Kursi Plastik Stasiun

5 November 2008 § 2 Comments


Sudah dua jam kereta api bertolak dari Stasiun Senen, belum ada tanda-tanda keakraban di antara para penumpang dua jok saling berhadapan itu, ditambah satu anak kecil yang tertidur tenang di pangkuan ibunya. Sedangkan Listya Lestari masih memandang keluar jendela. Mamandang setiap benda, bangunan, pohon, tiang listrik, atau apa saja yang dilewati oleh sorotan mata sipitnya. Tapi perhatiannya tidak benar-benar tertuju pada apa yang dipandangnya.

“Turun di mana, Dik?” suara bapak-bapak yang duduk di sampingnya sedikit mengagetkannya. Lamunannya seketika buyar. Serta merta dia mengalihkan pandangannya ke arah suara tersebut.

“Saya? O, saya turun di Stasiun Tugu,”

“Saya Jogja juga. Adik Jogjanya mana ya?” bapak itu ternyata minta lebih detail.

“Kotagede,” Listya tetap menjawab pendek. Ia sungguh tidak memahami apa kepentingan bapak ini bertanya demikian, dan orang-orang lainnya yang kerap ia jumpai pada beberapa perjalanan Jakarta – Jogja dan Jogja – Jakarta, selain basa-basi.

“Di Jakarta kerja?” tanya bapak itu menduga.

Kerja?! Masak, tidak bisa membedakan mana tampang pekerja, buruh, pembantu, dan mahasiswa, sih?! Memang, wajah saya, yang kata temen-temen manis ini, cocok sebagai sosok buruh, pembantu, atau pekerja? Enak saja! Setidaknya, kan, beda, wajah mahasiswa terpelajar dengan sosok lainnya!

“O, tidak, Pak! Saya masih kuliah.”

“Jadi masih kuliah?! Bagus! Raji-rajin saja kuliahnya!” Nasihat khas orang tua. Selama bolak-balik Jakarta-Jogja, Jakarta-Jogja, nasihat ini adalah untuk yang kesekian kalinya Listya dengar dari kenalan perjalanannya, yang rata-rata memang orang paruh baya seperti bapak itu.

Seiring dengan perjalanan kereta yang semakin jauh meninggalkan Jakarta, obrolan mereka pun semakin jauh, tepatnya berragam. Dari perkenalan itu Listya tahu, bapak seumur baya itu punya nama Sarman.

Pukul setengah lima sore, kereta sudah memasuki Jawa Tengah. Sekitar dua jam lagi, kereta akan sampai di Stasiun Purwokerto. Sedangkan untuk sampai ke Jogja, masih butuh waktu sekitar lima jam lagi. Benar-benar perjalanan yang melelahkan. Listya Lestari tampak terkantuk.

“Bruk!”

Suara yang muncul tiba-tiba, yang menyertai barang jatuh, mengagetkannya. Ia seketika terbangun dari tidurnya. Masih terkaget-kaget. Wajahnya kusut dan sedikit berminyak. Ia mencari-mancari sumber suara itu.

“Maaf, ini tas saya,” kata Listya sambil mengulum senyum. Ia sedikit kesakitan. Kaki kirinya tertimpa tasnya yang jatuh itu, sebab posisi kereta yang miring mengikuti rel yang berbelok. Listya Lestari segera mengambil tasnya, dan akan menaruh kembali di tempat semula. Tiba-tiba ia terhuyung-huyung.

“Mari saya bantu!” Pak sarman berdiri menawarkan diri. Listya segera minggir sedikit, memberi ruang kepada Pak Sarman untuk meletakkan tasnya, tapi masih tetap berdiri.

“Terima kasih!” kata Listya, lagi-lagi dengan mengulum senyum. Kemudian keduanya duduk kembali.

Listya Lestari memandang keluar jendela. Yang dilihatnya hanya pemandangan perbukitan dan sawah.

“Sudah sore,” katanya dalam hati. Kemudian ia melirik jam di tangannya.

Sepasang suami istri di jok depannya, beserta anaknya itu, telah bersiap-siap untuk turun. Barang-barang bawaanya, satu tas yang berukuran cukup besar, satu lagi berukuran sedang dan satu kardus mereka turunkan. Agak kerepotan. Listya turut membantu menurunkannya.

Kereta api memasuki Stasiun Purwekerto, semakin lambat melaju. Dalam hitungan detik, kereta akan benar-benar berhenti.

“Mari, Dik, Pak, saya duluan!” bapak-ibu itu beranjak dari kursi. Listya Lestari dan pak Sarman mempersilakan

Bapak-ibu itu berjalan tergopoh-gopoh membawa barang bawaannya. Bapak-ibu itu berjalan merayap pelan, berhimpitan dengan penumpang lain yang hendak keluar, ditambah dengan lalu-lalang pedagang asongan yang menjajakan barang dagangannya. Menambah sesak saja.

“Gorengannya, Bu!” kata Listya Lestari kepada seorang ibu penjual gorengan yang lewat di depannya. Listya membeli beberapa gorengan dan lontong. Tampaknya ia lapar. Bayangkan, selama kurang lebih perjalanan sembilan jam, yang masuk ke perutnya cuma air mineral. Makanan terakhir yang masuk ke perutnya hanyalah sarapan pagi, sebelum berangkat tadi. Untuk mengalau laparnya, selama perjalanan, ia lebih memilih banyak tidur, meski dengan segala ketidaknyamanan. Namanya juga kereta api ekonomi. Lebih baik menahan lapar, ketimbang makan teratur seperti biasa, terus perut moncrot-moncrot, seperti yang pernah terjadi sebelumnya.

“Berapa, Bu?” kata Listya Lestari yang kemudian dijawab oleh ibu penjual gorengan tadi, dengan menyebutkan sejumlah nominal. Listya Lestari merogoh saku bajunya, meraba-raba. “Kok, nggak ada,” hatinya berbisik, bingung, dompet yang dicarinya tidak ada. “Celaka!” sebentar ia sedikit berpikir, ke mana gerangan dompetnya itu.

Ups! Ternyata dia lupa, kalau semua barang bawaan miliknya, termasuk barang-barang titipan ibunya, ia masukan ke dalam tasnya. Ia menghela napas, lega. Ia segera berdiri mengambil tasnya, membuka dan mengambil dompetnya.

Listya Lestari menawarkan kepada Pak Sarman, gorengan yang dibelinya tadi. Pak Sarman menolak dengan sangat halus, sambil mengucapkan terima kasih. Kebetulan. Sebenarnya ia pun hanya basa-basi saja. Ia memang kelaparan.

“Itu tas kamu?” Listya mengiyakan pertanyaan basa-basi dari Pak Sarman.

“Hati-hati saja. Banyak yang suka ambil kesempatan pada saat seperti ini. Mereka pura-pura sebagai penumpang atau pedagang, padahal mereka sedang mengincar barang-barang para penumpang,” Pak Sarman menasihati.

Listya memperhatikan omongan Pak Sarman sambil mengernyitkan keningnya. Sementara mulutnya asyik mengunyah gorengan. Hatinya berbicara sendiri, seharusnya ia tidak perlu menerima nasihat baik semacam itu. Dirinya sudah pengalaman. Ia tahu kapan saat-saat pencopet beraksi, dan kapan ia harus waspada, kapan juga harus membenamkan diri dalam tidur lelah.

Telah satu jam lebih kereta bertolak dari Stasiun Purwekerto. Kursi di depan Listya yang sebelumnya di tempati oleh ibu-bapak beserta satu anaknya, kini telah diduduki oleh seorang pemuda berjaket dan bertopi. Kedua telingannya tersumbat earphone walkman. Sementara, di luar, gelap malam dan udara dingin beriringan turun menyelimuti bumi. Udara dingin itu genit menggoda Listya Lestari. Ia menutup jendela bagian atas yang terbuka.

Listya Lestari, Pak Sarman hanya terdiam tak berbicara. Tidak ada selera lagi untuk ngobrol. Sedangkan si pemuda masih menikmati lagu dari walkman-nya itu. Lampu neon yang sepertinya telah lama tidak di ganti dan sarangnya sudah pecah, setia memancarkan sinarnya yang redup. Beberapa penjual asongan dengan suaranya yang khas, berlalu-lalu lalang menjajakan dagangannya.

Wajah Listya Lestari semakin kusut berminyak, karena berjam-jam tidak tersentuh air. Sudah berkali-kali ia membersihkan mukanya dengan tisu. Tidak tampak lagi wajah periangnya. Perjalanan yang kira-kira tinggal dua jam lagi itu, ia rasakan lama sekali. Semakin ditunggu, semakin dirasakan lama saja.

Wajah periangnya semakin tidak terlihat, ketika ia kembali diserang kantuk. Sebelum ia benar-benar membenamkan sadarnya dalam tidur, ia masih sempat melirik jam tangannya. Ia mendengus. Kemudian menyandarkan kepalanya. Agak miring ke kanan. Sementara Pak Sarman masih diam tenang, tapi tidak tidur.

“Heh, bangun, bangun! Sudah sampai. Ini stasiun terakhir. Ayo bangun! Mau dibersihkan!” suara keras dan kasar tukang sapu kereta kontan mengagetkan Listya. Ia terbangun, kemudian mengucek-ucek kedua matanya. Wajahnya kusut sekali.

“Sudah sampai. Ayo minggir, mau disapu!!!” tukang sapu itu meyakinkan.

Listya Lestari mencoba beradaptasi. Ia melihat ke sekelilingnya. Kosong. Semua penumpang sudah turun. Tinggal dirinya. Setelah merasa sadar betul, ia berdiri hendak mengambil tas ransel ukuran sedangnya.

“Lho, Nggak ada! Ke mana?!” hatinya berbisik. Wajahnya menampakkan raut orang bingung. Ia mencoba mencari tasnya di bawah kursi, siapa tahu jatuh. Tidak ada juga! Ia semakin bingung.

“Mas, mas! Lihat tas saya nggak?” Listya bertanya kepada tukang sapu yang tadi membangunkannya. Dengan tetap menyapu dan tidak menengokkan wajahnya kepada siapa yang bertanya, cuek, tukang sapu tersebut menjawab tidak tahu.

“Pasti, pasti! Pasti dia! Kurang ajar!”

Listya Lestari segera beranjak dari tempat duduknya. Dengan setengah berlari, ia berjalan menuju ke arah tukang sapu kereta itu. Hampir saja ia menabraknya.

Setelah keluar dari gerbong kereta nomor tiga, Listya Lestari melayangkan pandangannya ke segala arah, mencoba menemukan sosok yang paling dicarinya. Ia berjalan ke sana ke mari, namun sosok yang paling dicarinya itu tidak ada. Kalut, bingung, dan linglung.

Ia duduk di kursi plastik khas statisun. Rasa pegalnya yang sedar tadi tertimbun kebingungan, tiba-tiba mencuat di sendi-sendi tubuhnya.

Ia tidak tahu, harus bagaimana untuk mendapatkan kembali tasnya. Tas itu berisi barang-barang titipan ibunya, ponsel, beberapa baju, dompet kulit beserta tetek bengek isinya, serta barang-barang bawaan lainnya. Yang tersisa dari dirinya hanya jam tangan dan selembar uang sepuluh ribu dan lima ribu, sisa dari pembelian gorengan dan tempe serta air mineral. Ia belum memikirkan, apa yang akan ia katakan pada ibunya soal titipannya itu.

Jam dinding di Staisun Tugu menunjukkan pukul 21.15 WIB. Listya Lestari masih melamun bertopang dagu. Pandangan kosong matanya membentur kereta api eksekutif warna putih dengan dua strip warna biru dan kuning emas di sampingnya, dan berkaca jendela ray band. Tiba-tiba dadanya terasa sesak.

Udara malam Stasiun Tugu yang dingin menerpa seluruh tubuhnya. Ia tidak peduli. Ia pun tidak mempedulikan orang-orang yang berlalu-lalang di depannya, sebagaimana mereka pun tidak peduli dengannya.

Listya Lestari menyudahi lamunannya. Ia menegakkan badan yang sedari tadi membungkuk, kemudian menyandarkannya di sandaran kursi plastik. Matanya yang memang sudah sipit, ia sipitkan lagi. Bibir tipisnya ia katupkan, sambil menarik nafas panjang kemudian sedikit menahannya. Keduanya tangannya ia kepalkan.

“Uedddan sialan!!!”

Advertisements

Doa

3 November 2008 § 1 Comment


Namanya Ayu. Nama lengkapnya Citra Ayu. Jika ada yang mengatakan, al-ismu ghair al-musamma, nama tak mencitrakan sosok, maka salah besar jika itu disandarkan kepada gadis pesona itu. Al-ismu huwa al-musamma, nama menunjukkan citra diri, ungkapan itulah yang sesuai untuknya. Sungguh, ia memang pantas menyandang nama “Ayu”. ia memang cantik, ayu. Sumpah! Sedikit aku pamerkan unsur-unsur kecantikannya: wajahnya oval berujung pada dagu yang lancip, matanya agak belo tapi sayu dengan bulu mata lentik alami, alisnya hitam pekat membentang indah, bibirnya merekah merah alami. Meski tak bangir-bangir amat hidungnya merupakan komposisi proporsional yang menjadi bagian sempurna kecantikannya, bulu-bulu sangat halus di atas bibir tapi bukan kumis, wajahnya putih bersih tak berjerawat. Ah, bikin bergairah saja. Atas kelebihan-kelebihan fisik pada dirinya itu, orang yang paling berbahagia tentu saja aku. Karena Citra Ayu adalah kekasihku. Sekali lagi, ke ka sih ku! Jadi, untuk semua laki-laki jangan lagi bermimpi bahkan untuk sekedar berharap bisa dekat. Atau harus berhadapan denganku.

Seandainya ia istriku, aku akan memintanya menjilbabi semua keindahan itu. Hanya aku lelaki yang boleh menikmatinya.

Sesungguhnya kehadiran Citra Ayu di sisiku bukan pada saat tepat ketika aku sedang menggebu ingin memadu kasih. Masa itu telah berlalu. Jauh sebelum mendapat anugerah indah itu, aku memang pernah berdoa kepada Tuhan, minta didatangkan seorang kekasih. Alasanya sepele: iri dengan teman-teman, iri setiap jalan ke kampus melihat teman-teman yang sudah punya pacar. Tidak main-main aku berdoa. Aku menyampaikannya kepada Tuhan lima kali sehari, selepas sembayang. Bahkan sembayang dhuha pun terkadang aku jalani. Sebab, bagiku kekasih adalah rezeki. Sampai akhirnya aku capek berdoa.

Kini, di sisiku telah ada seorang Citra Ayu. Ah, Tuhan, bisa saja Kau membuat kejutan. Terus terang, Ayu melebihi espektasiku. Aku mengharap yang cantik, tapi Ayu ini bukan hanya cantik, tapi cuuuwantik sekali, orang Jawa bilang. Dan, Ayu tak perlu merasa kecantikannya terbuang percuma dengan menjadi kekasihku. Ia cantik, toh aku juga tampan. Impas, bukan?!

Hari-hari kulalui bersama Citra Ayu. Kesana kemari tentengan bareng dengan hati berbunga-bunga. Indah. Aku masih hanya ingin menikmati “bulan madu” berpacaran, tak mau berpikir soal lain, termasuk soal umurnya yang lebih tua dariku. Padahal jika dipikir ke depan, kemungkinan aku mengalami patah hati seharusnya mendapatkan pertimbangan. Bagaimana tidak, aku dan Ayu telah berada pada usia matang untuk menikah. Semestinya, aku berpikir, pada usia Ayu sekarang ini, posisi tawarnya kian melemah, apalagi di hadapan orang tuanya yang mungkin berharap agar ia segera menikah. Dan aku sendiri juga tak punya posisi tawar tinggi, baik di hadapan Ayu atau pun orang tuanya. Yang aku punya hanya wajah tampanku dan kasih sayangku kepadanya. Selebihnya aku adalah lelaki yang belum siap menikah. Artinya, Ayu tak bisa mengelak jika tiba-tiba ia dijodohkan oleh orang tuanya dengan lak-laki mapan. Maka, aku hanya akan pasrah dan siap-siap patah hati saja jika itu benar-benar terjadi.

Halllah, persetan dengan semua itu! Masa bodoh dengan kemungkinan-kemungkinan! Yang penting, saat ini, aku jatuh hati kepada Ayu, dan ia pun kesengsem kepadaku, kemudian sepakat pacaran. Titik! Jadi, jalani dan nikmati saja itu.

Yang aku tak tahu sebelumnya tentang Ayu dan baru aku ketahui kemudian adalah ia mengidap vertigo. Aku terguncang hebat. Bagaimana tidak, ibarat sedang enak-enaknya menikmati es campur di tengah terik yang mencekik, tiba-tiba tersedak. Belum juga lama menikmati indahnya berpacaran, sudah dihadapkan pada kenyataan tak enak. Sudah terhitung dua kali ia tiba-tiba ambruk tak sadarkan diri di hadapanku. Vertigonya kambuh jika ada suara-suara keras atau memikirkan hal-hal berat. Biasanya, ia akan tak sadarkan diri selama lima sampai sepuluh menit (jika parah, bisa lebih lama dari itu), yang diawali dengan pandangannya yang kabur, kemudian merasakan seolah-olah bumi yang diinjaknya berguncang dan beputar, menghilangkan keseimbangan tubuhnya, dan ambruklah ia.

Sungguh, penyakitnya itu benar-benar menghilangkan selera berpacaranku. Cantik-catik, kok, vertigo. Aku jadi jarang mengajaknya kencan, dan dengan seribu satu alasan yang sangat halus, terutama alasan vertigonya, aku sering menolak jika ia mengajakku jalan-jalan jauh. Bayangkan saja, jika tiba-tiba vertigonya kambuh saat sedang boncengan di atas motor, kumat di atas kendaraan umum, atau saat sedang di bioskop. Alih-alih hendak menikamti kencan, justeru kerepotan yang bakal terjadi. Pun jika mau diajak jalan, aku hanya mau yang dekat-dekat dan itu pun dengan perasaan was-was, jika tiba-tiba ia ambruk.

Duh, Gusti, aku memang pernah meminta kepada-Mu seorang kekasih. Dan Kau memang mengejawantahkannya – meski agak tertunda – dengan sosok Citra Ayu itu. Dengan kelebihan-kelebihan fisik yang terpatri padanya, mataku memang terpesona, terkesan. Namun, dengan vertigo yang juga tertanam di kepalanya, jiwaku jadi tak dapat menikmati segala pesona dirinya. Jiwaku mati hasrat kepadanya. Nikmat berpacaranku sungguh mati tercerabut. Pikiranku kalut. Diaaamput!

Namun, aku tetap berusaha sama sekali tak menampakkan kegalauan jiwaku di hadapannya. Fisikku memang selalu menjaganya, meski jiwa ini berduka. Dan sesungguhnya dukaku tidak untuknya. Aku berduka untuk diriku sendiri. Aku menjaganya bukan karena ketulusan seorang kekasih yang menjaga kekasihnya. Aku menjaganya hanya karena aku tak mau disebut pecundang. Aku tak mau disebut sebagai kawan Ayu saat suka, namun lari saat ia berduka. Aku menjaganya cuma ingin menyelamatkan harga diriku bahwa aku adalah kekasih yang baik. Dalam hatiku, aku memaki diriku sendiri. Pecundang munafik sialan! Melengkapi kepecundanganku, sempat aku berpikir untuk meninggalkannya.

Di sisi lain hatiku, aku berapologi bahwa kepecundanganku adalah kewajaran. Itu adalah respon sepontan sementara seorang yang terguncang, bukan hasil pemikiran jernih. Aku hanya perlu menenangkan dan membiasakan diri dengan kondisi tak ideal itu. Kusampaikan pada Tuhan, jika Citra Ayu, dengan segenap kelebihan dan kekurangannya – terutama vertigonya – adalah kekasih sebagai pengejawantahan doaku dulu, berilah kekuatan kepadaku untuk bertahan menjaganya, atau sekalian lenyapkan saja vertigonya. Jika tidak demikian, Tuhan, Kau pasti tahu mesti berbuat apa. Tak perlu aku mendikte-Mu. Aku benar-benar ingin seperti pasangan kekasih lainnya. Kencan, jalan berdua tanpa beban, tanpa was-was. Aku sampaikan itu setiap kali lepas sembayang.

Benar, aku hanya perlu tenang dan membiasakan diri.

Suatu sore selepas ashar, aku dikabari oleh teman satu kontrakan Ayu, vertigo Ayu kambuh. Aku diminta segera datang. Kabar seperti itu akhirnya menjadi biasa bagiku. Aku menjadi lebih tenang jika tiba-tiba dia kambuh. Paling juga seperti biasa, ia akan tak sadarkan diri untuk beberapa menit, tinggal ditunggu saja sambil diolesi minyak kayu putih di hidungnya. Nanti juga sadar sendiri.

Tapi tidak kali ini. Awalnya memang gejala vertigo. Kurang lebih dua puluh menit Ayu tak sadarkan diri. Ia tersadar dengan berteriak sangat keras. Keanehan-keanehan terjadi. Matanya mendelik. Bayangkan sendiri, sudah belo, mendelik pula. Memandangi orang-orang yang mengerubunginya. Sebagian ketakutan. Mulutnya nyerocos tak karuan. Raganya memang Ayu, tapi jiwanya entah siapa. Setelah itu ia kembali lunglai, pingsan. Lalu tersadar. Kali ini dengan jiwa Ayu sesungguhnya. Ia terlihat kelelahan. Aku dan Ayu hanya saling memandang. Ayu memandangiku dengan sorotan lemah. Dan aku memandangi wajah layunya dengan penuh haru dan iba. Tanpa kata-kata, tapi jelas mengatakan sesuatu. Ketika bulir air mata keluar dari pojok matanya, hatiku yang menangis. Ketika raganya begitu tak berdaya, jiwaku yang terluka. Sungguh, itu adalah pandangan kasih sayang terdalam dan terdahsyat yang pernah kurasakan sepanjang hidup. Oh, Tuhan. Aku dan Ayu saling bergenggaman tangan kiri. Sementara tangan kananku membelai rambutnya. Sekali-kali kuseka pipinya yang basah oleh air mata, juga keningnya yang berkeringat. Kasihan aku melihatnya. Itu hanya beberapa saat, sebab setelah itu ia kembali pingsan. Kemudian terbangun, tapi bukan dengan jiwa Ayu, juga bukan jiwa yang tadi, tapi jiwa lain. Kali ini kemayu, genit, cukup tenang, bahkan bisa diajak berkomunikasi, tidak seperti jiwa sebelumnya yang cenderung liar. Sungguh, kali ini, ia tampak seperti sepuluh kali lipat lebih cantik dari biasanya. Entah jiwa apa yang merasukinya, tapi aku dapat memastikan, ia kesurupan. Kurang lebih empat jam raga Ayu seperti menjadi permainan jiwa-jiwa lain itu.

Aku pulang ke kontrakanku dengan perasaan campur aduk antara kasihan terhadap Ayu, juga terhadap diri sendiri, bingung, takut, khawatir, juga lega karena telah melewati masa-masa yang aneh malam itu.

Hari demi hari, minggu demi minggu berjalan tidak seperti yang kupikirkan. Ketika aku telah berusaha tenang dan membiasakan diri dengan Ayu dan vertigonya, kenapa keadaan malah lebih buruk. Apakah kali ini aku juga harus tenang dan membiasakan diri dengan kondisi yang lebih buruk itu? Aku tak yakin dapat menjalaninya. Kondisi sebelumnya saja sudah sedemikian rupa menyita pikiran dan perasaan. Gusti Pangeran, pandai benar Kau mempermainkan emosiku.

Aku dan Ayu menjalani pacaran tidak selayaknya dua orang kekasih. Entah perasaanku sendiri atau apa, aku seperti penjaga yang selalu khawatir dan was-was dengan yang dijaganya. Aku harus selalu siap, jika tiba-tiba vertigo Ayu kambuh, kemudian raganya menjadi tumpangan jiwa-jiwa lain.

Kesurupan jin. Aku tidak terlalu asing dengan itu. Dulu, saat nyantren di Jombang, teman-temanku bahkan kerap bermain-main dengan jin, menjadikan dirinya sebagai medium untuk dirasuki jin dalam rangka mengamalkan ilmu-ilmu supranatural sebagai uji kesaktian.

Tapi, yang terjadi pada Ayu ini sama sekali lain. Bukan permainan yang bisa diatur semaunya, tapi justeru Ayu, maksudnya, raganya yang seolah diatur, dipermainkan. Tidak hanya berbahaya bagi diri Ayu, baik untuk kesehatan fisik dan atau mentalnya (syaraf otaknya), tapi juga mengancam masa depan hubunganku dengannya. Betapa pun, bersama Ayu, aku masih punya keinginan menjadi pasangan kekasih yang normal. Dengan semangat itu, aku bujuk dia agar mau berobat ke orang pintar. Sebab, pokok dari semua yang menimpa Ayu sama sekali tidak berkaitan dengan medis. Tak tanggung-tanggung, aku ajak dia ke Jombang. Sebenarnya, itu atas usulan seorang teman di sana yang turut bersimpati dan merelakan rumahnya menjadi tempat tinggal selama Ayu menjalani pengobatan. Aku tahu, di sana banyak orang pintar dan sakti.

Di Jombang, Ayu bahkan harus ditangani oleh dua orang pintar. Orang pertama memang tidak berhasil menyembuhkan Ayu secara total, dan menyerah pada hari ketiga, tapi meninggalkan pesan, yang terjadi pada Ayu hanyalah beluk (asap). Setiap ada beluk, pasti ada api. Ia tidak bisa menemukan api yang dimaksud. Ah, aku sama sekali tidak paham maksudnya. Dan nanti malam adalah malam ketujuh, atau kali keempat untuk orang pintar kedua yang menangani Ayu.

Tapi pada malam itu tidak ada pengobatan sebagaimana malam-malam sebelumnya. Aku dan Ayu, juga segenap keluarga si kawan diminta berkumpul.

“Mba Ayu, Mas Danang,” kata si orang pintar meminta perhatian, “ada dua jin yang nggandol sama Mba Ayu. Yang pertama namanya Ki Gandheng, dan yang kedua Rokibah. Ki Gandheng nggandol di pundaknya. ia pengawal Rokibah. Sedangkan Rokibah sendiri bersenyawa di sekujur wajah Ayu.” Aku tidak bisa menalar semua itu. Ah, bisa dinalar atau tidak, percaya atau tidak, wis, pokoknya dengarkan sajalah.

“Tiga malam berturut-turut kemarin, saya dengan dua jin itu, terutama Ki Gandheng, bertempur. Ia cukup kuat. Ia tidak bisa disingkirkan. Tapi saya berhasil membujuknya. Kami berkompromi. Ia dan Rokibah mau dipindahkan dari raga Ayu dengan satu syarat.”

“Apa itu?”

“Ki Gandheng dan Rokibah hanya mau pindah ke tempat sebelumnya. Jika sudah pindah, maka Ayu hanya perlu mendapatkan penanganan medis untuk vertigonya.”

Ini berita baik buatku, juga buat Ayu.

“Syukurlah. Dan kalau memang bisa dipindahkan secepatnya, ya lebih baik.”

“Tapi saya perlu izin dari sampean dulu, Mas Danang.”

“Aku? Apa kaitannya denganku?”

“Soal tempat dua jin itu.”

“Tempat? Memang sebelumnya tinggal di mana?”

“Bukan “di mana”, tapi “siapa.”

“Iya, siapa?”

“Sampean.”

“Aku???!!!”

“Ya, sampean. Jin-jin yang nggandoli Ayu adalah jin-jin yang sebelumnya sudah lama, telah bertahun-tahun nggandol di pundak sampean.”

Aku merasakan sendi-sendi tubuhku seperti mlocoti. Tubuhku seperti tak bertenaga. Pikiranku kosong untuk beberapa detik.

“Lalu, kenapa jin-jin itu pindah ke raga Ayu? Apa hubungannya dengan Ayu?”

“Cemburu. Si Rokibah cemburu. Ia tidak ingin sampean dimiliki Ayu, atau memiliki Ayu, atau perempuan mana pun. Ia pindah ke raga Ayu karena ingin menyakiti Ayu, membuat Ayu gila. Ayu dianggap merebut sampean darinya. Dan sampean dianggap mengkhianati doa sampean sendiri.”

Mataku berkunang-kunang. Bumi ini seperti berguncang hebat. Kurasakan tubuhku tak bertenaga. Lalu, gelap.[jr]

Ciputat, 2 November 2008

Kepada Yth. Saudaraku, Anjing

15 September 2008 § 4 Comments


Warga di kampung saya memiliki riwayat buruk soal perlakuan terhadap mahluk Tuhan yang satu ini; anjing. Nol toleransi hukumnya jika ada anjing masuk ke kampung. Jika tetap saja ada yang masuk, maka siap-siap saja, warga bakal memburunya berramai-ramai sampai tertangkap atau terusir jauh dari kampung. Suatu ketika, saat saya masih kecil, di pagi hari, tersiar kabar, ada anjing dari luar kampung yang numpang melahirkan di salah satu rumah kosong. Sejurus, warga bergegas menuju rumah kosong itu untuk mengecek kebenarannya. Benar saja, ada beberapa ekor anak anjing yang sepertinya baru beberapa jam keluar dari rahim induknya. Sedangkan si induk telah kabur entah kemana. Oleh ustad yang dituakan, warga diminta memburu si induk, dan si ustad sendiri akan “membereskan” anak-anak kirik itu. Si induk tak tertangkap, namun terusir jauh, dan nasib mengenaskan siap menimpa anak-anaknya yang masih lemah untuk sekedar menggonggong: dibungkus karung kemudian dikubur hidup-hidup.

Oleh karenanya, jika warga kampung jauh ingin “menernakkan” anjing-anjingnya di hutan sebelah, yang mengharuskan melewati kampung saya, mereka akan melakukannya pada dini hari, saat warga telah lelap tertidur. Barangkali para peternak anjing tahu, warga kampung itu memiliki hubungan tak harmonis dengan anjing.

Entah latar sejarah apa sehingga warga memiliki kebencian mendalam terhadap anjing. Padahal, interaksi warga dengan anjing hampir tidak pernah terjadi. Artinya, tidak ada warga yang pernah memelihara anjing, apalagi preseden soal anjing menimbulkan kerugian, keresahan, atau juga membawa keuntungan. Lalu, kenapa mereka membenci anjing?

Dugaan saya, kebencian itu lahir dari interpretasi berlebihan tentang santiaji bahwa anjing itu najis, jilatan air liurnya harus dibasuh tujuh kali, salah satunya dengan tanah, dus status kemahlukannya yang sebagai hewan. Anjing, sudah “hewan”, “najis” pula! “Kehormatan” apa pula yang ia dapatkan dalam hidup. Jika Kau menghendakinya hidup, terserah. Tak apa juga dibunuh, jika Kau benci. Barangkali interpretasi liar semacam itu yang mendorong warga memberlakukan nol toleransi untuk anjing.

Masih di kampung saya, meski sayup-sayup, saya juga pernah mendengar, sebaiknya cicak dibunuh. Sebab, ia dianggap simbol pengkhianat. Beredar pada mereka, konon ceritanya, saat Rasul bersembunyi di Gua Hira menghindar dari kejaran orang-orang jahiliyah Makkah, cicak di mulut gua, dengan decakannya, “menginformasikan” kepada orang-orang itu, bahwa Rasul ada di dalam gua. Namun orang-orang itu dikelabui oleh jaring rumah laba-laba yang menutup mulut gua. Mereka menduga, mana mugkin ada orang yang masuk ke gua itu, sementara rumah laba-laba itu tidak rusak. Pikir warga, cicak, sudah “hewan”, “pengkhianat” pula.

“Hewan” dalam budaya komunikasi jalang adalah kategori paling nonjok (selain kategori alat kelamin) untuk mengekspresikan kekesalan, makian, cacian, hinaan. Bagi sebagian orang, meneriakkan “bangke!”, “anjing!”, “asu!”, “kirik!”, “babi!”, “monyet!”, “kunyuk!” dan cacian hewani lainnya, bisa meringankan dan melegakan jiwa dari kekesalan dan kemangkelan.

Entah kenapa, mahluk Tuhan berkategori “hewan” acap kali menjadi simbol kehinaan. Sewenang-wenang saja nama hewan diperalat untuk hinaan, makian, dan cacian, seolah mengasumsikan, hewan pada dasarnya adalah mahluk hina. Manusia memang kerap egois. Melihat sosok lain dari dan dengan sudut pandangnya sendiri. Dalam pikiran manusia, hewan hina karena ia bukan manusia, yang dianugerahi akal untuk berpikir. Manusia diciptakan sempurna, maka hewan adalah mahluk tidak sempurna. Manusia mahluk tahu malu, maka hewan adalah mahluk tak tahu malu, yang berak, kencing, dan bercumbu di sembarang tempat. Manusia begini, maka hewan begitu. Manusia seperti ini, maka hewan seperti itu.

Adalah fakta, manusia tidak seperti hewan. Jika anjing dan babi adalah najis, haram, maka itu juga fakta. Manusia dan hewan memang berbeda dari sisi rumusan teologis dan biologis, meski sama-sama mahluk. Namun, kurang arif, jika manusia dan hewan didudukkan di bawah satu tenda kemahlukan, kemudian perbedaan-perbedaan keduanya dikonfrontasikan. Setiap mahluk telah sempurna dengan kondisinya masing-masing, sebagai sesuatu yang diciptakan Tuhan tanpa kesia-siaan sama sekali. Tuhan tidak akan menyesal telah menciptakan anjing, babi, dan monyet dengan keunikan masing-masing, hanya karena manusia mengkonfrontir jati dirinya dirinya dengan jati diri hewan-hewan itu (atau hewan-hewan lainnya), kemudian menjumpai dirinya lebih sempurna, lebih terhormat, dan berhak meng-apa-apa-kan hewan-hewan itu, termasuk menjadikannya sebagai simbol kehinaan.

Di bawah tenda kemahlukan, sebenarnya tidak ada kategori manusia dan hewan, tapi hanya ada satu kategori, yaitu hewan. Perhatikan saja ungkapan populer dalam ilmu balaghah ini: al-insan hayawan natiq. Pada dasarnya manusia hanyalah hewan. Namun, karena diberi tanggung jawab dan kewajiban tambahan, ia dibekali software tambahan pula, berupa akal. Kemudian raga yang berakal itu disebut manusia. Lihatlah, manusia diafiliasikan kepada hewan. Akal yang dimiliki manusia bukanlah keistimewaan. Ia hanyalah piranti pendukung pelaksanaan tanggung jawab dan kewajiban.

Menurut saya, memandang isi dunia dalam bingkai kemahlukan, adalah cara pandang paling baik, paling arif, paling universal, sekaligus memiliki kedalaman spiritual..

Jika kepada orang yang satu iman, panggilah kepadanya “yang terhormat saudara atas nama iman”. Kepada manusia yang berbeda keimanan, panggilah kepadanya, “yang terhormat saudara atas nama kemanusiaan”. Kepada anjing, babi, monyet, yang tidak memiliki “keimanan”, dan “kemanusiaan”, panggilah kepadanya, “yang terhormat saudara atas nama mahluk”. Tidak ada celah bagi kita, hidup di dunia, untuk tak saling menghormati. Salahkah menghormati anjing atas nama mahluk?!

Ketika tenda “keimanan” dan “kemanusiaan” tidak cukup lebar memayungi semua yang berada di luar definisi kata itu, maka “mahluk” adalah tenda terbesar, bukan hanya memayungi semua yang berada di luar definisi “keimanan” dan “kemanusiaan”, tapi juga memayungi “keimanan” dan “kemanusiaan” itu sendiri.

Adakah yang tak terrangkum dalam kata “mahluk”? Tidak ada, kecuali Tuhan. Sebab, selain Tuhan adalah mahluk. Dan atas nama mahluk, “kita” adalah saudara.

Fragmen Hamba Tak Berkualitas

7 September 2008 § Leave a comment


Keluar dari pesantren, semakin lama sepertinya saya semakin jauh saja dari masjid/mushalla (dalam arti yang sebenarnya), dan hal-hal yang berkaitan dengannya. Saat di pesantren, kehidupan seperti dekat dan melekat dengan masjid. Keluar dari pesantren dan menghuni rumah kost, lebih dari setahun pertama, otomomatis kedekatan itu merenggang, meski masih beruntung, hanya dibutuhkan beberapa langkah saja untuk ke mushalla. Jamaah untuk salat-salat tertentu masih menjadi hal mudah. Kini, setahun selanjutnya, di kost yang berbeda, mushalla benar-benar jauh. Butuh beberapa ratus langkah untuk menuju ke sana. Sudah beberapa bulan ini, ibarat kate, dari lima waktu salat, enam di antaranya tidak jamaah. Salat jamaah menjadi hal sangat istimewa bagi saya saat ini, apalagi di “masjid”. Gusti, Gusti! Semaputlah aku, jika arti “pemuda yang hatinya selalu terpaut dengan masjid” adalah orang-orang yang rajin salat di masjid. Sebab, saat ini saya hampir tak pernah melakukannya, kecuali untuk salat jumat.

Maka, pada Ramadan pertama, ketika orang-orang ramai berduyun ke masjid dan mushalla untuk melaksanakan tarawih, jasad ini hanya terpaku di kost. Di antara sayup-sayup lantunan Alquran imam salat di mushalla nun jauh di sana, saya hanya bisa mengasihani diri sendiri, sambil nonton race GP dan pertandingan Serie A Liga Italia antara Milan dan Bologna, di Trans7.

Ya, sudah. Tak apa. Nanti bisa tarawih sendiri. Dilihat dari kalkulasi pahala, jelas saya telah kehilangan beberapa di antaranya. Pahala melangkah ke “rumah Allah”. Pahala salat jamaah. Pahala menahan kegondokan nafsu. Inilah salah satu “kegondokan” salat tarawih di masjid; tidak bisa mengatur sendiri bilangan rakaat sesuai kehendak hati. Jika mushalla tersebut penganut tarawih duapuluh rakaat plus witir tiga rakaat, ya sudah ikuti saja jumlah itu. Jika delapan rakaat plus tiga, ya sudah ikuti saja jumlah yang ada. Nah, bukankah dihitung “uang lelah”, jika kegondokan nafsu yang menginginkan salat seringkas dan secepatnya terpatahkan oleh aturan mushalla yang menerapkan bilangan rakaat yang baku. Al-ajru bi qadr al-ta’ab. Besar kecilnya pahala dihitung dari tingkat “kelelahan” yang terjadi atau yang dirasakan, lahir dan batin.

Anda boleh mengkalkulasikan pahala untuk kasus ini; Anda berangkat ke masjid untuk salat tarawih dengan kelelahan dan konflik lahir batin yang hebat. Ngantuk dan kemalasan luar biasa menyerang akibat terlalu banyak makanan yang disantap saat berbuka. Adalah anugerah besar jika pada kondisi seperti itu Anda tetap masih bisa melangkahkan kaki menuju masjid cukup jauh yang menganut tarawih duapuluh rakaat plus witir tiga rakaat, mengalahkan kengantukan dan kemalasan diri.

Tapi, ritual individual semacam salat atau puasa Ramadan, jika dilaksanakan secara massal, memang membangkitkan spirit dan memberikan kondisi tersendiri. Hampir selalu bisa mengikuti jumlah rakaat yang ditentukan. Jika “jiwa malas” ini ingin berhenti pada rakaat keenam salat tarawih, seluruh jamaah seperti mengatakan kepada saya, “Ayo teruskan salatnya. Jangan berhenti.”

Jika salat tarawih di mushalla yang menganut sebelas rakaat termasuk witir, di akhir salat, di dalam hati saya bilang; “Cukup” atau “alhamdulillah!” menunjukkan syukur, maka untuk yang duapuluh tiga rakaat, saya akan bilang, “cukup! Cukup!” atau “akhirnya!” menandakan kelegaan. Lalu kita pun mengira-ngira, pada salat tarawih yang dilaksanakan dua kali (seperti di Masjid Istiqlal atau Masjid UIN Jakarta), kenapa para jamaah pada berbubaran pada rakaat ke sebelas (delapan rakaat tarawih plus tiga rakaat witir), dan hanya menyisakan satu shaf saja yang bersedia tuntas sampai rakaat keduapuluh tiga? Beberapa kemungkinan bisa dikemukakan. Mungkin mereka yang bubar pada rakaat kesebelas adalah orang-orang Muhammadiyah, karena rumusan argumentasinya memang demikian, dan sisanya adalah orang NU. Atau orang-orang NU yang kebetulan ada keperluan mendesak pada rakaat itu, atau mungkin kentut, atau mungkin merasa terlalu banyak untuk meyelesaikan duapuluh tiga rakaat. Atau probabilitas masuk akal lainya.

Tapi, apa pun, dilihat dari kuantitas, salat tarawih berjamaah sebelas atau duapuluh tiga rakaat, adalah kondisi paling baik yang dipancarkan oleh salat jamaah, ketimbang salat tarawih sendirian, bagi saya. Sebab, tiap kali salat tarawih sendirian, seperti yang sudah-sudah, rakaat terbanyak adalah sembilan (delapan rakaat tarawih ditambah cukup satu witir). Rakaat favorit ya tujuh (enam rakaat tarawih plus satu witir). Meski pernah juga tarawih cuma empat rakaat. Batas jumlah rakaat salat tarawih sendirian adalah “kecenderungan”. Jika pada rakaat keenam saya merasa harus berhenti, saya sudahi salat itu. Bahkan jika pada rakaat keempat saya mesti sudahi, ya saya berhenti. Jika seperti ada kemudahan untuk menyentuh rakaat delapan, ya saya lakukan. Betapa sulitnya tarawih dua puluh rakaat jika salat sendirian. Saya mengikuti “fatwa hati”. Iftati qalbak. Mintalah fatwa pada hatimu. Jika hati bilang sudah, ya sudah. Jika bilang teruskan, ya dilanjut salatnya. Seperti tidak ada yang mengingatkan, tidak ada dorongan luar agar meneruskan salat pada rakaat selanjutnya.

Tapi untung saja, tidak ada aturan normatif yang valid soal jumlah rakaat tertentu untuk salat tarawih. Kanjeng Nabi tidak menekankan orientasi kuantitas angka dalam salat tarawih (pada masa Nabi tidak ada istilah “tarawih”, tapi yang ada adalah “qiyam ramadan”). Tapi yang menjadi perhatian adalah kualitas salat itu. Meski saya tak hendak mengatakan bahwa salat saya telah berkualitas. Tapi, paling tidak, berapapun rakaat salat tarawih yang saya kerjakan, tidak salah menurut aturan normatifnya, sebab ia memang tidak mengatur atau memberikan batasan tertentu. Dan jika saya melaksanakan salat tarawih dalam bilangan rakaat yang minimalis, tidak lantas menjadikan aturan normatif itu sebagai pembenar. Atau ketiadaan aturan normtif yang valid soal jumlah rakaat salat tarawih menjadi argumentasi pembenar salat tarawih saya yang minimalis. Tidak demikian. Itu hanya soal pilihan berdasarkan kecenderungan hati.

Duh, Gusti! Maafkan hamba-Mu yang tak berkualitas ini. Yang beragama masih pada ranah kognitif, masih sebatas “pengetahuan”, masih berorientasi kalkulasi pahala (jika pun berhak atas pahala, maka yang proporsional ya pahala minimalis) belum menyentuh aspek afektif, penghayatan sebagai hamba dan kesadaran akan kebijaksanaan-Mu.

Allahumma a’inni ‘alaa dzikrika wa syukrika wa husni ‘ibadatika.

Oleh karena itu, mohon kerja samanya, agar aku selalu eling kepada-Mu, bisa mengapresiasi kebijaksanaan-Mu, dan menjalin harmoni yang berkualitas dengan-Mu. Amin.

Baca tulisan terkait di link ini:

Jalan Sufisme; Sekilas Memoar Pengembaraan Imam Ghazali

14 August 2008 § 5 Comments


Setelah beberapa tahun lalu saya beruntung mendapatkan kitab al-Munqidz min al-Dhalal (Pengentas Kesesatan), meski berupa fotocopy-an dari buku asli seorang kawan (saya berusaha mendapatkan aslinya di toko-toko buku, namun tidak menemukan), baru beberapa hari terakhir ini seperti ada dorongan tersendiri untuk membukanya.

Al-Munqidz min al-Dhalal adalah karya Imam Ghazali yang ia tulis sebagai “memoar” pengembaraan intelektual dalam upaya menemukan titik-titik “keyakinan” dari bisik-bisik “keraguan”. “Memoar” itu ia maksudkan sebagai semacam motivasi untuk “para pencari”; mesti bersungguh-sungguh dan pantang berhenti untuk menemukan apa yang ia cari, sampai ia tidak tahu apa yang harus dicarinya lagi.

Pengembaraan intelektual Imam Ghazali bermula dari obsesinya mengetahui hakikat dari setiap sesuatu, dan itu mengharuskan adanya perangkat keilmuan yang ia sebut dengan “al-‘ilmu al-yaqini”; istilah abstrak untuk menyebut “seperangkat keilmuan yang mampu menyingkap hakikat sesuatu tanpa sisa-sisa keraguan dan kemungkinan kekeliruan”.

Ia melakukan pencarian. Dalam tempo itu, untuk beberapa lama, ia sempat terperangkap dalam masa “krisis intelektual”. Hatinya terjebak oleh “struktur intelektual” yang ia bangun sendiri dengan argumentasi yang kuat. Ia ingin berpaling dari struktur itu (ia sebut dengan kata tunjuk “dzalik al-maradh”), namun ia belum memiliki argumentasi tandingan untuk melawannya. Baginya, melepaskan diri dari argumentasi mesti dengan argumentasi yang lebih argumentatif. Demikian bisik idealismenya, saat itu.

Mulailah ia mencari “sandaran intelektual” yang mampu menghantarkannya kepada “al-ilmu al-yaqini” sekaligus menyembuhkannya dari “dzalik al-maradh”. Mula-mula ia bersandar pada “ilmu kalam” (teologi), membuka karya-karya para mutakallimun (para teolog), menelaah, merefleksikan tanggapan dan pandangannya dalam tulisan.

Dalam pandangan Imam Ghazali, ilmu kalam dibangun dalam rangka melestarikan kemurnian akidah ahlussunnah dan menjaganya dari tangan kotor pembid’ah (hifdzu ‘aqidah ahlissunnah wahirasatuha min tasywisyi ahlil al-bid’ah), yaitu akidah yang benar sesuai dengan indikasi Alquran dan hadis, yang memberikan maslahat duniawi dan ukhrawi. Dalam pengamatannya terhadap karya-karya ilmu kalam, tugas itu memang telah terlaksana. Hanya saja ia tidak puas dengan narasi-narasi para mutakallimun itu yang cenderung menelan mentah-mentah teks-teks Alquran dan hadis tanpa elaborasi yang cukup, bahkan bercorak taklid buta. Oleh karenanya, dari ilmu kalam itu, ia tidak mendapati jawaban-jawaban memuaskan bagi “krisis intelektual”nya.

Bagi Imam Ghazali, ilmu kalam hanyalah “obat” tertentu untuk “penyakit” tertentu. Sebagai obat, ia hanya dibutuhkan saat sakit. Sebagai obat tertentu, orang sakit bisa saja berhenti (atau tidak sama sekali) mengkonsumsinya jika terbukti tidak manjur, dan beralih ke obat lain. Ia sampai berujar,

“Dalam keyakinan pribadiku, ilmu kalam belum mencukupi. Untuk “penyakit” yang aku derita, ilmu kalam belum mampu mengobati” (falam yakun al-kalam fi haqqi kafiyan, wala lidaa i alladzi kuntu asykuhu syafiyan).

Ia abaikan ilmu kalam, meski tetap respek terhadap ilmu dan para mutakallimun itu, atas nilai positif yang dihasilkan darinya.

Lalu, ia melanjutkan pengembaraan intelektualnya. Kali ini ia jajaki “filsafat”. Selama di Baghdad, ia menyisihkan waktunya spesial untuk menelaah filsafat di sela-sela kewajiban mengajarkan “ilmu-ilmu syariat” kepada tiga ratus santrinya. Ia mempelajari dan menelaah filsafat hanya dari karya-karya terkait tanpa seorang guru. Kurang dari dua tahun itu ia telah menelaah hampir semua karya filsafat yang beredar pada masanya. Dan pada rentang satu tahun berikutnya ia hanya mengulang-merenungkan karya-karya filsafat tersebut. Sampai pada akhirnya ia berksesimpulan, karya-karya filsafat yang ia baca hanya berisi “keraguan-keraguan yang tak diragukan”.

Jika pada ilmu kalam, Imam Ghazali memposisikannya sebagai “obat alternatif” untuk penyakit tertentu, pada filsafat, ia mewajibkan “larangan terbatas” mempelajarinya, yaitu bagi orang-orang yang tidak memiliki kemapanan intelektual dan kapasitas keimanan yang memadai.

Setelah tak juga merasakan kenyamanan dalam pengembaraannya, ia merasa perlu beralih “kendaraan”. Dan kendaraan yang ia pilih adalah “Jalan Sufisme” (Thuruq al-Sufiyah) – salah satu kelompok “pencari” yang ada pada masanya, selain filsafat, ilmu kalam, dan “bathiniah”. “Thuruq al-Shufiyah” menjadi “subjudul teragung” (ajallu fashl) dari al-Munqidz min al-Dhalal, menjelaskan hakikat tasawuf yang menjadi kendaraan terakhirnya menemukan “keyakinan”. Berbeda dengan kendaraan sebelumnya (ilmu kalam dan filsafat) yang hanya berkonsentrasi pada aktifitas nalar sehingga cukup dengan menelaah, mengarang buku, dan atau berdebat, jalan sufisme mengkombinasikan nalar (‘ilmu) dan laku (‘amal).

Seperti pada pengembaraan-pengembaraan sebelumnya, ia memperoleh ‘ilmu jalan sufisme dari telaahnya terhadap karya-karya para ulama terkait, seperti Abu Thalib al-Makkiy, al-Harist a-Mahasibi, dan Abu Yazid al-Busthami. Dari karya-karya mereka, Imam Ghazali seperti tercerahkan bahwa ada hal-hal yang tidak bisa dijangkau hanya dengan nalar, argumentasi dan buku sebagaimana ia pikir saat menempuh jalan ilmu kalam dan filsafat, melainkan dengan “kedalaman rasa” (al-dzauq) dan “laku raga” (al-suluk).

“Apa yang bisa ditempuh dengan nalar telah aku jalani dan aku raih hasilnya, tidak ada yang tersisa, kecuali apa yang bisa ditempuh hanya dengan “kedalaman rasa” dan “laku raga.”

Sejak saat itu, Imam Ghazali mengubah arah haluan hidupnya, dari orientasi intelektual yang serba nalar, argumentatif, dan tak lepas dari teks menjadi kecenderungan spiritual yang serba “rasa”.

“Aku melihat, selama ini seonggok hatiku telah erat terikat pada tali-tali dunia. Aku mengamati, selama ini aktifitas mengajar dan mendidikku hanya berkutat pada keilmuan yang tak penting. Aku niti-niti, selama ini aktifitas mengajar dan mendidikku hanya termotivasi jabatan dan ketenaran. Aku menyaksikan diriku berada di ‘tepi jurang yang runtuh’ (syafaa juruf har). Sungguh, aku telah dekat dengan neraka.”

Sang Imam hanya merenung dan merenung. Hingga ia berniat menyampakkan Baghdad, meninggalkan semuan aktifitasnya, bersiap menyerahkan diri kepada Tuhan. Tapi ini adalah permulaan. Keadaan demikian menelantarkannya di persimpangan jalan. Selama enam bulan, ia menjadi pertaruhan “bisikan setan” yang menghembuskan syahwat duniawi dan “ilham malaikat” yang mendorong laku ukhrawi.

Ia sempat terbaring sakit, tak kuasa menanggung beban pertaruhan itu. Tabib yang memeriksanya mengatakan bahwa, sakitnya bermula dari hati, dan menyarankan Imam agar menghilangkan kerupekan hati yang menyebabkannya terbaring sakit. Dari sinilah ia memulai titik baliknya. Hatinya yang rapuh ia rebahkan ke pangkuan Tuhan, bersimpuh di hadapan-Nya mengemis perlindungan. Ia menikmati itu, dan dengan mudah memantapkan hati memalingkan syahwat dunia dan menyampakkan Baghdad.

Setelah itu, selama sepuluh tahun, ia hidup nomaden, berpindah-pindah dari kota ke kota, bertinggal dari masjid ke masjid, mulai dari Syam, Damaskus, Baitul Maqdis, Makkah, Madinah, menghabiskan siang dan malamnya untuk menjalani suluk (i’tikaf, khalwat, uzlah, riyadhah, mujahadah, dzikir, membersihkan jiwa, dan sebagainya) sebagaimana yang ia baca dari literatur ilmu sufisme (‘ilmu al-shufiyah).

Satu dasawarsa menjalani laku suluk itu, tersingkap dalam dirinya hal-hal yang tak terkira, sampai ia pada keyakinan, sufisme adalah jalan terbaik dan terbenar untuk sampai pada kesadaran akan Tuhan. Gerak, diam, lahir, dan batin sufisme adalah binar cahaya kenabian (nur misykah al-nubuwwah). Menurutnya, “al-dzauq” dan “al-suluk” adalah langkah awal yang pernah dilakukan para “calon nabi”, sebelum akhirnya mereka benar-benar dipilih menjadi nabi. Hal seperti itulah yang pernah dijalani oleh Nabi Muhammad, dengan menyendiri di Gua Hira menjalani suluk, berasyik-masyuk dengan Tuhan-nya. “Keasyikan” itulah yang ingin didapatkan oleh para sufi dengan “al-dzauq”, tanpa harus menjadi nabi.

“Jalan Sufisme” menjadi titik akhir pengembaraan Imam Ghazali.

Digital; Mudah & Sulit Seketika

9 August 2008 § 1 Comment


al-maktabah al-syamilah; ga bisa diinstall lagi. Tinggal kenangan!

Dosen ilmu tauhid (teologi) saya di UIN Jakarta, pernah bercerita, pada saat masih kuliah di timur tengah dulu, ia perlu waktu berbulan-bulan untuk sekedar mencari sumber satu hadis, sekaligus menentukan status hukumnya (shahih, hasan, dlaif dsb), yang dalam ilmu hadis dikenal dengan takhrij al-hadis. Ia harus melakukan “perburuan” dari satu perpustakaan ke perpustakaan lain, membolak-balik (mungkin) puluhan kitab.

Meski tidak “separah” dosen saya itu, pada masa awal kuliah di Pesantren Luhur Ilmu Hadis Darus Sunnah, saya juga pernah melakukan hal yang sama, dan tidak sampai berbulan-bulan (hanya beberapa minggu). Mendadak saya rajin ke perpustakaan kampus atau perpustakaan umum, membolak-balik beberapa kitab, untuk menentukan status satu hadis, sebagai tugas di pesantren khusus mahasiswa itu.

al-maktabah al-alfiyah; terserang virus. Didelete aja!

Tapi, itu dulu, sebelum ada “pustaka digital” (sekedar menyebut contoh yang saya punya atau yang saya tahu, ada “maktabah syamilah” edisi 1 & 2, “maktabah alfiyah”, “hadits syarif”, dsb). Dengan pustaka digital itu, men-takhrij satu hadis bisa selesai dalam hitungan jam. Kawan saya pernah menyelesaikan puluhan hadis hanya dalam hitungan hari. Dan semua itu dilakukan tanpa harus keluar rumah, apalagi masuk ke perpustakaan, sebab semuanya dilakukan di komputer. Tinggal klak-klik, klak-klik, jebrettt!!! Keluarlah hasilnya.

Pustaka digital hanya memberikan kecepatan, kemudahan dan efiseinsi (waktu, tenaga, dan biaya) yang tak dijumpai jika melakukannya secara “manual”. Dan pengetahuan tentang ilmu takhrij hadis tetap mutlak diperlukan, meski media yang digunakan adalah pustaka digital sekali pun.

alquran digital; satu-satunya pustaka digital yang masih oke!

Namun, seperti kalimat andalan Dorce, “Kesempurnaan hanya milik Allah”. Kekurangan paling rawan dari pustaka digital adalah jika komputer di mana pustaka itu berada terserang virus (meski tidak semua virus komputer merusak program semacam itu). Itulah yang terjadi dengan beberapa program pustaka digital di komputer saya. Dari empat program pustaka digital yang ada, saat ini hanya satu yang masih normal, tiga yang lain sudah “teler”, tidak bisa di-install lagi (master dari program-program digital itu saya simpan di komputer, dan telah rusak). Saya menduga, itu terjadi akibat hantaman bertubi-tubi virus-virus yang pernah bersarang di komputer saya. (Seorang kawan bercerita, salah seorang sahabatnya kesal bukan kepalang, saat skripsi yang tinggal “sentuhan akhir” hilang sama sekali tak berbekas, sebab masalah yang ada di komputernya. Mungkin virus atau hal teknis yang tidak bisa dijelaskan, karena tidak tahu).

Padahal, program-program pustaka digital itu telah menjadi andalan saya. Saya seperti sudah memiliki ketergantungan yang erat terhadap program-program itu.

Tapi, ya, begitulah. Era digital memang memberikan kemudahan seketika pada satu sisi, dan pada sisi yang lain kesulitan seketika pula jika benda digital yang telah menjadi andalah itu rusak.

Imam Syafi’i NU, Imam Malik Muhammadiyah

4 August 2008 § 9 Comments


Dalam suatu ruang kelas, seorang ustad sedang memberikan mata pelajaran fikih kepada murid-muridnya. Sang ustad menjelaskan…

“Imam Syafi’i adalah pendiri Mazhab Syafi’i yang salah satu tradisi mazhabnya adalah berqunut pada salat subuh. Dan Imam Malik adalah guru Imam Syafi’i yang juga memiliki mazhab fikih sendiri. Salah satu tradisi mazhabnya adalah tidak berqunut pada salat subuh.”

Sang Ustad melanjutkan, “Konon, keduanya pernah saling berkunjung ke rumah masing-masing. Saat Imam Syafi’i menginap di rumah Imam Malik, ia diminta menjadi imam salat subuh, dan Imam Malik makmumnya. Untuk menghormati gurunya yang tidak bermazhab qunut, maka Imam Syafii menjadi imam salat subuh dengan tidak berqunut.”

“Sebaliknya, saat Imam Malik yang bertandang ke rumah Imam Syafii, Imam Malik diminta menjadi imam salat subuh, dan Imam Syafii makmumnya. Dan untuk menghormati muridnya yang bermazhab qunut, maka Imam Malik menjadi imam salat subuh dengan berqunut.”

“Nah, anak-anak, dari cerita bapak tadi, siapa yang bisa mengambil kesimpulan atau pelajaran yang bisa dipetik? Yang bisa tunjuk tangan,” kata sang ustad mengakhiri ceritanya.

Salah seorang anak yang duduk di paling belakang tunjuk tangan,

“Saya bisa, ustad!” Dari cerita Bapak, saya bisa menyimpulkan, berarti Imam Syafi’i adalah orang NU, sebab kalau salat subuh pake qunut. Dan Imam Malik adalah orang Muhammadiyah, sebab kalau salat subuh ga pake qunut. Tapi, meski berbeda organisasi, keduanya tetap saling menghormati dan toleran.”

Ustad, “…???…???…???…???”

Where Am I?

You are currently browsing entries tagged with Cerpen at Warung Nalar.

%d bloggers like this: