Ijazah

28 March 2010 § Leave a comment


Aku hanya selembar kertas yang murung. Namaku Ijazah. Lihatlah kalimat pertama aku memulai cerita … Muram. “Hanya” dan “murung”, menandakan jika aku adalah sosok tak dianggap, berada di sudut yang siapa pun sepertinya tak sudi sekadar memikirkannya. Tentu saja itu memprihatinkan, jika melihat mulanya aku adalah kertas yang dipersiapkan untuk berfungsi, dan bagi sementara manusia, sosok semacam aku bisa menaikkan gengsi. Terkadang, dalam kesendirian yang menyedihkan, aku sering menangis: kenapa aku harus menjadi milik orang-yang-seharusnya-menjadi-tuanku seperti dia?! Kenapa aku tak menjadi milik si fulan yang sering membawa ijazahnya ke mana-mana, ke setiap tempat yang ia tahu membuka lowongan pekerjaan?! Meski lamaran si fulan sering ditolak, ijazah miliknya pasti tetap merasa bangga karena paling tidak ia masih dianggap ada dan difungsikan semestinya. Aku dapat merasakan itu.

Ya, begitulah nasibku saat ini. Padahal, dulu, bagi orang-yang-seharusnya-menjadi-tuanku, aku adalah sosok idaman, menjadi tujuan dan kebanggaan. Sosok seperti akulah bukti intelektualitas di atas kertas, bahwa di kelas, orang-yang-seharusnya-menjadi-tuanku itu telah bekerja keras.

Pernah suatu ketika aku tersanjung saat seseorang yang menjadi teman orang-yang-seharusnya-menjadi-tuanku menawari agar orang-yang-seharusnya-menjadi-tuanku itu mengirim lamaran pekerjaan ke sebuah kantor. Wah! Bangganya aku. Aku, maksudku, salinanku, aku yang hanya saja tak sejati namun setara dalam fungsi, bakal berguna sebagaimana mestinya. Aku, beserta beberapa lembar kertas lain, dimasukan ke dalam amplop coklat yang hangat. Setelah melewati kantor jasa pengiriman, aku akan sampai ke kantor yang dituju, lalu diterima oleh seorang menejer yang lalu dengan saksama mengamati angka-angka yang tertera di atasku. Angka-angka itu jika diterjemahkan dalam dua kata maka akan terbaca: Amat Baik. Menejer itu akan mengulum senyum kagum. Dan, tentu saja tak sedang terkagum-kagum kepadaku, tapi kepada orang-yang-seharusnya-menjadi-tuanku. Namun, aku tak merasa kecewa dengan itu. Takdirku memang sebatas wakil bagi orang-yang-seharusnya-menjadi-tuanku, dan teman yang mengantarkannya meraih cita-cita. Begitulah aku meraih kebanggaanku.

“Tapi aku belum mendapatkan ijazahku,” kata orang-yang-seharusnya-menjadi-tuanku kepada temannya itu. Saat orang-yang-seharusnya-menjadi-tuanku berkata demikian, aku sangat berharap temannya akan menanggapi begini: “O, ya … Sebaiknya kau dapatkan ijazahmu dulu, secepatnya.” Aku memang benar-benar ingin keluar dari tempat ini. Sejak keluar dari percetakan aku sangat ingin menjadi kebanggaan, tanpa harus berlama-lama di penampungan semacam sini.

“Tak masalah. Sekarang kau hanya perlu mengirim CV-mu,” kata teman orang-yang-seharusnya-menjadi-tuanku. “Aku tak akan merekomendasikan kecuali orang yang kutahu keahliannya. Kirim saja CV-mu. Tak apa tanpa ijazahmu.”

Dapat kubayangkan kebahagiaan yang merasuk dalam diri orang-yang-seharusnya-menjadi-tuanku: satu peluang kerja di depan matanya sedang tersenyum menggoda, dan bisa didapatkan tanpa sedikit pun keterlibatanku. Jika benar-benar terjadi maka itu adalah tragedi besar hidupku. Ah, entah. Aku tak mengerti, kenapa orang-yang-seharusnya-menjadi-tuanku itu menganggap aku sebagai beban, sejak beberapa hari setelah pesta bahagia, resmi, dan prosedural Sabtu itu, yang dalam rentang empat tahun sebelumnya aku adalah tujuan. Setiap perjalanan-empat-tahun adalah aku yang menjadi tujuan. Di aku, perjalanan-empat-tahun berhenti melangkah. Tetapi, apa yang terjadi antara aku dan orang-yang-seharusnya-menjadi-tuanku adalah ironi yang suram yang membuat aku merasa martabat dan derajatku dekaden.

Setarikan napas panjang mengeluh …

Bulan ini adalah tepat satu tahun kurang sebulan sejak tragedi besar itu, dan tepat tiga tahun kurang empat bulan sejak pesta Sabtu itu. Aku masih hanya selembar kertas yang murung … dan masih di sini, di penampungan pengap ini. Satu-satunya hal yang bisa aku syukuri saat ini adalah bahwa aku masih bernama Ijazah.[jr]

27.03.10

Di Pe Dua Puluh (P 20)

18 March 2009 § 1 Comment


likaila ta’sau ‘ala ma fatakum, wala tafrahu bima atakum…

”Supaya Kau tak berduka pada apa yang telah luput darimu, dan tak terlampau gembira pada apa yang Ia beri untukmu,” begitu Gusti Pangeran pernah berujar kepadaku.

Ucapkanlah ‘selamat tinggal’ dengan tulus pada yang apa yang telah pergi darimu. Niscaya ia akan membalas dengan ikhlas, “yang hilang akan beri hikmah. Yang datang bakal bawa berkah.”

Dan akan berujar, “yang telah tiada semoga tak buat dirimu terlalu merana. Yang ada semoga tak buat dirimu terlampau bahagia.”

Sebab, sesungguhnya hidup hanyalah putaran konstan datang dan pergi, ada dan tiada. Masing-masing bergulir pada garis yang sama sehingga perbedaan masing-masing adalah semu. Masing-masing bisa terjadi begitu mudahnya. Namun, kerap menjadi sulit dan rumit karena jiwa yang terlalu sempit.

Lalu, yang hilang bikin malang meradang. Yang datang bikin senang bukan kepalang. Yang tiada buat duka tak terkira. Yang ada buat terpana karena terlampau bahagia…

Dalam hening ketika jiwa berada pada kondisi paling rendah dan hampa, aku pun menimpali Ujaran Suci Sang Gusti itu, “Inggih, Gusti, inggih…”

Pada suatu siang ketika menuju Kemang, di bus Pe Dua Puluh yang tak sesak penuh, aku begitu terusik oleh cuaca terik. Kendaraan besar pada berjejer mepet karena jalanan macet. Rotasi dunia seolah berputar lelet. Suara klakson begitu riuh seolah kendaraan-kendaraan itu pada misuh. Pada kondisi tensi tinggi di mana emosi setiap saat bisa meluap berapi-api, aku bergumam dalam hati, “Gusti, aku teringat kawanku, Supra X 125 R G-5471-BR warna merah hitam yang gagah itu. Gusti, Aku tak mengharap yang pergi akan kembali. Sebab, City Sport One baru tentu saja akan lebih menyenangkanku!”

Di Pe Dua Puluh, tubuhku agak kuyup oleh peluh. Kembali aku bergumam, “Nanti malam saja aku kembali menghayati Ujaran Suci Sang Gusti di atas.”

Kejutan 2009 Yang Membuatku Lemas Mendadak

2 January 2009 § 3 Comments


Tahun 2009 yang masih tercium aroma barunya ini, memancarkan bahagianya untukku, namun seketika menjadi kejutan yang membuatku lemas mendadak.

Berawal dari sebuah Eksotopi (Tentang Kekuasaan, Tubuh, dan Identitas)-nya Goenawan Mohamad, buku yang aku dapatkan dengan segenap keluguan dan kenaifan mahasiswa semester pertama, di tahun 2002. Biarlah tak dapat menaksir kira-kira tentang apa isinya, pula belum tahu siapa itu Goenawan Mohamad, tetap dibelilah saja buku itu, di sebuah bazar di kampus. Benar saja, jangankan mengira isinya, bahkan ketika berusaha membacanya, waktu itu, terbesit penyesalan telah membelinya. Aku biarkan reaksi spontan itu mengalir, kemudian menguap, dan akhirnya hilang sama sekali. Eksotopi lalu aku tempatkan di sudut paling sulit dijangkau, di sebuah rak buku, mengisyaratkan keengganan untuk menyentuhnya.

Saat ini, enam tahun kemudian, aku sadari, gengsiku untuk membeli Eksotopi dengan penuh keluguan, waktu itu, hanyalah penempatan waktu yang kurang tepat, di mana nalar dan pengetahuan belum mampu mengimbangi keluar-biasaan, kenjlimetan, kedalaman buku kumpulan esai sastra itu. Ia bukanlah bacaan ringan untuk seorang mahasiswa baru yang lugu, meski tak bepretensi untuk mengatakan, saat ini pun aku telah dengan mudah begitu saja melahapnya. Eksotopi masih tetap terpandang njlimet dan tak ringan, hanya saja aku telah memiliki ke-pede-an untuk melahapnya, meski harus dengan mengunyahnya berulang-ulang berkali-kali, pelan-pelan. Dan setelah itu pun, pada satu esai (Eksotopi terdiri dari sebelas esai, yang masing-masing berisi lebih dari sepuluh halaman. Eksotopi sendiri salah satu judul tulisan yang kemudian dipilih menjadi judul buku), misalnya, hanya sekian kalimat yang nyangkol, saking dalam substansi yang disampaikannya, dengan kalimat yang njlimet penuh kiasan.

Justeru, kenjlimetan – dalam kamus pribadiku, “njlimet” artinya kalimat indah yang tak sekali lirik langsung dimengerti – itulah yang membuatku terpesona pada setiap tulisan Goenawan Mohammad. Aku semakin tertarik untuk mengakhiri setiap esai di Eksotopi, kemudian bersegara melanjutkan pada esai selanjutnya. Dan, “Caping” alias “Catatan Pinggir” yang menjadi trademark Goenawan Mohamad alias GM, adalah halaman paling akhir Tempo yang paling awal aku tuju, jika kebetulan membacanya. Sama, seperti jika mambaca Eksotopi-nya, biar pun tak mampu memahami sepenuh substansinya, paling tidak aku bisa menikmati – sekaligus belajar – bagaimana GM memilih diksi kemudian merangkaikannya, menjadi “kalimat indah yang tak sekali lirik langsung dimengerti”.

Di tengah aku betekun ria dengan Eksotopi, aku seolah diingatkan, pada tahun 2007, GM merilis buku terbarunya berjudul “Tuhan & Hal-Hal Yang Tak Selesai”, berisi “99 esai amat pendek yang ditulis di masa yang seperti kita alami sekarang, ketika Tuhan tak bisa ditolak dan agama terus bertambah penting dalam hidup orang banyak, memberi kekuatan, menerangi jalan, tapi juga membingungkan dan menakutkan”, begitu deskrpisi singkat tertulis tentang buku itu di sampul belakangnya. Sebelum menekuni Eksotopi, “Tuhan” belum menjadi apa-apa bagiku. Hanya sebatas tahu, itulah buku terbaru GM. Cukup. Tak terbesit secuil pun untuk memilikinya. Namun, pesona GM dalam Eksotopi yang sedang aku tekuni, menggodaku untuk segera memiliki “99 esai amat pendek”-nya itu, kemudian segera menikmatinya.

Maka, sejak pertengahan November (2008) silam, aku memulai perburuan 99 esai amat pendek itu, bolak-balik ke Plaza Bintaro dan Pondok Indah Mall di mana Gramedia (terdekat) berada. Namun, sesering aku mondar-mandir ke dua tempat itu, sesering itu pula aku harus kecewa. Sekali aku datang, buku itu telah habis. Selanjutnya, aku kembali datang seraya berharap buku itu sudah ada. Tapi ternyata tidak. Dan seperti itu selalu, selanjutnya. Harapan datang, ditumbangkan oleh kekecewaan.

Sampai akhirnya, 2009 menjelang, merilis hari pertamanya, 1 Januari yang jatuh di hari Kamis. Ketika sebagian kawan memilih bertamasya ke tempat-tempat hiburan yang tentu akan sangat menyenangkan hati, untuk membunuh hari libur itu, aku lebih asyik ke Gramedia saja. Di Gramedia, bukan hanya hati saja yang senang, tapi nalar pun ikut senang, sebab dimanjakan oleh buku-buku dengan ragam tema yang bisa pilih sesuai kecenderungan, dan dibaca di tempat. Nah, kebahagiaan di tahun baru itu, memancar dari pojok sastra Gramedia Pondok Indah Mall. Tak disangka, ternyata “Tuhan & Hal-Hal Yang Tak Selesai”, yang selama ini aku nantikan keberadaanya, telah berderet rapi di antara buku-buku sastra. Seketika aku raih buku itu, kemudian menuju kasir untuk kutukar dengan lembar-lembar rupiah.

Itulah kebahagiaan yang dipancarkan tahun baru untukku. Seolah, “Tuhan & Hal-Hal Yang Tak Selesai” memang menjadi takdirku, hadir dengan cara yang mengejutkan, dengan memilih hari perdana di tahun 2009, agar ada efek momentum di sana. Kepada kawan, aku sempat merayakan momentum itu, dengan mengirim sms, “Ngalkamdulillah wacukurilah, “Tuhan & Hal-Hal Yang Tak Selesai”-nya Goenawan Mohamad ada juga.”

Adapun kejutan yang membuatku lemas mendadak, yang menjadi tema coretan ini, terjadi saat aku sudah sampai di rumah, yaitu “Tuhan & Hal-Hal Yang Tak Selesai” yang baru aku dapatkan itu ternyata edisi bahasa Inggris! Seketika aku mengekspresikan keterkejutanku itu dengan mengucapkan kalimah thayibah: Astaghfirullah! Innalillah!, yang kemudian dilanjutkan dengan ekspresi keterkejutan lokal: Asem! Jangkrik! Kurang ajar! Sialan! Entah kepada siapa ekspresi itu aku tujukan.

Masalahnya, semesta alam, dari ujung kulon sampai ujung wetan, dari sabrang kidul sampai sabrang lor, dari ujung langit sampai dasar bumi, dari kolong dunia sampai pojok akhirat juga paham, jika aku tidak pandai bahasa Inggris. Memahami tulisan Goenawan Mohamad yang berbahasa ibu saja mesti dengan segenap daya dan mringis-mringis, apalagi yang berbahasa Inggris! Dulu sekali, aku memang pernah kursus bahasa itu. Dipikir sepertinya itu bukan duniaku, aku cuma bertahan tiga bulan. Cabut.

Tapi, sebagaimana aku dulu mendapatkan Eksotopi, mungkin “Tuhan & Hal-Hal Yang Tak Selesai” edisi Inggris itu “hanyalah penempatan waktu yang kurang tepat”. Maka, untuk sementara buku itu akan aku “tempatkan di sudut paling sulit dijangkau, di sebuah rak buku, mengisyaratkan keengganan untuk menyentuhnya”, seraya memburu edisi Indonesianya.

Ah, betapa naifnya aku. Dan, silakan tertawa untuk kenaifanku itu.[jr]

Mba Qonita

18 December 2008 § Leave a comment


Aku berkandang ke kampungku setelah sekian tahun di rantau orang. Tentu saja banyak hal yang telah terjadi. Kantor desa yang cat dinding dan pagar temboknya sudah berganti warna hijau, yang terkhir aku lihat sebelumnya masih berwarna putih. Kata kakekku, warna hijau itu atas usulan kepala desa baru yang dua tahun lalu terpilih. Juga beberapa gang dari gang-gang kampung yang masih berhias rentetan bendera merah putih plastik yang warnanya telah memudar, sisa-sisa perayaan tujuh belasan. Selain itu, tidak ada perubahan mencolok dari infrastruktur kampung.

Hukum alam juga berlaku sebagaimana biasa. Ada yang pergi, ada yang datang. Ada yang meninggal, seperti Wak Daid, kawan seangkatan kakek, Haji Ramin, orang tua kades terdahulu, juga ada bayi lahir menambah perbendaharaan jumlah warga kampung.

Satu hal lagi di kampungku: sudah tidak ada lagi pengajian subuh di masjid desa yang diasuh Kyai Mualimin. Kata kakekku, pengajian itu sudah berhenti total sejak setahun lalu. Kyai Mualimin tak mau lagi melanjutkan mengajar kitab Mukhtashar Ihya ‘Ulumuddin karya Imam Ghazali, yang pada pertemuan terakhir baru sampai pada pertengahan kitab.

Kyai Mualimin seusia dengan kakekku. Ia teman kecil kakekku. Pada usia dewasa, ketika sadar hidup memberikan pilihan, Kyai Mualimin memilih melanjutkan pendidikannya di pesantren, sedangkan kakekku sepertinya lebih berbakat menjadi petani, mewarisi bakat tani bapaknya, alias buyutku. Dengan bakat dan ketekunan masing-masing, keduanya sukses: Kyai Mualimin di-kyai-kan oleh warga kampung karena kealimannya, sedangkan kakekku, cukup sukses dengan garapan sawahnya. Nasib memang menggariskan keduanya tetap akrab sampai tua. Jika dulu akrab sebagai teman kecil, sekarang akrab sebagai teman ngaji. Bedanya, Kyai Mualimin menjadi kyai, dan kakekku menjadi salah satu jamaah setia pengajian subuhnya, sejak pertama kali Kyai Mualimin membuka pengajian itu berpuluh tahun silam, sampai akhirnya Kyai Mualimin memutuskan memberhentikan pengajiaannya.

Kata kakekku, seingatnya, beberapa kitab yang pernah diajarkanya dalam rentang puluhan tahun itu antara lain al-Hikam karya Ibnu Athaillah, Adab al-Dunya wa al-Din karya Imam Mawardi, Riyadh al-Shalihin karya Imam Nawawi. Hanya itu yang kakekku ingat. Kata kakekku, hebatnya Kyai Mualimin, dia tidak hanya menguasai isi kitab-kitab itu, ia juga menguasai riwayat pengarangnya yang penuh hikmah, yang sering pula ia ceritakan di sela-sela pengajiannya. Hebatnya kakekku, ingatannya cukup kuat dan tidak pikun. Ya, paling tidak untuk menceritakan nama kitab sekaligus pengarangnya.

Tapi sayang, sore itu, cerita tentang pengajian Kyai Mualimin menjadi episode terakhir – yang sebelumnya diawali dengan episode suksesi kades dan kantor kades yang dicat hijau, episode kawan seangakatannya yang mangkat dan bayi yang lahir, episode garapan sawahnya yang diserahkan ke orang tuaku, dan beberapa selingan lainnya – dan tidak sampai pada detil kenapa Kyai Mualimin memberhentikan pengajiaanya yang sudah berlangsung puluhan tahun itu, karena terpotong azan magrib. Kakekku mengajakku jamaah di langgar depan rumah. Ah, ternyata lama juga aku mendengarkan cerita-cerita kakek. Aku perhatikan, kakekku sudah tiga kali nglinting klobot dari tembakau dan daun jagung yang dikeringkan – warga kampungku menyebutnya klaras – menemani ceritanya. Mungkin, aku akan meminta kakek melanjutkan cerita pengajian Kyai Mualimin yang tak tuntas itu, besok pagi setelah sarapan, atau sore hari selepas asar.

Esoknya, di sore hari, aku lihat kakekku sedang duduk santai di lincak, tempat duduk lebar dari bambu bikinannya, di teras rumah. Masih mengenakan peci hitam dan sarung. Baru turun dari langgar. Jika sudah begitu, apalagi yang paling enak selain menikmati lintingan-lintingan klobot, untuk membunuh sore, seperti biasanya.

“Patua, sekarang, kan, sudah banyak rokok pabrikan. Tinggal hisap, praktis, tidak perlu repot ngelinting-ngelinting begitu,” kataku.

“Bukan begitu, Nang. Ini soal seni dan kenikmatan. Lagi pula, patuamu ini tidak cocok menghisap rokok pabrikan itu. Ya bagaimana, wong, sudah biasa ngelobot begini.”

Ya, sudah. Lagian, itu cuma prolog basa-basi saja. Tujuan utamaku mendekati kakek adalah memintanya melanjutkan cerita soal pengajian Kyai Mualimin.

Kakekku tiba-tiba terdiam, dan raut mukanya seketika berubah, saat mendengar aku memintanya melanjutkan cerita. Begitu mendalamkah cerita itu bagi kakek?

“Kamu tahu Mba Qonita, kan? Anak bontot dan satu-satunya perempuan di antara anak-anak Kyai Mualimin itu?”

“Iya.” Tentu saja aku ingat. Dia kakak kelasku berapa tingkat di madrasah dulu. Tapi dia sampai kelas lima saja, untuk kemudian dikirim ke pesantren di luar daerah oleh bapaknya.

“Kenapa memangnya, Patua?”

Aku penasaran oleh pancingan-pancingan cerita kakek. Dan akhirnya, kakek bercerita juga…

“Mba Qonita, biarpun perempuan dan masih muda, dia itu bakal meneruskan bakat alim Kyai Mualimin, bapaknya. Sejak kecil sudah dimasukan pesantren. Kalau Kyai lagi tidak enak badan, Mba Qonita yang menggantikannya mengisi pengajian subuh. Meski belum sealim bapaknya, tapi ada bakat untuk itu. Mas-masnya justeru tidak ada yang bisa ngaji. Wong, tidak ada yang mau nyantren. Pada jadi pengusaha atau nggarap sawah.”

Aku mengangguk untuk suatu kewajaran. Mba Qanita memang terkenal cerdas, juga shalihah. Tentu saja cantik.

Klobot pertama habis. Kakekku memberi jeda cerita. Kembali ia ngelinting klobot.

“Terus?” kataku, melihat lintingan itu sudah terbakar, dan dihisapnya.

“Wallahu’alam. Ceritanya aneh. Ajaib.”

“Suatu ketika, Mba Qonita hamil. Dan itu diketahui setelah kandungannya berusia empat bulan. Padahal semua tahu, dia belum menikah. Semua terkaget. Tentu saja ini menjadi berita besar, dan dengan segera menyebar rata di seluruh penjuru kampung. Menjadi gunjingan di mana-mana. Di sawah, di kali, di kantor desa, di langgar, di pengajian muslimat dan fatayat, di pengajian reboan ibu-ibu, di lingkaran tahlilan bapak-bapak setiap malam jumat, apalagi di kumpulan-kumpulan dadakan semacam didisan dan petanan (cari kutu rambut) para ibu-ibu yang biasanya lebih seru jika dibumbui dengan ngerasani. Maklum, yang jadi berita adalah keluarga Kyai Mualimin, tokoh paling dituakan dan berpengaruh untuk soal agama.”

Pokoknya, kehamilam Mba Qonita menjadi isu top di segala forum.

“Bermacam reaksi menyeruak. Terkuaklah apa yang selama ini tersembunyi. Siapa-siapa yang selama ini dengan tulus menghormati Kyai Mualimin, tulus mengikuti pengajiannya, siapa-siapa yang berpura-pura bermuka manis di hadapannya tapi hatinya meneteskan liur asam, siapa-siapa yang selama ini menyimpan kebencian terselubung kepadanya. Tapi barangkali wajar, jika bermacam reaksi negatif bermunculan, mengingat yang terjadi dianggap aib yang mengotori kampung yang cukup relijius ini.”

“Ini juga mempengaruhi pengajian subuh yang diampunya. Sejak, pertama kali berita itu menyebar, semakin hari, para jamaah pengajian semakin menyusut, seperti sudah tidak percaya lagi kepada Kyai Mualimin. Katanya kyai yang alim soal agama, tapi ngurus anak sendiri saja, perempuan lagi, tidak becus, sampai bisa hamil di luar nikah begitu. Kira-kira seperti itulah yang digunjingkan warga. Hanya segelintir orang yang masih mau ngaji, termasuk Patuamu ini. Bahkan, oleh kades, atas usulan beberapa warga, Kyai pernah diminta untuk tidak lagi memberikan pengajian. Tapi Kyai menolak, alasanya selama masih ada yang mau ngaji, biar segelintir, ia tidak akan menghentikan pengajiannya. Alasannya diterima, tapi dengan catatan, tidak boleh menggunakan pengeras suara.”

“Sementara berita kehamilan Mba Qonita menggelinding liar di masyarakat – tak lagi diketahui yang mana fakta, yang mana desas-desus, semuanya campur baur menyaru bersama opini-opini, terkadang cacian dan umpatan – keluarga Kyai Mualimin sendiri tidak kalah dibikin ruwet. Masing-masing anggota keluarga terbakar emosi dengan kadar panas yang berbeda. Mas-masnya yang paling mendesak Mba Qonita agar mau mengakui, laki-laki mana yang menghamilinya. Ibunya hanya diam, tapi jelas memendam kekesalan. Kyai Mualimin sekali pernah menampar Mba Qonita. Sekali-kalinya kekerasan terhadap keluarga yang pernah ia lakukan. Wajar, itu reaksi spontan orang yang kaget untuk hal yang tidak wajar dan dianggap aib. Yang aneh, sejak pertama kali berita kehamilan Mba Qonita diketahui keluarganya, Mba Qonita mendadak jadi bisu, gagu. Wallahu a’lam. Itu yang aku dengar langsung dari Kyai Mualimin. Jadi, bagaimana dia mau menjelaskan atau membela diri atas desakan-desakan keluarganya.”

“Kasihan, Mba Qonita. Di dalam rumah ia terpojok. Di luar rumah orang-orang ramai mengolok. Siang malam hanya bisa menangis. Di kamarnya ia mengunci diri.”

Lagi-lagi, kakek memberi jeda, untuk membakar klobot-nya yang padam karena beberapa saat tak dihisap. Aku jadi ikut hanyut, emosional mendengar empati kakek terhadap nasib Mba Qonita.

Kakek menghisap klobot yang baru dibakarnya, dengan kenikmatan mendalam.

“Terus?”

“Yang selanjutnya terjadi, keadaan malah semakin menyudutkan Mba Qonita.” Cerita kakek, kalau aku bahasakan begini: Mba Qonita tidak hanya tersudut secara kultural, tapi juga terdesak oleh kekuatan struktural.

“Suatu malam, kades dan beberapa ketua RW mendatangi rumah Kyai Mualimin, untuk menyampaikan, yang kata kades sendiri, adalah suara warga. Kata kades, warga meminta agar Mba Qonita dititipkan saja ke sanak keluarga Kyai di luar kampung. Kasarnya, diusir keluar kampung. Kata kades lagi, warga khawatir, aib ini akan membawa musibah bagi kampung. Jika sudah dititipkan keluar kampung, Kyai Mualimin boleh memberikan pengajian dengan menggunakan pengeras suara.”

“Kyai Mualimin setuju?”

“Iya.” Sejenak kakek memberi jeda, untuk menghisap rokok klobot-nya.

“Terus?”

“Kamu tahu, Nang?”

“Apa itu?”

“Cerita ini aku dengar langsung dari Kyai Mualimin…”

” ‘Pada suatu pagi buta, di mana aku biasa melaksanakan tahajud, tiba-tiba ada suara ketukan di pintu rumahku. Setelah kubuka, aku terkejut, ternyata itu adalah sosok putriku, Qonita, yang tujuh bulan lalu aku usir, aku titipkan di sanak saudaraku di luar kampung. Ia mengenakan jubah hitam. Wajahnya putih, bersih, dan bersinar. Benar-benar bersinar. Ia membopong seorang bayi. Aku hanya melotot. Heran, kaget, dan takjub bercampur jadi satu. Tapi, sesungguhnya ada rasa haru juga di hatiku.’

” ‘Setelah putriku masuk dan duduk di kursi, dalam hitungan detik, sinar di wajahnya tiba-tiba berpindah ke wajah sang bayi yang masih di pangkuannya. Dan ini yang hampir aku tak percaya, bayi itu tiba-tiba bisa bicara! Bukan suara anak kecil, tapi suara orang tua yang berat dan berwibawa!’

” ‘Aku langsung terduduk di lantai, lemas. Aku merasakan dingin yang tiba-tiba merasuk di sekujur tubuhku, ketika bayi yang wajahnya bersinar itu memberondongiku dengan perkataan-perkataannya. Aku merinding mendengarkannya.’

” ‘Kenapa, Mualimin?! Kenapa kau sepertinya kaget dengan ini?!’

” ‘Kenapa Kau heran, meradang dengan apa yang terjadi pada Qonita?!’

” ‘Kenapa hatimu buram, pikiranmu buntu melihat kehamilan Qonita yang tanpa ayah?!’

” ‘Kenapa Kau melihat itu sebagai kemustahilan?!’

” ‘Apakah hatimu ragu akan kuasa Allah, saat mulutmu begitu memukau menyampaikannya dalam ceramahmu setiap pagi?!’

” ‘Mualimin, kau yang dikenal alim di sepenjuru kampung, tapi tampak kerdil oleh kehamilan putrimu.’

” ‘Tak tahukah Kau, mudah saja bagi Allah menjadikan Qonita hamil tanpa ayah sekalipun, sebagaimana mudahnya Ia menjadikan warga menyebutmu “kyai”?! Apakah Kau berpikir warga memanggilmu “kyai” sebagai kewajaran karena ada sebab-musababnya, sementara kehamilan Qonita yang tanpa sebab Kau anggap sebagai ketakwajaran?!’

” ‘Mualimin, Kau alim dan begitu mencintai pengajianmu. Penyakit orang sepertimu, orang alim yang pandai mengaji, adalah tak mau ngaji dan belajar lagi. Merasa dirinya telah alim. Lebih merasa pantas diri menjadi pengajar, ketimbang mengambil pelajaran.’

Cerita sore itu dihentikan oleh kumandang azan magrib. Kakek kembali mengajakku shalat jamaah di langgar. Saat berangkat ke langgar, aku sempat mengungkapkan keheranan akan cerita ajaib tentang Kyai Mualimin itu.

“Wallahu a’lam, Nang. Tapi itulah yang aku dengar dari Kyai Mualimin sendiri, beberapa hari setelah peristiwa itu, setahun yang lalu. Dan katanya, Patuamu ini satu-satunya orang yang diceritainya. Dan Kamu, Nang, orang kedua yang tahu, setelah aku. Dan sejak peristiwa itulah, Kyai Mualimin menghentikan total pengajiannya di masjid.”

Malam harinya, aku benar-benar sulit tidur. Cerita kakek mengiang-ngiang di benakku, memporak-porandakan nalarku. Masih heran betul. Tapi aku masih sempat berpikir: bagaimana kondisi bayi ajaib itu saat ini, juga Mba Qonita? Ah, mungkin nanti aku bisa tanyakan kepada kakek, atau meminta kakek mengajakku bertamu ke rumah Kyai Mualimin.[jr]

Ciputat, 17 Desember 2008

…….

* Patua: bapak tua atau kakek.
* Nang: lanang atau anak laki-laki

Jiwa

8 December 2008 § Leave a comment


“Aku minta maaf untuk semua yang terjadi.”

“Jangan minta maaf. Lebih baik berdoa, agar hatiku segera luluh, sehingga bisa lega memaafkamu. Aku hanya butuh waktu untuk kembali seperti semula.”

“Kamu masih sakit hati?”

“Biarkan itu terjadi. “

“Aku minta maaf.”

“Tak perlu minta maaf. Masalah bukan pada kamu. Justeru pada diriku.”

“Tolong, maafkan aku.”

“Kamu tak perlu terbebani oleh sakit hatiku. Ini masalahku.”

“Tapi aku yang membuatmu terjebak pada masalahmu itu. Aku yang telah membuatmu sakit hati.”

“Memberikan kata maaf itu sangat mudah, sama mudahnya dengan memintanya.”

“Kamu meminta syarat untuk memaafkanku?”

“Tidak.”

“Lalu apa? Aku gelisah oleh ini.”

“Gelisah?”

“Iya. Tolonglah aku.”

“Tidak. Aku tidak bisa menolongmu. Aku tidak bisa memaafkanmu.”

“Tolong. Tolong, maafkan aku.”

“Kenapa?”

“Ini memang kesalahanku. Kebodohanku. Ini benar-benar membuatku gelisah.”

“Meski bermula dari kesalahanmu, tapi sesungguhnya, sakit hatiku ini adalah masalahku. Tak lagi terkait denganmu.”

“Ini membuatku tidak tenang.”

“Apakah hanya sebuah kata maaf dapat membuatku tenang, melepaskan kegelisahanmu?! Sesungguhnya bukan kepadaku kamu harus minta maaf. Minta maaflah pada dirimu sendiri. Jiwamu yang dapat memaafkanmu, menenangkanmu.”

“Aku menyesal.”

“Sebagaimana sakit hatiku. Bukan penyesalanmu, bukan permintaan maafmu yang dapat menyembuhkannya. Tapi diriku sendiri, jiwaku sendiri.”

“Sungguh, maafkan aku.”

“Sakit hatiku hanya soal waktu. Kegelisahanmu, kebersalahanmu juga hanya soal waktu.”

“Tolong…”

“Jangan mengiba maaf saat aku sakit hati. Minta maaflah pada dirimu.”

“Aku menyesal, aku gelisah, aku tidak tenang.”

“Biarkan itu terjadi.”

“Kamu dendam?”

“Tidak. Jika aku dendam, moralku telah kalah. Kemenanganku adalah saat aku dapat menenangkan diriku sendiri, bukan karena kamu menyesal, mengiba maaf, kemudian aku memaafkanmu.”

“Kamu membenciku?”

“Aku tidak tahu.”

“Kau masih mencintaiku?”

“Aku tidak tahu.”

“Sekarang, Kamu membuatku bingung.”

Ciputat, 8 Desember 2008

Kwitansi

10 November 2008 § 1 Comment


Jika ada yang paling aku tunggu saat ini, itulah adzan maghrib. Bolak-balik aku lirik jam. Ah, tapi baru jam empat. Jika “baru” berarti waktu yang dinantikan masih begitu jauh. Sepertinya lelet betul waktu berjalan. Aku tak sabar bercampur gelisah menunggu waktu di mana hari baru dalam kalender hijriyah akan bermula. Maklum, hari ini aku sedang puasa.

Elho, hari Minggu, kok, puasa?

Ssst…! Dengarkan, ini puasa sebab keadaan darurat. Tapi, ini sungguh-sungguh puasa. Ritualnya, syarat dan rukunnya aku penuhi. Jadi, secara fikih, puasaku itu sudah betul, hanya saja sedikit aku politisir: ada kepentingan ekonomi laten di sana. Jadi, puasaku itu mencakup dua bidang sekaligus, yaitu bidang agama dan bidang ekonomi. Aku tidak hanya sedang beribadah tapi sekaligus sedang melakukan upaya penataan ekonomi untuk menghadapi krisis yang sedang menderaku. Intinya, aku lagi bokek. Sial! Dan duit yang aku punya saat ini adalah selembar sepuluh ribu perak yang sudah dianggarkan untuk berbuka nanti. Betapa berharganya duit sejumlah itu jika berada di tempat dan waktu yang tepat. Aku timang-timang duit semata wayang itu dengan penuh kasih sayang seperti anak tunggal yang cerdas dan menjadi harapan masa depan.

Memang, minggu-minggu ini kehidupanku ibarat pensil yang meruncing pada ujungnya. Semakin hari, semakin cekak saja duitku, semakin harus irit pula aku mengeluarkannya. Dan hari ini adalah ujung paling ujung dari pensil, ketika aku harus bertahan hidup hanya dengan sepuluh ribu rupiah itu. Bahkan, adegan bertahan itu telah dimulai sejak tadi malam. Dan syukurlah, sampai sore ini aku masih bisa makan, bahkan mungkin sampai besok. Aku tidak mungkin akan menghabiskan sepuluh ribu itu untuk sekali makan saat berbuka nanti. Subsidi anggaran makan harus dikurangi. Ingat, ini masih krisis. Setiap rupiah yang keluar harus atas azas fungsi dan manfaat pokok. Pengeluaran-pengeluaran sekunder biar dihentikan dulu jika ingin tetap bertahan sampai pada saatnya nanti aku kembali berlimpah duit. Entah kapan.

Seperti siang tadi, aku menolak dengan halus pengemis yang mendatangi rumahku, maksudnya, rumah kontrakanku, dengan modus infak pembangunan masjid. Ya, bagaimana lagi, duit sepuluh ribu itu adalah pertahanan pangan terakhirku. Bagaimana aku bisa berbelas kasih kepada orang lain sementara aku sendiri butuh dikasihani. Tapi, keluhan semacam ini hanya ada dalam hatiku. Tidak mungkin, keadaan tak ideal itu aku umbar kemana-mana, ke kawan-kawanku, misalnya, apalagi demi mendapatkan belas kasihan.

Maaf, aku memang tidak mau dibelaskasihani. Ditawari pun aku pantang (tentu aku akan menolaknya dengan sehalus-halusnya agar tak menyinggung perasaan orang yang bermaksud baik), apalagi meminta belas kasihan. Ini soal prinsip. Bagiku, orang yang memberi belas kasihan adalah seorang hipokrit yang narsis. Orang yang berbelas kasih kepada orang lain sesungguhnya ia sedang memanifestasikan cintanya kepada diri sendiri, bukan karena cintanya kepada sesama, bukan karena altruistis atau al-itsar dalam bahasa Arab, bukan karena kesediaan ingin membantu yang lahir dari sifat kedermawanan. Setelah memberikan belas kasihan, ia akan melihat dirinya sendiri sambil bergumam syukur semu, “Alhamdulillah! Terima kasih, Tuhan. Ternyata, aku masih beruntung”. Maka, konteks yang terjadi adalah hubungan antara “si beruntung” dengan “si buntung” yang tak beruntung. “Si beruntung” yang sedang memanfaatkan ketak-beruntungan “si buntung” untuk bersyukur. Ya, mungkin juga belas kasihannya adalah ekspresi ketakutan dan ketidak-mampuan menanggung beban jika dirinya yang berada pada posisi “si buntung” itu. Ah, narsis!

Nah, tapi itu orang lain. Aku tidak seperti itu. Kalau aku, sih, apa yang aku berikan, aku hutangkan, aku sedekahkan, tentu saja atas dasar kedermawananku. Aku tidak punya rasa belas kasihan, yang aku punya adalah kedermawanan. Pemberian seorang dermawan biasanya didasarkan pada kebutuhan faktual orang yang diberi, bukan semata-mata “menggugurkan kewajiban”, maka asal saja memberi. Kepada pengemis, misalkan, aku selalu mengestimasikan kebutuhan makan mereka, minimal dalam satu hari, atau paling tidak sekali makan. Maka, nominal minimal yang mampu aku berikan kepada pengemis adalah sepuluh ribu rupiah. Cukuplah untuk makan dua kali sehari dengan porsi yang memadai atau untuk sekali makan dengan lauk agak mewah, bagi ukuran mereka tentu. Dan, sekali lagi, itu atas dasar kedermawananku, bukan karena kasihan.

Berdasarkan kedermawananku itu, lantas aku punya prinsip selanjutnya: tidak akan melibatkan orang lain pada setiap masalahku. Termasuk soal krisis ini. Aku lebih memilih menyunat subsidi anggaran makanku dengan berpuasa atau mengurangi jatah makan ketimbang berhutang kepada kawan. Aku tak mau merepotkan orang lain atas masalahku. Juga demi harga diri. Gengsi, seorang aku berhutang. Hendak kutaruh di mana mukaku dan apa kata dunia, jika aku yang dermawan, terbiasa menjadi tumpuan kawan-kawan dalam berhutang, kok ya, ikut-ikutan berhutang. Tidak! Itu tidak akan terjadi. Jangankan berhutang yang tentu akan menurunkan derajat kedermawananku, bahkan, untuk sekedar tahu keadaanku yang sedang cetek duit ini pun, mereka tak akan kubiarkan. Lebih baik lapar mempertahankan harga diri ketimbang kenyang dengan merendahkan diri mengemis dikasihani.

Aku tidak mau harga diriku dekaden karena masalah duit, meski dengan duit pula aku mendapatkan harga dan citra diri yang pantas di antara kawan-kawanku. Di antara mereka, citraku adalah seorang dermawan. Berhutang kepadaku tak sulit. Bahkan aku sering tak menagih hutang-hutang itu. Jika dibayar, syukur. Jika tidak, entah sengaja karena tahu aku dermawan atau karena lupa, juga tak masalah. Perlakuan yang baik, hubungan yang harmonis, dan penghargaan yang layak, sudah cukup bagiku.

Hah, adakah yang lebih nikmat dari seorang yang lapar selain bermalas-malasan sambil berkhayal?!

Kembali aku lirik jam. Asem! Baru jam lima kurang seperempat. Kok, ya, dunia ini lambat betul berputarnya. Aku jadi semakin sebal saja dengan putaran menit dan detik dari jam dinding laknat itu. Berkali-kali dilirik sepertinya semakin malas saja berputar. Tidak tahu apa, cacing-cacing pada bergeliat menari keroncongan sambil menusuk-nusuk dinding perutku!

Duit semata wayang sepuluh ribu perak yang sudah lusuh bin kumal binti kucel itu, yang dalam waktu kurang dari satu jam akan segera berkurang untuk menjadi sebungkus nasi warteg tanpa es teh manis sebagai menu berbuka puasa, aku tatap dengan rasa haru seperti pandangan seorang pengasih terhadap kekasihnya yang hendak berlalu. Aku pandangi duit itu sambil glelengan malas di depan televisi seperti orang lumpuh. Televisi menyala tapi tak aku tonton-perhatikan.

Sementara itu, di hadapanku terhampar bayang-bayang samar tak jelas yang mencitrakan hari-hari esokku. Seketika aku pecahkan, aku gecek, aku idek-idek bayang-bayang sialan itu.

Tiba-tiba terdengar suara ketukan di pintu, membuyarkan segala macam pikiran yang berputar-putar di otakku.

“Assalamu’alakum…”

Siapa lagi itu. Ah, semoga keberuntungan. Dengan malas karena lemas kubuka pintu.

“Wa’alaikum salam…”

“Permisi, Mas Tris. Maaf, kalau mengganggu.”

“O, tidak. Lagi santai, kok.”

“Ini, Mas, seperti biasa.” Seseorang yang sudah akrab di lingkunganku itu menyerahkan selembar kertas yang sepertinya sudah dipersiapkan sebelumnya, bertuliskan:

No: 15. Telah diterima dari: TRISNO ARTHO. Uang sejumlah: SEPULUH RIBU RUPIAH. Untuk pembayaran: KEBERSIHAN DAN KEAMANAN RT 05/RW 08.

Glek!!!

Ciputat, 9 November 2008

Gusti Allah Memayungiku

7 November 2008 § Leave a comment


Tadi, berangkat jumatan dengan menerobos rintik-rintik gerimis tanpa payung. Lagian cuma gerimis, tidak terlalu mengancam. Di tengah perjalanan, ternyata gerimis tak kunjung insyaf, malah kian bersemangat menerpa bumi, bergerumul menjadi hujan. Aku harus berlari-lari kecil, seperti mengejar angkot.

Hujan kian menjadi-menjadi saat khutbah berkumandang, dan terus-menerus saat salat berlangsung, bahkan kemudian berlanjut selepas salat. Dengan duduk santai, aku tunggu hujan reda. Tetesan hujan berkurang, menjadi rintik-rintik gerimis. Tapi tetap saja, namanya bukan reda. Kembali, terpaksa aku terobos gerimis. Sial! Ada motor kurang ajar tidak melihat para pejalan kaki menyisir pinggiran jalan. Main kencang saja. Cipratannya sih, tidak banyak. Sedikit. Tapi, celana jin merek EmBa dengan harga cukup mahal ini, baru aku keluakan dari lemari. Tidak peduli habis salat jumat, aku memaki pelan saja, tapi bukan makian kasar. Tapi, ah, sampai juga di rumah, maksudnya, kontrakan.

“Hujan, ya?” kata temannya teman yang lebih memilih tak salat karena gerimis itu.

“Iya, nih!” aku gelar sajadah yang kuyup, maksudnya biar cepat kering.

“Basah dong?”

“Alhamdulillah, ga. Ga sama sekali. Tetap kering, nih. Tadi selama perjalanan berangkat dan pulang, aku dipayungi gusti Allah.”

Kukibas-kibaskan rambut panjangku yang cukup kuyup. Aku buka kaos lengan yang basah di sekujur lengannya, juga di bagian pundak, kemudian aku gantung dengan hanger. Celanan jins anyar yang baru keluar dari lemari itu, jadi kurang nyaman dipakai.

Where Am I?

You are currently browsing entries tagged with Cerpen at Warung Nalar.

%d bloggers like this: