Kopaja

28 May 2009 § Leave a comment


di P20, 
ada bahu yang saling sapa namun tanpa makna
ada mata yang saling pandang namun kosong 
ada senyum yang saling terlempar namun hambar 
ada kebersamaan di sana namun semu belaka 

bersama tapi soliter… 
ramai tapi sepi, sendiri…

seperti sendiri ragamu yang hanya menemaniku
sepi, tanpa jiwa…
mungkin kau tak sadar
dusta bisa hadir tanpa kausadari
karena kau tak pernah menyadari di luar dirimu

di 612,
cahaya itu tertahan jendela kaca 
lalu meresap memasuki ruangan ramai tapi hampa 
aku harus menutup hidung, mulut, dan mata
sebab cahaya yang telah dijamah kaca 
membuat titik-titik debu semakin nyata 
titik-titik debu liar, saling bertubruk, tak teratur, kacau, di mana-mana

haruskah kupecah saja kaca jendela?
atau kubiarkan saja dengan meninggalkan tulisan untuk dibaca
: maaf, tidak ada cahayamu yang kedua

Kemang, 28 Mei 2009

Di Pe Dua Puluh (P 20)

18 March 2009 § 1 Comment


likaila ta’sau ‘ala ma fatakum, wala tafrahu bima atakum…

”Supaya Kau tak berduka pada apa yang telah luput darimu, dan tak terlampau gembira pada apa yang Ia beri untukmu,” begitu Gusti Pangeran pernah berujar kepadaku.

Ucapkanlah ‘selamat tinggal’ dengan tulus pada yang apa yang telah pergi darimu. Niscaya ia akan membalas dengan ikhlas, “yang hilang akan beri hikmah. Yang datang bakal bawa berkah.”

Dan akan berujar, “yang telah tiada semoga tak buat dirimu terlalu merana. Yang ada semoga tak buat dirimu terlampau bahagia.”

Sebab, sesungguhnya hidup hanyalah putaran konstan datang dan pergi, ada dan tiada. Masing-masing bergulir pada garis yang sama sehingga perbedaan masing-masing adalah semu. Masing-masing bisa terjadi begitu mudahnya. Namun, kerap menjadi sulit dan rumit karena jiwa yang terlalu sempit.

Lalu, yang hilang bikin malang meradang. Yang datang bikin senang bukan kepalang. Yang tiada buat duka tak terkira. Yang ada buat terpana karena terlampau bahagia…

Dalam hening ketika jiwa berada pada kondisi paling rendah dan hampa, aku pun menimpali Ujaran Suci Sang Gusti itu, “Inggih, Gusti, inggih…”

Pada suatu siang ketika menuju Kemang, di bus Pe Dua Puluh yang tak sesak penuh, aku begitu terusik oleh cuaca terik. Kendaraan besar pada berjejer mepet karena jalanan macet. Rotasi dunia seolah berputar lelet. Suara klakson begitu riuh seolah kendaraan-kendaraan itu pada misuh. Pada kondisi tensi tinggi di mana emosi setiap saat bisa meluap berapi-api, aku bergumam dalam hati, “Gusti, aku teringat kawanku, Supra X 125 R G-5471-BR warna merah hitam yang gagah itu. Gusti, Aku tak mengharap yang pergi akan kembali. Sebab, City Sport One baru tentu saja akan lebih menyenangkanku!”

Di Pe Dua Puluh, tubuhku agak kuyup oleh peluh. Kembali aku bergumam, “Nanti malam saja aku kembali menghayati Ujaran Suci Sang Gusti di atas.”

Where Am I?

You are currently browsing entries tagged with bus at Warung Nalar.

%d bloggers like this: