Seluas Apa Hati Sampean?

20 February 2009 § 2 Comments


Ikut kewjiban ritus rutin jumatan tadi, saya benar-benar “terganggu” oleh khutbah sang khatib, yang mengusik kebiasaan saya jika prosesi itu berlangsung: tertunduk khusyuk alias tenguk-tenguk terbelenggu kantuk. Tapi, kali ini tidak. Saya terbius untuk menyimak khutbah itu sampai akhir. Benar-benar tumben!

Pada prolognya, si khatib menyitir surat “alam nasyrah”: Alam nasyrah laka shadrak. Wawadha’naka ‘anka wizrak. Alladzi anqadha dzahrak. Warafa’na laka dzikrak. Fa inna ma’a al-‘usri yusra. Inna ma’a al-‘usri yusra. Faidza faraghta fanshab. Wa ila rabbika farghab…

Selanjutnya, si khatib menyampaikan khutbah denga tema “sekuler”, soal ekonomi. Agaknya, disimak dari penyampaiannya, si khatib paham betul soal perekonomian. Ia berbicara soal krisis yang terjadi di Amerika yang mengglobal, termasuk pengaruhnya terhadap Indonesia saat ini, kemudian membandingkannya dengan krisi yang terjadi di sini tahun 1998.

Indonesia dan beberapa negara Asia lainnya, ibarat anak-anak ayam, dan Amerika adalah induknya sebagai tempat bergantung. Tahun 1998, beberapa negara Asia, termasuk Indonesia, terkena krisis moneter. Jika “anak-anak” terserang penyakit, maka tidak akan berdampak besar pada induknya. Krisis di Indonesia saat itu, tak berdampak pada perekonomian Amerika. Sebaliknya, jika Amerika terkena krisis, maka akan berpengaruh pada negara-negara “anak ayam” semacam Indonesia.

Menjelang akhir “kuliah” ekonomi itu, saya sudah menebak, paling-paling selanjutnya si khatib akan berpesan, di balik kesusahan, kesengsaraan, krisis, tersimpan kemudahan, kelapangan. Setelah itu, selesailah prosesi khutbah. Eh, ternyata saya salah tebak. Si khatib melanjutkan khutbah dengan cerita ini…

Ada seorang murid sedang mumet dengan problem yang menurutnya berat. Lalu, ia meminta saran kepada gurunya. Si guru sufi, tidak memberi solusi langsung. Ia tidak memberi ikan, tapi membekalinya kail.

“Coba, sampean ambil gelas berisi air dan segenggam garam,” kata guru sufi.

“Sampean masukan segenggam garam itu ke dalam gelas berisi air itu. Aduk sampai garam itu benar-benar larut. Setelah itu, coba sampean dulit air itu.”

Si murid pun mengikuti petunjuk guru.

“Bagaimana rasanya?”

“Asin ndlijit tidak ketulung, Guru!” kata si murid.

“Baiklah, sekarang sampean ambil segenggam garam lagi, tapi sampean masukan ke dalam kolam yang lebar di belakang. Lalu sampean aduk sepuasnya. Kemudian, coba rasakan.”

Si murid kembali mengikuti arahan guru.

“Bagaimana rasanya?”

“Tawar, guru. Tidak ada rasa asinya.”

Si guru sufi kemudian menasihati, hidup ini tak pernah lepas dari persoalan. Bapak Adam dan ibu Hawa turun ke bumi pun karena sebuah persoalan. Sejatinya, tidak ada yang disebut persoalan berat atau ringan, besar atau kecil. Ukuran persoalan tak terletak pada dirinya, tapi bagaimana hati kita mengolahnya. Jika hati yang kita miliki cupet, tak cukup lapang dan luas, maka setiap masalah yang kita hadapi selalu akan terlihat besar, terasa “asin dlijit”.

“Bukankah Aku telah lapangkan dadamu?!” kata Allah.

Jiaaangkrik! Anjrit! Atau sampean bisa menerjemahkannya dengan: subhanallah!

Melangkah keluar menjauh dari masjid, saya hanya misuh-misuh terkesima oleh khutbah yang inspiratif itu. Gemanya mengiang-ngiang sepanjang jalan, mengiringi saya menuju ATM, menemani langkah saya ke warung sunda untuk beli sebungkus nasi, terus menerus sampai kost. Sesampainya di kost, saya muncratkan gema yang mengiang-ngiang itu menjadi tulisan ini, setelah sebelumnya melahap makanan sunda dengan komposisi cukup sempurna: telur bulat dengan bumbu yang pating ndlewer, terong oseng, dan tahu oseng. Poko’e, mua’ nyus! kata Bondan Winarno.

Dendang Kehidupan Biduan Dangdut

25 August 2008 § 4 Comments


Pada suatu malam Minggu, saya ngeluyur. Ah, sekedar iseng ikut kawan-kawan kost. Lagi pula, mau apel kemana dan dengan siapa, toh pacar sudah putus beberapa bulan yang lalu. Raga boleh ngeluyur, tapi nalar dan hati semoga tetap bisa diatur. Akur!

Awalnya, di sore hari, salah seorang kawan tersebut menginformasikan, di daerah Legoso Ciputat akan ada pementasan organ tunggal dangdutan kelas kampung, entah dalam rangka apa. Okelah, malam hari, sekitar jam setengah sepuluhan, kita berempat berangkat dengan dua sepeda motor ke tempat yang dituju. Benar saja informasi seorang kawan tadi.

Ketika kami datang, seorang biduan sedang melantunkan lagunya dengan goyang badan seadanya, dan sesekali melenggak-lenggokkan pinggulnya. Soal kostum, sudah tentulah “standard” para penyanyi dangdut. Celana dan baju ketat menonjolkan lika-liku lekuk tubuh. Jika bukan celana, maka baju terusan hanya sampai beberapa senti di atas lutut. Penampilan artifisial menjadi utama atau sangat utama, meski kemampuan pas-pasan. Pada pentas dangdut itu, bagi kebanyakan penonton, barangkali kualitas suara tak jadi soal, yang penting mereka bisa menikmati keriangan yang dipancarkan pentas itu. Seorang kawan berujar, “Kita lihat saja dulu. Kalau penyanyinya “mantap”, kita bisa berlama-lama di sini.” Bukan “mantap” dalam kualitas suara, pastinya.

Sementara itu, para penonton mengelilingi panggung. Beberapa orang naik ke atas panggung, bergoyang mengikuti irama dangdut, tentunya sambil nyawer dengan gayanya yang khas. Dan yang tidak punya anggaran nyawer, tapi ingin tetap bergoyang, cukup bergoyang di bawah panggung saja. Di sisi yang lain di bawah panggung, anak-anak kecil menatap lugu aksi si penyanyi. Ada juga yang naik ke panggung, bahkan bergoyang meniru orang-orang dewasa. Saya yakin, mereka melakukannya dengan kepolosan, tanpa nalar, tanpa hasrat, tanpa nikmat sebagaimana jika orang-orang dewasa melakukannya. Hanya keriangan khas anak kecil. Tapi, kemana orang tua mereka? Bukankah seharusnya mereka sudah tidur? Ah, mungkin justeru orang tua mereka yang mengajak ke tempat itu.

Di sisi lain, di samping tempat saya berdiri, beberapa orang sepertinya sedang menikmati anggur merah. Aromanya kuat menyengat.

Menonton pentas dangdut kelas kampung itu, saya teringat dawuh Rasul yang menitahkan bahwa perempuan yang berjalan genit melengak-lenggokkan badannya, “berpakaian tapi telanjang” (kasiyah ‘ariyah), tidak akan menyium aroma wangi surgawi (maka apalagi masuk ke dalam surga). Apakah pentas dangdut tersebut salah satu praktek dari titah Rasul itu, apakah para penyanyi dangdut itu kelak tak dapat menikmati surga, apakah mereka para pendosa, apakah kemudian pentas dangdut itu berarti pentas kemungkaran. Saya berguman.

Jika itu adalah pentas kemungkaran oleh para pendosa, apakah kemudian saya harus marah, menegakan amar ma’ruf nahi munkar, karena tidak mampu dengan “tangan” atau “mulut”, ya dengan hati. Jika memang semua itu tak bisa, mbo’ yo hengkang saja dari pentas itu, agar mata ini tak brengsek, telinga ini tak tuli, hati ini tak busuk sebab kemungkaran itu, itung-itung mempraktekkan doa Rasul yang selalu dipanjatkan hampir setiap hari; allahumma inni a’uudzubika min syarri sam’iy wamin syarri bashariy wamin syarri lisaniy wamin syarri qalbiy wamin syarri maniyyiy. Saya masih berguman.

Entahlah. Saya tak juga hengkang, masih tegak berdiri, “bertafakur” tentang ragam dinamika mahluk Tuhan di area pentas dangdut itu. Berharap saja, siapa tahu ada hikmah kebijaksanaan terserak yang dibisa dipungut dari keriangan di malam itu.

Entahlah. Saya seperti tak berhasrat mengelaborasi guman perspektif agama tersebut, lalu mengambil keputusan. Barangkali karena saya termasuk orang yang tak terlalu relijius, maksudnya tidak memiliki kecenderungan serba agama sebagai satu-satunya perspektif dalam melihat kehidupan. Bukankah kehidupan ini terlalu kompleks untuk dipahami hanya dengan perspektif agama?! Oleh karena itu, semestinya agama tidak menjadi satu-satunya perspektif untuk “menghakimi”nya.

Entahlah. Di tengah keriangan pentas dangdut, di antara guman perspektif agama, ada guman lain coba memahami; perempuan-perempuan itu hanya berusaha mencari nafkah, mandiri menghidupi diri sendiri, dengan cara mereka sendiri yang secara kebetulan atau mungkin pilihan – atau mungkin juga karena tak ada pilihan selain – sebagai biduan dangdut dengan segenap konskuensi dan logika umum dangdut. Denyut nadi kehidupannya berdetak di antara alunan musik dangdut. Narasi kehidupannya terbaris pada bait-bait lagu dangdut. Bagi mereka, barangkali dangdut adalah dendang kehidupan.

Jika kaum moralis dan agamawan menasihati mereka dengan anggapan ekses-ekses negatif yang potensial terjadi dari profesi mereka, atau bahkan ditakut-takuti tidak akan masuk surga, barangkali mereka acuh tak acuh. Bukan tak percaya, tapi dikarenakan nasihat semacam itu kurang strategis dan kongkrit bagi dendang kehidupan mereka. Dari pada mencerna nasihat yang tidak strategis, ya mending fokus saja dengan kerjaan sendiri yang lebih kongkrit bagi kehidupan mereka.

Seorang biduan dihadirkan dalam acara dialog di sebuah televisi swasta. Wajah si biduan itu dipakaikan topeng, agar tidak diketahui identitasnya, sehingga ia tidak malu, seolah hendak dicitrakan, profesi biduan dangdut adalah hina. Ketika ditanya, apakah Anda tidak merasa risih dengan dandanan yang Anda kenakan saat tampil, apakah Anda menyadari ekses-ekses kurang baik yang bisa ditimbulkan dari profesi Anda, khususnya bagi anak-anak, apakah Anda bla, bla, bla… si biduan menjawab, “Ya, gimana lagi, wong kerjaan emang gini.”

Where Am I?

You are currently browsing entries tagged with ekonomi at Warung Nalar.

%d bloggers like this: