, tak lagi jadi yang tak terpermanai, tak ada hati yang bergetar dalam kerinduan sebab mata telah menemui pemuasannya. Mungkin, di sana, kelak, tidak ada iman…

Mungkin juga tidak seperti semua itu.[jr]

Ketika Kelamin Jadi Ukuran

16 January 2009 § Leave a comment


Persepsi lahir dari konteks yang terindera, dari sebuah keadaan di mana empunya persepsi berinteraksi, menjadi respon atas realita di mana ia berada.

Imam Syafi’i yang pakar fikih – di mana karakter fikih adalah rigid – menyimpan keromantisan yang tersibak ketika mengatakan ini: “Sebagian orang mengatakan, mencintai wanita adalah bencana. Padahal, bencana sesungguhnya adalah berdekat dengan lelaki yang jauh dari cinta seorang wanita.”

Atau Ibnu Hazm yang dengan penuh gusto memberikan penghargaan kepada perempuan seraya mencemooh geram lelaki yang memandang ke-lelaki-annya sebagai ukuran.

Katanya: “Jika Anda merasa lebih utama dari Maryam, Aisyah, atau Fatimah, hanya karena engkau lelaki dan mereka perempuan, maka orang yang mengatakan hal itu pantas disebut orang bodoh.”

Meloncat dari suatu masa di negeri nun jauh, kita berdekat-dekat pada masa kini di negeri ini, dengan mengutip M. Quraish Shihab. Ujarnya: “…melecehkannya (perempuan) berarti melecehkan seluruh manusia, karena tidak seorang manusia pun – kecuali Adam dan Hawa – yang tak lahir melalui seorang perempuan.”

Persepsi apresiatif semacam itu tentu menjadi istimewa mengingat pengujarnya adalah para lelaki, sehingga melemahlah unsur subjektifitasnya, meski mungkin tidak sepenuhnya. Tapi di sinilah ironinya. “Apresisasi istimewa” menyuratkan gambaran aspek luar biasa yang mesti ditonjolkan dari satu entitas bernama perempuan, tapi menyiratkan adanya dominasi yang tak adil pandangannya: dominasi ke-lelaki-an yang selalu mengukur kelamin. Maka, apresisasi istimewa lahir dari konteks sebuah dominasi yang menghegemoni dari sebuah kelamin tertentu, dari keadaan yang diskriminatif, yang mungkin tersamar di bawah alam sadar.

Kata-kata para pengujar lelaki di atas adalah sarkasme, sindiran tajam, gugatan bagi keadaan di mana seorang lelaki memandang perempuan sebatas pada “karena aku lelaki dan mereka perempuan”, sebuah pandangan yang membentur raga, tidak menembus hakikat manusia yang tersemat di dalam seonggok raganya emosi dan nalar, hati dan pikiran, unsur spiritual dan intelektual. Dan raga adalah fisik. Sesuatu yang fisik mesti pula dihargai dengan yang bersifat fisik. Maka, transaksi dan interaksi yang terjadi adalah kebendaan, tak melibatkan aspek emosional dan rasional. Memandang perempuan seperti melihat barang dagangan di pasar. Memilah dan memilih sama mudah dengan meninggalkannya. Jika keadaan tak mendukung untuk mampu memilikinya, enteng saja berujar: “tinggal saja, cari lagi”. Mungkin orang dengan watak semacam ini tak memiliki cukup emosi dan nalar, hati dan pikiran, untuk menjangkau perempuan sampai pada hakikat kemanusiaannya.

Ini adalah keadaan anomali – di mana penistaan hakikat kemanusiaan dianggap lumrah sambil berusaha memaklumi – bukan hanya karena melanggar logika “tidak seorang manusia pun – kecuali Adam dan Hawa – yang tak lahir melalui seorang perempuan”, seperti dalam kata-kata M. Quraish Shihab, tapi juga sebab ada unsur-unsur hakikat kemanusiaan yang sengaja diabaikan. Sialnya, dalih-dalih “ini umum terjadi”, “ini pandangan umum”, dan segenap kambing hitam lain atas nama “kebanyakan orang”, dijadikan legitimasi bagi keadaan anomali itu.

Keadaan umum yang sejatinya anomali mestinya tidak dijadikan dalih dan dengan dungu ikut membesarkannya. Keadaan umum yang sejatinya anomali seharusnya menjadi objek keprihatinan seraya berharap segera lenyap.

Maka, konteks tulisan ini pun jelas: ketika kelamin – tepatnya ke-lelaki-an – jadi ukuran, saat mulut berbalut pongah mengangah sesumbar: “kamu itu lelaki, bukan perempuan!”, seolah takdir lelaki adalah kesempurnaan dan nasib perempuan adalah kecengengan.[jr]

Kejutan 2009 Yang Membuatku Lemas Mendadak

2 January 2009 § 3 Comments


Tahun 2009 yang masih tercium aroma barunya ini, memancarkan bahagianya untukku, namun seketika menjadi kejutan yang membuatku lemas mendadak.

Berawal dari sebuah Eksotopi (Tentang Kekuasaan, Tubuh, dan Identitas)-nya Goenawan Mohamad, buku yang aku dapatkan dengan segenap keluguan dan kenaifan mahasiswa semester pertama, di tahun 2002. Biarlah tak dapat menaksir kira-kira tentang apa isinya, pula belum tahu siapa itu Goenawan Mohamad, tetap dibelilah saja buku itu, di sebuah bazar di kampus. Benar saja, jangankan mengira isinya, bahkan ketika berusaha membacanya, waktu itu, terbesit penyesalan telah membelinya. Aku biarkan reaksi spontan itu mengalir, kemudian menguap, dan akhirnya hilang sama sekali. Eksotopi lalu aku tempatkan di sudut paling sulit dijangkau, di sebuah rak buku, mengisyaratkan keengganan untuk menyentuhnya.

Saat ini, enam tahun kemudian, aku sadari, gengsiku untuk membeli Eksotopi dengan penuh keluguan, waktu itu, hanyalah penempatan waktu yang kurang tepat, di mana nalar dan pengetahuan belum mampu mengimbangi keluar-biasaan, kenjlimetan, kedalaman buku kumpulan esai sastra itu. Ia bukanlah bacaan ringan untuk seorang mahasiswa baru yang lugu, meski tak bepretensi untuk mengatakan, saat ini pun aku telah dengan mudah begitu saja melahapnya. Eksotopi masih tetap terpandang njlimet dan tak ringan, hanya saja aku telah memiliki ke-pede-an untuk melahapnya, meski harus dengan mengunyahnya berulang-ulang berkali-kali, pelan-pelan. Dan setelah itu pun, pada satu esai (Eksotopi terdiri dari sebelas esai, yang masing-masing berisi lebih dari sepuluh halaman. Eksotopi sendiri salah satu judul tulisan yang kemudian dipilih menjadi judul buku), misalnya, hanya sekian kalimat yang nyangkol, saking dalam substansi yang disampaikannya, dengan kalimat yang njlimet penuh kiasan.

Justeru, kenjlimetan – dalam kamus pribadiku, “njlimet” artinya kalimat indah yang tak sekali lirik langsung dimengerti – itulah yang membuatku terpesona pada setiap tulisan Goenawan Mohammad. Aku semakin tertarik untuk mengakhiri setiap esai di Eksotopi, kemudian bersegara melanjutkan pada esai selanjutnya. Dan, “Caping” alias “Catatan Pinggir” yang menjadi trademark Goenawan Mohamad alias GM, adalah halaman paling akhir Tempo yang paling awal aku tuju, jika kebetulan membacanya. Sama, seperti jika mambaca Eksotopi-nya, biar pun tak mampu memahami sepenuh substansinya, paling tidak aku bisa menikmati – sekaligus belajar – bagaimana GM memilih diksi kemudian merangkaikannya, menjadi “kalimat indah yang tak sekali lirik langsung dimengerti”.

Di tengah aku betekun ria dengan Eksotopi, aku seolah diingatkan, pada tahun 2007, GM merilis buku terbarunya berjudul “Tuhan & Hal-Hal Yang Tak Selesai”, berisi “99 esai amat pendek yang ditulis di masa yang seperti kita alami sekarang, ketika Tuhan tak bisa ditolak dan agama terus bertambah penting dalam hidup orang banyak, memberi kekuatan, menerangi jalan, tapi juga membingungkan dan menakutkan”, begitu deskrpisi singkat tertulis tentang buku itu di sampul belakangnya. Sebelum menekuni Eksotopi, “Tuhan” belum menjadi apa-apa bagiku. Hanya sebatas tahu, itulah buku terbaru GM. Cukup. Tak terbesit secuil pun untuk memilikinya. Namun, pesona GM dalam Eksotopi yang sedang aku tekuni, menggodaku untuk segera memiliki “99 esai amat pendek”-nya itu, kemudian segera menikmatinya.

Maka, sejak pertengahan November (2008) silam, aku memulai perburuan 99 esai amat pendek itu, bolak-balik ke Plaza Bintaro dan Pondok Indah Mall di mana Gramedia (terdekat) berada. Namun, sesering aku mondar-mandir ke dua tempat itu, sesering itu pula aku harus kecewa. Sekali aku datang, buku itu telah habis. Selanjutnya, aku kembali datang seraya berharap buku itu sudah ada. Tapi ternyata tidak. Dan seperti itu selalu, selanjutnya. Harapan datang, ditumbangkan oleh kekecewaan.

Sampai akhirnya, 2009 menjelang, merilis hari pertamanya, 1 Januari yang jatuh di hari Kamis. Ketika sebagian kawan memilih bertamasya ke tempat-tempat hiburan yang tentu akan sangat menyenangkan hati, untuk membunuh hari libur itu, aku lebih asyik ke Gramedia saja. Di Gramedia, bukan hanya hati saja yang senang, tapi nalar pun ikut senang, sebab dimanjakan oleh buku-buku dengan ragam tema yang bisa pilih sesuai kecenderungan, dan dibaca di tempat. Nah, kebahagiaan di tahun baru itu, memancar dari pojok sastra Gramedia Pondok Indah Mall. Tak disangka, ternyata “Tuhan & Hal-Hal Yang Tak Selesai”, yang selama ini aku nantikan keberadaanya, telah berderet rapi di antara buku-buku sastra. Seketika aku raih buku itu, kemudian menuju kasir untuk kutukar dengan lembar-lembar rupiah.

Itulah kebahagiaan yang dipancarkan tahun baru untukku. Seolah, “Tuhan & Hal-Hal Yang Tak Selesai” memang menjadi takdirku, hadir dengan cara yang mengejutkan, dengan memilih hari perdana di tahun 2009, agar ada efek momentum di sana. Kepada kawan, aku sempat merayakan momentum itu, dengan mengirim sms, “Ngalkamdulillah wacukurilah, “Tuhan & Hal-Hal Yang Tak Selesai”-nya Goenawan Mohamad ada juga.”

Adapun kejutan yang membuatku lemas mendadak, yang menjadi tema coretan ini, terjadi saat aku sudah sampai di rumah, yaitu “Tuhan & Hal-Hal Yang Tak Selesai” yang baru aku dapatkan itu ternyata edisi bahasa Inggris! Seketika aku mengekspresikan keterkejutanku itu dengan mengucapkan kalimah thayibah: Astaghfirullah! Innalillah!, yang kemudian dilanjutkan dengan ekspresi keterkejutan lokal: Asem! Jangkrik! Kurang ajar! Sialan! Entah kepada siapa ekspresi itu aku tujukan.

Masalahnya, semesta alam, dari ujung kulon sampai ujung wetan, dari sabrang kidul sampai sabrang lor, dari ujung langit sampai dasar bumi, dari kolong dunia sampai pojok akhirat juga paham, jika aku tidak pandai bahasa Inggris. Memahami tulisan Goenawan Mohamad yang berbahasa ibu saja mesti dengan segenap daya dan mringis-mringis, apalagi yang berbahasa Inggris! Dulu sekali, aku memang pernah kursus bahasa itu. Dipikir sepertinya itu bukan duniaku, aku cuma bertahan tiga bulan. Cabut.

Tapi, sebagaimana aku dulu mendapatkan Eksotopi, mungkin “Tuhan & Hal-Hal Yang Tak Selesai” edisi Inggris itu “hanyalah penempatan waktu yang kurang tepat”. Maka, untuk sementara buku itu akan aku “tempatkan di sudut paling sulit dijangkau, di sebuah rak buku, mengisyaratkan keengganan untuk menyentuhnya”, seraya memburu edisi Indonesianya.

Ah, betapa naifnya aku. Dan, silakan tertawa untuk kenaifanku itu.[jr]

Allah Tak Hanya Milik Umat Islam

20 December 2008 § 6 Comments


Masih ingat, Malaysia yang melarang ‘Allah’ untuk media Kristen, setahun lalu, dengan alasan, penggunaan ‘Allah’ di media non Islam dikhawatirkan akan menimbulkan gejolak di negara yang mayoritas (sekitar 60 persen atau 27 juta) penduduknya beragama Islam ini? Sebagai urusan dalam negeri Malaysia, tentu kita tak berhak ikut campur, tapi bolehlah minimal menyungging sinis sambil bergumam, “Ah, Malaysia, iseng amat sih!”

Bolehlah, kita tidak berhak ikut campur dari sisi konstitusi negara kecil tetangga kita itu, tapi, sebagai umat Islam, di mana pun berada di pojok-pojok dunia ini, dari ujung kulon sampai ujung wetan, dari sabrang lor sampai sabrang kidul, kita berhak saja ikut berwacana soal ‘Allah’ ini. Atau, siapa pun kita yang mengganggap ‘Allah’ sebagai bagian dari kehidupan. Sebab, ‘Allah’ tidak hanya milik Malaysia.

Dalam tata bahasa Arab, ‘Allah’ disebut sebagai a’raf al-ma’arif (isim ma’rifat paling ma’rifat, paling spesifik, sehingga ketika disebut, dengan segera dipahami maksudnya). Namun, pada kenyataannya, ‘Allah’ justeru menjadi kata yang paling abstrak, paling tidak spesifik, sehingga memerlukan kata-kata lain untuk menjelaskannya, memperkenalkan siapa Dia. Kita (kalau Anda tidak keberatan saya wakili), akan lebih bisa memahami secara spesifik kata al-rahim (yang kita terjemahkan dengan “Maha Pengasih), ketimbang ‘Allah’. Kita akan lebih bisa memahami ‘Maha Pengasih’, dengan fokus pada kata ‘pengasih’ atau ‘kasih’, ketimbang ‘Allah’ atau ‘Tuhan’. Kita akan lebih memahami ‘Allah’ secara spesifik, paling tidak, setelah menelaah arti apa yang kita kenal dengan al-asma al-husna, atau pun segenap sifat-sifat lain yang ‘layak’ bagi-Nya, yang dirumuskan untuk mengidentifikasi esensi yang dibahasakan dengan ‘Allah’ itu.

Yang a’raf al-ma’arif, yang al-rahman, yang al-rahim, yang laisa kamitslihi syaiun, yang wahdaniyah, yang qudrah, yang iradah dan seterusnya dan sebagainya, yang umat Islam rumuskan untuk mengidentifikasikan satu esensi ‘Yang Maha’, yang dikenal dengan ‘Allah’ itu, tentu ini hanya ada dalam nomenklatur keislaman, untuk kemudian menyatakan bahwa ‘Allah’ yang demikian hanya milik umat Islam. Yang demikianlah ‘Allah’ dalam asumsi umat Islam. Dengan kata lain, umat Islam terikat oleh ‘Allah’ dengan definisi dan penjabaran yang Alquran identifikasikan, dan tidak bisa melepaskan diri dari ikatan itu. (Meski sesungguhnya Allah terlalu ‘maha’ jika semata terbungkus kata ‘Allah’ atau definisi dan identitas lainnya).

Sungguh pun demikin, marilah kita memahami preseden sejarah, bahwa ternyata ‘Allah’ tidak hanya eksklusif milik lisan umat Islam saja. Kafir dan musyrik Quraisy pada masa Nabi Muhammad juga menyebut ‘Allah’, dan bukan hanya itu, bahkan mereka mengakui ‘Allah’ sebagai pencipta, terlepas asumsi ‘Allah’ mereka sama persis atau bahkan sama sekali beda dengan ‘Allah’ seperti dalam asumsi umat Islam. Ini soal lain. Yang jelas, ‘Allah’ tidak kelu di lidah orang kafir/musyrik Quraisy. Lihatlah pengakuan mereka ini, “walain saaltahum, man khalaqa al-samawat wa al-ardh? Layaqulunna Allah”… “Jika kamu tanya mereka, ‘siapa pencipta langit dan bumi?’, mereka akan menjawab, ‘Allah’.” (lihat juga; Al-Ankabut: 61, Luqman: 25, Al-Zumar: 38, Al-Zuhruf: 87). Atau, ketika mereka, para penyembah berhala itu, ditanya, “Apa arti penyembahan kalian terhadap berhala-berhala itu?” Mereka menjawab, “ma na’buduhum illa liyuqarribuna ilallah zulfa”… “Kami menyembah mereka semata agar mereka mendekatkan kami kepada ‘Allah’ dengan sedekat-dekatnya”. (Al-Zumar: 3).

Dan, bukankah ‘Allah’ telah akrab menjadi tatanama orang-orang Arab pra-Islam. Sebelum Islam datang, ‘abdullah’ adalah nama yang tidak asing bagi mereka. Bahkan, barangkali bangsa Arab pra-Islam telah lebih dulu akrab dengan ‘Allah’, sampai kemudian Islam datang, memperkenalkan ‘Allah’ yang berbeda, revisioner dan revolusioner secara substantif.

Tentu saja, preseden ini paling tidak bisa menjadi acuan untuk tak melarang siapa pun, dari agama dan kepercayaan mana pun, termasuk Kristen, untuk mengucapkan ‘Allah’, terlepas kemudian asumsi tentang-Nya ternyata berbeda. Pada dirinya, ‘Allah’ tidak memiliki pengikat definisi. ‘Allah’ bebas nilai. Yang mempunyai tali pengikat adalah agama, yang menjadi instrumen perumus, pengidentifikasi, pemberi definisi tentang ‘Allah’. Maka muncullah ‘wahdaniyah’, ‘Yang Maha Esa’, yang ‘a’raful ma’arif’, dan sebagainya dan seterusnya, untuk mengidentifikasi ‘Allah’ dalam Islam, yang mengikat umat Islam agar tak sampai pada ‘Allah’ yang salah, yang tidak sesuai dengan definisi dan identifikasi Islam. Sebagaimana (barangkali) Kristen mengikat umatnya tentang ‘Allah’ mereka, agar tak sampai pada ‘Allah’ yang keliru, yang tidak sesuai dengan definisi dan identifikasi Kristen. Setiap agama, saya pikir memiliki ikatan demikian.

Teman muslimku, apakah keimananmu terganggu, jika ‘Allah’ yang Kau imani diucapkan, ditulis, oleh orang yang berbeda keyakinan? Jika ya, sepertinya Malaysia adalah sangkar emas yang aman untukmu.

O, ya?

Merebut Allah, Merebut Bayangan

8 December 2008 § 3 Comments


al-rahman ‘ala al-arsy istawa…

Tuhan adalah “sosok” yang tak pernah terbatas, rampung, final, dan komprehensif. Maka, berkahlah bagi manusia, Tuhan membahasakan diri, membatasi diri dengan bahasa yang manusiawi, dengan kata-kata, untuk diketahui manusia sehingga mereka dapat berkata-berkata tentang-Nya, meski dengan piranti nalar yang terbatas, bisa rampung dan final. Sebab itu, manusia mampu berbicara dan berkata-kata tentang Tuhan hanya pada batas-batas yang mampu dikatakannya.

Namun, bahasa selalu tak memadai untuk sepenuhnya mendeskripsikan, menjelaskan, dan dengan itu pula membubuhkan nilai dan merumuskan makna. Ribuan kalimat tersusun merangkai yang Tuhan firmankan tentang diri-Nya, bukanlah batas paling maksimal dan esensial tentang-Nya. Maka, bahasa sebenarnya hanya menangkap jejak, memotret bayangan dari “tongkat” yang tak pernah rampung dan final itu.

Bahasa, yang Tuhan gunakan untuk menjelaskan diri-Nya kepada manusia, adalah sebuah simbol: sebuah isyarat untuk mengungkapkan sesuatu dan pada saat yang sama menyembunyikan sesuatu. Sesuatu yang berada di luar jangkauan nalar dan tak terdeteksi indera tapi bisa dibahasakan, maka bahasa itulah simbol, jejak, bayangan dari esensi sesuatu itu. Kau bisa membaca, menafsirkan sebuah bahasa, tapi barangkali tak layak menyatakan diri telah sampai pada batas paling esensial, final, dan absolut. Selalu mungkin ada yang tersembunyi dari sebuah bahasa, yang luput dari sekedar pembacaan atasnya.

Selanjutnya, hal itu mengantarkan pada konskuensi wajar: bahasa tersaji terbuka untuk ditentukan oleh maksud pembaca. Tuhan membahasakan diri lewat bahasa simbol yang – dengan segenap misteri tersembunyi – merangsang manusia, sebagai pembaca, untuk mengurai, menelaah, menalar, sampai akhirnya memecahkan dan menentukan misteri yang tersembunyi dari balik simbol itu, sekali lagi, pada batas-batas yang mampu dikatakannya. Dan Tuhan, sebagai penulis kisah, bahkan pelaku cerita dari sebuah teks bahasa, dan paling mengerti maksud esensial bahasa itu, tak lagi hadir sebagai pengarah, “lepas tangan”, memberikan kewenangan kepada manusia untuk melakukan elaborasi.

Kita sadari atau tidak, itulah takdir bahasa.

Sepenggal firman yang saya nukil di atas, adalah (salah satu) contoh di mana Tuhan – esensi yang tak terjangkau nalar dan tak terdeteksi indera – membahasakan diri pada batas bahasa dan kata yang paling reduktif, tapi dengan itu manusia bisa berinteraksi. Firman itu kita terjemahkan dengan: “(Yaitu) Tuhan Yang Maha Pemurah, Yang bersemayam pada Arsy”.

Dari pengalaman empirik, kita bisa meraba-raba sepenggal firman itu, aktifitas “bersemayam” melibatkan dua unsur: “yang bersemayam” dan “yang disemayami”, dengan sederet persoalan di belakangnya, misalnya, bagaimana posisi “yang bersemayam” pada “yang disemayami”. Seperti apakah bentuk “yang disemayami” itu, apakah lebih besar dari “yang bersemayam”, jadi, katakanlah “yang disemayami” itu seperti rumah, atau lebih kecil, maka katakanlah “yang disemayami” itu sepeti kursi. Jika “yang disemayami” disepertikan rumah atau kursi, ke arah manakah ia menghadap.

Tentu, ada kemungkinan lain, misalnya, kita setuju dengan arti reduktif itu, hanya saja, karena ini menyangkut Allah, Tuhan Yang Maha Suci, maka tak perlulah ditanyakan, “bagaimana” dan “seperti apa” Ia bersemayam, yang pertanyaan itu hanya layak disandarkan kepada manusia. Bersikap al-tanzih saja. Yang jelas, bahasa Tuhan tentang diri-Nya adalah bahasa kebenaran. Sekilas, ini seperti pasrah menyerah pada bahasa, tapi sesungguhnya adalah sebuah sikap pilihan.

Atau sebuah kemungkinan lain: kita harus lari dari teks bahasa reduktif itu untuk menemukan makna, agar tidak terjebak pada pertanyaan-pertanyaan tak elok dan tak bakal selesai, atau terperangkap pada kesan pasrah menyerah pada bahasa. Makna lain itu, misalnya, sepenggal firman di atas adalah bahasa Tuhan untuk menyimbolkan ke-Maha-Perkasa-annya. Bagi Tuhan, cuma ada dua hal: diri-Nya dan bukan diri-Nya yang lahir dari diri-Nya. Dan yang bukan diri-Nya itu berada dalam lingkaran kuasa dan pengawasan-Nya. (Atau, sesungguhnya cuma ada diri-Nya, dan yang lain hanyalah manifes dari-Nya).

Atau, kemungkinan-kemungkinan pemaknaan lain di mana Kau sampai pada batas kenyamanan dan ketentraman hati.

Kau juga bisa mencari kemungkinan pemaknaan, misalkan, pada “wahuwa ma’akum anama kuntum” (Tuhan selalu menyertai di mana pun kalian berada), pada “yadullah fauqa aidihim” (Tangan Tuhan ada di atas tangan mereka), pada “qalb al-mu’min baina ishbain min ashabi’ al-rahman” (Kalbu orang beriman ada dalam genggaman jemari Tuhan), atau juga pada “…jannaat tajri min tahtiha al-anhar” (…surga yang di bawahnya melintas aliran sungai) …

Selalu ada kemungkinan yang bisa Kau temukan dari sebuah teks bahasa. Bila Kitab Suci punya pengantar dan tamat, teks bahasa Kitab Suci adalah sebuah hamparan pemaknaan yang meruah, membentang, jalin menjalin, terus menerus, tak punya awal, tak kunjung final. Dan, ketika kemungkinan sedemikian meruah, pilihanmu pada salah satu kemungkinan di antara yang meruah itu, sesungguhnya bukan lagi semata berdasar pada kebenaran nalar, tapi pada kenyamanan dan ketentraman hati.

Jelas, Allah, Ilahi, Rabbi, Tuhan, Gusti, Pangeran, God… hanya simbol, jejak, bayangan, sebuah batas bahasa di mana kita bisa berkata-kata, berdiskusi, berdebat tentang esensi yang supernatural, tak terjangkau nalar, tak terdeteksi indera, di mana sebuah esensi itu transenden, Yang Maha. Namun, bahasa akan bernasib “selalu tak memadai untuk sepenuhnya mendeskripsikan, menjelaskan”. Allah (sebagai bahasa) terlalu sempit, tidak akan sepenuhnya memadai untuk mendeskripsikan, menjelaskan Allah sebagai esensi yang supernatural, transenden, Yang Maha.

Telah lebih dari setahun, Malaysia memberlakukan larangan kata “Allah” digunakan media non-Islam. Hanya terjadi di Malaysia, kata “Allah” diklaim sebagai hak eksklusif umat Islam untuk menggunakannya. Alasannya: penggunaan kata “Allah” di media non-Islam ditakutkan akan menimbulkan gejolak di negara yang mayoritas penduduknya beragama Islam ini. Alasan yang cenderung naif.

Pertama, ini sama sekali sepele, tidak esensial dan tidak mencerdaskan. Kedua, cukup untuk menggambarkan “hidup yang didominasi oleh kuantifikasi, sebuah hidup yang memusuhi perbedaan kualitatif”. Ketiga, menunjukkan kepongahan mayoritas, dan pada saat yang sama inferioritas mayoritas, mayoritas yang kurang percaya diri, yang rapuh, sehingga membutuhkan kekuatan (pemerintah sekalipun) untuk menopangnya. Ini penyakit.[]

Where Am I?

You are currently browsing entries tagged with essai at Warung Nalar.

%d bloggers like this: