Istri Kedua dan Istri Pertama

13 July 2012 § Leave a comment


Dikisahkah, seseorang berpoligami. Suatu saat, istri kedua melewati rumah istri pertama dan menempelkan kertas di pintu rumah, bertuliskan: Pakaian lama dan pakaian baru tidak akan pernah sama di mata pemiliknya.

Saat istri pertama melihat itu, ia segera menambahkan kalimat di bawah tulisan tersebut: Tidak ada cinta sejati kecuali untuk kekasih pertama. Berapa banyak pelancong sudah mengunjungi berbagai tempat, namun kerinduannya hanyalah kepada rumahnya yang « Read the rest of this entry »

Advertisements

Imam Syafi‘i Bertamu ke Rumah Imam Ahmad

21 March 2011 § 2 Comments


Suatu hari, Imam Syafi‘i bertamu dan menginap di rumah Imam Ahmad. Pagi harinya, putri Imam Ahmad menemui ayahnya dan bertanya, “Ayah, diakah orang yang sering kauceritakan kepadaku itu?” Imam Ahmad memang sering bercerita kepadanya bahwa Imam Syafi‘i orang yang mengagumkan. Dia berilmu, cerdas, dan saleh.

“Benar,” jawab Imam Ahmad. “Kenapa?”

“Ada tiga hal yang membuatku meragukan cerita Ayah selama ini,” kata putrinya.

“O, ya? Apa itu?” jawab sang Ayah. « Read the rest of this entry »

Aku Tak Seburuk Itu

11 May 2010 § 1 Comment


Dalam Syarh al-Hikam karya Ibn Athaillah terdapat kalimat ini: Rubbamâ kunta musî’an, fa arâka al-ihsân minka shuhbatuka man huwa aswa` minka hâlan. Kalimat itu bisa dipahami begini: Bisa jadi kau bukan orang yang benar-benar baik. Kau tampak baik hanya karena kau berada di antara orang-orang yang lebih buruk dibanding dirimu.

Kita bisa mengambil pemaknaan terbalik dari kalimat itu: Bisa jadi kau bukan orang yang sama sekali buruk. Kau tampak buruk hanya karena kau berada di antara orang-orang yang jauh lebih baik dibanding dirimu.

Dikisahkan … Seseorang mengalami depresi berat. Ia merasa hidup sudah tidak menghargainya lagi. Dengan mantap, ia mengambil jalan pintas untuk mengakhiri semua itu: bunuh diri dengan cara melompat dari puncak apartemennya. « Read the rest of this entry »

Kisah Persahabatan Terhebat

17 February 2010 § 2 Comments


Judul: Sekolah Cinta Rasulullah: Kisah Suka Duka Generasi Muslim Pertama
Penulis: Dr. Nizar Abazhah
Penerjemah: Taufik Damas & M. Abidun
Penerbit: Zaman
Tebal: 463 Halaman
Terbit: Januari 2010
Harga: Rp. 54.000,00
————————–
BAGAIMANA kondisi generasi muslim pertama? Bagaimana mereka satu per satu jatuh hati pada Rasulullah dan ajarannya yang suci? Bagaimana mereka tumbuh di Makkah lewat tantangan demi tantangan yang teramat berat?

Buku ini bertutur tentang fragmen kisah generasi « Read the rest of this entry »

Si Tuli dan Kentut

6 October 2009 § Leave a comment


Suatu ketika, Hatim didatangi oleh seorang perempuan yang hendak berkonsultasi tentang suatu hal. Berbarengan dengan saat bertanya, perempuan itu kelepasan kentut. Hatim lalu berkata, “Maaf, Anda bertanya apa? Mohon, angkat sedikit suara Anda agar saya dapat mendengarnya dengan baik.” Perempuan itu berpikir, Hatim ini memiliki pendengaran yang kurang baik, dan pasti tidak mendengar kentut barusan.

Selesai urusan, perempuan itu pun pulang dengan perasaan lega dan barangkali tak perlu terlalu malu kepada dirinya sendiri dan kepada Hatim.

Sejak peristiwa itu, tersebar kabar bahwa Hatim orang yang pendengarannya kurang baik. Dan, bukan hanya kabar angin, orang-orang pun mengetahui sendiri bahwa Hatim memang demikian. Lalu, orang-orang pun menjuluki Hatim dengan al-asham atau si tuli.

Sampai kemudian perempuan itu meninggal dunia. Hatim lalu menceritakan keadaan diri bahwa sesungguhnya ia tidak benar-benar tuli. Apa yang ia lakukan hanya kepura-puraan. Saat perempuan itu kentut di hadapannya, ia pura-pura tidak mendengar. Dan, ia berjanji, kepura-puraan itu akan ia jaga selama si perempuan masih hidup, semata karena tidak ingin membuat perempuan itu malu. Hatim ingin menjaga harga diri perempuan itu.

* * *

Abu Abdurrahman Hatim ibn Ulwan, itulah nama lengkapnya—seorang tokoh sufi dari negeri Khurasan, meninggal pada 237 H atau 851 M—atau lebih dikenal dengan nama Hatim al-Asham, Hatim Si Tuli.

[al-Risalah al-Qusyairiyyah fi ‘Ilm al-Tashawwuf karya Imam al-Qusyairi]

Di Pe Dua Puluh (P 20)

18 March 2009 § 1 Comment


likaila ta’sau ‘ala ma fatakum, wala tafrahu bima atakum…

”Supaya Kau tak berduka pada apa yang telah luput darimu, dan tak terlampau gembira pada apa yang Ia beri untukmu,” begitu Gusti Pangeran pernah berujar kepadaku.

Ucapkanlah ‘selamat tinggal’ dengan tulus pada yang apa yang telah pergi darimu. Niscaya ia akan membalas dengan ikhlas, “yang hilang akan beri hikmah. Yang datang bakal bawa berkah.”

Dan akan berujar, “yang telah tiada semoga tak buat dirimu terlalu merana. Yang ada semoga tak buat dirimu terlampau bahagia.”

Sebab, sesungguhnya hidup hanyalah putaran konstan datang dan pergi, ada dan tiada. Masing-masing bergulir pada garis yang sama sehingga perbedaan masing-masing adalah semu. Masing-masing bisa terjadi begitu mudahnya. Namun, kerap menjadi sulit dan rumit karena jiwa yang terlalu sempit.

Lalu, yang hilang bikin malang meradang. Yang datang bikin senang bukan kepalang. Yang tiada buat duka tak terkira. Yang ada buat terpana karena terlampau bahagia…

Dalam hening ketika jiwa berada pada kondisi paling rendah dan hampa, aku pun menimpali Ujaran Suci Sang Gusti itu, “Inggih, Gusti, inggih…”

Pada suatu siang ketika menuju Kemang, di bus Pe Dua Puluh yang tak sesak penuh, aku begitu terusik oleh cuaca terik. Kendaraan besar pada berjejer mepet karena jalanan macet. Rotasi dunia seolah berputar lelet. Suara klakson begitu riuh seolah kendaraan-kendaraan itu pada misuh. Pada kondisi tensi tinggi di mana emosi setiap saat bisa meluap berapi-api, aku bergumam dalam hati, “Gusti, aku teringat kawanku, Supra X 125 R G-5471-BR warna merah hitam yang gagah itu. Gusti, Aku tak mengharap yang pergi akan kembali. Sebab, City Sport One baru tentu saja akan lebih menyenangkanku!”

Di Pe Dua Puluh, tubuhku agak kuyup oleh peluh. Kembali aku bergumam, “Nanti malam saja aku kembali menghayati Ujaran Suci Sang Gusti di atas.”

Seluas Apa Hati Sampean?

20 February 2009 § 2 Comments


Ikut kewjiban ritus rutin jumatan tadi, saya benar-benar “terganggu” oleh khutbah sang khatib, yang mengusik kebiasaan saya jika prosesi itu berlangsung: tertunduk khusyuk alias tenguk-tenguk terbelenggu kantuk. Tapi, kali ini tidak. Saya terbius untuk menyimak khutbah itu sampai akhir. Benar-benar tumben!

Pada prolognya, si khatib menyitir surat “alam nasyrah”: Alam nasyrah laka shadrak. Wawadha’naka ‘anka wizrak. Alladzi anqadha dzahrak. Warafa’na laka dzikrak. Fa inna ma’a al-‘usri yusra. Inna ma’a al-‘usri yusra. Faidza faraghta fanshab. Wa ila rabbika farghab…

Selanjutnya, si khatib menyampaikan khutbah denga tema “sekuler”, soal ekonomi. Agaknya, disimak dari penyampaiannya, si khatib paham betul soal perekonomian. Ia berbicara soal krisis yang terjadi di Amerika yang mengglobal, termasuk pengaruhnya terhadap Indonesia saat ini, kemudian membandingkannya dengan krisi yang terjadi di sini tahun 1998.

Indonesia dan beberapa negara Asia lainnya, ibarat anak-anak ayam, dan Amerika adalah induknya sebagai tempat bergantung. Tahun 1998, beberapa negara Asia, termasuk Indonesia, terkena krisis moneter. Jika “anak-anak” terserang penyakit, maka tidak akan berdampak besar pada induknya. Krisis di Indonesia saat itu, tak berdampak pada perekonomian Amerika. Sebaliknya, jika Amerika terkena krisis, maka akan berpengaruh pada negara-negara “anak ayam” semacam Indonesia.

Menjelang akhir “kuliah” ekonomi itu, saya sudah menebak, paling-paling selanjutnya si khatib akan berpesan, di balik kesusahan, kesengsaraan, krisis, tersimpan kemudahan, kelapangan. Setelah itu, selesailah prosesi khutbah. Eh, ternyata saya salah tebak. Si khatib melanjutkan khutbah dengan cerita ini…

Ada seorang murid sedang mumet dengan problem yang menurutnya berat. Lalu, ia meminta saran kepada gurunya. Si guru sufi, tidak memberi solusi langsung. Ia tidak memberi ikan, tapi membekalinya kail.

“Coba, sampean ambil gelas berisi air dan segenggam garam,” kata guru sufi.

“Sampean masukan segenggam garam itu ke dalam gelas berisi air itu. Aduk sampai garam itu benar-benar larut. Setelah itu, coba sampean dulit air itu.”

Si murid pun mengikuti petunjuk guru.

“Bagaimana rasanya?”

“Asin ndlijit tidak ketulung, Guru!” kata si murid.

“Baiklah, sekarang sampean ambil segenggam garam lagi, tapi sampean masukan ke dalam kolam yang lebar di belakang. Lalu sampean aduk sepuasnya. Kemudian, coba rasakan.”

Si murid kembali mengikuti arahan guru.

“Bagaimana rasanya?”

“Tawar, guru. Tidak ada rasa asinya.”

Si guru sufi kemudian menasihati, hidup ini tak pernah lepas dari persoalan. Bapak Adam dan ibu Hawa turun ke bumi pun karena sebuah persoalan. Sejatinya, tidak ada yang disebut persoalan berat atau ringan, besar atau kecil. Ukuran persoalan tak terletak pada dirinya, tapi bagaimana hati kita mengolahnya. Jika hati yang kita miliki cupet, tak cukup lapang dan luas, maka setiap masalah yang kita hadapi selalu akan terlihat besar, terasa “asin dlijit”.

“Bukankah Aku telah lapangkan dadamu?!” kata Allah.

Jiaaangkrik! Anjrit! Atau sampean bisa menerjemahkannya dengan: subhanallah!

Melangkah keluar menjauh dari masjid, saya hanya misuh-misuh terkesima oleh khutbah yang inspiratif itu. Gemanya mengiang-ngiang sepanjang jalan, mengiringi saya menuju ATM, menemani langkah saya ke warung sunda untuk beli sebungkus nasi, terus menerus sampai kost. Sesampainya di kost, saya muncratkan gema yang mengiang-ngiang itu menjadi tulisan ini, setelah sebelumnya melahap makanan sunda dengan komposisi cukup sempurna: telur bulat dengan bumbu yang pating ndlewer, terong oseng, dan tahu oseng. Poko’e, mua’ nyus! kata Bondan Winarno.

Where Am I?

You are currently browsing entries tagged with cerita at Warung Nalar.

%d bloggers like this: