Ijazah

28 March 2010 § Leave a comment


Aku hanya selembar kertas yang murung. Namaku Ijazah. Lihatlah kalimat pertama aku memulai cerita … Muram. “Hanya” dan “murung”, menandakan jika aku adalah sosok tak dianggap, berada di sudut yang siapa pun sepertinya tak sudi sekadar memikirkannya. Tentu saja itu memprihatinkan, jika melihat mulanya aku adalah kertas yang dipersiapkan untuk berfungsi, dan bagi sementara manusia, sosok semacam aku bisa menaikkan gengsi. Terkadang, dalam kesendirian yang menyedihkan, aku sering menangis: kenapa aku harus menjadi milik orang-yang-seharusnya-menjadi-tuanku seperti dia?! Kenapa aku tak menjadi milik si fulan yang sering membawa ijazahnya ke mana-mana, ke setiap tempat yang ia tahu membuka lowongan pekerjaan?! Meski lamaran si fulan sering ditolak, ijazah miliknya pasti tetap merasa bangga karena paling tidak ia masih dianggap ada dan difungsikan semestinya. Aku dapat merasakan itu.

Ya, begitulah nasibku saat ini. Padahal, dulu, bagi orang-yang-seharusnya-menjadi-tuanku, aku adalah sosok idaman, menjadi tujuan dan kebanggaan. Sosok seperti akulah bukti intelektualitas di atas kertas, bahwa di kelas, orang-yang-seharusnya-menjadi-tuanku itu telah bekerja keras.

Pernah suatu ketika aku tersanjung saat seseorang yang menjadi teman orang-yang-seharusnya-menjadi-tuanku menawari agar orang-yang-seharusnya-menjadi-tuanku itu mengirim lamaran pekerjaan ke sebuah kantor. Wah! Bangganya aku. Aku, maksudku, salinanku, aku yang hanya saja tak sejati namun setara dalam fungsi, bakal berguna sebagaimana mestinya. Aku, beserta beberapa lembar kertas lain, dimasukan ke dalam amplop coklat yang hangat. Setelah melewati kantor jasa pengiriman, aku akan sampai ke kantor yang dituju, lalu diterima oleh seorang menejer yang lalu dengan saksama mengamati angka-angka yang tertera di atasku. Angka-angka itu jika diterjemahkan dalam dua kata maka akan terbaca: Amat Baik. Menejer itu akan mengulum senyum kagum. Dan, tentu saja tak sedang terkagum-kagum kepadaku, tapi kepada orang-yang-seharusnya-menjadi-tuanku. Namun, aku tak merasa kecewa dengan itu. Takdirku memang sebatas wakil bagi orang-yang-seharusnya-menjadi-tuanku, dan teman yang mengantarkannya meraih cita-cita. Begitulah aku meraih kebanggaanku.

“Tapi aku belum mendapatkan ijazahku,” kata orang-yang-seharusnya-menjadi-tuanku kepada temannya itu. Saat orang-yang-seharusnya-menjadi-tuanku berkata demikian, aku sangat berharap temannya akan menanggapi begini: “O, ya … Sebaiknya kau dapatkan ijazahmu dulu, secepatnya.” Aku memang benar-benar ingin keluar dari tempat ini. Sejak keluar dari percetakan aku sangat ingin menjadi kebanggaan, tanpa harus berlama-lama di penampungan semacam sini.

“Tak masalah. Sekarang kau hanya perlu mengirim CV-mu,” kata teman orang-yang-seharusnya-menjadi-tuanku. “Aku tak akan merekomendasikan kecuali orang yang kutahu keahliannya. Kirim saja CV-mu. Tak apa tanpa ijazahmu.”

Dapat kubayangkan kebahagiaan yang merasuk dalam diri orang-yang-seharusnya-menjadi-tuanku: satu peluang kerja di depan matanya sedang tersenyum menggoda, dan bisa didapatkan tanpa sedikit pun keterlibatanku. Jika benar-benar terjadi maka itu adalah tragedi besar hidupku. Ah, entah. Aku tak mengerti, kenapa orang-yang-seharusnya-menjadi-tuanku itu menganggap aku sebagai beban, sejak beberapa hari setelah pesta bahagia, resmi, dan prosedural Sabtu itu, yang dalam rentang empat tahun sebelumnya aku adalah tujuan. Setiap perjalanan-empat-tahun adalah aku yang menjadi tujuan. Di aku, perjalanan-empat-tahun berhenti melangkah. Tetapi, apa yang terjadi antara aku dan orang-yang-seharusnya-menjadi-tuanku adalah ironi yang suram yang membuat aku merasa martabat dan derajatku dekaden.

Setarikan napas panjang mengeluh …

Bulan ini adalah tepat satu tahun kurang sebulan sejak tragedi besar itu, dan tepat tiga tahun kurang empat bulan sejak pesta Sabtu itu. Aku masih hanya selembar kertas yang murung … dan masih di sini, di penampungan pengap ini. Satu-satunya hal yang bisa aku syukuri saat ini adalah bahwa aku masih bernama Ijazah.[jr]

27.03.10

Di Pe Dua Puluh (P 20)

18 March 2009 § 1 Comment


likaila ta’sau ‘ala ma fatakum, wala tafrahu bima atakum…

”Supaya Kau tak berduka pada apa yang telah luput darimu, dan tak terlampau gembira pada apa yang Ia beri untukmu,” begitu Gusti Pangeran pernah berujar kepadaku.

Ucapkanlah ‘selamat tinggal’ dengan tulus pada yang apa yang telah pergi darimu. Niscaya ia akan membalas dengan ikhlas, “yang hilang akan beri hikmah. Yang datang bakal bawa berkah.”

Dan akan berujar, “yang telah tiada semoga tak buat dirimu terlalu merana. Yang ada semoga tak buat dirimu terlampau bahagia.”

Sebab, sesungguhnya hidup hanyalah putaran konstan datang dan pergi, ada dan tiada. Masing-masing bergulir pada garis yang sama sehingga perbedaan masing-masing adalah semu. Masing-masing bisa terjadi begitu mudahnya. Namun, kerap menjadi sulit dan rumit karena jiwa yang terlalu sempit.

Lalu, yang hilang bikin malang meradang. Yang datang bikin senang bukan kepalang. Yang tiada buat duka tak terkira. Yang ada buat terpana karena terlampau bahagia…

Dalam hening ketika jiwa berada pada kondisi paling rendah dan hampa, aku pun menimpali Ujaran Suci Sang Gusti itu, “Inggih, Gusti, inggih…”

Pada suatu siang ketika menuju Kemang, di bus Pe Dua Puluh yang tak sesak penuh, aku begitu terusik oleh cuaca terik. Kendaraan besar pada berjejer mepet karena jalanan macet. Rotasi dunia seolah berputar lelet. Suara klakson begitu riuh seolah kendaraan-kendaraan itu pada misuh. Pada kondisi tensi tinggi di mana emosi setiap saat bisa meluap berapi-api, aku bergumam dalam hati, “Gusti, aku teringat kawanku, Supra X 125 R G-5471-BR warna merah hitam yang gagah itu. Gusti, Aku tak mengharap yang pergi akan kembali. Sebab, City Sport One baru tentu saja akan lebih menyenangkanku!”

Di Pe Dua Puluh, tubuhku agak kuyup oleh peluh. Kembali aku bergumam, “Nanti malam saja aku kembali menghayati Ujaran Suci Sang Gusti di atas.”

Kejutan 2009 Yang Membuatku Lemas Mendadak

2 January 2009 § 3 Comments


Tahun 2009 yang masih tercium aroma barunya ini, memancarkan bahagianya untukku, namun seketika menjadi kejutan yang membuatku lemas mendadak.

Berawal dari sebuah Eksotopi (Tentang Kekuasaan, Tubuh, dan Identitas)-nya Goenawan Mohamad, buku yang aku dapatkan dengan segenap keluguan dan kenaifan mahasiswa semester pertama, di tahun 2002. Biarlah tak dapat menaksir kira-kira tentang apa isinya, pula belum tahu siapa itu Goenawan Mohamad, tetap dibelilah saja buku itu, di sebuah bazar di kampus. Benar saja, jangankan mengira isinya, bahkan ketika berusaha membacanya, waktu itu, terbesit penyesalan telah membelinya. Aku biarkan reaksi spontan itu mengalir, kemudian menguap, dan akhirnya hilang sama sekali. Eksotopi lalu aku tempatkan di sudut paling sulit dijangkau, di sebuah rak buku, mengisyaratkan keengganan untuk menyentuhnya.

Saat ini, enam tahun kemudian, aku sadari, gengsiku untuk membeli Eksotopi dengan penuh keluguan, waktu itu, hanyalah penempatan waktu yang kurang tepat, di mana nalar dan pengetahuan belum mampu mengimbangi keluar-biasaan, kenjlimetan, kedalaman buku kumpulan esai sastra itu. Ia bukanlah bacaan ringan untuk seorang mahasiswa baru yang lugu, meski tak bepretensi untuk mengatakan, saat ini pun aku telah dengan mudah begitu saja melahapnya. Eksotopi masih tetap terpandang njlimet dan tak ringan, hanya saja aku telah memiliki ke-pede-an untuk melahapnya, meski harus dengan mengunyahnya berulang-ulang berkali-kali, pelan-pelan. Dan setelah itu pun, pada satu esai (Eksotopi terdiri dari sebelas esai, yang masing-masing berisi lebih dari sepuluh halaman. Eksotopi sendiri salah satu judul tulisan yang kemudian dipilih menjadi judul buku), misalnya, hanya sekian kalimat yang nyangkol, saking dalam substansi yang disampaikannya, dengan kalimat yang njlimet penuh kiasan.

Justeru, kenjlimetan – dalam kamus pribadiku, “njlimet” artinya kalimat indah yang tak sekali lirik langsung dimengerti – itulah yang membuatku terpesona pada setiap tulisan Goenawan Mohammad. Aku semakin tertarik untuk mengakhiri setiap esai di Eksotopi, kemudian bersegara melanjutkan pada esai selanjutnya. Dan, “Caping” alias “Catatan Pinggir” yang menjadi trademark Goenawan Mohamad alias GM, adalah halaman paling akhir Tempo yang paling awal aku tuju, jika kebetulan membacanya. Sama, seperti jika mambaca Eksotopi-nya, biar pun tak mampu memahami sepenuh substansinya, paling tidak aku bisa menikmati – sekaligus belajar – bagaimana GM memilih diksi kemudian merangkaikannya, menjadi “kalimat indah yang tak sekali lirik langsung dimengerti”.

Di tengah aku betekun ria dengan Eksotopi, aku seolah diingatkan, pada tahun 2007, GM merilis buku terbarunya berjudul “Tuhan & Hal-Hal Yang Tak Selesai”, berisi “99 esai amat pendek yang ditulis di masa yang seperti kita alami sekarang, ketika Tuhan tak bisa ditolak dan agama terus bertambah penting dalam hidup orang banyak, memberi kekuatan, menerangi jalan, tapi juga membingungkan dan menakutkan”, begitu deskrpisi singkat tertulis tentang buku itu di sampul belakangnya. Sebelum menekuni Eksotopi, “Tuhan” belum menjadi apa-apa bagiku. Hanya sebatas tahu, itulah buku terbaru GM. Cukup. Tak terbesit secuil pun untuk memilikinya. Namun, pesona GM dalam Eksotopi yang sedang aku tekuni, menggodaku untuk segera memiliki “99 esai amat pendek”-nya itu, kemudian segera menikmatinya.

Maka, sejak pertengahan November (2008) silam, aku memulai perburuan 99 esai amat pendek itu, bolak-balik ke Plaza Bintaro dan Pondok Indah Mall di mana Gramedia (terdekat) berada. Namun, sesering aku mondar-mandir ke dua tempat itu, sesering itu pula aku harus kecewa. Sekali aku datang, buku itu telah habis. Selanjutnya, aku kembali datang seraya berharap buku itu sudah ada. Tapi ternyata tidak. Dan seperti itu selalu, selanjutnya. Harapan datang, ditumbangkan oleh kekecewaan.

Sampai akhirnya, 2009 menjelang, merilis hari pertamanya, 1 Januari yang jatuh di hari Kamis. Ketika sebagian kawan memilih bertamasya ke tempat-tempat hiburan yang tentu akan sangat menyenangkan hati, untuk membunuh hari libur itu, aku lebih asyik ke Gramedia saja. Di Gramedia, bukan hanya hati saja yang senang, tapi nalar pun ikut senang, sebab dimanjakan oleh buku-buku dengan ragam tema yang bisa pilih sesuai kecenderungan, dan dibaca di tempat. Nah, kebahagiaan di tahun baru itu, memancar dari pojok sastra Gramedia Pondok Indah Mall. Tak disangka, ternyata “Tuhan & Hal-Hal Yang Tak Selesai”, yang selama ini aku nantikan keberadaanya, telah berderet rapi di antara buku-buku sastra. Seketika aku raih buku itu, kemudian menuju kasir untuk kutukar dengan lembar-lembar rupiah.

Itulah kebahagiaan yang dipancarkan tahun baru untukku. Seolah, “Tuhan & Hal-Hal Yang Tak Selesai” memang menjadi takdirku, hadir dengan cara yang mengejutkan, dengan memilih hari perdana di tahun 2009, agar ada efek momentum di sana. Kepada kawan, aku sempat merayakan momentum itu, dengan mengirim sms, “Ngalkamdulillah wacukurilah, “Tuhan & Hal-Hal Yang Tak Selesai”-nya Goenawan Mohamad ada juga.”

Adapun kejutan yang membuatku lemas mendadak, yang menjadi tema coretan ini, terjadi saat aku sudah sampai di rumah, yaitu “Tuhan & Hal-Hal Yang Tak Selesai” yang baru aku dapatkan itu ternyata edisi bahasa Inggris! Seketika aku mengekspresikan keterkejutanku itu dengan mengucapkan kalimah thayibah: Astaghfirullah! Innalillah!, yang kemudian dilanjutkan dengan ekspresi keterkejutan lokal: Asem! Jangkrik! Kurang ajar! Sialan! Entah kepada siapa ekspresi itu aku tujukan.

Masalahnya, semesta alam, dari ujung kulon sampai ujung wetan, dari sabrang kidul sampai sabrang lor, dari ujung langit sampai dasar bumi, dari kolong dunia sampai pojok akhirat juga paham, jika aku tidak pandai bahasa Inggris. Memahami tulisan Goenawan Mohamad yang berbahasa ibu saja mesti dengan segenap daya dan mringis-mringis, apalagi yang berbahasa Inggris! Dulu sekali, aku memang pernah kursus bahasa itu. Dipikir sepertinya itu bukan duniaku, aku cuma bertahan tiga bulan. Cabut.

Tapi, sebagaimana aku dulu mendapatkan Eksotopi, mungkin “Tuhan & Hal-Hal Yang Tak Selesai” edisi Inggris itu “hanyalah penempatan waktu yang kurang tepat”. Maka, untuk sementara buku itu akan aku “tempatkan di sudut paling sulit dijangkau, di sebuah rak buku, mengisyaratkan keengganan untuk menyentuhnya”, seraya memburu edisi Indonesianya.

Ah, betapa naifnya aku. Dan, silakan tertawa untuk kenaifanku itu.[jr]

Mba Qonita

18 December 2008 § Leave a comment


Aku berkandang ke kampungku setelah sekian tahun di rantau orang. Tentu saja banyak hal yang telah terjadi. Kantor desa yang cat dinding dan pagar temboknya sudah berganti warna hijau, yang terkhir aku lihat sebelumnya masih berwarna putih. Kata kakekku, warna hijau itu atas usulan kepala desa baru yang dua tahun lalu terpilih. Juga beberapa gang dari gang-gang kampung yang masih berhias rentetan bendera merah putih plastik yang warnanya telah memudar, sisa-sisa perayaan tujuh belasan. Selain itu, tidak ada perubahan mencolok dari infrastruktur kampung.

Hukum alam juga berlaku sebagaimana biasa. Ada yang pergi, ada yang datang. Ada yang meninggal, seperti Wak Daid, kawan seangkatan kakek, Haji Ramin, orang tua kades terdahulu, juga ada bayi lahir menambah perbendaharaan jumlah warga kampung.

Satu hal lagi di kampungku: sudah tidak ada lagi pengajian subuh di masjid desa yang diasuh Kyai Mualimin. Kata kakekku, pengajian itu sudah berhenti total sejak setahun lalu. Kyai Mualimin tak mau lagi melanjutkan mengajar kitab Mukhtashar Ihya ‘Ulumuddin karya Imam Ghazali, yang pada pertemuan terakhir baru sampai pada pertengahan kitab.

Kyai Mualimin seusia dengan kakekku. Ia teman kecil kakekku. Pada usia dewasa, ketika sadar hidup memberikan pilihan, Kyai Mualimin memilih melanjutkan pendidikannya di pesantren, sedangkan kakekku sepertinya lebih berbakat menjadi petani, mewarisi bakat tani bapaknya, alias buyutku. Dengan bakat dan ketekunan masing-masing, keduanya sukses: Kyai Mualimin di-kyai-kan oleh warga kampung karena kealimannya, sedangkan kakekku, cukup sukses dengan garapan sawahnya. Nasib memang menggariskan keduanya tetap akrab sampai tua. Jika dulu akrab sebagai teman kecil, sekarang akrab sebagai teman ngaji. Bedanya, Kyai Mualimin menjadi kyai, dan kakekku menjadi salah satu jamaah setia pengajian subuhnya, sejak pertama kali Kyai Mualimin membuka pengajian itu berpuluh tahun silam, sampai akhirnya Kyai Mualimin memutuskan memberhentikan pengajiaannya.

Kata kakekku, seingatnya, beberapa kitab yang pernah diajarkanya dalam rentang puluhan tahun itu antara lain al-Hikam karya Ibnu Athaillah, Adab al-Dunya wa al-Din karya Imam Mawardi, Riyadh al-Shalihin karya Imam Nawawi. Hanya itu yang kakekku ingat. Kata kakekku, hebatnya Kyai Mualimin, dia tidak hanya menguasai isi kitab-kitab itu, ia juga menguasai riwayat pengarangnya yang penuh hikmah, yang sering pula ia ceritakan di sela-sela pengajiannya. Hebatnya kakekku, ingatannya cukup kuat dan tidak pikun. Ya, paling tidak untuk menceritakan nama kitab sekaligus pengarangnya.

Tapi sayang, sore itu, cerita tentang pengajian Kyai Mualimin menjadi episode terakhir – yang sebelumnya diawali dengan episode suksesi kades dan kantor kades yang dicat hijau, episode kawan seangakatannya yang mangkat dan bayi yang lahir, episode garapan sawahnya yang diserahkan ke orang tuaku, dan beberapa selingan lainnya – dan tidak sampai pada detil kenapa Kyai Mualimin memberhentikan pengajiaanya yang sudah berlangsung puluhan tahun itu, karena terpotong azan magrib. Kakekku mengajakku jamaah di langgar depan rumah. Ah, ternyata lama juga aku mendengarkan cerita-cerita kakek. Aku perhatikan, kakekku sudah tiga kali nglinting klobot dari tembakau dan daun jagung yang dikeringkan – warga kampungku menyebutnya klaras – menemani ceritanya. Mungkin, aku akan meminta kakek melanjutkan cerita pengajian Kyai Mualimin yang tak tuntas itu, besok pagi setelah sarapan, atau sore hari selepas asar.

Esoknya, di sore hari, aku lihat kakekku sedang duduk santai di lincak, tempat duduk lebar dari bambu bikinannya, di teras rumah. Masih mengenakan peci hitam dan sarung. Baru turun dari langgar. Jika sudah begitu, apalagi yang paling enak selain menikmati lintingan-lintingan klobot, untuk membunuh sore, seperti biasanya.

“Patua, sekarang, kan, sudah banyak rokok pabrikan. Tinggal hisap, praktis, tidak perlu repot ngelinting-ngelinting begitu,” kataku.

“Bukan begitu, Nang. Ini soal seni dan kenikmatan. Lagi pula, patuamu ini tidak cocok menghisap rokok pabrikan itu. Ya bagaimana, wong, sudah biasa ngelobot begini.”

Ya, sudah. Lagian, itu cuma prolog basa-basi saja. Tujuan utamaku mendekati kakek adalah memintanya melanjutkan cerita soal pengajian Kyai Mualimin.

Kakekku tiba-tiba terdiam, dan raut mukanya seketika berubah, saat mendengar aku memintanya melanjutkan cerita. Begitu mendalamkah cerita itu bagi kakek?

“Kamu tahu Mba Qonita, kan? Anak bontot dan satu-satunya perempuan di antara anak-anak Kyai Mualimin itu?”

“Iya.” Tentu saja aku ingat. Dia kakak kelasku berapa tingkat di madrasah dulu. Tapi dia sampai kelas lima saja, untuk kemudian dikirim ke pesantren di luar daerah oleh bapaknya.

“Kenapa memangnya, Patua?”

Aku penasaran oleh pancingan-pancingan cerita kakek. Dan akhirnya, kakek bercerita juga…

“Mba Qonita, biarpun perempuan dan masih muda, dia itu bakal meneruskan bakat alim Kyai Mualimin, bapaknya. Sejak kecil sudah dimasukan pesantren. Kalau Kyai lagi tidak enak badan, Mba Qonita yang menggantikannya mengisi pengajian subuh. Meski belum sealim bapaknya, tapi ada bakat untuk itu. Mas-masnya justeru tidak ada yang bisa ngaji. Wong, tidak ada yang mau nyantren. Pada jadi pengusaha atau nggarap sawah.”

Aku mengangguk untuk suatu kewajaran. Mba Qanita memang terkenal cerdas, juga shalihah. Tentu saja cantik.

Klobot pertama habis. Kakekku memberi jeda cerita. Kembali ia ngelinting klobot.

“Terus?” kataku, melihat lintingan itu sudah terbakar, dan dihisapnya.

“Wallahu’alam. Ceritanya aneh. Ajaib.”

“Suatu ketika, Mba Qonita hamil. Dan itu diketahui setelah kandungannya berusia empat bulan. Padahal semua tahu, dia belum menikah. Semua terkaget. Tentu saja ini menjadi berita besar, dan dengan segera menyebar rata di seluruh penjuru kampung. Menjadi gunjingan di mana-mana. Di sawah, di kali, di kantor desa, di langgar, di pengajian muslimat dan fatayat, di pengajian reboan ibu-ibu, di lingkaran tahlilan bapak-bapak setiap malam jumat, apalagi di kumpulan-kumpulan dadakan semacam didisan dan petanan (cari kutu rambut) para ibu-ibu yang biasanya lebih seru jika dibumbui dengan ngerasani. Maklum, yang jadi berita adalah keluarga Kyai Mualimin, tokoh paling dituakan dan berpengaruh untuk soal agama.”

Pokoknya, kehamilam Mba Qonita menjadi isu top di segala forum.

“Bermacam reaksi menyeruak. Terkuaklah apa yang selama ini tersembunyi. Siapa-siapa yang selama ini dengan tulus menghormati Kyai Mualimin, tulus mengikuti pengajiannya, siapa-siapa yang berpura-pura bermuka manis di hadapannya tapi hatinya meneteskan liur asam, siapa-siapa yang selama ini menyimpan kebencian terselubung kepadanya. Tapi barangkali wajar, jika bermacam reaksi negatif bermunculan, mengingat yang terjadi dianggap aib yang mengotori kampung yang cukup relijius ini.”

“Ini juga mempengaruhi pengajian subuh yang diampunya. Sejak, pertama kali berita itu menyebar, semakin hari, para jamaah pengajian semakin menyusut, seperti sudah tidak percaya lagi kepada Kyai Mualimin. Katanya kyai yang alim soal agama, tapi ngurus anak sendiri saja, perempuan lagi, tidak becus, sampai bisa hamil di luar nikah begitu. Kira-kira seperti itulah yang digunjingkan warga. Hanya segelintir orang yang masih mau ngaji, termasuk Patuamu ini. Bahkan, oleh kades, atas usulan beberapa warga, Kyai pernah diminta untuk tidak lagi memberikan pengajian. Tapi Kyai menolak, alasanya selama masih ada yang mau ngaji, biar segelintir, ia tidak akan menghentikan pengajiannya. Alasannya diterima, tapi dengan catatan, tidak boleh menggunakan pengeras suara.”

“Sementara berita kehamilan Mba Qonita menggelinding liar di masyarakat – tak lagi diketahui yang mana fakta, yang mana desas-desus, semuanya campur baur menyaru bersama opini-opini, terkadang cacian dan umpatan – keluarga Kyai Mualimin sendiri tidak kalah dibikin ruwet. Masing-masing anggota keluarga terbakar emosi dengan kadar panas yang berbeda. Mas-masnya yang paling mendesak Mba Qonita agar mau mengakui, laki-laki mana yang menghamilinya. Ibunya hanya diam, tapi jelas memendam kekesalan. Kyai Mualimin sekali pernah menampar Mba Qonita. Sekali-kalinya kekerasan terhadap keluarga yang pernah ia lakukan. Wajar, itu reaksi spontan orang yang kaget untuk hal yang tidak wajar dan dianggap aib. Yang aneh, sejak pertama kali berita kehamilan Mba Qonita diketahui keluarganya, Mba Qonita mendadak jadi bisu, gagu. Wallahu a’lam. Itu yang aku dengar langsung dari Kyai Mualimin. Jadi, bagaimana dia mau menjelaskan atau membela diri atas desakan-desakan keluarganya.”

“Kasihan, Mba Qonita. Di dalam rumah ia terpojok. Di luar rumah orang-orang ramai mengolok. Siang malam hanya bisa menangis. Di kamarnya ia mengunci diri.”

Lagi-lagi, kakek memberi jeda, untuk membakar klobot-nya yang padam karena beberapa saat tak dihisap. Aku jadi ikut hanyut, emosional mendengar empati kakek terhadap nasib Mba Qonita.

Kakek menghisap klobot yang baru dibakarnya, dengan kenikmatan mendalam.

“Terus?”

“Yang selanjutnya terjadi, keadaan malah semakin menyudutkan Mba Qonita.” Cerita kakek, kalau aku bahasakan begini: Mba Qonita tidak hanya tersudut secara kultural, tapi juga terdesak oleh kekuatan struktural.

“Suatu malam, kades dan beberapa ketua RW mendatangi rumah Kyai Mualimin, untuk menyampaikan, yang kata kades sendiri, adalah suara warga. Kata kades, warga meminta agar Mba Qonita dititipkan saja ke sanak keluarga Kyai di luar kampung. Kasarnya, diusir keluar kampung. Kata kades lagi, warga khawatir, aib ini akan membawa musibah bagi kampung. Jika sudah dititipkan keluar kampung, Kyai Mualimin boleh memberikan pengajian dengan menggunakan pengeras suara.”

“Kyai Mualimin setuju?”

“Iya.” Sejenak kakek memberi jeda, untuk menghisap rokok klobot-nya.

“Terus?”

“Kamu tahu, Nang?”

“Apa itu?”

“Cerita ini aku dengar langsung dari Kyai Mualimin…”

” ‘Pada suatu pagi buta, di mana aku biasa melaksanakan tahajud, tiba-tiba ada suara ketukan di pintu rumahku. Setelah kubuka, aku terkejut, ternyata itu adalah sosok putriku, Qonita, yang tujuh bulan lalu aku usir, aku titipkan di sanak saudaraku di luar kampung. Ia mengenakan jubah hitam. Wajahnya putih, bersih, dan bersinar. Benar-benar bersinar. Ia membopong seorang bayi. Aku hanya melotot. Heran, kaget, dan takjub bercampur jadi satu. Tapi, sesungguhnya ada rasa haru juga di hatiku.’

” ‘Setelah putriku masuk dan duduk di kursi, dalam hitungan detik, sinar di wajahnya tiba-tiba berpindah ke wajah sang bayi yang masih di pangkuannya. Dan ini yang hampir aku tak percaya, bayi itu tiba-tiba bisa bicara! Bukan suara anak kecil, tapi suara orang tua yang berat dan berwibawa!’

” ‘Aku langsung terduduk di lantai, lemas. Aku merasakan dingin yang tiba-tiba merasuk di sekujur tubuhku, ketika bayi yang wajahnya bersinar itu memberondongiku dengan perkataan-perkataannya. Aku merinding mendengarkannya.’

” ‘Kenapa, Mualimin?! Kenapa kau sepertinya kaget dengan ini?!’

” ‘Kenapa Kau heran, meradang dengan apa yang terjadi pada Qonita?!’

” ‘Kenapa hatimu buram, pikiranmu buntu melihat kehamilan Qonita yang tanpa ayah?!’

” ‘Kenapa Kau melihat itu sebagai kemustahilan?!’

” ‘Apakah hatimu ragu akan kuasa Allah, saat mulutmu begitu memukau menyampaikannya dalam ceramahmu setiap pagi?!’

” ‘Mualimin, kau yang dikenal alim di sepenjuru kampung, tapi tampak kerdil oleh kehamilan putrimu.’

” ‘Tak tahukah Kau, mudah saja bagi Allah menjadikan Qonita hamil tanpa ayah sekalipun, sebagaimana mudahnya Ia menjadikan warga menyebutmu “kyai”?! Apakah Kau berpikir warga memanggilmu “kyai” sebagai kewajaran karena ada sebab-musababnya, sementara kehamilan Qonita yang tanpa sebab Kau anggap sebagai ketakwajaran?!’

” ‘Mualimin, Kau alim dan begitu mencintai pengajianmu. Penyakit orang sepertimu, orang alim yang pandai mengaji, adalah tak mau ngaji dan belajar lagi. Merasa dirinya telah alim. Lebih merasa pantas diri menjadi pengajar, ketimbang mengambil pelajaran.’

Cerita sore itu dihentikan oleh kumandang azan magrib. Kakek kembali mengajakku shalat jamaah di langgar. Saat berangkat ke langgar, aku sempat mengungkapkan keheranan akan cerita ajaib tentang Kyai Mualimin itu.

“Wallahu a’lam, Nang. Tapi itulah yang aku dengar dari Kyai Mualimin sendiri, beberapa hari setelah peristiwa itu, setahun yang lalu. Dan katanya, Patuamu ini satu-satunya orang yang diceritainya. Dan Kamu, Nang, orang kedua yang tahu, setelah aku. Dan sejak peristiwa itulah, Kyai Mualimin menghentikan total pengajiannya di masjid.”

Malam harinya, aku benar-benar sulit tidur. Cerita kakek mengiang-ngiang di benakku, memporak-porandakan nalarku. Masih heran betul. Tapi aku masih sempat berpikir: bagaimana kondisi bayi ajaib itu saat ini, juga Mba Qonita? Ah, mungkin nanti aku bisa tanyakan kepada kakek, atau meminta kakek mengajakku bertamu ke rumah Kyai Mualimin.[jr]

Ciputat, 17 Desember 2008

…….

* Patua: bapak tua atau kakek.
* Nang: lanang atau anak laki-laki

Jiwa

8 December 2008 § Leave a comment


“Aku minta maaf untuk semua yang terjadi.”

“Jangan minta maaf. Lebih baik berdoa, agar hatiku segera luluh, sehingga bisa lega memaafkamu. Aku hanya butuh waktu untuk kembali seperti semula.”

“Kamu masih sakit hati?”

“Biarkan itu terjadi. “

“Aku minta maaf.”

“Tak perlu minta maaf. Masalah bukan pada kamu. Justeru pada diriku.”

“Tolong, maafkan aku.”

“Kamu tak perlu terbebani oleh sakit hatiku. Ini masalahku.”

“Tapi aku yang membuatmu terjebak pada masalahmu itu. Aku yang telah membuatmu sakit hati.”

“Memberikan kata maaf itu sangat mudah, sama mudahnya dengan memintanya.”

“Kamu meminta syarat untuk memaafkanku?”

“Tidak.”

“Lalu apa? Aku gelisah oleh ini.”

“Gelisah?”

“Iya. Tolonglah aku.”

“Tidak. Aku tidak bisa menolongmu. Aku tidak bisa memaafkanmu.”

“Tolong. Tolong, maafkan aku.”

“Kenapa?”

“Ini memang kesalahanku. Kebodohanku. Ini benar-benar membuatku gelisah.”

“Meski bermula dari kesalahanmu, tapi sesungguhnya, sakit hatiku ini adalah masalahku. Tak lagi terkait denganmu.”

“Ini membuatku tidak tenang.”

“Apakah hanya sebuah kata maaf dapat membuatku tenang, melepaskan kegelisahanmu?! Sesungguhnya bukan kepadaku kamu harus minta maaf. Minta maaflah pada dirimu sendiri. Jiwamu yang dapat memaafkanmu, menenangkanmu.”

“Aku menyesal.”

“Sebagaimana sakit hatiku. Bukan penyesalanmu, bukan permintaan maafmu yang dapat menyembuhkannya. Tapi diriku sendiri, jiwaku sendiri.”

“Sungguh, maafkan aku.”

“Sakit hatiku hanya soal waktu. Kegelisahanmu, kebersalahanmu juga hanya soal waktu.”

“Tolong…”

“Jangan mengiba maaf saat aku sakit hati. Minta maaflah pada dirimu.”

“Aku menyesal, aku gelisah, aku tidak tenang.”

“Biarkan itu terjadi.”

“Kamu dendam?”

“Tidak. Jika aku dendam, moralku telah kalah. Kemenanganku adalah saat aku dapat menenangkan diriku sendiri, bukan karena kamu menyesal, mengiba maaf, kemudian aku memaafkanmu.”

“Kamu membenciku?”

“Aku tidak tahu.”

“Kau masih mencintaiku?”

“Aku tidak tahu.”

“Sekarang, Kamu membuatku bingung.”

Ciputat, 8 Desember 2008

Kwitansi

10 November 2008 § 1 Comment


Jika ada yang paling aku tunggu saat ini, itulah adzan maghrib. Bolak-balik aku lirik jam. Ah, tapi baru jam empat. Jika “baru” berarti waktu yang dinantikan masih begitu jauh. Sepertinya lelet betul waktu berjalan. Aku tak sabar bercampur gelisah menunggu waktu di mana hari baru dalam kalender hijriyah akan bermula. Maklum, hari ini aku sedang puasa.

Elho, hari Minggu, kok, puasa?

Ssst…! Dengarkan, ini puasa sebab keadaan darurat. Tapi, ini sungguh-sungguh puasa. Ritualnya, syarat dan rukunnya aku penuhi. Jadi, secara fikih, puasaku itu sudah betul, hanya saja sedikit aku politisir: ada kepentingan ekonomi laten di sana. Jadi, puasaku itu mencakup dua bidang sekaligus, yaitu bidang agama dan bidang ekonomi. Aku tidak hanya sedang beribadah tapi sekaligus sedang melakukan upaya penataan ekonomi untuk menghadapi krisis yang sedang menderaku. Intinya, aku lagi bokek. Sial! Dan duit yang aku punya saat ini adalah selembar sepuluh ribu perak yang sudah dianggarkan untuk berbuka nanti. Betapa berharganya duit sejumlah itu jika berada di tempat dan waktu yang tepat. Aku timang-timang duit semata wayang itu dengan penuh kasih sayang seperti anak tunggal yang cerdas dan menjadi harapan masa depan.

Memang, minggu-minggu ini kehidupanku ibarat pensil yang meruncing pada ujungnya. Semakin hari, semakin cekak saja duitku, semakin harus irit pula aku mengeluarkannya. Dan hari ini adalah ujung paling ujung dari pensil, ketika aku harus bertahan hidup hanya dengan sepuluh ribu rupiah itu. Bahkan, adegan bertahan itu telah dimulai sejak tadi malam. Dan syukurlah, sampai sore ini aku masih bisa makan, bahkan mungkin sampai besok. Aku tidak mungkin akan menghabiskan sepuluh ribu itu untuk sekali makan saat berbuka nanti. Subsidi anggaran makan harus dikurangi. Ingat, ini masih krisis. Setiap rupiah yang keluar harus atas azas fungsi dan manfaat pokok. Pengeluaran-pengeluaran sekunder biar dihentikan dulu jika ingin tetap bertahan sampai pada saatnya nanti aku kembali berlimpah duit. Entah kapan.

Seperti siang tadi, aku menolak dengan halus pengemis yang mendatangi rumahku, maksudnya, rumah kontrakanku, dengan modus infak pembangunan masjid. Ya, bagaimana lagi, duit sepuluh ribu itu adalah pertahanan pangan terakhirku. Bagaimana aku bisa berbelas kasih kepada orang lain sementara aku sendiri butuh dikasihani. Tapi, keluhan semacam ini hanya ada dalam hatiku. Tidak mungkin, keadaan tak ideal itu aku umbar kemana-mana, ke kawan-kawanku, misalnya, apalagi demi mendapatkan belas kasihan.

Maaf, aku memang tidak mau dibelaskasihani. Ditawari pun aku pantang (tentu aku akan menolaknya dengan sehalus-halusnya agar tak menyinggung perasaan orang yang bermaksud baik), apalagi meminta belas kasihan. Ini soal prinsip. Bagiku, orang yang memberi belas kasihan adalah seorang hipokrit yang narsis. Orang yang berbelas kasih kepada orang lain sesungguhnya ia sedang memanifestasikan cintanya kepada diri sendiri, bukan karena cintanya kepada sesama, bukan karena altruistis atau al-itsar dalam bahasa Arab, bukan karena kesediaan ingin membantu yang lahir dari sifat kedermawanan. Setelah memberikan belas kasihan, ia akan melihat dirinya sendiri sambil bergumam syukur semu, “Alhamdulillah! Terima kasih, Tuhan. Ternyata, aku masih beruntung”. Maka, konteks yang terjadi adalah hubungan antara “si beruntung” dengan “si buntung” yang tak beruntung. “Si beruntung” yang sedang memanfaatkan ketak-beruntungan “si buntung” untuk bersyukur. Ya, mungkin juga belas kasihannya adalah ekspresi ketakutan dan ketidak-mampuan menanggung beban jika dirinya yang berada pada posisi “si buntung” itu. Ah, narsis!

Nah, tapi itu orang lain. Aku tidak seperti itu. Kalau aku, sih, apa yang aku berikan, aku hutangkan, aku sedekahkan, tentu saja atas dasar kedermawananku. Aku tidak punya rasa belas kasihan, yang aku punya adalah kedermawanan. Pemberian seorang dermawan biasanya didasarkan pada kebutuhan faktual orang yang diberi, bukan semata-mata “menggugurkan kewajiban”, maka asal saja memberi. Kepada pengemis, misalkan, aku selalu mengestimasikan kebutuhan makan mereka, minimal dalam satu hari, atau paling tidak sekali makan. Maka, nominal minimal yang mampu aku berikan kepada pengemis adalah sepuluh ribu rupiah. Cukuplah untuk makan dua kali sehari dengan porsi yang memadai atau untuk sekali makan dengan lauk agak mewah, bagi ukuran mereka tentu. Dan, sekali lagi, itu atas dasar kedermawananku, bukan karena kasihan.

Berdasarkan kedermawananku itu, lantas aku punya prinsip selanjutnya: tidak akan melibatkan orang lain pada setiap masalahku. Termasuk soal krisis ini. Aku lebih memilih menyunat subsidi anggaran makanku dengan berpuasa atau mengurangi jatah makan ketimbang berhutang kepada kawan. Aku tak mau merepotkan orang lain atas masalahku. Juga demi harga diri. Gengsi, seorang aku berhutang. Hendak kutaruh di mana mukaku dan apa kata dunia, jika aku yang dermawan, terbiasa menjadi tumpuan kawan-kawan dalam berhutang, kok ya, ikut-ikutan berhutang. Tidak! Itu tidak akan terjadi. Jangankan berhutang yang tentu akan menurunkan derajat kedermawananku, bahkan, untuk sekedar tahu keadaanku yang sedang cetek duit ini pun, mereka tak akan kubiarkan. Lebih baik lapar mempertahankan harga diri ketimbang kenyang dengan merendahkan diri mengemis dikasihani.

Aku tidak mau harga diriku dekaden karena masalah duit, meski dengan duit pula aku mendapatkan harga dan citra diri yang pantas di antara kawan-kawanku. Di antara mereka, citraku adalah seorang dermawan. Berhutang kepadaku tak sulit. Bahkan aku sering tak menagih hutang-hutang itu. Jika dibayar, syukur. Jika tidak, entah sengaja karena tahu aku dermawan atau karena lupa, juga tak masalah. Perlakuan yang baik, hubungan yang harmonis, dan penghargaan yang layak, sudah cukup bagiku.

Hah, adakah yang lebih nikmat dari seorang yang lapar selain bermalas-malasan sambil berkhayal?!

Kembali aku lirik jam. Asem! Baru jam lima kurang seperempat. Kok, ya, dunia ini lambat betul berputarnya. Aku jadi semakin sebal saja dengan putaran menit dan detik dari jam dinding laknat itu. Berkali-kali dilirik sepertinya semakin malas saja berputar. Tidak tahu apa, cacing-cacing pada bergeliat menari keroncongan sambil menusuk-nusuk dinding perutku!

Duit semata wayang sepuluh ribu perak yang sudah lusuh bin kumal binti kucel itu, yang dalam waktu kurang dari satu jam akan segera berkurang untuk menjadi sebungkus nasi warteg tanpa es teh manis sebagai menu berbuka puasa, aku tatap dengan rasa haru seperti pandangan seorang pengasih terhadap kekasihnya yang hendak berlalu. Aku pandangi duit itu sambil glelengan malas di depan televisi seperti orang lumpuh. Televisi menyala tapi tak aku tonton-perhatikan.

Sementara itu, di hadapanku terhampar bayang-bayang samar tak jelas yang mencitrakan hari-hari esokku. Seketika aku pecahkan, aku gecek, aku idek-idek bayang-bayang sialan itu.

Tiba-tiba terdengar suara ketukan di pintu, membuyarkan segala macam pikiran yang berputar-putar di otakku.

“Assalamu’alakum…”

Siapa lagi itu. Ah, semoga keberuntungan. Dengan malas karena lemas kubuka pintu.

“Wa’alaikum salam…”

“Permisi, Mas Tris. Maaf, kalau mengganggu.”

“O, tidak. Lagi santai, kok.”

“Ini, Mas, seperti biasa.” Seseorang yang sudah akrab di lingkunganku itu menyerahkan selembar kertas yang sepertinya sudah dipersiapkan sebelumnya, bertuliskan:

No: 15. Telah diterima dari: TRISNO ARTHO. Uang sejumlah: SEPULUH RIBU RUPIAH. Untuk pembayaran: KEBERSIHAN DAN KEAMANAN RT 05/RW 08.

Glek!!!

Ciputat, 9 November 2008

Gusti Allah Memayungiku

7 November 2008 § Leave a comment


Tadi, berangkat jumatan dengan menerobos rintik-rintik gerimis tanpa payung. Lagian cuma gerimis, tidak terlalu mengancam. Di tengah perjalanan, ternyata gerimis tak kunjung insyaf, malah kian bersemangat menerpa bumi, bergerumul menjadi hujan. Aku harus berlari-lari kecil, seperti mengejar angkot.

Hujan kian menjadi-menjadi saat khutbah berkumandang, dan terus-menerus saat salat berlangsung, bahkan kemudian berlanjut selepas salat. Dengan duduk santai, aku tunggu hujan reda. Tetesan hujan berkurang, menjadi rintik-rintik gerimis. Tapi tetap saja, namanya bukan reda. Kembali, terpaksa aku terobos gerimis. Sial! Ada motor kurang ajar tidak melihat para pejalan kaki menyisir pinggiran jalan. Main kencang saja. Cipratannya sih, tidak banyak. Sedikit. Tapi, celana jin merek EmBa dengan harga cukup mahal ini, baru aku keluakan dari lemari. Tidak peduli habis salat jumat, aku memaki pelan saja, tapi bukan makian kasar. Tapi, ah, sampai juga di rumah, maksudnya, kontrakan.

“Hujan, ya?” kata temannya teman yang lebih memilih tak salat karena gerimis itu.

“Iya, nih!” aku gelar sajadah yang kuyup, maksudnya biar cepat kering.

“Basah dong?”

“Alhamdulillah, ga. Ga sama sekali. Tetap kering, nih. Tadi selama perjalanan berangkat dan pulang, aku dipayungi gusti Allah.”

Kukibas-kibaskan rambut panjangku yang cukup kuyup. Aku buka kaos lengan yang basah di sekujur lengannya, juga di bagian pundak, kemudian aku gantung dengan hanger. Celanan jins anyar yang baru keluar dari lemari itu, jadi kurang nyaman dipakai.

Kursi Plastik Stasiun

5 November 2008 § 2 Comments


Sudah dua jam kereta api bertolak dari Stasiun Senen, belum ada tanda-tanda keakraban di antara para penumpang dua jok saling berhadapan itu, ditambah satu anak kecil yang tertidur tenang di pangkuan ibunya. Sedangkan Listya Lestari masih memandang keluar jendela. Mamandang setiap benda, bangunan, pohon, tiang listrik, atau apa saja yang dilewati oleh sorotan mata sipitnya. Tapi perhatiannya tidak benar-benar tertuju pada apa yang dipandangnya.

“Turun di mana, Dik?” suara bapak-bapak yang duduk di sampingnya sedikit mengagetkannya. Lamunannya seketika buyar. Serta merta dia mengalihkan pandangannya ke arah suara tersebut.

“Saya? O, saya turun di Stasiun Tugu,”

“Saya Jogja juga. Adik Jogjanya mana ya?” bapak itu ternyata minta lebih detail.

“Kotagede,” Listya tetap menjawab pendek. Ia sungguh tidak memahami apa kepentingan bapak ini bertanya demikian, dan orang-orang lainnya yang kerap ia jumpai pada beberapa perjalanan Jakarta – Jogja dan Jogja – Jakarta, selain basa-basi.

“Di Jakarta kerja?” tanya bapak itu menduga.

Kerja?! Masak, tidak bisa membedakan mana tampang pekerja, buruh, pembantu, dan mahasiswa, sih?! Memang, wajah saya, yang kata temen-temen manis ini, cocok sebagai sosok buruh, pembantu, atau pekerja? Enak saja! Setidaknya, kan, beda, wajah mahasiswa terpelajar dengan sosok lainnya!

“O, tidak, Pak! Saya masih kuliah.”

“Jadi masih kuliah?! Bagus! Raji-rajin saja kuliahnya!” Nasihat khas orang tua. Selama bolak-balik Jakarta-Jogja, Jakarta-Jogja, nasihat ini adalah untuk yang kesekian kalinya Listya dengar dari kenalan perjalanannya, yang rata-rata memang orang paruh baya seperti bapak itu.

Seiring dengan perjalanan kereta yang semakin jauh meninggalkan Jakarta, obrolan mereka pun semakin jauh, tepatnya berragam. Dari perkenalan itu Listya tahu, bapak seumur baya itu punya nama Sarman.

Pukul setengah lima sore, kereta sudah memasuki Jawa Tengah. Sekitar dua jam lagi, kereta akan sampai di Stasiun Purwokerto. Sedangkan untuk sampai ke Jogja, masih butuh waktu sekitar lima jam lagi. Benar-benar perjalanan yang melelahkan. Listya Lestari tampak terkantuk.

“Bruk!”

Suara yang muncul tiba-tiba, yang menyertai barang jatuh, mengagetkannya. Ia seketika terbangun dari tidurnya. Masih terkaget-kaget. Wajahnya kusut dan sedikit berminyak. Ia mencari-mancari sumber suara itu.

“Maaf, ini tas saya,” kata Listya sambil mengulum senyum. Ia sedikit kesakitan. Kaki kirinya tertimpa tasnya yang jatuh itu, sebab posisi kereta yang miring mengikuti rel yang berbelok. Listya Lestari segera mengambil tasnya, dan akan menaruh kembali di tempat semula. Tiba-tiba ia terhuyung-huyung.

“Mari saya bantu!” Pak sarman berdiri menawarkan diri. Listya segera minggir sedikit, memberi ruang kepada Pak Sarman untuk meletakkan tasnya, tapi masih tetap berdiri.

“Terima kasih!” kata Listya, lagi-lagi dengan mengulum senyum. Kemudian keduanya duduk kembali.

Listya Lestari memandang keluar jendela. Yang dilihatnya hanya pemandangan perbukitan dan sawah.

“Sudah sore,” katanya dalam hati. Kemudian ia melirik jam di tangannya.

Sepasang suami istri di jok depannya, beserta anaknya itu, telah bersiap-siap untuk turun. Barang-barang bawaanya, satu tas yang berukuran cukup besar, satu lagi berukuran sedang dan satu kardus mereka turunkan. Agak kerepotan. Listya turut membantu menurunkannya.

Kereta api memasuki Stasiun Purwekerto, semakin lambat melaju. Dalam hitungan detik, kereta akan benar-benar berhenti.

“Mari, Dik, Pak, saya duluan!” bapak-ibu itu beranjak dari kursi. Listya Lestari dan pak Sarman mempersilakan

Bapak-ibu itu berjalan tergopoh-gopoh membawa barang bawaannya. Bapak-ibu itu berjalan merayap pelan, berhimpitan dengan penumpang lain yang hendak keluar, ditambah dengan lalu-lalang pedagang asongan yang menjajakan barang dagangannya. Menambah sesak saja.

“Gorengannya, Bu!” kata Listya Lestari kepada seorang ibu penjual gorengan yang lewat di depannya. Listya membeli beberapa gorengan dan lontong. Tampaknya ia lapar. Bayangkan, selama kurang lebih perjalanan sembilan jam, yang masuk ke perutnya cuma air mineral. Makanan terakhir yang masuk ke perutnya hanyalah sarapan pagi, sebelum berangkat tadi. Untuk mengalau laparnya, selama perjalanan, ia lebih memilih banyak tidur, meski dengan segala ketidaknyamanan. Namanya juga kereta api ekonomi. Lebih baik menahan lapar, ketimbang makan teratur seperti biasa, terus perut moncrot-moncrot, seperti yang pernah terjadi sebelumnya.

“Berapa, Bu?” kata Listya Lestari yang kemudian dijawab oleh ibu penjual gorengan tadi, dengan menyebutkan sejumlah nominal. Listya Lestari merogoh saku bajunya, meraba-raba. “Kok, nggak ada,” hatinya berbisik, bingung, dompet yang dicarinya tidak ada. “Celaka!” sebentar ia sedikit berpikir, ke mana gerangan dompetnya itu.

Ups! Ternyata dia lupa, kalau semua barang bawaan miliknya, termasuk barang-barang titipan ibunya, ia masukan ke dalam tasnya. Ia menghela napas, lega. Ia segera berdiri mengambil tasnya, membuka dan mengambil dompetnya.

Listya Lestari menawarkan kepada Pak Sarman, gorengan yang dibelinya tadi. Pak Sarman menolak dengan sangat halus, sambil mengucapkan terima kasih. Kebetulan. Sebenarnya ia pun hanya basa-basi saja. Ia memang kelaparan.

“Itu tas kamu?” Listya mengiyakan pertanyaan basa-basi dari Pak Sarman.

“Hati-hati saja. Banyak yang suka ambil kesempatan pada saat seperti ini. Mereka pura-pura sebagai penumpang atau pedagang, padahal mereka sedang mengincar barang-barang para penumpang,” Pak Sarman menasihati.

Listya memperhatikan omongan Pak Sarman sambil mengernyitkan keningnya. Sementara mulutnya asyik mengunyah gorengan. Hatinya berbicara sendiri, seharusnya ia tidak perlu menerima nasihat baik semacam itu. Dirinya sudah pengalaman. Ia tahu kapan saat-saat pencopet beraksi, dan kapan ia harus waspada, kapan juga harus membenamkan diri dalam tidur lelah.

Telah satu jam lebih kereta bertolak dari Stasiun Purwekerto. Kursi di depan Listya yang sebelumnya di tempati oleh ibu-bapak beserta satu anaknya, kini telah diduduki oleh seorang pemuda berjaket dan bertopi. Kedua telingannya tersumbat earphone walkman. Sementara, di luar, gelap malam dan udara dingin beriringan turun menyelimuti bumi. Udara dingin itu genit menggoda Listya Lestari. Ia menutup jendela bagian atas yang terbuka.

Listya Lestari, Pak Sarman hanya terdiam tak berbicara. Tidak ada selera lagi untuk ngobrol. Sedangkan si pemuda masih menikmati lagu dari walkman-nya itu. Lampu neon yang sepertinya telah lama tidak di ganti dan sarangnya sudah pecah, setia memancarkan sinarnya yang redup. Beberapa penjual asongan dengan suaranya yang khas, berlalu-lalu lalang menjajakan dagangannya.

Wajah Listya Lestari semakin kusut berminyak, karena berjam-jam tidak tersentuh air. Sudah berkali-kali ia membersihkan mukanya dengan tisu. Tidak tampak lagi wajah periangnya. Perjalanan yang kira-kira tinggal dua jam lagi itu, ia rasakan lama sekali. Semakin ditunggu, semakin dirasakan lama saja.

Wajah periangnya semakin tidak terlihat, ketika ia kembali diserang kantuk. Sebelum ia benar-benar membenamkan sadarnya dalam tidur, ia masih sempat melirik jam tangannya. Ia mendengus. Kemudian menyandarkan kepalanya. Agak miring ke kanan. Sementara Pak Sarman masih diam tenang, tapi tidak tidur.

“Heh, bangun, bangun! Sudah sampai. Ini stasiun terakhir. Ayo bangun! Mau dibersihkan!” suara keras dan kasar tukang sapu kereta kontan mengagetkan Listya. Ia terbangun, kemudian mengucek-ucek kedua matanya. Wajahnya kusut sekali.

“Sudah sampai. Ayo minggir, mau disapu!!!” tukang sapu itu meyakinkan.

Listya Lestari mencoba beradaptasi. Ia melihat ke sekelilingnya. Kosong. Semua penumpang sudah turun. Tinggal dirinya. Setelah merasa sadar betul, ia berdiri hendak mengambil tas ransel ukuran sedangnya.

“Lho, Nggak ada! Ke mana?!” hatinya berbisik. Wajahnya menampakkan raut orang bingung. Ia mencoba mencari tasnya di bawah kursi, siapa tahu jatuh. Tidak ada juga! Ia semakin bingung.

“Mas, mas! Lihat tas saya nggak?” Listya bertanya kepada tukang sapu yang tadi membangunkannya. Dengan tetap menyapu dan tidak menengokkan wajahnya kepada siapa yang bertanya, cuek, tukang sapu tersebut menjawab tidak tahu.

“Pasti, pasti! Pasti dia! Kurang ajar!”

Listya Lestari segera beranjak dari tempat duduknya. Dengan setengah berlari, ia berjalan menuju ke arah tukang sapu kereta itu. Hampir saja ia menabraknya.

Setelah keluar dari gerbong kereta nomor tiga, Listya Lestari melayangkan pandangannya ke segala arah, mencoba menemukan sosok yang paling dicarinya. Ia berjalan ke sana ke mari, namun sosok yang paling dicarinya itu tidak ada. Kalut, bingung, dan linglung.

Ia duduk di kursi plastik khas statisun. Rasa pegalnya yang sedar tadi tertimbun kebingungan, tiba-tiba mencuat di sendi-sendi tubuhnya.

Ia tidak tahu, harus bagaimana untuk mendapatkan kembali tasnya. Tas itu berisi barang-barang titipan ibunya, ponsel, beberapa baju, dompet kulit beserta tetek bengek isinya, serta barang-barang bawaan lainnya. Yang tersisa dari dirinya hanya jam tangan dan selembar uang sepuluh ribu dan lima ribu, sisa dari pembelian gorengan dan tempe serta air mineral. Ia belum memikirkan, apa yang akan ia katakan pada ibunya soal titipannya itu.

Jam dinding di Staisun Tugu menunjukkan pukul 21.15 WIB. Listya Lestari masih melamun bertopang dagu. Pandangan kosong matanya membentur kereta api eksekutif warna putih dengan dua strip warna biru dan kuning emas di sampingnya, dan berkaca jendela ray band. Tiba-tiba dadanya terasa sesak.

Udara malam Stasiun Tugu yang dingin menerpa seluruh tubuhnya. Ia tidak peduli. Ia pun tidak mempedulikan orang-orang yang berlalu-lalang di depannya, sebagaimana mereka pun tidak peduli dengannya.

Listya Lestari menyudahi lamunannya. Ia menegakkan badan yang sedari tadi membungkuk, kemudian menyandarkannya di sandaran kursi plastik. Matanya yang memang sudah sipit, ia sipitkan lagi. Bibir tipisnya ia katupkan, sambil menarik nafas panjang kemudian sedikit menahannya. Keduanya tangannya ia kepalkan.

“Uedddan sialan!!!”

Doa

3 November 2008 § 1 Comment


Namanya Ayu. Nama lengkapnya Citra Ayu. Jika ada yang mengatakan, al-ismu ghair al-musamma, nama tak mencitrakan sosok, maka salah besar jika itu disandarkan kepada gadis pesona itu. Al-ismu huwa al-musamma, nama menunjukkan citra diri, ungkapan itulah yang sesuai untuknya. Sungguh, ia memang pantas menyandang nama “Ayu”. ia memang cantik, ayu. Sumpah! Sedikit aku pamerkan unsur-unsur kecantikannya: wajahnya oval berujung pada dagu yang lancip, matanya agak belo tapi sayu dengan bulu mata lentik alami, alisnya hitam pekat membentang indah, bibirnya merekah merah alami. Meski tak bangir-bangir amat hidungnya merupakan komposisi proporsional yang menjadi bagian sempurna kecantikannya, bulu-bulu sangat halus di atas bibir tapi bukan kumis, wajahnya putih bersih tak berjerawat. Ah, bikin bergairah saja. Atas kelebihan-kelebihan fisik pada dirinya itu, orang yang paling berbahagia tentu saja aku. Karena Citra Ayu adalah kekasihku. Sekali lagi, ke ka sih ku! Jadi, untuk semua laki-laki jangan lagi bermimpi bahkan untuk sekedar berharap bisa dekat. Atau harus berhadapan denganku.

Seandainya ia istriku, aku akan memintanya menjilbabi semua keindahan itu. Hanya aku lelaki yang boleh menikmatinya.

Sesungguhnya kehadiran Citra Ayu di sisiku bukan pada saat tepat ketika aku sedang menggebu ingin memadu kasih. Masa itu telah berlalu. Jauh sebelum mendapat anugerah indah itu, aku memang pernah berdoa kepada Tuhan, minta didatangkan seorang kekasih. Alasanya sepele: iri dengan teman-teman, iri setiap jalan ke kampus melihat teman-teman yang sudah punya pacar. Tidak main-main aku berdoa. Aku menyampaikannya kepada Tuhan lima kali sehari, selepas sembayang. Bahkan sembayang dhuha pun terkadang aku jalani. Sebab, bagiku kekasih adalah rezeki. Sampai akhirnya aku capek berdoa.

Kini, di sisiku telah ada seorang Citra Ayu. Ah, Tuhan, bisa saja Kau membuat kejutan. Terus terang, Ayu melebihi espektasiku. Aku mengharap yang cantik, tapi Ayu ini bukan hanya cantik, tapi cuuuwantik sekali, orang Jawa bilang. Dan, Ayu tak perlu merasa kecantikannya terbuang percuma dengan menjadi kekasihku. Ia cantik, toh aku juga tampan. Impas, bukan?!

Hari-hari kulalui bersama Citra Ayu. Kesana kemari tentengan bareng dengan hati berbunga-bunga. Indah. Aku masih hanya ingin menikmati “bulan madu” berpacaran, tak mau berpikir soal lain, termasuk soal umurnya yang lebih tua dariku. Padahal jika dipikir ke depan, kemungkinan aku mengalami patah hati seharusnya mendapatkan pertimbangan. Bagaimana tidak, aku dan Ayu telah berada pada usia matang untuk menikah. Semestinya, aku berpikir, pada usia Ayu sekarang ini, posisi tawarnya kian melemah, apalagi di hadapan orang tuanya yang mungkin berharap agar ia segera menikah. Dan aku sendiri juga tak punya posisi tawar tinggi, baik di hadapan Ayu atau pun orang tuanya. Yang aku punya hanya wajah tampanku dan kasih sayangku kepadanya. Selebihnya aku adalah lelaki yang belum siap menikah. Artinya, Ayu tak bisa mengelak jika tiba-tiba ia dijodohkan oleh orang tuanya dengan lak-laki mapan. Maka, aku hanya akan pasrah dan siap-siap patah hati saja jika itu benar-benar terjadi.

Halllah, persetan dengan semua itu! Masa bodoh dengan kemungkinan-kemungkinan! Yang penting, saat ini, aku jatuh hati kepada Ayu, dan ia pun kesengsem kepadaku, kemudian sepakat pacaran. Titik! Jadi, jalani dan nikmati saja itu.

Yang aku tak tahu sebelumnya tentang Ayu dan baru aku ketahui kemudian adalah ia mengidap vertigo. Aku terguncang hebat. Bagaimana tidak, ibarat sedang enak-enaknya menikmati es campur di tengah terik yang mencekik, tiba-tiba tersedak. Belum juga lama menikmati indahnya berpacaran, sudah dihadapkan pada kenyataan tak enak. Sudah terhitung dua kali ia tiba-tiba ambruk tak sadarkan diri di hadapanku. Vertigonya kambuh jika ada suara-suara keras atau memikirkan hal-hal berat. Biasanya, ia akan tak sadarkan diri selama lima sampai sepuluh menit (jika parah, bisa lebih lama dari itu), yang diawali dengan pandangannya yang kabur, kemudian merasakan seolah-olah bumi yang diinjaknya berguncang dan beputar, menghilangkan keseimbangan tubuhnya, dan ambruklah ia.

Sungguh, penyakitnya itu benar-benar menghilangkan selera berpacaranku. Cantik-catik, kok, vertigo. Aku jadi jarang mengajaknya kencan, dan dengan seribu satu alasan yang sangat halus, terutama alasan vertigonya, aku sering menolak jika ia mengajakku jalan-jalan jauh. Bayangkan saja, jika tiba-tiba vertigonya kambuh saat sedang boncengan di atas motor, kumat di atas kendaraan umum, atau saat sedang di bioskop. Alih-alih hendak menikamti kencan, justeru kerepotan yang bakal terjadi. Pun jika mau diajak jalan, aku hanya mau yang dekat-dekat dan itu pun dengan perasaan was-was, jika tiba-tiba ia ambruk.

Duh, Gusti, aku memang pernah meminta kepada-Mu seorang kekasih. Dan Kau memang mengejawantahkannya – meski agak tertunda – dengan sosok Citra Ayu itu. Dengan kelebihan-kelebihan fisik yang terpatri padanya, mataku memang terpesona, terkesan. Namun, dengan vertigo yang juga tertanam di kepalanya, jiwaku jadi tak dapat menikmati segala pesona dirinya. Jiwaku mati hasrat kepadanya. Nikmat berpacaranku sungguh mati tercerabut. Pikiranku kalut. Diaaamput!

Namun, aku tetap berusaha sama sekali tak menampakkan kegalauan jiwaku di hadapannya. Fisikku memang selalu menjaganya, meski jiwa ini berduka. Dan sesungguhnya dukaku tidak untuknya. Aku berduka untuk diriku sendiri. Aku menjaganya bukan karena ketulusan seorang kekasih yang menjaga kekasihnya. Aku menjaganya hanya karena aku tak mau disebut pecundang. Aku tak mau disebut sebagai kawan Ayu saat suka, namun lari saat ia berduka. Aku menjaganya cuma ingin menyelamatkan harga diriku bahwa aku adalah kekasih yang baik. Dalam hatiku, aku memaki diriku sendiri. Pecundang munafik sialan! Melengkapi kepecundanganku, sempat aku berpikir untuk meninggalkannya.

Di sisi lain hatiku, aku berapologi bahwa kepecundanganku adalah kewajaran. Itu adalah respon sepontan sementara seorang yang terguncang, bukan hasil pemikiran jernih. Aku hanya perlu menenangkan dan membiasakan diri dengan kondisi tak ideal itu. Kusampaikan pada Tuhan, jika Citra Ayu, dengan segenap kelebihan dan kekurangannya – terutama vertigonya – adalah kekasih sebagai pengejawantahan doaku dulu, berilah kekuatan kepadaku untuk bertahan menjaganya, atau sekalian lenyapkan saja vertigonya. Jika tidak demikian, Tuhan, Kau pasti tahu mesti berbuat apa. Tak perlu aku mendikte-Mu. Aku benar-benar ingin seperti pasangan kekasih lainnya. Kencan, jalan berdua tanpa beban, tanpa was-was. Aku sampaikan itu setiap kali lepas sembayang.

Benar, aku hanya perlu tenang dan membiasakan diri.

Suatu sore selepas ashar, aku dikabari oleh teman satu kontrakan Ayu, vertigo Ayu kambuh. Aku diminta segera datang. Kabar seperti itu akhirnya menjadi biasa bagiku. Aku menjadi lebih tenang jika tiba-tiba dia kambuh. Paling juga seperti biasa, ia akan tak sadarkan diri untuk beberapa menit, tinggal ditunggu saja sambil diolesi minyak kayu putih di hidungnya. Nanti juga sadar sendiri.

Tapi tidak kali ini. Awalnya memang gejala vertigo. Kurang lebih dua puluh menit Ayu tak sadarkan diri. Ia tersadar dengan berteriak sangat keras. Keanehan-keanehan terjadi. Matanya mendelik. Bayangkan sendiri, sudah belo, mendelik pula. Memandangi orang-orang yang mengerubunginya. Sebagian ketakutan. Mulutnya nyerocos tak karuan. Raganya memang Ayu, tapi jiwanya entah siapa. Setelah itu ia kembali lunglai, pingsan. Lalu tersadar. Kali ini dengan jiwa Ayu sesungguhnya. Ia terlihat kelelahan. Aku dan Ayu hanya saling memandang. Ayu memandangiku dengan sorotan lemah. Dan aku memandangi wajah layunya dengan penuh haru dan iba. Tanpa kata-kata, tapi jelas mengatakan sesuatu. Ketika bulir air mata keluar dari pojok matanya, hatiku yang menangis. Ketika raganya begitu tak berdaya, jiwaku yang terluka. Sungguh, itu adalah pandangan kasih sayang terdalam dan terdahsyat yang pernah kurasakan sepanjang hidup. Oh, Tuhan. Aku dan Ayu saling bergenggaman tangan kiri. Sementara tangan kananku membelai rambutnya. Sekali-kali kuseka pipinya yang basah oleh air mata, juga keningnya yang berkeringat. Kasihan aku melihatnya. Itu hanya beberapa saat, sebab setelah itu ia kembali pingsan. Kemudian terbangun, tapi bukan dengan jiwa Ayu, juga bukan jiwa yang tadi, tapi jiwa lain. Kali ini kemayu, genit, cukup tenang, bahkan bisa diajak berkomunikasi, tidak seperti jiwa sebelumnya yang cenderung liar. Sungguh, kali ini, ia tampak seperti sepuluh kali lipat lebih cantik dari biasanya. Entah jiwa apa yang merasukinya, tapi aku dapat memastikan, ia kesurupan. Kurang lebih empat jam raga Ayu seperti menjadi permainan jiwa-jiwa lain itu.

Aku pulang ke kontrakanku dengan perasaan campur aduk antara kasihan terhadap Ayu, juga terhadap diri sendiri, bingung, takut, khawatir, juga lega karena telah melewati masa-masa yang aneh malam itu.

Hari demi hari, minggu demi minggu berjalan tidak seperti yang kupikirkan. Ketika aku telah berusaha tenang dan membiasakan diri dengan Ayu dan vertigonya, kenapa keadaan malah lebih buruk. Apakah kali ini aku juga harus tenang dan membiasakan diri dengan kondisi yang lebih buruk itu? Aku tak yakin dapat menjalaninya. Kondisi sebelumnya saja sudah sedemikian rupa menyita pikiran dan perasaan. Gusti Pangeran, pandai benar Kau mempermainkan emosiku.

Aku dan Ayu menjalani pacaran tidak selayaknya dua orang kekasih. Entah perasaanku sendiri atau apa, aku seperti penjaga yang selalu khawatir dan was-was dengan yang dijaganya. Aku harus selalu siap, jika tiba-tiba vertigo Ayu kambuh, kemudian raganya menjadi tumpangan jiwa-jiwa lain.

Kesurupan jin. Aku tidak terlalu asing dengan itu. Dulu, saat nyantren di Jombang, teman-temanku bahkan kerap bermain-main dengan jin, menjadikan dirinya sebagai medium untuk dirasuki jin dalam rangka mengamalkan ilmu-ilmu supranatural sebagai uji kesaktian.

Tapi, yang terjadi pada Ayu ini sama sekali lain. Bukan permainan yang bisa diatur semaunya, tapi justeru Ayu, maksudnya, raganya yang seolah diatur, dipermainkan. Tidak hanya berbahaya bagi diri Ayu, baik untuk kesehatan fisik dan atau mentalnya (syaraf otaknya), tapi juga mengancam masa depan hubunganku dengannya. Betapa pun, bersama Ayu, aku masih punya keinginan menjadi pasangan kekasih yang normal. Dengan semangat itu, aku bujuk dia agar mau berobat ke orang pintar. Sebab, pokok dari semua yang menimpa Ayu sama sekali tidak berkaitan dengan medis. Tak tanggung-tanggung, aku ajak dia ke Jombang. Sebenarnya, itu atas usulan seorang teman di sana yang turut bersimpati dan merelakan rumahnya menjadi tempat tinggal selama Ayu menjalani pengobatan. Aku tahu, di sana banyak orang pintar dan sakti.

Di Jombang, Ayu bahkan harus ditangani oleh dua orang pintar. Orang pertama memang tidak berhasil menyembuhkan Ayu secara total, dan menyerah pada hari ketiga, tapi meninggalkan pesan, yang terjadi pada Ayu hanyalah beluk (asap). Setiap ada beluk, pasti ada api. Ia tidak bisa menemukan api yang dimaksud. Ah, aku sama sekali tidak paham maksudnya. Dan nanti malam adalah malam ketujuh, atau kali keempat untuk orang pintar kedua yang menangani Ayu.

Tapi pada malam itu tidak ada pengobatan sebagaimana malam-malam sebelumnya. Aku dan Ayu, juga segenap keluarga si kawan diminta berkumpul.

“Mba Ayu, Mas Danang,” kata si orang pintar meminta perhatian, “ada dua jin yang nggandol sama Mba Ayu. Yang pertama namanya Ki Gandheng, dan yang kedua Rokibah. Ki Gandheng nggandol di pundaknya. ia pengawal Rokibah. Sedangkan Rokibah sendiri bersenyawa di sekujur wajah Ayu.” Aku tidak bisa menalar semua itu. Ah, bisa dinalar atau tidak, percaya atau tidak, wis, pokoknya dengarkan sajalah.

“Tiga malam berturut-turut kemarin, saya dengan dua jin itu, terutama Ki Gandheng, bertempur. Ia cukup kuat. Ia tidak bisa disingkirkan. Tapi saya berhasil membujuknya. Kami berkompromi. Ia dan Rokibah mau dipindahkan dari raga Ayu dengan satu syarat.”

“Apa itu?”

“Ki Gandheng dan Rokibah hanya mau pindah ke tempat sebelumnya. Jika sudah pindah, maka Ayu hanya perlu mendapatkan penanganan medis untuk vertigonya.”

Ini berita baik buatku, juga buat Ayu.

“Syukurlah. Dan kalau memang bisa dipindahkan secepatnya, ya lebih baik.”

“Tapi saya perlu izin dari sampean dulu, Mas Danang.”

“Aku? Apa kaitannya denganku?”

“Soal tempat dua jin itu.”

“Tempat? Memang sebelumnya tinggal di mana?”

“Bukan “di mana”, tapi “siapa.”

“Iya, siapa?”

“Sampean.”

“Aku???!!!”

“Ya, sampean. Jin-jin yang nggandoli Ayu adalah jin-jin yang sebelumnya sudah lama, telah bertahun-tahun nggandol di pundak sampean.”

Aku merasakan sendi-sendi tubuhku seperti mlocoti. Tubuhku seperti tak bertenaga. Pikiranku kosong untuk beberapa detik.

“Lalu, kenapa jin-jin itu pindah ke raga Ayu? Apa hubungannya dengan Ayu?”

“Cemburu. Si Rokibah cemburu. Ia tidak ingin sampean dimiliki Ayu, atau memiliki Ayu, atau perempuan mana pun. Ia pindah ke raga Ayu karena ingin menyakiti Ayu, membuat Ayu gila. Ayu dianggap merebut sampean darinya. Dan sampean dianggap mengkhianati doa sampean sendiri.”

Mataku berkunang-kunang. Bumi ini seperti berguncang hebat. Kurasakan tubuhku tak bertenaga. Lalu, gelap.[jr]

Ciputat, 2 November 2008

Kepada Yth. Saudaraku, Anjing

15 September 2008 § 4 Comments


Warga di kampung saya memiliki riwayat buruk soal perlakuan terhadap mahluk Tuhan yang satu ini; anjing. Nol toleransi hukumnya jika ada anjing masuk ke kampung. Jika tetap saja ada yang masuk, maka siap-siap saja, warga bakal memburunya berramai-ramai sampai tertangkap atau terusir jauh dari kampung. Suatu ketika, saat saya masih kecil, di pagi hari, tersiar kabar, ada anjing dari luar kampung yang numpang melahirkan di salah satu rumah kosong. Sejurus, warga bergegas menuju rumah kosong itu untuk mengecek kebenarannya. Benar saja, ada beberapa ekor anak anjing yang sepertinya baru beberapa jam keluar dari rahim induknya. Sedangkan si induk telah kabur entah kemana. Oleh ustad yang dituakan, warga diminta memburu si induk, dan si ustad sendiri akan “membereskan” anak-anak kirik itu. Si induk tak tertangkap, namun terusir jauh, dan nasib mengenaskan siap menimpa anak-anaknya yang masih lemah untuk sekedar menggonggong: dibungkus karung kemudian dikubur hidup-hidup.

Oleh karenanya, jika warga kampung jauh ingin “menernakkan” anjing-anjingnya di hutan sebelah, yang mengharuskan melewati kampung saya, mereka akan melakukannya pada dini hari, saat warga telah lelap tertidur. Barangkali para peternak anjing tahu, warga kampung itu memiliki hubungan tak harmonis dengan anjing.

Entah latar sejarah apa sehingga warga memiliki kebencian mendalam terhadap anjing. Padahal, interaksi warga dengan anjing hampir tidak pernah terjadi. Artinya, tidak ada warga yang pernah memelihara anjing, apalagi preseden soal anjing menimbulkan kerugian, keresahan, atau juga membawa keuntungan. Lalu, kenapa mereka membenci anjing?

Dugaan saya, kebencian itu lahir dari interpretasi berlebihan tentang santiaji bahwa anjing itu najis, jilatan air liurnya harus dibasuh tujuh kali, salah satunya dengan tanah, dus status kemahlukannya yang sebagai hewan. Anjing, sudah “hewan”, “najis” pula! “Kehormatan” apa pula yang ia dapatkan dalam hidup. Jika Kau menghendakinya hidup, terserah. Tak apa juga dibunuh, jika Kau benci. Barangkali interpretasi liar semacam itu yang mendorong warga memberlakukan nol toleransi untuk anjing.

Masih di kampung saya, meski sayup-sayup, saya juga pernah mendengar, sebaiknya cicak dibunuh. Sebab, ia dianggap simbol pengkhianat. Beredar pada mereka, konon ceritanya, saat Rasul bersembunyi di Gua Hira menghindar dari kejaran orang-orang jahiliyah Makkah, cicak di mulut gua, dengan decakannya, “menginformasikan” kepada orang-orang itu, bahwa Rasul ada di dalam gua. Namun orang-orang itu dikelabui oleh jaring rumah laba-laba yang menutup mulut gua. Mereka menduga, mana mugkin ada orang yang masuk ke gua itu, sementara rumah laba-laba itu tidak rusak. Pikir warga, cicak, sudah “hewan”, “pengkhianat” pula.

“Hewan” dalam budaya komunikasi jalang adalah kategori paling nonjok (selain kategori alat kelamin) untuk mengekspresikan kekesalan, makian, cacian, hinaan. Bagi sebagian orang, meneriakkan “bangke!”, “anjing!”, “asu!”, “kirik!”, “babi!”, “monyet!”, “kunyuk!” dan cacian hewani lainnya, bisa meringankan dan melegakan jiwa dari kekesalan dan kemangkelan.

Entah kenapa, mahluk Tuhan berkategori “hewan” acap kali menjadi simbol kehinaan. Sewenang-wenang saja nama hewan diperalat untuk hinaan, makian, dan cacian, seolah mengasumsikan, hewan pada dasarnya adalah mahluk hina. Manusia memang kerap egois. Melihat sosok lain dari dan dengan sudut pandangnya sendiri. Dalam pikiran manusia, hewan hina karena ia bukan manusia, yang dianugerahi akal untuk berpikir. Manusia diciptakan sempurna, maka hewan adalah mahluk tidak sempurna. Manusia mahluk tahu malu, maka hewan adalah mahluk tak tahu malu, yang berak, kencing, dan bercumbu di sembarang tempat. Manusia begini, maka hewan begitu. Manusia seperti ini, maka hewan seperti itu.

Adalah fakta, manusia tidak seperti hewan. Jika anjing dan babi adalah najis, haram, maka itu juga fakta. Manusia dan hewan memang berbeda dari sisi rumusan teologis dan biologis, meski sama-sama mahluk. Namun, kurang arif, jika manusia dan hewan didudukkan di bawah satu tenda kemahlukan, kemudian perbedaan-perbedaan keduanya dikonfrontasikan. Setiap mahluk telah sempurna dengan kondisinya masing-masing, sebagai sesuatu yang diciptakan Tuhan tanpa kesia-siaan sama sekali. Tuhan tidak akan menyesal telah menciptakan anjing, babi, dan monyet dengan keunikan masing-masing, hanya karena manusia mengkonfrontir jati dirinya dirinya dengan jati diri hewan-hewan itu (atau hewan-hewan lainnya), kemudian menjumpai dirinya lebih sempurna, lebih terhormat, dan berhak meng-apa-apa-kan hewan-hewan itu, termasuk menjadikannya sebagai simbol kehinaan.

Di bawah tenda kemahlukan, sebenarnya tidak ada kategori manusia dan hewan, tapi hanya ada satu kategori, yaitu hewan. Perhatikan saja ungkapan populer dalam ilmu balaghah ini: al-insan hayawan natiq. Pada dasarnya manusia hanyalah hewan. Namun, karena diberi tanggung jawab dan kewajiban tambahan, ia dibekali software tambahan pula, berupa akal. Kemudian raga yang berakal itu disebut manusia. Lihatlah, manusia diafiliasikan kepada hewan. Akal yang dimiliki manusia bukanlah keistimewaan. Ia hanyalah piranti pendukung pelaksanaan tanggung jawab dan kewajiban.

Menurut saya, memandang isi dunia dalam bingkai kemahlukan, adalah cara pandang paling baik, paling arif, paling universal, sekaligus memiliki kedalaman spiritual..

Jika kepada orang yang satu iman, panggilah kepadanya “yang terhormat saudara atas nama iman”. Kepada manusia yang berbeda keimanan, panggilah kepadanya, “yang terhormat saudara atas nama kemanusiaan”. Kepada anjing, babi, monyet, yang tidak memiliki “keimanan”, dan “kemanusiaan”, panggilah kepadanya, “yang terhormat saudara atas nama mahluk”. Tidak ada celah bagi kita, hidup di dunia, untuk tak saling menghormati. Salahkah menghormati anjing atas nama mahluk?!

Ketika tenda “keimanan” dan “kemanusiaan” tidak cukup lebar memayungi semua yang berada di luar definisi kata itu, maka “mahluk” adalah tenda terbesar, bukan hanya memayungi semua yang berada di luar definisi “keimanan” dan “kemanusiaan”, tapi juga memayungi “keimanan” dan “kemanusiaan” itu sendiri.

Adakah yang tak terrangkum dalam kata “mahluk”? Tidak ada, kecuali Tuhan. Sebab, selain Tuhan adalah mahluk. Dan atas nama mahluk, “kita” adalah saudara.

Where Am I?

You are currently browsing entries tagged with Cerpen at Warung Nalar.

%d bloggers like this: