Bakar

5 January 2011 § 1 Comment


Kemenangan adalah anak dari banyak orangtua yang masing-masing akan bertepuk dan menepuk dada, kata penyair Goenawan Mohamad. Sebagian bertepuk dan menepuk dada karena hanya itu yang bisa dilakukan untuk mengekspresikan kesenangan. Spontan. Kepentingannya hanya karena mereka senang dengan kemenangan tersebut. Sebagian yang lain, selain senang karena kemenangan, juga karena berkepentingan memanfaatkan efek kemenangan itu: ketenaran. Dan Timnas hanya hampir di puncak kemenangan—yang pada akhirnya pun hanya hampir—saat ketenarannya di AFF CUP 2010 lalu dimanfaatkan oleh mereka yang punya kuasa dan harta (sampai mereka yang merasa punya kekuatan doa), seakan tahu jika Timnas tidak akan sampai di puncak kemenangan. Maka, segera saja. Mumpung. « Read the rest of this entry »

Advertisements

Ali

17 February 2010 § Leave a comment


Banyak pemuka kesatria sufi menelusuri garis silsilah mereka kembali kepada Ali, belum tentu karena mereka Syiah, kata Tamim Ansary, tapi karena Ali secara legendaris terkenal sebagai kesatria sempurna, kombinasi ideal kekuatan, keberanian, kesalehan dan kehormatan. Dalam Syiah memang tidak ada sahabat-Rasul yang paling istimewa selain Ali. Tamim melanjutkan, Syiah merasa bahwa otoritas keagamaan mutlak dan turun-temurun dimiliki oleh seorang tokoh yang disebut imam, yang merupakan wakil Allah di bumi. Dan selalu ada satu imam di dunia, tidak pernah ada dua; dan imam sejati sebuah zaman selalu diturunkan dari Rasul melalui putrinya Fathimah, yang tak lain adalah istri Ali.

Saya sendiri tumbuh dalam tutur dan literatur yang tak mengistimewakan salah seorang sahabat tertentu. Setiap sahabat adalah istimewa di hati Rasul, dengan keistimewaan masing-masing. Abu Bakar adalah sahabat Rasul sejak kecil, yang kemudian menjadi mertua Rasul. Rasul pernah berujar tentang Abu Bakar, “Jika orang lain akan meminta waktu untuk berpikir saat aku menyampaikan Islam, tidak demikian dengan Abu Bakar. Ia menerima Islam tanpa ragu dan tak butuh waktu.”

Umar adalah jawaban Tuhan untuk Rasul. Rasul pernah berdoa, “Tuhan! Kuatkanlah Islam dengan salah satu dari dua Umar: Umar ibn Khathab dan Amr ibn Hisyam.” Amr ibn Hisyam tak lain adalah Abu Jahal. Selain Abu Jahal, Umar adalah sosok pemberani cenderung kejam. Jika salah satu dari mereka memeluk Islam, Islam di Makkah akan berwibawa dan ditakuti. Dan, ternyata, pilihan Tuhan adalah Umar ibn Khathab—yang kemudian memeluk Islam secara dramatis dan mengharukan: takluk oleh air mata saudarinya yang menetes oleh tamparan Umar.

Sedangkan Utsman adalah menantu Rasul dengan menikahi Ruqayah. Setelah Ruqayah wafat, Utsman menikahi putri-Rasul yang lain, Ummu Kultsum. Sebab itulah Utsman bergelar Dzû al-Nurayn atau “orang yang memiliki dua cahaya”. Maksudnya adalah dua cahaya hati Rasul: Ruqayah dan Ummu Kultsum.

Ali? Ali adalah sepupu Rasul sekaligus menantunya. Sejak muda telah dikenal sebagai kesatria. Dialah pemuda tujuh belas tahun yang menempati tempat tidur Rasul untuk mengelabui orang-orang yang hendak menjadikan Rasul sebagai target pembunuhan—Rasul kemudian keluar dari Makkah secara sembunyi-sembunyi bersama Abu Bakar, menuju Yatsrib (Madinah). Ali sangat sadar, menempati tempat tidur Rasul sama saja dengan menyerahkan nyawa. Orang-orang musyrik bisa saja meyakini jika ia adalah Rasul yang tertidur lelap, lalu dengan mudah menikamnya.

Saya akan menukil kisah lain tentang kekesatriaan Ali. Kali ini dari buku Destiny Disrupted: A History of The World through Islamic Eyes karya Tamim Ansary, seorang sejarawan dan sastrawan dunia kelahiran Afghanistan—yang akan segera diindonesiakan oleh Penerbit Zaman menjadi Dari Puncak Bagdad: Sejarah Dunia Versi Islam. Anda tahu, saya benar-benar terharu oleh sepenggal kisah ini, kisah tentang keberanian, keromantisan, dan religiusitas …

Dalam satu pertempuran penting pada masa-masa awal Islam, seorang pemuda menuju Ali sambil mengayunkan pedangnya.

“Kau tidak tahu siapa aku?! Ah, bodoh! Aku Ali! Kau tidak akan mampu mengalahkanku. Justru aku yang akan membunuhmu. Kenapa kau masih nekat?”

“Karena aku sedang jatuh cinta,” kata pemuda itu. “Dan, kekasihku berkata jika aku mampu membunuhmu, dia akan menjadi milikku sepenuhnya.”

“Tapi, jika kita berduel, kemungkinan justru aku yang akan membunuhmu.”

“Adakah yang lebih baik daripada terbunuh demi cinta?!”

Ali luluh oleh penuturan terakhir si pemuda. Ia melepas helm besinya lalu menjulurkan lehernya.

“Tebaslah aku di bagian ini,” kata Ali seraya menunjuk lehernya.

Akan tetapi, melihat kesediaan Ali untuk mati demi cinta, giliran hati pemuda itu terbakar dan luluh, mengubah cintanya kepada wanita menjadi sesuatu yang lebih tinggi: cinta kepada Tuhan. Dalam sesaat, Ali mengubah pemuda biasa menjadi seorang sufi tecerahkan.[]

Semalam Bersama Cak Nun

21 March 2009 § 1 Comment


Bagai sinetron-sinetron televisi kita, pengusiran Iblis dari surga begitu dramatis. Kecemburuan, pengkhianatan, pembangkangan, dan dendam terkuak dalam tragedi itu.

Tragedi itu bermula ketika Tuhan memperkenalkan anggota “keluarga” baru bernama Adam dalam jajaran kemahlukan. Dalam perkenalan itu, Tuhan meminta kepada semua yang hadir untuk memberikan sujud penghormatan kepada keluarga baru itu. Tak dinyana, permintaan itu diprotes oleh kalangan Iblis. Mereka menolak sujud hormat kepada Adam. Lain hal dengan kalangan Malaikat yang paham perintah tersebut, bahwa sujud itu sejatinya bukan penghormatan kepada Adam, tapi kepada Tuhan sendiri yang telah menciptakannya sedemikian rupa.

“Ada apa, Iblis? Kenapa Kau menolak sujud hormat kepada Adam?”

“Maaf, Tuhanku, apakah adil, jika aku harus sujud kepadanya?!” kata Iblis. “Dia dari tanah dan aku dari api.”

Ternyata praktik narsisme telah bermula sebelum dunia sepenuhnya ada. Dan itu Iblis yang pertama melakukannya. Praktik narsisme dalam arti mencintai diri yang diukur dari kesempurnaan tubuh seraya menafikan keberadaan di luar dirinya. Iblis menyangka, perbedaan materi penciptaan akan berimbas pada derajat kemuliaan diri. Api, dengan karakternya yang gagah menyala, aktif, agresif, selalu ke atas, dan tak mudah dibentuk, seharusnya dipandang lebih mulia ketimbang tanah yang pasif, lemah (“lemah” [bahasa Jawa] artinya “tanah”. Dalam bahasa Indonesia, artinya “tak berdaya”), hanya diam, selalu ke bawah, dan mudah dibentuk tergantung pembentuknya. Barangkali Iblis berasumsi, seharusnya Adam yang sujud hormat kepadanya, selain karena relasi junior yang harus hormat kepada seniornya.

Entah bagaimana kita bayangkan ekpresi wajah Tuhan dalam suasana pembangkangan dan pengkhianatan itu. Yang jelas, setelah itu Tuhan mengusir Iblis. Tuhan mengecap di jidatnya sebagai mahluk sesat, sombong, dan hina.

Kepalang tanggung dicap demikian, Iblis mengajukan permintaan kepada Tuhan.

“Silakan. Apa permintaanmu?”

“Jangan Kau matikan aku sampai hari kiamat. Biarkan aku hidup sampai hari hisab dan hari kebangkitan tiba.”

“Baik. Permintaanmu disetujui.”

Mencengangkan. Setelah tahu permintaannya disetujui Tuhan, di hadapan-Nya, Iblis membeberkan rencana aksinya selama hidup dalam imortalitas di dunia.

“Kepalang tanggung Kau telah hukum aku sebagai mahluk sesat, aku akan konsisten pada jalan kesesatan. Aku akan merebut massa sebanyak-banyaknya untuk ikut jalanku. Aku akan pengaruhi mereka untuk melupakan-Mu, tersesat tak tahu arah menuju jalan lurus-Mu. Imortalitas hidupku di dunia, akan aku habiskan untuk menyesatkan manusia. Lihat saja, Tuhan, Kau bakal saksikan banyak manusia yang tak bersyukur.”

“Pergi, Kau, Iblis hina!”

~

Hampir mustahil saya menemui Cak Nun secara fisik. Untung saya punya ilmu “Sigar Raga”. Pada suatu malam, saya tinggalkan jasad saya yang terbujur tidur di kasur, berharap Cak Nun pun sedang meninggalkan raganya. Saya terbang menembus gelap malam angkasa, lalu sampailah pada dunia antah berantah. Benar saja, Cak Nun sedang kluyuran meninggalkan raga. Saya lihat dia pakai jubah dan bersurban putih, sebagaimana biasa jika tampil bersama Kyai Kanjeng. Saya dekati dia. Mengawali dengan sedikit basa-basi, kemudian berlanjut pada diskusi, termasuk soal tragedi pengusiran Iblis itu.

Tak disangka, ternyata Cak Nun punya hubungan cukup intim dengan Iblis. Kata Cak Nun kepada saya, dia pernah dibisiki oleh Iblis, argumentasi lanjutan kenapa ia tak mau bersujud kepada Adam, kala itu.

Kepada Cak Nun, si Iblis berbisik, “Kami sengaja tidak bersujud kepada Adam, kami minta satu periode zaman saja kepada Tuhan untuk membuktikan argumentasi kenapa kami tidak bersujud kepada Adam. Hari ini aku nyatakan: Tidak relevan Iblis bersujud kepada Adam, karena anak turun Adam sekarang terbukti sangat beramai-ramai dan kompak menyembah Iblis.”

Manifestasi Narsisme

15 March 2009 § Leave a comment


Beberapa waktu lalu, saya harus memotong rambut panjang saya. “Harus”, bukan karena kepatuhan terhadap suatu peraturan, bukan karena hukuman, bukan karena masalah kesehatan rambut, bukan pula jengah, tapi sebagai ekspresi memuliakan atas sebuah kecenderungan. Rambut bagus seperti itu lebih layak diurus salon dengan para pegawai yang melek model-model potongan rambut mutakhir plus memahami karakter rambut sebelum diputuskan model potongan rambut yang tepat. Dan saya cukup sadar diri untuk memilih salon ketimbang tempat pangkas rambut “konvensional” yang hanya mengerti satu model: yang penting pendek, meski harus makan hati setelahnya – dengan tetap eksisnya tempat pangkas rambut konvensional itu, menandakan ada orang-orang yang sesuai dan puas dengan pelayanannya, dan saya bukan salah satunya.

Sejak kecil saya memang menyukai rambut panjang. Hanya saat di pesantren, rambut saya tak pernah menyentuh telinga, begitu juga saat kuliah, karena keharusan mengikuti sebuah aturan. Semasa itu, saya berada di lingkungan orang-orang yang berkecenderungan tak menyukai rambut panjang. Karena itu – meski tidak sesuai dengan naluri – saya tak berpanjang rambut, berusaha menaruh hormat kepada mereka.

Belakangan saya cukup sadar diri, berpanjang rambut bukan sekedar suka, tapi sudah melewati pertimbangan kepatutan, kelayakan, dan kepantasan – tentu saja menurut pribadi. Dan jika kembali berrambut panjang, itu sama sekali tak berarti saya memberontak kepada orang-orang yang berkecenderungan sebaliknya. Namun, jika itu tetap juga dianggap tidak hormat, tentu masih banyak cara lain untuk menaruh hormat.

Itulah, saya kira, pentingnya tahu diri, sadar diri dan cinta diri yang bisa dilakukan dengan berragam ekspresi, salah satunya dengan sering melihat citra diri atau berinteraksi dengan lain diri (inilah masa ketika media berinteraksi begitu luas, bukan hanya dunia nyata tapi juga dunia maya, bukan hanya di bumi tapi juga di langit). Saya yakin, orang yang sadar dan tahu diri dengan segala kelebihan dan kekurangan yang dimiliki, ia akan lebih rendah hati, pandai menempatkan diri, tahu bagaimana memperlakukan dan merawat diri, sadar akan yang pantas dan tak pantas bagi diri, mengerti kebutuhan yang layak dan yang tak layak dimiliki (paling tidak, tahu di mana harus potong rambut). Saya yakin, orang yang tahu dan sadar akan cintanya pada diri sendiri, akan memungkinkan ia paham cinta dari dan untuk orang lain.

Cintailah diri sampean sendiri. Siapa lagi yang paling pertama yang mau tahu, mau menyadari, dan mau mencintai diri kita, jika bukan diri kita sendiri. Siapakah yang cintanya kepada diri kita mutlak tanpa syarat, selain diri kita sendiri. Jika cinta sampean kepada diri sampean sendiri sudah bersyarat dan perhitungan, bagaimana sampean mau mencintai orang lain dengan tulus.

“Narsisme” dalam Kamus Ilmiah Populer yang disusun oleh Pius A. Partanto dan M. Dahlan Al Barry, artinya “sikap mencintai diri sendiri secara berlebihan”. Apakah arti “berlebihan”? Dari sudut pandang siapa “berlebihan” ditentukan?

So what, gitu loooch?!

Seluas Apa Hati Sampean?

20 February 2009 § 2 Comments


Ikut kewjiban ritus rutin jumatan tadi, saya benar-benar “terganggu” oleh khutbah sang khatib, yang mengusik kebiasaan saya jika prosesi itu berlangsung: tertunduk khusyuk alias tenguk-tenguk terbelenggu kantuk. Tapi, kali ini tidak. Saya terbius untuk menyimak khutbah itu sampai akhir. Benar-benar tumben!

Pada prolognya, si khatib menyitir surat “alam nasyrah”: Alam nasyrah laka shadrak. Wawadha’naka ‘anka wizrak. Alladzi anqadha dzahrak. Warafa’na laka dzikrak. Fa inna ma’a al-‘usri yusra. Inna ma’a al-‘usri yusra. Faidza faraghta fanshab. Wa ila rabbika farghab…

Selanjutnya, si khatib menyampaikan khutbah denga tema “sekuler”, soal ekonomi. Agaknya, disimak dari penyampaiannya, si khatib paham betul soal perekonomian. Ia berbicara soal krisis yang terjadi di Amerika yang mengglobal, termasuk pengaruhnya terhadap Indonesia saat ini, kemudian membandingkannya dengan krisi yang terjadi di sini tahun 1998.

Indonesia dan beberapa negara Asia lainnya, ibarat anak-anak ayam, dan Amerika adalah induknya sebagai tempat bergantung. Tahun 1998, beberapa negara Asia, termasuk Indonesia, terkena krisis moneter. Jika “anak-anak” terserang penyakit, maka tidak akan berdampak besar pada induknya. Krisis di Indonesia saat itu, tak berdampak pada perekonomian Amerika. Sebaliknya, jika Amerika terkena krisis, maka akan berpengaruh pada negara-negara “anak ayam” semacam Indonesia.

Menjelang akhir “kuliah” ekonomi itu, saya sudah menebak, paling-paling selanjutnya si khatib akan berpesan, di balik kesusahan, kesengsaraan, krisis, tersimpan kemudahan, kelapangan. Setelah itu, selesailah prosesi khutbah. Eh, ternyata saya salah tebak. Si khatib melanjutkan khutbah dengan cerita ini…

Ada seorang murid sedang mumet dengan problem yang menurutnya berat. Lalu, ia meminta saran kepada gurunya. Si guru sufi, tidak memberi solusi langsung. Ia tidak memberi ikan, tapi membekalinya kail.

“Coba, sampean ambil gelas berisi air dan segenggam garam,” kata guru sufi.

“Sampean masukan segenggam garam itu ke dalam gelas berisi air itu. Aduk sampai garam itu benar-benar larut. Setelah itu, coba sampean dulit air itu.”

Si murid pun mengikuti petunjuk guru.

“Bagaimana rasanya?”

“Asin ndlijit tidak ketulung, Guru!” kata si murid.

“Baiklah, sekarang sampean ambil segenggam garam lagi, tapi sampean masukan ke dalam kolam yang lebar di belakang. Lalu sampean aduk sepuasnya. Kemudian, coba rasakan.”

Si murid kembali mengikuti arahan guru.

“Bagaimana rasanya?”

“Tawar, guru. Tidak ada rasa asinya.”

Si guru sufi kemudian menasihati, hidup ini tak pernah lepas dari persoalan. Bapak Adam dan ibu Hawa turun ke bumi pun karena sebuah persoalan. Sejatinya, tidak ada yang disebut persoalan berat atau ringan, besar atau kecil. Ukuran persoalan tak terletak pada dirinya, tapi bagaimana hati kita mengolahnya. Jika hati yang kita miliki cupet, tak cukup lapang dan luas, maka setiap masalah yang kita hadapi selalu akan terlihat besar, terasa “asin dlijit”.

“Bukankah Aku telah lapangkan dadamu?!” kata Allah.

Jiaaangkrik! Anjrit! Atau sampean bisa menerjemahkannya dengan: subhanallah!

Melangkah keluar menjauh dari masjid, saya hanya misuh-misuh terkesima oleh khutbah yang inspiratif itu. Gemanya mengiang-ngiang sepanjang jalan, mengiringi saya menuju ATM, menemani langkah saya ke warung sunda untuk beli sebungkus nasi, terus menerus sampai kost. Sesampainya di kost, saya muncratkan gema yang mengiang-ngiang itu menjadi tulisan ini, setelah sebelumnya melahap makanan sunda dengan komposisi cukup sempurna: telur bulat dengan bumbu yang pating ndlewer, terong oseng, dan tahu oseng. Poko’e, mua’ nyus! kata Bondan Winarno.

Dalam Rasa

15 February 2009 § 3 Comments


Simbol diwujudkan sebagai ekspresi atas esensi yang asli dan sejati, yang tak terjangkau obyektifikasi inderawi, yang misteri – yang sebab itu selalu dirindui. Simbol bukan esensi yang asli dan sejati. Namun, terkadang memberi pemuasan diri. Simbol kemudian layak dihayati. Sebab rindu, simbol menjadi penting.

Masyarakat pagan jaman jahiliyah adalah adalah para perindu, orang-orang yang kangen akan “Yang Asli” dan “Yang Sejati”, satu esensi yang kehadirannya hanya mewujud dalam wajah yang bersembunyi, dalam bunyi yang sunyi. Patung-patung dibuat sebagai ekspresi kerinduan, sebagai penghubung untuk menjangkau “Yang Jauh”, yang tak terjangkau obyektifikasi inderawi. Ma na’buduhum illa liyuqarribuna ilallah zulfa, seperti dikisahkan Kitab Suci.Kami sembah patung-patung itu semata agar mendekatkan kami kepada Tuhan sedekat mungkin.”

Takdir Tuhan sejatinya adalah “wajah yang bersembunyi”, “bunyi yang sunyi”. Ia sama sekali tak berkehendak diri-Nya menjelma atau dijelmakan dengan sosok yang terang oleh mata dan telinga. Lau aradallah an yattakhidza walad, lashthafa mimma yakhluqu ma yasya. Subhanah. Sekiranya Tuhan hendak menjadikan anak, tentu Ia akan memilih apa yang dikehendaki-Nya di antara ciptaan-ciptaan yang telah ada. Maha Suci Tuhan.

Biarkan Ia tak terpandang oleh mata, tak terdengar oleh telinga, selalu dan selamanya. Pandangan mata dan pendengaran telinga adalah ilusi. Mata dan telinga manusia yang relatif tak pernah bisa adil dalam melihat dan mendengar Tuhan yang absolut, atau bahkan sekedar “anak”nya – jika saja Ia benar-benar mewujud diri terbuka oleh mata. Menjelmakan Tuhan pada patung-patung, atau mewujudkan patung-patung, atau simbol-simbol apa pun – di mana inderawi adalah pemeran utama – sebagai perantara mendapatkan kedekatan, sesungguhnya adalah ilusi yang reduktif tentang-Nya.

Tuhan menunjukkan kebijaksanaan-Nya yang luar biasa, ketika menolak Musa yang berhasrat agar Ia hadir dalam wajah yang terang, wajah yang terjangkau mata. Tuhan menolak kehadiran diri yang terjamah inderawi.

Sungguh tak terbayang, jika saat itu Tuhan benar-benar kalah oleh hasrat Musa. Kemudian Musa merekam dalam memorinya, wajah Tuhan yang pernah ia lihat. Lalu, dari tutur Musa tersebarlah informasi sketsa wajah Tuhan kepada umatnya, kemudian turun temurun kepada umat selanjutnya, selanjutnya, dan selajutnya hingga masa ini. Atau, katakanlah, pada setiap masa, kepada setiap rasul-Nya, Tuhan menampakkan diri. Tuhan mematok diri pada sebuah simbol yang pasti.

Tuhan Maha Suci dari semua itu. Tuhan mewujud dalam abstraksi di mana realita bersifat fisik tak lagi jadi acuan, hadir dalam bayang-bayang ketak-pastian, melintas-batasi inderawi, melampaui sekat-sekat nalar, tak terpatok kaku pada sebuah simbol yang pasti, memungkinkan siapa pun untuk menghayati-Nya sampai pada batas di mana ia merasakan kenyamanan jiwa.

“Siapa yang menduga ketersingkapan Tuhan terhampar dalam kalimat dan kata, terdampar dalam nalar dan dialektika, maka ia sedang membatasi rahmat Tuhan yang tak terbatas,” kata Imam al-Ghazali dalam al-Munqidz Min al-Dhalal (Pengentas Kesesatan).

Karena Tuhan hadir dalam rasa, di luar kekuasaan indera, di atas kelemahan kalimat dan kata. Dalam rasa, penghayatan tentang Tuhan adalah sesuatu yang sangat personal. Sedangkan kalimat dan kata hanya merupakan percobaan untuk mengulanginya dan menyusunnya. Rekonstruksi dari sebuah rasa.[jr]

Dalam Pencarian

9 February 2009 § 1 Comment


Sejarah kebijaksanaan adalah sejarah kehilangan. Dan sejarah kehilangan adalah sejarah pencarian. Apa yang hilang tak selalu apa yang pernah ada yang menjadi tiada. Tapi juga apa yang belum ada dan diketemukan, yang mesti dicari – mengisyaratkan betapa penting betul ia.

Dan, sejarah pencarian adalah sejarah ketak-pastian. Ada pun Imam al-Ghazali yang berhenti pada “Thuruq al-Shufiyah”, Jalan Sufisme, yang ia katakan sebagai “jalan terbaik dan terbenar untuk sampai pada kesadaran akan Tuhan” – seperti ia tuturkan dalam al-Munqidz min al-Dhalal (Pengentas Kesesatan), sebuah memoar pengembaraan spiritual dan intelektual – maka sebaiknya dipahami sebagai jalan alternatif di mana ia akhirnya menapak dengan nyaman dan nikmat dalam menghayati Tuhan dan ketuhanan. Di antara sekian alternatif “obat”, pada Thuruq al-Shufiyah ia menjumpai penyembuhannya. Dan yang alternatif selamanya tak pernah absolut.

Sang Imam melakukan pencarian menemukan “ilmu” yang mampu menyingkap hakikat sesuatu tanpa sisa-sisa keraguan, yang ia sebut dengan ilmu yaqini. Ia menerjunkan diri dalam proses. Ia memasuki banyak ruang kemungkinan. Ia menjamah kosmos ilmu kalam, menelaah karya para mutakalimun (teolog) dan merefleksikan pandangan-pandangan teologinya dalam beberapa karya. Namun, pada akhirnya, ilmu kalam, katanya, tetap tak mampu mengobati “penyakit” yang ia derita.

Beranjak dari ilmu kalam, Imam al-Ghazali melakukan pencarian dalam filsafat. Lebih dari dua setengah tahun ia sempatkan diri untuk dunia filsafat, bergulat di dalamnya. Sampai akhirnya ia berksesimpulan, karya-karya filsafat yang ia jumpai hanya berisi “keraguan-keraguan yang tak diragukan”. Ia pun beranjak meninggalkannya.

Ketika yang ada hanyalah kemungkinan-kemungkinan – keniscayaan dari sebuah pencarian –, pilihan pada salah satu kemungkinan sesungguhnya bukan lagi semata berdasar pada kebenaran nalar dan perhitungan rasional, tapi kenyamanan dan ketentraman hati. Yang rasional mungkin selalu bisa menjawab, tapi tak selalu bisa menentramkan. Dan Imam al-Ghazali merasakan kenyamanan dan ketentraman hati itu dalam alternatif yang ia pilih selanjutnya: “Thuruq al-Shufiyah”, Jalan Sufisme. Sekali lagi, yang alternatif selamanya tak pernah absolut, sebagaimana ia menilai ilmu kalam semata sebagai “obat” yang hanya dibutuhkan saat sakit. Penderita bisa saja berhenti mengkonsumsi obat, jika ia terbukti tidak manjur, dan beralih ke obat lain.

Pencarian mengisyaratkan adanya diri yang tak sempurna dan memadai, diri yang gelisah. Ada yang lebih penting dalam pencarian, sebetulnya, ketimbang hasil pencarian itu sendiri – yang sangat mungkin bersifat subyektif dan personal – yaitu proses persentuhan dan perjumpaan dengan orang lain, siapa pun ia, atau bakan dengan apa pun. Maka, berrendah hati – menjadi sosok gelas kosong dan bening yang memungkinkan air masuk dan cahaya merasuk – adalah keharusan dalam proses itu. Sebab, dari proses itulah kebijaksanaan muncul, menunjukkan dan menegaskan adanya kelemahan dan kekurangan: diri yang tak sempurna dan memadai itu. Sekaligus proses mengeliminasinya.

Al-hikmah dhallah al-mu’minin, haitsu wajadaha akhadzaha, dalam ungkapan Arab yang terkenal. Kebijaksanaan adalah barang hilang orang-orang beriman. Di mana pun ia dijumpai, pungutlah.[jr]

Where Am I?

You are currently browsing entries tagged with Esai at Warung Nalar.

%d bloggers like this: