Ketika Kelamin Jadi Ukuran

16 January 2009 § Leave a comment


Persepsi lahir dari konteks yang terindera, dari sebuah keadaan di mana empunya persepsi berinteraksi, menjadi respon atas realita di mana ia berada.

Imam Syafi’i yang pakar fikih – di mana karakter fikih adalah rigid – menyimpan keromantisan yang tersibak ketika mengatakan ini: “Sebagian orang mengatakan, mencintai wanita adalah bencana. Padahal, bencana sesungguhnya adalah berdekat dengan lelaki yang jauh dari cinta seorang wanita.”

Atau Ibnu Hazm yang dengan penuh gusto memberikan penghargaan kepada perempuan seraya mencemooh geram lelaki yang memandang ke-lelaki-annya sebagai ukuran.

Katanya: “Jika Anda merasa lebih utama dari Maryam, Aisyah, atau Fatimah, hanya karena engkau lelaki dan mereka perempuan, maka orang yang mengatakan hal itu pantas disebut orang bodoh.”

Meloncat dari suatu masa di negeri nun jauh, kita berdekat-dekat pada masa kini di negeri ini, dengan mengutip M. Quraish Shihab. Ujarnya: “…melecehkannya (perempuan) berarti melecehkan seluruh manusia, karena tidak seorang manusia pun – kecuali Adam dan Hawa – yang tak lahir melalui seorang perempuan.”

Persepsi apresiatif semacam itu tentu menjadi istimewa mengingat pengujarnya adalah para lelaki, sehingga melemahlah unsur subjektifitasnya, meski mungkin tidak sepenuhnya. Tapi di sinilah ironinya. “Apresisasi istimewa” menyuratkan gambaran aspek luar biasa yang mesti ditonjolkan dari satu entitas bernama perempuan, tapi menyiratkan adanya dominasi yang tak adil pandangannya: dominasi ke-lelaki-an yang selalu mengukur kelamin. Maka, apresisasi istimewa lahir dari konteks sebuah dominasi yang menghegemoni dari sebuah kelamin tertentu, dari keadaan yang diskriminatif, yang mungkin tersamar di bawah alam sadar.

Kata-kata para pengujar lelaki di atas adalah sarkasme, sindiran tajam, gugatan bagi keadaan di mana seorang lelaki memandang perempuan sebatas pada “karena aku lelaki dan mereka perempuan”, sebuah pandangan yang membentur raga, tidak menembus hakikat manusia yang tersemat di dalam seonggok raganya emosi dan nalar, hati dan pikiran, unsur spiritual dan intelektual. Dan raga adalah fisik. Sesuatu yang fisik mesti pula dihargai dengan yang bersifat fisik. Maka, transaksi dan interaksi yang terjadi adalah kebendaan, tak melibatkan aspek emosional dan rasional. Memandang perempuan seperti melihat barang dagangan di pasar. Memilah dan memilih sama mudah dengan meninggalkannya. Jika keadaan tak mendukung untuk mampu memilikinya, enteng saja berujar: “tinggal saja, cari lagi”. Mungkin orang dengan watak semacam ini tak memiliki cukup emosi dan nalar, hati dan pikiran, untuk menjangkau perempuan sampai pada hakikat kemanusiaannya.

Ini adalah keadaan anomali – di mana penistaan hakikat kemanusiaan dianggap lumrah sambil berusaha memaklumi – bukan hanya karena melanggar logika “tidak seorang manusia pun – kecuali Adam dan Hawa – yang tak lahir melalui seorang perempuan”, seperti dalam kata-kata M. Quraish Shihab, tapi juga sebab ada unsur-unsur hakikat kemanusiaan yang sengaja diabaikan. Sialnya, dalih-dalih “ini umum terjadi”, “ini pandangan umum”, dan segenap kambing hitam lain atas nama “kebanyakan orang”, dijadikan legitimasi bagi keadaan anomali itu.

Keadaan umum yang sejatinya anomali mestinya tidak dijadikan dalih dan dengan dungu ikut membesarkannya. Keadaan umum yang sejatinya anomali seharusnya menjadi objek keprihatinan seraya berharap segera lenyap.

Maka, konteks tulisan ini pun jelas: ketika kelamin – tepatnya ke-lelaki-an – jadi ukuran, saat mulut berbalut pongah mengangah sesumbar: “kamu itu lelaki, bukan perempuan!”, seolah takdir lelaki adalah kesempurnaan dan nasib perempuan adalah kecengengan.[jr]

Advertisements

Kepada Para Perokok

26 December 2008 § 30 Comments


Kepada Yth,

Para perokok di di kolong-kolong langit mana pun, di pojok-pojok bumi mana pun…

Cuekkanlah gambar-gambar profokatif ini, sebagaimana sampean cuek menghisap-keluarkan asap kenikmatan rokok di jari sampean, dari orang-orang di sekeliling sampean.

Nikmatilah gambar-gambar yang tak bersahabat buat sampean ini, sebagaimana sampean menikmati rokok yang juga tak bersahabat buat sampean sendiri.

Jika sampean tak bisa cuek, juga tak bisa menikmati, maka silakan sampean mengumpat dan misuh. Muntahkanlah segala kedongkolan sampean, terserah, untuk gambar-gambar permusuhan itu (dan semua yang terkait dengannya) atau untuk diri sampen sendiri.

Para perokok yang budiman,

Betapa sampean berada dalam posisi ambivalensi, paradok dan ironi yang mengesankan. Betapa semakin banyak sampean merokok, betapa semakin banyak para perokok,  tuntutan perihal kerugian di satu sisi dan pundi-pundi keuntungan di sisi yang lain, betapa pula semakin banyak, berjalan beriringan dalam bingkai harmoni.

Hidup rokok dan perokok!

Hidup anti-rokok!

Hidup kerugian!

Hidup keuntungan!

1322324352617181Masih mau berhenti merokok?

Binatang Juga Menikah

18 October 2008 § 1 Comment


Kekeliruan yang dilakukan berkali-berkali berulang-ulang dan terus-menerus akan dianggap sebagai kebenaran, tepatnya “salah kaprah”. Sedangkan kebenarannya sendiri tertutupi, tidak coba dijelaskan, sehingga ketika diungkapkan justeru dianggap salah, risih, bahkan tidak sopan.

“Udah kawin, belum? Kapan kawin?”

“Kawin sih udah sering. Tinggal nikahnya.”

Atau,

“Udah kawin, belum?”

“Kawin, kawin. Nikah! Kayak kucing aja.”

Geli saya mendengarnya. Dari pada urusan jadi panjang, ya akhirnya cuma iya iya saja, meski bukan berarti membenarkan. Ini hanya saya dengar ketika di Jakarta saja. Padahal sebelumnya saya merasa nyaman dan enjoy saja melafalkan “kawin”, dan justeru merasa asing untuk bilang “nikah”, bukan karena melihat ada kekeliruan, tapi tidak mau dianggap “sok kota”, ngotani. Ya maklumlah, hidup di desa. (Wahai orang desa di seluruh jagat raya, masih mending jadi wong deso yang berperadaban kota, ketimbang orang kota yang ndeso). Tapi, lama-lama, saya jadi latah merasa risih juga ketika melafalkan “kawin” (maklum, hidup di kota). Padahal, sebenarnya sama saja antara “kawin” dan “nikah”, hanya saja yang pertama bahasa lokal, dan yang terakhir adalah bahasa Arab. (Seorang kawan hanya mringis-mringis saja saat saya beritahu demikian. Selama ini, dia mengira “nikah” adalah asli bahasa kita. Benar-benar ndeso).

Komunikasi verbal kita (setidaknya yang pernah saya dengar) sudah kadung menelan mentah-mentah “nikah” sebagai “proses akad jalinan suami isteri”, sedangkan untuk hubungan seksual keduanya digunakanlah kata “kawin”, yang juga digunakan untuk menunjukkan hubungan seksual binatang atau tumbuhan (maka muncullah isitilah “perkawinan silang”). Jadi, jika Anda tanya ke kawan Anda atau orang yang punya “kehormatan”, “Udah kawin, belum?”, maka akan dianggap tidak sopan.

Padahal, jika kita baca literatur-literatur fikih klasik dan mau “mengunyah” lebih lembut kata “nikah” (dalam bahasa Arab, bahasa asalnya), makna dasarnya adalah al-jamu’ (berkumpul). Dan dalam praktik berkomunikasi, “nikah” (al-nikaah) bukan hanya digunakan untuk menunjuk “proses akad laki-laki dan perempuan menjadi suami isteri”, tapi juga dipakai untuk menunjuk arti “hubungan seksual suami isteri”, yang dapat diketahui dari siyaqul kalam alias konteks pembicaraan. Jika disebutkan: nakaha fulanah (dia telah menikahi seorang perempuan), maka nakaha (menikahi) dalam kalimat tersebut berarti “proses akad”. Dan jika dikatakan: nakaha zaujatahu (dia “menikahi” isterinya), maka nakaha di situ berarti “berhubungan intim”.

Dan perlu diketahui, dalam bahasa asalnya, “nikah” dalam arti hubungan seksual tidak hanya digunakan untuk manusia. Ia juga digunakan untuk konteks tumbuhan dan binatang, seperti kalimat: nakahtu al-asyjar (saya telah “menikahkan” pohon). “Menikahkan” di situ berarti melakukan perkawinan silang dua pohon yang berbeda jenis.

Manusia menikah, tumbuhan “menikah”, binatang juga “menikah”. Jadi, kawin atau nikah? Sudah tahu begini pun terkadang saya masih merasa risih untuk mengatakan “kawin”. Ah, kekacau-balauan epistemologi dan kesewang-wenangan bahasa semacam ini sudah lumrah terjadi di negeri ini. Nikmati sajalah. Pada akhirnya, yang sering digunakan itulah yang benar.

Dendang Kehidupan Biduan Dangdut

25 August 2008 § 4 Comments


Pada suatu malam Minggu, saya ngeluyur. Ah, sekedar iseng ikut kawan-kawan kost. Lagi pula, mau apel kemana dan dengan siapa, toh pacar sudah putus beberapa bulan yang lalu. Raga boleh ngeluyur, tapi nalar dan hati semoga tetap bisa diatur. Akur!

Awalnya, di sore hari, salah seorang kawan tersebut menginformasikan, di daerah Legoso Ciputat akan ada pementasan organ tunggal dangdutan kelas kampung, entah dalam rangka apa. Okelah, malam hari, sekitar jam setengah sepuluhan, kita berempat berangkat dengan dua sepeda motor ke tempat yang dituju. Benar saja informasi seorang kawan tadi.

Ketika kami datang, seorang biduan sedang melantunkan lagunya dengan goyang badan seadanya, dan sesekali melenggak-lenggokkan pinggulnya. Soal kostum, sudah tentulah “standard” para penyanyi dangdut. Celana dan baju ketat menonjolkan lika-liku lekuk tubuh. Jika bukan celana, maka baju terusan hanya sampai beberapa senti di atas lutut. Penampilan artifisial menjadi utama atau sangat utama, meski kemampuan pas-pasan. Pada pentas dangdut itu, bagi kebanyakan penonton, barangkali kualitas suara tak jadi soal, yang penting mereka bisa menikmati keriangan yang dipancarkan pentas itu. Seorang kawan berujar, “Kita lihat saja dulu. Kalau penyanyinya “mantap”, kita bisa berlama-lama di sini.” Bukan “mantap” dalam kualitas suara, pastinya.

Sementara itu, para penonton mengelilingi panggung. Beberapa orang naik ke atas panggung, bergoyang mengikuti irama dangdut, tentunya sambil nyawer dengan gayanya yang khas. Dan yang tidak punya anggaran nyawer, tapi ingin tetap bergoyang, cukup bergoyang di bawah panggung saja. Di sisi yang lain di bawah panggung, anak-anak kecil menatap lugu aksi si penyanyi. Ada juga yang naik ke panggung, bahkan bergoyang meniru orang-orang dewasa. Saya yakin, mereka melakukannya dengan kepolosan, tanpa nalar, tanpa hasrat, tanpa nikmat sebagaimana jika orang-orang dewasa melakukannya. Hanya keriangan khas anak kecil. Tapi, kemana orang tua mereka? Bukankah seharusnya mereka sudah tidur? Ah, mungkin justeru orang tua mereka yang mengajak ke tempat itu.

Di sisi lain, di samping tempat saya berdiri, beberapa orang sepertinya sedang menikmati anggur merah. Aromanya kuat menyengat.

Menonton pentas dangdut kelas kampung itu, saya teringat dawuh Rasul yang menitahkan bahwa perempuan yang berjalan genit melengak-lenggokkan badannya, “berpakaian tapi telanjang” (kasiyah ‘ariyah), tidak akan menyium aroma wangi surgawi (maka apalagi masuk ke dalam surga). Apakah pentas dangdut tersebut salah satu praktek dari titah Rasul itu, apakah para penyanyi dangdut itu kelak tak dapat menikmati surga, apakah mereka para pendosa, apakah kemudian pentas dangdut itu berarti pentas kemungkaran. Saya berguman.

Jika itu adalah pentas kemungkaran oleh para pendosa, apakah kemudian saya harus marah, menegakan amar ma’ruf nahi munkar, karena tidak mampu dengan “tangan” atau “mulut”, ya dengan hati. Jika memang semua itu tak bisa, mbo’ yo hengkang saja dari pentas itu, agar mata ini tak brengsek, telinga ini tak tuli, hati ini tak busuk sebab kemungkaran itu, itung-itung mempraktekkan doa Rasul yang selalu dipanjatkan hampir setiap hari; allahumma inni a’uudzubika min syarri sam’iy wamin syarri bashariy wamin syarri lisaniy wamin syarri qalbiy wamin syarri maniyyiy. Saya masih berguman.

Entahlah. Saya tak juga hengkang, masih tegak berdiri, “bertafakur” tentang ragam dinamika mahluk Tuhan di area pentas dangdut itu. Berharap saja, siapa tahu ada hikmah kebijaksanaan terserak yang dibisa dipungut dari keriangan di malam itu.

Entahlah. Saya seperti tak berhasrat mengelaborasi guman perspektif agama tersebut, lalu mengambil keputusan. Barangkali karena saya termasuk orang yang tak terlalu relijius, maksudnya tidak memiliki kecenderungan serba agama sebagai satu-satunya perspektif dalam melihat kehidupan. Bukankah kehidupan ini terlalu kompleks untuk dipahami hanya dengan perspektif agama?! Oleh karena itu, semestinya agama tidak menjadi satu-satunya perspektif untuk “menghakimi”nya.

Entahlah. Di tengah keriangan pentas dangdut, di antara guman perspektif agama, ada guman lain coba memahami; perempuan-perempuan itu hanya berusaha mencari nafkah, mandiri menghidupi diri sendiri, dengan cara mereka sendiri yang secara kebetulan atau mungkin pilihan – atau mungkin juga karena tak ada pilihan selain – sebagai biduan dangdut dengan segenap konskuensi dan logika umum dangdut. Denyut nadi kehidupannya berdetak di antara alunan musik dangdut. Narasi kehidupannya terbaris pada bait-bait lagu dangdut. Bagi mereka, barangkali dangdut adalah dendang kehidupan.

Jika kaum moralis dan agamawan menasihati mereka dengan anggapan ekses-ekses negatif yang potensial terjadi dari profesi mereka, atau bahkan ditakut-takuti tidak akan masuk surga, barangkali mereka acuh tak acuh. Bukan tak percaya, tapi dikarenakan nasihat semacam itu kurang strategis dan kongkrit bagi dendang kehidupan mereka. Dari pada mencerna nasihat yang tidak strategis, ya mending fokus saja dengan kerjaan sendiri yang lebih kongkrit bagi kehidupan mereka.

Seorang biduan dihadirkan dalam acara dialog di sebuah televisi swasta. Wajah si biduan itu dipakaikan topeng, agar tidak diketahui identitasnya, sehingga ia tidak malu, seolah hendak dicitrakan, profesi biduan dangdut adalah hina. Ketika ditanya, apakah Anda tidak merasa risih dengan dandanan yang Anda kenakan saat tampil, apakah Anda menyadari ekses-ekses kurang baik yang bisa ditimbulkan dari profesi Anda, khususnya bagi anak-anak, apakah Anda bla, bla, bla… si biduan menjawab, “Ya, gimana lagi, wong kerjaan emang gini.”

Alih-alih Rekam Jejak Munafik, Caina Unggah Unduh Panganan

2 August 2008 § 4 Comments


Menarik, bagi saya, memperhatikan tata bahasa, tata kalimat, diksi, alur logika dari sebuah tulisan atau buku, bukan dalam rangka mengkritisi berdasarkan kaedah-kaedah “ejaan yang disempurnakan”, tapi sebatas perhatian untuk mencari pola-pola menarik, indah, tidak kaku, “mengalir”, enak dibaca, dan “mudah dicerna”.

Secara tidak langsung aktifitas seperti itu memberikan “pembelajaran otodidak”. Menarik juga memperhatikan kata-kata serapan dari bahasa asing atau bahasa daerah, atau penerjemahan ke dalam bahasa Indonesia dari bahasa asing. Membaca Koran Tempo edisi 11 Juli 2008, dalam editorialnya, saya menjumpai kata “rekam jejak”, terjemahan dari “track record”, yang kurang lebih memiliki penjelasan“mirip-mirip” versi sendiri; “sepak terjang yang dilalui, pencapaian yang telah diraih, baik positif atau negatif”, atau singkatnya; “kelakuan”. Dalam editorial koran itu, disebutkan, “Kini sebagian besar politikus, termasuk yang tampil di partai baru, sudah jelas “rekam jejak”nya. Mereka umumnya telah larut dalam praktek yang korup sehingga gagal mengemban cita-cita reformasi”. Setelah menjumpai kata itu di koran, berikutnya “rekam jejak” lebih sering saya dengar di televisi. Di dua televisi berbeda, saya mendengar penerjemahan berbeda pula, antara “rekam jejak” dan “jejak rekam”.

Ini positif, bukan sebagai ekpresi “nasionalisme”, tapi dalam memberikan pengayaan kosa istilah bahasa kita. Saya sendiri tak ambil pusing, “rekam jejak” atau “jejak rekam”, yang jelas istilah itu belum pernah dipakai sebelumnya untuk menjelaskan maksud tertentu, sehingga kita mengenal track record, meski penggalan kata “rekam” dan “jejak” sudah maklum di telinga. Bukankah “masyarakat banyak”lah yang kemudian menetukan “rekam jejak” atau “jejak rekam” yang akhirnya menjadi yang terlumrah?! Dan, “rekam jejak” (atau “jejak rekam”), menurut saya, memiliki elegansi untuk diucapkan atau diperdengarkan, dan layak untuk padanan “track record”. Dalam bahasa kita, “rekam jejak” belum pernah digunakan untuk istilah apapun, sehingga tidak memungkinkan akan muncul kerancuan. Simpelnya, sejak kemunculannya, istilah itu telah menunjuk satu maksud tertentu, sehingga “tidak sah” digunakan untuk maksud lain. Saya prediksi, istilah itu bakal tenar.

Berbeda misalnya dengan kata “unggah” dan “unduh” yang dijadikan padanan kata “upload” dan “download” yang tenar pada era internet ini. Sebelumnya, “unggah” dan “unduh” adalah kata yang lumrah dalam komunikasi verbal masyarakat Jawa dan memiliki arti dan penjelasan tersendiri. “Unggah” secara simpel artinya “menaikkan ke atas”. Di kampung saya di Brebes, “unggahunggahan” biasa digunakan dalam arti “kenaikan kelas”, “munggah” berarti “naik kelas”. Ia juga bisa digunakan untuk menunjuk arti “menaikan barang ke posisi lebih atas”. Sedangkan “unduh”, masih di kampung saya, biasa digunakan untuk memetik buah (mangga, rambutan, jambu, dsb) dalam jumlah besar (panen).

Menurut saya, pemadanan “upload” dan “download” dengan “unggah” dan “unduh” adalah kerancuan. Penerjemahan dari bahasa asing ke Bahasa Indonesia, biasanya menggunakan “bahasa formal” Indonesia yang memang menunjuk maksud sebagaimana bahasa asing itu (misalnya, “tie” dan “dasi”). Yang menjadi soal, ketika tidak ada satu kata pun yang orisinil dalam “bahasa formal” itu, yang secara tepat dapat menjelaskan sebagaimana yang dimaksud oleh bahasa asing itu. “Unggah” dan “unduh” telah digunakan oleh masyarakat (Jawa, khususnya) dan memiliki penjelasan “orisinil” sendiri, yang sama sekali tidak seperti yang dimaksud oleh penjelasan “upload” dan “download”. Pemadanan itu terkesan dipaksakan. Jika memang masih belum ada padanan yang tepat, biarkan saja ia apa adanya. Toh, “upload” dan “download” lebih bisa menjelaskan dirinya, ketimbang harus diterjemahkan tapi jadi rancu tur wagu.

Dan, “nasionalisasi” bahasa daerah biasanya tidak mengubah makna dan – tekadang sedikit pada – pengucapan. Misalnya, “panganan” setelah menasional menjadi “penganan”, namun maknanya dipertahankan (pangan berati makan, dengan imbuhan “an” berarti makanan) atau “ilok” yang dinasionalisasikan menjadi “elok”. Tidak ada kerancuan makna di sana. “Unggah” dan “unduh”? Ketika dinasionalisasikan, penjelasan maknanya jauh berbeda dari aslinya. Inilah kerancuan. Nasionalisasi yang semena-mena.

Alih-alih CainaMunafik

Dalam pengamatan saya, MetroTV-lah yang memperkenalkan pelafalan (negara) “China” dengan “caina” (mungkin menyesuaikan dengan logat barat) dalam bahasa verbal kita yang sejak lama melafalkannya dengan “cina”. MetroTV, sebagai media massa sekaligus bagian dari “masyarakat banyak”, mesti adu kuat dengan “masyarakat banyak” lainnya untuk mengibarkan “caina”. Jika tidak, ya cukuplah menjadi “pendapat kecil” saja.

Bukankah yang bakal dianggap sebagai kebenaran pada akhirnya adalah “yang sering digunakan”?! Pada gilirannya masyarakat adalah sebuah “kaedah lapangan” tersendiri yang melampaui “kaedah-kaedah buku”, meski terkadang “semena-mena”, termasuk soal penyerapan kata. Sebut saja kata “munafik” (bahasa Arab), nomenklatur yang diintrodusir agama sebagai “orang yang berbicara tanpa fakta dan bernjanji tapi nulayani (ingkar)”. Pada tema “nonagama”, kata itu kerap direduksi hanya menjadi “pura-pura tapi mau”, populer juga dengan singkatan “muna”.

Dari semua itu, kata yang paling menyita saya saat ini adalah “alih-alih”. Di kampung, kata itu telah digunakan oleh generasi kakek-nenek yang sama sekali tak paham Bahasa Indonesia. Jadi, saya yakin benar, itu bukanlah Bahasa Indonesia. Sedikit menggelitik kala kata itu menasional, digunakan oleh para para penulis atau jurnalis dalam reportase mereka. Perhatikan judul-judul dari beberapa artikel di internet ini: “Indahnya Pengampunan Alih-alih Pembalasan Dendam”, “Alih-alih Tangkal Korupsi, Pemerintah Keluarkan SIN (single identification number)”, “Alih-alih Ditahan, Pengutil Diberi Hadiah”, “Alih-alih Menilang, Polisi Gadungan Rampas Dompet Sopir”.

Jika diamati, seperti tidak ada pola, bagaimana “alih-alih” mesti digunakan dalam kalimat itu, untuk menunjuk makna apa ia diselipkan, seperti terlihat pada judul-judul tersebut. Meski menggunakan kata yang sama, seperti tidak ada kekompakan pola makna dan penyisipan pada judul-judul itu.

Dalam komunikasi verbal masyarakat Jawa, “alih-alih” digunakan untuk mengungkapkan “ketidakberuntungan” dari keberuntungan yang diharapkan sebenarnya, dan biasa menjadi awalan. Kurang lebih seperti itulah yang bisa saya simpulkan dari praktek komunikasi generasi tua di kampung saya. Tidak mungkin saya merujuknya pada kaedah-kaedah buku, yang kerap tak berdaya menghadapi “kaedah-kaedah lapangan”

Alih-alih menasionaliasikan bahasa daerah sebagai upaya pengayaan tata bahasa kita, justru kerancuan dan kewaguan yang terjadi. Kalimat itu barangkali bisa menjadi contoh.

Cukup Sadar Diri Untuk Berambut Panjang

9 July 2008 § 1 Comment


Beberapa tempo lalu, saya harus memotong rambut panjang saya. “Harus”, bukan karena kepatuhan terhadap suatu peraturan, bukan karena hukuman, bukan karena masalah kesehatan rambut, bukan pula jengah, tapi sebagai ekspresi memuliakan atas sebuah kecenderungan. Rambut bagus seperti itu lebih layak diurus salon dengan para pegawai yang melek model-model potongan rambut mutakhir plus memahami karakter rambut sebelum diputuskan model potongan rambut yang tepat, dan saya cukup sadar diri untuk memilih salon ketimbang tempat pangkas rambut ‘konvensional” yang hanya mengerti satu model; yang penting dipotong, meski harus menahan hati setelahnya – dengan tetap eksisnya tempat pangkas rambut konvensional itu, menandakan ada orang-orang yang sesuai dan puas dengan pelayanannya, dan saya bukan salah satunya.

Dari sejak kecil saya memang menyukai rambut panjang. Hanya saat aliyah (SMA), rambut saya tak pernah menyentuh telinga, begitu juga saat kuliah, karena aturannya memang seperti itu. Semasa itu, saya berada di lingkungan orang-orang yang berkecenderungan tak menyukai rambut panjang. Karena itu – meski tidak sesuai dengan naluri – saya tak berpanjang rambut, berusaha menaruh hormat kepada mereka.

Belakangan saya cukup sadar diri, berpanjang rambut bukan sekedar suka, tapi memang saya lebih layak, cocok, dan pantas, mungkin juga lebih “cute” dengan itu. Dan jika saat ini berambut panjang, itu sama sekali tak berarti saya memberontak orang-orang yang berkecenderungan sebaliknya. Namun, jika itu tetap juga dianggap tidak hormat, tentu masih banyak cara lain untuk menaruh hormat.

Itulah, saya kira pentingnya “sadar diri”, atau “narsis” jika Anda melihatnya dengan kesinisan, atau mungkin juga “pede”.

Tapi, memang, garis perbedaan ketiga hal itu adalah semu. Seorang kawan enggan menampilkan foto diri pada friendster-nya, alasannya dia bukan tipe narsis (bisa juga karena argumentasi “beraroma teologis” soal “larangan gambar”, atau dalih “bercita rasa moral”; menjaga “harga diri”, atau mungkin juga karena alasan emosional; malu alias ga pede!), sehingga ditampilkanlah citra abstrak yang “dihalalkan”. Apa berarti saya yang menampilkan foto saya sendiri di friendster, termasuk narsis? Bagaimana jika saya katakan, saya cukup sadar diri, cukup pede, atau bahkan terlalu pede untuk menampilkan gambar saya itu. Semu bukan?!

Barangkali, kita mengetahui sosok diri kita masing-masing, namun belum tentu sadar diri. Saya pernah mempunyai kawan yang, katakanlah, “korban mode”. Dia ingin tampil sesuai dengan citra lain yang menurutnya bagus atau tren berpakaian masa kini yang ia lihat. Bila perlu dicari, kemudian dibeli. Setelah dikenakan, barulah sadar bahwa pakaian itu tak cocok untuknya. Jika saja ia sadar diri sedari awal dan pede dengan kesadarannya, barangkali ia tak harus mengeluarkan duit untuk hal yang akhirnya sia-sia. Tapi, paling tidak ia telah memperdebatkan “trial dan eror” untuk menyepakati yang pantas bagi dirinya.

“Ketidaksadaran diri” atau “ketidak-pede-an” agaknya juga melanda sebagian warga negara di negeri bernama Indonesia. Tak henti-hentinya sebagian kalangan menggembar-gemborkan khilafah sebagai “model baju” untuk digunakan Indonesia di tengah-tengah kondisinya yang sedemikian rupa, sebagian yang lain hendak mengenakan model lain sebagai antitesisnya.

Citra ideal soal “baju timur” lebih mempesona bagi sebagian kalangan, dan “baju barat” pun tak kalah pula mempesonanya bagi sebagian yang lain, (seolah meneyampingkan citra pribumi keindonesiaan sendiri), meski citra-citra itu belum tentu cocok teruji dan sesuai dengan kebutuhan – sebagian yang lain mengganggapnya utopia belaka, apalagi menggantikan citra pribumi yang telah melekat selama berabad-abad, dan nyaman-nyaman saja dikenakan, sampai datang citra-citra baru itu. Biarlah Indonesia tumbuh berkembang dengan keindonesiaannya, bukan dengan syariatnya (khilafah), bukan pula dengan ke-liberal-annya. Ketidakjelasan semacam ini justeru menjadi kejelasan karakter Indonesia.

Ekses dari ketidaksadaran diri atas citra sendiri dan silau dengan citra lain adalah tercerabutnya budaya kita sendiri, maka jadilah ia “korban mode”.

Tentang Perempuan; Mayoritas Tapi Minoritas

25 May 2008 § 1 Comment


ADA pertanyaan terlontar perihal perempuan, “Mengapa dalam dominasi kuantitasnya, perempuan (secara umum) minoritas dalam kualitas (peranan), ketimbang laki-laki?”

Ini realita, terjadi dalam berbagai hal, dalam ranah struktural maupun kultural, dari tingkat kelurahan sampai parlemen. Dalam komunitas yang terbuka untuk laki-laki dan perempuan, hampir peran laki-laki selalu mendominasi. Kalaupun ada peran perempuan yang dominan, itu sedikit dan terjadi dalam komunitasnya sendiri dan dalam masalah ‘kewanitaan’.

Data Inter-Parliametary Union 2002 menunjukan rendahnya keterwakilan perempuan dalam politik di Indonesia. Angkanya baru sekitar sembilan persen. Sesuai dengan prinsip keterwakilan dalam demokrasi, maka bila jumlah perempuan di Indonesia lebih dari 50 persen, tidak layak bila hanya diwakili oleh kurang dari 10 persen.

Dalam Pemilu 2004 lalu, kuota untuk perempuan di parlemen ditambah menjadi 30 persen. Namun, tetap saja angka itu adalah kecil bila ketimbang jumlah perempuan Indonesia. Bandingkan dengan kuota untuk laki-laki di parlemen. Dengan jumlah laki-laki yang kurang dari 50 persen (dari jumlah penduduk keseluruhan), mereka mendapat kuota 70 persen! Dan ironisnya, walaupun kuota untuk perempuan dalam parlemen ditambah menjadi 30 persen, tapi seolah-olah tidak ada kesungguhan untuk benar-benar menambah jumlah kursi untuk perempuan dalam parlemen. Sebab, ternyata caleg-caleg perempuan ditempatkan di nomor sepatu, bukan nomor jadi.

Itu baru satu contoh yang paling kongkrit. Dalam institusi pendidikan, misalnya, berapa jumlah dosen perempuan (menunjukan kualitas intelektual). Berapa persen jumlah mahasiswi di dalam ruang kelas (menunjukan minat perempuan dalam intelektualitas). Dalam instistusi pemerintahan, pendidikan, perusahaan, atau badan struktural lainnya, hampir seluruhnya laki-laki-lah yang memegang posisi strategis.

Secara umum, sebenarnya jawaban dari persoalan di atas mudah; minoritasnya SDM perempuan. Di samping kendala kultural dan struktural, memang ada beberapa faktor ‘alamiah’ dan kodrati yang ‘menuntut’ perempuan untuk tidak bisa bergerak dan berperan seleluasa laki-laki. Untuk yang terakhir bisa dimaklumi dan wajar. Tapi, hal tersebut sebenarnya tidak menjadi soal. Terbukti dengan adanya sosok-sosok perempuan yang menasional. Tapi, sekali lagi, yang seperti mereka hanya sedikit.

Keluar dari faktor-faktor kodrati, sesungguhnya (ini perlu disadari) ada faktor ‘kesengajaan’ yang menghambat peran kualitas intelektual perempuan. Faktor kesengajaan itu adalah di mana perempuan-perempuan telah di-setting agar tidak berperan dan cenderung dijadikan ‘objek’. Perempuan ditempatkan sebagai objek untuk dieksploitasi secara seksual. Perempuan dinobatkan sebagai bidadari jelita yang dipertontonkan, dipersembahkan, dan diperebutkan untuk semua orang, dengan keindahan fisik yang dimilikinya. Kita seharusnya tersinggung dan marah dengan hal itu, ketika yang dihargai dari perempuan adalah bibirnya, dadanya, pahanya, pinggulnya, bokongnya, rambutnya, bodynya. Kita seharusnya marah, kenapa bukan otaknya yang dihargai. Ini penghinaan! Tidak manusiawi!

Siapakah yang paling berperan dalam ‘pengobjekkan’ perempuan? Media massa. Perkembangan media massa beserta segala perangkat komunikasi saat ini memang menjalankan proses ‘pengobjekkan perempuan’. Selain media massa, (sebetulnya) jangan-jangan perempuan-perempuan itu sendiri, secara bawah sadar merelakan pengobjekkan itu, dan dengan sendirinya ia telah berperan dalam pengobjekkan dirinya sendiri, karena merasa pengobjekkan tersebut memberikan keuntungan bagi dirinya. Atau, jangan-jangan, tanpa disadari, kita pun melakukan pengobjekan tersebut, dan diam-diam menikmatinya.

Pengobjekkan adalah penghinaan, bukan hanya bagi perempuan sendiri, tapi bagi kemanusiaan secara keseluruhan. Sebagai mahluk yang dikaruniai otak dan akal yang membedakan dengan mahluk lainnya, tidak sepatutnya manusia menjadi objek. Otak (akal) yang merupakan karunia paling istimewa untuk manusia dan tidak dimiliki mahluk lain, tapi juteru banyak yang tidak merasa istimewa dengannya. Dan akan merasa istimewa dan terpandang oleh selainnya, merasa istimewa oleh kulit mulus, bibir seksi, dada menggunung, pinggul menggitar, yang notabene organ-organ tersebut juga dimilki oleh mahluk selain manusia. Mengistimewakan organ tubuh manusia tidaklah manusiawi. Yang manusiawi adalah mengistimewakan yang hanya dimiliki oleh manusia, dan tidak dimiliki oleh mahluk lain, yaitu otak alias akal. Karena di situlah hakekat kemanusiaan manusia (hayawan natiq).

Inilah tantangan bagi aktivis emansipan, aktivis perempuan dan aktivis gender untuk mengembalikan perempuan (dan kemanusiaan secara keseluruhan) ke dalam ‘habitat’ asalnya sebagai mahluk berotak dan berakal, sebagai mahluk yang dihargai karena akalnya, sebagai mahluk yang diperebutkan karena SDM-nya, bukan karena bodynya. Itulah seharusnya, sebelum mereka berteriak keras tentang emansipasi (di segala bidang). Bukan berteriak-teriak emansipasi tanpa melihat kualitas yang diperjuangkan (perempuan itu sendiri), sehingga yang terjadi adalah memaksakan emansipasi dan akhirnya menghasilkan emansipasi yang tak berkualitas.

Emansipasi peran laki-laki dan perempuan akan berjalan secara kultural, jika intelektualitas, yang merupakan jembatan ke arah itu, menjadi ukuran dan dihargai. Pengobjekkan perempuan akan sirna, jika yang dihargai adalah otaknya.

Jadi, mengapa terjadi minoritas peran perempuan?

Where Am I?

You are currently browsing entries tagged with budaya at Warung Nalar.

%d bloggers like this: