Tidak Ada “Cinta Pada Pandangan Pertama”!

22 June 2008 § 1 Comment


Kata-kata romantis diumbar sedemikian rupa. Kunjungan-kunjungan berbalut kepentingan romantis intensif dilakukan. Pemberian dan permintaan berhias romantis silih berganti begitu mudah. Kesanggupan menanggung beban, berkorban dan melayani sebesar dan jika perlu melebihi kepentingan sendiri, walaupun berat tapi coba dilakukan sebatas daya atas nama cinta. Cukuplah semua itu sebagai pengejawantahan rasa cinta sekaligus sebagai pemantik untuk menjaring keintiman cinta. Sungguh, ekspresi cinta yang manusiawi. Cinta yang begitu abstrak seolah nampak berupa.

Pada saat seperti itulah, kerap kali, cinta dianggap sebagai sosok berwajah manis yang diagungkan karena dianggap menguntungkan. Dan dalam sekejap bisa saja menjadi terdakwa berwajah bengis saat berlalu menyisakan petaka dan tangis. Nyatalah, romantisme dan cinta yang diagungkan, ketulusan yang dirasakan, dan pengorbanan yang diberikan selama ini hanyalah klaim belaka yang diduga sebagai cinta dan ketulusan.

Sebagai mahluk fisik, bolehlah berkata, ketulusan dan cinta hanya dapat diukur dari ekspresi lahiriah (ini bukan tentang “hubungan intim” lho!), tapi percayalah, jangan terlalu yakin dengan itu. Sebab, keduanya adalah “mahluk abstrak” yang tidak terukur oleh fisik dan sangat mungkin tersilap oleh inderawi. Oleh karenanya, saya termasuk yang tak percaya dengan istilah “jatuh cinta pada pandangan pertama”. Mata bukanlah pengambil keputusan yang baik untuk menyatakan cinta, apalagi ditentukan oleh pandangan pertama. Jangan pula terkesima oleh ekspresi cinta yang keluar dari mulut yang diklaim dari hati yang paling dalam. Sebab, mulut bukanlah obyek yang baik untuk menilai cinta. Cinta terlalu murah dan rendah jika hanya berdasar mata dan mulut saja. Paling banter, mata dan mulut hanya bisa menyatakan dan menyampaikan kesan atas penampilan fisik.

Cinta adalah entitas yang rumit dan kompleks, yang melakukan perjalanan terus menerus dan akan terhenti jika mati telah mengkebiri. Sedangkan kesan hanyalah lirikan mata atau penilaian pikiran yang membentur fisik yang dianggap mengagumkan. Kesan akan berubah, seiring dengan berubahnya fisik, sedangkan cinta tak mengenal semua itu. Jadi, jangan pernah mengambil keputusan berdasarkan kesan. Jadikanlah kesan hanya sebagai salah satu (dan bukan satu-satunya) pertimbangan untuk megambil keputusan.

Jatuh cinta pada pandangan pertama? Bukan! Jadi? Itu hanya kesan mata atas kekaguman fisik.

Pernikahan puncak ekspresi cinta? Saya kira sangat manusiawi, jika memiliki adalah bagian dari ekspresi cinta. Namun, dengan telah memilik bukan berarti cinta telah sampai pada puncaknya. Sekali lagi, cinta adalah perjalanan tanpa henti yang hanya bisa dikebiri oleh mati. Jika sebuah pacaran didasarkan atas cinta, tak mustahil akan berlanjut ke jenjang pernikahan. Dan jika pernikahan dilandaskan atas cinta, barangkali hanya maut yang mampu memisahkan pasangan suami isteri.

Menurut saya, cinta ideal yang mampu mempertahankan sebuah hubungan adalah kombinasi sempurna hati dan pikiran yang matang. Jika Anda telah memiliki kombinasi sempurna keduanya, nyatakanlah kepada orang yang mengusik hati dan pikiran Anda, bahwa Anda ingin memilikinya. Atau persiapkan hati dan pikiran matang Anda, jika suatu saat ada orang yang menyatakan hasrat kepada Anda. Bukan semata mengikuti emosi, tanpa berpikir ke depan. Bukan semata kesan mata yang kagum atas fisik. Bukan karena mengisi kekosongan. Bukan sebab sakit hati, sehingga untuk mengobatinya, harus kembali jatuh hati. Bukan pula hanya urusan biologis.

Barangkali sebuah dugaan yang tak dapat dipastikan salah, jika sebuah hubungan pacaran kandas sebelum melangkah ke pelaminan, atau biduk rumah tangga yang retak di tengah perjalanan, bisa jadi karena tidak diawali dan tidak ada kombinasi sempurna dua hal tersebut. Romantisme yang pernah menghiasi hari-hari, bisa jadi hanya klaim belaka yang diduga sebagai cinta dan ketulusan, yang keluar dari mulut yang kelu.

Dan jika Anda menuduh cinta sebagai terdakwa berwajah bengis saat berlalu menyisakan petaka dan tangis, mengertilah, itu bukan tindakan bijak. Merenunglah, apakah Anda telah membangun pondasi cinta atas dasar hati dan pikiran yang matang. Jika iya, namun tetap kandas, merenunglah untuk kali yang kedua, jangan-jangan itu hanya klaim.

Sebab, bagi saya, cinta itu menyatukan, mendekatkan dan hanya maut yang mampu memisahkan.

Tentang Perempuan; Mayoritas Tapi Minoritas

25 May 2008 § 1 Comment


ADA pertanyaan terlontar perihal perempuan, “Mengapa dalam dominasi kuantitasnya, perempuan (secara umum) minoritas dalam kualitas (peranan), ketimbang laki-laki?”

Ini realita, terjadi dalam berbagai hal, dalam ranah struktural maupun kultural, dari tingkat kelurahan sampai parlemen. Dalam komunitas yang terbuka untuk laki-laki dan perempuan, hampir peran laki-laki selalu mendominasi. Kalaupun ada peran perempuan yang dominan, itu sedikit dan terjadi dalam komunitasnya sendiri dan dalam masalah ‘kewanitaan’.

Data Inter-Parliametary Union 2002 menunjukan rendahnya keterwakilan perempuan dalam politik di Indonesia. Angkanya baru sekitar sembilan persen. Sesuai dengan prinsip keterwakilan dalam demokrasi, maka bila jumlah perempuan di Indonesia lebih dari 50 persen, tidak layak bila hanya diwakili oleh kurang dari 10 persen.

Dalam Pemilu 2004 lalu, kuota untuk perempuan di parlemen ditambah menjadi 30 persen. Namun, tetap saja angka itu adalah kecil bila ketimbang jumlah perempuan Indonesia. Bandingkan dengan kuota untuk laki-laki di parlemen. Dengan jumlah laki-laki yang kurang dari 50 persen (dari jumlah penduduk keseluruhan), mereka mendapat kuota 70 persen! Dan ironisnya, walaupun kuota untuk perempuan dalam parlemen ditambah menjadi 30 persen, tapi seolah-olah tidak ada kesungguhan untuk benar-benar menambah jumlah kursi untuk perempuan dalam parlemen. Sebab, ternyata caleg-caleg perempuan ditempatkan di nomor sepatu, bukan nomor jadi.

Itu baru satu contoh yang paling kongkrit. Dalam institusi pendidikan, misalnya, berapa jumlah dosen perempuan (menunjukan kualitas intelektual). Berapa persen jumlah mahasiswi di dalam ruang kelas (menunjukan minat perempuan dalam intelektualitas). Dalam instistusi pemerintahan, pendidikan, perusahaan, atau badan struktural lainnya, hampir seluruhnya laki-laki-lah yang memegang posisi strategis.

Secara umum, sebenarnya jawaban dari persoalan di atas mudah; minoritasnya SDM perempuan. Di samping kendala kultural dan struktural, memang ada beberapa faktor ‘alamiah’ dan kodrati yang ‘menuntut’ perempuan untuk tidak bisa bergerak dan berperan seleluasa laki-laki. Untuk yang terakhir bisa dimaklumi dan wajar. Tapi, hal tersebut sebenarnya tidak menjadi soal. Terbukti dengan adanya sosok-sosok perempuan yang menasional. Tapi, sekali lagi, yang seperti mereka hanya sedikit.

Keluar dari faktor-faktor kodrati, sesungguhnya (ini perlu disadari) ada faktor ‘kesengajaan’ yang menghambat peran kualitas intelektual perempuan. Faktor kesengajaan itu adalah di mana perempuan-perempuan telah di-setting agar tidak berperan dan cenderung dijadikan ‘objek’. Perempuan ditempatkan sebagai objek untuk dieksploitasi secara seksual. Perempuan dinobatkan sebagai bidadari jelita yang dipertontonkan, dipersembahkan, dan diperebutkan untuk semua orang, dengan keindahan fisik yang dimilikinya. Kita seharusnya tersinggung dan marah dengan hal itu, ketika yang dihargai dari perempuan adalah bibirnya, dadanya, pahanya, pinggulnya, bokongnya, rambutnya, bodynya. Kita seharusnya marah, kenapa bukan otaknya yang dihargai. Ini penghinaan! Tidak manusiawi!

Siapakah yang paling berperan dalam ‘pengobjekkan’ perempuan? Media massa. Perkembangan media massa beserta segala perangkat komunikasi saat ini memang menjalankan proses ‘pengobjekkan perempuan’. Selain media massa, (sebetulnya) jangan-jangan perempuan-perempuan itu sendiri, secara bawah sadar merelakan pengobjekkan itu, dan dengan sendirinya ia telah berperan dalam pengobjekkan dirinya sendiri, karena merasa pengobjekkan tersebut memberikan keuntungan bagi dirinya. Atau, jangan-jangan, tanpa disadari, kita pun melakukan pengobjekan tersebut, dan diam-diam menikmatinya.

Pengobjekkan adalah penghinaan, bukan hanya bagi perempuan sendiri, tapi bagi kemanusiaan secara keseluruhan. Sebagai mahluk yang dikaruniai otak dan akal yang membedakan dengan mahluk lainnya, tidak sepatutnya manusia menjadi objek. Otak (akal) yang merupakan karunia paling istimewa untuk manusia dan tidak dimiliki mahluk lain, tapi juteru banyak yang tidak merasa istimewa dengannya. Dan akan merasa istimewa dan terpandang oleh selainnya, merasa istimewa oleh kulit mulus, bibir seksi, dada menggunung, pinggul menggitar, yang notabene organ-organ tersebut juga dimilki oleh mahluk selain manusia. Mengistimewakan organ tubuh manusia tidaklah manusiawi. Yang manusiawi adalah mengistimewakan yang hanya dimiliki oleh manusia, dan tidak dimiliki oleh mahluk lain, yaitu otak alias akal. Karena di situlah hakekat kemanusiaan manusia (hayawan natiq).

Inilah tantangan bagi aktivis emansipan, aktivis perempuan dan aktivis gender untuk mengembalikan perempuan (dan kemanusiaan secara keseluruhan) ke dalam ‘habitat’ asalnya sebagai mahluk berotak dan berakal, sebagai mahluk yang dihargai karena akalnya, sebagai mahluk yang diperebutkan karena SDM-nya, bukan karena bodynya. Itulah seharusnya, sebelum mereka berteriak keras tentang emansipasi (di segala bidang). Bukan berteriak-teriak emansipasi tanpa melihat kualitas yang diperjuangkan (perempuan itu sendiri), sehingga yang terjadi adalah memaksakan emansipasi dan akhirnya menghasilkan emansipasi yang tak berkualitas.

Emansipasi peran laki-laki dan perempuan akan berjalan secara kultural, jika intelektualitas, yang merupakan jembatan ke arah itu, menjadi ukuran dan dihargai. Pengobjekkan perempuan akan sirna, jika yang dihargai adalah otaknya.

Jadi, mengapa terjadi minoritas peran perempuan?

Tentang Cantik; Kriterianya Apa?

23 May 2008 § 1 Comment


Terinspirasi oleh seorang viewer yang berkomentar di salah satu tulisan di blog ini berjudul “Tentang Cantik“…

Yaa… saya setuju mengenai definisi cantik dalam versi normatif adalah ekuitas antara jiwa yang bersih dan lahir yang sehat dan pantas. Tapi bagaimana qt bisa melihat atau mengetahui dan memastikan bahwa wanita yang qt knal mempunyai kecantikan (jiwa yang bersih) tersebut? Klo cantik lahiriah, bisa terlihat dengan mata qta.

Jika kecantikan lahiriah, obyek penilaianya adalah “body”, maka kecantikan batin, obyek penilainya (menurut saya) adalah “moral”. Cakupan moral sangat luas sekali, dari tindakan, ucapan, karakter, cara dia berinteraksi dengan orang lain, bagaimana dia berkomitmen, bagaimana dia bergaul saat kita ada di sisinya, dan saat kita tidak di sisinya (atau mungkin Anda bisa tambahkan dengan kepatuhan terhadap ajaran agama atau peraturan) dan seterusnya dan sebagainya… Lho, Mas, siapa bilang hanya kecantikan lahiriah saja yang bisa dlilihat, kencatikan jiwa juga bisa kita lihat, lho, walaupun sebatas indikasi-indikasi…

Misalkan, dalam Islam, ada ungkapan hikmah yang beraroma moralitas, seperti: “fadhl al-mar’i yu’rafu bi qaulihi”, artinya, indikasi orang baik bisa diliat dari tutur sapanya… Ada juga ungkapan, “la tashhab man la yunhidhuka ila Allah haluhu, wa la yadulluka ila allah qauluhu”. Kurang lebih artinya jangan berteman dengan orang yang tingkah lakunya tidak membuat Anda termotivasi berbuat baik, dan tutur sapanya tidak mengarahkan Anda untuk berbuat baik… Kata “Allah” di ungkapan itu saya persempit dengan arti “perbuatan baik”. Sebab, kata “Allah” terlalu luas untuk dijabarkan…

Maaf, ya mas, kalo jawabannya hanya sekilas dan terkesan tidak fokus pada pertanyaan Anda. Jawaban saya generalisasikan tentang siapapun yang yang dekat dengan kita, cowok or cewek, pacar or temen biasa, isteri or bukan. Sebab, orang yang kita harapkan baik bukan hanya satu jenis manusia aja kan…

Dan satu hal, kita hanya bisa melihat dan mengetahui bahwa orang yang dekat dengan kita baik or tidak baik (dengan subyektifitas penilaian kita, tentu), tapi sama sekali kita tidak bisa memastikan… Sebab kita tidak bisa memantau pergerakan seorang temen dalam 24 jam, bukan?! Sekalipun bisa, kita sama sekali tidak akan pernah tahu yang sesungguhnya.

Nahnu nahkmumu bidz dzawahir, wallahu yatawallaa bis saraair… Kita hanya bisa menilai sebatas yang kita lihat, dan biarkan Tuhan yang menilai apa yang tidak kita lihat, begitu kata sebuah kaidah.

Dan terakhir, iftati qalbak, tanyakanlah pada nurani Anda, apakah temen Anda benar2 baik dan pantas dijadikan sahabat, pacar, suami, isteri, atau justeru sebaliknya…

Where Am I?

You are currently browsing entries tagged with cantik at Warung Nalar.

%d bloggers like this: