Al-Hikam Ali ibn Abi Thalib

17 April 2015 § 10 Comments


Pengantar: tulisan ini adalah kata pengantar untuk buku yang saya susun dan saya terjemahkan. Terbit Mei, oleh Penerbit Serambi.

Al-Hikam Ali ibn Abi Thalib « Read the rest of this entry »

Wirid Pelancar Bayar Kredit

13 June 2014 § Leave a comment


Pada masa permulaan Islam ketika perbudakan masih eksis, dikenal istilah mukatab, yaitu budak yang bisa bebas, menjadi manusia merdeka, dengan membayar kepada majikan sejumlah harga yang disepakati kedua pihak. « Read the rest of this entry »

Para Sufi Mengendalikan Emosi

2 May 2014 § 1 Comment


Barangkali, karena menyaksikan perlakuan orang-orang musyrik yang dianggap sudah keterlaluan, para sahabat meminta Rasulullah berdoa agar mereka diazab saja. « Read the rest of this entry »

Kehendak Bebas dan Takdir

19 February 2014 § 2 Comments


“Yang kita lakukan itu karena kehendak bebas kita atau karena takdir Tuhan?” seseorang bertanya kepada Ali ibn Abi Thalib.

Orang itu barangkali bingung, jika manusia punya kekuatan dan kebebasan untuk berbuat apa saja, lalu kenapa kita masih bilang bahwa tak ada kekuatan dan ketentuan selain dari Allah. Atau, « Read the rest of this entry »

Yang Lebih Besar Dibanding Seluruh Dosamu

18 October 2013 § Leave a comment


Suatu ketika Ali ibn Abi Thalib menemui orang yang tampak putus asa, merasa tak lagi punya harapan. Ali bertanya, “Mengapa keadaanmu sampai seperti ini?”

“Ini akibat dosa-dosaku yang teramat besar,” kata « Read the rest of this entry »

Saudara-Saudara Kita

10 July 2013 § 2 Comments


Waktu itu, di Shiffin, dua pasukan Islam berhadap-hadapan. Bersiap saling serang.  Di kedua pasukan itu ada sahabat-sahabat Nabi. Di satu pihak ada Ali ibn Abi Thalib, putra-putranya, dan para pendukungnya. Bergabung di dalamnya Ammar ibn Yassir, generasi perintis dalam sejarah perjuangan Islam.

Di pihak lain ada Amr ibn Ash dan putranya, Abdullah ibn Amr, yang terkenal banyak menuliskan hadis Nabi. Di tampuk kepemimpinan ada Mu’awiyah ibn Abi Sufyan, yang menurut kabar termasuk salah seorang penulis wahyu.

Seorang pengikut Ali kebingungan. Ia « Read the rest of this entry »

Perselingkuhan Ideologi dan Kekuasaan

3 July 2013 § Leave a comment


Pagi itu, seusai prosesi shalat Idul Adha, Khalid al-Qasri mengeksekusi Ja’ad atas perintah Khalifah Hisyam ibn Abdu Malik (Dinasti Bani Umayah). Sebelumnya, di akhir khutbah Id, Gubernur Mesir itu menyatakan, “Sembelihlah hewan-hewan kurban. Semoga Allah menerima kurban kalian. Sementara, aku akan menyembelih Ja’ad ibn Dirham.” « Read the rest of this entry »

Jika Hanya Peduli Urusan Perut

8 February 2013 § Leave a comment


man kanat himmatuh

Orang yang kesungguhannya hanya soal apa yang bisa masuk ke perut, harga yang ia peroleh hanya senilai apa yang keluar dari perut. –Ali ibn Abi Thalib

(dari Alf Kalimah li Amir al-Mu’minin wa Sayyid al-Bulagha’ wa al-Mutakallimin halaman 101)

Ali dan Pemuda Galau

29 December 2011 § Leave a comment


Saya nukilkan kisah lain tentang Ali ibn Abi Thalib. Kali ini dari buku Destiny Disrupted: A History of The World through Islamic Eyes karya Tamim Ansary, seorang sejarawan dan sastrawan dunia kelahiran Afghanistan—yang telah diindonesiakan Penerbit Zaman dengan judul Dari Puncak Bagdad: Sejarah Dunia Versi Islam.

Kisah tentang keberanian, keromantisan, dan religiositas.

Dalam satu pertempuran penting pada masa-masa awal Islam, seorang pemuda menyongsong Ali dengan berapi-api, matanya tajam, kedua ujung alisnya hampir berpautan, dan tangannya mengayunkan pedang. Mereka lalu berhadap-hadapan. « Read the rest of this entry »

Ali

17 February 2010 § Leave a comment


Banyak pemuka kesatria sufi menelusuri garis silsilah mereka kembali kepada Ali, belum tentu karena mereka Syiah, kata Tamim Ansary, tapi karena Ali secara legendaris terkenal sebagai kesatria sempurna, kombinasi ideal kekuatan, keberanian, kesalehan dan kehormatan. Dalam Syiah memang tidak ada sahabat-Rasul yang paling istimewa selain Ali. Tamim melanjutkan, Syiah merasa bahwa otoritas keagamaan mutlak dan turun-temurun dimiliki oleh seorang tokoh yang disebut imam, yang merupakan wakil Allah di bumi. Dan selalu ada satu imam di dunia, tidak pernah ada dua; dan imam sejati sebuah zaman selalu diturunkan dari Rasul melalui putrinya Fathimah, yang tak lain adalah istri Ali.

Saya sendiri tumbuh dalam tutur dan literatur yang tak mengistimewakan salah seorang sahabat tertentu. Setiap sahabat adalah istimewa di hati Rasul, dengan keistimewaan masing-masing. Abu Bakar adalah sahabat Rasul sejak kecil, yang kemudian menjadi mertua Rasul. Rasul pernah berujar tentang Abu Bakar, “Jika orang lain akan meminta waktu untuk berpikir saat aku menyampaikan Islam, tidak demikian dengan Abu Bakar. Ia menerima Islam tanpa ragu dan tak butuh waktu.”

Umar adalah jawaban Tuhan untuk Rasul. Rasul pernah berdoa, “Tuhan! Kuatkanlah Islam dengan salah satu dari dua Umar: Umar ibn Khathab dan Amr ibn Hisyam.” Amr ibn Hisyam tak lain adalah Abu Jahal. Selain Abu Jahal, Umar adalah sosok pemberani cenderung kejam. Jika salah satu dari mereka memeluk Islam, Islam di Makkah akan berwibawa dan ditakuti. Dan, ternyata, pilihan Tuhan adalah Umar ibn Khathab—yang kemudian memeluk Islam secara dramatis dan mengharukan: takluk oleh air mata saudarinya yang menetes oleh tamparan Umar.

Sedangkan Utsman adalah menantu Rasul dengan menikahi Ruqayah. Setelah Ruqayah wafat, Utsman menikahi putri-Rasul yang lain, Ummu Kultsum. Sebab itulah Utsman bergelar Dzû al-Nurayn atau “orang yang memiliki dua cahaya”. Maksudnya adalah dua cahaya hati Rasul: Ruqayah dan Ummu Kultsum.

Ali? Ali adalah sepupu Rasul sekaligus menantunya. Sejak muda telah dikenal sebagai kesatria. Dialah pemuda tujuh belas tahun yang menempati tempat tidur Rasul untuk mengelabui orang-orang yang hendak menjadikan Rasul sebagai target pembunuhan—Rasul kemudian keluar dari Makkah secara sembunyi-sembunyi bersama Abu Bakar, menuju Yatsrib (Madinah). Ali sangat sadar, menempati tempat tidur Rasul sama saja dengan menyerahkan nyawa. Orang-orang musyrik bisa saja meyakini jika ia adalah Rasul yang tertidur lelap, lalu dengan mudah menikamnya.

Saya akan menukil kisah lain tentang kekesatriaan Ali. Kali ini dari buku Destiny Disrupted: A History of The World through Islamic Eyes karya Tamim Ansary, seorang sejarawan dan sastrawan dunia kelahiran Afghanistan—yang akan segera diindonesiakan oleh Penerbit Zaman menjadi Dari Puncak Bagdad: Sejarah Dunia Versi Islam. Anda tahu, saya benar-benar terharu oleh sepenggal kisah ini, kisah tentang keberanian, keromantisan, dan religiusitas …

Dalam satu pertempuran penting pada masa-masa awal Islam, seorang pemuda menuju Ali sambil mengayunkan pedangnya.

“Kau tidak tahu siapa aku?! Ah, bodoh! Aku Ali! Kau tidak akan mampu mengalahkanku. Justru aku yang akan membunuhmu. Kenapa kau masih nekat?”

“Karena aku sedang jatuh cinta,” kata pemuda itu. “Dan, kekasihku berkata jika aku mampu membunuhmu, dia akan menjadi milikku sepenuhnya.”

“Tapi, jika kita berduel, kemungkinan justru aku yang akan membunuhmu.”

“Adakah yang lebih baik daripada terbunuh demi cinta?!”

Ali luluh oleh penuturan terakhir si pemuda. Ia melepas helm besinya lalu menjulurkan lehernya.

“Tebaslah aku di bagian ini,” kata Ali seraya menunjuk lehernya.

Akan tetapi, melihat kesediaan Ali untuk mati demi cinta, giliran hati pemuda itu terbakar dan luluh, mengubah cintanya kepada wanita menjadi sesuatu yang lebih tinggi: cinta kepada Tuhan. Dalam sesaat, Ali mengubah pemuda biasa menjadi seorang sufi tecerahkan.[]

Where Am I?

You are currently browsing entries tagged with ali ibn abi thalib at Warung Nalar.

%d bloggers like this: