Al-Hikam Ali ibn Abi Thalib

17 April 2015 § 10 Comments


Pengantar: tulisan ini adalah kata pengantar untuk buku yang saya susun dan saya terjemahkan. Terbit Mei, oleh Penerbit Serambi.

Al-Hikam Ali ibn Abi Thalib « Read the rest of this entry »

Berdamai dengan Takdir

6 July 2012 § Leave a comment


GambarTuhan tak memberi apa yang manusia inginkan; Ia memberi apa yang mereka butuhkan ….

Barangkali kita pernah mendengar ujaran demikian.Adamakna tersirat disana: Tuhan selalu memberi yang terbaik untuk manusia, sementara manusia selalu tak mampu sepenuhnya memahami bahwa apa yang mereka anggap baik tak selalu baik menurut Tuhan; apa yang mereka anggap buruk, bisa jadi baik menurut-Nya.

Memahami secara pintar dan benar nilai setiap hal yang berlaku atas diri kita. Itulah seruan yang « Read the rest of this entry »

Ali dan Pemuda Galau

29 December 2011 § Leave a comment


Saya nukilkan kisah lain tentang Ali ibn Abi Thalib. Kali ini dari buku Destiny Disrupted: A History of The World through Islamic Eyes karya Tamim Ansary, seorang sejarawan dan sastrawan dunia kelahiran Afghanistan—yang telah diindonesiakan Penerbit Zaman dengan judul Dari Puncak Bagdad: Sejarah Dunia Versi Islam.

Kisah tentang keberanian, keromantisan, dan religiositas.

Dalam satu pertempuran penting pada masa-masa awal Islam, seorang pemuda menyongsong Ali dengan berapi-api, matanya tajam, kedua ujung alisnya hampir berpautan, dan tangannya mengayunkan pedang. Mereka lalu berhadap-hadapan. « Read the rest of this entry »

Pengantar Redaksi Buku “MENGAJI AL-HIKAM”

11 May 2011 § 2 Comments


Pengantar Redaksi

Jika “al-Hikam” disebut, barangkali yang pertama tebersit dalam benak Anda adalahal-Hikam Ibnu Athaillah. Karya itu memang memukau: kedalaman makrifat yang memikat dalam untaian mutiara kata-kata yang memesona. Maka, wajar, jika ia sangat tenar.

Namun, tahukah Anda, sebelum al-Hikam Ibnu Athaillah itu ditulis, bahkan jauh sebelum penulisnya lahir, telah ada karya ­al-Hikam lain, yaitu al-Hikam al-Ghautsiyyahyang ditulis Abu Madyan Syu‘aib ibn al-Husain al-Anshari (Abu Madyan lahir pada 520 H dan meninggal pada 594 H. Sementara—tidak ada catatan yang tegas—Ibnu Athaillah diperkirakan lahir pada antara 658 H dan 679 H. Jadi, lebih dari enam puluh tahun setelah kepergian Abu Madyan, baru lahirlah Ibnu Athaillah). « Read the rest of this entry »

Pengembara Muda yang Membunuh Lelaki Tua

6 July 2010 § 1 Comment


Seorang pengembara muda ditangkap karena membunuh lelaki tua. Anak lelaki korban membawa pemuda ini ke hadapan Khalifah Umar. Sang pengembara mengakui perbuatannya. Ada keadaan khusus yang sebenarnya meringankan, namun dia menolak untuk memohonkan itu; dia telah mengambil nyawa orang lain dan karenanya harus mengorbankan dirinya sendiri. Namun,dia mengajukan satu permintaan: bisakah eksekusi ditunda selama tiga hari agar dia dapat pulang ke rumah dan membereskan sedikit urusan? Ada seorang anak yatim dalam pengasuhannya di sana, dia telah mengubur warisan anak ini di tempat yang « Read the rest of this entry »

Kisah Persahabatan Terhebat

17 February 2010 § 2 Comments


Judul: Sekolah Cinta Rasulullah: Kisah Suka Duka Generasi Muslim Pertama
Penulis: Dr. Nizar Abazhah
Penerjemah: Taufik Damas & M. Abidun
Penerbit: Zaman
Tebal: 463 Halaman
Terbit: Januari 2010
Harga: Rp. 54.000,00
————————–
BAGAIMANA kondisi generasi muslim pertama? Bagaimana mereka satu per satu jatuh hati pada Rasulullah dan ajarannya yang suci? Bagaimana mereka tumbuh di Makkah lewat tantangan demi tantangan yang teramat berat?

Buku ini bertutur tentang fragmen kisah generasi « Read the rest of this entry »

Ali

17 February 2010 § Leave a comment


Banyak pemuka kesatria sufi menelusuri garis silsilah mereka kembali kepada Ali, belum tentu karena mereka Syiah, kata Tamim Ansary, tapi karena Ali secara legendaris terkenal sebagai kesatria sempurna, kombinasi ideal kekuatan, keberanian, kesalehan dan kehormatan. Dalam Syiah memang tidak ada sahabat-Rasul yang paling istimewa selain Ali. Tamim melanjutkan, Syiah merasa bahwa otoritas keagamaan mutlak dan turun-temurun dimiliki oleh seorang tokoh yang disebut imam, yang merupakan wakil Allah di bumi. Dan selalu ada satu imam di dunia, tidak pernah ada dua; dan imam sejati sebuah zaman selalu diturunkan dari Rasul melalui putrinya Fathimah, yang tak lain adalah istri Ali.

Saya sendiri tumbuh dalam tutur dan literatur yang tak mengistimewakan salah seorang sahabat tertentu. Setiap sahabat adalah istimewa di hati Rasul, dengan keistimewaan masing-masing. Abu Bakar adalah sahabat Rasul sejak kecil, yang kemudian menjadi mertua Rasul. Rasul pernah berujar tentang Abu Bakar, “Jika orang lain akan meminta waktu untuk berpikir saat aku menyampaikan Islam, tidak demikian dengan Abu Bakar. Ia menerima Islam tanpa ragu dan tak butuh waktu.”

Umar adalah jawaban Tuhan untuk Rasul. Rasul pernah berdoa, “Tuhan! Kuatkanlah Islam dengan salah satu dari dua Umar: Umar ibn Khathab dan Amr ibn Hisyam.” Amr ibn Hisyam tak lain adalah Abu Jahal. Selain Abu Jahal, Umar adalah sosok pemberani cenderung kejam. Jika salah satu dari mereka memeluk Islam, Islam di Makkah akan berwibawa dan ditakuti. Dan, ternyata, pilihan Tuhan adalah Umar ibn Khathab—yang kemudian memeluk Islam secara dramatis dan mengharukan: takluk oleh air mata saudarinya yang menetes oleh tamparan Umar.

Sedangkan Utsman adalah menantu Rasul dengan menikahi Ruqayah. Setelah Ruqayah wafat, Utsman menikahi putri-Rasul yang lain, Ummu Kultsum. Sebab itulah Utsman bergelar Dzû al-Nurayn atau “orang yang memiliki dua cahaya”. Maksudnya adalah dua cahaya hati Rasul: Ruqayah dan Ummu Kultsum.

Ali? Ali adalah sepupu Rasul sekaligus menantunya. Sejak muda telah dikenal sebagai kesatria. Dialah pemuda tujuh belas tahun yang menempati tempat tidur Rasul untuk mengelabui orang-orang yang hendak menjadikan Rasul sebagai target pembunuhan—Rasul kemudian keluar dari Makkah secara sembunyi-sembunyi bersama Abu Bakar, menuju Yatsrib (Madinah). Ali sangat sadar, menempati tempat tidur Rasul sama saja dengan menyerahkan nyawa. Orang-orang musyrik bisa saja meyakini jika ia adalah Rasul yang tertidur lelap, lalu dengan mudah menikamnya.

Saya akan menukil kisah lain tentang kekesatriaan Ali. Kali ini dari buku Destiny Disrupted: A History of The World through Islamic Eyes karya Tamim Ansary, seorang sejarawan dan sastrawan dunia kelahiran Afghanistan—yang akan segera diindonesiakan oleh Penerbit Zaman menjadi Dari Puncak Bagdad: Sejarah Dunia Versi Islam. Anda tahu, saya benar-benar terharu oleh sepenggal kisah ini, kisah tentang keberanian, keromantisan, dan religiusitas …

Dalam satu pertempuran penting pada masa-masa awal Islam, seorang pemuda menuju Ali sambil mengayunkan pedangnya.

“Kau tidak tahu siapa aku?! Ah, bodoh! Aku Ali! Kau tidak akan mampu mengalahkanku. Justru aku yang akan membunuhmu. Kenapa kau masih nekat?”

“Karena aku sedang jatuh cinta,” kata pemuda itu. “Dan, kekasihku berkata jika aku mampu membunuhmu, dia akan menjadi milikku sepenuhnya.”

“Tapi, jika kita berduel, kemungkinan justru aku yang akan membunuhmu.”

“Adakah yang lebih baik daripada terbunuh demi cinta?!”

Ali luluh oleh penuturan terakhir si pemuda. Ia melepas helm besinya lalu menjulurkan lehernya.

“Tebaslah aku di bagian ini,” kata Ali seraya menunjuk lehernya.

Akan tetapi, melihat kesediaan Ali untuk mati demi cinta, giliran hati pemuda itu terbakar dan luluh, mengubah cintanya kepada wanita menjadi sesuatu yang lebih tinggi: cinta kepada Tuhan. Dalam sesaat, Ali mengubah pemuda biasa menjadi seorang sufi tecerahkan.[]

Islam di Amerika; Catatan Perjalanan Imam Besar Masjid Istiqlal

13 January 2010 § 1 Comment


Judul: Islam di Amerika
Penulis: Prof. Dr. KH. Ali Mustafa Yaqub
Penerbit: Pustaka Darus-Sunnah
Tebal: 306 Halaman
Terbit: I, Desember 2009
—————————————————–

Sesuatu terpenting apa yang akan Anda bawa jika melakukan perjalanan? Kamera atau camcorder mungkin saja penting. Tapi, menurut saya, sebaiknya laptop atau paling tidak buku catatan. Dokumentasi berupa catatan—tentunya tak semua catatan—lebih memungkinkan kita untuk berbagi kepada banyak orang. Itulah yang dilakukan Prof. Dr. KH. Ali Mustafa Yaqub. Perjalanannya selama kurang lebih tiga bulan di Amerika Serikat dan Kanada pada 2008 ia tuliskan dalam buku yang diberi judul Islam di Amerika.

Banyak yang dicatat oleh Imam Besar Masjid Istiqlal itu. Namun, sebagian besar adalah tentang masjid, Islamic Centre, dan komunitas Islam. Seperti tentang masjid bernama King Fahd di Los Angeles. Sesuai namanya, masjid itu dibangun atas biaya dari Raja Fahd pada 1998. Setelah peristiwa “Sebelas September”, masjid tersebut menjadi sasaran pengerusakan. Namun, « Read the rest of this entry »

Meretas Jalan Surga Dalam Buku

7 March 2009 § 1 Comment


Ada fakta menarik dalam literatur keislaman: puja puji para pakar terhadap bidang keilmuan yang ditekuninya – biasa disampaikan pada setiap mukadimah sebuah karya – bahwa bidang keilmuannya adalah yang terbaik, berada di atas pada skala prioritas.

Nahwu (Gramatikal Arab)

Jamaluddin bin Hisyam al-Anshari, penulis Mughni al-Labib – sebuah karya tingkat lanjut bidang nawhu atau gramatikal Arab yang ditulis lebih dari enam ratus lima puluh tahun silam – membuka kitabnya itu dengan mukadimah berhias aliterasi apik, berisi pujian terhadap gramatikal Arab yang menjadi kepakarannya. Perhatikan,

Fainna aula ma taqtarikhuhu al-qaraih

Wa a’la ma tanajjaha ila tahshilihi al-jawanih

Ma yatayassara bihi fahm kitabillah al-munazzal

Wayattadhihu bihi ma’na haditsi nabiyyih al-mursal

Fainnahuma al-wasilah ila al-sa’adah al-abadaiyah

Wa al-dzari’ah ila tahshil al-mashalih al-diniyah wa al-dunyawiyyah

Wa ashl dzalik ‘ilm al-i’rab

Al-hadi ila shaub al-shawab

Mukkadimah apik dengan aliterasi ciamik itu – ciri umum yang mudah dijumpai dalam banyak karya (utamanya klasik) berbahasa arab, sekaligus menjadi keunggulannya – tentu saja tak akan dibiarkan terkoyak oleh terjemahan yang tak memperhatikan aliterasi. Maka terjemahan bebas mesti dilakukan – dengan tak mengacu pada arti tekstual mukadimah itu, tapi melihat pada karya penjelas (hamisy) yang berada di sampingnya (hasyiyah). Berikut,

Apa yang paling mendorong nalar dan hati

Itulah ilmu yang memiliki kekuatan akurasi dan presisi

Sehingga memahami Alquran menjadi mudah

Dan memaknai hadis jadi tak payah

Di mana keduanya adalah jembatan menuju bahagia abadi

Jalan meraih maslahat duniawi dan ukhrawi

Itulah “ilmu i’rab” di mana kepadanya semua berpangkal

Ilmu petunjuk arah kebenaran tak tersangkal

Dan “ilmu i’rab” yang dimaksud adalah nawhu. Dari mukadimah itu, bisa dimengerti, memahami nahwu atau gramatikal Arab adalah dasar mutlak bagi para penekun Alquran dan hadis, dua hal yang kata Rasul, “lan tadhillu ma tamassaktum bihima”, “kalian takkan tersesat sepanjang berpedoman kepada keduanya”, karena di sanalah terhampar petunjuk meraih ketentraman alam dunia, di sanalah pedoman menuju alam selanjutnya tersedia.

Alquran dan hadis adalah dunia kalimat dan kata. Untuk mendalami keduanya, terlebih dahulu seseorang mesti memahami dunia kalimat dan kata itu, menekuni “ilmu i’rab“: satu instrumen keilmuan yang mampu membedah sampai pada setiap detil huruf, bahkan harakat (baris/bunyi huruf Arab) dengan tingkat akurasi dan presisi yang tinggi. Sebab, perbedaan bunyi harakat dalam bahasa Arab akan berpengaruh pada pemakanaan. Maka, bergulat dengan Alquran dan hadis, memiliki pisau bedah bernama “ilmu i’rab” adalah mutlak, untuk menghindari kesalahan dalam pemaknaan terhadap keduanya, mengingat ia adalah mata air hukum dan sumber legitimasi.

Pada konteks seperti itu, tentu nahwu adalah yang terbaik, “di mana kepadanya semua berpangkal”.

Ilmu Kalam (Teologi)

Kita tuju, selanjutnya, bidang keilmuan teologi atau akidah atau ilmu kalam. Kita tengok, misalnya, mukadimah sebuah kitab al-Husun al-Hamidiyah karya Sayid Husain Afandi. Di sana tertulis puja puji ini,

“…wahuwa ashl al-‘ulum al-diniyyah wa afdhaluha, likaunih muta’alliq bidzatillah ta’ala wadzati rusulihi ‘alaihim al-shalah wa al-salam. Wasyaraf al-‘ulum bisyaraf al-ma’lum.”

Kata penulisnya, “…ia (ilmu kalam) adalah pokok dan paling prioritas dari semua kajian keagamaan. Sebab, obyek kajian ilmu ini adalah entitas penuh kemuliaan: Tuhan dan para utusan-Nya. Dan, derajat kemuliaan sebuah ilmu ditentukan oleh obyek kajiannya.”

Mengkaji ilmu ini, para pencari ilmu akan memahami bahwa segala yang wujud pasti ada yang mencipta, mengerti bahwa Tuhan mengutus Rasul ke alam dunia untuk menyampaikan risalah ketuhanan.

Namun, ada hal kontras mengesankan diutarakan Imam al-Ghazali terkait bidang ini. Dalam al-Iqtishad fi al-I’tiqad, karyanya sendiri dalam bidang ini, ia menyatakan, ilmu ini tak wajib bagi setiap orang, bukan fardhu a’in, tapi sekedar fardhu kifayah, diharuskan ada sebagian orang yang tetap mendalami ilmu ini. Bahkan, menurutnya, ada orang-orang yang justeru tak dianjurkan mempelajarinya, tak diperkenankan ilmu itu diperkenalkan kepada mereka. Di antaranya adalah orang-orang yang cukup baginya percaya akan Tuhan dan Rasul, mengerjakan ritual-ritual keagamaan, tanpa paham namun bukan berarti ragu, kenapa semua itu mesti dilakukan.

Barangkali bisa dijadikan contoh adalah orang tua, nenek, atau kakek sebagian kita yang kepercayaannya atas Tuhan dan Rasul, serta ritual, misalkan, shalatnya, berdasarkan “pokoknya percaya Tuhan itu ada dan Muhammad adalah Rasul-Nya”, “pokoknya shalat itu wajib”, tanpa mampu menjelaskan dasar kenapa harus demikian. Jika dengan kondisi seperti itu mereka telah bisa merasa nyaman berislam dan beriman, maka tak dianjurkan ilmu kalam diperkenalkan kepada mereka, tak dianjurkan diajukan pertanyaan kepada mereka, kenapa Tuhan itu ada, kenapa Tuhan mesti mengutus rasul, dan sebagainya dan seterusnya, jika kemudian pertanyaan teologis semacam itu justeru membuat bingung mereka. Saya sendiri memiliki seorang embah putri yang sama sekali tak bisa baca Alquran, hanya hapal beberapa surat Alquran untuk kepentingan shalat, hapal bacaan shalat dan wirid rutin yang dibaca selepas shalat, tanpa sama sekali paham terjemahan apa yang dibacanya, apalagi memahaminya. Embah putri saya tak paham semua itu. Yang ia tahu cuma, Tuhan itu ada, Tuhan mewajibkan shalat, maka ia lakukan kewajiban itu dengan konsisten tanpa keraguan. Tak lebih dari itu.

Kepada orang seperti itulah, ilmu kalam yang sarat perdebatan, tak bijak disampaikan. Maka, dalam analogi Imam al-Ghazali, ilmu kalam hanya ibarat obat yang semata dibutuhkan bagi orang sakit. Ilmu kalam dibutuhkan hanya bagi orang yang keberislaman dan keberimananya terbelunggu ragu.

Fikih

Puja dan puji dalam bidang fikih, bisa dijumpai dalam satu mukadimah Kifayah al-Akhyar buah karya Taqiyuddin Abu Bakr al-Husaini.

Disebutkan, “faidza kana al-fiqh bihadza al-martabah al-syarifah wa al-mazaya al-munifah, kana al-ihtimam bihi fi al-darajah al-ula. Wa sharf al-auqat al-nafsiyyah bal kull al-‘umr fihi aula. Lianna sabilahu sabil al-jannah.”

“Karena memiliki martabat mulia dan keunggulan yang luhur ini, maka menekuni ilmu fikih menjadi prioritas utama. Bahkan akan lebih baik jika seseorang menekuninya sepanjang hayat. Sebab, menekuni fikih adalah meretas jalan surga.”

Barangkali tak bisa disangkal, hanya dalam literatur fikih terpapar kajian lebih dalam dan detil tentang berbagai ritual keislaman, seperti shalat, zakat, puasa, perkawinan dan sebagainya dan seterusnya. Dalam konteks ini, tentu saja fikih lebih unggul dan bermartabat. Maka, bukan hal janggal jika kemudian puja dan puji di sampaikan kepadanya.

Hadis, Ilmu Hadis, Dan Tafsir

Untuk bidang ini, saya nukilkan mukadimah Bulugh al-Maram – kitab yang memuat hadis-hadis dasar hukum fikih buah pena Ibn Hajar al-Asqalani – yang disampaikan oleh Muhammad Hamid,

“Inna khaira ma tansharif ilaih himam al-mu’minin al-shadiqin, watatawajjah ilaih ‘inayah al-muwahhidin al-mukhlishin, kalam sayyid al-khalq ajma’in”.

“Obyek kajian terbaik di mana orang beriman mencurahkan kesungguhannya, di mana penganut tauhid mengarahkan perhatiannya, itulah tutur penghulu segenap mahluk.”

“Tutur penghulu segenap mahluk” yang dimaksud adalah hadis-hadis Rasul Muhammad.

Hadis menjadi obyek kajian terbaik, berada di atas pada skala prioritas untuk merinci apa yang global dalam Alquran, menjadi petunjuk teknis dan petunjuk pelaksana dari Alquran. Tuhan perlu mengutus seorang Rasul untuk menjelaskan teknik pelaksanaan shalat, zakat, haji, dan sebagainya dan seterusnya, dalam tutur dan tindakannya, karena di dalam Alquran Tuhan hanya memerintahkan shalat, zakat, haji, tanpa menjelaskan bagaimana teknik semua kewajiban itu mesti dilaksanakan. Untuk konteks ini, hadis adalah yang terbaik.

Sedangkan dalam bidang ilmu hadis, eloklah saya nukil di sini puja puji Ibnu Shalah yang ia sampaikan dalam karyanya atas nama Muqaddimah Ibn Shalah fi Ulum al-hadits, “Inna ‘ulum al-hadits min afdhal al-‘ulum al-fadhilah wa anfa’ al-funun al-nafi’ah… Wahuwa min aktsar al-‘ulum tawallujan fi fununiha, la siyama al-fiqh…”

Katanya, “Ilmu hadis adalah bagian dari keilmuan yang memiliki prioritas paling utama, bagian dari bidang keilmuan yang paling bermanfaat… Ia menjadi bidang keilmuan yang paling banyak masuk menjadi obyek kajian dalam bidang keilmuan yang lain, terutama fikih…”

Tafsir juga tak lepas dari puja puji semacam di atas. Lihat saja apa yang ada dalam mukadimah kitab tafsir karya Muhammad Ali al-Shabuni, Rawaih al-Bayan, Tafsir Ayat al-Ahkam min Al-Quran, “Inna khaira ma shurifat fihi aljuhud, wa isytaghala bihi al-‘ulama ta’liman wa tafsiran wa tafahhuman wa dirasatan wa istinbathan, kitabullah…

“Kajian terbaik untuk dicurahkan segala kesungguhan, di mana para ulama menyibukkan waktu untuk mengajarkannya, menafsirkannya, memahaminya, mendarasnya, dan menggali hukum darinya, maka itulah Kitab Tuhan…”

Dengan kepakaran dan ketekunan mendalam terhadap bidang keilmuan yang diselaminya, para pakar telah mampu meretas jalan surga dan jalan kedekatan menuju Tuhan. Apakah hanya dalam bidang keilmuan keagamaan jalan itu bisa diretas? Apakah hal itu tak membuat iri para pakar astronomi, ahli biologi, para saintis, dan sebagainya dan seterusnya, yang dengan kepakaran dan ketekunannya pula pada kajiannya, pada sepojok hatinya ia berguman tentang entitas yang tak pernah disinggung dalam bidang kajiannya, namun dapat ia rasakan “Oh, siapakah Kau yang mencipta semua ini? Ciptaan-Mu begitu luar biasa dan sempurna. Maka, pastilah betapa Kau lebih sempurna dari kesempurnaan ciptaanmu.”

Lalu, kita (jika sampean tak kebeberatan saya wakili), yang bukan pakar dalam bidang apa pun, yang tak mampu mencipta satu pun karya, apalagi yang luar biasa, dengan jalan apakah kita meretas surga?

Tak apa, kita retas surga dengan kaidah fikih ini: al-tabi’ tabi’, pengikut mengikut kemana yang diikuti pergi. Jika para pakar keilmuan di atas kelak masuk surga, kita yang hanya bisa membaca, menelaah karyanya, juga akan masuk surga, kecipratan berkahnya. Maka, tak berlebihan jika para kyai dan ustad di pesantren yang mengajarkan kitab tertentu, mengawalinya dengan permulaan ini: “Qala al-mushannif rahimahullah ta’ala, wanafa’ana bi ‘ulumihi fi al-darain…”.

“Penulis kitab ini – semoga Allah merahmatinya, dan memberikan manfaat bagi kita di dunia dan akhirat, karena ilmu-ilmunya – mengatakan…”. Setelah itu, baru dimualilah pengajian: al-kalamu huwa al-lafdzu…

~

Empat mahasiwa UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, masing-masing dari dari Fakultas Adab dan Humaniora, Fakultas Ushuluddin, Fakultas Syariah, dan Fakultas Dirasat Islamiyah, sedang mengantri di depan pintu surga, menunggu panggilan, akan masuk surga yag mana. Waktu hidup di dunia, di kampus yang begitu ia cintai itu, mereka adalah mahasiswa yang cemerlang. IPK mereka selalu mendekati 4.0, kecuali si mahasiwa dari Fakultas Dirasat Islamiyah yang IPK-nya paling tinggi hanya 3.2. Semuanya bergembira karena akan masuk surga bintang empat, dengan pertimbangan IPK mereka selalu kumlaud, kecuali si mahasiswa dari Fakultas Dirasat Islamiyah yang tampaknya pasrah dengan surga kelas melati pun, mengingat IPK-nya yang selalu pas-pasan.

Di luar dugaan, ternyata mahasiswa Fakultas Dirasat Islamiyah yang masuk surga bintang empat itu, dan tiga mahasiswa lainnya justeru masuk surga kelas melati. Kontan saja tiga mahasiswa itu mengajukan nota keberatan kepada malaikat penjaga surga.

“Eit, tenang, tenang. Saya bisa jelaskan… IPK kalian boleh selalu mendekati empat. Namun, kalian masuk surga ini bukan karena nilai, tapi cipratan-cipratan berkah yang membasahi kalian. Dan yang mendapatkan berkah lebih banyak waktu di dunia adalah mahasiswa dari Fakultas Dirasat Islamiyah. Maka, dia berhak mendapatkan surga bintang empat itu,” kata malaikat.

“Elho! Kok, bisa begitu, Tuan Malaikat?”

“Ya jelas, tho. Fakultas Dirasat Islamiyah itu kan terjemahannya Fakultas Studi Islam. Se-ta-di Is-lam. Dari namanya terang terlihat, kajianya tentang Islam pastilah lebih komprehensif. Pembahasannya lebih luas. “Islam” itu ya mencakup “ushuluddin”, “syariah”, “adab. Apa “ushuluddin” mencakup “syariah”? Apa “syariah” memuat “adab”? Apa “adab” melingkup “ushuluddin”? Ndak, tho?!” tantang Malaikat.

“Hayo, ngaku, kalian bertiga. Yang dari Fakultas Ushuluddin, apa fakultasmu mendata Kifayah al-Akhyar jadi referensi bacaan? Yang dari Fakultas Syariah, apa kamu diperintahkan baca Mughni al-Labib untuk referensi? Yang dari Fakultas Adab dan Humaniora, apakah dosen kalian menganjurkan Bulugh al-Maram jadi referensi di fakultasmu? Tidak, tho?! Di Fakultas Dirasat Islamiyah, semua yang disebut itu penting dimiliki. Wong, fakultas Islam komprehensif, je!”

“Sudah, sudah, jangan banyak protes, kalian! Nikmati saja jatah surgamu itu. Kelas melati la’ sing penting surga. Yes, tho?!”

Kejutan 2009 Yang Membuatku Lemas Mendadak

2 January 2009 § 3 Comments


Tahun 2009 yang masih tercium aroma barunya ini, memancarkan bahagianya untukku, namun seketika menjadi kejutan yang membuatku lemas mendadak.

Berawal dari sebuah Eksotopi (Tentang Kekuasaan, Tubuh, dan Identitas)-nya Goenawan Mohamad, buku yang aku dapatkan dengan segenap keluguan dan kenaifan mahasiswa semester pertama, di tahun 2002. Biarlah tak dapat menaksir kira-kira tentang apa isinya, pula belum tahu siapa itu Goenawan Mohamad, tetap dibelilah saja buku itu, di sebuah bazar di kampus. Benar saja, jangankan mengira isinya, bahkan ketika berusaha membacanya, waktu itu, terbesit penyesalan telah membelinya. Aku biarkan reaksi spontan itu mengalir, kemudian menguap, dan akhirnya hilang sama sekali. Eksotopi lalu aku tempatkan di sudut paling sulit dijangkau, di sebuah rak buku, mengisyaratkan keengganan untuk menyentuhnya.

Saat ini, enam tahun kemudian, aku sadari, gengsiku untuk membeli Eksotopi dengan penuh keluguan, waktu itu, hanyalah penempatan waktu yang kurang tepat, di mana nalar dan pengetahuan belum mampu mengimbangi keluar-biasaan, kenjlimetan, kedalaman buku kumpulan esai sastra itu. Ia bukanlah bacaan ringan untuk seorang mahasiswa baru yang lugu, meski tak bepretensi untuk mengatakan, saat ini pun aku telah dengan mudah begitu saja melahapnya. Eksotopi masih tetap terpandang njlimet dan tak ringan, hanya saja aku telah memiliki ke-pede-an untuk melahapnya, meski harus dengan mengunyahnya berulang-ulang berkali-kali, pelan-pelan. Dan setelah itu pun, pada satu esai (Eksotopi terdiri dari sebelas esai, yang masing-masing berisi lebih dari sepuluh halaman. Eksotopi sendiri salah satu judul tulisan yang kemudian dipilih menjadi judul buku), misalnya, hanya sekian kalimat yang nyangkol, saking dalam substansi yang disampaikannya, dengan kalimat yang njlimet penuh kiasan.

Justeru, kenjlimetan – dalam kamus pribadiku, “njlimet” artinya kalimat indah yang tak sekali lirik langsung dimengerti – itulah yang membuatku terpesona pada setiap tulisan Goenawan Mohammad. Aku semakin tertarik untuk mengakhiri setiap esai di Eksotopi, kemudian bersegara melanjutkan pada esai selanjutnya. Dan, “Caping” alias “Catatan Pinggir” yang menjadi trademark Goenawan Mohamad alias GM, adalah halaman paling akhir Tempo yang paling awal aku tuju, jika kebetulan membacanya. Sama, seperti jika mambaca Eksotopi-nya, biar pun tak mampu memahami sepenuh substansinya, paling tidak aku bisa menikmati – sekaligus belajar – bagaimana GM memilih diksi kemudian merangkaikannya, menjadi “kalimat indah yang tak sekali lirik langsung dimengerti”.

Di tengah aku betekun ria dengan Eksotopi, aku seolah diingatkan, pada tahun 2007, GM merilis buku terbarunya berjudul “Tuhan & Hal-Hal Yang Tak Selesai”, berisi “99 esai amat pendek yang ditulis di masa yang seperti kita alami sekarang, ketika Tuhan tak bisa ditolak dan agama terus bertambah penting dalam hidup orang banyak, memberi kekuatan, menerangi jalan, tapi juga membingungkan dan menakutkan”, begitu deskrpisi singkat tertulis tentang buku itu di sampul belakangnya. Sebelum menekuni Eksotopi, “Tuhan” belum menjadi apa-apa bagiku. Hanya sebatas tahu, itulah buku terbaru GM. Cukup. Tak terbesit secuil pun untuk memilikinya. Namun, pesona GM dalam Eksotopi yang sedang aku tekuni, menggodaku untuk segera memiliki “99 esai amat pendek”-nya itu, kemudian segera menikmatinya.

Maka, sejak pertengahan November (2008) silam, aku memulai perburuan 99 esai amat pendek itu, bolak-balik ke Plaza Bintaro dan Pondok Indah Mall di mana Gramedia (terdekat) berada. Namun, sesering aku mondar-mandir ke dua tempat itu, sesering itu pula aku harus kecewa. Sekali aku datang, buku itu telah habis. Selanjutnya, aku kembali datang seraya berharap buku itu sudah ada. Tapi ternyata tidak. Dan seperti itu selalu, selanjutnya. Harapan datang, ditumbangkan oleh kekecewaan.

Sampai akhirnya, 2009 menjelang, merilis hari pertamanya, 1 Januari yang jatuh di hari Kamis. Ketika sebagian kawan memilih bertamasya ke tempat-tempat hiburan yang tentu akan sangat menyenangkan hati, untuk membunuh hari libur itu, aku lebih asyik ke Gramedia saja. Di Gramedia, bukan hanya hati saja yang senang, tapi nalar pun ikut senang, sebab dimanjakan oleh buku-buku dengan ragam tema yang bisa pilih sesuai kecenderungan, dan dibaca di tempat. Nah, kebahagiaan di tahun baru itu, memancar dari pojok sastra Gramedia Pondok Indah Mall. Tak disangka, ternyata “Tuhan & Hal-Hal Yang Tak Selesai”, yang selama ini aku nantikan keberadaanya, telah berderet rapi di antara buku-buku sastra. Seketika aku raih buku itu, kemudian menuju kasir untuk kutukar dengan lembar-lembar rupiah.

Itulah kebahagiaan yang dipancarkan tahun baru untukku. Seolah, “Tuhan & Hal-Hal Yang Tak Selesai” memang menjadi takdirku, hadir dengan cara yang mengejutkan, dengan memilih hari perdana di tahun 2009, agar ada efek momentum di sana. Kepada kawan, aku sempat merayakan momentum itu, dengan mengirim sms, “Ngalkamdulillah wacukurilah, “Tuhan & Hal-Hal Yang Tak Selesai”-nya Goenawan Mohamad ada juga.”

Adapun kejutan yang membuatku lemas mendadak, yang menjadi tema coretan ini, terjadi saat aku sudah sampai di rumah, yaitu “Tuhan & Hal-Hal Yang Tak Selesai” yang baru aku dapatkan itu ternyata edisi bahasa Inggris! Seketika aku mengekspresikan keterkejutanku itu dengan mengucapkan kalimah thayibah: Astaghfirullah! Innalillah!, yang kemudian dilanjutkan dengan ekspresi keterkejutan lokal: Asem! Jangkrik! Kurang ajar! Sialan! Entah kepada siapa ekspresi itu aku tujukan.

Masalahnya, semesta alam, dari ujung kulon sampai ujung wetan, dari sabrang kidul sampai sabrang lor, dari ujung langit sampai dasar bumi, dari kolong dunia sampai pojok akhirat juga paham, jika aku tidak pandai bahasa Inggris. Memahami tulisan Goenawan Mohamad yang berbahasa ibu saja mesti dengan segenap daya dan mringis-mringis, apalagi yang berbahasa Inggris! Dulu sekali, aku memang pernah kursus bahasa itu. Dipikir sepertinya itu bukan duniaku, aku cuma bertahan tiga bulan. Cabut.

Tapi, sebagaimana aku dulu mendapatkan Eksotopi, mungkin “Tuhan & Hal-Hal Yang Tak Selesai” edisi Inggris itu “hanyalah penempatan waktu yang kurang tepat”. Maka, untuk sementara buku itu akan aku “tempatkan di sudut paling sulit dijangkau, di sebuah rak buku, mengisyaratkan keengganan untuk menyentuhnya”, seraya memburu edisi Indonesianya.

Ah, betapa naifnya aku. Dan, silakan tertawa untuk kenaifanku itu.[jr]

Where Am I?

You are currently browsing entries tagged with Buku at Warung Nalar.

%d bloggers like this: