Amal Apakah yang Paling Utama?

16 July 2012 § Leave a comment


Abdullah ibn Mas’ud bertanya kepada Rasulullah tentang amal yang paling utama. “Mengerjakan shalat pada awal waktu,” jawab Rasulullah. “Apa lagi?” tanya Ibn Mas’ud kembali. “Berbakti kepada orangtua,” jawab Rasulullah. “Lalu, apa?” Ibn Mas’ud bertanya lagi. Rasulullah menjawab, “Jihad di jalan Allah.” Ibn Mas’ud mengatakan, seandainya ia bertanya lagi, niscaya Rasulullah juga akan menjawab (HR. Bukhari).

Abu Hurairah meriwayatkan, Rasulullah pernah ditanya tentang amal yang paling utama. Rasulullah menjawab, “Iman kepada Allah,” (HR. Muslim).

Abu Qatadah mengatakan, ia pernah mendengar Rasulullah menyebutkan bahwa « Read the rest of this entry »

Advertisements

Iblis Ingin Bertobat

1 August 2011 § Leave a comment


Jika manusia mengalami ketidaktetapan iman: saat suatu ketika ia merasa begitu dekat dengan Tuhan dan pada saat yang lain secara tak sadar ia mengabaikan-Nya, maka iblis pernah lelah dengan pembangkangannya kepada Tuhan. Ia merasa perlu menyudahi permusuhan dengan-Nya. Ia ingin bertobat.

Niat tersebut iblis utarakan kepada Musa, berharap Musa mau membantu. Iblis tahu, hanya Musa yang bisa bercakap-cakap secara langsung dengan Tuhan, seperti yang pernah Musa lakukan saat ia meminta Tuhan menampakkan diri, tapi Tuhan menolak: bukan karena Ia tak mau atau tak mampu, melainkan karena diri-Nya terlalu perkasa untuk « Read the rest of this entry »

Rasulullah Menangis

15 June 2010 § 1 Comment


Wajah adalah jendela hati. Di sana, seseorang mengungkapkan perasaan hati atau menyembunyikannya.

Seorang sastrawan perempuan Mesir, Widad Sakakini, menulis sebuah buku berjudul Ummahât al-Mu’minîn wa Banât al-Rasûl. Di salah satu bab buku yang menulis biografi para istri dan anak perempuan Rasulullah itu, Widad menulis kesedihan Rasulullah karena kepergian anak laki-lakinya, Ibrahim.

Ibrahim lahir dari Mariah al-Mishriyyah (Mariah dari Bangsa Mesir), istri-Rasulullah dari bangsa Qibti (Qibti adalah penduduk asli Mesir. Orang Barat menyebut Mesir dengan “Egypt”, yang diambil dari kata “Qibth” atau Qibti). Sehingga, Mariah disebut juga dengan Mariah al-Qibthiyyah atau “Mariah dari Bangsa Qibti”. « Read the rest of this entry »

Dîwân al-Imâm al-Syâfi‘i: Gambar Diri Imam Syafi‘i dalam Syair

31 May 2010 § 13 Comments


Saya kira hampir semua orang mengenal Muhammad ibn Idris al-Syafi‘i atau yang kita sebut secara singkat dengan Imam Syafi‘i, paling tidak pada sebatas ia adalah seorang pendiri salah satu mazhab-fikih terbesar, Mazhab Syafi‘i. Atau, paling tidak, jika disebut Imam Syafi‘i maka yang tebersit pertama dalam pikiran adalah fikih. Dan, barangkali sedikit dari kita yang mengetahui jika Imam Syafi‘i adalah juga seorang penyair, meski ia tidak menulis buku khusus untuk syair-syairnya. Ia menyenandungkan syair secara spontan sebagai cerminan atas keadaan tertentu atau sebagai jawaban pertanyaan seseorang kepadanya. Seorang murid yang mendengar syair itu akan menghafalnya, lalu menyampaikannya dari mulut ke mulut, turun-temurun. Kemudian, para ulama-penulis akan menukil untuk buku-buku mereka syair-syair yang sesuai dengan tema yang mereka tulis. Akhirnya, tersebarlah syair-syair Imam Syafi‘i di berbagai karya tentang hadis, fikih, sejarah, bahasa, etika, dan sebagainya.

Dan, Dîwân al-Imâm al-Syâfi‘i adalah sebuah buku kecil yang merangkum syair-syair[1] Imam Syafi‘i—ada sekitar seratus lima puluhan syair—yang  terserak di berbagai karya tersebut. Tertulis di sampul buku itu, perangkumnya bernama Yusuf Syekh Muhammad al-Biqa‘i, seorang profesor bahasa dan sastra Arab. Sebagian besar syair-syair dalam Dîwân memotret soal moral dan nasihat serta refleksi dari keadaan masyarakatnya saat itu, sekaligus mencerminkan gambar diri Sang Imam.

Ada satu syairnya yang jika dibaca, kita akan tahu betapa Imam Syafi‘i begitu menghormati wanita. Ia tidak menempatkan wanita di posisi yang pantas dipojokkan atau menjadi bahan olok-olok. Simaklah …

أَكْثَرَ النَّاسُ فِي النِّسَاءِ وَقَالُوا

إِنَّ حُبَّ النِّسَاءِ جَهْدُ الْبَلَاءِ

لَيْسَ حُبُّ النِّسًّاءِ جَهْدًا وَلَكِنْ

قُرْبُ مَنْ لَا تُحِبُّ جَهْدُ الْبَلَاءِ

Banyak orang memperbincangkan wanita,

dan mereka mengatakan: mencinta wanita itu puncak bencana.

Puncak bencana sesungguhnya bukanlah mencintai wanita,

melainkan berdekatan dengan orang yang tak kaucintai.

Mungkin saja, Imam Syafi‘i hidup dalam masyarakat di mana faktor lelaki begitu dominan, saat para lelaki menganggap kelelakian adalah alasan yang membuat seorang lelaki bisa di atas wanita dalam berbagai hal, sehingga seseorang mudah saja mengolok-olok wanita. Atau, mungkin saja, pada suatu ketika, Imam Syafi‘i pernah melewati sekelompok laki-laki yang sedang nongkrong, dan mendengar mereka membicarakan kesialan mereka sendiri tentang wanita. Namun, kesialan itu mereka nisbatkan kepada wanita.

Yang tak sedikit dibicarakan Imam Syafi‘i dalam Dîwân adalah soal “bicara” dan “diam”. Imam Syafi‘i menasihati kita,

إِذَا نَطَقَ السَّفِيْهُ فَلَا تُجِبْهُ

فَخَيْرٌ مِنْ إِجَابَتِهِ السُّكُوْتُ

Jika ada orang bodoh berbicara, jangan ditanggapi.

Jika harus ditanggapi maka tanggapan terbaik untuknya adalah diam.

Al-Safîh (orang bodoh) bisa kita pahami sebagai “orang bodoh tapi tak mau memikirkan kebodohannya” atau “orang bodoh tapi ngeyel” atau “orang bodoh tapi sok tahu”. Dalam Al-Quran, tepatnya ayat ke-142 dari surah al-Baqarah, al-sufahâ’ (bentuk plural dari al-safîh) dinisbahkan kepada orang-orang Yahudi dan kaum musyrik yang mempertanyakan dengan maksud mengingkari keputusan pengalihan arah kiblat dari Baitul Maqdis ke Ka‘bah.

“Alasan apa yang membuat orang-orang muslim tidak lagi berkiblat ke Baitul Maqdis?!” kata mereka. Pertanyaan yang bernada sinis. Allah kemudian menyuruh Rasulullah memberi jawaban “sekenanya”: “Timur dan barat itu milik Allah!” Dalam bahasa kita, seperti ini: “Mau menghadap ke mana aja kek, terserah Allah dong!” Jika saja orang-orang Yahudi itu bertanya dengan maksud benar-benar ingin tahu—bukan mengingkari—barangkali Allah akan menyuruh Rasulullah memberi jawaban yang “sebenarnya”.

Mengapa orang-orang seperti itu (al-safîh) tidak perlu didengar dan ditanggapi omongannya? Tentu saja, karena jika al-safîh bertanya, ia tidak bermaksud ingin mendapatkan jawaban, tetapi hanya ingin mengungkapkan ketidaksukaan. Ia bertanya bukan untuk mencari arti, melainkan untuk mengingkari. Menjawab pertanyaan orang seperti itu hanya membuang tenaga secara percuma. Menjawab pertanyaan orang seperti itu hanya memberi kesempatan kepadanya untuk melakukan pengingkaran selanjutnya. Menanggapi orang-orang yang ngeyel, orang-orang yang sok tahu, orang-orang yang berdiskusi tanpa argumentasi, orang-orang yang berbicara hanya ingin didengarkan tapi tak mau mendengarkan, pada akhirnya itu sama saja dengan kita menunjukkan kebodohan diri kita sendiri, membuat kita tampak bodoh di hadapan mereka. Namun, “Jika harus ditanggapi,” kata Imam Syafi‘i, “tanggapan terbaik untuknya adalah diam.”

Itulah diam dalam makna yang disebut peribahasa “diam itu emas”. Diam yang menyimpan hikmah. Membangun harga diri dengan tak banyak bicara tanpa arti. Imam Syafi‘i membuat analogi sangat menarik tentang itu dalam syairnya,

أَمَّا تَرَى الأَسَدَ تُخْشَى وَهْيَ صَامِتَةٌ

وَالْكَلْبُ يُخْسَى لَعَمْرِي وَهْوَ نَبَّاحُ

Kautahu, macan tetap ditakuti meski sedang diam,

namun anjing akan dilempar jika terlalu banyak menggonggong.

 

Apalagi banyak bicara tanpa arti, bahkan, kata-kata yang pada dirinya benar dan penuh arti pun tak secara otomatis pantas dibicarakan dan disampaikan. Yang benar tak selalu berarti baik. Kebenaran berkaitan dengan “sesuatu yang harus disampaikan”, sementara kebaikan berkaitan dengan “bagaimana cara sesuatu harus disampaikan”. Kebenaran berkaitan dengan logika, kebaikan berkaitan dengan etika. Sesuatu yang logis harus disampaikan secara etis. Barangkali kita memiliki pendapat atau nasihat yang kebenarannya tak terbantahkan. Tapi, kita juga harus berpikir sebelum menyampaikan pendapat atau nasihat itu kepada orang lain: Apakah sesuai betul untuk kondisi orang itu?  Apakah pendapat atau nasihat itu dibutuhkan? Apakah orang itu menghendaki? Jangan-jangan berdasar asumsi kita saja bahwa orang itu membutuhkan pendapat atau nasihat, atau jangan-jangan kita yang terlalu “bersemangat”. Jangan sampai kemudian niat baik kita menjadi buruk gara-gara cara  kita menyampaikannya tidak bijak. Kurang-lebih, seperti itulah yang ingin disampaikan Imam Syafi‘i dalam syairnya ini:

وَلَا تُعْطِيَنَّ الرَّأْيَ مَنْ لَا يُرِيْدُهْ

فَلَا أَنْتَ مَحْمُوْدٌ وَلَا الرَّأْيُ نَافِعُهُ

Jangan kausampaikan pendapat kepada orang yang tak menghendaki;

kau tidak akan mendapat pujian, tidak pula pendapatmu akan berguna.

Sebab itulah tak jarang kita menyaksikan di media-media, satu kelompok bergerak menyerukan kebenaran, tapi yang tebersit dalam sebagian hati kita justru bukan simpati, melainkan caci maki. Dan, tentu saja, bukan caci maki terhadap diri kebenaran, melainkan terhadap ekspresi-kebenaran yang tak benar.

Gambar diri lain dari Imam Syafi‘i yang bisa kita lihat dalam Dîwân­ adalah sikap-rendah-hatinya yang tinggi. Untuk kita ingat … Imam Syafi‘i adalah: seorang bayi yang kelahirannya bertepatan dengan kematian seorang pendiri mazhab-fikih terbesar [yang lain], Mazhab Hanafi, yaitu Imam Abu Hanifah, dan kebesarannya telah diramalkan, sehingga, saat itu, orang-orang berujar, “Mâta imâm wa wulida imâm” (Seorang imam telah berpulang dan [calon] seorang imam telah datang); seorang anak yang telah hafal Al-Quran secara penuh saat berusia tujuh tahun, dan telah hafal seluruh isi al-Muwaththa’—kitab berisi kumpulan hadis—pada usia lima belas tahun, sebelum berguru kepada penulis kitab itu, Imam Malik ibn Anas, yang juga seorang pendiri salah satu mazhab-fikih terbesar, yaitu Mazhab Maliki; seseorang yang kemudian mendirikan salah satu mazhab-fikih terbesar, Mazhab Syafi‘i—mazhab yang dianut oleh sebagian besar umat Islam Indonesia; seorang guru yang muridnya bernama Imam Ahmad ibn Hanbal juga mendirikan salah satu mazhab-fikih terbesar, Mazhab Hanbali; jika Anda pernah menjumpai nama ulama klasik yang dalam rangkaiannya tertulis “al-Syafi‘i”, itu artinya, dalam masalah fikih, ia mengikuti metode fikih yang dibangun Imam Syafi‘i; atau Anda barangkali ingin menambahkan nama besar Imam Syafi‘i dari sudut yang lain …. Namun demikian, coba kita perhatikan apa yang Imam Syafi‘i gambarkan tentang dirinya dalam syair ini,

كُلَّمَا أَدَّبَنِى الدَّهْرُ أَرَانِي نَقْصَ عَقْلِي

وَإِذَا مَا ازْدَدْتُ عِلْمًا زَادَنِي عِلْمًا بِجَهْلِى

Masa mendidikku dan memperlihatkan jika pengetahuanku semakin berkurang.

Pun jika pengetahuanku bertambah maka itu adalah pengetahuan tentang kebodohanku.

Atau yang ini,

أُحِبُّ الصَّالِحِيْنَ وَلَسْتُ مِنْهُمْ

لَعَلِّى أَنْ نَالَ بِهِمْ الشَّفَاعَهْ

وَأَكْرَهُ مَنْ تِجَارَتُهُ الْمَعَاصِى

وَلَوْ كُنَّا سَوَاءً فِيْ الِبِضَاعَهْ

Aku bukan termasuk orang-orang saleh, tapi aku mencintai mereka. 

Dengan mencintai mereka aku hanya berharap mendapat syafaat.

Aku membenci orang yang perilakunya adalah maksiat,

meski aku dan mereka sama saja.

Bahkan, menjelang ajal, sambil menangis, Sang Imam sempat berkata kepada orang-orang yang menjenguknya, “Dari dunia ini aku akan pergi, dari handai tolan aku akan berpisah, hanya dengan segelas kematian aku meminum, dan kepada Tuhan aku akan kembali. Tapi, aku tidak tahu ke mana ruh jasad ini akan menuju: mungkin ke surga, mungkin ke neraka.”[]

Menjadi Burung Bersayap Sempurna: Kisah Syaqiq al-Balkhi & Ibrahim ibn Adham

17 May 2010 § Leave a comment


Syaqiq al-Balkhi adalah seorang pengusaha kaya yang memiliki orangtua yang juga pengusaha kaya.

Suatu ketika, ia keluar daerah untuk melakukan perjalanan niaga. Di tengah perjalanan ia beristirahat di sebuah tempat ibadah milik agama penyembah berhala, dan menjumpai penjaga tempat ibadah itu sedang mencukur rambut dan jenggotnya, lalu mengenakan pakaian sembahyang. Syaqiq seorang muslim yang taat. Dan tentu saja, bagi seorang muslim, berhala adalah benda mati yang tak patut dijadikan sesembahan.

“Kau memiliki Pencipta Yang Mahahidup, Mahatahu, Mahakuasa,” kata Syaqiq kepada penjaga itu, setelah melihatnya telah rapi. “Dialah yang seharusnya kausembah, bukan benda mati bernama berhala yang tak bisa berbuat apa-apa itu.” « Read the rest of this entry »

Menjaga Perasaan

27 April 2010 § Leave a comment


dimuat di kolom “Hikmah” Republika, Selasa, 27 April 2010

Termasuk etika dalam bersahabat dan lebih luas lagi dalam bermasyarakat, adalah menjaga perasaan. Bahkan, Rasulullah SAW menjadikan itu sebagai salah satu prasyarat Muslim sejati.

Rasul SAW mengatakan bahwa yang disebut Muslim adalah orang yang mulut dan tangannya membuat orang lain merasa damai. Kata-katanya tidak menyakiti, perilakunya tidak melukai. Dua-duanya menjadi satu-kesatuan utuh untuk membentuk karakter Muslim sejati. « Read the rest of this entry »

Si Tuli dan Kentut

6 October 2009 § Leave a comment


Suatu ketika, Hatim didatangi oleh seorang perempuan yang hendak berkonsultasi tentang suatu hal. Berbarengan dengan saat bertanya, perempuan itu kelepasan kentut. Hatim lalu berkata, “Maaf, Anda bertanya apa? Mohon, angkat sedikit suara Anda agar saya dapat mendengarnya dengan baik.” Perempuan itu berpikir, Hatim ini memiliki pendengaran yang kurang baik, dan pasti tidak mendengar kentut barusan.

Selesai urusan, perempuan itu pun pulang dengan perasaan lega dan barangkali tak perlu terlalu malu kepada dirinya sendiri dan kepada Hatim.

Sejak peristiwa itu, tersebar kabar bahwa Hatim orang yang pendengarannya kurang baik. Dan, bukan hanya kabar angin, orang-orang pun mengetahui sendiri bahwa Hatim memang demikian. Lalu, orang-orang pun menjuluki Hatim dengan al-asham atau si tuli.

Sampai kemudian perempuan itu meninggal dunia. Hatim lalu menceritakan keadaan diri bahwa sesungguhnya ia tidak benar-benar tuli. Apa yang ia lakukan hanya kepura-puraan. Saat perempuan itu kentut di hadapannya, ia pura-pura tidak mendengar. Dan, ia berjanji, kepura-puraan itu akan ia jaga selama si perempuan masih hidup, semata karena tidak ingin membuat perempuan itu malu. Hatim ingin menjaga harga diri perempuan itu.

* * *

Abu Abdurrahman Hatim ibn Ulwan, itulah nama lengkapnya—seorang tokoh sufi dari negeri Khurasan, meninggal pada 237 H atau 851 M—atau lebih dikenal dengan nama Hatim al-Asham, Hatim Si Tuli.

[al-Risalah al-Qusyairiyyah fi ‘Ilm al-Tashawwuf karya Imam al-Qusyairi]

Where Am I?

You are currently browsing entries tagged with agama at Warung Nalar.

%d bloggers like this: