Al-Hikam Ali ibn Abi Thalib

17 April 2015 § 4 Comments


Pengantar: tulisan ini adalah kata pengantar untuk buku yang saya susun dan saya terjemahkan. Terbit Mei, oleh Penerbit Serambi.

Al-Hikam Ali ibn Abi Thalib « Read the rest of this entry »

Advertisements

Berdamai dengan Takdir

6 July 2012 § Leave a comment


GambarTuhan tak memberi apa yang manusia inginkan; Ia memberi apa yang mereka butuhkan ….

Barangkali kita pernah mendengar ujaran demikian.Adamakna tersirat disana: Tuhan selalu memberi yang terbaik untuk manusia, sementara manusia selalu tak mampu sepenuhnya memahami bahwa apa yang mereka anggap baik tak selalu baik menurut Tuhan; apa yang mereka anggap buruk, bisa jadi baik menurut-Nya.

Memahami secara pintar dan benar nilai setiap hal yang berlaku atas diri kita. Itulah seruan yang « Read the rest of this entry »

Ali dan Pemuda Galau

29 December 2011 § Leave a comment


Saya nukilkan kisah lain tentang Ali ibn Abi Thalib. Kali ini dari buku Destiny Disrupted: A History of The World through Islamic Eyes karya Tamim Ansary, seorang sejarawan dan sastrawan dunia kelahiran Afghanistan—yang telah diindonesiakan Penerbit Zaman dengan judul Dari Puncak Bagdad: Sejarah Dunia Versi Islam.

Kisah tentang keberanian, keromantisan, dan religiositas.

Dalam satu pertempuran penting pada masa-masa awal Islam, seorang pemuda menyongsong Ali dengan berapi-api, matanya tajam, kedua ujung alisnya hampir berpautan, dan tangannya mengayunkan pedang. Mereka lalu berhadap-hadapan. « Read the rest of this entry »

Pengantar Redaksi Buku “MENGAJI AL-HIKAM”

11 May 2011 § 2 Comments


Pengantar Redaksi

Jika “al-Hikam” disebut, barangkali yang pertama tebersit dalam benak Anda adalahal-Hikam Ibnu Athaillah. Karya itu memang memukau: kedalaman makrifat yang memikat dalam untaian mutiara kata-kata yang memesona. Maka, wajar, jika ia sangat tenar.

Namun, tahukah Anda, sebelum al-Hikam Ibnu Athaillah itu ditulis, bahkan jauh sebelum penulisnya lahir, telah ada karya ­al-Hikam lain, yaitu al-Hikam al-Ghautsiyyahyang ditulis Abu Madyan Syu‘aib ibn al-Husain al-Anshari (Abu Madyan lahir pada 520 H dan meninggal pada 594 H. Sementara—tidak ada catatan yang tegas—Ibnu Athaillah diperkirakan lahir pada antara 658 H dan 679 H. Jadi, lebih dari enam puluh tahun setelah kepergian Abu Madyan, baru lahirlah Ibnu Athaillah). « Read the rest of this entry »

Pengembara Muda yang Membunuh Lelaki Tua

6 July 2010 § 1 Comment


Seorang pengembara muda ditangkap karena membunuh lelaki tua. Anak lelaki korban membawa pemuda ini ke hadapan Khalifah Umar. Sang pengembara mengakui perbuatannya. Ada keadaan khusus yang sebenarnya meringankan, namun dia menolak untuk memohonkan itu; dia telah mengambil nyawa orang lain dan karenanya harus mengorbankan dirinya sendiri. Namun,dia mengajukan satu permintaan: bisakah eksekusi ditunda selama tiga hari agar dia dapat pulang ke rumah dan membereskan sedikit urusan? Ada seorang anak yatim dalam pengasuhannya di sana, dia telah mengubur warisan anak ini di tempat yang « Read the rest of this entry »

Kisah Persahabatan Terhebat

17 February 2010 § 2 Comments


Judul: Sekolah Cinta Rasulullah: Kisah Suka Duka Generasi Muslim Pertama
Penulis: Dr. Nizar Abazhah
Penerjemah: Taufik Damas & M. Abidun
Penerbit: Zaman
Tebal: 463 Halaman
Terbit: Januari 2010
Harga: Rp. 54.000,00
————————–
BAGAIMANA kondisi generasi muslim pertama? Bagaimana mereka satu per satu jatuh hati pada Rasulullah dan ajarannya yang suci? Bagaimana mereka tumbuh di Makkah lewat tantangan demi tantangan yang teramat berat?

Buku ini bertutur tentang fragmen kisah generasi « Read the rest of this entry »

Ali

17 February 2010 § Leave a comment


Banyak pemuka kesatria sufi menelusuri garis silsilah mereka kembali kepada Ali, belum tentu karena mereka Syiah, kata Tamim Ansary, tapi karena Ali secara legendaris terkenal sebagai kesatria sempurna, kombinasi ideal kekuatan, keberanian, kesalehan dan kehormatan. Dalam Syiah memang tidak ada sahabat-Rasul yang paling istimewa selain Ali. Tamim melanjutkan, Syiah merasa bahwa otoritas keagamaan mutlak dan turun-temurun dimiliki oleh seorang tokoh yang disebut imam, yang merupakan wakil Allah di bumi. Dan selalu ada satu imam di dunia, tidak pernah ada dua; dan imam sejati sebuah zaman selalu diturunkan dari Rasul melalui putrinya Fathimah, yang tak lain adalah istri Ali.

Saya sendiri tumbuh dalam tutur dan literatur yang tak mengistimewakan salah seorang sahabat tertentu. Setiap sahabat adalah istimewa di hati Rasul, dengan keistimewaan masing-masing. Abu Bakar adalah sahabat Rasul sejak kecil, yang kemudian menjadi mertua Rasul. Rasul pernah berujar tentang Abu Bakar, “Jika orang lain akan meminta waktu untuk berpikir saat aku menyampaikan Islam, tidak demikian dengan Abu Bakar. Ia menerima Islam tanpa ragu dan tak butuh waktu.”

Umar adalah jawaban Tuhan untuk Rasul. Rasul pernah berdoa, “Tuhan! Kuatkanlah Islam dengan salah satu dari dua Umar: Umar ibn Khathab dan Amr ibn Hisyam.” Amr ibn Hisyam tak lain adalah Abu Jahal. Selain Abu Jahal, Umar adalah sosok pemberani cenderung kejam. Jika salah satu dari mereka memeluk Islam, Islam di Makkah akan berwibawa dan ditakuti. Dan, ternyata, pilihan Tuhan adalah Umar ibn Khathab—yang kemudian memeluk Islam secara dramatis dan mengharukan: takluk oleh air mata saudarinya yang menetes oleh tamparan Umar.

Sedangkan Utsman adalah menantu Rasul dengan menikahi Ruqayah. Setelah Ruqayah wafat, Utsman menikahi putri-Rasul yang lain, Ummu Kultsum. Sebab itulah Utsman bergelar Dzû al-Nurayn atau “orang yang memiliki dua cahaya”. Maksudnya adalah dua cahaya hati Rasul: Ruqayah dan Ummu Kultsum.

Ali? Ali adalah sepupu Rasul sekaligus menantunya. Sejak muda telah dikenal sebagai kesatria. Dialah pemuda tujuh belas tahun yang menempati tempat tidur Rasul untuk mengelabui orang-orang yang hendak menjadikan Rasul sebagai target pembunuhan—Rasul kemudian keluar dari Makkah secara sembunyi-sembunyi bersama Abu Bakar, menuju Yatsrib (Madinah). Ali sangat sadar, menempati tempat tidur Rasul sama saja dengan menyerahkan nyawa. Orang-orang musyrik bisa saja meyakini jika ia adalah Rasul yang tertidur lelap, lalu dengan mudah menikamnya.

Saya akan menukil kisah lain tentang kekesatriaan Ali. Kali ini dari buku Destiny Disrupted: A History of The World through Islamic Eyes karya Tamim Ansary, seorang sejarawan dan sastrawan dunia kelahiran Afghanistan—yang akan segera diindonesiakan oleh Penerbit Zaman menjadi Dari Puncak Bagdad: Sejarah Dunia Versi Islam. Anda tahu, saya benar-benar terharu oleh sepenggal kisah ini, kisah tentang keberanian, keromantisan, dan religiusitas …

Dalam satu pertempuran penting pada masa-masa awal Islam, seorang pemuda menuju Ali sambil mengayunkan pedangnya.

“Kau tidak tahu siapa aku?! Ah, bodoh! Aku Ali! Kau tidak akan mampu mengalahkanku. Justru aku yang akan membunuhmu. Kenapa kau masih nekat?”

“Karena aku sedang jatuh cinta,” kata pemuda itu. “Dan, kekasihku berkata jika aku mampu membunuhmu, dia akan menjadi milikku sepenuhnya.”

“Tapi, jika kita berduel, kemungkinan justru aku yang akan membunuhmu.”

“Adakah yang lebih baik daripada terbunuh demi cinta?!”

Ali luluh oleh penuturan terakhir si pemuda. Ia melepas helm besinya lalu menjulurkan lehernya.

“Tebaslah aku di bagian ini,” kata Ali seraya menunjuk lehernya.

Akan tetapi, melihat kesediaan Ali untuk mati demi cinta, giliran hati pemuda itu terbakar dan luluh, mengubah cintanya kepada wanita menjadi sesuatu yang lebih tinggi: cinta kepada Tuhan. Dalam sesaat, Ali mengubah pemuda biasa menjadi seorang sufi tecerahkan.[]

Where Am I?

You are currently browsing entries tagged with Buku at Warung Nalar.

%d bloggers like this: