Ketika Kelamin Jadi Ukuran

16 January 2009 § Leave a comment


Persepsi lahir dari konteks yang terindera, dari sebuah keadaan di mana empunya persepsi berinteraksi, menjadi respon atas realita di mana ia berada.

Imam Syafi’i yang pakar fikih – di mana karakter fikih adalah rigid – menyimpan keromantisan yang tersibak ketika mengatakan ini: “Sebagian orang mengatakan, mencintai wanita adalah bencana. Padahal, bencana sesungguhnya adalah berdekat dengan lelaki yang jauh dari cinta seorang wanita.”

Atau Ibnu Hazm yang dengan penuh gusto memberikan penghargaan kepada perempuan seraya mencemooh geram lelaki yang memandang ke-lelaki-annya sebagai ukuran.

Katanya: “Jika Anda merasa lebih utama dari Maryam, Aisyah, atau Fatimah, hanya karena engkau lelaki dan mereka perempuan, maka orang yang mengatakan hal itu pantas disebut orang bodoh.”

Meloncat dari suatu masa di negeri nun jauh, kita berdekat-dekat pada masa kini di negeri ini, dengan mengutip M. Quraish Shihab. Ujarnya: “…melecehkannya (perempuan) berarti melecehkan seluruh manusia, karena tidak seorang manusia pun – kecuali Adam dan Hawa – yang tak lahir melalui seorang perempuan.”

Persepsi apresiatif semacam itu tentu menjadi istimewa mengingat pengujarnya adalah para lelaki, sehingga melemahlah unsur subjektifitasnya, meski mungkin tidak sepenuhnya. Tapi di sinilah ironinya. “Apresisasi istimewa” menyuratkan gambaran aspek luar biasa yang mesti ditonjolkan dari satu entitas bernama perempuan, tapi menyiratkan adanya dominasi yang tak adil pandangannya: dominasi ke-lelaki-an yang selalu mengukur kelamin. Maka, apresisasi istimewa lahir dari konteks sebuah dominasi yang menghegemoni dari sebuah kelamin tertentu, dari keadaan yang diskriminatif, yang mungkin tersamar di bawah alam sadar.

Kata-kata para pengujar lelaki di atas adalah sarkasme, sindiran tajam, gugatan bagi keadaan di mana seorang lelaki memandang perempuan sebatas pada “karena aku lelaki dan mereka perempuan”, sebuah pandangan yang membentur raga, tidak menembus hakikat manusia yang tersemat di dalam seonggok raganya emosi dan nalar, hati dan pikiran, unsur spiritual dan intelektual. Dan raga adalah fisik. Sesuatu yang fisik mesti pula dihargai dengan yang bersifat fisik. Maka, transaksi dan interaksi yang terjadi adalah kebendaan, tak melibatkan aspek emosional dan rasional. Memandang perempuan seperti melihat barang dagangan di pasar. Memilah dan memilih sama mudah dengan meninggalkannya. Jika keadaan tak mendukung untuk mampu memilikinya, enteng saja berujar: “tinggal saja, cari lagi”. Mungkin orang dengan watak semacam ini tak memiliki cukup emosi dan nalar, hati dan pikiran, untuk menjangkau perempuan sampai pada hakikat kemanusiaannya.

Ini adalah keadaan anomali – di mana penistaan hakikat kemanusiaan dianggap lumrah sambil berusaha memaklumi – bukan hanya karena melanggar logika “tidak seorang manusia pun – kecuali Adam dan Hawa – yang tak lahir melalui seorang perempuan”, seperti dalam kata-kata M. Quraish Shihab, tapi juga sebab ada unsur-unsur hakikat kemanusiaan yang sengaja diabaikan. Sialnya, dalih-dalih “ini umum terjadi”, “ini pandangan umum”, dan segenap kambing hitam lain atas nama “kebanyakan orang”, dijadikan legitimasi bagi keadaan anomali itu.

Keadaan umum yang sejatinya anomali mestinya tidak dijadikan dalih dan dengan dungu ikut membesarkannya. Keadaan umum yang sejatinya anomali seharusnya menjadi objek keprihatinan seraya berharap segera lenyap.

Maka, konteks tulisan ini pun jelas: ketika kelamin – tepatnya ke-lelaki-an – jadi ukuran, saat mulut berbalut pongah mengangah sesumbar: “kamu itu lelaki, bukan perempuan!”, seolah takdir lelaki adalah kesempurnaan dan nasib perempuan adalah kecengengan.[jr]

Advertisements

Jiwa

8 December 2008 § Leave a comment


“Aku minta maaf untuk semua yang terjadi.”

“Jangan minta maaf. Lebih baik berdoa, agar hatiku segera luluh, sehingga bisa lega memaafkamu. Aku hanya butuh waktu untuk kembali seperti semula.”

“Kamu masih sakit hati?”

“Biarkan itu terjadi. “

“Aku minta maaf.”

“Tak perlu minta maaf. Masalah bukan pada kamu. Justeru pada diriku.”

“Tolong, maafkan aku.”

“Kamu tak perlu terbebani oleh sakit hatiku. Ini masalahku.”

“Tapi aku yang membuatmu terjebak pada masalahmu itu. Aku yang telah membuatmu sakit hati.”

“Memberikan kata maaf itu sangat mudah, sama mudahnya dengan memintanya.”

“Kamu meminta syarat untuk memaafkanku?”

“Tidak.”

“Lalu apa? Aku gelisah oleh ini.”

“Gelisah?”

“Iya. Tolonglah aku.”

“Tidak. Aku tidak bisa menolongmu. Aku tidak bisa memaafkanmu.”

“Tolong. Tolong, maafkan aku.”

“Kenapa?”

“Ini memang kesalahanku. Kebodohanku. Ini benar-benar membuatku gelisah.”

“Meski bermula dari kesalahanmu, tapi sesungguhnya, sakit hatiku ini adalah masalahku. Tak lagi terkait denganmu.”

“Ini membuatku tidak tenang.”

“Apakah hanya sebuah kata maaf dapat membuatku tenang, melepaskan kegelisahanmu?! Sesungguhnya bukan kepadaku kamu harus minta maaf. Minta maaflah pada dirimu sendiri. Jiwamu yang dapat memaafkanmu, menenangkanmu.”

“Aku menyesal.”

“Sebagaimana sakit hatiku. Bukan penyesalanmu, bukan permintaan maafmu yang dapat menyembuhkannya. Tapi diriku sendiri, jiwaku sendiri.”

“Sungguh, maafkan aku.”

“Sakit hatiku hanya soal waktu. Kegelisahanmu, kebersalahanmu juga hanya soal waktu.”

“Tolong…”

“Jangan mengiba maaf saat aku sakit hati. Minta maaflah pada dirimu.”

“Aku menyesal, aku gelisah, aku tidak tenang.”

“Biarkan itu terjadi.”

“Kamu dendam?”

“Tidak. Jika aku dendam, moralku telah kalah. Kemenanganku adalah saat aku dapat menenangkan diriku sendiri, bukan karena kamu menyesal, mengiba maaf, kemudian aku memaafkanmu.”

“Kamu membenciku?”

“Aku tidak tahu.”

“Kau masih mencintaiku?”

“Aku tidak tahu.”

“Sekarang, Kamu membuatku bingung.”

Ciputat, 8 Desember 2008

Kursi Plastik Stasiun

5 November 2008 § 2 Comments


Sudah dua jam kereta api bertolak dari Stasiun Senen, belum ada tanda-tanda keakraban di antara para penumpang dua jok saling berhadapan itu, ditambah satu anak kecil yang tertidur tenang di pangkuan ibunya. Sedangkan Listya Lestari masih memandang keluar jendela. Mamandang setiap benda, bangunan, pohon, tiang listrik, atau apa saja yang dilewati oleh sorotan mata sipitnya. Tapi perhatiannya tidak benar-benar tertuju pada apa yang dipandangnya.

“Turun di mana, Dik?” suara bapak-bapak yang duduk di sampingnya sedikit mengagetkannya. Lamunannya seketika buyar. Serta merta dia mengalihkan pandangannya ke arah suara tersebut.

“Saya? O, saya turun di Stasiun Tugu,”

“Saya Jogja juga. Adik Jogjanya mana ya?” bapak itu ternyata minta lebih detail.

“Kotagede,” Listya tetap menjawab pendek. Ia sungguh tidak memahami apa kepentingan bapak ini bertanya demikian, dan orang-orang lainnya yang kerap ia jumpai pada beberapa perjalanan Jakarta – Jogja dan Jogja – Jakarta, selain basa-basi.

“Di Jakarta kerja?” tanya bapak itu menduga.

Kerja?! Masak, tidak bisa membedakan mana tampang pekerja, buruh, pembantu, dan mahasiswa, sih?! Memang, wajah saya, yang kata temen-temen manis ini, cocok sebagai sosok buruh, pembantu, atau pekerja? Enak saja! Setidaknya, kan, beda, wajah mahasiswa terpelajar dengan sosok lainnya!

“O, tidak, Pak! Saya masih kuliah.”

“Jadi masih kuliah?! Bagus! Raji-rajin saja kuliahnya!” Nasihat khas orang tua. Selama bolak-balik Jakarta-Jogja, Jakarta-Jogja, nasihat ini adalah untuk yang kesekian kalinya Listya dengar dari kenalan perjalanannya, yang rata-rata memang orang paruh baya seperti bapak itu.

Seiring dengan perjalanan kereta yang semakin jauh meninggalkan Jakarta, obrolan mereka pun semakin jauh, tepatnya berragam. Dari perkenalan itu Listya tahu, bapak seumur baya itu punya nama Sarman.

Pukul setengah lima sore, kereta sudah memasuki Jawa Tengah. Sekitar dua jam lagi, kereta akan sampai di Stasiun Purwokerto. Sedangkan untuk sampai ke Jogja, masih butuh waktu sekitar lima jam lagi. Benar-benar perjalanan yang melelahkan. Listya Lestari tampak terkantuk.

“Bruk!”

Suara yang muncul tiba-tiba, yang menyertai barang jatuh, mengagetkannya. Ia seketika terbangun dari tidurnya. Masih terkaget-kaget. Wajahnya kusut dan sedikit berminyak. Ia mencari-mancari sumber suara itu.

“Maaf, ini tas saya,” kata Listya sambil mengulum senyum. Ia sedikit kesakitan. Kaki kirinya tertimpa tasnya yang jatuh itu, sebab posisi kereta yang miring mengikuti rel yang berbelok. Listya Lestari segera mengambil tasnya, dan akan menaruh kembali di tempat semula. Tiba-tiba ia terhuyung-huyung.

“Mari saya bantu!” Pak sarman berdiri menawarkan diri. Listya segera minggir sedikit, memberi ruang kepada Pak Sarman untuk meletakkan tasnya, tapi masih tetap berdiri.

“Terima kasih!” kata Listya, lagi-lagi dengan mengulum senyum. Kemudian keduanya duduk kembali.

Listya Lestari memandang keluar jendela. Yang dilihatnya hanya pemandangan perbukitan dan sawah.

“Sudah sore,” katanya dalam hati. Kemudian ia melirik jam di tangannya.

Sepasang suami istri di jok depannya, beserta anaknya itu, telah bersiap-siap untuk turun. Barang-barang bawaanya, satu tas yang berukuran cukup besar, satu lagi berukuran sedang dan satu kardus mereka turunkan. Agak kerepotan. Listya turut membantu menurunkannya.

Kereta api memasuki Stasiun Purwekerto, semakin lambat melaju. Dalam hitungan detik, kereta akan benar-benar berhenti.

“Mari, Dik, Pak, saya duluan!” bapak-ibu itu beranjak dari kursi. Listya Lestari dan pak Sarman mempersilakan

Bapak-ibu itu berjalan tergopoh-gopoh membawa barang bawaannya. Bapak-ibu itu berjalan merayap pelan, berhimpitan dengan penumpang lain yang hendak keluar, ditambah dengan lalu-lalang pedagang asongan yang menjajakan barang dagangannya. Menambah sesak saja.

“Gorengannya, Bu!” kata Listya Lestari kepada seorang ibu penjual gorengan yang lewat di depannya. Listya membeli beberapa gorengan dan lontong. Tampaknya ia lapar. Bayangkan, selama kurang lebih perjalanan sembilan jam, yang masuk ke perutnya cuma air mineral. Makanan terakhir yang masuk ke perutnya hanyalah sarapan pagi, sebelum berangkat tadi. Untuk mengalau laparnya, selama perjalanan, ia lebih memilih banyak tidur, meski dengan segala ketidaknyamanan. Namanya juga kereta api ekonomi. Lebih baik menahan lapar, ketimbang makan teratur seperti biasa, terus perut moncrot-moncrot, seperti yang pernah terjadi sebelumnya.

“Berapa, Bu?” kata Listya Lestari yang kemudian dijawab oleh ibu penjual gorengan tadi, dengan menyebutkan sejumlah nominal. Listya Lestari merogoh saku bajunya, meraba-raba. “Kok, nggak ada,” hatinya berbisik, bingung, dompet yang dicarinya tidak ada. “Celaka!” sebentar ia sedikit berpikir, ke mana gerangan dompetnya itu.

Ups! Ternyata dia lupa, kalau semua barang bawaan miliknya, termasuk barang-barang titipan ibunya, ia masukan ke dalam tasnya. Ia menghela napas, lega. Ia segera berdiri mengambil tasnya, membuka dan mengambil dompetnya.

Listya Lestari menawarkan kepada Pak Sarman, gorengan yang dibelinya tadi. Pak Sarman menolak dengan sangat halus, sambil mengucapkan terima kasih. Kebetulan. Sebenarnya ia pun hanya basa-basi saja. Ia memang kelaparan.

“Itu tas kamu?” Listya mengiyakan pertanyaan basa-basi dari Pak Sarman.

“Hati-hati saja. Banyak yang suka ambil kesempatan pada saat seperti ini. Mereka pura-pura sebagai penumpang atau pedagang, padahal mereka sedang mengincar barang-barang para penumpang,” Pak Sarman menasihati.

Listya memperhatikan omongan Pak Sarman sambil mengernyitkan keningnya. Sementara mulutnya asyik mengunyah gorengan. Hatinya berbicara sendiri, seharusnya ia tidak perlu menerima nasihat baik semacam itu. Dirinya sudah pengalaman. Ia tahu kapan saat-saat pencopet beraksi, dan kapan ia harus waspada, kapan juga harus membenamkan diri dalam tidur lelah.

Telah satu jam lebih kereta bertolak dari Stasiun Purwekerto. Kursi di depan Listya yang sebelumnya di tempati oleh ibu-bapak beserta satu anaknya, kini telah diduduki oleh seorang pemuda berjaket dan bertopi. Kedua telingannya tersumbat earphone walkman. Sementara, di luar, gelap malam dan udara dingin beriringan turun menyelimuti bumi. Udara dingin itu genit menggoda Listya Lestari. Ia menutup jendela bagian atas yang terbuka.

Listya Lestari, Pak Sarman hanya terdiam tak berbicara. Tidak ada selera lagi untuk ngobrol. Sedangkan si pemuda masih menikmati lagu dari walkman-nya itu. Lampu neon yang sepertinya telah lama tidak di ganti dan sarangnya sudah pecah, setia memancarkan sinarnya yang redup. Beberapa penjual asongan dengan suaranya yang khas, berlalu-lalu lalang menjajakan dagangannya.

Wajah Listya Lestari semakin kusut berminyak, karena berjam-jam tidak tersentuh air. Sudah berkali-kali ia membersihkan mukanya dengan tisu. Tidak tampak lagi wajah periangnya. Perjalanan yang kira-kira tinggal dua jam lagi itu, ia rasakan lama sekali. Semakin ditunggu, semakin dirasakan lama saja.

Wajah periangnya semakin tidak terlihat, ketika ia kembali diserang kantuk. Sebelum ia benar-benar membenamkan sadarnya dalam tidur, ia masih sempat melirik jam tangannya. Ia mendengus. Kemudian menyandarkan kepalanya. Agak miring ke kanan. Sementara Pak Sarman masih diam tenang, tapi tidak tidur.

“Heh, bangun, bangun! Sudah sampai. Ini stasiun terakhir. Ayo bangun! Mau dibersihkan!” suara keras dan kasar tukang sapu kereta kontan mengagetkan Listya. Ia terbangun, kemudian mengucek-ucek kedua matanya. Wajahnya kusut sekali.

“Sudah sampai. Ayo minggir, mau disapu!!!” tukang sapu itu meyakinkan.

Listya Lestari mencoba beradaptasi. Ia melihat ke sekelilingnya. Kosong. Semua penumpang sudah turun. Tinggal dirinya. Setelah merasa sadar betul, ia berdiri hendak mengambil tas ransel ukuran sedangnya.

“Lho, Nggak ada! Ke mana?!” hatinya berbisik. Wajahnya menampakkan raut orang bingung. Ia mencoba mencari tasnya di bawah kursi, siapa tahu jatuh. Tidak ada juga! Ia semakin bingung.

“Mas, mas! Lihat tas saya nggak?” Listya bertanya kepada tukang sapu yang tadi membangunkannya. Dengan tetap menyapu dan tidak menengokkan wajahnya kepada siapa yang bertanya, cuek, tukang sapu tersebut menjawab tidak tahu.

“Pasti, pasti! Pasti dia! Kurang ajar!”

Listya Lestari segera beranjak dari tempat duduknya. Dengan setengah berlari, ia berjalan menuju ke arah tukang sapu kereta itu. Hampir saja ia menabraknya.

Setelah keluar dari gerbong kereta nomor tiga, Listya Lestari melayangkan pandangannya ke segala arah, mencoba menemukan sosok yang paling dicarinya. Ia berjalan ke sana ke mari, namun sosok yang paling dicarinya itu tidak ada. Kalut, bingung, dan linglung.

Ia duduk di kursi plastik khas statisun. Rasa pegalnya yang sedar tadi tertimbun kebingungan, tiba-tiba mencuat di sendi-sendi tubuhnya.

Ia tidak tahu, harus bagaimana untuk mendapatkan kembali tasnya. Tas itu berisi barang-barang titipan ibunya, ponsel, beberapa baju, dompet kulit beserta tetek bengek isinya, serta barang-barang bawaan lainnya. Yang tersisa dari dirinya hanya jam tangan dan selembar uang sepuluh ribu dan lima ribu, sisa dari pembelian gorengan dan tempe serta air mineral. Ia belum memikirkan, apa yang akan ia katakan pada ibunya soal titipannya itu.

Jam dinding di Staisun Tugu menunjukkan pukul 21.15 WIB. Listya Lestari masih melamun bertopang dagu. Pandangan kosong matanya membentur kereta api eksekutif warna putih dengan dua strip warna biru dan kuning emas di sampingnya, dan berkaca jendela ray band. Tiba-tiba dadanya terasa sesak.

Udara malam Stasiun Tugu yang dingin menerpa seluruh tubuhnya. Ia tidak peduli. Ia pun tidak mempedulikan orang-orang yang berlalu-lalang di depannya, sebagaimana mereka pun tidak peduli dengannya.

Listya Lestari menyudahi lamunannya. Ia menegakkan badan yang sedari tadi membungkuk, kemudian menyandarkannya di sandaran kursi plastik. Matanya yang memang sudah sipit, ia sipitkan lagi. Bibir tipisnya ia katupkan, sambil menarik nafas panjang kemudian sedikit menahannya. Keduanya tangannya ia kepalkan.

“Uedddan sialan!!!”

Doa

3 November 2008 § 1 Comment


Namanya Ayu. Nama lengkapnya Citra Ayu. Jika ada yang mengatakan, al-ismu ghair al-musamma, nama tak mencitrakan sosok, maka salah besar jika itu disandarkan kepada gadis pesona itu. Al-ismu huwa al-musamma, nama menunjukkan citra diri, ungkapan itulah yang sesuai untuknya. Sungguh, ia memang pantas menyandang nama “Ayu”. ia memang cantik, ayu. Sumpah! Sedikit aku pamerkan unsur-unsur kecantikannya: wajahnya oval berujung pada dagu yang lancip, matanya agak belo tapi sayu dengan bulu mata lentik alami, alisnya hitam pekat membentang indah, bibirnya merekah merah alami. Meski tak bangir-bangir amat hidungnya merupakan komposisi proporsional yang menjadi bagian sempurna kecantikannya, bulu-bulu sangat halus di atas bibir tapi bukan kumis, wajahnya putih bersih tak berjerawat. Ah, bikin bergairah saja. Atas kelebihan-kelebihan fisik pada dirinya itu, orang yang paling berbahagia tentu saja aku. Karena Citra Ayu adalah kekasihku. Sekali lagi, ke ka sih ku! Jadi, untuk semua laki-laki jangan lagi bermimpi bahkan untuk sekedar berharap bisa dekat. Atau harus berhadapan denganku.

Seandainya ia istriku, aku akan memintanya menjilbabi semua keindahan itu. Hanya aku lelaki yang boleh menikmatinya.

Sesungguhnya kehadiran Citra Ayu di sisiku bukan pada saat tepat ketika aku sedang menggebu ingin memadu kasih. Masa itu telah berlalu. Jauh sebelum mendapat anugerah indah itu, aku memang pernah berdoa kepada Tuhan, minta didatangkan seorang kekasih. Alasanya sepele: iri dengan teman-teman, iri setiap jalan ke kampus melihat teman-teman yang sudah punya pacar. Tidak main-main aku berdoa. Aku menyampaikannya kepada Tuhan lima kali sehari, selepas sembayang. Bahkan sembayang dhuha pun terkadang aku jalani. Sebab, bagiku kekasih adalah rezeki. Sampai akhirnya aku capek berdoa.

Kini, di sisiku telah ada seorang Citra Ayu. Ah, Tuhan, bisa saja Kau membuat kejutan. Terus terang, Ayu melebihi espektasiku. Aku mengharap yang cantik, tapi Ayu ini bukan hanya cantik, tapi cuuuwantik sekali, orang Jawa bilang. Dan, Ayu tak perlu merasa kecantikannya terbuang percuma dengan menjadi kekasihku. Ia cantik, toh aku juga tampan. Impas, bukan?!

Hari-hari kulalui bersama Citra Ayu. Kesana kemari tentengan bareng dengan hati berbunga-bunga. Indah. Aku masih hanya ingin menikmati “bulan madu” berpacaran, tak mau berpikir soal lain, termasuk soal umurnya yang lebih tua dariku. Padahal jika dipikir ke depan, kemungkinan aku mengalami patah hati seharusnya mendapatkan pertimbangan. Bagaimana tidak, aku dan Ayu telah berada pada usia matang untuk menikah. Semestinya, aku berpikir, pada usia Ayu sekarang ini, posisi tawarnya kian melemah, apalagi di hadapan orang tuanya yang mungkin berharap agar ia segera menikah. Dan aku sendiri juga tak punya posisi tawar tinggi, baik di hadapan Ayu atau pun orang tuanya. Yang aku punya hanya wajah tampanku dan kasih sayangku kepadanya. Selebihnya aku adalah lelaki yang belum siap menikah. Artinya, Ayu tak bisa mengelak jika tiba-tiba ia dijodohkan oleh orang tuanya dengan lak-laki mapan. Maka, aku hanya akan pasrah dan siap-siap patah hati saja jika itu benar-benar terjadi.

Halllah, persetan dengan semua itu! Masa bodoh dengan kemungkinan-kemungkinan! Yang penting, saat ini, aku jatuh hati kepada Ayu, dan ia pun kesengsem kepadaku, kemudian sepakat pacaran. Titik! Jadi, jalani dan nikmati saja itu.

Yang aku tak tahu sebelumnya tentang Ayu dan baru aku ketahui kemudian adalah ia mengidap vertigo. Aku terguncang hebat. Bagaimana tidak, ibarat sedang enak-enaknya menikmati es campur di tengah terik yang mencekik, tiba-tiba tersedak. Belum juga lama menikmati indahnya berpacaran, sudah dihadapkan pada kenyataan tak enak. Sudah terhitung dua kali ia tiba-tiba ambruk tak sadarkan diri di hadapanku. Vertigonya kambuh jika ada suara-suara keras atau memikirkan hal-hal berat. Biasanya, ia akan tak sadarkan diri selama lima sampai sepuluh menit (jika parah, bisa lebih lama dari itu), yang diawali dengan pandangannya yang kabur, kemudian merasakan seolah-olah bumi yang diinjaknya berguncang dan beputar, menghilangkan keseimbangan tubuhnya, dan ambruklah ia.

Sungguh, penyakitnya itu benar-benar menghilangkan selera berpacaranku. Cantik-catik, kok, vertigo. Aku jadi jarang mengajaknya kencan, dan dengan seribu satu alasan yang sangat halus, terutama alasan vertigonya, aku sering menolak jika ia mengajakku jalan-jalan jauh. Bayangkan saja, jika tiba-tiba vertigonya kambuh saat sedang boncengan di atas motor, kumat di atas kendaraan umum, atau saat sedang di bioskop. Alih-alih hendak menikamti kencan, justeru kerepotan yang bakal terjadi. Pun jika mau diajak jalan, aku hanya mau yang dekat-dekat dan itu pun dengan perasaan was-was, jika tiba-tiba ia ambruk.

Duh, Gusti, aku memang pernah meminta kepada-Mu seorang kekasih. Dan Kau memang mengejawantahkannya – meski agak tertunda – dengan sosok Citra Ayu itu. Dengan kelebihan-kelebihan fisik yang terpatri padanya, mataku memang terpesona, terkesan. Namun, dengan vertigo yang juga tertanam di kepalanya, jiwaku jadi tak dapat menikmati segala pesona dirinya. Jiwaku mati hasrat kepadanya. Nikmat berpacaranku sungguh mati tercerabut. Pikiranku kalut. Diaaamput!

Namun, aku tetap berusaha sama sekali tak menampakkan kegalauan jiwaku di hadapannya. Fisikku memang selalu menjaganya, meski jiwa ini berduka. Dan sesungguhnya dukaku tidak untuknya. Aku berduka untuk diriku sendiri. Aku menjaganya bukan karena ketulusan seorang kekasih yang menjaga kekasihnya. Aku menjaganya hanya karena aku tak mau disebut pecundang. Aku tak mau disebut sebagai kawan Ayu saat suka, namun lari saat ia berduka. Aku menjaganya cuma ingin menyelamatkan harga diriku bahwa aku adalah kekasih yang baik. Dalam hatiku, aku memaki diriku sendiri. Pecundang munafik sialan! Melengkapi kepecundanganku, sempat aku berpikir untuk meninggalkannya.

Di sisi lain hatiku, aku berapologi bahwa kepecundanganku adalah kewajaran. Itu adalah respon sepontan sementara seorang yang terguncang, bukan hasil pemikiran jernih. Aku hanya perlu menenangkan dan membiasakan diri dengan kondisi tak ideal itu. Kusampaikan pada Tuhan, jika Citra Ayu, dengan segenap kelebihan dan kekurangannya – terutama vertigonya – adalah kekasih sebagai pengejawantahan doaku dulu, berilah kekuatan kepadaku untuk bertahan menjaganya, atau sekalian lenyapkan saja vertigonya. Jika tidak demikian, Tuhan, Kau pasti tahu mesti berbuat apa. Tak perlu aku mendikte-Mu. Aku benar-benar ingin seperti pasangan kekasih lainnya. Kencan, jalan berdua tanpa beban, tanpa was-was. Aku sampaikan itu setiap kali lepas sembayang.

Benar, aku hanya perlu tenang dan membiasakan diri.

Suatu sore selepas ashar, aku dikabari oleh teman satu kontrakan Ayu, vertigo Ayu kambuh. Aku diminta segera datang. Kabar seperti itu akhirnya menjadi biasa bagiku. Aku menjadi lebih tenang jika tiba-tiba dia kambuh. Paling juga seperti biasa, ia akan tak sadarkan diri untuk beberapa menit, tinggal ditunggu saja sambil diolesi minyak kayu putih di hidungnya. Nanti juga sadar sendiri.

Tapi tidak kali ini. Awalnya memang gejala vertigo. Kurang lebih dua puluh menit Ayu tak sadarkan diri. Ia tersadar dengan berteriak sangat keras. Keanehan-keanehan terjadi. Matanya mendelik. Bayangkan sendiri, sudah belo, mendelik pula. Memandangi orang-orang yang mengerubunginya. Sebagian ketakutan. Mulutnya nyerocos tak karuan. Raganya memang Ayu, tapi jiwanya entah siapa. Setelah itu ia kembali lunglai, pingsan. Lalu tersadar. Kali ini dengan jiwa Ayu sesungguhnya. Ia terlihat kelelahan. Aku dan Ayu hanya saling memandang. Ayu memandangiku dengan sorotan lemah. Dan aku memandangi wajah layunya dengan penuh haru dan iba. Tanpa kata-kata, tapi jelas mengatakan sesuatu. Ketika bulir air mata keluar dari pojok matanya, hatiku yang menangis. Ketika raganya begitu tak berdaya, jiwaku yang terluka. Sungguh, itu adalah pandangan kasih sayang terdalam dan terdahsyat yang pernah kurasakan sepanjang hidup. Oh, Tuhan. Aku dan Ayu saling bergenggaman tangan kiri. Sementara tangan kananku membelai rambutnya. Sekali-kali kuseka pipinya yang basah oleh air mata, juga keningnya yang berkeringat. Kasihan aku melihatnya. Itu hanya beberapa saat, sebab setelah itu ia kembali pingsan. Kemudian terbangun, tapi bukan dengan jiwa Ayu, juga bukan jiwa yang tadi, tapi jiwa lain. Kali ini kemayu, genit, cukup tenang, bahkan bisa diajak berkomunikasi, tidak seperti jiwa sebelumnya yang cenderung liar. Sungguh, kali ini, ia tampak seperti sepuluh kali lipat lebih cantik dari biasanya. Entah jiwa apa yang merasukinya, tapi aku dapat memastikan, ia kesurupan. Kurang lebih empat jam raga Ayu seperti menjadi permainan jiwa-jiwa lain itu.

Aku pulang ke kontrakanku dengan perasaan campur aduk antara kasihan terhadap Ayu, juga terhadap diri sendiri, bingung, takut, khawatir, juga lega karena telah melewati masa-masa yang aneh malam itu.

Hari demi hari, minggu demi minggu berjalan tidak seperti yang kupikirkan. Ketika aku telah berusaha tenang dan membiasakan diri dengan Ayu dan vertigonya, kenapa keadaan malah lebih buruk. Apakah kali ini aku juga harus tenang dan membiasakan diri dengan kondisi yang lebih buruk itu? Aku tak yakin dapat menjalaninya. Kondisi sebelumnya saja sudah sedemikian rupa menyita pikiran dan perasaan. Gusti Pangeran, pandai benar Kau mempermainkan emosiku.

Aku dan Ayu menjalani pacaran tidak selayaknya dua orang kekasih. Entah perasaanku sendiri atau apa, aku seperti penjaga yang selalu khawatir dan was-was dengan yang dijaganya. Aku harus selalu siap, jika tiba-tiba vertigo Ayu kambuh, kemudian raganya menjadi tumpangan jiwa-jiwa lain.

Kesurupan jin. Aku tidak terlalu asing dengan itu. Dulu, saat nyantren di Jombang, teman-temanku bahkan kerap bermain-main dengan jin, menjadikan dirinya sebagai medium untuk dirasuki jin dalam rangka mengamalkan ilmu-ilmu supranatural sebagai uji kesaktian.

Tapi, yang terjadi pada Ayu ini sama sekali lain. Bukan permainan yang bisa diatur semaunya, tapi justeru Ayu, maksudnya, raganya yang seolah diatur, dipermainkan. Tidak hanya berbahaya bagi diri Ayu, baik untuk kesehatan fisik dan atau mentalnya (syaraf otaknya), tapi juga mengancam masa depan hubunganku dengannya. Betapa pun, bersama Ayu, aku masih punya keinginan menjadi pasangan kekasih yang normal. Dengan semangat itu, aku bujuk dia agar mau berobat ke orang pintar. Sebab, pokok dari semua yang menimpa Ayu sama sekali tidak berkaitan dengan medis. Tak tanggung-tanggung, aku ajak dia ke Jombang. Sebenarnya, itu atas usulan seorang teman di sana yang turut bersimpati dan merelakan rumahnya menjadi tempat tinggal selama Ayu menjalani pengobatan. Aku tahu, di sana banyak orang pintar dan sakti.

Di Jombang, Ayu bahkan harus ditangani oleh dua orang pintar. Orang pertama memang tidak berhasil menyembuhkan Ayu secara total, dan menyerah pada hari ketiga, tapi meninggalkan pesan, yang terjadi pada Ayu hanyalah beluk (asap). Setiap ada beluk, pasti ada api. Ia tidak bisa menemukan api yang dimaksud. Ah, aku sama sekali tidak paham maksudnya. Dan nanti malam adalah malam ketujuh, atau kali keempat untuk orang pintar kedua yang menangani Ayu.

Tapi pada malam itu tidak ada pengobatan sebagaimana malam-malam sebelumnya. Aku dan Ayu, juga segenap keluarga si kawan diminta berkumpul.

“Mba Ayu, Mas Danang,” kata si orang pintar meminta perhatian, “ada dua jin yang nggandol sama Mba Ayu. Yang pertama namanya Ki Gandheng, dan yang kedua Rokibah. Ki Gandheng nggandol di pundaknya. ia pengawal Rokibah. Sedangkan Rokibah sendiri bersenyawa di sekujur wajah Ayu.” Aku tidak bisa menalar semua itu. Ah, bisa dinalar atau tidak, percaya atau tidak, wis, pokoknya dengarkan sajalah.

“Tiga malam berturut-turut kemarin, saya dengan dua jin itu, terutama Ki Gandheng, bertempur. Ia cukup kuat. Ia tidak bisa disingkirkan. Tapi saya berhasil membujuknya. Kami berkompromi. Ia dan Rokibah mau dipindahkan dari raga Ayu dengan satu syarat.”

“Apa itu?”

“Ki Gandheng dan Rokibah hanya mau pindah ke tempat sebelumnya. Jika sudah pindah, maka Ayu hanya perlu mendapatkan penanganan medis untuk vertigonya.”

Ini berita baik buatku, juga buat Ayu.

“Syukurlah. Dan kalau memang bisa dipindahkan secepatnya, ya lebih baik.”

“Tapi saya perlu izin dari sampean dulu, Mas Danang.”

“Aku? Apa kaitannya denganku?”

“Soal tempat dua jin itu.”

“Tempat? Memang sebelumnya tinggal di mana?”

“Bukan “di mana”, tapi “siapa.”

“Iya, siapa?”

“Sampean.”

“Aku???!!!”

“Ya, sampean. Jin-jin yang nggandoli Ayu adalah jin-jin yang sebelumnya sudah lama, telah bertahun-tahun nggandol di pundak sampean.”

Aku merasakan sendi-sendi tubuhku seperti mlocoti. Tubuhku seperti tak bertenaga. Pikiranku kosong untuk beberapa detik.

“Lalu, kenapa jin-jin itu pindah ke raga Ayu? Apa hubungannya dengan Ayu?”

“Cemburu. Si Rokibah cemburu. Ia tidak ingin sampean dimiliki Ayu, atau memiliki Ayu, atau perempuan mana pun. Ia pindah ke raga Ayu karena ingin menyakiti Ayu, membuat Ayu gila. Ayu dianggap merebut sampean darinya. Dan sampean dianggap mengkhianati doa sampean sendiri.”

Mataku berkunang-kunang. Bumi ini seperti berguncang hebat. Kurasakan tubuhku tak bertenaga. Lalu, gelap.[jr]

Ciputat, 2 November 2008

Aisyah Yang Wira’i

24 October 2008 § Leave a comment


 

Sebelum menikahi Aisyah, Rasul telah beberapa kali memimpikannya. Dalam mimpi itu, Rasul melihat dirinya didatangi malaikat yang membawa wanita bercadar, dan mengatakan bahwa wanita itu adalah calon pendamping hidupnya. Sang malaikat meminta Rasul membuka cadar wanita itu. Ketika dibuka, nampak jelas, paras yang ia lihat adalah wajah Aisyah. Setelah terjaga, Rasul hanya berdoa, jika itu adalah petunjuk Allah, maka jadikan mimpi itu nyata. (HR Bukhari).

Yang istimewa dari Aisyah dan tidak dimiliki oleh istri-istri Rasul yang lain adalah, Aisyah menjadi istri Rasul tidak hanya di dunia, namun di akhirat kelak. Sungguh, apresiasi istimewa dari Allah untuk seorang Aisyah, gadis belia yang selama bersama Rasul, Allah berkenan menurunkan tidak sedikit risalah agama, pada peristiwa yang berkenaan dengannya. Tumbuh bersama Rasul, ia terbimbing menjadi seorang intelektual dengan kecerdasan di atas rata-rata kebanyakan orang saat itu. Gaya bicaranya lugas, berbalut tutur bahasa yang fasih dengan retorika yang argumentatif. Dengan semua itu, dia adalah seorang wira’i yang enggan dipuji, lebih senang untuk tak dikenang. (HR Tirmidzi)

Ketika Ia berada dalam kondisi paling payah karena tua dan mendekati sekarat, Ibnu Abas datang menjenguknya. Awalnya, kedatangan Ibnu Abas ia tolak, khawatir hanya akan mengumbar pujian. Namun, atas bujukan handai taulan yang saat itu juga menjenguk, akhirnya Aisyah memperkenankan Ibnu Abas menemuinya, mungkin untuk terakhir kali.

“Ummul Mukminin, Kau adalah istri yang paling dicintai Rasul. Dan tidak ada yang dicintai Rasul kecuali ia adalah baik…,” benar saja kekhawatiran Ibunda Aisyah.

“Hanya Kau gadis perawan yang dinikahinya… Kau perempuan terfitnah mulut masyarakat, dan Allah sendiri yang menampik fitnah itu, sehingga siang dan malam masjid-masjid sesak penuh oleh orang-orang yang mendaras Alquran, menyambut pembebasanmu dari fitnah… Sebab Kau, turun risalah rukhshah tayamum sebagai pengganti wudlu… Kau perempuan pembawa berkah bagi umat… “

“Ibnu Abas, cukup! Sudahi omonganmu!” Aisyah yang terbaring lemah memotong serentetan pujian yang meluncur deras dari mulut Ibnu Abas.

“Aku lebih nyaman tanpa pujian… Aku lebih senang untuk tak dikenang…” (HR Bukhari dan Ahmad).

– – –

Baca juga fragmen sejarah Aisyah di bawah ini:

Tentang Wanita Untuk Lelaki

9 August 2008 § 3 Comments


Di bawah ini adalah beberapa quotasi yang saya “pungut” dari sumber-sumber terserak, tentang “nilai unik” yang ada pada diri seorang wanita. Sebagian penilaian datang dari laki-laki dan ditujukan kepada laki-laki, dan sebagian ditujukan kepada semua orang. Karena datang dari manusia dengan keniscayaan subyektifitasnya, tentu saja quotasi itu tidak bisa disebut mutlak kebenarannya, sebagaimana tidak bisa disebut mutlak kekeliruannya.

Untuk sementara, hanya sekianlah quotasi yang ada, dan bisa saja bertambah dari waktu ke waktu, tergantung hasil “pungutan” saya…

“Jika Anda merasa lebih utama dari Maryam, Aisyah, atau Fatimah, hanya karena engkau lelaki dan mereka wanita, maka orang yang mengatakan hal itu pantas disebut orang bodoh.” (Ibnu Hazm al-Zhahiri)

“Banyak orang mengatakan, mencintai wanita merupakan puncak bencana. Puncak bencana sesungguhnya bukanlah mencintai wanita, melainkan berdekatan dengan orang yang tak kaucintai.” (Imam Syafii)

“Tidak diketahui sesuatu yang begitu diperhatikan dan mantap pada diri seorang wanita melebihi cinta.” (Ibnu Hazm al-Zhahiri)

“Tidak dapat dipungkiri bahwa mengabaikan wanita berarti mengabaikan setengah potensi masyarakat, dan melecehkannya berarti melecehkan seluruh manusia, karena tidak seorang manusia pun – kecuali Adam dan Hawa – yang tidak lahir melalui seorang perempuan.” (M. Quraish Shihab)

“Mencintai seorang wanita mencukupi seorang lelaki, tapi untuk memahaminya, seribu lelaki pun belum cukup.” (Entah Siapa)

“Jika Engkau mencintai wanita dengan mengabaikan tuntutan dan komitmen moral, maka cinta itu menjadi mudah dan murah.” (Entah Siapa)

Tidak Ada “Cinta Pada Pandangan Pertama”!

22 June 2008 § 1 Comment


Kata-kata romantis diumbar sedemikian rupa. Kunjungan-kunjungan berbalut kepentingan romantis intensif dilakukan. Pemberian dan permintaan berhias romantis silih berganti begitu mudah. Kesanggupan menanggung beban, berkorban dan melayani sebesar dan jika perlu melebihi kepentingan sendiri, walaupun berat tapi coba dilakukan sebatas daya atas nama cinta. Cukuplah semua itu sebagai pengejawantahan rasa cinta sekaligus sebagai pemantik untuk menjaring keintiman cinta. Sungguh, ekspresi cinta yang manusiawi. Cinta yang begitu abstrak seolah nampak berupa.

Pada saat seperti itulah, kerap kali, cinta dianggap sebagai sosok berwajah manis yang diagungkan karena dianggap menguntungkan. Dan dalam sekejap bisa saja menjadi terdakwa berwajah bengis saat berlalu menyisakan petaka dan tangis. Nyatalah, romantisme dan cinta yang diagungkan, ketulusan yang dirasakan, dan pengorbanan yang diberikan selama ini hanyalah klaim belaka yang diduga sebagai cinta dan ketulusan.

Sebagai mahluk fisik, bolehlah berkata, ketulusan dan cinta hanya dapat diukur dari ekspresi lahiriah (ini bukan tentang “hubungan intim” lho!), tapi percayalah, jangan terlalu yakin dengan itu. Sebab, keduanya adalah “mahluk abstrak” yang tidak terukur oleh fisik dan sangat mungkin tersilap oleh inderawi. Oleh karenanya, saya termasuk yang tak percaya dengan istilah “jatuh cinta pada pandangan pertama”. Mata bukanlah pengambil keputusan yang baik untuk menyatakan cinta, apalagi ditentukan oleh pandangan pertama. Jangan pula terkesima oleh ekspresi cinta yang keluar dari mulut yang diklaim dari hati yang paling dalam. Sebab, mulut bukanlah obyek yang baik untuk menilai cinta. Cinta terlalu murah dan rendah jika hanya berdasar mata dan mulut saja. Paling banter, mata dan mulut hanya bisa menyatakan dan menyampaikan kesan atas penampilan fisik.

Cinta adalah entitas yang rumit dan kompleks, yang melakukan perjalanan terus menerus dan akan terhenti jika mati telah mengkebiri. Sedangkan kesan hanyalah lirikan mata atau penilaian pikiran yang membentur fisik yang dianggap mengagumkan. Kesan akan berubah, seiring dengan berubahnya fisik, sedangkan cinta tak mengenal semua itu. Jadi, jangan pernah mengambil keputusan berdasarkan kesan. Jadikanlah kesan hanya sebagai salah satu (dan bukan satu-satunya) pertimbangan untuk megambil keputusan.

Jatuh cinta pada pandangan pertama? Bukan! Jadi? Itu hanya kesan mata atas kekaguman fisik.

Pernikahan puncak ekspresi cinta? Saya kira sangat manusiawi, jika memiliki adalah bagian dari ekspresi cinta. Namun, dengan telah memilik bukan berarti cinta telah sampai pada puncaknya. Sekali lagi, cinta adalah perjalanan tanpa henti yang hanya bisa dikebiri oleh mati. Jika sebuah pacaran didasarkan atas cinta, tak mustahil akan berlanjut ke jenjang pernikahan. Dan jika pernikahan dilandaskan atas cinta, barangkali hanya maut yang mampu memisahkan pasangan suami isteri.

Menurut saya, cinta ideal yang mampu mempertahankan sebuah hubungan adalah kombinasi sempurna hati dan pikiran yang matang. Jika Anda telah memiliki kombinasi sempurna keduanya, nyatakanlah kepada orang yang mengusik hati dan pikiran Anda, bahwa Anda ingin memilikinya. Atau persiapkan hati dan pikiran matang Anda, jika suatu saat ada orang yang menyatakan hasrat kepada Anda. Bukan semata mengikuti emosi, tanpa berpikir ke depan. Bukan semata kesan mata yang kagum atas fisik. Bukan karena mengisi kekosongan. Bukan sebab sakit hati, sehingga untuk mengobatinya, harus kembali jatuh hati. Bukan pula hanya urusan biologis.

Barangkali sebuah dugaan yang tak dapat dipastikan salah, jika sebuah hubungan pacaran kandas sebelum melangkah ke pelaminan, atau biduk rumah tangga yang retak di tengah perjalanan, bisa jadi karena tidak diawali dan tidak ada kombinasi sempurna dua hal tersebut. Romantisme yang pernah menghiasi hari-hari, bisa jadi hanya klaim belaka yang diduga sebagai cinta dan ketulusan, yang keluar dari mulut yang kelu.

Dan jika Anda menuduh cinta sebagai terdakwa berwajah bengis saat berlalu menyisakan petaka dan tangis, mengertilah, itu bukan tindakan bijak. Merenunglah, apakah Anda telah membangun pondasi cinta atas dasar hati dan pikiran yang matang. Jika iya, namun tetap kandas, merenunglah untuk kali yang kedua, jangan-jangan itu hanya klaim.

Sebab, bagi saya, cinta itu menyatukan, mendekatkan dan hanya maut yang mampu memisahkan.

Where Am I?

You are currently browsing entries tagged with cewek at Warung Nalar.

%d bloggers like this: