Rindu Rasa Rindu Rupa

21 January 2009 § 4 Comments


yang elok

mungkin selamanya mengagumkan

tapi tak selalu menggetarkan hati

namun selalu ada yang lain

yang elok, selamanya mengagumkan

selalu menggetarkan hati

rindu tak pernah jera

justru ketika yang elok

tak pernah terang

rindu tetap sakral

jika yang elok

senantiasa bukan kepastian

Allah Tak Hanya Milik Umat Islam

20 December 2008 § 7 Comments


Masih ingat, Malaysia yang melarang ‘Allah’ untuk media Kristen, setahun lalu, dengan alasan, penggunaan ‘Allah’ di media non Islam dikhawatirkan akan menimbulkan gejolak di negara yang mayoritas (sekitar 60 persen atau 27 juta) penduduknya beragama Islam ini? Sebagai urusan dalam negeri Malaysia, tentu kita tak berhak ikut campur, tapi bolehlah minimal menyungging sinis sambil bergumam, “Ah, Malaysia, iseng amat sih!”

Bolehlah, kita tidak berhak ikut campur dari sisi konstitusi negara kecil tetangga kita itu, tapi, sebagai umat Islam, di mana pun berada di pojok-pojok dunia ini, dari ujung kulon sampai ujung wetan, dari sabrang lor sampai sabrang kidul, kita berhak saja ikut berwacana soal ‘Allah’ ini. Atau, siapa pun kita yang mengganggap ‘Allah’ sebagai bagian dari kehidupan. Sebab, ‘Allah’ tidak hanya milik Malaysia.

Dalam tata bahasa Arab, ‘Allah’ disebut sebagai a’raf al-ma’arif (isim ma’rifat paling ma’rifat, paling spesifik, sehingga ketika disebut, dengan segera dipahami maksudnya). Namun, pada kenyataannya, ‘Allah’ justeru menjadi kata yang paling abstrak, paling tidak spesifik, sehingga memerlukan kata-kata lain untuk menjelaskannya, memperkenalkan siapa Dia. Kita (kalau Anda tidak keberatan saya wakili), akan lebih bisa memahami secara spesifik kata al-rahim (yang kita terjemahkan dengan “Maha Pengasih), ketimbang ‘Allah’. Kita akan lebih bisa memahami ‘Maha Pengasih’, dengan fokus pada kata ‘pengasih’ atau ‘kasih’, ketimbang ‘Allah’ atau ‘Tuhan’. Kita akan lebih memahami ‘Allah’ secara spesifik, paling tidak, setelah menelaah arti apa yang kita kenal dengan al-asma al-husna, atau pun segenap sifat-sifat lain yang ‘layak’ bagi-Nya, yang dirumuskan untuk mengidentifikasi esensi yang dibahasakan dengan ‘Allah’ itu.

Yang a’raf al-ma’arif, yang al-rahman, yang al-rahim, yang laisa kamitslihi syaiun, yang wahdaniyah, yang qudrah, yang iradah dan seterusnya dan sebagainya, yang umat Islam rumuskan untuk mengidentifikasikan satu esensi ‘Yang Maha’, yang dikenal dengan ‘Allah’ itu, tentu ini hanya ada dalam nomenklatur keislaman, untuk kemudian menyatakan bahwa ‘Allah’ yang demikian hanya milik umat Islam. Yang demikianlah ‘Allah’ dalam asumsi umat Islam. Dengan kata lain, umat Islam terikat oleh ‘Allah’ dengan definisi dan penjabaran yang Alquran identifikasikan, dan tidak bisa melepaskan diri dari ikatan itu. (Meski sesungguhnya Allah terlalu ‘maha’ jika semata terbungkus kata ‘Allah’ atau definisi dan identitas lainnya).

Sungguh pun demikin, marilah kita memahami preseden sejarah, bahwa ternyata ‘Allah’ tidak hanya eksklusif milik lisan umat Islam saja. Kafir dan musyrik Quraisy pada masa Nabi Muhammad juga menyebut ‘Allah’, dan bukan hanya itu, bahkan mereka mengakui ‘Allah’ sebagai pencipta, terlepas asumsi ‘Allah’ mereka sama persis atau bahkan sama sekali beda dengan ‘Allah’ seperti dalam asumsi umat Islam. Ini soal lain. Yang jelas, ‘Allah’ tidak kelu di lidah orang kafir/musyrik Quraisy. Lihatlah pengakuan mereka ini, “walain saaltahum, man khalaqa al-samawat wa al-ardh? Layaqulunna Allah”… “Jika kamu tanya mereka, ‘siapa pencipta langit dan bumi?’, mereka akan menjawab, ‘Allah’.” (lihat juga; Al-Ankabut: 61, Luqman: 25, Al-Zumar: 38, Al-Zuhruf: 87). Atau, ketika mereka, para penyembah berhala itu, ditanya, “Apa arti penyembahan kalian terhadap berhala-berhala itu?” Mereka menjawab, “ma na’buduhum illa liyuqarribuna ilallah zulfa”… “Kami menyembah mereka semata agar mereka mendekatkan kami kepada ‘Allah’ dengan sedekat-dekatnya”. (Al-Zumar: 3).

Dan, bukankah ‘Allah’ telah akrab menjadi tatanama orang-orang Arab pra-Islam. Sebelum Islam datang, ‘abdullah’ adalah nama yang tidak asing bagi mereka. Bahkan, barangkali bangsa Arab pra-Islam telah lebih dulu akrab dengan ‘Allah’, sampai kemudian Islam datang, memperkenalkan ‘Allah’ yang berbeda, revisioner dan revolusioner secara substantif.

Tentu saja, preseden ini paling tidak bisa menjadi acuan untuk tak melarang siapa pun, dari agama dan kepercayaan mana pun, termasuk Kristen, untuk mengucapkan ‘Allah’, terlepas kemudian asumsi tentang-Nya ternyata berbeda. Pada dirinya, ‘Allah’ tidak memiliki pengikat definisi. ‘Allah’ bebas nilai. Yang mempunyai tali pengikat adalah agama, yang menjadi instrumen perumus, pengidentifikasi, pemberi definisi tentang ‘Allah’. Maka muncullah ‘wahdaniyah’, ‘Yang Maha Esa’, yang ‘a’raful ma’arif’, dan sebagainya dan seterusnya, untuk mengidentifikasi ‘Allah’ dalam Islam, yang mengikat umat Islam agar tak sampai pada ‘Allah’ yang salah, yang tidak sesuai dengan definisi dan identifikasi Islam. Sebagaimana (barangkali) Kristen mengikat umatnya tentang ‘Allah’ mereka, agar tak sampai pada ‘Allah’ yang keliru, yang tidak sesuai dengan definisi dan identifikasi Kristen. Setiap agama, saya pikir memiliki ikatan demikian.

Teman muslimku, apakah keimananmu terganggu, jika ‘Allah’ yang Kau imani diucapkan, ditulis, oleh orang yang berbeda keyakinan? Jika ya, sepertinya Malaysia adalah sangkar emas yang aman untukmu.

O, ya?

Mba Qonita

18 December 2008 § Leave a comment


Aku berkandang ke kampungku setelah sekian tahun di rantau orang. Tentu saja banyak hal yang telah terjadi. Kantor desa yang cat dinding dan pagar temboknya sudah berganti warna hijau, yang terkhir aku lihat sebelumnya masih berwarna putih. Kata kakekku, warna hijau itu atas usulan kepala desa baru yang dua tahun lalu terpilih. Juga beberapa gang dari gang-gang kampung yang masih berhias rentetan bendera merah putih plastik yang warnanya telah memudar, sisa-sisa perayaan tujuh belasan. Selain itu, tidak ada perubahan mencolok dari infrastruktur kampung.

Hukum alam juga berlaku sebagaimana biasa. Ada yang pergi, ada yang datang. Ada yang meninggal, seperti Wak Daid, kawan seangkatan kakek, Haji Ramin, orang tua kades terdahulu, juga ada bayi lahir menambah perbendaharaan jumlah warga kampung.

Satu hal lagi di kampungku: sudah tidak ada lagi pengajian subuh di masjid desa yang diasuh Kyai Mualimin. Kata kakekku, pengajian itu sudah berhenti total sejak setahun lalu. Kyai Mualimin tak mau lagi melanjutkan mengajar kitab Mukhtashar Ihya ‘Ulumuddin karya Imam Ghazali, yang pada pertemuan terakhir baru sampai pada pertengahan kitab.

Kyai Mualimin seusia dengan kakekku. Ia teman kecil kakekku. Pada usia dewasa, ketika sadar hidup memberikan pilihan, Kyai Mualimin memilih melanjutkan pendidikannya di pesantren, sedangkan kakekku sepertinya lebih berbakat menjadi petani, mewarisi bakat tani bapaknya, alias buyutku. Dengan bakat dan ketekunan masing-masing, keduanya sukses: Kyai Mualimin di-kyai-kan oleh warga kampung karena kealimannya, sedangkan kakekku, cukup sukses dengan garapan sawahnya. Nasib memang menggariskan keduanya tetap akrab sampai tua. Jika dulu akrab sebagai teman kecil, sekarang akrab sebagai teman ngaji. Bedanya, Kyai Mualimin menjadi kyai, dan kakekku menjadi salah satu jamaah setia pengajian subuhnya, sejak pertama kali Kyai Mualimin membuka pengajian itu berpuluh tahun silam, sampai akhirnya Kyai Mualimin memutuskan memberhentikan pengajiaannya.

Kata kakekku, seingatnya, beberapa kitab yang pernah diajarkanya dalam rentang puluhan tahun itu antara lain al-Hikam karya Ibnu Athaillah, Adab al-Dunya wa al-Din karya Imam Mawardi, Riyadh al-Shalihin karya Imam Nawawi. Hanya itu yang kakekku ingat. Kata kakekku, hebatnya Kyai Mualimin, dia tidak hanya menguasai isi kitab-kitab itu, ia juga menguasai riwayat pengarangnya yang penuh hikmah, yang sering pula ia ceritakan di sela-sela pengajiannya. Hebatnya kakekku, ingatannya cukup kuat dan tidak pikun. Ya, paling tidak untuk menceritakan nama kitab sekaligus pengarangnya.

Tapi sayang, sore itu, cerita tentang pengajian Kyai Mualimin menjadi episode terakhir – yang sebelumnya diawali dengan episode suksesi kades dan kantor kades yang dicat hijau, episode kawan seangakatannya yang mangkat dan bayi yang lahir, episode garapan sawahnya yang diserahkan ke orang tuaku, dan beberapa selingan lainnya – dan tidak sampai pada detil kenapa Kyai Mualimin memberhentikan pengajiaanya yang sudah berlangsung puluhan tahun itu, karena terpotong azan magrib. Kakekku mengajakku jamaah di langgar depan rumah. Ah, ternyata lama juga aku mendengarkan cerita-cerita kakek. Aku perhatikan, kakekku sudah tiga kali nglinting klobot dari tembakau dan daun jagung yang dikeringkan – warga kampungku menyebutnya klaras – menemani ceritanya. Mungkin, aku akan meminta kakek melanjutkan cerita pengajian Kyai Mualimin yang tak tuntas itu, besok pagi setelah sarapan, atau sore hari selepas asar.

Esoknya, di sore hari, aku lihat kakekku sedang duduk santai di lincak, tempat duduk lebar dari bambu bikinannya, di teras rumah. Masih mengenakan peci hitam dan sarung. Baru turun dari langgar. Jika sudah begitu, apalagi yang paling enak selain menikmati lintingan-lintingan klobot, untuk membunuh sore, seperti biasanya.

“Patua, sekarang, kan, sudah banyak rokok pabrikan. Tinggal hisap, praktis, tidak perlu repot ngelinting-ngelinting begitu,” kataku.

“Bukan begitu, Nang. Ini soal seni dan kenikmatan. Lagi pula, patuamu ini tidak cocok menghisap rokok pabrikan itu. Ya bagaimana, wong, sudah biasa ngelobot begini.”

Ya, sudah. Lagian, itu cuma prolog basa-basi saja. Tujuan utamaku mendekati kakek adalah memintanya melanjutkan cerita soal pengajian Kyai Mualimin.

Kakekku tiba-tiba terdiam, dan raut mukanya seketika berubah, saat mendengar aku memintanya melanjutkan cerita. Begitu mendalamkah cerita itu bagi kakek?

“Kamu tahu Mba Qonita, kan? Anak bontot dan satu-satunya perempuan di antara anak-anak Kyai Mualimin itu?”

“Iya.” Tentu saja aku ingat. Dia kakak kelasku berapa tingkat di madrasah dulu. Tapi dia sampai kelas lima saja, untuk kemudian dikirim ke pesantren di luar daerah oleh bapaknya.

“Kenapa memangnya, Patua?”

Aku penasaran oleh pancingan-pancingan cerita kakek. Dan akhirnya, kakek bercerita juga…

“Mba Qonita, biarpun perempuan dan masih muda, dia itu bakal meneruskan bakat alim Kyai Mualimin, bapaknya. Sejak kecil sudah dimasukan pesantren. Kalau Kyai lagi tidak enak badan, Mba Qonita yang menggantikannya mengisi pengajian subuh. Meski belum sealim bapaknya, tapi ada bakat untuk itu. Mas-masnya justeru tidak ada yang bisa ngaji. Wong, tidak ada yang mau nyantren. Pada jadi pengusaha atau nggarap sawah.”

Aku mengangguk untuk suatu kewajaran. Mba Qanita memang terkenal cerdas, juga shalihah. Tentu saja cantik.

Klobot pertama habis. Kakekku memberi jeda cerita. Kembali ia ngelinting klobot.

“Terus?” kataku, melihat lintingan itu sudah terbakar, dan dihisapnya.

“Wallahu’alam. Ceritanya aneh. Ajaib.”

“Suatu ketika, Mba Qonita hamil. Dan itu diketahui setelah kandungannya berusia empat bulan. Padahal semua tahu, dia belum menikah. Semua terkaget. Tentu saja ini menjadi berita besar, dan dengan segera menyebar rata di seluruh penjuru kampung. Menjadi gunjingan di mana-mana. Di sawah, di kali, di kantor desa, di langgar, di pengajian muslimat dan fatayat, di pengajian reboan ibu-ibu, di lingkaran tahlilan bapak-bapak setiap malam jumat, apalagi di kumpulan-kumpulan dadakan semacam didisan dan petanan (cari kutu rambut) para ibu-ibu yang biasanya lebih seru jika dibumbui dengan ngerasani. Maklum, yang jadi berita adalah keluarga Kyai Mualimin, tokoh paling dituakan dan berpengaruh untuk soal agama.”

Pokoknya, kehamilam Mba Qonita menjadi isu top di segala forum.

“Bermacam reaksi menyeruak. Terkuaklah apa yang selama ini tersembunyi. Siapa-siapa yang selama ini dengan tulus menghormati Kyai Mualimin, tulus mengikuti pengajiannya, siapa-siapa yang berpura-pura bermuka manis di hadapannya tapi hatinya meneteskan liur asam, siapa-siapa yang selama ini menyimpan kebencian terselubung kepadanya. Tapi barangkali wajar, jika bermacam reaksi negatif bermunculan, mengingat yang terjadi dianggap aib yang mengotori kampung yang cukup relijius ini.”

“Ini juga mempengaruhi pengajian subuh yang diampunya. Sejak, pertama kali berita itu menyebar, semakin hari, para jamaah pengajian semakin menyusut, seperti sudah tidak percaya lagi kepada Kyai Mualimin. Katanya kyai yang alim soal agama, tapi ngurus anak sendiri saja, perempuan lagi, tidak becus, sampai bisa hamil di luar nikah begitu. Kira-kira seperti itulah yang digunjingkan warga. Hanya segelintir orang yang masih mau ngaji, termasuk Patuamu ini. Bahkan, oleh kades, atas usulan beberapa warga, Kyai pernah diminta untuk tidak lagi memberikan pengajian. Tapi Kyai menolak, alasanya selama masih ada yang mau ngaji, biar segelintir, ia tidak akan menghentikan pengajiannya. Alasannya diterima, tapi dengan catatan, tidak boleh menggunakan pengeras suara.”

“Sementara berita kehamilan Mba Qonita menggelinding liar di masyarakat – tak lagi diketahui yang mana fakta, yang mana desas-desus, semuanya campur baur menyaru bersama opini-opini, terkadang cacian dan umpatan – keluarga Kyai Mualimin sendiri tidak kalah dibikin ruwet. Masing-masing anggota keluarga terbakar emosi dengan kadar panas yang berbeda. Mas-masnya yang paling mendesak Mba Qonita agar mau mengakui, laki-laki mana yang menghamilinya. Ibunya hanya diam, tapi jelas memendam kekesalan. Kyai Mualimin sekali pernah menampar Mba Qonita. Sekali-kalinya kekerasan terhadap keluarga yang pernah ia lakukan. Wajar, itu reaksi spontan orang yang kaget untuk hal yang tidak wajar dan dianggap aib. Yang aneh, sejak pertama kali berita kehamilan Mba Qonita diketahui keluarganya, Mba Qonita mendadak jadi bisu, gagu. Wallahu a’lam. Itu yang aku dengar langsung dari Kyai Mualimin. Jadi, bagaimana dia mau menjelaskan atau membela diri atas desakan-desakan keluarganya.”

“Kasihan, Mba Qonita. Di dalam rumah ia terpojok. Di luar rumah orang-orang ramai mengolok. Siang malam hanya bisa menangis. Di kamarnya ia mengunci diri.”

Lagi-lagi, kakek memberi jeda, untuk membakar klobot-nya yang padam karena beberapa saat tak dihisap. Aku jadi ikut hanyut, emosional mendengar empati kakek terhadap nasib Mba Qonita.

Kakek menghisap klobot yang baru dibakarnya, dengan kenikmatan mendalam.

“Terus?”

“Yang selanjutnya terjadi, keadaan malah semakin menyudutkan Mba Qonita.” Cerita kakek, kalau aku bahasakan begini: Mba Qonita tidak hanya tersudut secara kultural, tapi juga terdesak oleh kekuatan struktural.

“Suatu malam, kades dan beberapa ketua RW mendatangi rumah Kyai Mualimin, untuk menyampaikan, yang kata kades sendiri, adalah suara warga. Kata kades, warga meminta agar Mba Qonita dititipkan saja ke sanak keluarga Kyai di luar kampung. Kasarnya, diusir keluar kampung. Kata kades lagi, warga khawatir, aib ini akan membawa musibah bagi kampung. Jika sudah dititipkan keluar kampung, Kyai Mualimin boleh memberikan pengajian dengan menggunakan pengeras suara.”

“Kyai Mualimin setuju?”

“Iya.” Sejenak kakek memberi jeda, untuk menghisap rokok klobot-nya.

“Terus?”

“Kamu tahu, Nang?”

“Apa itu?”

“Cerita ini aku dengar langsung dari Kyai Mualimin…”

” ‘Pada suatu pagi buta, di mana aku biasa melaksanakan tahajud, tiba-tiba ada suara ketukan di pintu rumahku. Setelah kubuka, aku terkejut, ternyata itu adalah sosok putriku, Qonita, yang tujuh bulan lalu aku usir, aku titipkan di sanak saudaraku di luar kampung. Ia mengenakan jubah hitam. Wajahnya putih, bersih, dan bersinar. Benar-benar bersinar. Ia membopong seorang bayi. Aku hanya melotot. Heran, kaget, dan takjub bercampur jadi satu. Tapi, sesungguhnya ada rasa haru juga di hatiku.’

” ‘Setelah putriku masuk dan duduk di kursi, dalam hitungan detik, sinar di wajahnya tiba-tiba berpindah ke wajah sang bayi yang masih di pangkuannya. Dan ini yang hampir aku tak percaya, bayi itu tiba-tiba bisa bicara! Bukan suara anak kecil, tapi suara orang tua yang berat dan berwibawa!’

” ‘Aku langsung terduduk di lantai, lemas. Aku merasakan dingin yang tiba-tiba merasuk di sekujur tubuhku, ketika bayi yang wajahnya bersinar itu memberondongiku dengan perkataan-perkataannya. Aku merinding mendengarkannya.’

” ‘Kenapa, Mualimin?! Kenapa kau sepertinya kaget dengan ini?!’

” ‘Kenapa Kau heran, meradang dengan apa yang terjadi pada Qonita?!’

” ‘Kenapa hatimu buram, pikiranmu buntu melihat kehamilan Qonita yang tanpa ayah?!’

” ‘Kenapa Kau melihat itu sebagai kemustahilan?!’

” ‘Apakah hatimu ragu akan kuasa Allah, saat mulutmu begitu memukau menyampaikannya dalam ceramahmu setiap pagi?!’

” ‘Mualimin, kau yang dikenal alim di sepenjuru kampung, tapi tampak kerdil oleh kehamilan putrimu.’

” ‘Tak tahukah Kau, mudah saja bagi Allah menjadikan Qonita hamil tanpa ayah sekalipun, sebagaimana mudahnya Ia menjadikan warga menyebutmu “kyai”?! Apakah Kau berpikir warga memanggilmu “kyai” sebagai kewajaran karena ada sebab-musababnya, sementara kehamilan Qonita yang tanpa sebab Kau anggap sebagai ketakwajaran?!’

” ‘Mualimin, Kau alim dan begitu mencintai pengajianmu. Penyakit orang sepertimu, orang alim yang pandai mengaji, adalah tak mau ngaji dan belajar lagi. Merasa dirinya telah alim. Lebih merasa pantas diri menjadi pengajar, ketimbang mengambil pelajaran.’

Cerita sore itu dihentikan oleh kumandang azan magrib. Kakek kembali mengajakku shalat jamaah di langgar. Saat berangkat ke langgar, aku sempat mengungkapkan keheranan akan cerita ajaib tentang Kyai Mualimin itu.

“Wallahu a’lam, Nang. Tapi itulah yang aku dengar dari Kyai Mualimin sendiri, beberapa hari setelah peristiwa itu, setahun yang lalu. Dan katanya, Patuamu ini satu-satunya orang yang diceritainya. Dan Kamu, Nang, orang kedua yang tahu, setelah aku. Dan sejak peristiwa itulah, Kyai Mualimin menghentikan total pengajiannya di masjid.”

Malam harinya, aku benar-benar sulit tidur. Cerita kakek mengiang-ngiang di benakku, memporak-porandakan nalarku. Masih heran betul. Tapi aku masih sempat berpikir: bagaimana kondisi bayi ajaib itu saat ini, juga Mba Qonita? Ah, mungkin nanti aku bisa tanyakan kepada kakek, atau meminta kakek mengajakku bertamu ke rumah Kyai Mualimin.[jr]

Ciputat, 17 Desember 2008

…….

* Patua: bapak tua atau kakek.
* Nang: lanang atau anak laki-laki

Merebut Allah, Merebut Bayangan

8 December 2008 § 3 Comments


al-rahman ‘ala al-arsy istawa…

Tuhan adalah “sosok” yang tak pernah terbatas, rampung, final, dan komprehensif. Maka, berkahlah bagi manusia, Tuhan membahasakan diri, membatasi diri dengan bahasa yang manusiawi, dengan kata-kata, untuk diketahui manusia sehingga mereka dapat berkata-berkata tentang-Nya, meski dengan piranti nalar yang terbatas, bisa rampung dan final. Sebab itu, manusia mampu berbicara dan berkata-kata tentang Tuhan hanya pada batas-batas yang mampu dikatakannya.

Namun, bahasa selalu tak memadai untuk sepenuhnya mendeskripsikan, menjelaskan, dan dengan itu pula membubuhkan nilai dan merumuskan makna. Ribuan kalimat tersusun merangkai yang Tuhan firmankan tentang diri-Nya, bukanlah batas paling maksimal dan esensial tentang-Nya. Maka, bahasa sebenarnya hanya menangkap jejak, memotret bayangan dari “tongkat” yang tak pernah rampung dan final itu.

Bahasa, yang Tuhan gunakan untuk menjelaskan diri-Nya kepada manusia, adalah sebuah simbol: sebuah isyarat untuk mengungkapkan sesuatu dan pada saat yang sama menyembunyikan sesuatu. Sesuatu yang berada di luar jangkauan nalar dan tak terdeteksi indera tapi bisa dibahasakan, maka bahasa itulah simbol, jejak, bayangan dari esensi sesuatu itu. Kau bisa membaca, menafsirkan sebuah bahasa, tapi barangkali tak layak menyatakan diri telah sampai pada batas paling esensial, final, dan absolut. Selalu mungkin ada yang tersembunyi dari sebuah bahasa, yang luput dari sekedar pembacaan atasnya.

Selanjutnya, hal itu mengantarkan pada konskuensi wajar: bahasa tersaji terbuka untuk ditentukan oleh maksud pembaca. Tuhan membahasakan diri lewat bahasa simbol yang – dengan segenap misteri tersembunyi – merangsang manusia, sebagai pembaca, untuk mengurai, menelaah, menalar, sampai akhirnya memecahkan dan menentukan misteri yang tersembunyi dari balik simbol itu, sekali lagi, pada batas-batas yang mampu dikatakannya. Dan Tuhan, sebagai penulis kisah, bahkan pelaku cerita dari sebuah teks bahasa, dan paling mengerti maksud esensial bahasa itu, tak lagi hadir sebagai pengarah, “lepas tangan”, memberikan kewenangan kepada manusia untuk melakukan elaborasi.

Kita sadari atau tidak, itulah takdir bahasa.

Sepenggal firman yang saya nukil di atas, adalah (salah satu) contoh di mana Tuhan – esensi yang tak terjangkau nalar dan tak terdeteksi indera – membahasakan diri pada batas bahasa dan kata yang paling reduktif, tapi dengan itu manusia bisa berinteraksi. Firman itu kita terjemahkan dengan: “(Yaitu) Tuhan Yang Maha Pemurah, Yang bersemayam pada Arsy”.

Dari pengalaman empirik, kita bisa meraba-raba sepenggal firman itu, aktifitas “bersemayam” melibatkan dua unsur: “yang bersemayam” dan “yang disemayami”, dengan sederet persoalan di belakangnya, misalnya, bagaimana posisi “yang bersemayam” pada “yang disemayami”. Seperti apakah bentuk “yang disemayami” itu, apakah lebih besar dari “yang bersemayam”, jadi, katakanlah “yang disemayami” itu seperti rumah, atau lebih kecil, maka katakanlah “yang disemayami” itu sepeti kursi. Jika “yang disemayami” disepertikan rumah atau kursi, ke arah manakah ia menghadap.

Tentu, ada kemungkinan lain, misalnya, kita setuju dengan arti reduktif itu, hanya saja, karena ini menyangkut Allah, Tuhan Yang Maha Suci, maka tak perlulah ditanyakan, “bagaimana” dan “seperti apa” Ia bersemayam, yang pertanyaan itu hanya layak disandarkan kepada manusia. Bersikap al-tanzih saja. Yang jelas, bahasa Tuhan tentang diri-Nya adalah bahasa kebenaran. Sekilas, ini seperti pasrah menyerah pada bahasa, tapi sesungguhnya adalah sebuah sikap pilihan.

Atau sebuah kemungkinan lain: kita harus lari dari teks bahasa reduktif itu untuk menemukan makna, agar tidak terjebak pada pertanyaan-pertanyaan tak elok dan tak bakal selesai, atau terperangkap pada kesan pasrah menyerah pada bahasa. Makna lain itu, misalnya, sepenggal firman di atas adalah bahasa Tuhan untuk menyimbolkan ke-Maha-Perkasa-annya. Bagi Tuhan, cuma ada dua hal: diri-Nya dan bukan diri-Nya yang lahir dari diri-Nya. Dan yang bukan diri-Nya itu berada dalam lingkaran kuasa dan pengawasan-Nya. (Atau, sesungguhnya cuma ada diri-Nya, dan yang lain hanyalah manifes dari-Nya).

Atau, kemungkinan-kemungkinan pemaknaan lain di mana Kau sampai pada batas kenyamanan dan ketentraman hati.

Kau juga bisa mencari kemungkinan pemaknaan, misalkan, pada “wahuwa ma’akum anama kuntum” (Tuhan selalu menyertai di mana pun kalian berada), pada “yadullah fauqa aidihim” (Tangan Tuhan ada di atas tangan mereka), pada “qalb al-mu’min baina ishbain min ashabi’ al-rahman” (Kalbu orang beriman ada dalam genggaman jemari Tuhan), atau juga pada “…jannaat tajri min tahtiha al-anhar” (…surga yang di bawahnya melintas aliran sungai) …

Selalu ada kemungkinan yang bisa Kau temukan dari sebuah teks bahasa. Bila Kitab Suci punya pengantar dan tamat, teks bahasa Kitab Suci adalah sebuah hamparan pemaknaan yang meruah, membentang, jalin menjalin, terus menerus, tak punya awal, tak kunjung final. Dan, ketika kemungkinan sedemikian meruah, pilihanmu pada salah satu kemungkinan di antara yang meruah itu, sesungguhnya bukan lagi semata berdasar pada kebenaran nalar, tapi pada kenyamanan dan ketentraman hati.

Jelas, Allah, Ilahi, Rabbi, Tuhan, Gusti, Pangeran, God… hanya simbol, jejak, bayangan, sebuah batas bahasa di mana kita bisa berkata-kata, berdiskusi, berdebat tentang esensi yang supernatural, tak terjangkau nalar, tak terdeteksi indera, di mana sebuah esensi itu transenden, Yang Maha. Namun, bahasa akan bernasib “selalu tak memadai untuk sepenuhnya mendeskripsikan, menjelaskan”. Allah (sebagai bahasa) terlalu sempit, tidak akan sepenuhnya memadai untuk mendeskripsikan, menjelaskan Allah sebagai esensi yang supernatural, transenden, Yang Maha.

Telah lebih dari setahun, Malaysia memberlakukan larangan kata “Allah” digunakan media non-Islam. Hanya terjadi di Malaysia, kata “Allah” diklaim sebagai hak eksklusif umat Islam untuk menggunakannya. Alasannya: penggunaan kata “Allah” di media non-Islam ditakutkan akan menimbulkan gejolak di negara yang mayoritas penduduknya beragama Islam ini. Alasan yang cenderung naif.

Pertama, ini sama sekali sepele, tidak esensial dan tidak mencerdaskan. Kedua, cukup untuk menggambarkan “hidup yang didominasi oleh kuantifikasi, sebuah hidup yang memusuhi perbedaan kualitatif”. Ketiga, menunjukkan kepongahan mayoritas, dan pada saat yang sama inferioritas mayoritas, mayoritas yang kurang percaya diri, yang rapuh, sehingga membutuhkan kekuatan (pemerintah sekalipun) untuk menopangnya. Ini penyakit.[]

Yoga

2 December 2008 § 2 Comments


Sepenggal firman tersurat: fas aluu ahl al-dzikr in kuntum la ta’lamuun. “Jika tidak tahu, sampaikanlah pertanyaan kalian kepada ahli zikir”. Dua kali Tuhan menyuratkannya pada dua surat yang berbeda.

Secara spesifik, sepenggal firman itu merupakan bagian dari rangkaian kisah dialektikal Nabi dengan sebagian kalangan Arab waktu itu yang didera keraguan, mempertanyakan kerasulan Muhammad, sebab menimbang dirinya hanyalah manusia. Mungkin mereka juga bakal meragukan siapapun, seandainya ada manusia lain yang memproklamirkan diri menjadi rasul. Keyakinan mereka terhadap transendental Tuhan, memunculkan sikap penyucian terhadap-Nya (al-tanzih). Tuhan mesti dijauhkan dari dunia empiris, tidak layak bersentuhan dengan hal-hal profan, dari hal-hal yang berbau tanah bumi, beraroma keringat manusia. Maka, yang pantas menjadi rasul, menurut mereka, adalah para malaikat, mahluk langit.

Allah a’dzam min an yakuna rasuluhu basyar,” kata orang-orang itu. “Mosok iya, Tuhan dengan segenap keagungannya mau menjadikan rasul-Nya dari kelas manusia?! Itu akan menggerogoti transendental Tuhan!”

Ini persoalan kelas berat, yang nalar Nabi sendiri barangkali tak dapat memberikan jawaban meyakinkan kepada mereka. Maka, Tuhan sendiri yang menjawabnya.

Akana li al-nas ‘ajaban an auhaina ilaa rajulin minhum,” kata Tuhan.”Memangnya kenapa, jika yang menjadi rasul adalah manusia?! Herankah Kalian dan merasa aneh, jika Aku berikan titah kepada seorang laki-laki di antara Kalian?!”

Wama arsalna min qablika illa rijalan nuhi ilaihim,” Kata Tuhan lagi.”Pada masa lalu, yang Aku jadikan rasul pengantar wahyu juga manusia, lebih spesifiknya para lelaki.”

“Jadi, why not?!”

Agaknya mereka yang didera keraguan itu hanyalah orang-orang yang pandangan hidupnya membentur dinding tebal masa di mana mereka hidup, eksklusif dengan pemikiran, pengetahuan, dan informasi yang beredar pada masanya atau kalangannya saja, tanpa menyadari atau mungkin juga tak mau tahu jika di balik dinding tebal masanya ada masa lalu yang menghamparkan pemandangan luas. Mereka tidak memiliki jargon mulia seperti dalam tradisi NU: al-muhafadzah ‘ala al-qadim al-shalih, wal-akhdzu bi al-jadid al-ashlah. Menggali, menemukan, dan merawat warisan masa lalu, menengok preseden masa silam yang dapat memberikan pengayaan wacana, sekaligus mengikuti, mengamati, bahkan melibatkan diri pada perkembangan wacana masa kini yang juga dapat memberikan pengayaan, agar pengetahuan menjadi komperhensif dan lebih kaya.

Mungkin juga, karena tidak atau belum memiliki keimanan, mereka tidak atau belum memahami adagium bijak nan bajik, “al-hikmah dhallah al-mu’minin” atau “kebijaksanaan adalah barang hilang orang-orang beriman”. Karena lokasi hilangnya tidak jelas betul, maka di mana pun dan pada apa pun kebijaksanaan itu dijumpai, pungut saja.

Maka, jadilah mereka katak dalam tempurung. Eksklusif. Mereka melihat dirinya digdaya, tapi sebenarnya adalah kedunguan.

Mereka tidak tahu, perihal rasul dan risalah telah merayap sejak zaman purba, telah ada presedennya, dan yang terjadi dengan Muhammad hanyalah mata rantai. Dengan muatan kombinasi kemulian tradisi NU dan kebajikan adagium di atas, Allah menyarankan lawan dialektikal Rasul agar banyak belajar kepada siapa saja, termasuk kepada orang paling alimnya kelompok Nasrani, paling ahlinya kalangan Yahudi, para pakar Taurat, para pakar Injil, jika memang informasi dari Islam dianggap kurang kuat dan komprehensif. “Fas aluu ahl al-dzikr in kuntum la ta’lamuun”.

Ahl al-dzikr, ahli zikir bukanlah orang-orang yang zikirnya khusyuk dengan deraian air mata diiringi isak tangis sebagai latar sendu. Ahli zikir adalah para pakar intelektual. Kepada merekalah, lawan dialektikal Rasul disuruh menghadap membawa kebodohannya.

“Jika kalian tidak yakin, coba tanyakan, diskusikan dengan para intelektulal dari kalangan mana pun, Islam, Nasrani, Yahudi, atau para pakar mana pun yang menguasai kitab-kitab samawi, kalian akan menemukan satu jawaban, bahwa para rasul yang telah diterjunkan ke bumi, semuanya adalah manusia, tidak ada satu pun dari jenis malaikat. Dan itu tidak ada kaitanya dengan transendental atau profan. Sebab, bagaimana pun, Aku akan tetap menjadi diriku sendiri. Jangankan sekedar mengutus rasul dari kelas manusia, keagunganku tak akan dekaden secuil pun, meski umat seluruh dunia mengutukku. Atau, seandainya umat seluruh dunia memujiku, itu sama sekali tak akan menambah derajat kemualianku,” begitu kira-kira jawaban Tuhan untuk lawan dialektikal Rasul.

Saya kira, ada saat di mana Rasul selalu bersandar pada wahyu untuk memberikan jawaban atau menyelesaikan persoalan masyarakatnya, dalam hal yang relatif berat, seperti hal dan informasi gaib. Biasanya, kemudian, jawabanya saklek dari Tuhan, sebut saja, misal, “wa idza saalaka ‘ibadi ‘anni fa inni qarib”, “Muhammad, jika ada yang bertanya soal Aku kepadamu,” (jawab saja), “Aku cukup dekat kok.” Atau, “Yasaluka al-nas ‘an al-sa’ah, qul innama ‘ilmuha ‘inda Allah”, “Orang-orang bertanya kepadamu soal kiyamat. Jawab saja, cuma Allah yang tahu.” Termasuk persoalan di atas.

Ada saatnya juga Rasul menerima persoalan remeh temeh. Remeh temeh itu bisa diartikan dengan hal-hal sepele atau yang muncul dari kemanjaan dan kemalasan berpikir untuk berusaha mencari jawabannya sendiri. Untuk hal-hal semacam ini, barangkali Rasul tidak perlu menunggu wahyu untuk menanggapinya, apalagi melakukan investigasi. Atau mungkin juga, tidak perlu dijawab secara eksplisit.

Suatu ketika, ada salah seorang sahabat bernama Wabishah, bertanya kepada Rasul tentang definisi “kebaikan” dan “dosa”, syukur-syukur sekalian dengan contoh-contoh kongkritnya. Jawab Rasul,

“Istafti qalbak, ya wabishah!” Rasul sampai perlu mengulanginya tiga kali, menandakan penekanan, “al-birru ma ithmaannat ilaihi al-nafsu, wa al-itsmu ma haka fi al-nafsi.”

“Tanyakan pada hatimu! Mintalah fatwa pada kalbumu! Mintalah pertimbangan sukmamu! Jika hatimu merasa nyaman, adem, ayem, maka yang kamu lakukan itu berarti baik. Tapi kalau malah bikin resah, gelisah, berarti itu tidak baik, sehingga kamu merasa berdosa melakukanya.”

Saya, kok, jadi berkhayal, Kanjeng Rasul rawuh ke Indonesia, kemudian seseorang menghadapnya, bertanya soal yoga. Kira-kira, akan seperti apa respon Rasul?

Apakah “Allah” Hanya Milik Umat Islam?

1 December 2008 § 51 Comments


Oleh Ulil Abshar Abdalla

200px-ulil1

Ulil, 2004

Seorang perempuan beragama Kristen saat ini sedang menggugat pemerintah Malaysia dengan alasan telah melanggar haknya atas kebebasan beragama (baca International Herald Tribune, 29/11/2008). Mei lalu, saat balik dari kunjungan ke Jakarta, Jill Ireland, nama perempuan itu, membawa sejumlah keping DVD yang berisi bahan pengajaran Kristen dari Jakarta. Keping-keping itu disita oleh pihak imigrasi, dengan alasan yang agak janggal: sebab dalam sampulnya terdapat kata “Allah”.

Sejak tahun lalu, pemerintah Malaysia melarang penerbitan Kristen untuk memakai kata “Allah”, sebab kata itu adalah khusus milik umat Islam. Umat lain di luar Islam dilarang untuk menggunakan kata “Allah” sebagai sebutan untuk Tuhan mereka. Pemakaian kata itu oleh pihak non-Muslim dikhawatirkan bisa membingungkan dan “menipu” umat Islam (Catatan: “Sedih sekali ya, umat Islam kok mudah sekali tertipu dengan hal-hal sepele seperti itu?”)

Pertanyaan yang layak diajukan adalah: apakah kata “Allah” hanyalah milik umat Islam saja? Apakah umat lain tidak boleh menyebut Tuhan yang mereka sembah dengan kata “Allah”? Apakah pandangan semacam ini ada presedennya dalam sejarah Islam? Kenapa pendapat seperti itu muncul?

Sebagai seorang Muslim, terus terang saya tak bisa menyembunyikan rasa geli, tetapi juga sekaligus jengkel, terhadap pandangan semacam ini. Sikap pemerintah Malaysia ini jelas bukan muncul dari kekosongan. Tentu ada sejumlah ulama dan kelompok Islam di sana yang menuntut pemerintah mereka untuk memberlakukan larangan tersebut.

Di Indonesia sendiri, hal serupa juga pernah terjadi. Beberapa tahun lalu, ada seorang pendeta Kristen di Jakarta yang ingin menghapus kata “Allah” dalam terjemahan Alkitab versi bahasa Indonesia. Menurut pendeta itu, istilah “Allah” bukanlah istilah yang berasal dari tradisi Yudeo-Kristen. Nama Tuhan yang tepat dalam tradisi itu adalah Yahweh bukan Allah.

Jika usulan untuk melarang penggunaan kata Allah berasal dari dalam kalangan Kristen, tentu saya, sebagai orang luar, tak berhak untuk turut campur. Tetapi jika pendapat ini datang dari dalam kalangan Islam sendiri, maka saya, sebagai seorang Muslim dan “orang dalam”, tentu berhak mengemukakan pandangan mengenainya.

Pandangan bahwa istilah Allah hanyalah milik umat Islam saja, menurut saya, sama sekali tak pernah ada presedennya dalam sejarah Islam. Sejak masa pra-Islam, masyarakat Arab sendiri sudah memakai nama Allah sebagai sebutan untuk salah satu Tuhan yang mereka sembah. Dalam Quran sendiri, bahkan berkali-kali kita temui sejumlah ayat di mana disebutkan bahwa orang-orang Arab, bahkan sebelum kedatangan Islam, telah mengakui Allah sebagai Tuhan mereka (baca QS 29:61, 31:25, 39:37, 43:87). Dengan kata lain, kata Allah sudah ada jauh sebelum Islam sebagai agama yang dibawa Nabi Muhammad lahir di tanah Arab.

Begitu juga, umat Kristen dan Yahudi yang tinggal di kawasan jazirah Arab dan sekitarnya memakai kata Allah sebagai sebutan untuk Tuhan. Para penulis Kristen dan Yahudi juga memakai kata yang sama sejak dulu hingga sekarang. Seorang filosof Yahudi yang hidup sezaman dengan Ibn Rushd di Spanyol, yaitu Musa ibn Maimun (atau dikenal di dunia Latin sebagai Maimonides [1135-1204]) menulis risalah terkenal, “Dalalat al-Ha’irin” (Petunjuk Bagi Orang-Orang Yang Bingung). Kalau kita baca buku itu, kita akan jumpai bahwa kata Allah selalu ia pakai untuk menyebut Tuhan.

Semua Bibel versi Arab memakai kata Allah sebagai nama untuk Tuhan. Ayat pertama yang terkenal dalam Kitab Kejadian diterjemahkan dalam bahasa Arab sebagai berikut: “Fi al-bad’i khalaqa Allahu al-samawati wa al-ard” (baca “Al-Kitab al-Muqaddas” edisi The Bible Society in Lebanon). Dalam terjemahan versi Lembaga Alkitab Indonesia (LAI), ayat itu berbunyi: “Pada mulanya Allah menciptakan langit dan bumi”.

Tak seorangpun sarjana Islam yang memakai bahasa Arab sebagai bahasa ibu mereka, entah pada masa klasik atau modern, yang mem-beslah atau keberatan terhadap praktek yang sudah berlangsung ratusan bahkan ribuan tahun itu. Tak seorang pun ulama Muslim yang hidup sezaman dengan Maimonides yang memprotes penggunaan kata Allah dalam buku dia di atas.

Polemik antara Islam dan Kristen sudah berlangsung sejak masa awal Islam, dan, sejauh pengetahuan saya, tak pernah kita jumpai seorang “mutakallim< ” atau teolog Muslim yang terlibat perdebatan dengan teolog Kristen atau Yahudi karena memperebutkan kepemilikan atas kata Allah. (Survei terbaik tentang sejarah polemik Islam-Kristen sejak masa awal Islam hingga abad ke-4 H/10 M adalah buku karangan Abdul Majid Al-Sharafi, “Al-Fikr al-Islami fi al-Radd ‘Ala al-Nashara”, 2007).

Dalam perspektif historis, pandangan sejumlah ulama Malaysia yang kemudian diresmikan oleh pemerintah negeri jiran itu, jelas sangat aneh dan janggal sebab sama sekali tak ada presedennya. Dipandang dari luar Islam, pendapat ulama Malaysia itu juga bisa menjadi bahan olok-olok bagi Islam. Sebab, pandangan semacam itu tiada lain kecuali memperlihatkan cara berpikir yang sempit di kalangan sebagian ulama. Jika para ulama di Malaysia itu mau merunut sejarah ke belakang, kata Allah itu pun juga bukan “asli” milik umat Islam. Kata itu sudah dipakai jauh sebelum Islam datang. Dengan kata lain, umat Islam saat itu juga meminjam kata tersebut dari orang lain.

Yahudi, Kristen, dan Islam adalah tiga agama yang lahir dari rahim yang sama, yaitu dari tradisi Ibrahim. Islam banyak sekali mewarisi tradisi dan ajaran dari kedua agama itu. Karena asal-usul yang sama, dengan sendirinya sudah lumrah jika terjadi proses pinjam-meminjam antara ketiga agama itu. Selama berabad-abad, ketiga agama itu juga hidup berdampingan di jazirah Arab dan sekitarnya. Tak heran jika terjadi proses saling mempengaruhi antara ketiga tradisi agama Ibrahimiah tersebut. Tradisi Kristiani, misalnya, mempunyai pengaruh yang besar dalam proses pembentukan Islam, terutama dalam tradisi pietisme atau mistik (baca, misalnya, buku karangan Tarif Khalidi, “The Muslim Jesus: Saying and Stories in Islamic Literature”, 2001).

Quran sendiri banyak meminjam dari tradisi lain, termasuk dalam konteks istilah-istilah yang berkaitan dengan peribadatan. Hampir semua istilah-istilah ritual yang ada dalam Islam, seperti salat (sembahyang) , saum (puasa), hajj, tawaf (mengelilingi ka’bah), ruku’ (membungkuk pada saat salat) dsb., sudah dipakai jauh sebelum Islam oleh masyarakat Arab.

Dengan kata lain, proses pinjam-meminjam ini sudah berlangsung sejak awal kelahiran Islam. Pandangan ulama Malaysia itu seolah-olah mengandaikan bahwa semua hal yang ada dalam Islam, terutama istilah-istilah yang berkenaan dengan doktrin Islam, adalah “asli” milik umat Isalm, bukan pinjaman dari umat lain. Sebagaimana sudah saya tunjukkan, pandangan semacam itu salah sama sekali.

JIKA demikian, bagaimana kita menjelaskan pendapat yang janggal dari Malaysia itu? Saya kira, salah satu penjelasan yang sederhana adalah melihat masalah ini dari sudut dinamika internal dalam tubuh umat Islam sendiri sejak beberapa dekade terakhir. Sebagaimana kita lihat di berbagai belahan dunia Islam manapun, ada gejala luas yang ditandai oleh mengerasnya identitas dalam tubuh umat. Di mana-mana, kita melihat suatu dorongan yang kuat untuk menetapkan batas yang jelas antara Islam dan non-Islam. Kekaburan batas antara kedua hal itu dipandang sebagai ancaman terhadap identitas umat Islam.

Penegasan bahwa kata “Allah” hanyalah milik umat Islam saja adalah bagian dari manifestasi kecenderungan semacam itu. Pada momen-momen di mana suatu masyarakat sedang merasa diancam dari luar, biasanya dorongan untuk mencari identitas yang otentik makin kuat. Inilah tampaknya yang terjadi juga pada umat Islam sekarang di beberapa tempat. Kalau kita telaah psikologi umat Islam saat ini, tampak sekali adanya perasaan terancam dari pihak luar. Teori konspirasi yang melihat dunia sebagai arena yang dimanipulasi oleh “kllik” tertentu yang hendak menghancurkan Islam mudah sekali dipercaya oleh umat. Teori semacam ini mudah mendapatkan pasar persis karena bisa memberikan justifikasi pada perasaan terancam itu.

Keinginan untuk memiliki identitas yang otentik dan “beda” jelas alamiah belaka dalam semua masyarakat. Akan tetapi, terjemahan keinginan itu dalam dunia sehar-hari bisa mengambil berbagai bentuk. Ada bentuk yang sehat dan wajar, tetapi juga ada bentuk yang sama sekali tak masuk akal bahkan lucu dan menggelikan. Pandangan ulama Malaysia yang kemudian didukung oleh pemerintah negeri itu untuk melarang umat Kristen memakai istilah “Allah” adalah salah satu contoh yang tak masuk akal itu. Sebagaimana saya sebutkan di muka, secara historis, pandangan semacam ini sama sekali tak ada presedennya. Selain itu, proses saling meminjam antara Islam, Kristen dan Yahudi sudah berlangsung dari dulu.

Bayangkan saja, jika suatu saat ada kelompok Yahudi yang berpikiran sama seperti ulama Malaysia itu, lalu menuntut agar umat Islam tidak ikut-ikutan merujuk kepada nabi-nabi Israel sebelum Muhammad — apakah tidak runyam jadinya. Orang Yahudi bisa saja mengatakan bahwa sebagian besar nabi yang disebut dalam Quran adalah milik bangsa Yahudi, dan karena itu umat Islam tak boleh ikut-ikutan menyebut mereka dalam buku-buku Islam. Sudah tentu, kita tak menghendaki situasi yang “lucu” dan ekstrem seperti itu benar-benar terjadi.

Selama ini umat Islam mengeluh karena umat lain memiliki pandangan yang negatif tentang Islam, dan karena itu mereka berusaha sekuat mungkin agar citra negatif tentang agama mereka itu dihilangkan. Masalahnya adalah bahwa sebagian umat Islam sendiri melakukan sejumlah tindakan yang justru membuat citra Islam itu menjadi buruk. Menurut saya, pendapat ulama dan sikap pemerintah Malaysia itu adalah salah satu contoh tindakan semacam itu. Jika umat Islam menginginkan agar umat lain memiliki pandangan yang positif tentang agama mereka, maka langkah terbaik adalah memulai dari “dalam” tubuh umat Islam sendiri. Yaitu dengan menghindari tindakan yang tak masuk akal.

Tak ada gunanya umat Islam melakukan usaha untuk mengoreksi citra Islam, sementara umat Islam sendiri memproduksi terus-menerus hal-hal yang janggal dan tak masuk akal.

Caveat: Mohon maaf kepada teman-teman dan pembaca Malaysia, jika tulisan saya ini terlalu kritis pada pemerintah Malaysia dalam isu yang spesifik ini. Saya sama sekali tidak berpandangan bahwa sikap pemerintah Malaysia itu mewakili sikap seluruh umat Islam di sana. Saya tahu, banyak kalangan Islam di sana yang tak setuju dengan sikap ulama dan pemerintah Malaysia ini.[]

~ Dicomot dari milist JIL [islamliberal@yahoogroups.com] ~

AIDS Dalam Perspektif Tauhid

26 November 2008 § 1 Comment


Wabah flu burung pernah (atau mungkin masih) menjadi berita hangat dan banyak diperbincangkan di banyak media, baik cetak maupun elektronik. Masyarakat dibikin sibuk dan sebagian dibikin resah, karena khawatir terjangkit wabah mematikan ini. Unggas yang menjadi sumber wabah ini banyak yang dimusnahkan. Penyakit ini pun dianggap menular. Untunglah, orang-orang yang terjangkit wabah ini tidak banyak mendapat perlakuan diskriminatif.

Berbeda dengan wabah flu burung, para pengidap virus HIV dan orang-orang yang positif terkena AIDS banyak yang mendapatkan perlakukan diskrimitaif dan pengucilan, karena kekhawatiran akan menularnya virus yang juga mematikan tersebut.

Sah-sah saja melakukan tindakan antisipatif agar tidak terjangkit suatu penyakit. Karena, sangat manusiawi jika setiap orang lebih memilih hidup sehat tanpa penyakit. Suatu ketika Nabi Muhammad SAW pernah meminta para sahabat untuk melakukan antisipasi terhadap pengidap penyakit lepra (majdzum), “Jauhilah pengidap penyakit lepra, seperti kalian lari menjauh dari macan.” (HR Bukhari dari Abu Hurairah).

Namun demikian, Nabi tidak memerintahkan mereka untuk mengucilkan para pengidap penyakit lepra tersebut. Tetap bergaul seperti biasa, namun waspada dan antisipatif. Hadis Nabi di atas adalah dalam konteks tersebut, bukan dalam rangka mengukuhkan opini masyarakat kala itu bahwa suatu penyakit mutlak bisa menular secara alamiah.

Jika kita melihat hal ini dari konteks tauhid, sesungguhnya tidak ada penyakit menular dari atau melalui apapun secara alamiah. Jelas-jelas Nabi pernah menyatakan, “Tidak ada penyakit menular (‘adwa).” (HR Muslim dari Abu Hurairah). Bahkan, dalam satu hadis yang diriwayatkan oleh Imam Tirmizi dari sahabat Jabir bin Abdullah, Nabi pernah menemani makan salah seorang sahabat penderita lepra bernama Mu’aiqib bin Abi Fathimah, tanpa memiliki kekhawatiran yang berlebihan.

Sebab, jika tetap meyakini bahwa suatu penyakit bisa menular dari satu orang ke orang lain, maka bagaimana dengan pengidap pertama pernyakit tersebut?! Dari manakah ia terkena penyakit itu?! Dalam perspektif tauhid, orang kedua dan seterusnya yang “seolah” tertular penyakit, sesungguhnya sama prosesnya dengan orang pertama yang terkena penyakit. Artinya, penyakit yang menjangkiti orang kedua dan seterusnya bukan karena tertular oleh orang pertama. Tidak ada penyakit yang menular secara alamiah. Semuanya terjadi dalam lingkaran kuasa Allah.

Dan hadis Nabi di atas adalah dalam konteks membatalkan opini masyarakat jahiliah kala itu yang sangat kental nuansa syirik, yang meyakini bahwa wabah penyakit yang mejangkit saat itu menjalar secara alamiah tanpa adanya campur tangan kuasa Allah.

Maka, dengan tetap waspada dan antisipatif, seharusnya kita tetap bergaul secara wajar dengan para pengidap penyakit apapun, tanpa melakukan pengucilan dan kekhawatiran yang berlebihan. Justeru orang yang mengidap suatu penyakit tertentu lebih membuntuhkan pendampingan dan perhatian dari kita yang sehat.

Kalla…

19 November 2008 § Leave a comment


“Kalla” menjadi nama belakang wapres kita, Jusuf Kalla. Dan tulisan ini bukan soal dia, namanya, isterinya, anaknya, mantunya, perusahaannya, bukan pula soal Golkar atau Makasar…

Saat masih nyantren di Tebuireng dulu, saya pernah menangkap penggalan ceramah dari kyai (namanya KH Ishaq Lathif yang sampai pada usia senjanya saat ini lebih memilih hidup perjaka tanpa jamahan seorang wanita) di sela-sela pengajian bandongan sebuah kitab, bahwa Allah akan selalu merespon, mengacuhkan doa setiap orang dengan beberapa kemungkinan: dikabulkan sesuai permintaan baik segera atau tertunda, dikabulkan tapi tidak sesuai permintaan alias diganti (barangkali Allah menimbang, sesuatu yang dimintanya tidak proporsional bagi dirinya), atau dikabulkan tapi tidak untuk dinikmati di dunia, di akhirat. Meski yang disebutkan terakhir agak kurang mengena (bukankah kosmos akhirat adalah serba tak butuh?!), tapi yang jelas filosofi pengabulan doa itu mak clep sejak pertama kali masuk telinga kemudian bersemayam di otak, sampai saat ini. Rupanya, filosofi itu adalah sebuah pembacaan dari sebuah teks Alquran ujibu da’wah ad-da’i idza da’ani/Aku (Allah) akan mengabulkan doa orang yang berdoa kepadaku.

“Sementara tak sulit untuk mengerti “maksud si pembaca”, tak mudah untuk tahu bagaimana sebenarnya maksud “teks yang dibaca,” bagitu yang tertulis dalam Eksotopi-nya Goenawan Mohamad. Meski Kyai Ishak, “si pembaca”, memberikan pembacaan terhadap “teks yang dibaca” itu secara sederhana, namun sejujurnya memberikan kemudahan (sementara) bagi saya dalam memahami teks Alquran yang “tak mudah” itu, menjadi pembimbing dan penenang bagi grundengan-grundengan jiwa terhadap Allah terkait litani doa-doa yang terucap tapi seperti masih mengawang-awang.

Mungkin saja, dalam bentuk yang kongkrit, kita telah tak mendapatkan apa yang menjadi harapan dalam doa, namun dengan ketiadaan itu, kita tetap tenang dan nyaman, bahkan dengan kadar yang lebih meningkat, tanpa perubahan emosi yang radikal, bagi saya itu sudah menjadi doa yang terrespon. Sebab, bagi saya, doa adalah kenyamanan, ketenangan. Pelaku utamanya adalah jiwa. Yang menjadi kenikmatan, akhirnya, bukan semata terkabulnya sebuah doa, tapi penghayatan dari doa tersebut. Ukurannya bukan lagi semata bersifat inderawi yang konkrit.

Maka, jika pada rentang waktu tertentu, seperti terindikasikan harapan-harapan yang terrangkum dalam doa tak juga terwujud, segera asumsi itu saya alihkan dengan menikmat-hayati kemungkinan-kemungkinan: mungkin masih butuh waktu, mungkin saya meminta sesuatu yang tidak proporsional, mungkin yang saya minta belum saatnya diminta, mungkin bakal terwujud dengan hal lain, mungkin telah terwujud tanpa disadari… mungkin… mungkin… sambil tetap berdoa jika masih tetap berharap atau sudahi saja doa itu jika jiwamu tak lagi menikmati lantunan doa-doa itu, meski tak juga menolak jika suatu saat harapan itu mak jleg tiba-tiba hadir dalam wujud yang kongkrit. Sebab, bisa saja Allah memberikan apa yang kita harapkan, kita inginkan, justeru pada saat kita melonggarkan harapan dan keinginan itu atau bahkan saat tak lagi memiliki harapan sama sekali. Intinya, tidak ada celah untuk mengatakan Allah tak mengacuhkan doa saya. Acuh Allah tak harus dipahami sebagai terkabulnya doa sesuai dengan keinginan. (“Acuh” artinya “peduli”. “Tak mengacuhkan” berarti “tak mempedulikan”. “Acuh tak acuh” artinya “peduli tak peduli” alias cuek. Kata yang sering dijungkir-balikkan artinya. Dengar saja lagu berjudul “Aku Mau” dari Once atau “Cinta Ini Membunuhku” dari D’Masif, dan simak kata “acuh” dalam liriknya).

Senafas dengan hal itu, ada doa yang paling menggemparkan jagat, paling meresap, paling mendalam, paling bisa merontokkan sendi-sendi jiwa (tapi mungkin juga bikin sesak nafas), adalah “allahumma, la mani’a lima a’thaita, wala mu’thiya lima mana’ta”. Jika dilihat dari isinya, doa itu barangkali lebih pas tidak disebut doa jika definisinya adalah permohonan. “Gusti Pangeran, semua pasti akan terjadi jika panjenengan mengizinkan. Dan pasti akan nihil jika penjenengan menolaknya”. Tidak ada permohonan di sana, dan mungkin lebih cenderung berisi pujian atas superitotas Allah. Pun jika disebut doa, maka itu adalah permintaan agar kita selalu eling, ingat, sadar, awas, waspada, terjaga, melek, lebih dari sekedar tahu superioritas Allah itu.

Bahwa “la mani’a lima a’thaita” adalah pujian superioritas Allah. Bahwa Allah mampu melaksanakan, mewujudkan, menghadirkan apa pun yang kita inginkan. Bahwa kemudian itu menyenangkan kita sebagai manusia. Jika hidup ini penuh dengan keinginan dan obsesi yang berjubel di benak, maka apa lagi yang lebih membahagiakan selain keinginan dan obsesi itu mencuat dalam alam nyata. Bukankah puncak dari keinginan adalah terlaksananya keinginan itu?! Bukankah hal yang paling membahagiakan adalah terwujudnya sesuatu keinginan, kemudian menikmatinya?! Bahwa keyakinan kita akan superioritas Allah itu kerap bertambah kadarnya, saat keinginan-keinginan kita terwujud, ketika hasrat-hasrat mencuat. Dan mungkin dengan agak berlebihan sambil mengatakan, “Allah memang baik, memang kuasa, memang sayang”. Seolah-olah memang seperti itulah tugas Allah. Seolah-olah superioritas Allah terbatas jika Ia melakukan apa yang menjadi keinginan dan menyenangkan kita. Lalu Ia dingambeki jika tak berbuat seperti itu.

Kalla…” kata Allah, “Mbok ya jangan nyangka seperti itu… Masak definisi kasih sayangku kepadamu hanya diterjemahkan dengan hal-hal yang Kau rasa enak saja. Terus, Kau menggetingiku, karena aku Kau anggap menelantarkanmu pada kondisi serba tak enak, dan sebab itu Kau anggap aku sedang menghinakanmu…”

“Aku memang mampu berbuat apa saja. Kamu pasti sudah tahu itu. Tapi bukan berarti aku mesti meladeni hasratmu. Aku juga mampu untuk tak berbuat apa-apa untukmu. Seharusnya kamu juga tahu itu, biar jalan pikiranmu tidak pincang, supaya jalan spiritualmu lempang. Cobalah pahami aku dengan kemungkinan, bukan dengan kepastian atau ketak-mungkinan…”

Wala mu’thiya lima mana’ta…

Aib

7 November 2008 § 2 Comments


Setiap hari, dari mulai pagi sampai sore, kita disuguhi banyak berita tentang kalangan tertentu yang tanpa risih mengumbar aib dirinya, mempertontonkan perselingkuhan, perceraian, ketidakharmonisan keluarga, perseteruan antara anak dan orang tua, atau pihak-pihak tertentu yang menjelek-jelekan pihak lain, (mungkin) demi mendongkrak popularitas semu atau kepentingan-kepentingan lain. Seolah-olah, bagi mereka hal-hal semacam itu bukanlah aib. Parahnya, fenomena semacam itu didukung dan dijadikan ladang bisnis oleh media penyembah ratting. Padahal, sekecil-kecil dan sebenar-benar apapun aib, seharusnya selalu ditutup dan dijaga.

Dalam Islam, menjaga harga diri atau kehormatan (hifz al-‘irdh) merupakan salah satu dari lima prinsip dasar syariat yang harus dipertahankan oleh setiap muslim. Empat lainnya adalah menjaga agama (hifz ad-din), menjaga jiwa (hifz an-nafs), menjaga akal (hifz al-’aql), dan menjaga harta (hifz al-mal). Setiap muslim harus menjaga dan mempertahankan lima hal itu dari apapun yang bisa mengganggu atau merusaknya. Dan menutup aib merupakan bagian dari menjaga harga diri (hifz al-‘irdh) yang menjadi hak setiap muslim, baik untuk dirinya atau orang lain.

Dan suatu larangan, mengumbar aib diri sendiri, maka apalagi mengorek-ngorek aib orang lain. Kita dituntut untuk menutup aib. Nabi Muhammad SAW bersabda, “Siapa yang menutupi kejelekan orang lain, Allah akan menutupi kejelekannya di akhirat kelak.” (HR Bukharid dari Ibnu Umar).

Maka, Nabi pernah mengajarkan sebuah doa, berkaitan dengan prinsip-prinsip dasar di atas, “Ya Allah, aku memohon kepadamu kebaikan dan perlindungan dalam kehidupan beragamaku, kehidupan duniaku, kehidupan keluargaku, dan harta bendaku. Ya Allah, tutup dan jagalah kejelekanku (aibku).” (HR Abu Daud dari Ibnu Umar). Ibnu Umar menceritakan, bahwa Nabi membaca doa tersebut setiap hari dan tidak pernah meninggalkannya.

Begitulah seharusnya kita melihat aib diri sendiri dan kejelekan orang lain. Kita sama sekali tidak diperkenankan mempertontonkan aib sendiri apalagi aib orang lain. Bahkan untuk sekedar tahu urusan orang lain tanpa alasan maslahat pun tidak diperkenankan.

Orang-orang yang mempertontonan aib maksiatnya, dosa maksiat tersebut tidak akan diampuni oleh Allah. Nabi Muhammad SAW bersabda, “Setiap umatku akan diampuni dosanya (mu’afan), kecuali mujahirin.” (HR Bukhari dari Abu Hurairah).

Nabi menjelaskan, bahwa mujahirin adalah orang-orang yang melakukan perbuatan dosa di malam hari tanpa tanpa diketahui oleh orang lain. Pada saat itu, Allah SWT sedang menutup aib (perbuatan dosa) orang tersebut, dari penglihatan orang lain. Namun, pada pagi harinya, pelaku dosa itu justeru membuka aibnya sendiri, yang telah Allah tutup, membeberkan kepada orang-orang apa yang ia kerjakan pada malam hari. Wallahu a’lam bish-shawab.

Gusti Allah Memayungiku

7 November 2008 § Leave a comment


Tadi, berangkat jumatan dengan menerobos rintik-rintik gerimis tanpa payung. Lagian cuma gerimis, tidak terlalu mengancam. Di tengah perjalanan, ternyata gerimis tak kunjung insyaf, malah kian bersemangat menerpa bumi, bergerumul menjadi hujan. Aku harus berlari-lari kecil, seperti mengejar angkot.

Hujan kian menjadi-menjadi saat khutbah berkumandang, dan terus-menerus saat salat berlangsung, bahkan kemudian berlanjut selepas salat. Dengan duduk santai, aku tunggu hujan reda. Tetesan hujan berkurang, menjadi rintik-rintik gerimis. Tapi tetap saja, namanya bukan reda. Kembali, terpaksa aku terobos gerimis. Sial! Ada motor kurang ajar tidak melihat para pejalan kaki menyisir pinggiran jalan. Main kencang saja. Cipratannya sih, tidak banyak. Sedikit. Tapi, celana jin merek EmBa dengan harga cukup mahal ini, baru aku keluakan dari lemari. Tidak peduli habis salat jumat, aku memaki pelan saja, tapi bukan makian kasar. Tapi, ah, sampai juga di rumah, maksudnya, kontrakan.

“Hujan, ya?” kata temannya teman yang lebih memilih tak salat karena gerimis itu.

“Iya, nih!” aku gelar sajadah yang kuyup, maksudnya biar cepat kering.

“Basah dong?”

“Alhamdulillah, ga. Ga sama sekali. Tetap kering, nih. Tadi selama perjalanan berangkat dan pulang, aku dipayungi gusti Allah.”

Kukibas-kibaskan rambut panjangku yang cukup kuyup. Aku buka kaos lengan yang basah di sekujur lengannya, juga di bagian pundak, kemudian aku gantung dengan hanger. Celanan jins anyar yang baru keluar dari lemari itu, jadi kurang nyaman dipakai.

Where Am I?

You are currently browsing entries tagged with Allah at Warung Nalar.

<span>%d</span> bloggers like this: